Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 1: Kejadian Di Penginapan


__ADS_3

Pokoknya bukan urusanku. Mungkin dia hanya anak nakal yang tidak mau dijodohkan oleh orangtuanya. Pasti!


Sudahlah. Hidup Yi Hua sendiri saja susah, mau ditambah susah lagi dengan membantu. Padahal belum tentu orang tersebut memerlukan bantuan.


Ketika mereka memasuki ruangan penginapan itu, Yi Hua langsung tahu jika yang menyewanya adalah orang kelas atas. Pantas saja dia memiliki kalung keanggotaan Phoenix. Mungkin kepala pedagang ini memang termasuk orang yang menghabiskan uangnya untuk membeli pajangan dinding di pelelangan.


Mereka memberi penghormatan, dengan Yi Hua yang membuka pembicaraan.


"Kami mengucapkan terima kasih atas tumpangan dari Tuan Qiu. Setelah ini, kami tak akan merepotkan Anda lagi," ujar Yi Hua dengan hormat.


Bagaimana pun di antara mereka berempat hanya Yi Hua yang agak normal. Bahkan Huan Ran ini menundukkan kepala saja tidak. Sebab, seorang Perdana Menteri sepertinya hanya akan menundukkan kepala seorang Raja. Sedangkan Yue Yan, abaikan saja dia.


Orang bernama Yue Yan itu adalah makhluk ilegal yang bahkan tak mengikuti peraturan kerajaan dan sebagainya.


Tuan Qiu terlihat cukup berusia, tetapi dia termasuk orang yang tak awet muda. Mungkin dibandingkan Ling Xiao, orang ini lebih tua. Belum lagi dengan gayanya yang cukup berantakan dan kasar. Akan tetapi, senyumnya ramah seperti orangtua pada umumnya.


"Mengapa begitu, Tuan ..." Tuan Qiu menggantungkan ucapannya.


Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Saya Yi, Tuan Qiu."


Bagaimana pun pedagang ini pasti bukan orang yang sering berkeliaran di kerajaan, pastinya identitas Yi Hua yang kontroversial tak akan terungkap. Lagipula, ada berapa banyak orang yang bernama keluarga Yi di Kerajaan Li, sehingga kerajaan tak akan langsung menemukan dirinya. Apalagi Yi Hua tidak dicurigai selama di kerajaan.


"Tuan Yi tidak perlu merasa membebani. Sepertinya kita berada di tujuan yang sama," ujar pria itu sambil mengusap kalung berpermata Phoenix miliknya.


Yi Hua tampak tenang seperti biasanya. "Saya hanya datang ke kota ini untuk mencari pekerjaan."


Pasti pria ini memastikan tujuan mereka.


Tuan Qiu mempersilahkan mereka untuk duduk di masing-masing meja. Sehingga Yi Hua tak bisa begitu tak sopan untuk menolak tawaran pria itu. Apalagi mereka juga belum makan apa-apa selama perjalanan ini.


Makanan gratis jangan ditolak. Siapa yang tahu kapan lagi kita bisa makan.


Oleh karena itu, mereka duduk di tempat yang sudah disediakan. Berbagai makanan sudah terhidang di sana. Yi Hua melihat Tuan Qiu mengangkat mangkuk minumannya ke udara.


"Silahkan diminum Tuan-Tuan sekalian," ujar Tuan Qiu sambil menunggu Yi Hua dan yang lainnya mengangkat mangkuk minuman.


Huan Ran, entah bagaimana, dia bisa membuat Liu Xingsheng menggenggam mangkuk minumannya. Lalu, dengan cara yang alami yang lainnya juga mengangkat mangkuk minuman. Setelah melihat Tuan Qiu meneguk minumannya, baru Yi Hua mengarahkan minuman itu ke bibirnya.


"Tidak ada apa-apa, HuaHua. Hanya air minum biasa," ucap Xiao yang memang selalu menjadi pengawas bagi Yi Hua.


Untuk hal ini Yi Hua merasa beruntung. Bagaimana pun ia bisa mengantisipasi masalah jika Xiao sudah bisa mendeteksinya dari awal. Dan, Yi Hua meminum air itu seperti biasanya.


"Terima kasih atas keramah-tamahan, Tuan Qiu," balas Yi Hua, yang entah mengapa merasa begitu banyak bicara.


Bayangkan Huan Ran sejak tadi hanya diam tanpa ingin menanggapi apapun. Yah, itu memang sudah kepribadiannya. Mau bagaimana lagi. Juga, Yue Yan jelas lebih baik tidak bicara daripada bicara. Takutnya akan membuat masalah jika Yue Yan bicara.


Sepertinya Tuan Qiu ini memang tidak berniat menganggu urusan Yi Hua dan lainnya. Mungkin karena pria ini terlalu sibuk, dan Yi Hua serta rombongan juga tak terlihat membahayakan. Itu saja.


***


Namun nyatanya mereka tak bisa pergi begitu saja. Sebab, Tuan Qiu ternyata juga memesankan ruangan lain untuk mereka berempat. Dan, menurut ucapan Yue Yan kemarin, Pelelangan Kerajaan Bawah diadakan lima hari lagi. Sehingga menurut tolak ukur itu, mereka masih punya waktu empat hari untuk menuju Kerajaan Bawah.


Mereka masih bisa untuk tidur dengan tenang malam ini.


Yah, itulah yang Yi Hua pikirkan. Walau nyatanya itu mungkin tak 'tenang' yang benar-benar tenang.


BRAK!!


Yi Hua yang baru saja membuka mulutnya untuk menguap langsung terkejut. Bahkan Yi Hua telah kehilangan rasa ingin menguap itu, dan ia menutup mulutnya dengan perasaan hampa. Padahal baru saja ia berpikir untuk tidur dengan tenang.


Namun tak hanya Yi Hua saja yang sadar, Huan Ran lebih waspada lagi.


Mereka berada di satu ruangan yang sama. Huan Ran bersandar di dinding sebelah kanan, sedangkan Yue Yan tidur dengan tenang di sisi yang agak jauh dari Huan Ran. Yi Hua sendiri memilih untuk tidur di sebelah Liu Xingsheng, walau di kasur yang berbeda.


Karena pola hidupnya yang dikelilingi para pria, Yi Hua mulai membiasakan diri untuk bertingkah layaknya 'pria' pada umumnya. Termasuk tidur dalam satu ruangan yang sama. Yah, mereka juga tak tahu identitas Yi Hua yang sebenarnya.


Ditambah lagi Yi Hua hanya perlu berganti pakaian atau mandi di saat para pria-pria ini sibuk dengan urusan masing-masing. Juga, pria yang berada di sekitar Yi Hua cukup terhormat dan tak akan melakukan hal bejat.


Meski pun sebelum tidur, Yue Yan menegur Yi Hua yang tak membuka pakaian bagian luarnya. Jelas itu sangat panas untuk digunakan, dan Yi Hua memilih untuk tidur dengan pakaian berlapis. Jawabannya tentu saja Yi Hua mengancam Yue Yan untuk menendangnya keluar dari ruangan, dan Yue Yan langsung memeluk ular-ularnya untuk tidur. Malas berurusan dengan Yi Hua yang lebih kejam dibandingkan mertua.


"Itu pun jika mereka bisa melakukannya padamu, HuaHua. Mereka lebih takut jika kau menendang kepala mereka hanya karena menyentuh bahumu," cetus Xiao yang ingat tabiat buruk Yi Hua.


"Itulah yang dinamakan menjaga diri, Xiao!"


"Cihh ... Katakan itu jika kau bersama Hua Yifeng," ejek Xiao yang entah mengapa tak bisa jika tak mengganggu Yi Hua.


"Kau ini sebenarnya siapa-nya Hua Yifeng? Mengapa kau seperti lebih sering membela dirinya ketimbang menjauhkan aku darinya?" omel Yi Hua dalam hati.


Bayangkan. Sempat-sempatnya sekarang Yi Hua mengomel di saat ada keributan di dekat ruangan mereka.


"Yang pastinya aku sudah tahu apa yang ada di kepalamu. Aku hanya tak mengerti mengapa kau menghindarinya," jelas Xiao yang sepertinya siap melantangkan perang sebagai kubu Hua Yifeng pada Yi Hua.


Berisik sekali! Lebih baik memelihara sapi ketimbang memelihara Xiao ini.

__ADS_1


Kembali pada suara berisik itu, Yi Hua melihat Huan Ran yang bangkit dari duduknya. Yi Hua meletakkan telunjuknya di hidung Liu Xingsheng untuk memastikan. Setelah itu, Yi Hua yang kini berdiri dan berkata pelan pada Huan Ran.


"Biarkan saya yang memeriksa Perdana Menteri Huan," ucap Yi Hua yang mengeluarkan kertas jimatnya.


Bagaimana jika itu adalah serangan tiba-tiba? Atau itu Tengkorak Putih, Bao Jiazhen?


Sampai sekarang mereka masih tak menemukan jawaban pasti apakah Bao Jiazhen ada di sekitar mereka atau tidak. Sehingga mereka perlu waspada untuk setiap ancaman apapun. Bao Jiazhen sepertinya memang 'mencari' Liu Xingsheng melalui tanda yang ditinggalkannya di dada Liu Xingsheng.


Huan Ran tak banyak bicara. Pria itu hanya menarik pedangnya setengah dari sarungnya. Hanya bersiap-siap, dan pria itu mengangguk agar Yi Hua segera memeriksa.


Yi Hua menerbangkan selembar kertas jimat di telapak tangannya. "Pergilah," bisik Yi Hua sambil menerbangkan kertas jimatnya.


SRAT!


"Tidak ada aura iblis sedikit pun," ucap Xiao menenangkan.


Apa ada pencuri? Atau hanya karena keributan dari tamu penginapan lainnya?


Mendadak ingatan Yi Hua kembali pada gadis yang menabraknya tadi sore.


Yi Hua menoleh pada Huan Ran, "Saya akan memeriksa keluar."


Kertas jimat Yi Hua juga tidak kembali.


Jika Yi Hua menjalankan kertas jimatnya hanya untuk mengawasi dan menilai keadaan. Bukan seperti Ling Xiao yang bisa membuat pelindung sihir atau membentuk makhluk-makhluk untuk melawan. Paling kuatnya kertas jimat Yi Hua akan memukul beberapa kali sebelum hancur atau kusut. Apalagi kertas jimat itu akan mudah robek ketika terkena air.


Yah, apa yang diharapkan dari peramal seperti Yi Hua. Peramal lainnya bisa membuat segel sihir dan bertarung dengan kertas jimat cukup lama, tetapi Yi Hua tak bisa. Bahkan dari cerita Xiao, ayah Yi Hua, Shi Heng, bisa menyegel aura Tungku Iblis. Itulah mengapa Yi Hua bisa bertahan hidup sampai sekarang.


Bagaimana menjelaskannya.


Tungku Iblis itu ibarat air di dalam tong yang bocor. Sehingga orang-orang lain bisa mengambil 'air' dari tong itu, tetapi tak bisa menghentikan keluarnya air. Itulah yang berbahaya, karena air itu akan habis. Tong itu akan mengering. Hal tersebut ialah bayangan tentang keadaan Yi Hua.


Akan tetapi, Shi Heng menyegel kekuatan Tungku Iblis, dan tong ini memiliki sedikit pelindung dan airnya tak keluar begitu banyak. Namun segel itu sudah lama diberikan pada Yi Hua, dan Shi Heng sudah tiada. Mungkin itulah alasan mengapa kekuatan Yi Hua seringkali meluap tanpa bisa ditahan.


Di sanalah ada peran Hua Yifeng yang bisa menghentikan luapan kekuatan itu. Berbeda dengan Shi Heng yang mencegah kekuatan itu keluar, artinya jangan sampai keluar. Karena jika keluar, maka Shi Heng juga tak bisa menghentikannya. Percayalah, sebenarnya Yi Hua ini bisa sekarat kapan pun.


Sungguh hidup yang sial.


"Peramal Yi, ada apa?" tanya Huan Ran yang melihat Yi Hua hanya berdiri tegak.


Walau Huan Ran sering melihat Yi Hua melamun seperti itu, tetapi di saat seperti ini bukan waktunya melamun.


"Oh iya ... Saya keluar," ucap Yi Hua yang terkejut dari lamunannya yang panjang lebar melingkar-lingkar.


SRET!


Tapi ...


Mengapa penginapan ini mendadak redup?


Pada malam hari lentera gantung di penginapan hanya dihidupkan sebagian. Sehingga masih ada bagian-bagian yang gelap di penginapan ini. Itu membuat Yi Hua mendadak merinding.


"Jangan bilang kau takut hantu, HuaHua? Kau bisa menendang iblis, tetapi kau takut pada hantu. Aku tak tahu darimana sumber takutmu itu," ucap Xiao tak habis pikir dengan kelakukan Yi Hua.


Bayangkan Yi Hua mendadak membaca mantra-mantra aneh. Entah itu benar mantranya atau tidak. Namun Yi Hua hanya membacanya.


"Lebih mengerikan jika kau melihat hantu yang tak bisa mengubah penampilannya, Xiao. Jika dia kuat seperti iblis, dia bisa memperbaiki penampilannya. Kalau hantu mereka bahkan tak bisa menutupi bekas luka saat kematian mereka sendiri,” ucap Yi Hua agak keras.


Ia tak berbicara dalam hati hanya agar tidak merasa sepi. Dulu Yi Hua ingat saat pertama kali ia pergi ke Gunung Hua bersama Liu Xingsheng, dan melihat beberapa rupa hantu rendahan. Itu sudah menjadi mimpi buruk karena Yi Hua bahkan melihat beberapa yang tak memiliki kepala. Ada juga yang berkeliaran dengan mata yang sobek, atau dada yang terbelah.


Sungguh mengerikan.


"Xiao, cepat rasakan aura di sini! Ada hantunya atau tidak?" tanya Yi Hua sambil meraih sebatang lilin dari sudut ruangan.


Ia berjalan menjelajahi ruangan yang agak temaram dan sepi. Pemilik penginapan sepertinya tak menempatkan penjaga di lorong ruangan. Mungkin agar tak menganggu tamu. Jika ingin bertemu penjaga, maka Yi Hua harus turun ke lantai bawah.


Masalahnya tangga menuju lantai bawah berada di ujung bangunan. Yi Hua bahkan baru di bagian tengah ruangan, dan kaki Yi Hua sangat lemas seperti kurang makan. Harusnya Yi Hua meminta Huan Ran yang memeriksa tadi.


Xiao menghela napasnya sebelum menjawab. "Di sini memang ada hantunya. Namun karena auranya lemah, manusia sepertimu tidak bisa melihatnya. Hanya hantu dengan kekuatan besar yang bisa menampakkan dirinya pada manusia. Atau hanya beberapa manusia yang punya kemampuan untuk melihatnya," jelas Xiao yang sama sekali tak menenangkan Yi Hua.


Intinya hantu di sini ada, hanya Yi Hua yang tak melihatnya. Itu berarti jika Yi Hua tanpa sengaja menabrak mereka, dan Yi Hua tak akan tahu. Bagaimana jika mereka sekarang ternyata tengah memperhatikan Yi Hua ... Dan ...


GREP!


"Atas berkah dan perlindungan Dewa tak ada yang dapat melawan," ucap Yi Hua sambil menempelkan kertas jimat ke 'sesuatu' yang menarik tangannya.


Namun ...


Jika ini memang hantu rendahan yang bahkan tak bisa terlihat, pastinya secara fisik hantu ini tak akan ada. Bagaimana bisa ia menyentuh?


Yi Hua membuka matanya, dan memang ada sebuah tangan yang menarik lengannya. Di punggung tangan itu ada kertas jimat Yi Hua yang menempel. Akan tetapi, kertas itu tidak terbakar, menandakan jika kertas itu tak bereaksi pada tangan itu.


Berarti pemilik tangan itu bukan hantu.

__ADS_1


Yi Hua bisa merasakan jika tangan itu bergetar pelan.


"Bawa saya pergi dari sini. Tolong, Tuan. Bawa saya pergi," ucapan lembut itu penuh dengan rasa ketakutan yang kuat.


Yi Hua mengarahkan lilinnya ke arah pemilik tangan. Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di samping meja lentera, dan dia meraih tangan Yi Hua. Sehingga ketika cahaya diarahkan ke sana, Yi Hua bisa melihat seorang gadis yang meringkuk di sana tanpa alas kaki.


Dan, pakaiannya sobek di bagian bahu. Dari sobekan itu Yi Hua bisa melihat memar di kulit gadis itu. Belum lagi dengan tangan gadis itu yang juga memiliki bekas merah, seperti bekas diikat dengan kuat oleh tali.


Seingat Yi Hua, keadaan gadis ini sore tadi masih terlihat baik-baik saja. Mengapa malam ini sudah babak belur seperti ini?


"Sepertinya Tuan Qiu itu sangat bejat," ujar Xiao yang mewakili pemikiran Yi Hua.


Sebagai pemimpin rombongan, tak mungkin Tuan Qiu akan membiarkan, yang katanya Si 'Nona' ini terluka separah ini. Kecuali, jika Tuan Qiu juga terlibat dalam hal ini. Dari keadaan gadis ini saja Yi Hua sudah tahu apa yang terjadi pada gadis ini.


DRAP!


DRAP!


Gadis itu terlihat panik ketika mendengar langkah kaki yang datang. Tangannya mencengkeram lengan Yi Hua semakin erat, dan Yi Hua dengan cepat membuka pakaian bagian luarnya. Kemudian, Yi Hua menyelimuti gadis itu dengan pakaian bagian luarnya.


Gerakan Yi Hua itu cukup cepat, dan tangan Yi Hua meraih pintu ruangan yang ada di belakang mereka. Hanya berharap agar tidak ada siapapun yang ada di ruangan itu. Ketika ia memasuki ruangan itu, Yi Hua bisa melihat ruangan yang temaram.


Ada sekat dari kain dengan rajutan bunga mawar merah sebagai pelindung. Dari sana Yi Hua bisa tahu jika memang ada seseorang di sana. Namun dari keadaannya, orang tersebut sepertinya tengah tertidur.


Semoga saja.


"Xiao, bagaimana keadaan di luar?" tanya Yi Hua, dan Xiao tidak menjawab.


Apa-apaan? Tidak mungkin jika Xiao meninggalkan Yi Hua dan tertidur, bukan?


Memangnya ada sistem yang suka tidur seperti Xiao ini? Sialan!


Harusnya Yi Hua tahu jika tak ada hari tenang di kehidupannya ini.


"Tuan." Gadis itu mencengkeram pakaian Yi Hua yang melingkar di tubuhnya.


Yi Hua menoleh sekilas pada gadis itu yang duduk meringkuk di sampingnya. Mau tak mau Yi Hua menggeleng kepalanya. "Mereka tak akan menemukan Anda, Nona," ucap Yi Hua menenangkan.


SRET!


Gadis itu memperhatikan Yi Hua dengan lekat. Bibirnya yang memiliki sedikit memar tersenyum samar. "Terima kasih," ucapnya.


Akan tetapi, Yi Hua tak mendengarnya. Peramal itu sibuk memeriksa keadaan di luar.


Suara langkah kaki semakin dekat dengan mereka. Yi Hua meraih kertas jimatnya, dan menerbangkannya ke udara.


"Pergilah," ucap Yi Hua lagi memberi perintah.


Kertas jimat itu terbang keluar dari celah pintu yang sempit. Semoga kertas itu dapat mengalihkan perhatian mereka. Dan, benar saja Yi Hua mendengar suara seruan mereka.


"Ada cahaya di sana!" ucap salah satu dari mereka.


Lalu, Yi Hua berdiri membelakangi pintu sambil memejamkan matanya. Berharap jika tak ada kecurigaan apapun, dan mereka akan mengikuti kertas jimatnya. Suara langkah kaki melewati ruangan tempat mereka bersembunyi.


Sepertinya Yi Hua dan yang lainnya tak bisa berada di penginapan ini malam ini. Mereka harus pergi malam ini juga, sekaligus membawa gadis ini pergi. Walau Yi Hua belum tahu masalahnya apa.


Akan tetapi, bagaimana cara memberitahu Huan Ran dan yang lainnya?


"Xiao, kau tertidur atau apa? Mengapa kau tiba-tiba menghilang?" tanya Yi Hua yang kesal sendiri.


Di saat seperti ini Xiao tak bisa diandalkan.


SRET!


Tampak seseorang yang duduk di sudut ruangan yang temaram itu, Yi Hua menjadi waspada tiba-tiba. Bagaimana pun mereka adalah orang yang masuk ke ruangan ruangan orang lain tanpa permisi. Ditambah lagi ia juga tak tahu apakah pemilik ruangan ini orangnya Tuan Qiu atau bukan.


Gadis itu menarik ujung pakaian Yi Hua dengan tangan bergetar.


"Ada pintu rahasia di sana," ucap 'orang' tersebut sambil menunjuk ke bagian kanan ruangan


Suaranya agak serak seperti orang yang lupa minum seharian. Meski begitu, suara itu cukup datar, seolah bicara saja orang ini sudah malas. Akan tetapi, lebih dari segalanya ... Orang ini membantu mereka untuk keluar?


Eh?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2