Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Cerita Perayaan 2: Penyerangan di Perayaan


__ADS_3

Yi Hua menggaruk pipinya bingung. Hal itu membuat pipinya tertempel minyak, tetapi Yi Hua tak memperdulikannya. Ia langsung membuang pandangannya. Kemana saja asal tidak pada tangan Liu Xingsheng.


"Hasilnya apa, Yi Hua?" tanya Jenderal Wei yang sebenarnya ingin mengusap minyak di pipi Yi Hua.


Namun berhubung Yi Hua itu sangat pemarah seperti tikus setengah macan, Jenderal Wei jelas tak mau ambil ambil resiko.


"Hanya sebuah 'tempat' akhir yang datang lebih cepat," jawab Yi Hua tak mau berbohong.


Xiao memberitahu Yi Hua segera. "Tapi Liu Xingsheng tidak memiliki aroma kematian, HuaHua. Jika orang yang tak lama lagi mati, aku bisa melihatnya. Namun Liu Xingsheng sangat normal."


Yi Hua mengangguk untuk menjawab Xiao, walau ia tak yakin Xiao akan mengerti. Apa mungkin ini karena Yi Hua yang kurang ahli dalam meramal? Entahlah.


Liu Xingsheng menatap telapak tangannya. Terlihat sekali Liu Xingsheng yang tak mengerti dengan maksud Yi Hua. Yah, jelas ... Sejak awal Liu Xingsheng memang tak terlalu peka untuk memahami kata-kata seperti itu.


"Apakah itu berarti sesuatu datang lebih cepat di hidupku? Aku hanya berharap itu seorang gadis cantik," ujar Liu Xingsheng dengan senyum di wajahnya.


Wei Qionglin menganggukkan kepala. Pertanda dia berada di golongan biawak yang sama. "Jika kita lama-lama bersama Yi Hua terus, aku takut bunga ini akan pandai merayu."


Apa maksudmu, hey manusia!


"Tenang saja, Yi Hua. Jika aku mendapatkan seorang gadis, kau juga akan dapat. Aku ini teman yang gemar berbagi. Jangan sampai Tuan An membuatmu buta akan kecantikan." Liu Xingsheng menepuk bahu Yi Hua dengan cukup keras.


Jika Yi Hua tak terbiasa dengan tingkah Liu Xingsheng, maka kepala Liu Xingsheng mungkin sudah menempel di meja sekarang. Sayangnya, Yi Hua akhir-akhir ini melatih kesabaran. Hanya agar dia tak menjadi lebih gegabah lagi.


Lagipula, ...


"Apa maksud Anda dengan Tuan An? Dimana dia sekarang?" Yi Hua jelas ingin tahu bagaimana informasi tentang menghilangnya "An" ini di Kerajaan.


Akan sangat aneh jika Pengawal Pribadi Yang Mulia malah menghilang.


Liu Xingsheng mengangkat bahunya. "Kau ini sebenarnya menentang atau apa? Padahal kau juga mencarinya."


"Yang jelas aku tak tahu dimana keberadaan Tuan An. Dia sudah ada di istana ini sejak aku tinggal di Kerajaan Li. Banyak yang mengatakan jika Tuan An kembali pulang ke desanya. Itulah yang aku dengar, tetapi ini sangat aneh karena mendadak," lanjut Liu Xingsheng lagi sambil meminta seorang pelayan untuk membawakan mangkuk minuman untuk Jenderal Wei.


Yah, jelas "An" ini sudah kembali ke desanya. Akan tetapi, desa untuk An ini jelas bukan desa yang sederhana. Itu adalah Gunung Hua, yang jelas-jelas hadir dengan segala kekayaan dan kemisteriusan-nya.


Tapi, ... Yi Hua memperhatikan pelayan yang baru datang itu dengan teliti, "Anda bicara seolah Perdana Menteri bukan penduduk asli Kerajaan Li ..." ujar Yi Hua dengan nada suara menggantung.


Itu adalah gadis pelayan yang jujur saja belum pernah Yi Hua lihat sebelumnya. Rupanya agak pucat, dan tangannya bergetar seperti penyakitan. Meski jumlah pelayan kerajaan cukup banyak, tetapi mereka biasanya akan familiar karena mereka selalu berlalu-lalang. Apalagi jika itu seorang pelayan yang cukup mencolok seperti pelayan ini. Lagipula, pelayan yang sakit tak akan diperintahkan untuk bekerja di Kerajaan Li.


Ketika gadis pelayan itu menuangkan minum untuk Jenderal Wei, jiwa biawak pria itu semakin terasah. Pria itu menerima mangkuk yang diberikan oleh gadis pelayan itu. Namun apa yang Yi Hua lihat bukan hanya menerima, tetapi Jenderal Wei juga mengusap pelan tangan pucat gadis pelayan itu.


Yi Hua menyentuh permata merah di telinganya. Akan tetapi, peramal itu tidak mengatakan apa-apa. Hingga Jenderal Wei juga menatap ke arahnya.


Ucapannya sebelumnya hanya dibalas tawa aneh dari Liu Xingsheng. Namun bukan itu yang Yi Hua perhatikan. Yi Hua menyadari jika Jenderal Wei memang sesuai dengan gelarnya, dia cukup waspada bahkan di saat bersantai sekali pun. Harusnya Yi Hua tak begitu khawatir.


Jenderal Wei mengangguk pada Yi Hua, dan mengambil mangkuk minuman itu. Seperti yang Yi Hua duga, pelayan itu tampak memperhatikan Jenderal Wei dengan lekat. Seolah mengharapkan pria itu untuk segera minum. Namun wajahnya sangat kaku, seperti menggunakan topeng.


Kenapa hidupku tak pernah tenang? Selalu saja ada batu kecil di dalam satu kendi beras


"Kau jelas tak tahu tentang sejarah hidupku, Yi Hua. Saat kau masih bayi mungkin aku sudah bisa menendang pintu istana. Kau tahu aku menendangnya seperti ..." ucapan Liu Xingsheng segera terputus.


Yi Hua bangkit dan segera menendang ke arah mangkuk minuman Jenderal Wei. Gerakan kaki Yi Hua sangat tipis, bahkan sempat menyenggol tangan Jenderal Wei. Namun pria itu jauh lebih siap dari orang lain, sehingga Jenderal Wei melepaskan mangkuk itu tepat beberapa detik sebelum Yi Hua menendang tangannya.


SRET!


PRANG!


Tatapan semua orang di ruangan itu berfokus pada Yi Hua. Di dalam ruang makan itu jelas bukan hanya mereka bertiga. Ada beberapa pejabat beserta para pelayannya. Tentu saja apa yang dilakukan Yi Hua membuat mereka terkejut.


"Kenapa malah kau yang mempraktekannya?" omel Liu Xingsheng pada Yi Hua.


"Apa yang kau lakukan, Peramal Yi? Beraninya kau berlaku tak sopan pada Jenderal Wei." Seorang pria gempal mendekat ke arah meja mereka.


Itu adalah kepala pelayan Ning. Jelas dia memiliki otoritas untuk menyela tindakan Yi Hua.


Jenderal Wei tertawa pelan, "Keahlian menendang yang kau milikki sangat buruk. Apa kau tak pernah diajari oleh Tuan An itu? Tendangan pria tinggi itu bahkan bisa menghancurkan kereta."


Yi Hua sendiri merasa menyesal karena menendang sebelumnya. Tubuh Yi Hua asli ini sangat lemah, dan tak bisa diajak untuk bertarung fisik. Semoga pinggangnya tak akan sakit karena harus menendang setinggi itu.


Beberapa pengawal datang. Sepertinya Yi Hua dianggap menimbulkan masalah sekarang. Oleh karena itu, pelayan memanggil pengawal kerajaan untuk datang.


"Wah, selamat kau akan terkenal lagi, HuaHua. Kau memang paling hebat ketika merusak." Xiao jelas memuji Yi Hua dalam hinaaan.


"Racun," ucap Yi Hua seadanya.


Liu Xingsheng memutar untuk mendekat ke arah Yi Hua. "Tidak mungkin diracuni, Yi Hua. Sebelum dikonsumsi ada yang bertugas untuk menguji air dan bahan makanan."


"Bukan airnya, tetapi mangkuknya," ujar Yi Hua.


Lalu, Yi Hua mencari gadis pelayan yang sudah menghilang dari tempatnya. Jenderal Wei juga berdiri dengan mengangkat tangannya. Meminta perhatian.


"Yi Hua benar, mangkuknya berbau racun," ucap Jenderal Wei yang membela Yi Hua.

__ADS_1


Jenderal Wei adalah orang yang terbiasa untuk waspada di medan perang. Jika mendeteksi racun saja Jenderal Wei tak bisa, mungkin dia akan mati bertahun-tahun yang lalu. Ia jelas menyadarinya, tetapi ia tak menyangka jika Yi Hua berani menendang mangkuk yang masih ada di tangannya.


Apalagi dengan wajah sombong Yi Hua yang jengkel.


"Jika Jenderal Wei tak mau terulang lagi, jangan sering-sering bermain dengan banyak gadis. Pria yang diracuni oleh seorang gadis karena cinta itu sudah sering terjadi dalam sejarah," jelas Yi Hua yang duduk kembali dengan tenang.


Jenderal Wei memerintahkan anak buahnya untuk mendekat. "Cari," perintahnya langsung.


Setelah itu, Jenderal Wei kembali duduk seolah tak pernah terjadi apa-apa. Namun mereka bertiga tak lagi menyentuh apapun yang ada di atas meja. Termasuk Liu Xingsheng yang menyentuh tenggorokannya karena takut dia diracuni.


"Aku akan berhenti jika Yi Hua memilihku." Entah Jenderal Wei serius atau tidak.


Yi Hua hanya menjawab dengan tenang. "Maka, jangan berhenti."


Baru saja Jenderal Wei ingin mengganggu Yi Hua, peramal kecil itu sudah berdiri. "Tidak perlu dikejar, karena sebenarnya pelayan itu bukanlah manusia. Itu cangkang manusia. Yang perlu dikejar adalah siapa yang mengendalikannya."


Xiao berucap di telinga Yi Hua. "Aku kagum kau menyadarinya tanpa perlu aku beritahu."


Yi Hua tak menjawab karena dia tahu Xiao tak perlu jawabannya. Apalagi jika kau sudah pernah melihat cangkang manusia, maka kau akan tahu perbedaannya. Wajah yang tak memiliki kerutan meski dia berbicara dan tersenyum. Tatapan mata yang seperti boneka.


Hanya saja ... Cangkang manusia adalah sihir hitam. Itu biasanya tak dipakai oleh orang-orang kerajaan yang memuja Dewa.


"Xiao, sepertinya ada seseorang di istana ini yang bisa mengendalikan cangkang manusia. Atau, ada seseorang yang menyamar di istana di sini," bisik Yi Hua sambil berjalan untuk keluar dari ruang makan kerajaan.


Ia bisa mendengar langkah Liu Xingsheng yang mengikutinya. Sepertinya mereka harus segera menyelesaikan bahan-bahan untuk pertunjukkan. Atau, mereka tak bisa menampilkan apa-apa di keesokan harinya. Yang mereka takuti bukanlah tanggung jawab dan sebagainya. Mereka takut pada Selir Qian yang tak akan segan untuk menenggelamkan mereka berdua di danau.


Namun tentang cangkang manusia ...


Ini sudah terjadi dua kali. Dahulu Zi Si dan sekarang pelayan ini.


Bukankah mereka seperti memiliki 'sesuatu' yang mengawasi di Istana ini?


Hanya saja Yi Hua belum tahu apakah ini berarti buruk atau tidak. Maksudnya adalah apakah ini pengkhianat atau hanya sekadar bermain sihir. Entahlah.


***


Keesokan harinya adalah hari yang cukup sibuk. Matahari tak begitu terik sebab malam yang dihuni oleh hujan. Yi Hua bahkan harus mengalami pagi yang dingin. Namun ia harus bekerja, karena ia jelas tak ingin hidup melarat sebagai Yi Hua ini.


Yi Hua berjalan menyusuri keramaian Kerajaan Li dengan tenang. Ia menyadari bahwa sejak awal dirinya memiliki kenangan yang cukup untuk menerima keadaan sekitar. Pantas saja ia tak begitu asing ketika hidup sebagai Yi Hua ini.


Ia jelas orang yang hidup di masa ini juga, tetapi di ukuran waktu yang lebih tua.


"Jika kau masih hidup sebagai Li Wei sekarang, mungkin kau sekarang adalah wanita setengah baya. Atau, kau menjadi jandanya seorang Raja dari Kerajaan lainnya," ujar Xiao yang memang selalu ikut-ikutan dalam ucapan batin Yi Hua.


"Jika pun ada, aku rasa itu tak akan berarti apa-apa. Kau lupa sejarah hidupmu seperti apa. Jika mereka masih hidup pun, mereka tak ingin berada di alur yang sama denganmu," jelas Xiao masuk akal. Ia jelas bukan orang_ maksudnya makhluk yang akan pandai menghibur orang lain.


Yi Hua jelas telah selesai pada pekerjaannya. Untuk urusan ramal-meramal, Yi Hua jelas tak diikutsertakan oleh rekannya sendiri. Terutama saat Yi Hua telah membuat keributan di ruang kerjanya sendiri. Sehingga ia hanya perlu menunggu hingga pertunjukan dimulai.


Lalu, ... DUG!


"Maaf," ujar pria yang menabrak bahu Yi Hua.


Di situasi seperti ini tak akan aneh jika mereka akan saling berdempetan dan menabrak. Yi Hua hanya bisa mundur untuk memberikan jalan. Kemudian, bunyi pertunjukan sudah dimulai.


Liu Xingsheng menjelaskan bahwa pertunjukan ini merupakan drama tentang Perayaan Dewa. Uniknya, drama ini tidak ada dialognya. Hanya gerakan dari pemerannya dan tarian.


Yah, Liu Xingsheng sepertinya berbakat dalam seni. Pria ini sepertinya salah pekerjaan. Pekerjaan kerajaan dan politik jelas-jelas tak cocok pada Liu Xingsheng yang indah ini.


Yi Hua merapatkan penutup kepalanya sambil menonton pada seorang penari yang tengah menunduk dan hormat pada patung Dewa Air. Itu adalah adegan dimana Dewa Air muncul untuk menerima persembahan dari Liu Xingsheng.


Yi Hua berbisik pada Liu Xingsheng, "Aku hanya bertanya-tanya, apakah Dewa Air benar-benar turun?" tanya Yi Hua yang memanfaatkan keadaan sekitar. Di kala seperti ini tak akan ada yang tahu jika ia tengah berbicara sendiri.


"Menurut cerita dari para pengikut Dewa Air, mereka sering mengatakan jika Dewa Air sering datang dalam mimpi mereka. Dewa Air juga sepertinya memberi rezeki, karena masyarakat Kerajaan Xin kebanyakannya adalah petani dan nelayan. Jelas air adalah hal penting yang mereka inginkan. Katanya, jika melihat Dewa Air dalam mimpi, maka akan mendapat peruntungan yang baik. Mungkin cerita Dewa Air yang turun menerima persembahan ini sebenarnya merupakan bagian dari mimpi Si Anak. Kau tahu terkadang cerita agak dilebih-lebihkan," ujar Xiao menjelaskan.


Jika masyarakat Kerajaan Xin kebanyakan nelayan, berarti ada laut di sekitar wilayah Selatan.


Lalu, Xiao membenarkan. "Benar ada laut besar di Kerajaan Xin dahulu. Namun karena telah runtuh, laut itu benar-benar kosong. Tak ada yang berani datang ke sana. Apalagi di laut itu terkenal sebagai wilayah kekuasaan Tengkorak Putih, Bao Jiazhen."


Lihatlah!


Jauh sekali pembahasannya, tetapi semuanya kembali lagi pada para pendosa di Kerajaan Li.


Yi Hua kemudian berpikir, "Aku mulai bisa berpikir hal yang lain, Xiao. Jika memang apa yang dialami oleh anak ini bukanlah mimpi. Namun kenyataan, tetapi yang bertemu dengan anak ini bukanlah Dewa Air. Melainkan Tengkorak Putih, Bao Jiazhen."


"Itu masuk akal, apalagi dengan kematian Si Anak yang juga di air," balas Xiao yang mungkin ikut-ikutan terjebak dalam pemikiran dalam Yi Hua.


Percayalah, Yi Hua mungkin adalah segelintir orang yang begitu perduli pada hal seperti ini. Jika sebagian orang lain yang agak rasional, maka dia akan mengatakan cerita perayaan ini sebagai cerita rekaan. Namun jika orang yang percaya akan jelas-jelas menerima. Apalagi anak ini punya banyak keberuntungan, dan disukai oleh Dewa. Sehingga tak aneh jika dia diberi mimpi oleh Dewa.


Pertunjukkan sudah hampir selesai, Yi Hua memperhatikan penari ini dengan lekat. Awalnya Yi Hua tak menyadarinya karena ia menggunakan topeng. Akan tetapi, sosok cantik itu jelas bisa dikenali meski dari samping.


Liu Xingsheng jelas-jelas sangat mirip dengan Selir Qian jika berias seperti sekarang. Jelas-jelas Liu Xingsheng sendiri yang menampilkan pertunjukkan. Untuk pertama kalinya Yi Hua bisa melihat Liu Xingsheng terlihat serius dengan apa yang dikerjakannya.


Akan tetapi, SYUNG ...

__ADS_1


"HuaHua, awas!" teriak Xiao yang menyadari gerakan pria itu.


Akibat suara Xiao yang cempreng, Yi Hua memundurkan kepalanya refleks. Akan tetapi, Yi Hua tak bisa mundur begitu jauh karena mereka tengah berada di kerumunan. Ketika ia melihat ke depan, itu adalah pria yang sebelumnya menabraknya.


Pria ini sengaja ingin membunuh dalam keramaian.


Dalam keramaian ada banyak hal yang bisa disembunyikan. Pasti sangat lucu jika Yi Hua tergeletak di tanah akibat tusukan pisau dari pria ini. Namun pria itu tak berhenti di gerakan pertama, dia kemudian mengarahkan pisau itu kembali ke tenggorokan Yi Hua.


Mau tak mau Yi Hua menangkap lengan pria itu, dan kemudian membantingnya ke tanah. Itu jelas gerakan yang tak disangka oleh penyerang ini. Sebab, Yi Hua jelas-jelas seperti bukan petarung. Dan, Yi Hua tak bisa menggunakan kertas jimatnya untuk melawan manusia. Ia bisa dikenakan sanksi kerajaan.


Lagipula ...


"Paman, jika ingin merampok jangan padaku. Ayo kita ke toko roti dan saling menceritakan kesusahan masing-masing," ajak Yi Hua berniat baik.


Jelas itu masuk akal, karena Yi Hua memang tak memiliki apa-apa untuk dirampok.


Namun ... Yi Hua jelas adalah manusia yang memiliki banyak musuh.


Xiao mengingatkan, "Pria ini tak ingin merampok mu, HuaHua. Dia ingin membunuhmu. Sejak awal dia sudah menggunakan kain penutup wajah."


Akibat bantingan Yi Hua, kerumunan langsung pecah dan panik. Mereka membentuk lingkaran, dimana mereka bisa menyaksikan pergulatan Yi Hua dengan pria penyerang ini.


SRET!


Setelah dibanting oleh Yi Hua, pria itu juga menarik Yi Hua agar terguling ke tanah. Hal itu yang membuat Yi Hua terbanting ke tanah. Itu karena tubuh Yi Hua asli ini yang ringan dan kurang isi. Ia hanya bisa meringis saat punggungnya terkena batu.


Apakah tak ada yang bisa membantuku melawan orang ini? Aku ini gadis lemah lembut yang sedang diserang!


SRAT!


Yi Hua menatap tak percaya pada pisau yang menancap di samping pipinya. Pria ini serius untuk membunuhnya. Yi Hua berguling dan membuat pakaian serba putihnya berbalut dengan debu. Dalam kesempatan itu, Yi Hua harus segera bangkit atau dia akan mati karena pria ini.


Lagi-lagi penyerangan. Setelah Jenderal Wei yang diracun sebelumnya, sekarang Yi Hua yang diserang. Istana sepertinya memang memiliki penyusup di dalamnya.


Buruknya lagi ialah Yi Hua tak punya senjata untuk bertarung. Yang ada di tangannya hanyalah pedang Li Wei. Itu jelas-jelas bukan pedang yang bisa ditunjukkan di muka umum.


Ia bisa dicap pengkhianat kerajaan.


Atau, ... Apa pria ini tahu jika Yi Hua membawa pedang Li Wei? Sengaja memancingnya untuk terdesak hingga mengeluarkan pedangnya.


Pria itu mendekat, dan mengarahkan pisaunya pada Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua terpaksa menggerakkan tubuhnya yang kaku ini. Yi Hua bergerak lurus dengan sangat cepat. Bahkan langsung berhadapan dengan pria itu. Kemudian, gerakannya yang cepat membuat pria itu bingung. Tangan Yi Hua langsung meraih tangan pria itu, dan memutarnya.


KRAK!


"AKHHH!"


Setelah itu, Yi Hua menahan tangan pria itu di depan wajahnya. Ia segera menendang kaki pria itu hingga pria itu terjatuh sendiri ke tanah, dan melepaskan tangannya. Yang tersisa adalah Yi Hua yang masih berdiri dan memasang penutup kepalanya kembali.



Tapi, tanganku sakit sekali ketika memutar tangan pria ini.


Yi Hua hanya bisa menatap tangannya yang terasa ngilu tiba-tiba. Ini semua karena tubuh Yi Hua asli sangat lemah. Tidak biasa bertarung, dan dia tak boleh menarik terlalu banyak energi. Itu akan membuat tungku iblisnya memberontak. Oleh karena itu, ia selalu menggunakan kertas jimat untuk bertarung.


Eh? Mengapa sepi sekali?


Seingat Yi Hua ia tengah berada di kerumunan. Sehingga minimal pasti ada yang berteriak atau bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Namun kala itu, Yi Hua hanya melihat orang-orang yang bersujud memberikan penghormatan.


Bukan terhadap Yi Hua pastinya.


Yi Hua menoleh ke sampingnya, di sana Raja Li Shen tengah berdiri dari kursi kebesarannya. Menatap tajam pada Yi Hua, dan awalnya Yi Hua tak mengerti.


Namun Xiao seperti biasanya, selalu memberikan informasi penting di akhir acara.


"Sepertinya ingatanmu yang mulai kembali membuat dirimu ingat tentang teknik melumpuhkan Puteri Li Wei. Di Kerajaan Li, hanya Puteri Li Wei yang bisa melakukannya. Meski ada yang ingin meniru, jelas mereka tak akan sama seperti Puteri Li Wei. Apalagi setelah Puteri Li Wei tiada, gerakan ini tak ada yang pernah mempraktikkannya," jelas Xiao dengan nada lelah. Entah mengapa Xiao bisa lelah, padahal Yi Hua lebih lelah sendiri.


Nyatanya itu benar.


Puteri Li Wei sangat berbakat di masa itu. Ia bisa menciptakan gerakannya sendiri, dan terkadang berlawanan dengan bela diri yang asli. Seperti gerakan melumpuhkan itu, gaya orang lain memang ada dan jauh lebih hebat dari gerakan Puteri Li Wei. Namun uniknya, Puteri Li Wei tak menggunakan banyak tenaga di dalam gerakannya. Sangat cocok untuk orang yang tak punya tubuh kuat dan kurang berisi.


Ciri khas gerakan Puteri Li Wei adalah langkah kakinya yang tak terdengar. Dan, biasanya peniru gerakan ini masih tak akan mendapatkan hasil yang baik. Yaitu, langkah kakinya masih terdengar. Sehingga tak ada yang istimewa jika ada yang mengikuti gerakan itu sebelumnya.


Berita buruknya adalah ... Yi Hua berhasil menggunakan gerakan ini dengan sangat baik. Itulah yang membuat mereka semua terpaku, terutama Raja Li Shen yang bahkan berdiri dari kursinya.


Xiao, melindungi diri sendiri saja sesusah ini!


***


Selamat membaca.


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2