
Desa Yi merupakan desa yang terbilang cukup pedalaman ketimbang desa-desa lainnya di Kerajaan Li. Wilayahnya jauh di daerah Utara dan agak tertutup. Termasuk desa yang jarang didatangi orang baru untuk berdiam di sana. sehingga sampai sekarang hanya orang-orang asli yang tinggal di sana. Itu pun jumlahnya tak mencapai lebih dari dua ratus orang.
Wilayahnya yang jauh membuat pihak kerajaan kesulitan untuk memberikan bantuan. Apalagi tentang kekeringan yang melanda
Desa Yi. Kota yang paling dekat dengan Desa Yi pun masih sangat berjarak. Ditambah lagi jika ingin memasuki Desa Yi maka kau harus mengikuti arus sungai ke sana.
Akan tetapi, akibat kekeringan yang melanda, sungai yang seharusnya mengalir di sana sudah mengering. Jika pun ada air, maka itu hanya seperti air yang tergenang ketika hujan. Ditambah lagi dengan lumpur dan pasir. Jelas sekali jika air di sana tak bisa digunakan.
Terakhir kali hujan ialah setelah pohon besar di Desa Yi ditebang. Menurut Liu Xingsheng pohon besar itu ada di jalan masuk menuju Desa Yi. Akan tetapi, karena Kerajaan berusaha memperlebar jalan agar Desa Yi bisa terjangkau, mereka harus menebang pohon tersebut. Siapa sangka setelah pohon itu ditebang, hujan datang dengan sangat deras. Hal itu menimbulkan banjir besar, tetapi tidak sampai membuat jatuhnya korban jiwa.
Akan tetapi, setelah hujan reda banjirnya langsung surut dengan cepat. Namun itu adalah terakhir kalinya mereka mendapat air hujan untuk digunakan. Sebab, setelah itu kekeringan langsung melanda Desa Yi.
Itu terasa aneh saat kekeringan langsung datang setelah banjir besar. Kemana air-air itu pergi dengan cepat?
Awalnya ini tak menjadi masalah serius saat para penduduk masih memiliki sumber air dalam sumur-sumur milik mereka. Namun, lain halnya air itu debu yang tak digunakan secara berkala. Saat air digunakan setiap hari, tentu saja sumur-sumur mereka juga segera habis.
Oleh karena itu, permasalahan ini segera sampai ke pihak Kerajaan.
Jika Perdana Menteri sudah ditugaskan untuk mengatasi, itu berarti persoalannya agak pelik. Dan, Perdana Menteri Liu Xingsheng yang terhormat ini jelas selalu ingin menyeret Yi Hua dalam pekerjaannya. Itu karena entah mengapa pekerjaannya bisa selesai jika Yi Hua ikut campur tangan.
Lagipula, hanya Yi Hua yang ingin membantunya tanpa meminta jaminan uang kembali.
"Apa memang ini berkaitan dengan pohon yang ditebang itu, Xiao?" tanya Yi Hua sambil memeluk batang pohon di pinggir jalan.
Dia sudah sangat kelelahan, dan napasnya sudah benar-benar memburu. Pasalnya mereka tak bisa masuk ke Desa Yi dengan kereta atau kuda, karena ada sungai. Nah, jawabannya tentu harus menggunakan perahu. Sayangnya, sungai Desa Yi telah kekeringan dan pastinya perahu juga tak bisa masuk ke dalamnya. Lalu, penderitaan juga bertambah saat mereka menyusuri bekas sungai ini yang dipenuhi lumpur dan lembek.
Pakaian serba putih Yi Hua jelas sudah berganti warna menjadi cokelat kehitaman. Susah sekali saat ia harus menjadi karakter yang didominasi oleh warna putih. Jika dia bisa, ia ingin meminjam pakaian An yang serba hitam.
Yi Hua bertanya-tanya tentang makhluk hidup yang menghuni sungai itu. Kemana mereka, dan apa mereka sudah mati?
"Aku juga tak tahu, Yi Hua. Hanya saja kau harus berhati-hati, karena manusia bukanlah satu-satunya makhluk di dunia ini. Ditambah lagi biasanya sebuah pohon yang sudah hidup lama itu memiliki pemilik," jelas Xiao yang terdengar santai.
Jelas saja dia santai karena dia hanya tertempel di telinga Yi Hua. Yi Hua sampai sekarang ia mencari cara untuk menarik permata merah yang menempel di telinganya. Namun anehnya permata merah itu melekat seolah merupakan bagian dari tubuhnya.
Yi Hua menyeka wajahnya sendiri yang berkeringat, "Jadi, mungkin memang ada hubungannya dengan pohon yang ditebang itu?" tanyanya lagi dalam hati.
"Ini hanya dugaan, HuaHua. Jangan terlalu dipercaya juga. Sebab, bisa jadi ini hanya karena alam yang sakit. Kau tahu pembangunan untuk lebih maju memang baik, tetapi itu jelas akan mengubah alam. Itu juga yang bisa membuat timbul gejala alam yang belum pernah terjadi sebelumnya," jelas Xiao yang memang sering berorientasi ke depan. Maklum sebagai makhluk yang kurang kerjaan, Xiao jelas lebih banyak berangan-angan dan berteori.
Di depan Yi Hua ada Liu Xingsheng yang juga sedang mengistirahatkan tubuhnya di salah satu kayu besar. Dahulu jalan yang mereka tempuh ini adalah sungai, sehingga tak aneh jika pernah ada batang pohon yang berputar-putar di dasar sungai. Namun karena sudah mengering, yang tersisa adalah batang kayu yang masih lengkap dengan ranting-rantingnya.
Mereka saat ini masuk ke Desa Yi hanya berempat. Yah, anggota yang sama seperti sebelumnya. Huan Ran, Liu Xingsheng, An, dan juga Yi Hua. Huan Ran jelas selalu menemani Liu Xingsheng jika bertugas, atau tidak Perdana Menteri kiri itu akan membuat masalah jika bekerja sendirian. Liu Xingsheng malah menarik Yi Hua dalam masalah ini. Lalu, Yi Hua jelas akan membuat An terlibat.
Sejujurnya Yi Hua tak mengerti mengapa An selalu mengikutinya. Bagaimana mungkin pengawal pribadi Raja bisa beralih pekerjaan seperti ini?
An malah bertindak seperti tak punya pekerjaan apa-apa di Kerajaan, makanya dia ingin ikut. Saat Huan Ran bertanya mengapa An ikut, pria yang berkarakteristik hitam itu malah menyulut emosi Huan Ran dengan berkata, "Saya hanya kurang kerjaan, dan melihat makhluk seperti Anda lewat. Lalu, saya pikir ini menarik untuk diikuti."
Hal itu membuat Huan Ran diam kembali. Akhirnya, Perdana Menteri kanan itu menyadari bahwa berbicara pada An hanya akan membuatnya lelah. Lagipula, orang kurang kerjaan mana yang mengikuti kereta Perdana Menteri hanya karena penasaran?
Jika bukan An, maka orang itu akan segera dipenjara.
SRET!
Yi Hua menatap kantung minuman dari kulit yang berada di depan wajahnya. Setelah itu, ia menatap ke arah pemiliknya, dan memberi senyuman untuk kesopanan. "Terima kasih, Tuan An. Namun lebih baik Anda yang meminum dahulu."
"Aku tak haus," jawab An singkat.
Tangan pria itu masih terulur untuk menyerahkan kantung minuman, dan Yi Hua tak punya pilihan lain. Ia segera meraihnya dan minum dengan cepat. Tak lupa Yi Hua tahu diri, yaitu dengan menyisakan untuk An.
Liu Xingsheng mengangkat tangannya. "Aku ingin juga."
Baru saja Yi Hua ingin bertanya pada An, pria itu langsung mengambil kantung air miliknya. Tanpa banyak bicara, An menegak minuman yang tersisa hingga habis. Itu membuat Liu Xingsheng menatap pilu pada An yang sama sekali tak pernah baik padanya.
Liu Xingsheng baru ingat jika An jarang bicara dengan orang lain, kecuali Yi Hua. Jika dia bicara dengan Huan Ran pun mungkin hanya perdebatan semata. Apalagi padanya, An seperti tak pernah melihat Liu Xingsheng ada.
"Sudah habis," ucap Yi Hua yang tak enak pada Liu Xingsheng.
Huan Ran yang duduk di batang pohon yang sama seperti Liu Xingsheng segera berseru. "Jika kau sangat haus, apa kau tak ingin minum lagi dari punyaku?" tanya Huan Ran sambil melemparkan kantung minuman yang ia bawa pada Liu Xingsheng.
Hal itu membuat wajah memelas Liu Xingsheng berubah. Bagaimana pun juga ia sungguh tengah haus.
An menyahut, "Bukankah Anda sudah memberikannya pada Perdana Menteri Liu?"
SRET!
__ADS_1
Yi Hua menatap botol giok aneh yang dikeluarkan oleh Huan Ran. Entah mengapa ia merasa aura aneh menguar dari botol giok itu. Dan, benar saja Xiao segera memberitahu Yi Hua apa isi dari botol giok itu.
"Di dalamnya itu adalah air suci. Biasanya kau bisa mengusir makhluk halus dengan air itu. Atau, kau bisa menyiramnya untuk membongkar wujud buatan yang dibuat hantu," jelas Xiao.
Yi Hua menghela napasnya saat menyadari jika Huan Ran akan memulai pertengkaran lagi. Ini sama seperti Huan Ran ingin membasmi An dengan air suci. Yah, walau identitas An agak mencurigakan juga.
An menatap Huan Ran dengan remeh, "Bagaimana jika Anda meracuni saya, Perdana Menteri Huan? Bisakah Anda juga meminumnya?" tantang An.
Yah, jika Huan Ran memang meladeni An dia pasti akan meminum air suci itu. Huan Ran jelas tak perlu takut, karena dia adalah manusia. Air suci tak akan berefek padanya. Akan tetapi, Huan Ran tak meminum air itu. Mungkin dia masih ingin bertengkar dengan An.
"Kau takut?" tanya Huan Ran sambil melempar botol giok itu pada An.
Sebenarnya Yi Hua juga penasaran dengan diri An yang sebenarnya. Dari aura sihir yang sering An keluarkan itu jelas bukan hal yang dimiliki manusia. Namun jika dia bukan manusia, untuk apa dia berada di dunia manusia?
Jika An menolak untuk meminum air itu, jelas pria itu akan semakin mencurigakan.
An selama ini sering mengikuti Yi Hua. Bukankah itu aneh padahal mereka tak pernah saling mengenal sebelumnya?
Jika An benar-benar bukanlah manusia, itu bisa jadi alasan mengapa dia mendekati Yi Hua. Alasannya tentu karena tungku iblis di dalam diri Yi Hua. Kata, Xiao, bagi para iblis dan hantu aura Yi Hua itu cenderung harum.
Beruntung tungku iblis Yi Hua tersegel, walau tak tahu siapa yang menyegelnya. Sampai sekarang dugaannya ialah ayah Yi Hua. Mungkin mendiang ayah Yi Hua, Shi Heng, ingin melindungi Yi Hua.
Namun An menatap pada Yi Hua. "Apakah air ini tak beracun, Yi Hua?"
Mengapa bertanya padaku? Perut-perutmu sendiri. Jika kau celaka, ya kau sendiri yang menanggungnya. Tak usah bertanya padaku, karena aku tak mau kecipratan jahatnya Perdana Menteri Huan Ran.
Yi Hua menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesungguhnya Yi Hua tak ingin berbohong. Sebab, sejak awal dirinya adalah anak yang jujur, baik hati walau agak sombong.
"Yah, itu tak beracun. Tapi ..." Belum selesai Yi Hua berbicara, ia sudah melihat An membuka botol itu dan menegaknya dengan nyaman.
Yi Hua mengerenyitkan keningnya ketika melihat itu.
"Xiao, apakah itu benar-benar air suci?" tanya Yi Hua untuk memastikan.
Xiao langsung menjawab. "Itu memang air suci, HuaHua. Dan, itu sangat kuat bahkan kau bisa merasakannya. Ada apa? Kau masih mencurigai jika An bukanlah manusia?" tanya Xiao kembali.
Yi Hua menyentuh permata merah di telinganya kirinya. "Entahlah. Dia bisa membuktikan bahwa dia manusia, tetapi justru itu yang membuatnya semakin mencurigakan," jawab Yi Hua pelan.
KRAK!
Huan Ran tersenyum tipis seolah semakin ingin memancing gara-gara. Namun Huan Ran tak berniat menangkap botol giok itu kembali. Sehingga botol itu terjatuh ke tanah dengan keadaan retak. Mungkin An sempat meremas botol itu sebelum dilemparkan.
"Setiap air itu sama saja rasanya, Tuan An. Apakah kau terganggu dengan rasa dari air itu?" tanya Huan Ran dengan pertanyaan menyelidik.
An mengangkat bahunya tak perduli. "Mungkin karena air itu diberikan oleh Anda, makanya tak enak."
Setelah itu, An menunduk ke arah Yi Hua yang lebih rendah darinya. "Apa yang kau pikirkan, Yi Hua?"
"Saya tidak memikirkan apa-apa. Mungkin saya hanya kelelahan sehingga pikiran saya mengambang di sekitar bintang Pleiades," ujar Yi Hua yang melantur.
An mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan anak rambut yang turun di wajah Yi Hua. "Setiap kali kau berpikir maka kau akan menyentuh permata merah di telingamu. Itulah mengapa aku tahu kau sedang berpikir."
Apa pria ini selalu mengamatinya?
Entahlah.
Yi Hua hanya menunjuk ke arah sungai yang kering. "Saya hanya memikirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Desa Yi. Dari garis pinggir sungai saya bisa tahu bahwa sungai ini sangat luas dan dalam. Belum lagi arus sungai ini juga bersambung dengan laut. Biasanya tak hujan selama satu atau dua bulan tak akan membuat sungai seluas ini cepat kering. Tapi lihatlah ... Ini sangat mengering sampai saya berpikir jika sejak awal memang tak ada sungai di sini," ucap Yi Hua yang sebenarnya hanya mengalihkan pembicaraan.
An melipat kedua tangannya di dada. "Banyak yang menyangkut-pautkan bencana ini dengan kemarahan Dewa setempat."
Dewa Setempat?
Liu Xingsheng mengangkat tangan pertanda dia ingin menyela. "Ah, yang katanya pohon yang ditebang itu, bukan? Seperti yang aku katakan Yi Hua, kau harus berbicara dengan pemilik pohon itu. Kau kan sejenis."
Sejenis kepalamu!
Yi Hua mengabaikan ide konyol dari Liu Xingsheng. Ia kembali fokus pada penjelasan An. "Apakah Dewa ini memang sangat dihormati oleh orang-orang Desa Yi?"
"Semua itu berawal dari Perayaan Qixi. Katanya, setiap kali Perayaan Qixi pohon itu akan bersinar seperti kemerahan. Daunnya, bahkan batangnya pun ikut merah. Itulah mereka menyebut pohon itu sebagai pohon Phoenix, karena mirip dengan warna sayap burung legendaris itu," jelas An sambil menatap pada Yi Hua.
Huan Ran menyahut. "Kau sepertinya terlalu banyak tahu. Bukankah kau baru saja datang ke Kerajaan Li?"
"Mungkin itu karena saya lebih berpengetahuan dibanding Anda, Perdana Menteri Huan," balas pria itu tanpa menatap pada Huan Ran. Seolah seperti ucapan dan tindakan berbeda.
__ADS_1
Ucapan An cukup sopan, tetapi tindakannya tak terlihat seperti dia menghormati Huan Ran.
Yi Hua memiliki banyak pikiran di kepalanya sekarang. Namun yang dia tanyakan ialah ... "Jika penduduk tahu tentang Dewa pemilik pohon Phoenix itu, mengapa mereka menebangnya?"
Lain halnya jika mereka tak pernah tahu tentang cerita itu. Ini sama seperti kau menantang Dewa. Setidaknya itulah yang bisa Yi Hua pikirkan.
"Mereka bukan sengaja menebangnya. Pohon itu yang layu dan patah. Lalu, mereka berpikir bahwa pohon itu tak dihuni lagi oleh Dewa," Kali ini Huan Ran yang menjawab.
Yi Hua mengerti ini.
Katanya ...
Saat Dewa kehilangan pengikutnya atau tak ada yang mempercayainya lagi, maka kekuatannya akan berkurang. Bahkan yang paling buruk ialah Dewa itu akan hilang begitu saja. Orang-orang Desa Yi mungkin berpikir bahwa Dewa Pohon Phoenix telah kehilangan kekuatannya.
Lalu, bagaimana dengan bencana kekeringan ini?
"Kapan pohon ini mulai terlihat layu?" tanya Yi Hua pada An.
An terlihat berpikir sejenak. "Tak ada yang begitu memperhatikan tentang itu. Namun dari lapuknya batang kayu, mungkin pohon itu sudah lama busuk di dalamnya," jawab An yang seperti sudah pernah datang dan memeriksa pohon itu sebelumnya.
Yi Hua tak pernah tahu darimana semua informasi ini An dapatkan.
Xiao berkata pada Yi Hua, "HuaHua, apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?"
"Maaf otakku agak dangkal. Oleh karena itu, yang aku pikirkan sekarang adalah makan," jawab Yi Hua malas-malasan.
Meski begitu, Yi Hua mulai merangkai sesuatu di pikirannya. Terutama saat An mengatakan tentang Perayaan Qixi.
Sekarang ...
Ayahnya selalu datang ke Desa Yi selama Perayaan Qixi, yaitu setahun sekali. Akan tetapi, ketika ayahnya tiada, berarti dia tak mengunjungi Desa Yi lagi. Lalu, pohon Phoenix ini juga sudah cukup lama busuk di dalamnya.
"Xiao, apakah mendiang ayah pernah bicara pada Yi Hua asli tentang Desa Yi?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
"Tak pernah, HuaHua."
Entah mengapa dia merasa ini seperti kembali pada ayahnya yang misterius itu.
Keluarga Yi Hua ini paling senang meninggalkan pertanyaan dalam kehidupannya. Bahkan ayahnya juga!
"Lalu, dimana batang pohon itu berada?" tanya Yi Hua yang sama sekali tak ada cahaya dalam otaknya. Dia sudah benar-benar pusing.
Yi Hua yang pusing sendiri segera melepaskan batang pohon yang sejak tadi dia peluk. Sepertinya semua orang terlalu lelah hingga tak ingat dengan tingkah Yi Hua yang aneh itu. Lalu, Yi Hua menuju ke arah batang kayu yang sejak tadi diduduki oleh Liu Xingsheng.
Awalnya Yi Hua berniat untuk berbaring di batang pohon yang sudah kering itu. Akan tetapi, tangannya tiba-tiba terhenti di udara saat ia melihat hal yang aneh.
SYUT!
HAH?
"Bukankah pohon ini tumbuh kembali?" tanya Yi Hua dengan wajah ketakutan. Pasalnya, ia melihat ada tunas baru yang muncul di salah satu tangkai batang pohon yang kering.
Liu Xingsheng menggelengkan kepalanya. "Batang pohon ini sepertinya sudah lama terendam dalam air. Lagipula, pohon kering tak akan bertunas lagi, Yi Hua."
Akan tetapi, ucapan Liu Xingsheng mendadak menjadi angin lalu ketika dia melihat apa yang dia lihat.
Dari sentuhan tangan Yi Hua terhadap pohon, itulah yang membuat muncul tunas baru di batang pohon itu.
Apakah aku memiliki kekuatan untuk menumbuhkan pohon?
Namun ucapan An membuat Yi Hua tercekat.
"Itulah potongan dari pohon Phoenix."
Dan, pohon itu tumbuh kembali karena Yi Hua menyentuhnya!
Apa-apaan ini.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~