Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 3: Menebus Kebebasan


__ADS_3

Beberapa orang datang mengelilingi mereka berdua. Beberapa di antara mereka membawa kayu sebesar kepalan tangan. Sepertinya mereka tak akan memberi kemudahan untuk Yi Hua. Sial di antara sial lainnya ialah tidak ada yang bisa membantu Yi Hua.


Xiao mungkin hanya membantu menggerutu saja.


BUGH!


Yi Hua menangkis pukulan dari kayu itu dengan kertas jimatnya. Hal tersebut membuat Tuan Qiu tertawa pelan. "Pantas saja Anda memiliki keberanian, Tuan Yi. Ternyata Anda seorang petarung."


Tanpa memperdulikan ucapan Tuan Qiu, Yi Hua berlari untuk mengambil obor yang dipasang di sekitar penginapan. Dengan obor itu Yi Hua mengarahkan pada orang-orang yang mengelilingi mereka. Secara alami orang-orang ini menghindar dari panasnya api obor. Hal tersebut membuat jalan terbuka.


Kemudian, STAK!


Salah seorang dari mereka memukul ke samping Yi Hua. Tepatnya pada gadis yang malang itu. Yi Hua tak sempat menarik gadis itu untuk menghindar, dan hanya bisa menangkis kayu itu dengan tangannya.


Sakit sekali!


Yi Hua meringis karena tangannya terpukul. Ia segera berlari untuk menendang ke beberapa tiang obor yang berbaris di sepanjang jalan penginapan. Tangan Yi Hua juga menyempatkan diri untuk meraih beberapa hiasan yang dipasang di sekitar penginapan. Lalu, Yi Hua melemparnya ke api-api obor.


Itu juga seperti membatasi jarak agar orang-orang ini tak bisa mendekati Yi Hua.


"HuaHua, sebelah kananmu kosong. Pergi ke sana," ucap Xiao yang kembali dengan tugasnya sebagai 'mata' kedua Yi Hua.


Tuan Qiu menatap marah pada anak buahnya sendiri. "Hanya menangkap dua orang saja kalian tak bisa!" teriaknya marah.


Mendengar kemerahan Tuan Qiu itu mereka berusaha mendekat pada Yi Hua. Sehingga Yi Hua menebarkan kertas jimatnya di udara. Kertas jimat itu berbaris di udara, tepatnya di depan wajah Yi Hua. Xiao di telinga Yi Hua memberitahukan padanya tentang arah angin.


SRAT!


"Panas ...!" Akibat kertas dan hiasan yang lemparkan oleh Yi Hua, api menyambar dengan cukup besar.


Apinya cukup tinggi dan jika tak dihentikan pasti akan menjalar hingga ke penginapan. Akan tetapi, Yi Hua tak bisa memikirkan cara lain untuk melindungi dirinya sendiri dan gadis ini. Terutama saat dirinya kalah jumlah.


"Ayo kita pergi," ucap Yi Hua ketika melihat jarak antara dirinya dengan orang-orang ini sudah dipenuhi api.


Gadis itu memeluk lengan Yi Hua lagi. "Iya."


Akan tetapi, baru saja Yi Hua ingin melarikan diri dengan gadis itu, langkahnya terhenti. Terutama saat melihat Yue Yan yang muncul dengan darah di kepalanya. Di belakang Yue Yan tampak seorang pria lain, yang sebenarnya belum pernah dilihat oleh Yi Hua.


Tubuhnya besar seperti dua kali dari tubuh Huan Ran. Belum lagi dengan lemak yang ada di tubuhnya. Orang ini bukannya bisa bertarung dengan lincah, tetapi dengan kekuatannya dia bisa membanting sapi.


Hanya saja Yi Hua tahu jika orang ini bukan orang biasa. Dia adalah seorang yang bisa bertarung, dan pastinya dia lebih hebat dari Yue Yan. Bahkan Yue Yan saja terluka parah akibat serangannya.


"Jian, tangkap dia!" teriak Tuan Qiu dengan amarah penuh di wajahnya.


Bagaimana pun semua anak buahnya benar-benar dipermainkan oleh Yi Hua. Padahal Yi Hua hanya seorang diri.


BUGH!


Keras.


Yi Hua menatap tangannya yang mendarat di wajah pria bernama Jian itu. Pukulan Yi Hua tak ada artinya untuk kulit Jian yang seperti badak ini. Sekali lagi Yi Hua menyerangnya, dan kali ini menggunakan kakinya. Yue Yan juga tak diam, pria itu juga menyerang ke titik buta pria itu.


Namun dengan mudahnya pria Jian itu menangkis serangan mereka berdua sekaligus.


Ini buruk.


"Dia tak hanya kuat, HuaHua. Dia adalah orang yang terlatih," ucap Xiao memberitahu.


Penjaga Tuan Qiu yang ini benar-benar merepotkan. Ada beberapa orang yang kuat dan mematikan, walau tak memiliki kemampuan sihir sekalipun.


"Tuan ..."


"Hua!" teriak Xiao ketika mendadak tangan besar Jian menangkap pakaian bagian depan dari Yi Hua.


Suara lainnya ialah dari gadis yang ada di sebelah Yi Hua.


"EgHH ... UHUK." Yi Hua terbatuk karena tubuhnya diangkat di udara. Lehernya tercekik oleh pakaiannya sendiri.


"Orang kecil sepertimu berani melawan Tuan Qiu," ucap Jian dengan matanya yang melotot.


Namun Yi Hua tersenyum angkuh walau napasnya terasa sesak. "Ancaman yang bagus, Pengecut."


CUIH!


Yi Hua meludahi wajah pria Jian itu tanpa takut sedikitpun.


"KAU!" Pria Jian itu mudah diprovokasi, dan marah. Rasa tercekik Yi Hua semakin parah karena tangan pria itu yang semakin kuat, dan kini malah mengangkat Yi Hua ke udara.


"EGHHHH ..." Yi Hua nyaris pingsan karena kekurangan udara.


Tangan Yi Hua dengan lemah memanggil kertas jimatnya. Kertas jimat terbang di sekitar tangan Yi Hua, dan kilat api kecil muncul dari kertas jimat. Yi Hua mengarahkannya ke wajah Jian, dan ...


BAM!


Api keras jimat menyapa wajah Jian, dan mau tak mau pegangan pria itu terlepas. Matanya terasa pedih karena asap dari kertas jimat. Belum lagi dengan rasa panasnya.


BRUK!


"EGH ... UHUK ... UHUK!" Yi Hua memuntahkan air karena terjatuh dalam posisi dada yang menyentuh tanah terlebih dahulu.


"Hey, kemampuan 'Kembali ke Awal' masih ada, bukan? Mengapa sistem milikmu tak ada kemampuan mengurangi rasa sakit?" Yi Hua hanya bisa menggerutu di dalam hati.

__ADS_1


Xiao menjawab dengan pasrah. "Kau tahu sendiri bukan bahwa Yi Hua itu tidak bisa apa-apa."


Tubuh Yi Hua lemah. Ia juga tak punya kemampuan bertarung seperti Ling Xiao. Dirinya juga tak bisa menggunakan tenaga dalam begitu banyak karena Tungku Iblis. Lihatlah deretan kesialan ini!


Lebih dari segalanya ... Bagaimana setelah ini?


***


Api tampak menjilat ke arah penginapan. Pemilik penginapan beserta para pelayannya juga sudah terbangun untuk mematikan apinya. Akan tetapi, mereka tak bisa pergi untuk mematikan api. Hal itu karena mereka takut akan terlibat dalam pertarungan.


Seorang pria pemilik penginapan mengguncang bahu pelayannya sendiri dengan histeris. "Bagaimana dengan penginapan milikku, Bodoh? Aku sudah berjanji akan menikahi Su Wan. Kalau begini habis semua usahaku untuk mengumpulkan uang pernikahan."


Pelayannya menatap Tuannya tak mengerti. "Tuan, Anda sudah punya istri. Mengapa tiba-tiba ingin mengumpulkan uang pernikahan lagi?"


PLAK!


Bukannya menjawab pemilik penginapan itu malah memukul kepala pelayannya yang banyak tanya itu.


"Sekarang kau pikirkan bagaimana mematikan api ini?" tanya Tuan itu histeris.


Yah, beruntung mereka tak tahu siapa pelaku dari kebakaran ini. Jika tidak. Mungkin Yi Hua akan punya tambahan hutang lagi di sini. Ia jelas tak punya uang untuk mengganti kerugian di penginapan ini.


***


Kembali lagi pada Yi Hua yang berusaha bangkit dari posisi tengkurapnya.


"Tuan, Anda tak apa-apa?" tanya gadis itu sambil membantu Yi Hua bangkit.


Dia masih bertanya begitu saat aku sudah muntah-muntah seperti sekarang?


Yi Hua tak bisa menahan ucapan sarkasnya sendiri. Walau ia hanya mengatakannya di dalam hati.


SRAT!


Akan tetapi, gadis itu sudah ditarik lagi oleh beberapa penjaga yang sudah berhasil memadamkan setengah api. Sehingga mereka bisa mendatangi Yi Hua, dan menangkap gadis itu.


"Tidak! Lepaskan saya Tolong saya, Tuan," teriak gadis itu sambil berusaha melepaskan diri.


Ia menatap Yi Hua dengan air matanya yang penuh. Yi Hua berusaha untuk bangkit, tetapi pria besar Jian itu menekan kepala Yi Hua ke tanah. Dan, ...


"UGH!"


SRAP!


"HuaHua, kau tak boleh begitu marah hingga melepaskan kekuatan Tungku Iblis," tegur Xiao yang memastikan tak timbul masalah lagi.


Xiao menyadari jika kekuatan Tungku Iblis ternyata dipengaruhi oleh fisik Yi Hua. Jika tubuhnya tenang, maka Yi Hua tak akan sulit mengendalikan Tungku Iblis. Namun situasi ini jelas tak akan membuat ketenangan.


Yi Hua melihat seekor ular putih melompat ke lengan pria itu. Ular itu milik Yue Yan, dan ular itu melingkari lengan Jian. Namun belum sempat mematuk, Jian sudah menarik kepala ular itu dan dilemparkan ke tanah.


Yue Yan berteriak marah. "Apa yang kau lakukan pada ularku?"


SRET!


Kali ini bukan hanya gadis itu yang ditangkap. Para penjaga juga menangkap Yue Yan sebagai ancaman bagi Yi Hua. Bahkan seorang penjaga mengarahkan pisaunya ke leher Yue Yan, hingga Yue Yan diam.


"Jika kau berani melawan lagi, maka aku akan menyobek leher temanmu dan gadis ini secara bergantian," ucap Tuan Qiu yang juga berhasil melewati api.


Entah bagaimana, api sudah dipadamkan. Hanya tersisa asap yang tampak memenuhi di udara.


Yue Yan menggerutu dengan keras, "Aku bukan temannya."


Jadi itu yang kau permasalahkan, Tutup Kendi?


BUGH!


Yi Hua memejamkan matanya ketika melihat seorang penjaga memukul rahang Yue Yan.


Mereka benar-benar tak memiliki hati untuk memudahkan mereka berdua.


Tuan Qiu mendekat pada gadis itu, dan ... PLAK!


Tamparannya mendarat di pipi gadis itu. Menambah memar di antara memar lainnya. Yi Hua bisa melihat ketakutan dari wajah gadis itu.


Sampai sekarang pun dirinya nya tak bisa menyelamatkan siapapun. Miris sekali.


"Kau gadis rendahan! Beraninya kau melarikan diri," bentak Tuan Qiu sambil menarik rambut gadis itu untuk mengancam.


"T... long lepaskan," pinta gadis itu dengan wajah penuh air mata.


Ada setitik darah di sudut bibirnya. Yi Hua semakin geram ketika melihatnya.


Dahulu dirinya pernah melihat hal yang sama. Suatu kejadian yang sudah lama terjadi, dan entah mengapa ia ingat sekarang. Saat itu ...


"Kau pikir orang-orang ini bisa melawanku?" tunjuk Tuan Qiu pada Yi Hua yang bahkan bangkit saja tak bisa.


Bukan perkara apa, tetapi dirinya ditekan di tanah oleh pria bernama Jian itu.


Yue Yan yang tak terima memberontak keras. "Aku sama sekali tidak bersama dengan Yi Hua sialan ini!" bentak Yue Yan marah.


Hal tersebut jelas tak sama dengan tindakannya. Yue Yan bahkan ikut terjebak di sini karena ingin membantunya, bukan? Namun Yue Yan sepertinya tak bisa jujur dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Jian menatap pada Tuan Qiu, "Orang berisik ini diapakan?" tanyanya.


Bagaimana pun mereka hanya berukuran dengan Yi Hua. Padahal Yi Hua sebelumnya hanya sendiri, dan Yi Hua bisa menciptakan keributan sebesar ini. Belum lagi dengan wajah Jian yang memiliki luka bakar.


Beraninya!


"Bunuh dia!"


Apa?


Yi Hua berusaha bangkit dari posisinya. "Dia sama sekali tidak ada urusannya dengan aku, sialan! Lepaskan dia."


BRUK!


Jian menendang ke arah Yi Hua, dan dengan kesempatan saat Jian mengangkat kakinya, Yi Hua berguling. Menjauh dari tendangan itu.


Benar, bukan?


Yi Hua benar-benar sulit untuk dilawan. Bahkan jika bukan karena gadis itu dan Yue Yan yang menjadi tawanan, Yi Hua pasti bisa melepaskan diri dengan baik. Ia bisa melarikan diri sendirian, dan Xiao tahu jika Yi Hua tak akan melakukannya.


Melihat pada Yi Hua, gadis itu menangis lagi. Merasa bersalah karena telah melibatkan Yi Hua. Padahal Yi Hua adalah 'tamu' untuk Tuan Qiu sebelumnya. Semuanya akan baik-baik saja jika dirinya tak meminta bantuan Yi Hua.


Tuan Qiu mengusap wajah gadis itu dengan tampang menjijikkan. "Apa kau tertarik dengan pria kecil ini?"


Yi Hua mendadak sangat muak dengan tingkah Tuan Qiu itu.


"Sayangnya, dia yang harus dibunuh lebih dahulu. Atau, aku akan benar-benar malu karena orang ini telah menipuku!" bentak Tuan Qiu sambil mengambil sebilah pedang dari pinggangnya.


Yi Hua menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang. "Bagaimana jika saya membuat Anda malu lagi, Tuan Qiu?" tanya Yi Hua angkuh.


"Sudah, HuaHua. Jangan membuatnya tambah marah. Kau ini mengapa terlalu terbawa karakter hingga sikap angkuh Yi Hua asli saja bisa kau tiru dengan baik," ucap Xiao menasihati.


Itu pujian atau tidak, Yi Hua tak tahu.


"Lancang kau! Seharusnya aku memecahkan kepalamu sejak sore tadi." Tuan Qiu berteriak dengan keras. Bahkan tak sadar jika ludahnya memercik ke mana-mana.


Yi Hua meludah sekali karena mulutnya terasa seperti menelan karat. "Saya harusnya tahu sejak awal jika wajah Anda menandakan sesuatu."


Yi Hua hanya tak suka direndahkan oleh siapapun.


SRET!


Yi Hua menarik kayu yang tergeletak di tanah. "Dari wajah Anda saja saya sudah tahu. Bahwa otak Anda tersimpan di dalam celana Anda," ucap Yi Hua yang tak bisa menahan semua keangkuhannya sendiri.


Xiao lelah sendiri. "HuaHua, sudah sudah. Anak baik tak boleh bicara kasar."


Xiao, periksa ke sekitar. Apakah ada celah lemahnya?


Terdengar Tuan Qiu tampak mengunyah giginya sendiri. Mungkin ucapan Yi Hua benar-benar menghinanya. Sehingga dengan marah ia mendatangi Yi Hua.


"Kau pasti akan ku bunuh dengan menyedihkan," ucap Tuan Qiu.


Akan tetapi, wajah Yi Hua tetap angkuh seperti biasanya. Walau sebenar di dalam hatinya sedang bergemuruh kocar-kacir. Seperti berdegup kencang, tetapi bukan jatuh cinta. Wajahnya panas, tetapi bukan merona.


Dirinya itu sedang panas dingin karena takut pada mulutnya sendiri yang aktif menghina.


Sebenarnya Yi Hua juga takut karena situasi ini.


Namun sebelum Tuan Qiu benar-benar menebas kepala Yi Hua, seseorang datang dan melempar sebuah permata hitam.


Yi Hua mengenalinya.


Itu Huan Ran dan .... Liu Xingsheng yang berwajah datar seperti boneka.



Mengapa Huan Ran membawa Liu Xingsheng di tempat berbahaya ini? Bukankah lebih baik jika Huan Ran menyembunyikannya?


"Aku membeli gadis itu. Lepaskan dia. Begitu juga dengan rekanku," ucap Huan Ran dengan wajahnya yang datar.


Yi Hua menatap Huan Ran dengan tak percaya. "Perdana Menteri Huan, permata itu ..."


Akan tetapi, Huan Ran tetap berdiri tegak tanpa berniat memperbaiki ucapannya. Pria ini serius dengan ucapannya.


Lebih dari segalanya ... Permata itu adalah hadiah dari Raja Li Shen. Hanya ada satu di dunia ini (maksudnya yang benar-benar asli), dan dibuat dengan batu permata terbaik. Juga, permata itu adalah 'modal' mereka untuk masuk ke pelelangan.


Sekarang Huan Ran menggunakannya untuk membebaskan mereka semua dari Tuan Qiu.


"Kau tahu harga barang yang berharga, Tuan Qiu. Jadi, lepaskan mereka," ucap Huan Ran sekali lagi.


Tuan Qiu adalah orang yang sering melihat dan mendengar barang berharga. Dia adalah orang kaya yang suka menghambur uang untuk mengkoleksi benda-benda langka. Dan juga, semua orang tahu jika permata hitam adalah harta Kerajaan Li. Sehingga Tuan Qiu pasti tertarik dengan permata itu.


Permata hitam ini bahkan lebih berharga dari bangunan penginapan ini.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2