
"Apa maksudmu dengan dia memiliki aura kematian?" tanya Yi Hua di dalam hati pada Xiao.
Hal itu membuatnya tampak seperti tengah melamun. Hingga ia tak menyadari saat pria penari itu, Wei Fei, duduk di sampingnya sambil memberi salam kepada Huan Ran dan Liu Xingsheng. Hal itu membuat kedua Perdana Menteri segera membalas salam dari Wei Fei dengan senormal mungkin.
Seolah mereka hanya tak sengaja bertemu di sini.
Xiao tampak berpikir sejenak, hingga menyebabkan kesenyapan di telinga Yi Hua. Namun itu hanya terjadi beberapa detik, dan setelah itu Xiao kembali bicara. Kali ini dengan sedikit keterkejutan di dalam suaranya.
"Sekarang tidak ada lagi," ucap Xiao tak percaya.
Yi Hua semakin tak mengerti dengan maksud Xiao. Ia pikir Xiao sudah cukup jadi makhluk tak jelas selama ini. Jangan sampai Xiao menjadi sosok yang suka bicara tak jelas juga.
"Sebelumnya pria ini memiliki aura kematian. Seolah pria ini membawa sesuatu yang mati, atau pria ini sebenarnya bukan manusia. Akan tetapi, sekarang aura itu hilang," jelas Xiao yang menyadari bahwa Yi Hua sekarang bingung.
Bahkan Yi Hua sekarang melamun seperti pikirannya dibawa sapi menari. Hal itu membuat Wei Fei mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Yi Hua yang masih ditutupi penutup kain yang transparan.
PLAK!
Yi Hua adalah orang yang cepat melamun, tetapi refleksnya juga cepat. Sehingga ketika dia hanya melihatnya dari sudut mata, mama' Yi Hua akan bertindak. Itulah yang membuat Yi Hua segera menangkis tangan Wei Fei yang mendekati wajahnya.
Mengapa pria ini sangat mudah untuk menyentuh orang lain? Dasar Biawak!
Namun dari kontak fisik itu Yi Hua juga dapat memastikan ucapan dari Xiao. Kulit Wei Fei terasa hangat, sehingga dia tak sama seperti cangkang manusia. Hangatnya kulit Wei Fei juga membuat Yi Hua yakin jika jantung pria ini berdetak. Dia juga bukanlah hantu, atau pun ...
"Berhati-hatilah dengannya, Yi Hua. Jika dia bisa menyembunyikan aura seperti itu, bisa jadi dia iblis tingkat tinggi. Sebab, jika dia hanya hantu biasa, dia tak akan terlihat 'sempurna' seperti manusia." Xiao berkata dengan nada was-was.
Dari pengalamannya selama ini, Yi Hua memahami apa yang dimaksud oleh Xiao.
Pada dasarnya manusia hidup bersisian dengan makhluk lainnya. Walau pada suatu waktu batasan antara dunia manusia dan dunia lain akan bersinggungan. Seperti saat di malam purnama tepat di puncak langit, maka Gunung Hua akan terbuka. Itulah saatnya batasan antara dunia manusia dengan dunia lain lengser.
Namun wilayah Gunung Hua dikuasai oleh Hua Yifeng, sehingga dia bisa juga disebut sebagai Raja Iblis. Oleh karena itu, mereka menyebut Hua Yifeng iblis kehancuran. Dia adalah tingkatan tertinggi yang menguasai dunia lain.
Oke ... Mari tidak usah membicarakan tentang Hua Yifeng. Yi Hua membenci pikirannya sendiri.
Lebih baik aku memeriksa pria biawak di depanku ini dahulu.
Intinya, hanya raja iblis dan hantu tingkat tinggi yang bisa mengubah dirinya sesempurna manusia. Biasanya jika itu hantu biasa, maka itu tak akan benar-benar bisa menutupi fisiknya. Seperti rambut yang tak akan sekuat manusia, atau garis tangan yang tak bisa dibuat oleh mereka. Bahkan itu dengan lekukan di atas bibir, hantu biasa tak akan bisa membuatnya begitu sempurna seperti manusia
Yi Hua berpura-pura mengangkat kedua tangannya yang tersimpul di depan dada untuk memberi hormat. Namun dengan sengaja Yi Hua menundukkan tubuhnya terlalu condong pada Wei Fei. Lalu, menarik rambutnya. Jika rambut Wei Fei terlepas seperti tidak terpasang dengan baik, maka Wei Fei bukanlah manusia.
SRET!
"Rambut Wei Fei aman! Masih tetap utuh meski dijambak," lapor Yi Hua pada Xiao agar sistem ini mengumpulkan data tentang Wei Fei.
"Aduh." Wei Fei mengaduh sambil menyentuh kepalanya agar tidak menjadi korban dari kekasaran Yi Hua.
Mata pria itu menatap Yi Hua tak percaya. Akan tetapi, wajah tak perduli Yi Hua membuatnya sedikit jengkel.
"Maaf, Tuan Wei. Saya melihat bulu sapi di rambut Anda," ucap Yi Hua asal.
Wei Fei menatap Yi Hua penuh selidik, "Darimana kecantikan ini bisa tahu bahwa nama keluargaku adalah Wei?" tanya Wei Fei cepat.
Yi Hua melirik ke arah Liu Xingsheng untuk meminta bantuan. Namun pria itu malah berpura-pura mengangkat mangkuk minumannya seolah masih ada isinya di sana. Padahal, Yi Hua tahu jika mangkuk Liu Xingsheng sebelumnya kosong.
Jelas sekali jika Liu Xingsheng menolak untuk membantunya.
__ADS_1
Juga, Yi Hua tak berani meminta bantuan pada Huan Ran!
"Ha ... ha ... Bukannya kemarin kita berkenalan? Anda pasti tak ingat karena kita hanya berkenalan secara singkat," jawab Yi Hua sambil melirik untuk meminta pendapat pada Liu Xingsheng.
Wei Fei tampak bingung sebelum menatap Yi Hua lagi. "Tidak mungkin aku lupa dengan ..."
BRAK
"Anda lupa!" Yi Hua menekan suaranya di setiap kata.
Yi Hua mendadak menggebrak meja karena gugup. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Yi Hua yang menyadari tatapan semua orang itu langsung berpura-pura menatap langit-langit penginapan. Berharap ada pemandangan menarik di sana seperti jaring laba-laba dan sebagainya. Sayangnya, penginapan ini terlalu bersih.
Kurang estetik. Pikir Yi Hua.
"Baiklah. Aku lupa," balas Wei Fei karena tak ingin dianggap sama kelakuannya dengan Yi Hua.
Baiklah. Kembali pada informasi yang Yi Hua ingin kumpulkan.
Wei Fei terlihat kesakitan ketika Yi Hua menarik rambutnya. Berarti kemungkinan kedua, yaitu Wei Fei membawa sesuatu yang berbau 'kematian' dalam dirinya. Yi Hua harus memeriksa kemungkinan ini lagi.
Yi Hua menyelipkan tangannya di dalam lengan pakaiannya yang lebar untuk mengambil air suci. Ini adalah air yang biasanya dibawa oleh para peramal untuk menetralkan sihir buruk. Yi Hua jelas membawanya karena Yi Hua tak punya kekuatan untuk menetralkan sihir.
SRAT!
"Hey!" Wei Fei memekik karena wajahnya tiba-tiba diguyur Yi Hua dengan air dalam botol giok kecilnya.
Pria penari itu bangkit dari duduknya hanya untuk mengusap wajahnya yang basah. Meski air dalam botol giok itu tak banyak, tetapi cukup untuk membuat wajahnya basah. Bahkan riasan Wei Fei yang tersisa kini tampak luntur akibat siraman air dari Yi Hua.
Namun hasilnya adalah biasa! Jika Wei Fei hantu, maka kulitnya akan mengelupas. Akan tetapi, yang luntur adalah riasan menarinya saja. Juga tak ada yang terbakar di sekitar Wei Fei. Sehingga jelas tak ada barang berbau 'kematian' di diri Wei Fei.
"Mungkin satu hal yang disesali pria penari ini ialah berkenalan dengan orang kasar sepertimu, Yi Hua," ucap Xiao prihatin.
Lagi-lagi pengunjung penginapan kembali menatap pada meja mereka. Bagaimana pun ini telah kesekian kalinya mereka membuat keributan. Pemilik penginapan berpikir untuk mendepak tamu-tamu yang mengaku pengembara itu nanti. Terutama jika mereka membuat keributan lagi.
Huan Ran terlihat serius menghitung kacang di salah satu piring hanya agar tak terlihat seperti datang bersama Yi Hua. Liu Xingsheng segera menahan tangan Yi Hua hanya karena dia takut Yi Hua akan menyebabkan kerusuhan lagi. Bagaimana pun dia tak pernah menyangka jika Yi Hua akan bertindak seperti bandit!
Wei Fei mengusap wajahnya dengan sapu tangan warna ungu. Entah darimana pria itu mengambilnya. Namun warna ungu itu terlihat cocok dengan perawakan Wei Fei. Meski sapu tangan itu terlihat lebih seperti sapu tangan seorang gadis ketimbang pria biawak seperti Wei Fei.
Wei Fei mengeluh pelan. "Apakah aku memiliki hutang padamu di kehidupan sebelumnya? Makanya kau menjadi kasar padaku padahal kita baru berkenalan."
"Ha ... ha ... Katanya, riasan di wajah akan cepat hilang jika langsung dibersihkan dengan air mengalir," ucap Yi Hua dengan wajah tanpa bahan pemanis apapun. Datar. Tanpa rasa bersalah atau pun tak nyaman.
Masalahnya, apakah definisi air yang mengalir itu seperti yang Yi Hua lakukan?
Selesai membersihkan wajahnya, Wei Fei tak lagi duduk lebih dekat dengan Yi Hua. Ia menyayangkan wajah cantik Yi Hua yang seperti bunga di atas salju. Kesan dingin dan tenang di wajah Yi Hua dihancurkan oleh tindakannya yang seperti bandit penagih hutang.
Kali ini Huan Ran yang membuka pembicaraan. Hanya agar Wei Fei tak mempermasalahkan masalah lama lagi.
"Pertunjukkan yang sangat menakjubkan, Tuan Wei," puji Huan Ran sambil mengangkat kedua tangannya yang menggenggam mangkuk minuman.
Sebuah bentuk perayaan tersendiri untuk Wei Fei.
Demi kesopanan, Wei Fei membalas Huan Ran dengan mengangkat mangkuk minuman, yang entah milik siapa. Sebab, Wei Fei belum memesan minuman apa-apa. Di sebelahnya ada Yi Hua yang melamun dan terkadang bicara sendiri.
Setelah itu, tak ada pembicaraan di meja itu lagi. Hal itu karena mereka sebenarnya bingung untuk membuka pembicaraan.
__ADS_1
Liu Xingsheng menendang kaki Yi Hua untuk menyadarkan Yi Hua tentang misinya. Dan, itu membuat Yi Hua langsung bertanya. "Apakah anak-anak yang menari itu sering bersama dengan kelompok penari?"
SRET!
Liu Xingsheng lagi-lagi menendang kaki Yi Hua, dan berbisik sekecil mungkin. Nyaris seperti ketika ikan bernyanyi. Agar hanya Yi Hua yang bisa mendengarnya.
"Kenapa tidak kau tanya langsung seperti, 'apa kalian yang menculik anak-anak itu?'," sindir Liu Xingsheng jengkel.
Tadi katanya disuruh bertanya! Mengapa Perdana Menteri kurang tegas ini sering sekali menendang kakiku.
Namun jawaban Wei Fei sedikit mengejutkan. Terutama saat Wei Fei dengan cepat melupakan penganiayaan yang dilakukan Yi Hua padanya. Pria itu memasukkan sapu tangan itu kembali ke dalam lengan pakaiannya.
"Biasanya kami membawa anak-anak terlantar untuk ikut dalam kelompok," jawab Wei Fei sambil mengangkat tangannya. Memesan untuk dirinya sendiri. Mungkin pria itu berpikir untuk bergabung dengan mereka.
"Apakah itu karena mereka menginginkannya atau kalian yang meyakinkan mereka untuk ikut?" Kali ini Huan Ran yang bertanya.
Wei Fei tertawa lagi. Lagi-lagi taring di dalam mulutnya terlihat. Entah mengapa senyum Wei Fei menjadi sangat menarik karena kedua gigi taringnya.
"Apa mereka punya pilihan? Mereka hanyalah anak-anak yang tak tahu mereka masih bisa hidup besok atau tidak. Tuan hanya menyediakan tempat karena kami memerlukannya," balas Wei Fei dengan senyum di wajahnya.
Tuan?
Yi Hua mengambil kacang yang sempat dihitung oleh Huan Ran sebelumnya. Ia memasukkannya beberapa biji ke dalam mulut. "Saya mengira jika Anda yang memimpin kelompok ini."
"Aku hanyalah seorang penari. Tuan memang tak pernah terlihat, dan meminta aku yang mengurus semua ini," balas Wei Fei lagi sebelum ia lanjut berbicara. "Aku bahkan belum tahu nama kalian, dan kalian sudah banyak bertanya tentang aku."
Huan Ran mengangkat tangannya untuk mengenalkan diri. "Nama keluarga saya Lin, dan nama saya Ran," ucap Huan Ran memperkenalkan nama samaran.
Setelah, Liu Xingshengmelanjutkan untuk memperkenalkan diri. "Saya adalah adiknya, Lin Sheng. Sedangkan, pria yang menyiram dirimu sebelumnya adalah teman yang tak sengaja kami temukan di semak-semak. Namanya Hua Yi."
Entah mengapa aku merasa seperti Liu Xingsheng sedang mengenalkan kutu ketimbang mengenalkan diriku pada Wei Fei.
Wei Fei mengangkat sebelah alisnya. "Aku tak menyangka jika akan salah menduga, Hua Yi. Kau terlihat sangat cantik hingga aku tak tahu jika kau bukan seorang pria."
Wei Fei mungkin adalah tipe orang yang langsung berbicara non formal pada orang asing. Yi Hua berusaha tak menghiraukan panggilan akrab Wei Fei pada dirinya.
"Tentang anak-anak itu ... " ucap Wei Fei tiba-tiba.
Pria itu menyempatkan diri untuk menuang minuman untuk dirinya sendiri. Lalu, menuangkan minuman juga untuk Yi Hua. Namun dari aromanya, Yi Hua tahu jika Wei Fei hanya menuangkan air biasa untuknya. Bukan air yang sama dengan yang diminum oleh Huan Ran dan Wei Fei.
"Besok rencananya kami akan membuat pertunjukkan jalanan lagi. Kami memutuskan untuk lebih lama di Kota Zhu, sekaligus mengajarkan tarian bunga untuk orang-orang di Kota Zhu," ucap Wei Fei dengan senyum di wajahnya. Pria itu terlihat cukup antusias dengan pekerjaannya sebagai penari.
Yi Hua berpikir sejenak. "Saya ingin belajar menari, Tuan Wei."
Ucapan Yi Hua membuat Liu Xingsheng menampilkan wajah tak mengerti. Bagaimana pun ini bukan saat yang tepat untuk menyaksikan pertunjukkan atau belajar menari. Mereka bisa bekerja lebih cepat jika menyelidiki kelompok penari itu langsung ke tempat mereka menginap.
Mengapa harus ikut dalam pembelajaran menari?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~