
Xin Wantang menepuk tangannya dengan bangga. "Kau memang seperti yang diharapkan. Kecantikan yang sangat kejam."
Bagaimana bisa orang gila ini menjadi begitu bangga dengan kejahatan?
Li Wei mengeraskan hatinya untuk terus kokoh berdiri. Ia melihat beberapa orang menuju ke arahnya untuk menangkapnya. Sehingga gadis itu melayangkan pedangnya sekuat yang ia bisa. Bahkan sampai darahnya menetes begitu banyak di lantai.
Gadis itu meraih seorang prajurit yang paling dekat dengannya dan menebasnya tepat di leher. Hal tersebut membuat pakaian Li Wei yang memang kotor dan kusam berubah warna. Pakaiannya telah dibasuh oleh darah hingga nyaris merah sepenuhnya.
Aku jelas tak bisa kembali.
Ia tak bisa menjadi seseorang yang begitu naif. Satu-persatu orang terdekatnya mati tanpa ia bisa melakukan apapun. Itu semua karena Li Wei lemah. Ia begitu menghargai nyawa orang lain, tetapi orang lain tak menghargai itu sebanyak yang Li Wei berikan.
Li Wei mengusap air matanya sendiri dengan tangannya yang dipenuhi oleh darah.
Ia menatap Li Shen yang masih di kelilingi oleh banyak prajurit.
TAP!
TAP!
TAP!
"Kenapa kalian diam?! Tangkap dia? Apa kalian menjadi takut?" teriak Xin Wantang yang sebenarnya panik. Ia tak tahu bagaimana bisa Li Wei tetap terus berdiri dengan semua luka-luka itu.
SRAT!
PRANG!
Li Wei memukul pada dua orang yang menjaga Li Shen hingga kedua orang itu terjatuh di lantai. Pemandangan itu bukanlah sesuatu yang baik, dan Li Wei menuju ke arah Li Shen dengan pedang yang berlumuran darah.
Bagaimana pun di ingatan Li Shen ialah di saat Li Wei membunuh Li Jun. Itu baru saja terjadi.
Apa Li Wei juga akan membunuh Li Shen?
"Apa gadis itu sudah gila?" tanya seorang Pejabat Tinggi dari Kerajaan Xin.
Tentu saja mereka merasa panik dengan tindakan Li Wei. Sejatinya Li Wei terkenal dengan bakatnya yang luar biasa. Meski ia seorang gadis, ia bisa bertarung dengan baik. Bahkan ia berhasil memenangkan Perburuan Malam yang bahkan banyak orang gagal karenanya.
Ditambah lagi ... Li Wei baru-baru ini terkenal dengan julukannya sebagai Putri Hitam. Seseorang yang membunuh dengan wajah yang dingin dan tenang. Kecantikan yang berbahaya.
"Kakak ..." bisik Li Shen sambil meraih pedang lainnya. Ia hanya berharap bisa menyadarkan Li Wei dari kegelapan hatinya sendiri.
Li Wei menitikkan air matanya yang membuat air mata itu menyatu dengan darah yang menempel di pipinya. Cairan merah itu mengalir ke dagu Li Wei yang bergerak. Li Wei berbicara dengan cara yang frustasi.
"Li Shen, bagaimana jika kau terkena penyakit batu? Atau bagaimana jika nanti kau dibunuh dengan cara yang menyakitkan? Li Shen ..." gumam Li Wei dengan ucapannya yang nyaris seperti racau.
Li Wei hanya tak menemukan cara lain untuk melindungi Li Shen. Ia tak tahu lagi caranya.
BRUK!
Li Shen terjatuh ke lantai karena ketakutan pada tingkah Li Wei. Ia terus mundur hingga punggung Li Shen menabrak dinding. Di depannya ada Li Wei yang masih dengan pedangnya yang berlumuran darah.
"Maafkan aku, Pangeran Li Shen," bisik Li Wei sambil mengangkat pedangnya.
Dan, ...
BRUAKH!
Seseorang memukul kepala Li Wei dari belakang. Tak lama setelah itu, pukulan itu mengarah pada Li Shen hingga pria itu tak sadarkan diri. Lebih baik jika pria kecil itu tak melihat hal buruk. Lebih baik tertidur dibanding melihat kehancuran dari keluarganya sendiri.
Orang yang memukul itu adalah Liu Shang dengan menggunakan ganggang pedangnya. Hal tersebut membuat Xin Wantang berseru dengan amarah. Bagaimana pun bagi Xin Wantang melihat pertumpahan darah sesama saudara ini pasti akan sangat mengganggu.
Bagi Xin Wantang, semua keluarga Li harus dimusnahkan karena mereka begitu sombong. Para anggota kerajaan ini meremehkan Xin Wantang dan menolaknya. Bahkan saat Xin Wantang menginginkan Li Wei, gadis itu malah tak menghargai perasaannya.
Sungguh tak tahu diri! Seru Xin Wantang di dalam hati.
"Lancang kau, Liu Shang!" teriak Xin Wantang yang mendekat ke arah Liu Shang.
Namun Liu Shang berdiri tegak sambil mengangkat Li Wei yang masih setengah sadar. Pukulan Liu Shang tak begitu kuat, hanya sekadar menyadarkan Li Wei dari pikiran gilanya. Bagaimana pun Liu Shang menyadari tentang luka hati gadis ini.
"Yang Mulia, biarkan gadis ini mati dengan terhormat. Bukan sebagai pembunuh," ucap Liu Shang dengan wajahnya yang datar.
PLAK!
Xin Wantang menampar wajah Liu Shang dengan keras. "Kau berani membantah keputusanku, Jenderal Liu?!"
Akan tetapi, Liu Shang hanya membalas tatapan Xin Wantang dengan datar. Hal tersebut membuat Xin Wantang agak bergetar. Bagaimana pun ia tahu kehebatan dari Liu Shang. Jika pria ini berniat membunuhnya, maka Liu Shang tak akan bisa apa-apa.
Ditambah lagi tak ada yang bisa melindunginya dari Li Wei yang mengerikan ini.
"Lupakan! Ikat dia kembali," perintah Xin Wantang yang berjalan menuju kursinya lagi.
Dalam perjalanannya ia menendang mayat-mayat prajurit yang tergeletak di lantai Pengadilan Tinggi. Pria ini sama sekali tak menghargai orang lain. Bahkan pada bawahannya sendiri.
Liu Shang menganggukkan kepalanya dan menggendong gadis itu untuk dibawa ke tiang. Dari wajah Liu Shang yang tenang, tak ada yang tahu bagaimana perasaannya.
"Kenapa kau tak membunuhku saja, Tuan Jenderal?" tanya Li Wei dengan lemah. Di antara rasa sakitnya.
Mengapa ia masih dibiarkan hidup untuk menjalani semua penderitaan ini?
Liu Shang berlutut untuk meletakkan Li Wei ke lantai. Bukannya mengikat, Liu Shang hanya menyenderkan tubuh Li Wei ke tiang kayu. Kemudian pria itu menjawab dengan tenang. Dengan suara yang kecil, dan hanya mereka yang mendengar.
"Saya tak ingin Tuan Putri menyesali banyak hal. Termasuk membunuh saudara Anda sendiri, Putri," ucap Liu Shang yang menundukkan kepalanya pada Li Wei.
Memberi penghormatan.
Putri? Orang ini masih menyebutku Putri?
Mendadak Li Wei menjadi sangat muak dengan sebutan itu. Ia hanya bisa memejamkan matanya, dan tangannya terkepal. Semua rasa amarah, kesedihan, dan duka bercampur menjadi satu. Hanya ia tak tahu yang mana yang lebih dominan.
Liu Shang menatap gadis yang diselimuti darah itu. "Saya juga memiliki seorang putri kecil seperti Putri Li Wei. Begitu juga dengan seorang putra, meski anak itu lemah dan jantungnya tak sehat. Kedua anak itu kembar, tetapi adiknya, yang laki-laki, tidak sesehat kakaknya," jelas Liu Shang pelan.
Liu Shang adalah orang tua yang baik. Hanya saja dia bertuan pada orang yang salah. Bagaimana pun pria ini menaruh kesetiaan pada seseorang yang serakah dan tak tahu diri seperti Xin Wantang.
"Apa kau pernah mendengar tentang karma?" tanya Li Wei sambil menyeringai.
Liu Shang tak mengatakan apa-apa. Ia hanya berharap kehidupan kedua anaknya tak akan begitu buruk ke depannya.
Entahlah.
***
SRAT!
__ADS_1
"Yang Mulia."
Seorang prajurit datang dan berlutut. Prajurit itu tentu saja membawa berita dari luar istana. Atau mungkin apa yang diperintahkan Xin Wantang telah berhasil mereka laksanakan.
"Kami tak berhasil menemukan Peramal Ling Xiao. Banyak yang mengatakan jika Peramal itu melarikan diri. Namun kami menemukan anak angkatnya, Yang Mulia," ucap prajurit itu yang membuat Li Wei mengangkat kepalanya.
Setelah sekian lama kesunyian, dan Li Wei yang terus terikat dan nyaris kehilangan kesadarannya, Li Wei mendengar nama yang ia kenal.
Hua Yifeng?
Bagaimana bisa pria itu keluar? Bukankah dia sedang sekarat karena dikuasai oleh Pohon Iblis?
"Oh? Aku tak pernah tahu jika masih ada yang selamat. Apa dia berbahaya?" tanya Xin Wantang sambil berpikir. Di tangannya masih ada sarung pedang yang diambilnya dari Li Wei.
Ia hanya bertanya-tanya bagaimana cara menggunakan sarung pedang itu. Nyatanya sarung pedang itu sama seperti sarung pedang biasa. Tak berguna.
Xin Wantang mulai merasa dibohongi.
"Kami menemukannya tergeletak di depan istana. Sepertinya dia memang terluka bahkan sebelum ia datang ke istana ini," jelas prajurit itu cepat.
Hua Yifeng memang terluka parah. Lalu, kenapa pria itu tetap ingin datang ke istana?
Xin Wantang menatap marah. "Mengapa manusia tak berguna itu kau bawa juga?! Atau ..."
Xin Wantang tersenyum manis. Mendadak menemukan hal menarik lain untuk membuat Li Wei membuka mulut. Baginya Li Wei belum mengatakan hal-hal yang penting.
"Oh ... Apakah Putri perlu tambahan orang lagi untuk ikut dalam Pengadilan Tinggi ini?"
SRET!
Hanya dalam waktu singkat, Hua Yifeng dibawa masuk ke dalam ruangan.
TAK!
Xin Wantang tentu terkejut ketika sarung pedang yang ada di tangannya bergerak dengan gelisah. Kala itu hanya dalam waktu sedetik sarung pedang itu berputar dan menuju ke arah Hua Yifeng.
Siapa sangka yang menarik akan muncul sekarang.
STAB!
"Kenapa kalian melepaskannya?" tanya Liu Shang ketika melihat para prajurit yang melepaskan Hua Yifeng.
Tubuh Hua Yifeng terlihat lemah seperti tanpa tulang. Li Wei menyadari bahwa Hua Yifeng benar-benar dalam pengaruh Pohon Iblis yang keji. Dari mata Hua Yifeng yang tertutup, Li Wei mendadak takut jika mata itu tak terbuka lagi. Pria ini terluka bukan karena orang lain, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya.
SRING!
"Geledah dia. Mungkin pedangnya ada di tangan pria ini," ucap Xin Wantang dengan serakah.
Bagaimana pun ia selalu bertanya-tanya darimana asal sarung pedang tanpa pedangnya. Akan tetapi, dengan kedatangan pria ini sudah menjelaskan. Bahwa sebenarnya pedang ini lengkap dengan sarungnya.
SRET!
"Pedang itu ada bersamanya, Yang Mulia," ucap prajurit itu dengan cepat.
Li Wei memperhatikan Hua Yifeng yang entah dia hidup atau tidak. Itu semua karena pria itu terus menutup matanya. Rambut hitam panjangnya menutupi setengah wajahnya.
Kenapa kau harus datang ke tempat ini? Lebih baik kau melarikan diri bersama Ling Xiao.
Li Wei tak akan menyalahkan Ling Xiao jika pria itu pergi. Sejak kepemimpinan Kerajaan Li gugur, tidak ada lagi jajaran Pejabat Tinggi. Ditambah lagi Ling Xiao memiliki satu hal yang cukup menakutkan. Yaitu, sampai sekarang hanya Ling Xiao seseorang yang mungkin dipercaya oleh penduduk Kerajaan Li.
SREK!
TING!
Pedang itu dipersatukan kembali oleh Xin Wantang. Wajahnya berbinar seperti menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Pedang hitam di tangannya telah bertemu dengan sarungnya.
SRET!
Haha... Haha ... Haha ...
Xin Wantang menatap Li Wei dengan tajam, "Apa yang Putri cantik ini tertawakan?" tanya Xin Wantang dengan wajah marah.
Li Wei memiringkan kepalanya. "Kau ... Akan menemui kematianmu yang mengerikan."
Jika ucapan Li Wei adalah kutukan. Maka, biarkan ia mengutuk orang ini dengan cara yang sangat mengerikan.
Xin Wantang berkeringat dingin. "Buat dia tak bisa bicara lagi!" perintah Xin Wantang.
Akan tetapi, Liu Shang berdiri tegak tanpa berniat melakukan apa yang diperintahkan oleh Xin Wantang. Hal tersebut yang membuat Xin Wantang menatap dengan panik, dan ia terbatuk dengan keras.
"UHUK ... UHUK! UGH HOEKKK."
Batuk itu terdengar sangat keras dan menyakitkan hingga Xin Wantang muntah darah. Apa yang dimuntahkan oleh Xin Wantang merupakan sesuatu yang mengerikan. Itu adalah batu kerikil yang sebagiannya bercampur daging.
Xin Wantang mengusap mulutnya dengan panik. "Tarik kutukannya, Li Wei!" teriak Xin Wantang.
Namun Li Wei tersenyum tipis dengan bibirnya yang berlumuran darah. Tanpa berniat mengucapkan apa-apa. Sejatinya, Li Wei tak tahu bagaimana ucapannya menjadi kenyataan. Dan ia juga tak tahu bagaimana cara memutuskan kutukan itu.
"Liu Shang ... HOEK!" Xin Wantang memaksa dirinya sendiri untuk muntah. Memaksa untuk memuntahkan lagi batu yang ada di dalam tubuhnya.
Menurut keterangan penyakit batu, seseorang yang terluka secara fisik jika terkena penyakit ini, maka lukanya akan ditumbuhi oleh batu. Xin Wantang tentu saja terkejut dengan luka yang ada di dalam tubuhnya. Sejak kapan ia memiliki luka dalam?
"Yang Mulia, batunya tidak keluar lagi," ucap Liu Shang yang menghentikan tindakan Xin Wantang.
Setelah muntah darah berapa kali, Liu Shang tak melihat ada batu kecil lagi yang keluar dari tubuh Liu Shang. Meski begitu, Liu Shang yakin batu itu akan terus tumbuh nantinya. Sedikit demi sedikit, seperti penderita lainnya.
Sungguh penyakit yang aneh.
SRAT!
"Batu! Tanganku ditumbuhi batu!" teriak seorang Pejabat Tinggi Kerajaan Xin yang awalnya menjadi penonton.
Hal itu menimbulkan keributan hingga yang lainnya juga memeriksa tubuh masing-masing. Hanya ingin mengetahui apakah mereka terjangkit atau tidak. Nyatanya ... Batu itu tumbuh secara perlahan di kulit mereka.
Mereka berteriak dengan histeris.
"Kutukan Putri Hitam! Kita telah dikutuk! Kita telah dikutuk!" teriak mereka dengan keras.
Bukan hanya mereka. Prajurit Kerajaan Xin yang mengepung di luar istana juga masuk bersamaan dengan membawa teriakan yang sama. Mereka terjangkit penyakit itu dengan parah. Bahkan itu semua tak pernah Li Wei pikirkan.
Ia mulai berpikir sesuatu yang aneh.
Penyakit ini seperti ...
__ADS_1
"AKHH!!!
Xin Wantang menarik pedang itu dari sarungnya. Tentu saja pedang milik Hua Yifeng, lalu Xin Wantang menuju ke arah Li Wei dengan marah. Namun baru saja Xin Wantang berjalan menuju Li Wei sebuah tangan meraih tenggorokannya.
Li Wei di tengah kesadarannya yang mengabur melihat sosok tinggi yang berdiri tak jauh darinya.
Itu Hua Yifeng.
Hua Yifeng mencengkeram leher Xin Wantang dengan keras hingga tubuh Xin Wantang terangkat ke atas. Dengan tenaga yang seperti itu mungkin Hua Yifeng sebenarnya sudah dikuasai oleh Pohon Iblis. Mata pria itu berwarna merah seperti darah, dan gambar seperti petir muncul di pipi Hua Yifeng.
"UGH!"
Liu Shang yang masih sehat, entah karena apa, berlari untuk melawan Hua Yifeng. Pria itu bergerak lincah dan melukai ke dada Hua Yifeng. Darah Hua Yifeng memercik akibat tebasan pedang itu. Hal tersebut membuat Li Wei berteriak pelan.
"Jangan ..."
Suara lemah Li Wei terdengar oleh Hua Yifeng hingga pria itu menoleh ke arah Li Wei. Pria itu mendapatkan kesadarannya, dan ...
SRAT!
BUGH!
Hua Yifeng melempar Xin Wantang ke lantai seolah pria itu tak berat sedikit pun. Setelah itu, Hua Yifeng menuju ke arah Li Wei yang tergeletak di lantai. Akan tetapi, Liu Shang mengambil sebuah tombak besar yang ada di sudut ruangan. Pria itu melemparnya ke arah Hua Yifeng, dan ...
"Awas!!!" teriak Li Wei dengan sisa suaranya.
CRASH!
Tombak itu menembus ke tubuh Hua Yifeng dengan keras. Akan tetapi, Hua Yifeng tetap berdiri teguh untuk menuju ke arah Li Wei.
SRET!
Xin Wantang berseru dengan panik. "Bagaimana bisa Kerajaan Li memiliki banyak monster?!" teriak Xin Wantang ketika melihat Hua Yifeng yang masih hidup, walau terduduk di lantai.
Xin Wantang menatap panik pada batu yang mulai menumbuh ke kakinya. Ia menatap ke arah Li Wei.
Benar.
Jika mengorbankan Li Wei maka kutukan ini akan hilang. Jika membunuh pemberi kutukan, maka kirimannya akan hilang. Itulah yang Xin Wantang simpulkan.
SRAT!
Xin Wantang meraih pedang milik Liu Shang. Pria itu berjalan marah menuju ke arah Li Wei yang tak memiliki kekuatan lagi untuk membela diri. Sedangkan Liu Shang menahan Hua Yifeng yang memberontak.
"Li Wei ... Li ... Wei," ucap Hua Yifeng di tengah kesadarannya yang ganjil.
Akan tetapi, ... Dari kejauhan Li Wei tersenyum tipis pada Hua Yifeng. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun Li Wei telah kehilangan rasa takutnya akan kematian.
Lebih dari segalanya ...
BRUK!
"Wei ... Li Wei," teriak Hua Yifeng yang menderita akan rasa sakitnya.
Rasa sakit karena Pohon Iblis yang terus memakan darahnya. Rasa sakit karena tombak itu yang tertanam di tubuhnya. Rasa sakit di hatinya ketika melihat Li Wei ... Orang yang ia cintai dalam kehancurannya.
"Kau harus mengalami hal yang sama dengan Pangeran Penduka. Atau, bencana ini tak akan berakhir," ucap Xin Wantang yang berdiri di depan Li Wei.
Hua Yifeng bergerak panik ketika Xin Wantang mengarahkan pedang ke tenggorokan Li Wei. Mata merah Hua Yifeng semakin menjadi darah. Tangannya menggaruk ke lantai hingga kukunya menjadi patah. Semuanya ia lakukan untuk bergerak menuju Li Wei.
Untuk menyelamatkan Li Wei.
Akan tetapi, Hua Yifeng lemah. Ia tak bisa menyelamatkan Li Wei. Ia tak bisa. Ia tak berguna.
"Jangan ... Li Wei ... Tidak, bukan Li Wei," ucap Hua Yifeng yang ingin menjelaskan.
Aku yang harusnya dikorbankan. Bukan Li Wei!
Karena yang menjadi Raja di Kerajaan Li yang hancur ini adalah Hua Yifeng. Ia adalah seseorang dalam ramalan yang disebut oleh Ling Xiao. Ia orangnya, maka untuk memutus kutukan, Hua Yifeng yang harus dibunuh.
Xin Wantang tersenyum mengejek. "Berbanggalah Putri Li Wei karena kau menyelamatkan banyak orang."
SRAT!
"TIDAAAAK!!" Hua Yifeng berteriak keras ketika pedang itu menyayat leher Li Wei yang kurus. Tangan Hua Yifeng memukul ke lantai dengan keras untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun ia tak bisa melepaskan diri dari tekanan Liu Shang. Pria itu bahkan menekan tombak itu hingga Hua Yifeng berteriak keras. Ia tak tahu darimana muncul suara teriakan itu. Apakah karena ia luka fisiknya atau kesedihan hatinya?
Aku tak bisa melakukan apapun untukmu. Bahkan aku tak bisa mengatakan padamu ...
Semua dunia Hua Yifeng menjadi berantakan. Darah Hua Yifeng tak ada lagi di wajahnya. Ia menjadi pucat dan tangannya dengan kasar menarik tombak yang tertancap di tubuhnya.
BRUK!
Namun ... Li Wei terjatuh ke lantai, dengan darahnya sebagai hiasan. Darah Li Wei memenuhi tubuhnya sendiri dan menciptakan warna yang mencolok di lantai Pengadilan Tinggi. Warnanya terlihat cerah, tetapi semua orang tahu betapa buruknya keadaan tersebut.
Mungkin kesakitan tak akan datang lagi. Mungkin setelah ini semuanya akan lebih mudah. Mungkin.
Aku tak bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu.
Tanpa sadar keduanya berucap itu pada saat yang sama.
Namun seperti yang dikatakan oleh Ling Xiao. Mungkin sebaiknya mereka berdua tak pernah bertemu, dan tak pernah saling mencintai.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Akhirnya kita sampai ke bagian akhir dari ingatan Yi Hua, atau yah ... Li Wei. Mungkin setelah ini akan ada kilasan saat Hua Yifeng menjadi "Iblis Kehancuran". Juga bagaimana 'An' bisa menjadi orang kerajaan, sementara Li Shen melihat Hua Yifeng membunuh semua orang yang ada di tempat berdarah itu.
Jadi, Li Wei tidak mengakhiri hidupnya sendiri. Ditambah lagi cerita tentang Hua Yifeng yang membunuh semua orang di Kerajaan Li juga sebenarnya hanya cerita dari mulut ke mulut. Kenyataannya adalah yang tersisa di istana Kerajaan Li bukan orang kerajaan Li, tetapi dari kerajaan musuh. Sehingga kita bisa simpulkan bahwa semua rumor di masa lalu, dan cerita tentang lima bencana itu mungkin tak sepenuhnya benar.
Ingatlah selalu ada kejadian pahit di balik cerita yang dianggap 'menakutkan'.
Tentang kutukan dari Li Wei, apa menurut kalian itu benar-benar terjadi? Atau hanya kebetulan? Atau ada faktor lainnya. Silahkan berimajinasi dan pusing sendiri kayak authornya.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1
***