
Yi Hua menyadari bahwa ia terlalu banyak untuk saling menatap dengan Liu Xingsheng. Pasalnya pria ini juga terlihat berpikir. Namun Liu Xingsheng jelas bukan orang yang begitu pandai untuk diajak saling bertukar pikiran.
"Hey, aku tak mencurigai Jenderal Wei, Yi Hua," ujar Liu Xingsheng tiba-tiba.
Peramal itu mau tak mau menggelengkan kepalanya juga. "Saya juga tak mengatakan apa-apa, Perdana Menteri Liu."
Dan, ... Mereka saling terdiam lagi.
Hanya saja atas fakta lain tentang bagaimana bisa mayat berjalan ini berasal dari rumah makam keluarga Wei, itu sudah sangat aneh. Lalu, bukankah yang terdekat dari alun-alun juga rumah makam milik keluarga Wei. Dalam statusnya itu jelas tak ada yang berani berbuat lancang pada keturunan Wei.
Mereka adalah orang-orang yang dalam sejarah hidupnya selalu terlibat dalam pertahanan kerajaan.
Lalu, Yi Hua menyadari jika suara ribut-ribut di luar telah sunyi. Karena kesunyian itu Yi Hua memutuskan untuk memeriksa keluar. Namun demi keselamatan, Yi Hua hanya bisa mengintip melalui celah dinding rumah yang agak renggang. Dan ...
TUK!
TUK!
TUK!
GRAK!
Yi Hua langsung terduduk dari posisinya sekarang. Napasnya memburu ketika ia terkejut. Liu Xingsheng yang rupanya sudah agak membaik segera menghampiri Yi Hua. Terutama saat Yi Hua masih terdiam di tempatnya.
"Yi Hua, apa yang terjadi? Apa kau habis diseruduk sapi?" tanya Liu Xingsheng sambil mengguncang bahu Yi Hua.
Ekspresi terkejut Yi Hua langsung berubah tenang. Ia menunjuk ke arah luar dengan senyum yang manis. "Di luar ada sesuatu yang sangat menakjubkan."
Liu Xingsheng mengangkat alisnya tak yakin. Namun Yi Hua terlihat sangat datar seperti biasanya. "Memangnya kau bisa melihat dalam kegelapan seperti itu? Lagipula, bukankah di sana hanya ada kekacauan?" tanya Liu Xingsheng penasaran.
"Anda tahu ... Hal seperti ini hanya bisa dilihat satu kali seumur hidup. Akan sangat rugi jika Anda tak pernah melihatnya," jelas Yi Hua dengan gestur berlebihan.
"HuaHua, di luar ..." Ucapan Xiao terhenti ketika Yi Hua berkata lagi.
"Perdana Menteri Liu, melihat sesuatu yang bagus itu tak bisa dimiliki oleh setiap orang," ucap Yi Hua untuk memanasi lagi.
Liu Xingsheng jelas tak percaya pada wajah pembohong Yi Hua. Akan tetapi, penasaran adalah sifat asli manusia. Sehingga Liu Xingsheng mengikuti apa yang dilakukan Yi Hua sebelumnya. Ia berjongkok untuk mengintip di antara celah dinding yang lebar.
"Aku tak melihat apa-apa, Yi Hua. Di luar sangat aneh karena bulan tampaknya berwarna merah. Bahkan Jenderal Wei dan pasukannya tidak ada. Mungkin pertarungan dengan mayat sudah selesai," jelas Liu Xingsheng yang masih mengamati sekitar.
Yi Hua berdiri sambil melipat kedua lengannya di dada, "Saya yakin Anda sudah melihatnya."
"Aku hanya melihat warna merah menyala. Aku rasa sepertinya ada yang salah dengan bulan," ujar Liu Xingsheng yang terus mengamati keadaan luar. Meski begitu, apa yang ia lihat di luar masih sama, warna merah menyala.
"Tidak ada yang salah dengan bulan, Perdana Menteri Liu. Yang salah adalah warna merahnya," ujar Yi Hua penuh rahasia.
Liu Xingsheng menoleh pada Yi Hua dengan pandangan tak mengerti. "Kau ini bicara apa? Kau bilang di luar ada hal yang menarik. Jika warna merah, mungkin saja Paman ini menaruh kain merah di depan rumahnya."
"Anda yakin ingin melihatnya?" tanya Yi Hua lagi.
Ucapan Yi Hua jelas membuat penasaran Paman tua yang sempat tertidur itu. Ia langsung ikut-ikutan berjongkok di samping Liu Xingsheng, yah ... Tentu saja atas izin Liu Xingsheng yang juga ingin Paman tua itu memastikan 'hal menarik' yang dimaksud Yi Hua.
Namun apa yang dilihat Paman tua itu jelas sama seperti yang dilihat Liu Xingsheng. Mereka hanya berpikir jika mata seorang peramal yang gaib seperti Yi Hua memang berbeda dengan mereka. Sehingga mereka harus memperhatikan di antara celah dinding itu dengan lekat. Siapa tahu mereka bisa melihat apa yang dilihat oleh Yi Hua.
"Saya akan menunjukkannya," ujar Yi Hua yang mengangkat pedang Li Wei ke arah dinding. Pedang itu memang masih terbungkus dengan kain, sehingga Yi Hua tak akan takut jika Liu Xingsheng menyadari pedang siapa yang ada di tangan Yi Hua.
Lalu, Yi Hua mengayunkan pedang itu ke arah dinding. TUK! TUK!
Gebrakan itu agak keras dan membuat permukaan merah menyala itu bergoyang. Liu Xingsheng dan paman itu memperhatikannya dengan lekat hingga permukaan merah menyala itu agak menjauh. Dan ... Perlahan menjadi mata?
Lalu, sosok yang kulitnya sudah banyak terkelupas dan rambutnya rontok itu mendadak lari dengan cepat untuk mendekat pada dinding lagi. Dan,
BRAK!
Wajah mengerikan dengan mata merah itu terlihat langsung di antara celah dinding.
"WUAHHHHH!!!" Liu Xingsheng yang terkejut langsung mundur ke belakang. Reaksi yang sama dengan Yi Hua sebelumnya.
Namun Liu Xingsheng tak tahu jika Paman tua itu masih ada di belakangnya. Hal itu membuat Paman tua ikut-ikutan terjungkal ke belakang. Terutama saat mereka menyadari jika warna merah yang mereka lihat bukanlah permukaan atau kain yang dibentang. Bukan juga bulan. Tapi mata dari mayat hidup yang berjalan itu.
__ADS_1
Jadi, rupanya sejak tadi mayat hidup itu menempelkan wajahnya di dinding. Seperti mengintip di antara celah dinding. Entah mayat ini bisa melihat atau tidak. Akan tetapi, yang jelas sejak tadi Liu Xingsheng bertatapan langsung dengan mayat hidup melalui celah dinding. Hal yang membuat Liu Xingsheng tak menyadari jika itu mata merah yang besar ialah karena mayat hidup tidak berkedip.
"Yi Hua, kau mau membuat jantungku naik ke langit untuk pergi ke surga?" teriak Liu Xingsheng tak terima.
Ketika Liu Xingsheng melihat ke arah Paman tua itu, beliau sudah menunjuk-nunjuk keluar seperti kehilangan suaranya. Tentu saja seumur hidup mereka belum pernah bertatapan sebegitu dekatnya dengan mata besar yang merah dari mayat hidup. Dan itu bukan karena matanya yang merah, tetapi karena mata itu berdarah!
Saat Yi Hua menggebrak dinding, mayat hidup itu menjauh lagi dan berniat menyerang. Hal itu karena mayat hidup bisa mendengar suara degup jantung mereka. Lalu, menghampiri ke mana arah degup jantung itu berada.
Yi Hua melihatnya pertama kali, makanya ia terkejut. Namun itu tak akan menyenangkan jika dirinya sendiri yang mengalami mimpi buruk. Oleh karena itu, ia ingin mengajak Liu Xingsheng untuk melihat pemandangan menarik.
Aku jelas tak ingin terkejut sendirian.
Xiao hanya bisa menyebut Yi Hua kejam.
"Bagaimana makhluk bermata merah itu kau tunjukkan padaku? Aku akan mengalami mimpi buruk ketika mengingat kejadian ini! Apalagi aku sedang sakit keras." Liu Xingsheng harusnya tahu jika Yi Hua ini memang sangat tak terkendali.
Bahkan Yi Hua berani berdiri tegak saat Raja Li Shen hadir, jelas sekali Yi Hua tak akan takut untuk menciptakan jebakan ini. Dan, seperti yang Liu Xingsheng duga, Yi Hua hanya terlihat datar seperti biasanya. Bahkan Yi Hua dengan tenang mengikat pedangnya untuk menggantung di bahu.
"Anda sudah baik-baik saja. Aku pernah mendengar dari seseorang yang tak pernah ada, bahwa rasa terkejut bisa memicu darah untuk segera menutup luka. Ini sama seperti ketika Anda terkejut dan tanpa sengaja menelan apa saja yang ada di mulut Anda. Rasa terkejut itu akan membuat ramuan obat cepat mengalir di dalam tubuh," jelas Yi Hua dengan ke-logisan yang dibuat-buat.
Liu Xingsheng menatap jengkel pada Yi Hua. "Tapi bubuk beras itu dipakai pada bagian luar tubuh, Yi Hua? Tak ada namanya proses mengalir ke dalam tubuh."
Paman tua juga mengangkat tangannya yang ternyata gemetar. "Saya juga tak perlu rasa terkejut ini, Peramal Yi. Saya tak sedang diobati."
"Oh benarkah? Saya agak lupa," jawab Yi Hua seperti orang tanpa dosa.
Lupa katanya?
"Lagipula, darimana kau mendapatkan pengetahuan seperti itu?" tanya Liu Xingsheng agak histeris.
Yi Hua menjawab tanpa berpikir lagi. "Mungkin di buku Tata Cara Menuju Kematian atau Cara Tercepat untuk Memutus Kinerja Jantung."
"Kau bercanda, Yi Hua," omel Liu Xingsheng yang bingung dengan ucapan Yi Hua.
Yi Hua tersenyum, "Saya serius. Mau coba lagi hingga Anda menyadari jika caranya memang seperti itu?"
Liu Xingsheng berpikir di masa depan ia tak ingin berselisih dengan Yi Hua. Ia hanya takut jika Yi Hua iseng sedikit, maka isi perut Liu Xingsheng bisa dicongkelnya. Bukankah Yi Hua sekarang terlihat agak kejam?
Xiao memberi Yi Hua informasi, "Untuk saat ini yang paling dekat hanyalah mayat hidup yang menabrak dinding itu saja. Aku tak merasakan mayat hidup lainnya."
Jika seperti itu Yi Hua harus keluar. Jika Liu Xingsheng masih tak bisa berjalan dengan baik, maka Yi Hua hanya meminta Paman tua ini untuk menjaganya. Setidaknya jika pengendali mayat hidup ini ada di luar, Yi Hua bisa melihatnya.
"Menurutmu, jika ini perbuatan Hua Yifeng, apa tujuannya?" tanya Yi Hua meminta pendapat Xiao.
Xiao menjawab dengan santai. "Secara emosional, jika ini perbuatan Hua Yifeng, maka dia seperti gelarnya, menyukai kehancuran. Akan tetapi secara rasional, Hua Yifeng tak punya alasan untuk menghancurkan apapun, terutama saat ada kau di sana," jelas Xiao cepat.
Yi Hua menghela napasnya. Ia jelas masih bingung jika ditanya perasaannya. Ia tak mau terjebak dalam perasaan yang tak tahu sumbernya darimana. Dirinya bahkan tak mengingat banyak hal. "Kau mengatakan tentang rasional, tetapi jawabanmu itu lebih ke emosional. Pada perasaan." Tentu saja Yi Hua berbincang dengan Xiao dari dalam hati.
Bahkan Yi Hua terlihat melamun sekarang. Liu Xingsheng menatap takut-takut pada Yi Hua. Ia mengucapkan mantra-mantra agar Yi Hua tidak kerasukan. Bagaimana pun itu akan membuat masalah baru jika Yi Hua kerasukan.
"Karena secara rasional Hua Yifeng adalah orang terakhir yang bisa dikelompokkan ke dalam musuhmu," jelas Xiao apa adanya.
SRAK!
Liu Xingsheng langsung menyatukan kedua tangannya berdoa ketika Yi Hua mendadak bergerak seperti ingin melempar sapi. "Dewa, jika memang dia dirasuki oleh mayat berjalan, mohon untuk dibuat pingsan saja."
Paman tua di sebelah Liu Xingsheng malah ikut-ikutan menabur garam untuk membuang kesialan.
Bukankah sejak tadi mereka bertiga melakukan hal yang tak berguna?
Yi Hua langsung menoleh pada Liu Xingsheng yang sudah ketar-ketir sendiri. "Saya ingin mencari Jenderal Wei. Siapa tahu mereka perlu pertolongan. Apakah Anda ingin bersembunyi di sini?" tanya Yi Hua yang berusaha menahan dirinya agar tidak melempar Liu Xingsheng dengan sepatunya.
Liu Xingsheng berusaha bangkit dari posisi jongkoknya. Tangannya mengusap bahu Liu Xingsheng yang terasa masih sakit. Walau tak seburuk sebelumnya. Bahkan Liu Xingsheng sudah bisa bertindak konyol seperti biasanya.
"Kita juga perlu melapor pada Yang Mulia. Hal seperti ini jelas harus dibicarakan di Pengadilan Tinggi," ujar Liu Xingsheng.
Apalagi menyangkut mayat berjalan yang merupakan para leluhur dari keluarga Wei ini. Walau Liu Xingsheng tak memiliki bukti atas ucapannya itu. Ia hanya mengatakan jika sempat melihat lambang keluarga Wei yang tampak di antara mayat berjalan itu. Hal itu jelas tak bisa dijadikan bukti saat bicara di Pengadilan Tinggi.
Mungkin Yi Hua harus mengambil gelang yang menjadi lambang keluarga Wei itu.
__ADS_1
"Aku akan menebak caramu mengambilnya, HuaHua. Kau akan memotong tangan salah-satu di antara mayat berjalan itu, bukan?" tebak Xiao yang menyadari bahwa Yi Hua semakin hari semakin kejam.
Yi Hua membuka pintu kediaman Paman tua itu dengan hati-hati. Sebelum keluar ia memeriksa lagi, dan mayat berjalan itu masih berdiri di depan dinding yang sama. Seolah masih mengintip seperti sebelumnya.
Ya ampun ... Malam masih sangat panjang. Mayat hidup ini masih akan bergerak jika matahari belum terbit.
"Apa aku punya pilihan lain? Jelas aku tak bisa bilang, "Bibi, bisakah aku meminta gelang Anda?" begitu?" tanya Yi Hua lagi.
Xiao jelas tak ingin berkomentar apa-apa. Jika masalah berdebat mungkin Yi Hua tak akan pernah gagal untuk membuat orang lain mengamuk. Tak aneh jika Yi Hua ini punya banyak musuh yang melebihi jumlah pendamping dari seorang pejabat besar di Kerajaan Li. Itu cukup banyak hingga Yi Hua mungkin bisa dikategorikan sebagai "musuh abad ini" oleh orang lain.
SRET!
Baru saja Yi Hua ingin keluar, Liu Xingsheng langsung menarik bahunya. "Aku juga akan pergi, Yi Hua."
Yi Hua melirik bahu Liu Xingsheng dan ... BUGH!
"AKH! Apa yang kau lakukan, Yi Hua?" teriak Liu Xingsheng tak terima saat Yi Hua memukul bahunya.
Yi Hua menunjuk ke arah bahu Liu Xingsheng, "Dengan memar separah itu Perdana Menteri akan tergeletak di sana seperti sapi jatuh dari langit. Itu akan membuat Anda cepat tutup usia."
Lagipula, jika aku mengeluarkan pedang Li Wei pria ini akan melihatnya. Lebih aman untuk bertindak sendirian, karena aku tak tak akan takut ketahuan.
"Tapi ..." Liu Xingsheng terlihat khawatir pada Yi Hua. Sebab, bagaimana pun Yi Hua ini terkenal dengan ciri khasnya sebagai penghuni istana pengobatan.
Sudah berapa kali Yi Hua ada di sana?! Liu Xingsheng bahkan ingat jika kakaknya akan marah jika melihat Yi Hua menjadi pasiennya lagi. Yah, sebut saja kakaknya mungkin khawatir juga. Entah mengapa kakaknya selalu mengatakan pada Liu Xingsheng bahwa dia tak boleh membuat Yi Hua terlibat dalam pertarungan. Seolah kakaknya menyuruh Liu Xingsheng untuk memperlakukan Yi Hua seperti seorang gadis.
Padahal peramal ini tahan banting, dan melompat-lompat seperti sapi yang kerasukan.
Liu Xingsheng bahkan tak melihat sisi gadis sedikit pun dari Yi Hua.
Yah ... Liu Xingsheng melihat wajah Yi Hua yang cantik seperti piring hadiah sabun di toko Bibi Huang.
Yi Hua melirik Liu Xingsheng dengan ekspresi yang sombong seperti biasa. "Begini saja ... Kita berbagi pekerjaan. Saya akan memeriksa dimana Jenderal Wei dan lainnya. Kemudian, jika Anda mampu menggelinding pergi ke istana, minta bantuan. Ini sudah hampir tengah malam, saya pikir kita harus memeriksa istana. Mungkin kerajaan belum mengambil tindakan karena tak ada yang sempat melapor."
Jelas ini situasi dadakan yang tak pernah direncanakan oleh setiap orang. Para prajurit yang bertugas untuk menjaga kota pun mungkin sibuk dengan kerusuhan ini. Atau, prajurit kerajaan dalam perjalanan menuju ke Pusat Kota. Setidaknya ada jamianan untuk Liu Xingsheng bertemu dengan orang lain. Tidak lucu bukan jika Perdana Menteri kiri Kerajaan Li ini terinjak-injak di jalan karena tak sadarkan diri?
Liu Xingsheng berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Yi Hua, kau harus berjanji bahwa kau baik-baik saja."
DEG
Yi Hua terpaku sejenak ketika mendengar ucapan Liu Xingsheng.
Rasanya ... Seperti seseorang pernah mengatakan hal yang sama pada Yi Hua. Ketika Liu Xingsheng berbalik, Yi Hua menyadari bahwa ia telah mengulurkan tangannya. Menggapai punggung yang, entah mengapa ia tahu tak akan pernah kembali.
Perasaan apa ini?
"Putri, Anda harus berjanji jika Anda akan baik-baik saja. Saya akan menang untuk kebebasan Tuan Putri." Itu adalah ucapan seorang pria dengan ikat tali putih di kepalanya.
Seorang prajurit yang akan turun di medan perang.
Pria itu bermata teduh dan wajah yang kecil, dan bibirnya yang agak tebal. Ini pertama kali Yi Hua melihat pria ini dalam kenangannya. Di lengannya Yi Hua bisa melihat lambang keluarga yang ia kenal. Lambang keluarga itu adalah dari keluarga Wei.
Siapa dia?
Ketika Yi Hua sudah sadar dengan lamunannya, ia menyadari Liu Xingsheng sudah menghilang dari pandangannya. Pria itu sepertinya cukup gesit untuk berjalan, meski dalam keadaan terluka. Akan tetapi, dari kesunyian itu Yi Hua mulai mengingat rasa sepi di hatinya dahulu.
"Xiao, apa itu ..." tanya Yi Hua dengan nada bingung. Kepalanya sekarang terasa sakit lagi, padahal Yi Hua bukan dalam posisi 'kembali ke awal'.
Mengapa ingatan ini bisa datang lagi?
Xiao menjawab dengan tegas, "Kau adalah orang yang punya masa lalu, maka kau punya orang-orang yang kau kenal di masa lalu."
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~