
Sejatinya tak pernah ada orang yang mempertanyakan lagi tentang para penari. Mereka telah berpikir jika para penari telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Anak-anak yang tersisa dan masih hidup di dalam kelompok kembali ke orangtua mereka. Walau mereka masih kosong dan tak mengingat apapun. Mereka ketakutan saat harus kembali ke orangtua mereka. Terutama saat mereka adalah anak yang tak begitu bahagia saat bersama keluarganya sendiri.
Lalu, bagaimana ini harus dipermasalahkan lagi?
Atau, segelintir orang berpikir jika mereka yang dahulu tak begitu menyayangi anak-anak mereka akan lebih meletakkan cinta pada mereka karena kejadian ini. Yah, hanya segelintir ... Sisanya siapa yang tahu.
Semuanya berjalan dengan sangat biasa, dan Pengadilan Tinggi Kerajaan Li juga berjalan dengan sangat biasa. Walau yah ada sedikit yang berbeda. Lantaran biasanya Liu Xingsheng hanya orang yang menyangga dagunya saat Pengadilan Tinggi kini malah harus berbicara panjang. Belum lagi dengan Huan Ran yang beberapa kali memberi isyarat agar Liu Xingsheng berbicara dengan benar, karena pria itu sudah seringkali tertawa sambil bicara.
Entah karena apa.
"Lalu, bagaimana bisa penari itu berubah menjadi monster? Dia menjadi iblis seperti ..." Pertanyaan salah satu pejabat menggantung begitu saja.
Bukan karena apa, mereka hanya takut untuk menyebut nama-nama iblis yang meresahkan dunia manusia selama ini. Itu saja.
Huan Ran menyipitkan matanya. Bukan perkara dia marah atau apapun, dia hanya terbilang begitu malas untuk beramah-tamah.
"Yah, sederhananya ialah seperti itu. Dia memiliki kekuatan dengan menyerap tubuh anak-anak. Namun itu bukan atas keinginannya," jelas Huan Ran.
Pejabat itu lagi-lagi bergidik. "Iblis memang mengerikan. Saya yakin dia tak begitu berbeda dengan Iblis Kehancuran, Hua Yifeng."
"Bukan perkara iblis yang mengerikan. Nyatanya itu dibuat oleh seorang manusia, Pejabat Liang! Manusia yang membuat dia seperti itu, " bantah Liu Xingsheng.
Nyatanya jika suatu kejahatan diperbuat, seseorang akan selalu menyebutnya dengan iblis. Liu Xingsheng sering mendengarnya, sehingga manusia begitu membenci para iblis. Terutama pada Hua Yifeng yang sangat berkuasa dan ditakuti, baik di dunia hantu atau dunia manusia.
Selir Qian yang ikut dalam Pengadilan Tinggi awalnya diam. Namun ketika adik kesayangannya itu berucap, Selir Qian langsung memberi lirikan pada Liu Xingsheng. Hal itu membuat adiknya itu merapat pada Huan Ran.
"Maafkan kelancangan adik hamba, Pejabat Liang. Dia hanya terkadang agak konyol," ucap Selir Qian sambil memberikan penghormatan.
Pejabat Liang tertawa dengan wajah menyebalkan. "Selir Qian tak perlu meminta maaf. Saya pikir Perdana Menteri Liu hanya perlu belajar," sindir Pejabat Liang yang memang agak mempermasalahkan penempatan Liu Xingsheng sebagai Perdana Menteri.
Ini adalah hal yang lumrah dalam politik kerajaan. Tingkatan selalu menjadi bagian yang meresahkan. Terkadang satu pihak akan mengkritik kinerja pada pihak yang lain. Lalu, pekerjaannya sendiri menjadi terabaikan. Sedangkan, pihak lainnya juga sama, yakni mengkritik pekerjaan orang lain tanpa menilai pekerjaan sendiri. Semuanya terus berlanjut begitu saja hingga busuknya diri sendiri selalu terlupakan.
Lagipula, di mata mereka Liu Xingsheng hanyalah segelintir orang yang bisanya memeluk paha emas*, bukannya seseorang yang berbakat. Sehingga penghormatan mereka terasa kurang pada Liu Xingsheng.
^^^*Memeluk paha emas: Itu adalah orang yang punya orang dalam maksudnya. Liu Xingsheng itu adiknya Selir Qian, berarti dia iparnya Raja Li, bukan?^^^
"Kau ..." Liu Xingsheng merasa ingin menjambak rambut Pejabat Liang yang menyebalkan itu hingga botak. Siapa tahu dengan kepala yang lebih 'bersih', Pejabat tua itu akan kurang menyebalkan.
BRAK!
Selir Qian menggebrak meja hingga semua orang di Pengadilan Tinggi terkejut. Bahkan Raja Li Shen sendiri. Hal itu membuat dagu Raja Li Shen tergelincir dari tumpuan tangannya. Pria itu tidak melamun, hanya saja dia tak menyangka jika Selir Qian memiliki aura yang sedikit menekan. Itu cukup aneh saat aura penguasa lebih terasa pada diri Selir Qian.
Raja Li Shen sendiri juga tak bisa membantah jika Selir Qian berkata. Entah karena apa.
"Diamlah, Xingsheng. Kau harus menjadi orang yang menerima nasihat orang lain. Jangan sampai kau bekerja seolah kau orang paling benar, padahal tak ada yang berhasil di pekerjaanmu," ucap Selir Qian dengan mata tajam.
Pejabat Liang mendadak berkeringat dingin.
Kemudian, Selir Qian melanjutkan, "Saya harap Pejabat Liang juga mendapatkan perkembangan untuk kasus di Desa Yi. Itu sudah hampir setengah tahun, tetapi belum selesai juga. Kekeringan di sana juga belum di atasi."
Pejabat Liang menatap ke arah lain. Tepatnya pada pejabat-pejabat lainnya. Sayangnya, mereka semua berpura-pura untuk tak melihatnya. Lagipula siapa yang ingin ikut campur pada kelalaian dari Pejabat Liang sendiri.
Raja Li Shen menatap tajam pada Pejabat Liang. "Kita akan membicarakan itu nanti. Jika Pejabat Liang tak sanggup, berikan saja tugas ini pada pejabat lainnya. Sedangkan untuk kasus sebelumnya, ... Apakah tidak ada penjelasan lebih rinci tentang bagaimana monster itu tercipta?"
Semua orang beralih untuk menatap pada Selir Qian. Jelas siapa saja mengetahui jika Selir Qian adalah yang lebih ahli dalam perihal ini. Ditambah lagi dengan hal langka yang baru saja terjadi.
Bagaimana cara manusia bisa mengubah dirinya sendiri untuk tetap muda? Lalu, bagaimana bisa ada peningkatan kekuatan yang drastis pada diri manusia? Yang mereka ketahui hanyalah sebuah ritual mungkin dilakukan dengan menumbalkan darah muda. Itu saja.
"Bagaimana jika satu benda yang sangat baik ditambahkan pada satu benda lainnya yang sudah rusak? Seperti memperbaiki atau mencegah kerusakan," tanya seseorang yang entah mengapa bisa ada di dalam ruangan Pengadilan Tinggi ini.
CRANG!
Semua orang menatap pada mangkuk teh yang pecah di lantai. Nyatanya mungkin hanya beberapa orang yang mengerti dengan ucapan Selir Qian. Jelas Liu Xingsheng masuk dalam golongan yang tak paham apa-apa. Akan tetapi, dari reaksi itu semua tahu jika pembicaraan hari ini pasti tidak akan menyenangkan.
"Peramal Yi ..." Wang Zeming, Penasihat Kerajaan tampak cukup pucat dengan pertanyaan itu.
Sejak tadi mungkin peramal dengan pakaian serba putih itu lebih fokus untuk mengkhayal. Akan tetapi, ketika Selir Qian menggebrak meja sebelumnya, pikiran Yi Hua kembali ke alamnya. Hal itu membuatnya lebih fokus, dan melupakan dahulu tentang rencana bisnis ramalannya yang kurang laku.
Bukannya tak laku, hanya kurang diketahui oleh orang-orang! Jika mereka tahu, pasti mereka memerlukan jasaku.
Xiao mengeluarkan bahasa lain agar batin Yi Hua mudah dimengerti. "Maksudnya adalah kurang diminati."
Sudahlah!
__ADS_1
Yi Hua menyadari jika ia mendapat tatapan yang tajam dari berbagai arah. Terutama dari Raja Li Shen yang begitu pembenci. Yi Hua tahu jika Raja Li Shen sangat membenci pendapat itu.
Sebab, dahulu sekali ... Seseorang pernah mengatakan hal yang sama.
SRET!
Selir Qian menghela napasnya saat harus membahas tentang ini. Sebelumnya Selir Qian menentang Yi Hua untuk membeberkan semuanya. Akan tetapi, Yi Hua mengatakan bahwa semua orang perlu mengerti apa yang mereka hadapi.
Hal itu yang membuat Selir Qian mengeluarkan gulungan tua yang awalnya wanita itu sembunyikan. Ia berpikir selamanya hanya ia yang akan tahu tentang isi gulungan itu. Nyatanya baru beberapa hari yang lalu ia membiarkan Yi Hua untuk ikut membacanya.
Berkat itu, Yi Hua bisa menyelesaikan kasus yang cukup mencengangkan ini.
"Seperti saat seseorang yang kehabisan darah di medan perang, Anda bisa menambahnya darahnya dengan darah orang lain. Jika seseorang mengalami rusak di organnya, Anda bisa menggantinya dengan organ orang lain," ucap Yi Hua yang berpikir terlalu jauh ke depan.
Seorang pejabat jelas tak begitu setuju dengan pandangan itu. "Apa kau pikir hal seperti itu bisa dilakukan? Kau pikir manusia bisa melakukan hal yang mustahil seperti itu?"
"Tak ada yang tahu bagaimana kemajuan yang akan datang di beberapa tahun ke depan. Atau, bahkan kemajuan itu akan datang di berpuluh, atau ratusan tahu setelah ini dibicarakan. Namun selalu ada kemajuan, dan di masa depan Anda tak pernah tahu jika akan ada alat atau benda yang membantu manusia untuk melakukannya. Apakah Anda menyadari tentang senjata perang yang terus berkembang dari tahun ke tahun? Lalu, tentang cara pengolahan makanan yang semakin berbeda juga. Siapa yang bisa menjamin tentang kemajuan dalam pengobatan manusia yang akan berkembang nantinya," cetus Yi Hua yang memikirkan tentang teori ini. Entah mengapa dia bisa memikirkan selalu ada kemungkinan.
"Seperti yang dikatakan oleh Yi Hua, itu hanyalah kemungkinan. Namun itu bisa dikaitkan dengan kejadian ini. Meski kejam, tetapi itulah yang dilakukan oleh para penari itu. Mereka menggunakan darah muda untuk mencegah penuaan. Seolah darah yang muda ini memiliki zat yang bisa mencegah penuaan. Walau belum ada yang bisa membuktikan tentang hal ini," jelas Selir Qian yang berusaha sesederhana mungkin.
Selir Qian menyela hanya agar tak terjadi kerusuhan. Ia hanya tak ingin Yi Hua menendang kepala pejabat itu. Secara Yi Hua cukup liar seperti sapi kurang dipelihara. Ditambah lagi ini jelas tak banyak orang yang cukup cerdas untuk menangkap pemikiran Yi Hua itu. Lagipula, ini hanyalah ucapan semata, belum ada hasil, sehingga masihlah sangat abu-abu.
Lalu, Selir Qian menambahkan, "Lagipula, bukan Yi Hua yang menyebutkan tentang 'penggantian' ini. Puteri Li Wei yang menyebutnya dahulu."
Suasana langsung menjadi hening. Terkadang mereka berpikir jika Puteri Li Wei ini benar-benar hitam dan pembuat masalah. Walau di masa remajanya Puteri Li Wei sangat mengagumkan dan cerdas, tetapi dia malah menjadi kutukan bagi semua orang. Padahal Puteri Li Wei telah tiada sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Wang Zeming mengerutkan keningnya. Entah mengapa pria tua itu terlihat begitu susah hati. "Itu hanyalah pemikiran aneh dari Puteri Li Wei. Dia memang pernah menuliskannya, tetapi hanya sebatas tulisan. Dia tak pernah mencoba apa yang dia ucapkan sendiri."
Yi Hua mendengar Xiao berucap di telinganya, "HuaHua, berdasarkan informasi, Wang Zeming ini adalah guru Puteri Li Wei di masa lalu."
"Akan tetapi, beberapa tahun setelah kematian Puter Li Wei rumor tentang cangkang manusia muncul. Bukankah 'mengganti' ini bisa dihubungkan juga? Dengan pengorbanan, kau bisa memanggil kembali jiwa yang pergi untuk masuk ke dalam tubuhnya. Lalu, bagaimana jika tubuh itu sudah hancur, pasti mencari tubuh lain untuk menjadi 'wadah', bukan?" ucap Selir Qian yang sudah memiliki pemikiran ini sedari ia kecil.
Selir Qian adalah seorang wanita yang tumbuh dengan mendengar banyak cerita. Salah satu cerita terkenal ialah tentang cangkang manusia. Di mana seorang pria ingin mengembalikan kekasihnya. Lalu, dia melakukan pemanggilan jiwa agar roh kekasihnya kembali ke dalam tubuh.
Sayangnya, manusia bukanlah Dewa. Meski 'kembali' hidup, tetapi kekasihnya hanya seperti boneka yang diberi roh. Kembali hidup dan seperti iblis. Membunuh banyak orang. Hal yang sebenarnya tak pernah bisa dilakukan oleh kekasihnya. Hal itu yang membuat pria itu berpikir jika itu bukanlah kekasihnya lagi, dan menusuk jantung kekasihnya.
Membunuh kekasihnya, memberi kematian untuk kedua kalinya. Semua cerita yang tragis, walau tak diketahui kebenarannya. Seperti namanya, ini hanyalah rumor. Tak diketahui apa itu benar. Siapa yang memulai ceritanya juga tak diketahui.
Yi Hua menekan permata merah di telinga kirinya. Yi Hua selalu memikirkan tentang ini semua, tetapi ini sedikit masuk akal. Sebab, dirinya adalah jiwa yang masuk ke dalam tubuh gadis yang menyamar menjadi pria ini!
Pasalnya saat ia terbangun sebagai Yi Hua, semuanya terlihat baik-baik saja. Tak terlihat ada bekas dan sisa dari pengorbanan jiwa. Biasanya jika ritual seperti itu pasti akan memiliki banyak bahan sebagai pelengkapnya.
Ia jelas-jelas terbangun dengan sangat 'miskin'. Kelaparan, baju yang kotor, dan makanan yang bahkan lebih buruk dibanding makanan sapi.
Xiao menyahut dengan singkat. "Bukankah itu tujuanmu selama ini? Jika aku menjawabnya mungkin kau tak ada fungsinya hidup dalam sistem ini. Berarti ceritanya habis, bukan?"
Menyebalkan tetapi masuk akal.
Lalu, suara lain terdengar hingga pemikiran Yi Hua terberai kembali ke tempat masing-masing. Suara itu terdengar dari sudut, dan Yi Hua entah mengapa mengenalnya. Itu jelas adalah pamannya sendiri, ayah Shi Qingnan*. Yah, itu karena pria tua itu cukup mirip dengan Shi Qingnan. Semoga tak sama menyebalkan seperti Shi Qingnan itu!
^^^*Ingat tentang sepupu Yi Hua yang pernah muncul di beberapa chapter sebelumnya. Yang ditempelkan sama An ke dinding tuh pas ngerusak pintu rumah kesayangan Yi Hua.^^^
"Ini sedikit aneh, tetapi perlahan semua hal seperti terhubung dengan Puteri Li Wei. Juga, Lingkaran Mawar ... Bukankah sudah mulai tersusun? Yang pernah Yi Hua katakan ialah jika Lingkaran Mawar tersusun, Puteri Li Wei akan hidup kembali. Benar, Yi Hua? Jika memang benar, maka ada seseorang yang menginginkan Puteri Li Wei terlahir kembali. Kita hanya perlu mencari orang ini," ucap Paman Shi yang menatap pada Yi Hua.
Jelas sekali Paman tercintanya ini tak bertanya padanya. Sebab, setiap pamannya bertanya, itu akan dijawabnya sendiri. Namun Yi Hua nyaris ingin menggaruk dinding karena sebal. Seandainya ia tahu alasan mengapa Yi Hua asli meramal seperti itu, semuanya akan mudah. Sayangnya, dia tak bisa tak memberi pendapat apapun. Sistem busuk ini juga tak mau memberitahu tentang itu semua.
"Yah, mungkin saya pernah mengatakannya, Paman??" ujar Yi Hua yang entah mengapa berubah menjadi pertanyaan.
SRET!
"Hal yang paling mungkin ialah Hua Yifeng. Bukankah dia kekasih Puteri Li Wei? Itulah mengapa dia menyebabkan banyak kerusuhan," cetus seorang pejabat yang Yi Hua tak kenal. Dia jelas tak begitu mengenal para pejabat di Kerajaan Li. Itu terlalu banyak hingga terkadang uang pajak pun selalu habis untuk membayar mereka.
Lagi-lagi yang lain bertambah riuh karena kemungkinan ini. Jelas semua yang diucapkan itu masuk akal. Apalagi dengan semua kasus besar yang ternyata berhubungan dengan Lingkaran Mawar.
Juga, Lingkaran Mawar itu benda sakral yang aneh. Hanya segelintir orang yang bisa membuatnya 'aktif'. Namun seorang Iblis tingkat kehancuran, yang artinya paling tertinggi di antara semuanya, pasti bisa mengendalikannya. Akan tetapi, tak ada bukti yang jelas tentang ini semua.
Pejabat Liang kembali mengeluarkan taringnya. Ia menatap Yi Hua dengan sinis. "Bukankah dia hanya mengucapkan omong kosong? Lagipula, dia jelas ingin mencari perhatian. Apakah peramal Yi begitu ingin terlihat oleh Yang Mulia hingga begitu berani?"
Lalu, semua orang juga sangat ingat tentang rumor bahwa Yi Hua menyukai Raja Li Shen. Itu adalah ketidaksopanan yang tak termaafkan. Ditambah lagi Raja Li Shen tak mungkin tertarik pada Yi Hua. Juga, Yi Hua adalah seorang pria di mata orang lain.
Lihatlah betapa buruknya alur hidup Yi Hua ini!
Yi Hua tersenyum tipis. "Bisa jadi itu hanyalah ucapan Dewa yang disampaikan melalui saya. Jika takdir Dewa mengatakan agar Puteri Li Wei ... "
__ADS_1
BRAK!
Jantung Yi Hua nyaris pergi ke langit karena terkejut. Pandangannya langsung teralih pada Raja Li Shen, dan itu membuatnya harus langsung membuang pandangannya. Sejatinya, tak ada yang boleh menatap Raja Li Shen dengan begitu lancang.
Dari pandangan sekilas itu, Yi Hua bisa melihat mata Raja Li Shen yang tajam. Mungkin kebencian Raja Li Shen pada kakaknya sendiri, Li Wei, bukanlah suatu kebohongan. Raja ini membenci saudari kandungnya sendiri.
Tangan tegas Raja Li Shen menekan pecahan dari mangkuk tehnya. Mungkin karena gebrakan dari tangan Raja Li Shen yang membuat mangkuk tehnya pecah. Lalu, melukai tangan Raja yang pendendam itu. Yi Hua bisa melihat tetesan darah yang mengotori pecahan mangkuk putih itu.
Lalu, Raja Li Shen mengibaskan jubah dengan gambar naga. Jubah yang memang dikenakan seorang penguasa Kerajaan Li. "Jika memang itu adalah bekas peninggalan darinya dan semua kebodohannya. Hancurkan. Kumpulkan Lingkaran Mawar itu, dan jangan disatukan. Bukankah aku sudah menugaskan mu untuk membunuh Hua Yifeng, Peramal Yi?"
Raja ini pasti berpikir jika Hua Yifeng ini seputih kapas! Mana bisa membunuhnya dengan begitu mudah.
Lagipula, membunuh itu bukan perkara mudah. Ditambah lagi pada Hua Yifeng yang pernah menyelamatkannya. Ingatlah bahwa jika tiada Hua Yifeng yang menarik energi buruk dalam dirinya, dia akan meledak.
^^^*Ini kasus yang Pangeran Li Quon yang sakit itu. Yi Hua menarik energi buruk ke dalam tubuhnya, dan Hua Yifeng menarik energi itu dari Yi Hua. ^^^
"Maafkan kelalaian hamba, Yang Mulia. Hamba bersalah," ucap Yi Hua sambil menundukkan kepalanya.
Namun Raja Li Shen tak berniat untuk membahas ini kembali. Raja itu berdiri sebagai pertanda Pengadilan Tinggi usai.
"Tapi, jika memang Li Wei terlahir kembali. Aku yang akan menghancurkannya," ucap Raja Li Shen yang pergi.
Yi Hua bisa mendengar langkah kaki Raja Li Shen yang melintas di sampingnya. Lalu, ada suara langkah kaki lain di belakangnya. Itu adalah Wang Zeming.
Pria tua dengan wajah hangat itu menepuk kepala Yi Hua yang masih menunduk. "Berdirilah kembali dan beristirahat."
Yah, Yi Hua memang agak lelah beberapa hari ini.
"Terima kasih, Penasihat Wang," ucap Yi Hua dengan senyum tipis di wajahnya.
Lalu, pria itu pergi meninggalkan aula Pengadilan Tinggi. Tak hanya Wang Zeming, tetapi pejabat yang lainnya juga keluar. Beberapa di antara mereka tetap berada di dalam ruangan. Seperti kedua Perdana Menteri yang mendekat ke arah Yi Hua.
Liu Xingsheng menepuk bahu Yi Hua. "Aku tahu kau pasti lapar. Ayo ke Pusat Kota!" ajak Liu Xingsheng dengan semangat.
Yi Hua jelas makhluk yang tak pernah menyia-nyiakan makanan gratis. Hal itu yang membuatnya menghela napas. Itu semua karena dia tak bisa makan gratis, sebab dia harus pergi ke suatu tempat.
"Bisakah Perdana Menteri mengajak saya lain kali?" tanya Yi Hua yang melepaskan tangan Liu Xingsheng dari bahunya.
Sejatinya Liu Xingsheng jika akrab dengan seseorang akan begitu lekat. Sayangnya, Yi Hua adalah makhluk beda jenis dengan Liu Xingsheng. Di masa mereka sekarang, wanita terhormat dan pria terhormat tak bisa berinteraksi begitu dekat.
"Apa kau akan berjalan-jalan dengan Tuan An? Aku ikut!" cetus Liu Xingsheng dengan semangat.
SRET!
Baru saja Liu Xingsheng mengatakannya, tetapi telinganya di tarik oleh tangan cantik dari arah belakang. Itu adalah Selir Qian yang kini mengawasi adiknya dengan ketat. Selir itu melepaskan tarikannya ketika Liu Xingsheng memohon.
"Bukankah kau punya pekerjaan di Istana, Xingsheng? Kau harusnya tak begitu bersantai, dan membiarkan Huan Ran bekerja sendirian," ucap Selir Qian dengan pandangan tajam.
Liu Xingsheng mengusap telinganya, "Dengan atau tanpa aku Kakak Huan juga bekerja sendirian, Kak!"
Yi Hua selalu mempertanyakan bagaimana Raja Li Shen bisa terpikirkan untuk menjadikan Liu Xingsheng seorang Perdana Menteri. Meski agak pendek hati, tetapi Raja Li Shen jelas tak akan menumbalkan satu negara hanya karena mengangkat Perdana Menteri yang tak becus ini. Entahlah. Yi Hua kurang tahu pemikiran dari Raja Li Shen.
"Saya harus pergi," ucap Yi Hua sambil memberikan penghormatan pada kedua Perdana Menteri dan Selir Qian. Bahkan tanpa mendengarkan seruan Liu Xingsheng yang masih ingin ikut dengannya.
"Kau ingin pergi kemana, HuaHua?" tanya Xiao dari telinga kirinya.
Kini Yi Hua berjalan di bagian taman kerajaan. Hal itu yang membuat Yi Hua bisa melihat dedaunan yang gugur. Sepertinya sudah akan masuk ke musim gugur. Bahkan bunga plum pun ikut berguguran.
Yi Hua menatap pada kelopak bunga plum yang terjatuh dari rantingnya. Ia mengingat tentang seseorang yang pernah mengatakan padanya tentang bunga. Katanya, terkadang saat bunga berguguran itulah yang paling indah.
Tangannya meraih kelopak bunga plum itu, tetapi tak bisa tertangkap. Kelopak bunga itu terjatuh ke tanah bersama kumpulannya yang lain. Ketika di tanah kelopaknya bergabung dengan dedaunan. Itu sangat indah, dan mengingatkannya tentang seorang penari yang memakai pakaian yang sama indahnya.
"Aku pikir ada suatu tempat yang harus aku kunjungi," ujar Yi Hua lemah.
Aku hanya ingin tahu apakah cerita orang baik itu benar adanya. Sebuah tempat dimana anak-anak itu katanya bahagia.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~