
Yi Hua entah bagaimana tak ingin berbicara terlalu banyak dengan An. Bahkan saat pria itu berjalan di belakangnya, pria itu juga diam. Seolah mereka berdua lebih menghormati angin dan debu yang berjalan di samping mereka.
Lagipula, Yi Hua jelas tak ingin topik ini sampai pada apa yang ia takutkan.
Lain halnya jika aku bisa benar-benar 'membocorkan' tentang sistem busuk ini!
SRET!
Yi Hua melindungi matanya sendiri dengan tangan. Bagaimana pun debu di sekitar masih tak bisa berkompromi dengannya. Meski tak bergolak seperti di bagian luar Lembah Debu, tetapi debu di sini bisa membuat mata mendadak punya banyak lapisan. Atau, mungkin dia bisa memiliki banyak serpihan debu di matanya.
"Apakah Tuan An ingat dimana sumur itu sebelumnya?" tanya Yi Hua akhirnya.
Bukankah An yang mungkin membawa mereka keluar dari lubang sumur itu?
"Ingat."
Yi Hua yang jengah langsung menoleh pada An. Pria itu tampak sangat tenang seperti biasanya. Mata teduhnya menatap ke arah Yi Hua, sehingga Yi Hua tak akan terkejut jika sejak awal mata An memang menatapnya dari belakang.
Apa orang ini berpikir bahwa aku perlu diawasi? Lalu, dia bisa melaporkan aku pada Kerajaan?
Dan, juga ... Jika pria ini ingat, mengapa sejak tadi diam saja?
Yi Hua bahkan berjalan seolah dia mengikuti punggung sapi sejak tadi. Akan tetapi, dia bahkan tak ingat apa-apa. Jika dia ingat, maka itu akan aneh. Orang tak sadarkan diri mana yang ingat tentang jalan yang ia tempuh?
Sebenarnya kediaman Ling Xiao berada cukup jauh dari Lembah Debu. Saat Yi Hua keluar dari rumah, dia bisa melihat bahwa Ling Xiao tinggal di bagian leher jurang. Rumah yang cukup aneh untuk orang yang aneh. Ini seperti kau membuat rumah di tengah-tengah gunung.
Dan, entah bagaimana kediaman Ling Xiao itu tidak longsor oleh tanah. Yah, mungkin beberapa tahun lagi Ling Xiao harus mencari rumah baru sepertinya. Sebab, siapa yang bisa menahan perubahan alam?
Saat keluar dari rumah, bahkan Yi Hua harus berlari sedikit karena daerah yang menurun. Walau jalannya juga tak begitu berliku-liku. Namun Yi Hua berjalan seolah dia tahu jalan pulang.
Sebab, An tidak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan.
Lalu, dia dengan tampannya berkata bahwa dia ingat jalannya? Oh ya ampun! Mengapa tidak menjadi penunjuk jalan?
Yah, Yi Hua jelas hanya bisa mengatakannya di dalam hati semata. Walau dia pada hakikatnya ingin menendang kepala tampan An. Apalagi dia sudah cukup kelelahan, dan hampir mengira bisa menelan satu ekor sapi karena dia lapar.
"Kenapa Tuan An tidak menunjukkan jalannya?" tanya Yi Hua yang kelelahan sendiri.
An menepuk bahu Yi Hua yang agak kotor. Pasti An melakukannya tanpa alasan yang jelas, dan tidak ada fungsinya. Sebab, pakaian Yi Hua sudah bersatu dengan kotor.
Dia pada akhirnya hanya bisa menangisi pakaian serba putihnya, yang sudah tak putih lagi. Pasalnya debu sudah dengan sangat baik memberi warna baru di pakaiannya. Sehingga pakaian Yi Hua sudah berwarna seperti kain putih yang dikubur lama di tanah. Sangat mengganggu!
"Yi Hua tak bertanya."
Sudah. Yi Hua sungguh malas menendang orang hari ini. Belum lagi dengan rasa lelahnya.
Yi Hua memasang senyumnya pada An. Seperti isyarat jika pria ini menyebalkan, Yi Hua akan melemparnya dengan sepatu. "Jadi, dimana sumur yang dipenuhi kerangka itu, Tuan An?"
"Di bawah kita berpijak."
Huh? Jadi, sejak tadi kami sampai dan dia tak memberitahu aku apa-apa?!
Terkadang orang pendiam seperti An ini sering membuat banyak 'bunga' kata ingin terungkap. Bahkan mulut Yi Hua nyaris mengucapkan mantra untuk guna-guna. Hanya agar An ini lebih banyak bicara.
Secara refleks Yi Hua beranjak dari tempat ia berdiri ketika mendengar ucapan An. Hal yang paling mengejutkan ialah Yi Hua masih ingat dengan jelas bagaimana keadaan di sekitar pada waktu itu. Lalu, mengapa bisa sekarang sudah menjadi tempat yang dipenuhi hamparan pasir?
Dengan tak percaya Yi Hua menggelengkan kepalanya. "Tuan An, ini ..."
"Kau pingsan nyaris dua hari, dan badai itu datang lagi. Sehingga keadaan di Lembah Debu sudah seperti ini," jelas An tanpa ekspresi berarti di wajahnya.
__ADS_1
Apa? Dua hari di dunia ini, dan aku hanya menyaksikan masa lalu Shen Qibo sebentar saja! Perbandingan macam apa itu?
Jadi, dia menumpang di tempat tinggal Ling Xiao selama dua hari. Yi Hua sendiri merasa heran dengan dirinya yang masih utuh selama dua hari di sana. Siapa yang bisa menebak jika Ling Xiao tiba-tiba ingin melukis!
Yi Hua jelas tak ingin menjadi sumbangan darah untuk peramal ekstrim itu!
"Jujur. Aku juga tidak tahu, Yi Hua," balas Xiao yang sama sekali tak ingin disalahkan.
Seperti dugaan Yi Hua, selama Xiao terhubung dengannya, maka dia juga bergantung pada hidup Yi Hua. Jika Yi Hua tertidur, sistem di tubuhnya juga akan tertidur. Seperti benda itu menyatu dan menjadi salah satu organnya.
"Lalu, bagaimana dengan Yue Yan ... Maksudku pengendali hewan beracun itu?" tanya Yi Hua kembali. Bagaimana pun tak ada tanda-tanda bahwa Yue Yan dan An pernah berkenalan di masa lalu.
An mengangkat pedangnya hanya untuk menghentakkan di tanah bercampur debu yang mereka pijak. Awalnya Yi Hua tak mengerti mengapa An melakukannya.
Namun ...
KRAK!
Yi Hua segera mundur ketika ia melihat retakan yang muncul dari pernah milik An. Walau Yi Hua tak yakin sendiri dengan pedang itu. Sebab, sebelumnya Yi Hua melihat pedang An berwarna perak layaknya pedang lainnya.
Akan tetapi, pedang itu kini berwarna hitam?
Atau, Yi Hua hanya salah melihatnya. Entahlah.
Lalu, An menarik sebuah benda seperti sisa pecahan dari piring perak. "Benda inilah yang membuat kerangka-kerangka itu berjalan seolah mereka masih hidup."
Yi Hua melihat pecahan piring perak itu dengan bingung. Di atasnya seperti ditumpuki oleh banyak tanah dan debu. Itu menandakan bahwa benda itu sudah berada lama di dalam tanah.
Yang membuat pertanyaan adalah mana kepingan lainnya?
"Yang pastinya dia tak mati." Yang dimaksud An adalah Yue Yan.
BRUK!
Itu seperti kau mengira awalnya itu hanya sepetak tanah biasa. Namun saat kau membukanya, ternyata ada terowongan rahasia di sana. Itulah yang tercipta dari hentakan pedang An di tanah.
Juga, gua ini memang ada di bagian bawah Lembah Debu. Jalan masuknya ialah lubang yang dibuka kembali oleh pedang An. Dan, jika Yi Hua tak salah menduga, maka gua di tanah ini terhubung dengan sumur yang Yi Hua maksud.
Juga, Yi Hua percaya bahwa Shen Qibo tak akan membunuh Yue Yan.
"Lubang ini ..." Yi Hua tercekat saat menyadari bahwa gua ini jelas bukan sesuatu yang tercipta dari aktivitas alam.
Gua ini seperti di buat, karena ada lapisan batu yang dipasang untuk memperkuat. Begitu juga dengan tiang penyangga dari kayu besar yang diletakkan di sepanjang gua. Yi Hua sangat yakin kebetulan tak akan begitu baik jika kayu itu secara alami tertancap di sana. Sehingga ini mungkin ruangan rahasia.
Mungkin Shen Qibo tidak sesederhana yang Yi Hua pikirkan. Ada sesuatu tentang Shen Qibo, dan mungkin itu berkaitan dengan fakta dosanya. Mungkin 'dosa' ini memiliki alasan.
Shen Qibo mungkin membantai habis penduduk satu desa bukan hanya karena dia gila. Mungkin karena itu juga Shen Qibo tak ingin menyebut namanya pada Yue Yan saat mereka bertemu. Dan, lebih aneh dari segalanya mengapa Shen Qibo tidak membantai Yue Yan saat itu juga?
Ia membantai seluruh penduduk desa, dan hanya menyisakan Yue Yan.
Lalu, bencana besar terjadi, dan Lembah Debu tercipta. Kemudian, ...
SRET!
An menepuk kepala belakang Yi Hua lembut. "Ada kalanya lebih baik kita tak pernah tahu sesuatu yang terkubur di dalam tanah."
Yi Hua segera menepis tangan An hanya agar dia bisa berlari menuju ke dalam gua itu. Dan, saat itulah Yi Hua bisa melihat tulang-belulang yang ada di sepanjang gua.
Jauh lebih banyak daripada yang ada di dalam sumur sebelumnya.
__ADS_1
Setelah itu, Yi Hua melihat Shen Qibo yang duduk di atas batu besar. Di dekatnya ada Yue Yan terbaring dengan wajah babak belur. Tanpa menebak dengan banyak teori, Yi Hua sudah tahu pelakunya.
"Apakah kau sudah tak sanggup berdiri lagi?" tanya Shen Qibo, masih dengan matanya yang terikat kain seolah dia adalah orang buta.
Atau, Shen Qibo hanya membutakan dirinya sendiri?
"Ughh ... Br*ngsek! Shen Qibo, kau ... uhuk ... BLAR ..."
Yi Hua menatap miris pada Yue Yan yang memuntahkan darah. Mata Yue Yan yang memar dan membiru menampilkan air mata yang memilukan. Yi Hua bingung untuk mengatakan apa, dan dia menyadari bahwa An juga hanya diam di belakangnya.
Dalam hal ini mereka jelas tak bisa ikut campur. Tentang dendam orang lain, atau pun rahasia orang lain.
Namun ...
"Kau lemah. Itu saja."
Shen Qibo bangkit dari atas batu tempat ia duduk. Ia melangkah menuju tempat Yi Hua dan An datang.
"Terima kasih karena telah menghancurkan selubung debu. Dan, lebih baik lagi jika pecahan itu dimusnahkan sebab benda itu tak seharusnya ada di dunia ini."
Itulah yang dikatakan oleh Shen Qibo, dan Yi Hua mengerti maksudnya. Juga, pecahan itu ... Sepertinya memang masih ada kepingan yang lainnya.
Karena kedatangan mereka, selubung debu yang diciptakan oleh Yue Yan hancur. Desa 'buatan'nya juga hancur. Dengan kata lain, kehadiran Yi Hua dan An masuk ke Lembah Debu untuk menghancurkan selubung sihir yang ada di sana.
Atau, bukan Yi Hua yang menghancurkannya. Itu adalah An ...
Entah bagaimana bisa An menghancurkan sihir itu saat pria itu memaksa masuk ke dalam. Berkat itu semua, Lembah Debu mungkin akan menjadi normal sebentar lagi. Yi Hua ingat pecahan piring perak yang disimpan oleh An sebelumnya. Entah bagaimana Yi Hua merasa semuanya tak sederhana.
Apa benar piringan itu seharusnya dihancurkan? Kenapa?
"Yi Hua, jangan mengurusi sesuatu yang seharusnya tak kau urusi. Dibanding mengumpulkan pecahan piring itu, lebih baik kau mengumpulkan pecahan ingatanmu!" tegur Xiao yang menyadari keinginan Yi Hua.
Benda yang menginginkan darah terus-menerus itu bukanlah benda yang baik. Bahkan Yue Yan menumbalkan orang-orang yang tersesat di Lembah Debu agar benda itu tetap hidup. Sehingga benda itu memiliki kesan yang tak bisa Yi Hua sebutkan sederhana.
Piringan itu berbahaya.
Bayangkan saja, satu keping pecahannya bisa memiliki kekuatan sebesar itu. Bahkan bisa menghidupkan para kerangka-kerangka, dan bisa beraktivitas layaknya manusia. Lalu, bagaimana jika piringan itu dikumpulkan?
"Yi Hua, kita kembali," ucap An mengingatkan.
Yi Hua hanya mengangguk dan meninggalkan Yue Yan yang dikelilingi oleh hewan beracun. Mereka mungkin bermaksud menghibur Tuan mereka. Dan, Yi Hua tak begitu akrab hingga ia bisa memberi simpati pada Yue Yan.
Dengan begitu, desa itu benar-benar musnah. Menyisakan Yue Yan yang sendirian, dan menyadari kenyataan. Semuanya telah hancur beberapa tahun yang lalu.
"Aku menunggu hari dimana kau bisa membunuhku, Yue Yan."
Itulah kata terakhir yang diucapkan oleh Shen Qibo sebelum sosoknya benar-benar hilang dari pandangan mereka.
Dan, Yi Hua masih belum memiliki jawaban tentang tulang-tulang yang terkubur di tempat ini. Mungkin suatu saat Yi Hua akan menemukan jawabannya, dan mungkin itu di saat Yue Yan juga bisa menepati janjinya. Dia akan membunuh Shen Qibo.
Sebuah janji di antara mereka yang entah bagaimana menghubungkan keduanya.
Janji yang entah kapan bisa ditepati.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~