Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 1: Menyusup Pelatihan Awan


__ADS_3

Li Wei membuka gulungan kertas yang ia temukan itu. Akan tetapi, di dalamnya hanya kalimat, yang Li Wei sendiri harus mengerutkan keningnya ketika membaca. Pasalnya apa yang tertulis di sana hanyalah, "Abaikan buku di perpustakaan awan. Di sana hanya membahas tentang pohon iblis."


Karena ekspresi Li Wei yang tak yakin, Zhang Yuwen menundukkan kepalanya untuk ikut membaca. Namun Li Wei menempelkan surat itu ke dahi Zhang Yuwen. Hal tersebut membuat Zhang Yuwen menjadi pasrah, karena Li Wei memang seringkali menjahilinya.


Namun Wei Wuxie selalu serius seperti biasanya. "Putri, jika ini hanya bermain-main, orang yang memanah akan memilih target seperti Zhang Yuwen. Lebih tak berguna dan tak ada nilainya."


Lama-kelamaan ucapan Wei Wuxie semakin pedas saja. Li Wei merasa sedikit kasihan pada wajah memelas Zhang Yuwen. Ia yakin Zhang Yuwen sudah sering mendengar Wei Wuxie yang menyindir dan menghinanya tipis-tipis.


Akan tetapi, ini bukan waktu yang tepat untuk berbelasungkawa atas hancurnya hati Zhang Yuwen. Sehingga Li Wei menganggukkan kepalanya, dan menjawab, "Jika orang ini berani menerobos kediamanku, apalagi dengan membawa senjata, jelas apa yang ia sampaikan bukanlah hal yang sepele."


Itu agak masuk akal.


Li Wei sangat ingat jika setelah Li Wei yang nyaris terkena panah, keributan terjadi di kediamannya. Saat panah itu menancap ke dinding, ia bisa melihat kertas putih yang tertusuk di sana. Beruntung Li Wei dengan cepat menarik kertas itu untuk disembunyikan.


Setelah itu, para prajurit yang berjaga segera mengejar Si Pemanah, tetapi di menghilang seperti teman yang berhutang. Dan, keamanan di kediamannya langsung meningkat. Bahkan ini sudah hari kelima sejak insiden dipanah itu, dan Li Wei baru bisa keluar.


Itu pun Li Wei harus melarikan diri dengan cepat saat para pelayan sedang lengah. Ia menciptakan keributan dengan menyuruh para pelayannya untuk bermain petak umpet. Li Wei menyuruh seluruh pelayan untuk bersembunyi, dan ia yang berjaga.


Lalu, setelah semua pelayan, yang terpaksa bersembunyi, tak terlihat. Li Wei berlari keluar. Ia bahkan tak sempat mengganti pakaiannya dengan yang lebih sederhana. Sehingga ia kini sudah menyeret tanah dan menjadi penyapu jalan dadakan.


SRET!


Li Wei meraih kembali ayam yang awalnya dibawa oleh Zhang Yuwen. Kini Li Wei kembali membawa ayam itu di lengannya sambil berjalan. Saat ini mereka tengah menyusuri jalan di Pusat Kota yang ramai.


Yah, meski seramai apapun Li Wei tak akan kesulitan dan berdesakan. Lebih tepatnya jalan terbuka sendiri untuk Li Wei tempuh. Sehingga Li Wei memfokuskan diri pada ayam yang masih ia gendong.


"Zhang Yuwen, bayar ayamnya. Cari pemiliknya siapa," perintah Li Wei yang jarang membawa uang.


Zhang Yuwen menatap Li Wei tak percaya, "Putri, mengapa tidak dikembalikan lagi ayamnya? Bukankah Putri hanya mengambil suratnya?"


"Aku sudah bilang ingin memelihara ayamnya. Siapa tahu bisa disuruh mengirim surat, atau diajak berdiskusi tentang kerajaan," ujar Li Wei sambil mengusap kepala ayam yang jelas-jelas memberontak. Ingin pergi.


Nanti aku pikirkan nama untuknya. Aku akan mencari nama yang istimewa untuk ayam ini.


Sayangnya, Li Wei sudah memutuskan untuk memeliharanya.


"Putri pasti sebenarnya membenciku," ucap Zhang Yuwen yang tak mengerti dengan jalan pikiran Li Wei.


Li Wei menghela napasnya. "Kau tahu jika memang surat ini memiliki rahasia besar, maka kita harus mencari jawabannya."


Bukan hanya tentang membayar, tetapi Li Wei juga perlu tahu siapa yang mengikat surat ini di kaki ayam. Ia juga harus memeriksa ayam ini lagi dengan lebih teliti. Siapa tahu ayam ini sebenarnya bisa bicara, dan memberi tahu siapa yang mengikat surat di kakinya.


Zhang Yuwen percaya jika orang yang memberi surat ini sangat mengenal Li Wei. Atau, mungkin yang memberi surat ini sama anehnya dengan Li Wei.


Akan tetapi, ketika mereka mencari-cari siapa pemiliknya, tak ada yang menagih mereka untuk harga ayam yang sudah Li Wei bawa. Bahkan setiap ditanya pada para pedagang, mereka tak merasa mengenal ayam ini. Entahlah.


Apa aku harus meminta pelukis istana untuk melukis ayam ini, dan menulis sayembara untuk mencari pemiliknya? Seperti ... "Siapa yang merasa memiliki ayam ini, silahkan menghadap Putri Li Wei".


Nah ... Sekarang ia menjadi seperti pedagang ayam.


Lain halnya jika ayam itu punya wajah yang tak sulit dibedakan. Biasanya jika orang yang memelihara sejak kecil pasti akan tahu. Namun Li Wei jelas tak bisa menanya setiap orang yang pernah melintas di pasar ini satu-persatu. Itu akan sangat lama. Bahkan sampai ayam ini punya cucu sampai ke tujuh turunan pun pemiliknya tak akan ditemukan.


Siapa yang bisa menghitung banyaknya orang yang pergi ke pasar dalam lima hari ini*?


^^^*Ingat! Li Wei dikurung di kediamannya selama lima hari, karena takut anak semata biji Permaisuri Jiang Ning ini dicelakai orang lagi.^^^


Wei Wuxie menghela napasnya saat melihat Li Wei dengan santainya membawa ayam di lengan. Pakaian indah Li Wei pun sudah memiliki cap kaki ayam, dan ada bulu ayam yang menempel di rambut Li Wei. Mendadak Wei Wuxie sudah membayangkan betapa ributnya Permaisuri Jiang Ning ketika melihat putrinya yang terlihat seperti maling ayam ini.


"Putri, sebentar ..."


Li Wei berhenti sejenak ketika mendengarkan Wei Wuxie memintanya untuk berhenti. Lalu, pria tenang itu berjalan ke salah satu toko di pasar. Tak berselang lama, pria itu kembali dengan membawa sepatu putih sederhana.


Oh aku lupa ... Aku tak ingat jika sepanjang jalan aku tak memakai sepatu.


Li Wei ingat jika dia melepaskan sepatunya agar berlari lebih cepat dari istana. Beruntung mata Wei Wuxie lebih teliti dibanding Li Wei. Sedangkan Zhang Yuwen memaksa ingin mengambil ayam dari tangan Li Wei.


Bagaimana pun pasti Li Wei terlihat semakin aneh jika berjalan dengan ayam di lengannya.


Wei Wuxie meletakkan sepatu itu di tanah, dan Li Wei memakainya tanpa dibantu oleh Wei Wuxie. Melihat ukurannya yang pas, Li Wei menoleh pada Wei Wuxie. "Aku tak tahu jika Wuxie tahu ukuran sepatuku."


"Wei Wuxie bisa memperkirakan ukuran dengan sekali melihat," ujar Zhang Yuwen yang tertawa tak jelas.


Terutama saat Zhang Yuwen menunjuk ke arah seorang gerombolannya para gadis itu. Lalu, pria itu juga ikut menoleh pada Li Wei yang sedang menggendong ayam. Hal tersebut yang membuat Li Wei ingin menjambak rambut Zhang Yuwen. Bagaimana bisa pria ini berotak biawak saat mereka dalam situasi berpikir?


Aku ini gadis yang masih dalam masa pertumbuhan!


Wei Wuxie segera membesarkan hati Li Wei. "Putri hanya kurang berisi seperti mereka."


Orang ini ... Masih saja dibahas!

__ADS_1


Zhang Yuwen yang takut ditendang Li Wei langsung memberi isyarat pada Wei Wuxie. Sayangnya Wei Wuxie tak mengerti. Dan, ketika Li Wei berhenti berjalan, Zhang Yuwen segera menarik Wei Wuxie untuk dibawa bersembunyi. Bukannya mereka takut, tetapi Li Wei terkadang tak punya hati jika sedang jengkel.


Akan tetapi, Li Wei hanya berhenti berjalan sambil mengangkat ayam itu di depan wajahnya. Berpikir.


"Yuwen, jika kau melarang aku untuk sesuatu, apakah aku selalu tetap melakukannya?" tanya Li Wei mendadak mengingat tentang isi surat itu lagi.


Isi surat itu ialah melarang Li Wei untuk datang ke perpustakaan awan. Dan, ... Apalagi isi surat itu, yah ... Intinya tentang Pohon Iblis?


Apakah Pohon Iblis ini berbuah? Atau hanya perumpamaan saja?


Zhang Yuwen menghela napasnya lelah, "Saya tak yakin jika Putri bisa dilarang."


Percayalah ... Semakin dilarang, maka semakin besar keinginan untuk melakukannya. Itu adalah hal lumrah yang sering terjadi di banyak orang. Bukan hanya Li Wei.


Jika seperti itu, orang yang mengirim surat mungkin bermaksud terbalik. Atau, dia hanya mengatakan kebalikan maksudnya saja agar Li Wei bisa menyadarinya. Surat ini diperuntukkan bagi Li Wei, dan jelas pengirimnya hanya ingin Li Wei yang memahaminya.


"Apakah maksud surat ini adalah agar kita memeriksa di Perpustakaan Awan?" tanya Li Wei yang meminta pendapat dari Wei Wuxie dan Zhang Yuwen.


Selalu ada kemungkinan dari ini semua. Jelas mereka harus mencoba setiap kemungkinan. Itu pun jika Li Wei memang ingin mengetahuinya.


"Tetapi, Putri ... Perpustakaan Awan, apakah itu maksudnya Bangunan Pelatihan Awan?" tanya Wei Wuxie yang mengingat isi surat itu.


Saat ketiganya masih di Pelatihan Awan, mereka memang terbiasa datang ke Perpustakaan Awan. Jelas bukan untuk belajar, melainkan tidur (untuk Li Wei dan Zhang Yuwen). Akan tetapi, sekarang mereka bukan lagi murid pelatihan.


Jika mereka ke sana tanpa alasan yang jelas, maka Guru Ling Xiao atau bahkan Li Jun akan mencurigai mereka. Ditambah lagi Li Wei sedang dalam masa penjagaan. Ia pasti akan disuruh pulang oleh Li Jun.


Li Wei menoleh pada Wei Wuxie, "Beli satu set pakaian pria ukuran kecil."


"Putri, bukankah Putri berniat memelihara ayam ini? Lebih baik kita kembali ke kediaman Putri, dan memelihara ayam ini," saran Zhang Yuwen yang kelelahan. Apalagi dirinya harus mengejar Li Wei sebelumnya.


Apa mereka harus menelusuri maksud dari surat ini? Bagaimana jika ini hanyalah permainan atau keisengan seseorang?


Namun Wei Wuxie lebih patuh dari makhluk manapun pada Li Wei. Pria itu dengan sigap memasuki toko pakaian pria untuk membeli pakaian yang dimaksud oleh Li Wei. Mengapa Li Wei tak pergi membeli sendiri?


Itu karena dia kurang modal. Li Wei sangat jarang membawa uang.


Nanti aku ganti. Jika ingat!


Li Wei menoleh pada Zhang Yuwen, "Sebagai teman, kau harus ikut. Segera ganti pakaianmu dengan yang lebih sederhana. Kau terlihat seperti kipas berjalan ketimbang seorang prajurit."


"Putri ..."


Jika Wei Wuxie datang ke sana pasti dinilai sebagai pengawasan kerajaan.


Entah benar atau tidaknya, tetapi Li Wei merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengirim ini padanya.


"Putri, bagaimana jika ini hanya jebakan?" tanya Wei Wuxie masuk akal.


Pria itu sudah kembali dengan lipatan kain berwarna putih yang ada di tangannya. Bahkan ia juga membelikan pita putih untuk Li Wei mengikat rambutnya. Hal tersebut membuat Li Wei menyerahkan ayamnya pada Zhang Yuwen. Walau pria itu sudah malas-malasan sekarang.


Lalu, Zhang Yuwen memanggil pelayan yang mengikuti mereka secara diam-diam. Ini bukan pengintaian, karena pelayan itu memang diutus untuk melayani Li Wei. Sehingga dia hanya memperhatikan Li Wei dan kedua temannya dari kejauhan. Oleh karena itu, mereka membiarkan pelayan itu untuk mengikuti.


"Bibi, tolong buatkan kandang untuk ayam ini. Jangan sampai Permaisuri Jiang tahu," ucap Li Wei memberi perintah.


Pelayan yang kebingungan itu hanya bisa mengangguk. Bagaimana mungkin ayam ini akan dibuatkan kandang di kediaman Li Wei. Masalahnya adalah ... Putri mana yang mengambil peliharaan unik seperti Li Wei ini?


Akan tetapi, perintah adalah perintah


Li Wei hanya menghela napasnya sebelum mencari tempat untuk berganti pakaian. "Jebakan atau tidaknya kita akan tahu jika sudah di sana."


...***...


Seandainya aku tak pernah tahu cukup banyak, maka aku akan tetap berada dalam penghormatan.


Meski begitu, apa kau pernah merasa saat kau hidup dengan bahagia, tetapi kau tak sadar ada banyak kesakitan di balik kebahagiaan itu?


Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan jika waktu berulang. Mungkin aku akan tetap melakukan hal yang sama, dan tetap berada di jalan yang sama.


Mungkin.


...***...


BRUGH


Baru saja Li Wei selesai berganti pakaian seseorang menabraknya. Hal tersebut membuat Li Wei mundur sebentar, tetapi pihak lain terjatuh ke tanah dengan keras. Ia segera menyadari bahwa yang menabraknya adalah seorang anak kecil.


Li Wei membantu anak itu untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanya Li Wei sambil membersihkan pakaian anak kecil itu.


Anak kecil itu mengangkat kepalanya. Li Wei bisa melihat kata bulatnya yang cantik, dan bibirnya yang kecil. Mata anak itu menatap pada Li Wei, dan berkata pelan. "Kau tidak mengatakan maaf begitu?"

__ADS_1


Heh? Anak kecil ini ... Kecil-kecil sudah pandai membuat orang lain ingin memukul kepalanya.


Anak kecil ... Li Wei segera menarik pipi anak kecil itu untuk mengajaknya bicara, "Kau ini gadis kecil ya?"


Meski gadis kecil ini berpakaian seperti halnya seorang pria, tetapi mata Li Wei cukup teliti. Li Wei pernah mendengar jika pria juga bisa jadi terlihat manis atau berperawakan seperti gadis, tetapi anak ini jelas seorang gadis. Apalagi dengan bahu kecilnya, serta suaranya yang khas gadis kecil.


Akan tetapi, anak kecil itu berusaha melepaskan tangan Li Wei yang masih menarik kedua pipinya. "Bagaimana bisa kau salah lihat? Aku ini laki-laki, tidak sepertimu yang berpura-pura ..."


Li Wei segera menutup mulut gadis kecil bermulut pedas itu segera. Bagaimana pun sekarang ia sedang menyamar menjadi pria. Anak kecil ini juga entah mengapa dipakaikan pakaian pria seperti dirinya.


Zhang Yuwen dan Wei Wuxie yang baru datang langsung memisahkan Li Wei dari si anak kecil itu. Mereka hanya tak menyangka jika Li Wei akan menculik seorang anak juga. Apa untuk dipelihara lagi?


Ketika sudah dipisahkan anak kecil itu melipat kedua lengannya di dada. Namun Li Wei lebih dulu berkata, "Dari segi mana kau menuduhku berpura-pura menjadi pria? Kau lihat aku berpakaian seperti pria. Benar, tidak?" tanya Li Wei yang membalas tatapan sinis dari gadis kecil itu.


Zhang Yuwen dan Wei Wuxie mendadak tak mau ikut campur. Bukannya kedua orang ini sama saja?


Wei Wuxie membungkukkan tubuhnya untuk berbicara dengan gadis kecil ... Atau, yah ... Mungkin dia memang pria kecil, "Mengapa kau berkeliaran di pasar sendirian?"


Anak kecil ini langsung celingak-celinguk karena ingat tentang kondisinya. "Ayah!"


Jadi, anak ini terpisah dari ayahnya?


"Kau tahu ... Gadis kecil, maksudku anak kecil seperti mu itu jika dimasukkan dalam karung mungkin dikira anak kucing. Tidak ada yang tahu jika kau diculik. Jangan berkeliaran sembarangan," omel Li Wei yang sudah seperti ibu-ibu pedesaan.


Gadis kecil ini menatap sinis pada Li Wei. "Kau ... Biar ku beritahu padamu, suatu saat aku akan menjadi Peramal hebat di Kerajaan seperti ayahku."


Anak ini sepertinya anak dari salah satu peramal di Kerajaan Li. Li Wei belum pernah pergi ke ruang kerja para peramal, hingga ia tak tahu peramal selain Ling Xiao. Akan tetapi, tatapan gadis kecil ini mengapa perlu dipakaikan pakaian seperti pria?


Lagipula, anak ini juga memiliki ucapan yang cukup kasar. Bahkan dia tak berucap sopan pada orang yang lebih tua. Namun melihat gadis kecil ini melipat kedua lengannya di dada, ekspresi marah, Li Wei merasa sangat lucu.


"Siapa namamu?" tanya Li Wei yang penasaran. Li Wei berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu. Setidaknya ia bisa bertanya pada pelayan jika sudah tahu nama keluarga gadis ini.


Anak kecil itu mengerutkan keningnya, dan mendadak menatap mata Li Wei dengan lekat. Tatapan anak kecil ini tak galak lagi seperti biasanya. Lalu, anak kecil itu mendadak menyentuh leher Li Wei. Sentuhan tangan kecil anak itu hanya mengitari di bagian tenggorokannya.


"Kau ... Kau akan punya luka yang besar di sini," ucap gadis kecil itu tiba-tiba.


Anak ini bisa melihat masa depan orang lain? Seperti Ling Xiao yang seorang peramal, Li Wei pernah mendengarnya. Kalau tidak salah ayah anak ini juga seorang peramal. Namun Li Wei belum pernah mendengar ada yang lebih hebat dibanding Ling Xiao di Kerajaan Li.


Wei Wuxie juga agak terkejut, tetapi ia mengusap kepala anak kecil itu. "Dia hanya anak kecil, Putri."


"Aku bukan anak kecil, Paman!" bentak anak kecil itu dengan suara cemprengnya.


Paman, katanya? Anak ini pasti sangat berbakat untuk membuat orang naik darah.


"Juga, Kakak. Aku melihat setangkai mawar hitam yang dihujani oleh darah. Jangan ..."


"Yi Hua."


Ucapan anak kecil itu terhenti ketika suara pria dari belakang mereka. Li Wei menoleh ke arah suara, dan mendapati seorang pria dengan pakaian peramal khas Kerajaan Li. Melihat Li Wei, pria itu mengerutkan keningnya.


Namun Wei Wuxie mengambil penutup kepala dari salah seorang pejalan kaki. Dengan cepat Wei Wuxie memasangnya di kepala Li Wei. Meski berpakaian seperti pria pun, Li Wei sangat terkenal oleh seluruh penduduk Kerajaan Li. Karena itu, anak kecil tadi bisa bebas untuk menuju ke arah pria yang berdiri di belakang mereka.


"Ayah!" Anak kecil itu bersembunyi di belakang kaki pria berpakaian putih itu sambil sesekali mengintip ke arah Li Wei.


Pria itu memberi salam pada ketiga orang di depannya, "Maafkan jika anak saya kurang sopan. Jenderal Wei, dan Pejabat Zhang, serta ..."


Zhang Yuwen merangkul bahu Li Wei dengan senyum canggung, "Dia seorang pejalan kaki yang menemukan anak Anda berkeliaran di pasar."


Pria itu menghela napasnya. Lelah. "Sekali lagi kami meminta maaf. Saya harap Anda sekalian tak direpotkan oleh anak ini. Dia juga sering berbicara aneh, jadi abaikan saja."


Berbicara aneh katanya?


Peramal ini sepertinya menyembunyikan kemampuan anaknya sendiri.


Akan tetapi, Li Wei masih memiliki hal yang harus ia lakukan. Sehingga ia memberi isyarat untuk Wei Wuxie dan Zhang Yuwen. Hal tersebut yang membuat Wei Wuxie segera menyudahi basa-basi itu.


Li Wei pergi terlebih dahulu dengan banyak hal di kepalanya. Lebih dari segalanya ... Apakah anak kecil itu benar-benar bisa meramal?


Entahlah.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2