Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 2: Pohon Iblis


__ADS_3

"Selamat datang Jenderal Wei," sambut Ling Xiao dengan senyumnya yang tipis.


Li Wei segera merapatkan penutup kepalanya sendiri. Entah darimana Wei Wuxie mengambilnya, tetapi penutup kepala ini memang cukup sesuai dengan kepala Li Wei. Sehingga Li Wei memutuskan untuk menyimpannya nanti. Setidaknya Wei Wuxie pasti tak akan menagih harga pada Li Wei.


Ada untungnya juga berteman dengan Wei Wuxie. Banyak uangnya, dan tak pelit seperti Zhang Yuwen.


Bukannya Li Wei tak ber-uang. Dia hanya tipe orang yang keluar tanpa membawa uang. Biasanya ia memiliki seorang pelayan yang membawa kantung uangnya. Masalah utama adalah Li Wei itu pelupa, dan tak pandai menyimpan uang. Yang ada uangnya akan tercecer ke mana-mana. Maklum anak Raja, tak perduli berapa banyak uang yang terjatuh, hidupnya masih stabil. Sudahlah lelah sekali membahas tentang jumlah kekayaan Putri berantakan ini.


Seandainya di masa depan ia tahu nasibnya sendiri, mungkin dirinya akan menangis berguling-guling jika ingat betapa tak bersyukurnya ia dahulu. (Ingat kan kalo Yi Hua di masa depan tu kaum dhuafa -_-)


Sudahlah.


Kembali pada kondisi mereka saat ini. Li Wei sedang berdiri bersebelahan dengan Zhang Yuwen, yang ikut-ikutan berpakaian seperti prajurit. Mungkin Zhang Yuwen juga sempat membeli di pasar, sebab tahu saja pakaian pejabat korup seperti Zhang Yuwen pasti tak akan ada yang murah.


Jangan pernah mengatakan pada Zhang Yuwen jika Li Wei menyebutnya korup. Li Wei hanya menyebut itu sebagai ejekan. Yang dimaksud korup oleh Li Wei adalah tentang waktu.


Ia bahkan ingat jika Zhang Yuwen memilih untuk berlatih memainkan musik di rumah cinta ketimbang masuk ke Pengadilan Tinggi. Li Wei pasti tak akan terkejut jika Zhang Yuwen ini nanti didatangi oleh anak kecil yang mengaku anaknya. Sudahlah. Mengapa ia sekarang mengumbar tentang aib orang lain?


Padahal Li Wei ini orang baik yang jarang menceritakan keburukan orang lain.


Li Wei sepertinya melamun hingga ia tak menyadari jika Ling Xiao memperhatikannya. Saat Li Wei menoleh pada Ling Xiao, tatapan pria itu masih ada padanya. Hingga Li Wei menundukkan kepalanya seperti memberi hormat. Itu tak akan terlihat aneh baginya, karena sekarang dirinya menyamar menjadi orang yang tingkatannya lebih rendah dari Ling Xiao.


Lebih dari segalanya, pernahkah Li Wei berkata jika senyum Ling Xiao selalu misterius?


Seolah kau merasa Ling Xiao mengetahui apa yang sedang kau pikirkan.


Wei Wuxie yang menyadari ketidaknyamanan Li Wei segera berdiri untuk menyembunyikan gadis itu. Menghalangi arah pandang Ling Xiao.


"Maaf atas kunjungan yang mendadak ini, Peramal Ling. Saya datang untuk melihat-lihat para murid," ujar Wei Wuxie dengan senyum tipis yang ala kadarnya.


Ling Xiao menganggukan kepalanya. "Apakah kerajaan yang memberi perintah?" tanyanya tanpa ada maksud menuduh.


Mau tak mau Wei Wuxie menoleh pada Li Wei yang berdiri di sisi kirinya. Jika mereka berbohong sekarang, maka itu akan disebut sebagai memalsukan titah Raja. Zhang Yuwen juga sudah keringat dingin sendiri.


Akan tetapi, kali ini Li Wei yang menjawab, "Yah, seperti itulah."


Semoga Si Mata Elang ini tak curiga lagi!


Namun seperti yang diharapkan oleh Li Wei, Ling Xiao hanya menganggukkan kepalanya tanpa mempersulit mereka lagi. Bagaimana pun yang datang di hadapannya sekarang adalah Jenderal Besar. Menolak kedatangan Wei Wuxie sama saja dengan penghinaan.


"Saya hanya bertanya-tanya apakah hari ini begitu istimewa hingga mendapat tamu besar lagi hari ini," lanjut Ling Xiao yang memberi isyarat mempersilahkan bagi tamu-tamunya itu masuk ke bangunan Pelatihan Awan.


Setelah beberapa tahun berlalu, tak banyak hal yang berubah dari Pelatihan Awan. Li Wei memperhatikan bangunan di sekitarnya sekilas. Di bangunan sebelah adalah ruang pembelajaran. Dimana mereka bisa melihat para murid yang sedang menyalin peraturan kerajaan.


Li Wei ingat saat ia di posisi itu, dan merasa lelah sendiri. Ia bahkan pernah menulis sambil tidur-tiduran karena lelah. Yah, setidaknya jadikan itu bagian dari pengalaman hidup. Bagaimana pun ia juga pernah tinggal di sini sampai pelatihannya dahulu selesai.


Akan tetapi, tamu besar lagi? Fokus Li Wei kembali pada Ling Xiao.


Ling Xiao berjalan terlebih dahulu untuk mengarahkan jalan. Pria itu berjalan sambil melanjutkan pembicaraan tanpa ditanya lagi. "Pangeran Li Jun dan Selir Mo juga datang hari ini. Sekarang mereka sedang berada di ruang pelatihan."


Wei Wuxie melirik pada Li Wei yang terlihat berpikir. Bagaimana pun ia sudah memastikan bahwa ini bukan waktunya Li Jun untuk melakukan pemeriksaan di Pelatihan Awan. Akan tetapi, kakaknya itu datang, dan bahkan membawa Selir tercintanya, Mo Jiao.


Sebagai catatan, Li Wei hanya sekali bertemu dengan Selir Mo Jiao ini, yaitu saat Mo Jiao dibawa ke istana untuk dijadikan selir oleh Pangeran Pertama Kerajaan Li, Li Jun. Setelah itu, Li Wei tak pernah bertemu dengannya lagi. Apalagi jika nanti yang naik tahta bukanlah Li Jun, maka Selir Mo Jiao ini hanya akan menjadi perhiasan di kediaman Pangeran.


Li Wei segera menyenggol lengan Wei Wuxie sedikit untuk memberi isyarat. Wei Wuxie dengan mudah memahaminya. Ia segera berbicara pada Ling Xiao yang berjalan di depannya.


"Peramal Ling, kami hendak pergi ke perpustakaan awan terlebih dahulu sebelum menyapa Pangeran Li Jun. Lagipula, Pangeran mungkin sedang sibuk sekarang," ucap Wei Wuxie.


Ling Xiao mengerutkan keningnya, "Saya bisa menjamu kalian di ruang saya."


"Tidak perlu, Peramal Ling. Kembalilah ke kegiatan awal, karena kami hanya sedang berkunjung," jawab Zhang Yuwen yang tak sabar lagi.


Bukan dirinya ingin ke perpustakaan, tetapi penyamaran seperti ini membuatnya sedikit geli. Apalagi ia semakin takut jika Ling Xiao ini semakin memancing mereka. Terlepas dari Ling Xiao tahu tentang penyamaran mereka atau tidak, tetapi pria ini pasti tahu jika kedatangan mereka bukan seperti ingin mengawasi.


Namun Ling Xiao adalah Ling Xiao. Jika ada makhluk paling mengikuti alur di dunia ini, maka itu adalah Ling Xiao. Mungkin sejatinya Ling Xiao hanyalah seseorang yang hatinya begitu dekat dengan Dewa hingga ia selalu percaya jika semua hal sudah diatur. Hanya tinggal manusia yang mengambil pilihan untuk terus maju ke jalan yang sudah di atur ini.


Oleh karena itu, Ling Xiao berjalan ke perpustakaan hingga mereka berpapasan dengan Selir Mo Jiao beserta pelayannya.


Sudah dihindari, dan tetap bertemu dengan wanita ini -_-.


Sudah pernah dikatakan sebelumnya, bukannya Li Wei tak menyukai Mo Jiao. Hanya saja semakin sedikit orang yang ditemui dalam penyamaran ini pasti lebih baik. Apalagi Li Wei cukup mudah dikenali, karena kerajaan lain pun bahkan mengenal Li Wei dengan mudah.


Yah, resiko menjadi orang yang terkenal kata Li Wei.


Hal tersebut membuat mereka memberi salam penghormatan kepada Selir Mo Jiao, dan wanita itu membalas dengan senyumnya yang tipis. Wajah wanita ini terbilang cantik, dan terlihat seperti bisa dicintai oleh siapapun.

__ADS_1


Akan tetapi, Li Wei tak berpikir jika wanita ini bisa akrab dengannya.


Apalagi dengan sikapnya yang sangat anggun. Bahkan senyumnya yang manis bisa membuat siapa saja berpikir jika wanita ini mungkin bidadari surganya. Lebih dari segalanya wanita ini selalu menimbulkan kesan pertama bahwa kau sangat kurang jika dibandingkan dengannya. Sekilas wanita ini terlihat seperti ... Ingin terlihat sempurna, dan berusaha memikat orang lain dari tatapannya.



Dan, Li Wei kurang menyukai Selir Mo Jiao entah karena apa. Mungkin Li Wei hanya kurang bergaul saja dengan wanita ini.


Selir Mo Jiao membungkukkan tubuhnya dengan anggun, "Saya berjalan-jalan di tempat yang menyenangkan ini, Peramal Ling."


"Apakah saya perlu mengantar Selir Mo?" tanya Ling Xiao hanya karena batasan kesopanan.


Namun tatapan Selir Mo lebih terarah pada ketiga tamu di belakang Ling Xiao. Tentu saja karena mereka baru terlihat sekarang. Wei Wuxie memberi senyumnya yang tipis, dan Mo Jiao membalasnya dengan senyum manisnya.


Li Wei hanya berharap jika Wei Wuxie tak akan mabuk karena senyum itu.


Akan tetapi, wajah Wei Wuxie masih datar seperti Biasanya. Seperti Wei Wuxie tak begitu terkesan dengan wajah Mo Jiao. Hal ini mengingatkan Li Wei pada seseorang yang nyaris ia lupakan.


Benar.


Jika ia tak datang lagi ke Pelatihan Awan mungkin ia tak akan ingat pada pria itu.


Wei Wuxie memberi sedikit wajah untuk Selir Mo Jiao, "Keindahan Selir Mo menambah menyenangkan di tempat ini," puji Wei Wuxie bukan karena keikhlasannya, melainkan tentang penghormatannya.


Lalu, Mo Jiao tertawa pelan sambil menutupi setengah wajahnya dengan tangan. Mendadak Li Wei menjadi gerah sendiri dengan keanggunan ini. Ia merasa sangat jauh dari batasan anggun.


KRING!


Suara perak yang tertiup angin terdengar oleh Li Wei. Hal tersebut yang membuat Li Wei mengarahkan pandangannya pada seorang pria dengan pakaian serba hitamnya. Pria itu menoleh di bangunan bambu di Pelatihan Awan ini. Li Wei ingat jika pintu lain dari bangunan bambu ini mengarah pada Tembok Batu Permohonan.


Apa pria itu tidak lulus-lulus juga dari Pelatihan Awan setelah sekian lama?


Bukan tentang pakaiannya yang mencolok, tetapi memang wajah pria itu sangat menarik perhatian. Bukan hanya Li Wei, tetapi orang lain pun akan menolehkan kepalanya lebih dari sekali jika melihat wajahnya. Walau hanya dari samping, entah mengapa Li Wei mengenalnya.


"Maaf karena tak bisa berbincang lama dengan Selir Jiao. Mendadak rekan kami kerasukan sapi, dan ingin mendamaikan diri dengan membaca buku," ucap Li Wei sambil merangkul lengan Wei Wuxie dan Zhang Yuwen sekaligus.


Setelah Ling Xiao mengangguk, walau masih ada raut bingung di wajahnya, tetapi pria itu memberi isyarat mempersilahkan. Apalagi dia bahkan tak bisa mencerna ucapan dari 'prajurit' dengan penutup kepalanya. Terutama saat Li Wei terbilang cukup kuat untuk menyeret dua orang yang lebih besar darinya.


Dan lagi, bagaimana bisa kedua pria yang lebih tinggi itu menurut saja.


Selir Mo Jiao juga menatap ke arah yang dituju oleh ketiga orang itu, dan mengerutkan keningnya. Hal tersebut membuat Ling Xiao segera membuka pembicaraan kembali. "Apakah Selir Mo tak ingin saya temani untuk berkeliling?" tanya Ling Xiao dengan keramahan yang tidak kurang-kurangnya ia berikan.


"Sebenarnya saya tak ingin sendiri, Peramal Ling."


Percayalah ... Jika ada yang mengatakan dimana awal dari masalah, maka semuanya bisa berawal dari manapun. Bahkan jika itu bermula dari sesuatu yang tak pernah diketahui oleh Li Wei.


Kecantikan itu ... Tak selama cantik.


***


Zhang Yuwen dan Wei Wuxie yang ditarik-tarik ini sebenarnya lelah. Akan tetapi, Li Wei begitu semangat untuk menariknya. Sampai akhirnya mereka telah jauh, baru Li Wei melepaskannya.


Akan tetapi, Li Wei seperti menoleh ke sana-sini untuk memperhatikan sekitar.


Apakah aku hanya salah lihat? Jika itu penampakan, apakah memang ada jika di siang menderang seperti ini?


Ditambah lagi sosok itu juga hilang begitu cepat. Atau, mungkin hanya salah melihat.


"Ada apa, Putri?" tanya Wei Wuxie yang menyadari tatapan kecewa Li Wei.


Li Wei segera menggeleng, "Tidak. Hanya tadi aku kurang merasa nyaman dengan Selir Mo Jiao. Dia terlalu banyak menatap pada kalian berdua. Atau, aku hanya terlalu banyak berpikir."


Sebenarnya Li Wei hanya mengalihkan pembicaraan. Akan tetapi, apa yang ia katakan adalah apa yang ia lihat. Bagaimana pun Selir Mo terlihat seperti ... Merayu?


Atau, Li Wei yang terlalu berpikiran buruk? Entahlah.


"Lebih baik kita ke perpustakaan," ujar Li Wei yang segera menuju ke arah perpustakaan.


Namun Zhang Yuwen menangkap kerah pakaian Li Wei. Bukan karena tak sopan, tetapi karena ia refleks melakukannya. Oleh karena itu, Zhang Yuwen segera melepaskannya. Bahkan Zhang Yuwen tertawa sendiri saat melihat Li Wei memberontak seperti serangga yang dibalik tubuhnya.


"Bukan ke arah sana, Putri. Namun ke sana," tunjuk Zhang Yuwen pada arah yang bertolak belakang dari Li Wei.


Li Wei memperbaiki kerahnya dengan wajah jengkel. "Aku tahu! Aku biasanya jika mau berputar arah harus maju beberapa langkah ke depan. Baru setelah pas, dan aku akan menuju ke arah yang ditentukan," jawab Li Wei yang tak mau kalah.


Dasar seorang kecantikan. Di salahkan tak mau, tetapi jika orang lain salah mulutnya akan lincah bicara.

__ADS_1


Tentu saja Zhang Yuwen tak mau mengatakan secara langsung. Ia masih ingin hidup dengan tenang tanpa didorong oleh Li Wei ke jurang. Tahu saja jika Li Wei sudah keluar anehnya, maka bisa menghancurkan kedamaian manusia.


***


Ketika mereka memasuki perpustakaan, di sana sepi karena sekarang di waktu pelatihan. Jika pun ada yang di sana mungkin hanyalah orang-orang yang melanggar peraturan. Li Wei menduga seperti itu, karena dia sendiri sering melakukannya. Sttt ... Sudah tak usah dibahas lagi.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan di sini?" tanya Zhang Yuwen sambil membuka gulungan kertas secara acak.


Bagian yang ia buka adalah tentang seni bermusik. Bukannya Zhang Yuwen sengaja memilih, tetapi bagian seni ini ada di bagian depan dari rak kayu di perpustakaan.


Li Wei membawa surat yang dikirimkan padanya melalui ayam. Ia membolak-balik kertas itu untuk dibaca dari berbagai sudut. Sayangnya, ia tak menemukan titik terang apapun selain tulisan yang ada di sana. Padahal tulisan itu pun masih tak diketahui tersirat atau memang diperintahkan seperti itu.


Sekarang mereka sudah datang ke Pelatihan Awan, dan ...


Pohon Iblis?


"Apakah kalian pernah mendengar tentang Pohon Iblis?" tanya Li Wei pada Zhang Yuwen yang tengah membaca.


Ketika itu Li Wei berpikir Zhang Yuwen mungkin sedang kerasukan hingga membaca dengan rinci.


Namun yang menjawab tentu saja orang yang seperti Wei Wuxie. Buku berjalan yang bisa Li Wei dengarkan pengetahuannya. "Pohon Iblis itu pernah diceritakan dalam cerita Pangeran Penduka."


Pangeran itu lagi???


Entah kutukan itu yang melekat di hidup manusia, tetapi sekarang Labirin Batu sudah luruh. Bayangkan!!!


Awalnya Labirin Batu itu seperti dinding batu yang berjejer membentuk lingkaran. Akan tetapi, sekarang sudah seperti tanah datar dengan tumpukkan batu. Semuanya hancur karena Hua menghancurkan pedang. Mungkin pondasi dari Labirin Batu itu ialah pedang Pangeran Penduka.


Lalu, sekarang di sana sudah mulai berkabut dan berdebu. Seperti ada angin yang cukup keras di sana. Mungkin beberapa tahun ke depan badai pasir dan debu mungkin akan terjadi di sana.


"Dalam cerita rakyat Kerajaan Li, Pangeran Penduka pernah meminta pertolongan kepada Pohon Iblis. Hanya saja ... Pohon Iblis tak bisa ia kendalikan. Hal itulah yang membuat Pangeran itu menjadi pendosa. Ia membunuh banyak orang dan hampir menjadi iblis. Di tengah kesadarannya ia memutuskan untuk bunuh diri," jelas Wei Wuxie yang menjelaskan tentang cerita rakyat tentang Pangeran Penduka ini.


Li Wei menghela napasnya. Dahulu ia memang pernah mendengar tentang cerita itu, tetapi ia tak pernah berpikir jika cerita itu akan berhubungan di masa sekarang. Mau asli atau tidak tentang ceritanya, tetapi perlahan cerita itu seperti muncul di permukaan. Meski sudah lebih dari seratus tahun, dan cerita itu mulai di bahas lagi.


Masalah adalah setiap cerita rakyat biasanya anonim. Tanpa diketahui dimana atau siapa yang mengisahkannya. Mereka harus bertanya pada siapa ketika mencari tahu tentang cerita itu?


"Lalu, darimana Pangeran Penduka tahu tentang Pohon Iblis ini?" tanya Li Wei yang semakin penasaran.


Sayangnya cerita ini tak tertulis. Cerita itu hanya dibicarakan dari mulut ke mulut. Itulah mengapa tak ada yang bisa menjamin kebenarannya.


"Pohon Iblis itu ada di salah satu desa kecil yang dihuni oleh klan Bao. Itu adalah desa kecil yang tak terikat pada kerajaan mana pun. Ada kekuatan aneh yang menjaga klan Bao ini. Sehingga keturunan asli dari Bao ini memiliki kemampuan bertarung yang hebat. Itu adalah hal yang alami karena darah mereka yang diberi kekuatan oleh Pohon Iblis," jelas Zhang Yuwen yang ternyata juga mengetahui tentang cerita ini.


Hal tersebut membuat Li Wei merasa aneh, "Kau tahu juga?"


Namun Zhang Yuwen tak menjawab apa-apa. Pria itu terlihat tak nyaman ketika ditanya. Mungkin pria ini benar-benar kerasukan sapi. Li Wei sedang tak ingin berdebat dengan Zhang Yuwen.


"Sayangnya, klan Bao itu sudah tak ada lagi. Bahkan di zaman Pangeran ini pun klan Bao hanya tinggal beberapa orang. Orang lain mengatakan jika darah asli klan Bao biasanya tak berumur panjang. Darah mereka terlalu kuat untuk dimiliki manusia. Bahkan katanya darah itu bisa mengusir binatang buas. Jika manusia tak mungkin mencium aromanya, tetapi bagi binatang yang memiliki penglihatan dan penciuman yang kuat, mereka akan takut pada darah itu," jelas Wei Wuxie sedikit terengah-engah. Dia biasanya tak bicara sepanjang ini.


Sebentar ... Bukankah Hua ...? Li Wei tak berani menyebutnya. Apalagi saat Hua sendiri tak tahu tentang dirinya. Tak tahu masa lalunya dan sebagainya.


"Belum lagi keluarga Bao biasanya kesulitan untuk memiliki anak. Jika ada anak yang terlahir dari klan itu, maka itu mungkin berjarak sepuluh tahun atau lebih dari kelahiran terakhir. Artinya, ini seperti mereka mudah mati, dan kelahiran mereka sangat rendah. Itulah mengapa banyak orang yang berpikir bahwa ini hanyalah sekadar cerita. Apa Putri tak tahu jika cerita seperti itu sangat dilebih-lebihkan? Mana ada manusia yang seperti itu," ucap Zhang Yuwen lagi.


Wei Wuxie mengangguk. Seperti setuju juga dengan pendapat Zhang Yuwen. Pola pikir manusia dari zaman ke zaman berubah. Jelas pemikiran manusia seratus tahun yang lalu lebih kuno lagi dari sekarang. Oleh karena itu, cerita Pangeran Penduka, atau Pohon Iblis yang disebutkan dalam cerita itu juga mungkin imajinasi tingkat tinggi.


"Itulah mengapa Pangeran Penduka tak bisa mengendalikan Pohon Iblis. Dia bukanlah pemilik Pohon Iblis. Pada akhirnya, itu seperti yang diceritakan. Pangeran itu bunuh diri. Bukan hanya karena demi membersihkan nama keluarga kerajaan, tetapi juga karena tak sanggup menahan kutukan Pohon Iblis," ujar Wei Wuxie sambil menunjukkan sebuah buku.


Jadi, Wei Wuxie bukannya tahu tentang cerita itu. Dia hanya membuka sebuah buku yang membahas tentang Pohon Iblis. Itu sedikit aneh saat cerita Pangeran Penduka hanya disebut dari mulut ke mulut, tetapi tentang Pohon Iblis disebut dalam beberapa buku.


"Apakah Pohon Iblis ini pernah dilihat manusia?" tanya Li Wei akhirnya.


"Di Gunung Hua." Yang menjawab adalah orang yang berdiri di luar Perpustakaan Awan.


Hal tersebut membuat Li Wei panik menutupi kepalanya sendiri lagi. Karena yang masuk ke dalam perpustakaan adalah Ling Xiao. Sampai dimana peramal ini mendengar pembicaraan mereka?


Dan, Gunung Hua?


Itu adalah gunung yang berada tak jauh dari Kerajaan Li. Gunung itu disebut 'Hua' karena gunung itu dipenuhi oleh bunga-bunga.


^^^*Hua ada banyak artinya, tetapi 'Hua' ini mengarah pada makna bunga. Maaf kalo salah soalnya bukan bahasa sendiri -_-.^^^


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2