Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Perdana Menteri Baru


__ADS_3

Lalu, semuanya berlalu begitu saja.


Seperti hujan dan angin yang datang, semuanya akan reda jika matahari kembali muncul. Semuanya terlihat baik-baik saja saat Yi Hua kembali ke Pusat Kota. Namun situasi baik-baik saja ini entah mengapa menjadi kepedihan tersendiri.


Ada kesunyian di sana.


Saat Yi Hua pergi, ia bersama Huan Ran dan Liu Xingsheng.


Dan ia kembali sendirian.


Saat Li Shen pergi untuk mencari Liu Xingsheng, ia bersama Liu Xinqian, Selir Qian.


Dan Li Shen kembali sendirian.


Kesedihan itu tampak biasa, tetapi tak ada kata yang bisa mengungkapkannya. Bahkan Raja Li Shen sendiri. Ini terjadi sama, dan orang-orang mulai percaya jika kutukan kematian Keluarga Kerajaan Li sedang berjalan.


Sejatinya, dahulu kala ... Hanya Li Shen yang tersisa di Keluarga Kerajaan. Sekarang darah yang menyandang darah Li lebih langka dibandingkan jumlah sapi terbang. Banyak yang mengatakan jika kutukan Li Wei terhadap Kerajaan Li masih berlanjut.


Rumor aneh bertebaran dan Yi Hua sedikit tak perduli pada rumor itu.


Hari itu ...


Yi Hua berdiri di belakang Peramal lainnya. Berdiri dengan pakaian putih formalnya untuk mendoakan. Memberikan penghormatan terakhir dan doa untuk Liu Xinqian.


Ia hanya bisa menatap peti milik Selir Qian yang terasa mewah tetapi sepi.


Pemakaman Selir Kehormatan, Liu Xinqian berlalu dengan air mata yang banyak. Wanita itu dicintai sebagai sebuah bunga milik Kerajaan Li. Meski tak ada yang tahu jika bunga tak selamanya berbau harum. Begitu juga dengan Liu Xinqian.


Tapi apa pantas seseorang seperti Yi Hua menentukan tentang baik atau buruknya seseorang?


Bukan hanya Yi Hua. Tak ada orang lain yang pantas mengukur kebaikan yang dibuat dan keburukan yang ditempa oleh orang lain. Semua itu antara orang tersebut dengan Sang Pencipta.


Tak ada yang tahu pasti sebab kematian dari Selir Qian. Hanya saja seutas cerita dari Pusat Kota beradu dari mulut ke mulut. Tentu saja biasanya hidup keluarga kerajaan selalu berbahaya di tangan musuh. Itulah yang mereka percaya.


"Ibu ..."


Yi Hua menoleh pada sosok kecil yang sebenarnya sangat Yi Hua kenali. Itu adalah putera satu-satunya dari Li Shen, Pangeran Li Quon. Jika diurutkan dari garis darah, hanya Li Shen dan Li Quon yang tersisa dari dari Li.


Li Quon bukanlah putera yang dilahirkan Selir Qian. Karena fakta menyedihkan bahwa wanita itu tak bisa memberi keturunan bagi Raja. Li Quon adalah anak dari Selir Wen, tetapi pria kecil itu lebih dekat dengan Selir Qian.


Di hari pemakaman ini Yi Hua melihat wajah cerah dari Selir Wen dan beberapa Selir lainnya. Tentu saja mereka merasa senang karena persaingan di antara para kecantikan itu. Namun apa perlu untuk tersenyum di hari pemakaman orang lain?


Lagi-lagi pandangan Yi Hua tertuju pada punggung kecil Li Quon yang memberikan penghormatan terakhir untuk Selir Qian.


Punggung kecil Li Quon mengingatkan Yi Hua pada Li Shen kecil. Tapi Li Shen kecil itulah yang kini dilihat Yi Hua berdiri tegap di depan peti peristirahatan Selir Qian.


Yi Hua menebarkan kertas berisi doa di udara. "Tenanglah di sana, Yang Diberkati Selir Qian," bisik Yi Hua lemah.


Yi Hua tersenyum tipis dengan setitik air mata yang diam-diam ia keluarkan. Kini mereka menundukkan kepala untuk Raja Li Shen yang berlalu untuk kembali ke istana. Membawa kesedihan yang Yi Hua tak bisa gambarkan. Meski begitu, wajah Li Shen tetap tenang untuk mempertahankan ketegasan.


Yang tiada biarlah tiada.


Yang tersisa menuai segalanya.


Untuk sekarang, Yi Hua masih percaya jika Liu Xingsheng masih hidup.


***


Kedua kursi Perdana Menteri Kerajaan Li kosong.


Tentu saja ini menjadi masalah yang sangat serius. Sejak awal sistem Dua Perdana Menteri dibuat karena Raja sebagai tonggak tertinggi kekuasaan dianggap lemah. Oleh karena itu, sistem Dua Perdana Menteri ini berjalan.


Sekarang mereka kehilangan bukan hanya satu, tetapi dua.


Berita kematian Liu Xinqian menjadi bahan baru untuk penentu sebab hilangnya Liu Xingsheng. Banyak yang mengatakan jika Liu Xingsheng tak sanggup kembali ke Kerajaan Li ketika melihat kematian kakaknya. Ada yang mengatakan jika Liu Xingsheng juga sebenarnya sudah tiada, karena penyakitnya dahulu.


Liu Xingsheng dan Liu Xinqian adalah kembar sepasang. Sehingga ada yang percaya jika mereka terlahir berdua, maka mereka meninggal juga berdua.


Sedangkan Huan Ran dirumorkan melarikan diri bersama wanita dari kerajaan musuh. Itu disebabkan oleh beberapa orang yang mengaku melihat Huan Ran berjalan dengan seorang gadis. Yah, sebenarnya Yi Hua tahu siapa yang dimaksud oleh orang-orang ini.


Itu adalah saat dulu cara Huan Ran membawa lari Liu Xingsheng dari istana.


Huan Ran menutupi kepala Liu Xingsheng dengan penutup kepala yang biasanya digunakan seorang gadis. Entah mengapa hal tersebut malah menjadi berita terbaru untuk para pengarang cerita. Dan ... Yi Hua tak begitu perduli untuk meluruskannya.


Yi Hua kembali seperti biasa.


Bekerja di ruang peramal yang semakin hari semakin banyak yang menganggur.


Masalahnya sejak pecahnya cerita jika Peramal Ling Xiao salah meramal. Orang-orang Kerajaan Li sudah tak begitu percaya pada Peramal Kerajaan. Hanya menunggu waktu saat para peramal ini beralih pekerjaan menjadi pelukis seperti yang dilakukan Ling Xiao.


Setidaknya Yi Hua hanya perlu mencari pekerjaan lain nantinya. Atau Xiao pernah menyarankan agar Yi Hua pulang ke Kerajaan Bawah untuk hidup bersama Shi Heng, ayahnya di dunia ini. Jika begitu dia bisa menjadi anak tunggal kara raya!


Akan tetapi, ...


"Aku ingin mencari uang sendiri," ucap Yi Hua dengan motivasi penuh.


Xiao menyahut dengan suara menghina. "Bilang saja kau takut ketahuan oleh Shi Heng. Meski terlihat agak tak berguna, tetapi Shi Heng itu seorang peramal."


Yang artinya Xiao punya kemampuan spiritual.


Lalu, dimana Hua Yifeng?


Yi Hua tak bisa menemukan pria itu setelah pertarungannya dengan Bao Jiazhen.


"Mungkin saja dia mencari wanita lain yang lebih berisi dibanding kau yang sering mengikat dadamu sendiri," ejek Xiao tanpa berniat menahan ucapannya sendiri.


Yi Hua menghela napas. "Apa aku membuka penyamaran ku saja? Supaya kau tahu Xiao betapa mempesonanya aku! Tapi ... Pekerjaan di Kerajaan sangat sulit untuk seorang gadis."


Yah ... Dunia di masa Yi Hua hidup ini wanita dipandang sebagai kecantikan yang melengkapi. Jika Yi Hua berhenti berpura-pura itu seperti membuat masalah baru. Bagaimana jika Yi Hua dikira memiliki maksud saat menyamar menjadi pria?


"Ah ... Bagaimana jika kau menjadi gadis penghibur saja?" usul Xiao yang agak ekstrim.


"Jika kau punya mulut, mungkin aku akan meminta sapi untuk mengecup bibirmu!" ucap Yi Hua yang jengkel. Ia tahu jika Xiao itu seringkali bercanda. Namun ia tak menyangka jika Xiao begitu tega padanya.

__ADS_1


Hari ini Yi Hua berbaring di lantai kumuh kediamannya. Sedang berdiskusi dengan Xiao tentang masa depannya. Sayangnya, yang diajak berdiskusi rupanya tak begitu berguna.


"Atau ... Kau pergi saja ke Hua Yifeng. Lalu, kau mengaku mengandung anaknya. Nanti kau menggunakan bantalan kain di perutmu. Kau tahu bukan jika Hua Yifeng juga termasuk kaya," ujar Xiao memberi saran lagi. Entah darimana otak licik Xiao bisa tak karuan seperti itu.


Yi Hua mendadak semakin jengkel. "Di matamu kehormatan ku itu sebesar apa, Xiao?"


"Memangnya kau punya?" tanya Xiao tanpa hati.


Makhluk ini pasti adalah musuh setiap umat!


Lagi-lagi Yi Hua diam. Setidaknya ia masih memiliki teman bicara kali ini.


Yi Hua berbicara lagi, "Xiao, kau itu apa sebenarnya? Apa kau akan pergi saat misiku berhasil? Atau ... Sebenarnya tujuan dari Xiao System belum selesai?"


Xiao menyahut pelan. "Apa itu penting? Aku akan pergi saat semuanya selesai."


Lihatlah. Bukankah Xiao selalu penuh rahasia?


Mengapa Xiao bertingkah seolah mereka sekarang kurang kerjaan? Tapi di satu sisi Xiao selalu berkata jika semuanya sebenarnya belum selesai. Apa yang perlu dicari oleh Yi Hua kali ini?


"Apa sebenarnya tujuan dari Xiao System ini, Xiao?" tanya Yi Hua pelan.


Pertanyaan ini sejak awal Yi Hua tanyakan di dalam kepalanya.


"Setiap perkara selalu memiliki tujuan, entah itu baik atau buruk. Kau hanya punya dua pilihan. Menikmati kesempatan hidup kedua dengan baik, atau mencari tahu alasan mengapa kau terlahir kembali menjadi Yi Hua," ujar Xiao dengan santai.


"Lalu, setelah tujuan yang dimaksud ini tercapai apa kau masih akan ada?" tanya Yi Hua yang mulai tak menyukai tentang perpisahan.


Entah mengapa orang-orang di sekitarnya datang dan pergi tanpa bisa Yi Hua cegah.


"Entahlah."


Apa itu yang disebut dengan jawaban? Jika iya, maka Yi Hua akan mengutuk semua jawaban yang tidak informatif seperti itu.


BRAKK!!!


Yi Hua dikejutkan oleh suara gebrakan nyaring itu. Hal tersebut membuat Yi Hua dengan cepat memperbaiki pakaiannya. Biasanya Yi Hua jarang menggunakan pakaian selapis seperti ini. Ia hanya menggunakannya ketika ada di rumah.


Oleh karena itu, Yi Hua menyambar jubah bagian luarnya.


"Yi Hua, Yang Mulia memanggilmu ke Pengadilan Tinggi."


Dari suara itu Yi Hua bisa mengenal siapa di balik pintu. Tentu saja itu adalah Jenderal Wei Qionglin, adik dari Wei Wuxie.


Mengingat itu ia menyadari jika Wei Qionglin tak tahu jika kakaknya masih hidup.


Dan lebih penting dari segala ... Mengapa Yi Hua dipanggil ke Pengadilan Tinggi?


***


Ketika Yi Hua datang ke Pengadilan Tinggi, para pejabat lain memang sudah ada di sana. Rupanya sebelum Yi Hua dipanggil, mereka sudah melaksanakan pertemuan terlebih dahulu. Yi Hua hanya bisa menegakkan kepalanya sebisa mungkin. Jika dia menengok ke kiri atau kanan nanti ia salah tingkah.


Jelas itu tak sesuai dengan kriteria dari Yi Hua yang selalu angkuh dan agak pendiam.


Setelah berdiri tepat di tengah aula. Tepatnya ia berdiri di tengah-tengah Pejabat Kerajaan. Di depan mereka ada Raja Li Shen yang terlihat rapi untuk seorang pria yang kehilangan pendamping hidupnya. Akan tetapi, itu tidak begitu aneh karena seorang Raja harus tetap tegas di hadapan para Pejabat Tinggi.


"Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li. Semoga Yang Mulia panjang umur," ucap Yi Hua memberi salam dengan gaya khas pria.


Raja Li Shen hanya mengangguk. Tentu saja Yi Hua tak melihatnya karena peramal itu masih menundukkan kepalanya.


Salah seorang pejabat membuka pembicaraan. "Yang Mulia, mengapa mendatangkan Peramal Yi?" tanya pejabat tersebut yang memungkinkan bagi Yi Hua untuk tahu. Jika sebenarnya para pejabat lain juga tidak mengerti mengapa seorang peramal atau yang lebih dikenal sebagai cenayang ini dipanggil.


"Peramal Yi berperan penting dalam menyelesaikan berbagai perkara di Kerajaan Li." Kali ini yang berbicara bukan Raja Li, melainkan Wang Zeming.


Penasihat Kerajaan itu sudah cukup berusia hingga dia jarang terlihat di luar istana kerajaan. Meski begitu, Yi Hua menghormatinya. Bagaimana pun di kehidupan sebelumnya, Wang Zeming adalah orang yang banyak melatih Yi Hua.


Namun seingat Yi Hua, Wang Zeming dan Ling Xiao mungkin adalah orang penting yang sudah 'ada' sejak lama. Bahkan saat Yi Hua masih kecil, Wang Zeming dan Ling Xiao sudah menjadi orang dewasa yang menuntun mereka.


Hanya saja ...


Masih menjadi pertanyaan, mengapa Wang Zeming terlihat seperti ayah dari Ling Xiao dibandingkan rekan kerja lamanya?


Lamunan Yi Hua terhenti ketika mendengar ucapan Raja Li Shen.


"... Untuk semua jasa dan kehebatan Peramal Yi selama ini, dia berhak untuk mengisi kursi Perdana Menteri."


HUH?


Yi Hua yang lupa posisi tanpa sadar mengangkat kepalanya. Hanya untuk menatap tak percaya pada Li Shen. Walau pada akhirnya Yi Hua harus berlutut untuk mengutarakan pendapatnya.


Ditambah lagi seisi aula Pengadilan Tinggi menjadi ramai. Ini bahkan lebih ramai dari pasar setan yang pernah dikunjungi Yi Hua di Gunung Hua. Lebih penting lagi. Bagaimana bisa bulan jatuh tepat di atas kepalanya?


Xiao berpendapat. "Aku hanya kasihan dengan Kerajaan Li ini yang nanti punya Perdana Menteri seperti dirimu. Apa kau akan meninggikan pajak, HuaHua? Ingat kalau mati semua itu tak bisa kau bawa."


Petuah yang sangat berguna.


Salah seorang Pejabat angkat bicara. Tentu saja mereka tak terima jika Yi Hua, yang usianya bahkan baru setengah dari mereka, menjadi seorang Perdana Menteri. Ditambah lagi ... Ingatlah beberapa bulan yang lalu mereka masih mengadili Yi Hua sebagai Peramal palsu?


"Yang Mulia, mohon memikirkan ini lebih baik lagi. Lebih banyak Pejabat Senior yang dapat dipercaya. Hamba takut jika Peramal Yi menjadi Perdana Menteri, semakin banyak masyarakat yang meragukan kebijaksanaan Yang Mulia," ucap Pejabat yang tak dikenali Yi Hua itu. Hanya saja ia pernah melihat nama keluarga pria ini dalam jajaran bangsawan di Kerajaan Li.


Yi Hua tak bisa menyalahkan pendapat pria itu. Bagaimanapun setiap keputusan seorang Raja selalu berdampak pada masyarakatnya. Pendapat setiap orang perlu didengarkan.


Wang Zeming meminta waktu untuk bicara. "Menurut kesetiaan dan bantuan Peramal Yi, dia terlihat mampu untuk mengambil tempat ini. Jika bukan karena Peramal Yi, maka Pangeran Li Quon tidak akan bisa sesehat sekarang."


Yah, ini masuk akal.


Namun Yi Hua yang dibicarakan saat ini masih memiliki banyak hal yang berputar di kepalanya.


Pejabat menengah berucap dengan nada agak marah. "Bagaimana keputusan ini bisa dinilai adil? Peramal Yi bahkan tak memiliki kemampuan yang menonjol. Jika memiliki dia sebagai Perdana Menteri, mungkin kita akan memiliki banyak pembangkang yang tidak setuju. Masyarakat mungkin tidak akan percaya pada Kerajaan lagi."


Wei Qionglin menyahut. "Atau pejabat Zhang hanya belajar dari diri sendiri? Bagaimana tentang ketidakmampuan Anda dalam mengatasi keponakan Anda dalam kasus sebelumnya?" tanya Wei Qionglin yang menyindir.


Bagaimana pun karena sejarah Zhang Yuwen yang menjadi iblis, dan begitu juga masalah pengantin hilang sebelumnya sudah menjadi coretan hitam untuk keluarga Zhang. Itulah mengapa Zhang Yuwen menjadi sangat dibenci oleh keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Apakah Keluarga Wei ingin kembali menunjukkan taringnya? Saya pikir bukan hanya Zhang Yuwen yang mengkhianati Kerajaan. Bukankah mendiang Jenderal Wei Wuxie tewas karena membela Putri Hitam!?" balas Pejabat Zhang itu.


Di era ini, Zhang dan Wei tidak terlihat bersahabat.


"Lagipula, apa yang ditahui Anda yang seringkali tak berada di Pusat Kota. Pasukan Jenderal Wei memang berjasa di Perbatasan, tetapi tidak berarti bisa mengatur Pengadilan Tinggi seenaknya!" balas Pejabat lainnya yang sepertinya di bagian yang tidak setuju dengan pengangkatan Yi Hua sebagai Perdana Menteri.


Kepala Yi Hua terasa pusing karena bergerak ke sana kemari. Mengikut untuk menatap pada siapa yang bicara. Mendadak Yi Hua jengkel. Apalagi saat ini dia yang dibicarakannya.


Iya! Aku tahu betapa Yi Hua ini lemah dan tak bisa diandalkan. Tetapi mereka ini ingat tidak jika aku masih di sini? Kalau mau merendahkan itu jangan terlalu jujur!


"Bukan berarti saya tidak mengerti betapa Anda telah melalaikan banyak pekerjaan. Jika bukan karena kebijaksanaan Perdana Menteri Liu, mungkin Perdana Menteri Huan akan mendepak Anda dari jajaran Pengadilan Tinggi. Apakah Anda lupa jika Pejabat Zhang juga pernah meminta peruntungan pada Iblis Kehancuran?!" tanya Wei Qionglin yang terbawa situasi.


"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak bisa Anda buktikan, Jenderal Wei!" bentak Pejabat Zhang murka.


Wang Zeming menghela napasnya. "Jaga sikap kalian di depan Yang Mulia!"


Bagaimana pun Yi Hua pernah ke kerajaan hantu milik Hua Yifeng. Di tempat bisnis Hua Yifeng itu, dia memberikan informasi dan semua peruntungan bagi yang meminta. Asal dengan bayaran yang memuaskan, maka kau bisa mendapat kekayaan berlimpah di sana. Tapi yah ... Itu pastinya tidak sejalan dengan jalan Dewa.


Dan ... Yi Hua juga tahu jika beberapa pejabat yang ada di sini juga pernah mengunjungi tempat bisnis Hua Yifeng itu. Tentu saja! Tempat itu adalah dimana kau bisa berbuat sekotor-kotornya tanpa takut mengikuti aturan.


Yi Hua ingat jika Hua Yifeng pernah berkata. Jika tempat itu memang sangat buruk penilaiannya. Akan tetapi, Hua Yifeng membuat pendapat terbuka untuk Yi Hua.


"Lalu, apa Yi Hua kira jika bukan aku yang menjalankan Kerajaan Hantu maka itu lebih baik? Tempat itu tak baik tentu saja, tetapi jika aku pikir lebih buruk lagi jika bukan aku yang menguasainya. Karena ... Kau perlu kekuasaan, Yi Hua," ujar Hua Yifeng kala itu.


Yah ... Itulah yang berkecamuk di kepala Yi Hua sekarang.


Jenderal Wei, yah ... Wei Qionglin, adik dari sahabatnya. Atau sekarang Wei Qionglin ini juga bisa disebut sebagai rekan dekat Yi Hua. Pria ini berada di Pusat Kota akhir-akhir ini. Sehingga ketika pertemuan ini, Wei Qionglin hadir. Wajahnya mengingatkan Yi Hua pada Wei Wuxie. Walau dalam versi yang lebih gagah.


Sebab, Wei Wuxie cenderung memiliki wajah yang tenang dan hangat.


"Yang Mulia, mohon untuk mendengarkan pendapat hamba," ucap Wei Qionglin.


Raja Li Shen memberikan gestur agar Wei Qionglin melanjutkan ucapannya.


"Peramal Yi memang sangat berjasa untuk menyelesaikan setiap masalah di Kerajaan ini. Bahkan berkat Peramal Yi para leluhur keluarga Wei sudah kembali tenang di peristirahatan terakhirnya," ujar Wei Qionglin membuka pembicaraan.


Semua orang percaya jika Wei Qionglin ada di kubu Yi Hua.


Akan tetapi, Wei Qionglin memiliki pemikiran yang terbuka.


"Akan tetapi, setiap orang punya kelebihan di bidangnya tersendiri. Bukan berarti seseorang mampu menyelesaikan misi di luar, maka dia bisa menjadi Perdana Menteri. Perdana Menteri adalah hal yang berbeda dari petarung biasa Yang Mulia," ujar Wei Qionglin yang membuat Yi Hua menangis terharu.


Yi Hua ingin menolak, tetapi tak tahu bagaimana cara berbicara.


Ini seperti kau memiliki teman sepermainan, tetapi bukan berarti kau bisa menyebut temanmu sebagai rekan kerja. Karena dua hal itu adalah sesuatu yang berbeda. Li Shen mungkin cenderung berpikir jika ia tak memiliki banyak orang yang bisa dipercaya.


Meski Huan Ran atau Bao Jiazhen hanya berpura-pura, tetapi pura-puranya tidak main-main. Dia bekerja sangat hebat. Begitu juga Liu Xingsheng, meski tidak begitu menjamin. Akan tetapi, jika Huan Ran begitu tegas atau kejam, maka Liu Xingsheng punya cara yang lebih lembut.


Itu bukan sembarang orang yang bisa dipilih untuk menduduki posisi ini.


Akan tetapi, Yi Hua memikirkan satu nama yang bisa mengisi posisi ini.


Salah seorang pejabat dengan semangat berbicara. Mungkin beliau memiliki kepercayaan diri untuk diangkat diposisi ini. Seingat Yi Hua pria ini masih satu keluarga dengan salah satu Selir milik Raja Li.


"Yang Mulia, mohon untuk memikirkan orang-orang yang lebih pantas di jabatan ini. Masih banyak orang hebat yang perlu dipertimbangkan," ujar pejabat ini yang membuka pendapat untuk menyanjung diri sendiri.


"Yang Mulia, hamba memiliki pendapat yang mungkin bisa didengar," ujar Yi Hua tiba-tiba.


Hal tersebut membuat seisi ruangan menjadi sunyi. Sebab, pihak yang didiskusikan baru angkat bicara.


"Hamba sangat merasa diberkati saat Yang Mulia memiliki kepercayaan terhadap hamba. Akan tetapi, hamba tidak bisa menerima jabatan ini," jawab Yi Hua yang mengundang berbagai reaksi.


Wang Zeming menatap Yi Hua dengan bijaksana. "Setiap orang bisa belajar, Anakku. Jika yang kau takutkan adalah pengalaman, maka kau bisa belajar dari awal."


Akan tetapi, ...


"Namun hamba memiliki seseorang yang mungkin pantas untuk menduduki jabatan ini. Dia adalah seseorang yang mungkin sudah Yang Mulia lihat kemampuannya," ujar Yi Hua sambil menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan.


Ia tak tahu bagaimana ekspresi Li Shen. Namun sebagai kakaknya di kehidupan sebelumnya, Yi Hua seharusnya memastikan Li Shen sejahtera dalam kepemimpinannya. Itu adalah apa yang Yi Hua janjikan. Tidak ... Itu adalah yang Li Wei janjikan pada Permaisuri Jiang Ning, Ibunya.


Ia akan menjaga Li Shen.


Yi Hua menegakkan kepalanya. "Ada seseorang yang memiliki kemampuan. Yah ... Walau sifatnya agak buruk. Namun seperti yang Penasihat Wang katakan, setiap orang berhak untuk belajar."


Pejabat Zhang mendecih pelan. "Jika yang dimaksud Peramal Yi ialah Ling Xiao, maka itu seperti membawa bencana ke rumah. Peramal itu dengan semua ramalannya pernah membawa kehancuran di Kerajaan Li."


Sepertinya orang berbakat di Keluarga Zhang hanya berhenti di Zhang Yuwen. Sisanya hanyalah orang-orang yang meneruskan nama 'Zhang', tetapi kesetiaannya tak sekuat Zhang Yuwen.


Namun ...


Yi Hua akan memastikan Raja Li Shen memiliki orang-orang terpercaya di sisinya.


"Dia bermarga Yue, namanya 'Yan'. Walau dia hanyalah seorang pengembara, tetapi dia memiliki kemampuan. Tentu Yang Mulia sendiri sudah tahu kemampuannya seperti apa. Ditambah lagi ... Yue Yan adalah orang yang berhasil membunuh Pendeta Buta Shen Qibo," jelas Yi Hua dengan yakin.


Dengan 'mata' Yue Yan, mereka bisa melihat yang sebenarnya dari apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. Meski masih terbatas dan tak sehebat Shen Qibo, tetapi Yue Yan mewarisi kemampuan itu dari Shen Qibo.


Shen Qibo adalah sosok pahlawan yang dinilai sebagai lawan oleh Kerajaan Li. Padahal jika Shen Qibo menjadi kepercayaan Kerajaan, maka kebohongan dan tipu muslihat di sekitar Kerajaan mungkin memiliki titik terang.


Lagipula ...


Masih ada hal yang berbahaya di sekitar mereka sekarang. Kematian Selir Qian membuat semua hal yang hampir terbuka menjadi tertutup kembali. Tidak ada titik terang.


Ada hal yang tak sederhana di sekitar mereka.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf ya baru bisa lanjut lagi. Bukan karena apa, tetapi lebih ke ya ... Penyakit Malas itu adalah musuh sebenarnya. hehe ...


Jadi, maafkan diri ini yang membuat para beliau ini menunggu.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2