
Malam ini Yi Hua memutuskan untuk menenangkan diri.
Meski sudah malam, tetapi Yi Hua tetap berendam dengan air yang diramu dengan tumbuhan herbal. Itu semua agar dia kehilangan rasa penat di tubuhnya. Hal itu yang membuat kediamannya dipenuhi oleh aroma dedaunan dan akar kayu. Yang terpenting adalah aroma itu juga menenangkan.
Ia bahkan bisa mendengar suara keributan di depan rumahnya. Itu mungkin karena Shi Qingnan baru bisa bergerak kembali karena jimat dari Yi Hua. Atau, bisa jadi seseorang membantunya untuk melepaskan jimat. Apapun itu Yi Hua tak begitu perduli.
Urusan esok hari biar diselesaikan esok hari. Meski kau akan pusing esok hari, yang penting sekarang aku bersantai seperti sapi paling kaya di dunia. Itu sudah cukup disyukuri dari hidup yang beragam warnanya ini.
Baiklah ... Kembali lagi pada aktifitas Yi Hua sebelum tertidur.
Seingat Yi Hua ia selesai membersihkan diri lalu memutuskan untuk segera tidur. Ia memakai jubah putih bagian dalamnya untuk tidur. Setelah memakai memastikan bahwa pakaiannya sudah rapi seperti peri, Yi Hua melukis alisnya agar tebal seperti alis seorang pria. Semua ini demi kesejahteraan penyamarannya.
Bahkan ia masih sempat-sempatnya memakai kain panjang dan tebal untuk mengikat bagian dadanya. Itu semua karena ia tak tahu siapa yang menyambutnya di esok hari. Bagaimana jika saat ia harus pergi tanpa berganti baju dan orang-orang menyadari bahwa dia memiliki dua roti asli di dadanya?
Anggap saja seperti itu ... Oleh karena itu, Yi Hua tak pernah melepaskan kain pengikat dadanya itu.
Setelah itu, Yi Hua berbincang santai dengan Xiao. Sangat santai hingga Yi Hua berpikir ingin membanting meja kecilnya. Ditambah lagi Xiao membahas tentang sebuah cerita aneh yang pernah ia baca. Itu karena Yi Hua tak bisa tidur, dan minta Xiao untuk menceritakan sebuah cerita.
Lalu, Xiao bercerita agar Yi Hua tidur nyenyak... "Pada suatu hari ... Ada seekor manusia yang bisa berjalan dengan dua kaki. Meski dia hanya seekor manusia, tetapi dia memiliki kemampuan luar biasa. Manusia itu bisa menangis sambil tertawa. Ia memiliki seorang teman, dia adalah seseorang sapi yang punya kemampuan luar biasa, yaitu kakinya ada empat. Suatu hari ... Seekor manusia itu membawa sapi ke jurang lalu mendorongnya ... Eh ... Salah-salah ... Aku salah cerita," ucap Xiao yang entah darimana inspirasi ceritanya muncul.
Yi Hua langsung kehilangan hasrat untuk tidur. Itu karena dia memikirkan bagaimana nasib si sapi ini. "Lanjutkan ceritanya, Xiao. Bagaimana nasib si sapi? Kau ingin ku tendang?!" tanya Yi Hua paksa.
"Hanya kau orang yang tak merasa aneh dengan cerita ini. Konyol sekali. Tidurlah, HuaHua. Bagaimana jika kau bertambah kecil karena kurang tidur?" tegur Xiao yang mendadak menjelma menjadi ibu-ibu.
Setelah mengomel beberapa saat, Yi Hua tertidur dengan rambut panjangnya yang basah.
Entah karena apa, tetapi malam ini ia bermimpi. Biasanya ia jarang bermimpi, karena dia adalah tipe orang yang tidur dengan banyak mantra-mantra. Ia bisa tidur dengan nyaman tanpa diganggu oleh energi buruk.
Kata orang, jika kau bermimpi itu bisa jadi isinya adalah harapanmu terhadap sesuatu. Ada juga yang mengatakan bahwa ketika kau bermimpi mungkin kau hanya mengingat sesuatu yang pernah kau lupakan. Juga ada yang mengatakan bahwa mimpi hanyalah sekadar bunga tidur karena kau begitu lelah.
Ada banyak definisi tentang itu semua. Entah yang mana yang benar. Yang kini Yi Hua tahu ialah dia sedang bermimpi.
Percayalah tak ada yang pernah mengingat bagaimana awalan saat ia bermimpi. Jika pun ingat, itu hanya sebatas peristiwa-peristiwa aneh yang terkadang tak saling berkaitan. Begitu juga yang dialami Yi Hua kali ini.
Ia tak tahu kapan ia mulai bermimpi.
Hanya saja dia merasa seperti berada di tempat yang sangat menyedihkan. Ia tak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Ia juga tak tahu bagaimana dia bisa berada di situasi ini.
Yang ia hanya tahu ialah di sana ia menangisi banyak hal. Penyesalan tanpa henti dan tangis yang berkepanjangan. Ia merasa sangat sendirian, dan ia bisa mendengar suara kecil yang sangat sederhana. Namun juga sangat menyakitkan untuk didengar.
Itu adalah seorang pria kecil yang mengguncang-guncang tubuhnya. Seperti memaksa dirinya untuk berbicara. Wajah pria kecil itu tidak jelas, dan Yi Hua tak bisa mengenalinya. Namun ia hanya tahu pria kecil itu tengah menangis.
Meraung padanya seolah mengadu sekaligus menyalahkannya.
"Kau menganggap dirimu pahlawan? Kebenaran mana yang kau bela? Jika kau menutup mata, maka semuanya tak akan begini," tangis pria kecil itu padanya.
Tangisnya telah menyentuh sampai ke dadanya. Ia merasa sesak karena tangisnya yang panjang. Akan tetapi, ia tak bisa mengatakan apa-apa.
"Jika kau memang begitu berani dan jujur, maka matilah! Kau tak takut karena kau tidak salah, bukan?" teriak pria kecil itu lagi.
Lalu, semuanya kembali seperti kejadian-kejadian lama yang terputar di kepalanya. Ia melihat dirinya berada di antara darah yang menyembur. Rasanya sangat menyakitkan ketika kau bisa melihat kematian mu sendiri.
Akan tetapi, yang lebih menyakitkan ialah perasaannya sendiri.
Dia ...
*Jika aku bisa menutup pada peristiwa itu ...
Jika aku bisa mengulang kembali ...
Jika aku bisa lebih jahat lagi ...
Jika aku* ...
Namun semuanya hanyalah sebatas kenangan yang terlintas di dalam mimpinya. Hanya saja ia tahu jika kehidupan keduanya ini sebatas penebusan dosa. Sejatinya, dahulu ia mungkin berpikir bahwa kehidupan begitu menyakitkan.
"HuaHua ... Kau harus tenang." Suara itu terdengar di telinganya. Mungkin saja Xiao datang untuk membangunkan Yi Hua dari mimpi buruknya.
Ia menggeleng kencang untuk menolak mimpi itu datang padanya. Namun semua suara-suara mengerikan, hinaan terus datang di kepalanya. Lalu, ia melihat kematiannya datang berulang-ulang. Terus-menerus hingga Yi Hua merasa akan menjadi gila jika dia tak bangun.
Kemudian, ...
SRET!
__ADS_1
CRING!
Suara dentingan dari perak terdengar di telinganya. Itu seperti suara paling lembut yang datang setelah kegaduhan besar. Yi Hua mendadak mencari suara itu.
"Tidurlah. Semuanya akan baik-baik saja," ucap suara itu dari kegelapan.
Dari suaranya Yi Hua bisa tahu jika suara itu terdengar dari kejauhan. Jika ia mengira-ngira, maka suara itu datang dari ruangan yang berbeda dari ruangan tempat ia berada di dalam mimpi. Ia mengangkat kepala untuk mencari suara itu, tetapi tangannya terikat.
Hey, siapa itu ...
"Meski kau tak bisa mendengarnya, tetapi yang ingin aku ucapkan sangat sederhana," ucap sosok itu dari kejauhan.
Kemudian, semua bayangan buruk itu menjauh dengan cara yang misterius.
"Aku mencintaimu."
Tahukah kau, bahwa aku sempat mendengarnya di akhir hidupku.
Ia mulai bertanya-tanya bagaimana jika dirinya di masa lalu tahu jika dia dicintai sebegitu besarnya, apakah dia masih akan mengakhiri hidupnya?
Setidaknya ia masih memiliki satu orang yang mengharapkan dia tetap hidup.
Entahlah.
***
SRET!
"HAHHHH!!! HAHHH!"
Yi Hua terbangun dengan napas yang memburu. Ia bangun dan disambut oleh cahaya bulan yang masuk dari celah bangunan. Tangannya yang dingin segera mengusap wajahnya yang pucat pasi.
"Xiao ... Aku ..."
Xiao menyahut dari telinga Yi Hua. "Yi Hua, kau begitu kelelahan sehingga kau mimpi buruk."
"Itu bukan mimpi buruk. Itu adalah diriku di kehidupan sebelumnya, bukan?" tanya Yi Hua nyaring.
Yi Hua mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia merasa seperti kehilangan pasokan udara di paru-parunya. Itu terasa sesak dan membuat Yi Hua mengerutkan keningnya.
"Mengapa kau memutuskan untuk menyelipkan mimpi itu padaku? Aku tidak sedang dalam keadaan 'hampir' mati, bukan?" tanya Yi Hua langsung.
Ia sangat yakin Xiao berperan penting dalam mengembalikan ingatannya. Entah bagaimana itu terjadi. Akan tetapi, ingatannya memang harus dikembalikan sedikit demi sedikit. Atau tidak dia akan menjadi gila jika semua ingatannya datang sepenuhnya.
Yi Hua merasa ia mulai bisa membaca kehendak sistem ini. Jika mengabaikan mulut berbisa Xiao, sistem ini terlihat cukup baik. Yah, Yi Hua jelas tak bisa mengatakannya langsung pada Xiao atau sistem itu akan benar-benar sombong nantinya.
"Namun aku tidak bisa mengembalikan ingatanmu tanpa ada pemicunya, HuaHua. Itu berarti kau baru saja mengalami hal yang sama seperti di kehidupan mu sebelumnya. Atau bisa juga ..." ucapan Xiao terhenti ketika Yi Hua menyela.
"Atau bisa juga aku bertemu dengan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupanku yang sebelumnya. Itu berarti aku mungkin adalah seseorang yang hidup di era yang sama seperti sekarang. Semua yang aku lihat dalam mimpiku terlihat sama. Gaya berpakaiannya, bahasanya, dan juga lingkungannya," cetus Yi Hua ketika mengingat mimpi samarnya.
Xiao menghela napasnya. "Setelah melihat itu semua, apa kau akan berhenti? Bukankah mimpi itu sangat menakutkan?"
"Aku juga tak bisa berhenti, Xiao. Kau yang mengatakannya padaku, bukan?" ucap Yi Hua sambil mendecih di bagian akhir.
Bagaimana pun ia merasa semua itu menakutkan, tetapi dia harus menghadapinya. Bukan hanya karena dirinya sendiri. Namun sistem ini juga menetapkan bahwa Yi Hua harus menghadapinya.
Suka tak suka. Mau tak mau.
Ini sangat ironis saat sistem ini bertanya padanya saat hanya ada satu pilihan. Jika seperti itu, sejak awal tak perlu bertanya apapun.
NYUT!
"Xiao, apakah Yi Hua asli punya penyakit pernapasan?" tanyanya ketika merasa denyutan nyeri di dadanya lagi.
Akhir-akhir ini ia merasa sangat sesak. Seingatnya Xiao memang pernah mengatakan jika Yi Hua asli itu lemah. Namun dia bukan penyakitan. Sehingga hal seperti ini baru saja dia alami. Tentu saja ada perbedaan antara lemah tenaga dengan penyakitan, bukan?
Xiao berpikir sejenak. "Dengan mengabaikan adanya tungku iblis dan otak Yi Hua yang kurang normal, maka Yi Hua itu tak memiliki penyakit apa-apa."
Yi Hua kembali membaringkan dirinya di kasur tipisnya. Baiklah. Bahasa halusnya adalah kasur, tetapi yang sebenarnya itu adalah tumpukan jerami yang diikat hingga tebal. Kemudian, Yi Hua melapisinya dengan kain putih yang dipinjamnya dari meja di Istana Kerajaan Li.
Katakanlah Yi Hua sekarang meminjamnya.
"Mungkin besok aku harus bertanya pada Selir Qian tentang ini," ucap Yi Hua yang mengabaikan sindiran tak berguna dari Xiao.
__ADS_1
***
Namun ...
Di sinilah Yi Hua sekarang.
Kini ia berada di kediaman utama Keluarga Shi untuk menemui Pamannya. Pagi-pagi sekali ia memiliki pelayan yang cantik datang menjemputnya. Sebenarnya Yi Hua berniat untuk melarikan diri.
Akan tetapi, siapa yang menyangka jika Pamannya menyiapkan beberapa pelayan lain yang berjaga di sekeliling kediamannya. Yi Hua hanya takut jika kediamannya dihancurkan, makanya Yi Hua menemui para pelayan yang menjemputnya ini.
Lalu, tanpa basa-basi atau ditawari minum teh dan sebagainya, Yi Hua langsung dihadapkan pada Pamannya.
"Yi Hua, kita tak bisa memberikan malu untuk keluarga orang lain. Oleh karena itu, kau harus bertanggung jawab atas Nona Muda Ming," jelas Pamannya dengan nada lembut.
Setahu Yi Hua, Paman Shi adalah orang yang cukup hebat dalam mengendalikan diri. Itulah semua orang selalu membanding-bandingkan ayah Yi Hua dengan Paman Shi. Meski begitu, Yi Hua sudah diberitahu oleh Xiao tentang topeng Paman Shi yang sebenarnya.
Paman ini hanya pandai memasang 'wajah' untuk terlihat baik dan bijaksana. Sebab, jika ada orang yang menghasut leluhur keluarga Shi terdahulu untuk mengusir Ayah Yi Hua, maka Paman Shi adalah orangnya. Kini Paman Shi sudah menjadi Tuan Besar di Keluarga Shi, dan Ayahnya tetap menjadi aib di keluarga Shi.
"Paman, saya meminta maaf jika lancang. Akan tetapi, saya tidak melakukan hal itu pada Nona Muda Ming," jelas Yi Hua sambil menundukkan kepalanya. Itu jelas hanya sekadar penghormatan.
"Kau sudah mempermalukan Keluarga Shi, dan kau sekarang tak ingin membersihkan namanya. Yi Hua, ..." Ucapan Shi Qingnan terhenti ketika Yi Hua menatap ke arahnya.
Tentu saja Shi Qingnan masih ingat tentang jimat yang membuatnya tak bisa bergerak sebelumnya. Ditambah lagi dia yang tak bisa bela diri. Ia pasti akan dikerjai oleh Yi Hua lagi.
"Lihatlah, Ayah. Dia kembali menganggu aku dengan kekuatannya. Dia berpikir bahwa dia hebat menjadi seorang peramal. Padahal ..."
BRAK!
Paman Shi menepuk meja di depannya, dan itu menghentikan ucapan Shi Qingnan lagi. Bagaimana pun Paman Shi tak bisa berbicara dengan baik jika Shi Qingnan terus berbicara. Ditambah lagi, Paman itu jelas tak ingin terlihat buruk sekarang.
"Padahal Paman tahu sendiri jika saya baru saja bebas dari hukuman Kerajaan. Bisakah Paman berpikir bagaimana cara saya menemui Nona Muda Ming?" tanya Yi Hua yang menuang teh sendiri tanpa perlu ditawari.
Paman Shi menatap Yi Hua dengan berang. Seingatnya Yi Hua adalah tipe yang akan terus diam, meski dihina berapa kali pun. Namun sekarang Yi Hua terlihat begitu pandai memainkan kata, dan Paman Shi sudah melihat Yi Hua berbicara di Pengadilan Tinggi beberapa kali.
Yi Hua menyesap teh itu dengan wajah menyipit. Nyatanya Yi Hua kurang menyukai rasa teh tersebut. "Atau, Paman terlalu sibuk untuk berpura-pura tak ada hubungan dengan saya hingga lupa bahwa ada kerabat Paman yang dihukum Kerajaan?"
Shi Qingnan terlihat sangat geram. "Yi Hua, jaga bicaramu! Beraninya kau melawan Ayahku!"
Paman Shi masih tersenyum tipis. "Paman harap kau tidak merasa dendam pada apapun, Yi Hua. Setiap orang harus belajar menerima kesalahan diri mereka masing-masing," nasihat Paman Shi.
"Oh seperti saat Keluarga besar Shi yang saat itu mengusir Ayah?" tanya Yi Hua tenang. Tatapannya masih sombong seperti biasanya.
"Yi Hua, bagaimana mungkin kami membiarkan Keluarga Shi memiliki anak dari seseorang yang tak jelas asal-usulnya?" tanya Paman Shi yang berusaha membuat Yi Hua mengerti.
Akan tetapi, ...
Yi Hua berdiri dengan tenang. "Benar. Dan, anak itu ada di hadapan Paman sekarang. Sehingga Paman tak perlu menyusahkan diri untuk mengurus anak itu."
Setelah itu, Yi Hua membungkukkan tubuhnya untuk memberi penghormatan pada Pamannya.
Shi Qingnan segera mendekat dengan cemas. "Kau memutuskan hubungan keluarga dengan kami, Yi Hua?"
Xiao berkata di telinga Yi Hua. "Kau tahu, HuaHua. Nona Muda Ming Fan ini juga tahu jika kau itu perempuan."
Yi Hua memberi senyum dan membalikkan tubuhnya. Terutama saat ia mendengar informasi dari Xiao. Jika seperti itu, Yi Hua hanya perlu mendatangi Ming Fan dan bertanya siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Setelah semua itu, urusan ini akan selesai.
"Saya tidak pernah mengatakan seperti itu. Tolong jangan menyimpan hati untuk maksud-maksud yang buruk. Tentang masalah Nona Muda Ming ... Saya akan menyelesaikan ini sendiri."
Baru saja Yi Hua ingin beranjak pergi, ucapan Paman Shi menghentikannya.
"Kemarin Nona Muda Ming menghilang. Mungkin dia melarikan diri karena tak sanggup menanggung malu. Itulah yang ingin Paman bicarakan sekarang," ujar Pamannya.
Yi Hua ingin menepuk dahinya sekarang saat masalah baru datang lagi.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1