
Meski sekarang Lembah Debu sudah tak lagi dipenuhi oleh debu yang bergolak, tetapi Kerajaan tak berpikir untuk membangun kota yang sudah mati itu. Itu semua karena di sana terlalu banyak darah yang bercucuran. Tak terhitung korban di sana. Tanah di Lembah Debu sekarang tak bisa dihuni lagi sebelum dimurnikan.
Namun menurut pemurnian tanah dengan jalan Tao, itu memerlukan waktu berpuluh tahun. Berpuluh tahun untuk melepaskan semua jiwa-jiwa penasaran yang berkeliaran di sana. Tentu saja tak ada yang ingin tinggal bersama hantu. Apalagi dengan hantu yang memiliki dendam dalam jiwanya.
Oleh karena itu, tanah itu dibiarkan kosong. Ada yang berkata jika seseorang masuk ke dalam Lembah Debu dia akan mudah tersesat. Itulah yang membuat orang-orang bertanya tentang keberhasilan Yi Hua dan An untuk keluar dari Lembah Debu.
Yah, Yi Hua saja yang tak ingin bermulut besar. Jika dia ingin membeberkan semua rahasia di dalam Lembah Debu mungkin akan selesai setelah pendengarnya punya anak tiga. Itu cukup panjang dan unik. Serta terkadang tak masuk akal.
Ditambah lagi dengan keberadaan Ling Xiao*, ini hanya Yi Hua dan An saja tahu, tinggal di sekitar Lembah Debu. Itu pun karena An katanya berteman dengan Ling Xiao. Walau Yi Hua tak bisa melihat nilai 'teman' di antara mereka berdua. Bahkan seingat Yi Hua, An tak segan-segan melempar perang ke kepala Ling Xiao saat bercanda. Yah, selera bercanda mereka berdua mungkin lebih parah dari cerita romantis dari penunggang sapi terbang.
^^^*Ling Xiao ini seniornya Yi Hua sebagai peramal. Dia dulu peramal terkenal di Kerajaan Li. Jadi, dahulu garis tahta diturunkan bukan dari darah, tetapi dari pesan Dewa. Peramal Kerajaan meramal siapa yang mendapat pesan Dewa, lalu akan menjadi Raja selanjutnya. Namun karena_katanya_ salah meramal, Ling Xiao dibuang dari Kerajaan Li. Hanya sekadar mengingatkan siapa tahu lupa tentang Ling Xiao.^^^
Dari cerita tersebut kita sudah tahu bahwa Lembah Debu sangat berbahaya.
Lalu, bagaimana Jenderal tampan pecinta wanita tetapi bukannya buaya ini ingin mengajak Yi Hua datang ke sana?
Yi Hua berucap pada Xiao. "Itu sama seperti aku penggila situasi berbahaya. Pokoknya meski dibayar aku tak akan masuk ke sana lagi. Memangnya aku semurahan itu!" omel Yi Hua di dalam hati.
Namun Jenderal Wei Qionglin ini bahkan tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Yi Hua. Itu membuat rasa makanannya jadi kurang nyaman. Yi Hua mengambil kain lap untuk membersihkan sumpit miliknya lagi. Setelah itu, Yi Hua menyelipkan kedua sumpit itu ke ikatan rambut Yi Hua.
Hal itu membuat Wei Qionglin mengangkat sebelah alisnya. Ia pernah melihat Yi Hua dahulu di pelatihan kerajaan. Dan, yang bisa Wei Qionglin katakan tentang peramal ini ialah lemah seperti tangkai layu. Walau begitu ucapan Yi Hua terkadang sangat melenceng dari kenyataan, yaitu ditinggikan.
Namun saat Wei Qionglin melihat Yi Hua untuk kedua kalinya ialah ketika menyelamatkannya saat diculik oleh Rong Mingyu. Itu berada di tempat yang agak dekat dengan Lembah Debu, dan di sanalah Wei Qionglin tahu jika Yi Hua pernah berurusan dengan Shen Qibo.
Perlahan ia berpikir. "Kau tak terlihat sama seperti penampilanmu," ujar Wei Qionglin dengan agak keras. Ia tak menyangka jika ia mengatakan ini pada Yi Hua.
Namun Yi Hua dengan dinginnya tetap pada pekerjaan sebelumnya. Menyimpan harta miliknya yang berharga, yaitu sepasang sumpit satu-satunya yang dimiliki Yi Hua. Ia tak perduli dengan bau daging ayam yang masih melekat di sumpit itu.
"Terkadang Anda tak bisa menilai seseorang dari penampilannya, Tuan Jenderal. Meski secara penampilan saya cantik seperti daun yang jatuh dari langit, tetapi saya adalah seorang pria," ujar Yi Hua asal.
Wei Qionglin tertawa dengan mudah. Ia baru pernah mendengar seseorang yang bisa berbicara melantur seperti Yi Hua. Seolah Yi Hua tak peduli dengan apa yang dikatakannya.
"Maksudku kau terlihat lebih mengerikan dibanding penampilanmu," ujar Wei Qionglin yang ingin mengganggu Yi Hua.
Yi Hua melambaikan tangannya tak peduli. Nyatanya Yi Hua pernah mendengar cemoohan yang lebih parah dari ini semua. "Jadi, inti dari pembicaraan kita hari ini adalah saya tidak setuju, Jenderal Wei. Saya adalah makhluk suci yang tak tahu buruknya dunia. Kegemaran saya adalah berbicara pada rumput yang bergoyang untuk menilai nasib manusia. Garis besarnya, saya adalah Peramal Kerajaan, Jenderal Wei. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang Peramal Kerajaan dalam perkejaan kasar ini?" jelas Yi Hua panjang lebar. Bahkan ia tak perduli jika ia membuat hujan lokal di depan Wei Qionglin.
"Seperti kau itu disenangi oleh energi buruk. Entah mengapa setiap terjadi bencana atau berhubungan dengan iblis, selalu ada kau di sana. Aku beranggapan bahwa kau bisa mendeteksi di mana ada energi buruk dari iblis." Wei Qionglin seperti biasa pandai berucap, karena dia seringkali berbincang tentang strategi perang.
Itu karena Yi Hua malang ini punya tungku iblis. Mengapa orang ini malah menganggap ku seperti pembawa bencana?
Bukan Yi Hua yang mendekati energi buruk itu. Akan tetapi, energi buruk yang mendatangi Yi Hua. Itu semua karena setiap hantu dan iblis yang bersinggungan dengan Yi Hua dapat merasakan adanya kekuatan di dalam diri Yi Hua. Jika saja tungku iblis itu tak disegel, maka Yi Hua ini pasti hanya bisa hidup dalam rumah saja. Mengurung diri dengan segala jimat yang menempel di dinding rumah.
Itu pun jika hantu itu tak mendatanginya.
"Bagaimana jika begini ..." Wei Qionglin memulai berdiskusi lagi dengan Yi Hua.
TEP!
Yi Hua menatap kantong uang yang baru saja dilempar oleh Wei Qionglin. Mata Yi Hua sempat melirik sebentar, tetapi ia segera membuang muka karena tak ingin tertarik. Hal itu karena kantong itu berisi banyak uang yang mungkin bisa membeli satu ekor anak sapi.
Ia yang makhluk kurang dana jelas tergiur dengan uang itu.
Namun ...
"HuaHua, bukankah kau selalu mencari cara agar 'bunuh diri' dengan elit. Itu semua agar tungku iblis aktif. Jika kau menempatkan diri dalam kematian lagi, maka kau bisa mendapatkan kepingan ingatanmu lagi," ucap Xiao memberi saran.
Bagaimana pun itu adalah tujuan Yi Hua selama ini. Ia sebisa mungkin harus menjadi orang yang mencintai kematian. Sehingga ia akan mengalami momen hampir mati berkali-kali. Entah sampai kapan.
__ADS_1
Akan tetapi, ...
Apa kau tahu bagaimana rasanya sakit dari kematian itu? Lalu, kau akan mengalaminya berkali-kali tanpa henti.
Ditambah lagi, Yi Hua takut dengan masa lalunya sendiri. Ia hanya takut jika suatu hari dia menyesal karena mengetahui tentang hidup yang ingin dia lupakan. Mungkin Dewa tahu kesusahan hatinya, sehingga membuang semua ingatan itu saat ia terlahir kembali.
Itulah yang membuat Yi Hua tak begitu berani mengorek ingatannya sendiri. Apalagi dengan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum yang selalu ia alami. Belum lagi dengan mimpi buruk yang membuat Yi Hua takut untuk tidur.
Silahkan tanya pada Xiao berapa kali Yi Hua meminta Xiao untuk bercerita. Itu semua hanya agar dirinya bisa mengalihkan semua mimpi buruk. Lalu, dia menyadari ia telah bermimpi begitu banyak sampai tak ingat apa yang ia mimpikan.
Hidup seperti ini ... Lebih baik dia menjadi Yi Hua saja.
Meski begitu, sampai kapan dirinya akan melarikan diri seperti pengecut?
SRET!
Tangan Yi Hua terulur untuk meraba-raba kantong itu. Sehingga ia tahu bahwa di dalamnya ada begitu banyak kepingan uang. Setelah memastikannya, Yi Hua menarik kantong uang itu agar Wei Qionglin tidak bisa mengambilnya lagi.
"Ini bukan karena saya mudah dibayar, Jenderal Wei. Inilah yang dimaksud dengan menghargai pemberian orang lain," tegas Yi Hua sambil memasukkan uang saku itu ke dalam pakaiannya. Di sana Yi Hua menyelipkannya ke ikat pinggang. Menyembunyikan uangnya.
Yi Hua bahkan tak memperdulikan ucapan Xiao yang entah mengapa selalu menyebut Yi Hua penggila uang.
Jika kau tahu bagaimana sulitnya mencari uang, maka kau akan mengerti mengapa aku harus bijaksana dalam mengatasi uang!
Percayalah, Yi Hua juga sebenarnya tak mengerti dengan apa yang diucapkannya sendiri.
Wei Qionglin mengangguk cepat. "Jika kau takut untuk berurusan dengan Shen Qibo, kau bisa pergi setelah kita menemukannya."
"Anda tak akan bisa menang ketika bertarung dengannya," tegas Yi Hua tanpa memikirkan harga diri Wei Qionglin lagi.
Sejak awal Shen Qibo adalah iblis tingkat tinggi. Dia bahkan masuk dalam lima pendosa yang ditakuti di sepanjang sejarah Kerajaan Li. Sehingga berpikir untuk bertarung dengan Shen Qibo itu seperti mengkhayal tentang sapi yang bisa terbang. Yang ada itu sama seperti menyerahkan nyawa. Bahkan Yi Hua pernah melihat Yue Yan terbanting di sana sini ketika bertarung dengan Shen Qibo.
Akan tetapi, pria ini langsung menanggapi dengan mata merayu. "Apakah Yi Hua khawatir padaku?"
"Saya lebih khawatir tentang setengah bayaran saya yang tak bisa Anda bayar lagi bila Anda tewas. Ingat ini hanya setengah saja," ujar Yi Hua tanpa tanggung-tanggung.
Wei Qionglin menghela napasnya sebelum menjelaskan. "Tugas pertamaku sebagai Jenderal adalah tentang pembantaian di Lembah Debu. Saat itu ... Aku benar-benar tak bisa melakukan apa-apa. Tak ada yang bisa aku lakukan selain melihat mayat-mayat yang berserakan. Aku tak bisa menolong siapapun, dan mereka tak bisa hidup lagi. Jika ada yang bisa disalahkan, yaitu karena kami datang terlambat. Mungkin ada satu dua orang yang masih bisa hidup."
Yi Hua sebenarnya tak ingin mendengar cerita menyedihkan itu. Walau itu merupakan bagian dari masa lalu, tetapi untuk Wei Qionglin itu adalah kegagalan. Yi Hua tak bisa menyalahkannya, tetapi trauma ketika melihat mayat berserakan mungkin lebih menakutkan untuk Wei Qionglin bicarakan.
Wajah Wei Qionglin jelas menunjukkan kebencian pada Shen Qibo. "Jika manusia bisa menyingkirkan para pendosa yang tersisa, maka dunia tak akan begitu buruk lagi."
"Anda terlalu menyalahkan para iblis dalam hal ini, Jenderal Wei. Masa depan siapa yang tahu, tetapi meski para iblis tidak ada, belum tentu dunia ini aman," jelas Yi Hua yang berdiri dari duduknya.
Ia harus mengantarkan Wei Qionglin ke Lembah Debu. Lalu, setelah itu ia pulang setelah bertemu dengan Shen Qibo. Itu jelas bukan urusannya lagi.
BRAK!
"Apa kalian juga akan melintasi Lembah Debu?" Suara kecil nan cempreng itu membuat Yi Hua mengalihkan fokusnya ke samping meja.
Di sana ada bocah dengan mata berbinar yang menatap Yi Hua. Akan tetapi, akibat suara anak kecil ini perhatian semua tertuju pada Yi Hua. Terutama saat semua orang dalam rumah makan mendengar ucapan anak ini tentang menuju Lembah Debu.
Pasti di mata mereka Yi Hua sekarang sedang iseng mencari mati.
Yi Hua memutar tubuh anak kecil itu untuk menatap ke arah berbeda. "Tidak ada, Nak! Jangan susahkan manusia sibuk seperti aku ini. Lebih baik kau pulang, dan mengganggu gadis desa saja. Itu lebih bijak untuk dilakukan."
SRET
__ADS_1
Namun anak itu tetap lincah memutar tubuhnya untuk menatap Yi Hua. "Kami juga akan menuju ke Lembah Debu. Ayah dan para Paman akan pergi ke sana besok."
Apa? Mengapa manusia sekarang tak ragu lagi pada Lembah Debu? Mungkin saja Lembah Debu telah kehilangan nilai angkernya akibat terlalu lama dibicarakan dalam sejarah. Itu seperti kau mulai tak takut lagi pada sesuatu yang mistis, saat kau sudah terbiasa melihat dan mendengar sesuatu yang mistis.
"Hey, Ping. Apa yang kau bicarakan pada Jenderal dan temannya ini?" Seorang pria paruh baya datang untuk menghampiri si anak laki-laki ini.
Belum sempat anak laki-laki itu menjawab, Si Paman memberi penghormatan pada Jenderal Wei Qionglin. Tentu saja karena semua bisa mengenali sosok ini dari kejauhan. Apalagi dengan gelar Wei Qionglin sebagai Jenderal.
"Maafkan anak saya karena mengganggu pekerjaan Jenderal Wei," ucap pria tua itu yang masih memberikan penghormatan.
Wei Qionglin berdiri untuk membalas penghormatan itu. "Saya sedang tidak dalam pekerjaan, Tuan. Akan tetapi, saya mendengar jika anak ini berkata tentang perjalanan menuju Lembah Debu."
Wajah Paman tua itu langsung panik. Bagaimana pun kerajaan juga memerintahkan bagi penduduk agar menjauh dari Lembah Debu. Akan tetapi, mereka terang-terangan ingin menuju ke Lembah Debu.
Paman tua itu segera berlutut agar meminta kerendahan hati dari Jenderal besar ini. Bagaimana pun jika hal ini sampai pada kerajaan, mereka akan mendapat hukuman. Hal itu membuat anak kecil yang dipanggil Ping itu menjadi takut juga.
Yi Hua menghela napasnya sambil merapatkan tutup kepalanya. Sejak tadi dia memang tak ingin ada yang mengenali wajahnya. "Jenderal Wei hanya bertanya. Anda tak perlu takut, Tuan."
Lagipula, orang ini juga melanggar perintah kerajaan. Bahkan dia bekerja di luar tugasnya tanpa izin kerajaan.
"Kami akan melalui Lembah Debu agar perjalanan tak begitu jauh. Kami adalah pedagang, dan kami jelas tak ingin waktu kami terbuang hanya di perjalanan," jelas Paman tua itu dengan terburu-buru.
Namun Yi Hua memahaminya.
Dahulu saat berangkat dengan Liu Xingsheng pun mereka juga memilih menembus Lembah Debu yang berbahaya. Sebab, jalan lain untuk ke kota setelah Lembah Debu akan sangat jauh lagi. Jika melewati Lembah Debu, tak sampai setengah hari mereka akan sampai ke kota selanjutnya.
Yi Hua menepuk tangannya entah karena apa. Mungkin karena dia kurang kerjaan. "Jika kalian mati karena memasuki Lembah Debu, maka kalian akan punya jalan paling cepat untuk naik ke langit tanpa harus menjadi Dewa," ujar Yi Hua yang terbiasa berbicara sarkas.
Paman Tua itu menundukkan kepalanya. Masih dengan posisi yang sama, sebab Paman Tua itu pasti sangat takut untuk berdiri sekarang. "Lagipula, selama ini kami memiliki pemandu. Katanya, jika ada pemandu ini, dia akan memilih jalan paling aman di Lembah Debu."
Pemandu?
Jujur saja baru kali ini Yi Hua mengetahui tentang itu. Ia mengalihkan tatapannya Wei Qionglin, dan jelas pria itu juga terlihat terkejut. Sebab, tak ada yang ahli atau tidak ahli dalam melintasi Lembah Debu.
Selain karena jumlah debu yang banyak, walau sekarang tak separah dulu, jalan di Lembah Debu itu cukup aneh. Terkadang juga membuat orang akan sesat jika dikelabui oleh jalan yang tertutup debu.
Waktu itu mereka bisa melintasi Lembah Debu dengan aman karena kemampuan An yang hebat. Mata pria itu entah mengapa sangat fokus dan tepat. Ditambah lagi Huan Ran juga cukup pengingat.
Akan tetapi, pemandu ini ... Yi Hua jelas baru tahu.
"Dia mengatakan bahwa dia pernah tinggal di kota Lembah Debu dahulu sekali. Sehingga dia sangat memahami seluk-beluknya," ujar Paman Tua itu lagi.
Tentang itu ...
"Xiao, apakah pemandu ini Yue Yan?" tanya Yi Hua di dalam hati. Hanya Yue Yan penduduk kota yang tak terbunuh oleh Shen Qibo.
Namun sejak kapan orang pendendam itu bisa menjadi pemandu? Apa dia ingin beralih pekerjaan? Bukannya dulu Yue Yan hanya ingin mencari tentang Shen Qibo dan membunuh pria itu?
Namun sebelum Yi Hua mendapatkan jawaban dari Xiao, seseorang segera muncul ke dalam rumah makan. Itu adalah seorang pria yang sama sekali Yi Hua tak kenal. Dia bukanlah Yue Yan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~