Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 2: Tantangan


__ADS_3

Li Wei mengamati sekelilingnya dengan penasaran. Bagaimana pun ini adalah pertama kalinya ia masuk dalam ruangan belajar. Di sana jelas saja semuanya seorang pria. Meski begitu, seharusnya Li Wei sudah terbiasa.


Sebab, dalam keluarganya saja hanya dirinya anak gadis dalam sejarah keluarga kerajaan sekarang.


Li Wei menyalin peraturan kerajaan dari gulungan lainnya. Jelas ini adalah cara untuk mereka agar mengingat peraturan. Akan tetapi, baru saja Li Wei menyalin ia sudah bosan sendiri. Ia memperhatikan Wei Wuxie yang menyalin dengan rajin. Yah, pasti anak pertama keluarga Wei ini selalu membanggakan.


Juga, ... Zhang Yuwen yang juga memainkan kuas di tangannya.


"Zhang Yuwen, mengapa kau belum menulis apa-apa? Jika guru pemarah itu memarahimu jangan pernah menengok ke arahku," ujar Li Wei yang kini menggambar bunga-bunga kecil pada kertas miliknya.


Bukan karena apa, tetapi Li Wei sekarang sedang agak bosan. Lagipula, dia sudah salah menulis di bagian awal, sehingga ia akan membuang kertas ini nantinya. Ditambah lagi tidak ada guru yang mengawasi mereka sekarang.


Zhang Yuwen menoleh pada Li Wei. "Saya bisa melanjutkannya di kediaman saya, Putri."


"Kau pikir sekolah ini bisa membuatmu bermain-main? Kau harus menguasai Pelatihan ini agar bisa melanjutkan nama keluarga," ujar Wei Wuxie memberitahu Zhang Yuwen seperti biasanya.


Zhang Yuwen menghela napasnya. "Jika kau terlalu serius seperti itu, maka kau tak bisa menikmati hidup ini."


Li Wei sudah terbiasa melihat kedua orang ini berdebat. Itu sudah sangat terbiasa dengan keadaan ini. Jelas saja orang yang semaunya seperti Zhang Yuwen ini akan dikritik oleh orang yang mengikuti aturan seperti Wei Wuxie.


"Jika Putri sudah masuk pelatihan seperti ini, apa itu berarti Putri akan masuk dalam Pengadilan Tinggi?" tanya Wei Wuxie dengan serius.


Bagaimana pun hasil dan nilai dari Pelatihan pasti akan diberikan pada kerajaan. Li Wei, meski agak aneh, tetapi memiliki potensi itu. Wei Wuxie bahkan melihat Li Wei lebih cekatan dibandingkan murid lainnya.


Jika saja Li Wei ini adalah seorang pria, maka dia bisa menjadi Raja selanjutnya. Atau, ...


"Kau berpikir bahwa aku bisa menjadi Raja?" tanya Li Wei pada akhirnya.


Wei Wuxie jelas tak berani untuk memberi pendapatnya. Bagaimana pun seorang gadis dalam sejarah Kerajaan Li sangat jarang dilibatkan dalam kebijakan kerajaan. Sehingga di zaman sekarang belum ada kecantikan yang maju dalam Pengadilan Tinggi.


Zhang Yuwen mengangkat bahunya, "Mereka hanya diam saja, tetapi Putri tahu apa yang mereka bicarakan?" ujar Zhang Yuwen yang memulai cerita lagi.


Sudah seperti biasanya Zhang Yuwen lebih terdepan dalam urusan berita di kalangan murid atau informasi panas lainnya.


"Apakah itu karena Yang Mulia membiarkan aku masuk ke Pelatihan?" tanya Li Wei langsung.


Zhang Yuwen menganggukkan kepalanya. "Itu benar. Banyak yang mengatakan jika Yang Mulia terlalu lemah untuk mengatasi Putri. Ada yang mengatakan juga bahwa ini seperti Dewa membiarkan takdir memilih. Seperti ini hanya rencana Dewa untuk menentukan Raja selanjutnya."


"Aku tak akan menjadi Raja," cetus Li Wei langsung.


Lagipula, Li Wei tak ingin mengalami sakit kepala untuk mempelajari semua peraturan-peraturan kerajaan ini. Entah mengapa Li Wei tak punya banyak keinginan di otaknya. Itu yang membuatnya merasa sedikit aneh. Ia hanya menjalani hidup seperti apa yang diinginkannya, tetapi tak ada gambaran bagaimana ia kedepannya kelak.


Hal itu membuat Wei Wuxie cukup terkejut. "Apakah Putri hanya bermain-main selama ini?"


Wei Wuxie jelas terlalu serius untuk menanggapi hal ini. Ditambah lagi Wei Wuxie pasti tak akan menyukai jika Li Wei hanya bermain-main tentang pelatihan. Sebab, Pelatihan ini sangat penting bagi mereka.


Li Wei melambaikan tangannya, "Bukan seperti itu. Apakah kau belajar hanya karena ingin punya 'jabatan' ini? Aku hanya ingin mengetahui banyak hal. Bisa melindungi diri, dan itu bukan berarti aku harus menjadi Raja."


Namun kebanyakan orang belajar dan berlatih adalah untuk mendapat gelar ini. Terutama para pewaris keluarga bangsawan.


"Jelas pemikiran Putri ini tak bisa disamakan dengan kami," balas Wei Wuxie cepat.


Tak semua orang memiliki kemudahan seperti yang diinginkan oleh Li Wei. Jelas siapa saja bisa menjadi iri dengan hal tersebut. Bagaimana pun mereka yang harus bekerja keras untuk masuk dalam pelatihan akan merasa tersinggung dengan Li Wei.


"Lagipula, saya tak pernah membayangkan jika Putri menjadi raja. Bukankah Putri hanya sering berlarian seperti sapi ketimbang duduk untuk membaca laporan kerajaan?" cetus Zhang Yuwen apa adanya.


Li Wei menatap jengkel pada Zhang Yuwen. Sepertinya Zhang Yuwen cukup jujur dengan pendapatnya itu. Ia ingin menendang kepala Zhang Yuwen, tetapi dia agak takut jika dikira menindas makhluk seperti Zhang Yuwen ini.


"Daripada berdebat seperti ini lebih baik kita berjalan-jalan," ujar Zhang Yuwen yang mendinginkan pembicaraan.


Wei Wuxie menatap tajam pada Zhang Yuwen, "Bagaimana bisa kau berpikir untuk berjalan-jalan? Tulisanmu yang seperti cacing lepas saja tak pernah muncul di atas kertas."


"Gurunya saja tidak ada di sini. Ayolah tak usah terlalu serius. Bagaimana pun sebentar lagi kita akan lebih sibuk. Lebih baik kita berjalan-jalan di Pusat Kota," usul Zhang Yuwen sambil merangkul bahu Wei Wuxie.


Li Wei menganggukkan kepalanya setuju. Baru saja ia berdiri dari duduknya, pintu geser di ruangan itu terbuka. Semua pandangan mengarah pada pintu yang baru terbuka. Jelas sekali jika orang yang baru datang sebenarnya sangat terlambat dari pelajaran.


"Lihatlah, dia baru datang. Pasti dia terlibat dalam masalah lagi," ucap seseorang yang duduk di bagian depan Li Wei.


Li Wei jelas tahu siapa yang datang karena Zhang Yuwen sudah menjelaskannya. Apalagi dengan penampilan pria ini yang masuk dengan keadaan yang berantakan. Entah apa yang dialami pria ini sebelum datang ke ruang pelajaran. Pasti dia berkelahi lagi.


Melihat Li Wei yang memperhatikan pria yang baru datang itu, Zhang Yuwen berbicara dengan sedikit berbisik. "Meski dia terlihat tampan, tetapi hatinya tak tampan, Putri. Secantik apapun wajah menyebalkan Putri itu tak akan membuatnya lembut pada Anda."

__ADS_1


Makhluk ini memujiku atau menghina?


"Darimana kau tahu seperti itu?" tanya Li Wei yang agak heran.


Bagaimana bisa mendefinisikan hati orang lain melalui hal yang seperti itu?


"Sering terlibat masalah. Tidak masuk ke ruang Pelatihan, dan bahkan berkelahi dengan murid lainnya. Saya hanya bisa bertanya-tanya kenapa Guru Ling Xiao mengambilnya sebagai anak," ujar Zhang Yuwen sambil menggaruk dagunya.


Li Wei menepuk bahu Zhang Yuwen, "Bagaimana jika kau mengajak dia juga ke Pusat Kota?" usul Li Wei yang membuat Zhang Yuwen menggelengkan kepalanya jinak.


Zhang Yuwen jelas agak takut dengan pria itu. Masalahnya seperti apa yang Li Wei lihat, pria ini sangat hebat dalam pertarungan. Meski dia jarang masuk ke dalam kelas untuk berlatih, tetapi banyak yang mengatakan jika pria itu bertarung dengan caranya sendiri dan agak brutal. Jika pria ini tak mendapat didikan dari Ling Xiao, mungkin dia akan menjadi bandit paling berbahaya.


"Bagaimana jika pria itu mencongkel mata saya, Putri?" tanya Zhang Yuwen agak ketakutan.


Wei Wuxie menghela napasnya. "Saya tak terlalu tahu tentang dia. Bahkan seluruh kelas ini pun tak ada yang tahu nama aslinya. Tapi dia biasa sendiri, Putri. Jadi, biarkan dia sendiri."


Beberapa murid juga telah keluar dari ruangan belajar. Mungkin kembali ke kediaman mereka, atau sama seperti mereka yang akan pergi ke Pusat Kota. Murid-murid yang lainnya juga pergi berkeliaran ke kelas. Yang jelas mereka menikmati pelajaran yang kosong ini.


Baru saja Zhang Yuwen ingin mengajak Li Wei bicara lagi, tetapi gadis rusuh itu sudah duduk berdiri di hadapan pria berpakaian serba hitam itu. Hal itu yang membuat Zhang Yuwen panik sendiri, dan menatap pada Wei Wuxie. Namun Wei Wuxie malah menatap padanya dengan tatapan yang sama bingungnya.


"Putri ..."


SRAT!


Baru saja Li Wei berdiri di depannya, tangan pria itu sudah menuju ke arah wajah Li Wei. Jika Li Wei tak menepis tangan pria itu, mungkin saja wajah Li Wei akan mendapat cap lima jari di wajahnya. Seperti yang Li Wei duga pria ini agak anti sosial.


Wei Wuxie dan Zhang Yuwen ingin maju untuk menjauhkan Li Wei dari pria itu. Namun Li Wei memberi isyarat agar kedua orang itu menjauh. Lagipula hal seperti ini jelas agak mudah Li Wei lawan.


Lalu, tangan pria itu menuju ke arah tenggorokan Li Wei dan berhenti di udara. Hanya sedikit waktu saja, maka Li Wei akan pingsan akibat pukulan itu. Akan tetapi, pria itu rupanya hanya ingin mengancam Li Wei. Sungguh sikap yang sangat mengerikan.


"Menjauh," ucap pria itu. Masih dengan tangannya yang menuju ke tenggorokan Li Wei.


Kejam sekali.


"Tuan Hua, lepaskan Putri. Anda bisa mendapat masalah jika menyakiti Putri," ucap Wei Wuxie dengan ancaman.


Namun Li Wei melambaikan tangannya, "Tidak. Ini salahku karena mendekatinya terlebih dahulu."


Pria dengan marga Hua itu menurunkan tangannya kembali. Tatapannya masih tajam seperti hewan buas yang keluar di tempat ramai. Li Wei menarik bibirnya untuk tersenyum, "Tuan Hua, bukan? Gerakan itu saya juga ingin tahu. Saya tak pernah melihatnya di pelatihan."


Ini jelas bukan waktu yang tepat bagi Li Wei untuk bertanya tentang gaya bertarung Pria Hua ini. Belum lagi dengan pria ini yang baru saja menggunakan serangan untuknya. Meski begitu, Li Wei jelas agak tertarik dengan pria Hua ini.


Namun pria itu tak mengatakan apa-apa. Li Wei hanya bisa menghela napasnya saat ia merasa telah berbicara dengan tembok. Pada akhirnya, ia mengambil gulungan kertas di mejanya. Lalu, menuliskan namanya di atas kertas yang jelas-jelas kosong. Pria Hua ini tak menulis apa-apa di sana.


"Namaku Li Wei. Yah, itu jika Anda ingin tahu. Lagipula, saat Perburuan Malam nanti bertaruhlah dengan saya," tantang Li Wei setelah menuliskan namanya di atas kertas.


Perburuan Malam akan segera diadakan dalam beberapa hari ini. Jelas setiap orang akan bersaing untuk mendapatkan buruan paling banyak. Akan tetapi, ini pertama kalinya ada yang berani menantang pria ini untuk Perburuan Malam. Ditambah lagi pria ini seperti petarung kelas tinggi, dan Li Wei jelas tak pernah ikut dalam berburu.


Pria itu terlihat tak perduli. Ia membaringkan kepalanya di atas lipatan tangan. Bahkan pria itu tak melirik pada kertas yang baru ditulis oleh Li Wei sebelumnya.


Namun Li Wei jelas tak mudah untuk menyerah. "Jika saya bisa mengalahkan Anda, maka Anda harus mengajari saya gerakan itu," ucap Li Wei yang menjauh dari pria itu.


Ia harus segera pergi atau Wei Wuxie akan segera memanggil pengawal istana untuk menjauhkan Li Wei sekarang juga. Terkadang ia berpikir mengapa ia harus dijaga dengan begitu berlebihan. Padahal Li Wei bisa melindungi dirinya sendiri.


SRET!


Hey!


Pria itu menarik ujung pakaiannya. Lalu, Li Wei mendadak berputar seperti sapi menari dan terhenti di depan pria itu. Gerakannya sangat cepat, dan bahkan tak ada yang sempat bereaksi untuk menjauhkan pria ini dari Li Wei.


"Bagaimana jika Putri kalah?" tanya pria itu dengan tatapannya yang tajam.


Percayalah. Ini pertama kalinya Li Wei mendengar pria ini berkata agak panjang. Mungkin Li Wei harus bersorak saat pria ini sedikit mengakui keberadaannya.


Namun tentang kekalahannya, Li Wei belum memikirkannya. Sehingga dia menggelengkan kepalanya bingung.


"Jangan ganggu saya lagi," ucap pria ini sambil menatap tajam ke arah Li Wei.


Lalu, Li Wei yang jelas-jelas ditantang merasa membara. Lagipula, ini pertama kalinya Li Wei diabaikan oleh seseorang. Hal itu yang membuat Li Wei melipat kedua tangannya di dada dan menatap pria itu sama lekatnya.


"Baik."

__ADS_1


***


Li Wei menggigit buah manis yang ada di tangannya. Buah itu disusun pada setangkai lidi, dan diberi lelehan gula cair. Li Wei memasukkannya ke dalam mulut dalam jumlah yang banyak. Ia hanya diam saja sambil mengikuti Zhang Yuwen yang rusuh di depannya. Sedangkan Wei Wuxie berjalan dengan wajah datar di samping Li Wei.


"Biar aku tunjukkan pada kalian menariknya Pusat Kota," ujar Zhang Yuwen sambil melambaikan tangannya. Meminta Li Wei dan Wei Wuxie untuk mengikutinya.


Ini bukan mereka melewatkan kelas. Akan tetapi, pelatihan mereka sudah selesai untuk hari ini. Atau, mungkin sebenarnya ada masalah di kerajaan hingga para guru juga ikut serta. Hanya saja ada yang berkata bahwa Kerajaan akan mengadakan perburuan malam.


Biasanya perburuan malam dilakukan oleh para anggota kerajaan. Akan tetapi, karena masalah pertunjukkan potensi, sehingga perburuan malam kali ini beralih ke para murid pelatihan. Hal itu karena Raja memiliki pemikiran yang agak berbeda. Ayahnya itu memilih potensi untuk pejabat kerajaan dengan cara seperti ini. Bukan dari garis darahnya, seperti misalnya keluarga Wei yang dahulu selalu mewarisi gelar Jenderal, bisa jadi tersingkir jika tak mampu bertanding di perburuan malam.


Itu adalah hal yang menimbulkan sedikit perdebatan di kalangan pejabat.


Sebab, siapa yang bisa memastikan anak-anak mereka akan memiliki bakat seperti mereka. Namun itu adalah keputusan Raja Li, dan secara pribadi Li Wei setuju. Bagaimana pun sistem di kerajaan mereka memang seperti itu. Bahkan Raja pun biasanya tak dipilih melalui garis darah, tetapi takdir dari dewa*.


^^^*Ini seperti yang sering dibahas sebelumnya. Jika ingin menentukan Raja selanjutnya, maka bukan dari 'pilihan' Raja. Tapi lebih ke melihat ramalan dari peramal kerajaan. Siapa yang dipilih dewa sebagai Raja.^^^


Walau dalam beberapa generasi sekarang, Dewa selalu memilih dari keturunan Li. Sejatinya Li Wei tak begitu perduli siapa yang akan menjadi Raja, karena dia percaya pada pilihan Dewa. Akan tetapi, sampai sekarang Ling Xiao, selaku peramal kerajaan belum menyampaikan siapa raja selanjutnya.


Atau, memang belum saatnya kekuasaan berpindah.


Wei Wuxie menghela napasnya sebelum berbicara pada Li Wei. "Putri, bukankah saya memperingatkan Putri untuk tidak mendekati pria itu?"


Li Wei melambaikan tangannya tak perduli. "Apa kau tak melihat gerakannya itu? Aku hanya bertanya-tanya darimana dia bisa mempelajarinya."


Zhang Yuwen mulai menyadari jika Li Wei memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar. Apalagi dengan Li Wei yang tertarik dengan seni berpedang dan pertarungan. Lebih dari segalanya Li Wei juga tak bisa meninggalkan pria itu sendirian. Entah Li Wei menyadarinya atau tidak, tetapi sebenarnya Li Wei tak bisa melihat pria itu sendiri.


"Aku tak tahu darimana cerita ini muncul. Namun ada yang pernah berkata jika pria Hua itu terbiasa hidup dengan bertarung. Ia kehilangan orangtuanya di usia yang muda, dan ia mencari makan sendirian. Tentu saja dengan membunuh dan sebagainya, hingga dia bertemu dengan Guru Ling Xiao yang kebetulan dalam perjalanan," jelas Zhang Yuwen yang selalu terdepan jika tentang cerita seperti ini.


Wei Wuxie mengerutkan keningnya. "Apa dia bukan penduduk Pusat Kota? Dia seperti berasal dari kehidupan yang sulit."


Li Wei adalah orang yang hidup dalam suasana keluarga yang harmonis. Ia dihormati dan hidup dalam pemujaan semua orang. Jujur saja ini pertama kalinya ia mendengar kehidupan orang lain dalam sudut pandang yang berbeda.Hanya, sebuah kerajaan yang makmur seperti Kerajaan Li saja tak bisa membahagiakan semua orang. Masih ada orang-orang yang hidupnya tak beruntung, dan membuat Li Wei memikirkannya cukup banyak.


"Ia bertarung untuk bertahan hidup. Pantas saja dia waspada pada semua orang. Lalu, bagaimana kelanjutannya?" tanya Li Wei yang mengingat mata teliti pria Hua itu.


Pria itu terlihat seperti hewan liar dan buas.


Zhang Yuwen menarik sebutir manisan buah Li Wei dari tangkainya. Meski ditatap tajam oleh Li Wei pun Zhang Yuwen tetap tak ragu untuk melakukannya. "Seperti yang sudah diduga. Guru Ling Xiao jelas tak mudah dikalahkan. Ia kemudian mengajak pria Hua itu untuk masuk ke Pelatihan sebagai anak angkatnya."


"Pria Hua ... Pria Hua ... Apa tak ada yang tahu nama aslinya?" tanya Li Wei yang agak aneh saat harus menyebutnya Hua terus-menerus.


Zhang Yuwen mengangkat bahunya, "Nama dia sudah masuk dalam catatan rahasia kela. Yah, semua orang memanggilnya Hua. Lagipula, bicara tentang ketidaksetujuan, ada beberapa orang yang tak setuju untuk memasukkan pria asing dalam Pelatihan Awan. Dia ..."


Baru saja Zhang Yuwen ingin lanjut bicara, tetapi pandangannya terarah pada pria lainnya yang baru datang. Dari pakaiannya saja sudah terlihat betapa tinggi gelar dia di Kerajaan Li. Li Wei juga menyadarinya, dan memberikan penghormatan.


"Kakak Pertama," ujar Li Wei yang diikuti oleh kedua temannya.


Bagaimana pun seperti yang Li Wei panggil, pria di hadapannya ini adalah anak tertua Raja. Tentu saja dari ibu yang berbeda dengan Li Wei, dan pria ini adalah anak dari salah satu selir. Sekaligus ... Kandidat pertama untuk menjadi Raja selanjutnya.


Pria ini ... Li Jun. Percayalah ... Secara pribadi, Li Wei tak begitu menyukainya.


"Aku mendengar kau masuk ke dalam Pelatihan Awan," ucap pria itu yang mengangkat bahu Li Wei. Membuat adik perempuannya ini berhenti memberikan penghormatan.


"Maaf karena lambat menyapa, Kakak. Saya baru masuk kemarin di Pelatihan Awan," ujar Li Wei dengan senyum ramahnya.


Pria itu menatap lekat pada Li Wei. "Bukankah kau agak memaksa kali ini, Li Wei? Harusnya kau bertingkah tenang di Istana, dan meminta hal aneh ini pada Yang Mulia. Sayang sekali jika Permaisuri Besar Kerajaan Li hanya bisa melahirkan seorang gadis."


Keputusan Li Wei untuk masuk ke Pelatihan Awan jelas tak disetujui oleh kakaknya ini. Meski begitu, Li Wei menolak untuk diremehkan hanya karena dia seorang gadis. Baginya, siapa saja bisa belajar dan bertarung untuk melindungi diri.


Wei Wuxie melihat Li Wei yang mengepalkan kedua tangannya.


"Aku akan meminta pengecualian pada Yang Mulia untukmu. Kau tak perlu ikut dalam Perburuan Malam," putus Li Jun sambil menatap sinis pada Li Wei.


Bukankah pria ini meremehkannya?


"Saya akan tetap akan ikut dalam Perburuan Malam, Kakak."


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2