Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Ikatan 3: Yang Telah Pergi


__ADS_3


...Jika cinta bisa menghapus dirinya dari dunia ini, maka lebih baik tidak ada cinta di antara kami....


...*** Xiao System ***...


"Yi Hua!"


Suara panggilan itu membuat Yi Hua kembali memejamkan matanya. Hal itu karena dia berpikir bahwa dia memerlukan ketenangan. Akan tetapi, suara itu terus datang secara berulang-ulang. Hingga Yi Hua merasa seperti suara itu bergema.


Tentu saja itu dari Xiao!


Bahkan Yi Hua merasa lupa apa yang terjadi sebelumnya. Tepatnya sebelum ia kehilangan kesadaran. Ia hanya mengingat bahwa dia dibayar murah oleh Luo MeiYin, dan dia mengomel panjang lebar. Lalu, ...


Bukankah aku dikepung oleh Tentara Malam?


GRAK!


Yi Hua tahu bahwa dia bergerak dengan sangat cepat. Sehingga seluruh alat geraknya yang awalnya tengah beristirahat langsung mendapat kejut. Hal itu membuat Yi Hua merasa sakit di tengkuknya.


Namun ia yakin bahwa itu bukan hanya karena gerakan cepatnya. Tetapi juga ...


Dia baru saja dipukul!


"Aduh!"


Terdengar tarikan napas kasar dari Xiao. Entah bagaimana sistem itu melakukannya. Yi Hua bahkan tak mengerti darimana asalnya napas itu terdengar. Sebab, seingatnya Xiao bukanlah suatu entitas yang bisa disebut 'hidup'.


"Ku pikir kau akan terbangun ketika kau sudah mati nanti. Bukannya sangat menarik saat kau terbangun, dan ternyata roh milikmu sudah keluar dari raga?" tanya Xiao sarkas.


Yi Hua hanya bisa mengusap tengkuknya yang terasa sakit. Bagaimana pun dia dipukul cukup keras, dan ia tak bisa menyalahkan siapa-siapa tentang ini. Ini murni karena dia tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri sendiri.


Ketika ia membuka matanya, ia menyadari bahwa tangannya terikat begitu saja. Bukan dengan tali ataupun kain, itu lebih pada lingkaran sihir di sekitarnya. Sekali saja ia melihatnya, ia sudah tahu bahwa lawannya memang cukup kuat.


Dan, ... Seingat Yi Hua ia sudah membuka matanya, tetapi di sekitarnya masih terlihat gelap.


"Xiao, tolong hidupkan lilinnya," pinta Yi Hua karena matanya terasa sangat kebas akibat gelap.


Namun sebelum suara menyebalkan Xiao terdengar, suara yang dingin sampai ke pendengaran Yi Hua terlebih dahulu. Dan, Yi Hua tahu siapa yang berbicara. Apalagi mereka baru saja bertemu beberapa saat yang lalu.


"Ternyata Tuan Yi seperti yang diceritakan. Dengan siapakah kira-kira Anda berbicara?" Suara Rong Mingyu terdengar agar jauh dari yang Yi Hua duga.


Seperti mereka berada di tempat yang bersebrangan. Lebih dari segalanya, Yi Hua memerlukan cahaya saat ini. Lalu, tak lama itu terkabul ketika Yi Hua memikirkannya. Cahaya itu datang seperti cahaya kunang-kunang.


Entah mengapa cahaya itu terasa sedikit mengantisipasi. Sebab, Yi Hua pernah mendengar bahwa titik-titik cahaya itu seperti jiwa-jiwa yang berpedar untuk naik ke surga. Sehingga banyak yang mengaitkan kunang-kunang ini dengan kematian dan sebagainya. Entahlah.


Yi Hua hanya pernah mendengarnya, dan dia tak tahu kapan dia mendengarnya.


"Saya lebih penasaran dengan alasan mengapa Tuan Rong membawa saya kemari," jawab Yi Hua dengan senyum sombongnya. Ingat! Dia adalah Yi Hua.


Yi Hua menyesuaikan pandangannya, dan sosok Rong Mingyu tampak seperti warna yang berubah-ubah dalam genangan air. Ia tak tahu apa yang mempengaruhi pandangannya. Atau, mungkin dia masih pusing.


Rong Mingyu memerintahkan beberapa orang dengan pakaian serba hitam untuk menarik Yi Hua berdiri. Gerakan mereka sangat cepat, dan itu juga terasa menyakitkan untuk Yi Hua. Meski begitu, Yi Hua enggan untuk terlihat seperti orang lemah.

__ADS_1


Xiao, apa kau yakin bahwa aku tidak mudah mati itu benar?


Nyatanya, Yi Hua hanya menyembunyikan rasa takutnya dalam diam. Bagaimana pun dia merasa takut, tak ada yang bisa menyelamatkannya. Sehingga itu dinilai percuma.


Yi Hua jelas tak melawan ketika mereka menyeret tubuh kecilnya menuju ke sebuah tempat yang asing sekaligus akrab. Mengapa dia menyebutnya begitu?


Tentu saja Yi Hua mengenal tempat ini, karena dia baru saja datang ke tempat ini beberapa hari yang lalu. Lubang di hadapannya ialah lubang sumur tempat ia terjatuh. Akan tetapi, entah mengapa keadaannya kini agak berbeda. Lubang sumur itu terlihat seperti sangat kelam, dan terdengar suara seperti rintihan pedih.


Darimana suara itu bisa terdengar?


"Apakah kau ingat dengan ribuan tengkorak yang kau lihat di dalam sana?" tanya Rong Mingyu dengan wajah dinginnya.


Yi Hua melirik Rong Mingyu dengan sikap datar, semampu yang Yi Hua lakukan. "Jika saya tak salah menyebut, maka lubang sumur ini sebenarnya tempat 'pembuangan'."


"Kasar sekali."


Rong Mingyu mendekat ke arah Yi Hua. Dari sosoknya, Yi Hua menyadari bahwa pria ini memang sulit untuk diatasi. Ditambah lagi dia bukanlah seorang yang hanya berpengaruh di kerajaan, tetapi pria ini memiliki kemampuan.


"Akhir-akhir ini tak ada yang berani datang ke Lembah Debu karena fenomena alam yang ada di sana. Tepatnya setelah pembantaian yang dilakukan Shen Qibo. Orang-orang menyebut badai pasir di sini sebagai dendam yang berkeliaran. Akan tetapi, yang orang lain tak tahu ialah tempat ini memang dipenuhi oleh banyak kematian, bahkan sebelum Shen Qibo melakukan pembantaian," jelas Rong Mingyu tanpa diminta.


Yi Hua meringis ketika tangannya dicengkeram keras oleh orang-orang suruhan Rong Mingyu. "Itu karena Tentara Malam, yang dianggap selalu bekerja bersih, membuang semuanya ke dalam tempat yang tak terlihat."


Sayangnya, Rong Mingyu tak menyukai orang yang cerdas. Wajahnya semakin menjadi dingin.


Namun Yi Hua semakin menarik senyumnya. "Apakah saya bisa mengatakan bahwa karena badai di Lembah Debu itulah, makanya dalam sepuluh tahun terakhir ini Tentara Malam tak bisa menggunakan tempat 'pembuangan' ini?"


Jika seperti itu, Shen Qibo terlihat seperti orang yang menantang kerajaan. Seperti yang sudah ada, Lubang Sumur ini hanya diketahui oleh beberapa orang. Dan, Shen Qibo mengetahuinya, dan menghancurkan desa yang 'damai'. Padahal di dalamnya menyimpan banyak kematian. Sehingga seperti yang Yi Hua duga, Shen Qibo adalah orang yang menentang kerajaan.


Setidaknya Xiao masih sedikit berguna. Dia bahkan memberikan informasi yang sangat baik.


"Apakah kasus-kasus yang baru saja diselesaikan kerajaan memberi Anda ide, Tuan Rong? Emm ... Seperti menumbalkan jiwa orang hidup untuk menghidupkan 'sesuatu'?" sindir Yi Hua begitu saja.


Rong Mingyu menarik alisnya tak suka. "Sepertinya Tuan Yi memang seseorang yang pandai meramal."


Sebenarnya Yi Hua mengetahuinya tanpa menggunakan kekuatan apa-apa. Dia hanya menyimpulkan semuanya dari apa yang ia ketahui dari sekitar.


"Luo MeiYin ... Dia adalah hantu, bukan?" tanya Yi Hua yang bahkan bukan seperti pertanyaan. Itu adalah pernyataan.


Sepanjang Yi Hua membantu Luo MeiYin, Xiao memberikan banyak penjelasan. Semuanya adalah tentang sejarah dari 'mengapa Yi Hua menjadi peramal'? Padahal dia tak bisa meramal.


Awalnya Yi Hua merasa telinganya seperti mendapat sengatan karena suara menyebalkan Xiao. Namun lama-kelamaan dia merasa ada benang tak kasat mata yang muncul. Itu tentu saja bukan seperti ide bagaimana sapi bisa terbang. Ini lebih pada sesuatu yang terhubung, dan nama yang disebut oleh Xiao dalam omelannya.


"Yi Hua hanya beruntung karena bisa membantu penyelidikan kerajaan di masa kecilnya. Orang-orang berpikir bahwa dia bisa melihat jiwa dari sebuah keluarga bangsawan yang dibunuh oleh sekelompok bandit. Sehingga Yi Hua bisa menyebut dimana mayat mereka berada. Padahal nyatanya Yi Hua hanya sedikit beruntung, dan tanpa sengaja mendengar pembicaraan para bandit yang menjadi pelaku," jelas Xiao yang lelah sendiri karena terlalu banyak bicara.


Dahulu ...


Yi Hua hanyalah seonggok anak kecil yang terlalu jujur. Dia terbiasa bercerita pada ayahnya yang merupakan peramal gadungan pertama. Yah, nyatanya ayah Yi Hua juga tak bisa meramal. Buah tak muncul sangat jauh dari rantingnya.


Bukannya sedikit aneh jika di sekitar tanah itu ditanam pohon mangga, tetapi buah yang bertebaran di sana adalah buah durian?


Lebih logis dari segalanya ialah durian itu jatuh dari langit. Dan, jika tidak, maka seseorang mungkin membawanya ke sana. Simpelnya, sebab-akibat.


"Yi Hua yang sangat jujur itu mendengar bahwa salah satu bandit mengalami mimpi buruk. Ia bercerita bahwa dia didatangi oleh gadis bangsawan yang mereka bunuh. Lalu, dengan jujurnya Yi Hua bertanya pada ayahnya bagaimana cara menghilangkan mimpi buruk. Sehingga pembicaraan mereka berlanjut, hingga ayahnya yang agak licik itu mulai curiga dengan pembicaraan mereka. Dan, bertanya ... Ya ampun .... Kenapa aku harus menceritakan ulang cerita menyebalkan ini?" keluh Xiao yang malas sekali membahasnya.

__ADS_1


"Keluarga bangsawan yang terbunuh beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat Yi ... Maksud saya, ketika saya kecil. Itu adalah bangsawan yang cukup terkenal, yaitu keluarga Luo," ucap Yi Hua yang mengabaikan keluhan Xiao di telinganya.


Dasar! Bagaimana bisa Xiao menjadi tak berguna lagi hanya dalam beberapa detik?


"Bukankah terlalu ceroboh untuk menyebut seperti itu? Keluarga Luo bukan hanya MeiYin saja," balas Rong Mingyu lagi.


Itu jelas benar. Namun informasi dari Xiao sangat jelas. Sebab, Xiao bergerak berdasarkan ingatan Yi Hua. Itu adalah apa yang Yi Hua alami sendiri. Sehingga Xiao bisa menjabarkan dengan jelas dan rinci. Dan, itu memang Luo MeiYin.


Gadis itu sudah tewas beberapa tahun yang lalu. Dan, yang menemuinya hanyalah sisa jiwa Luo MeiYin yang berkeliaran. Tepatnya Rong Mingyu yang melakukan pemanggilan jiwa terlarang untuk itu.


Pria ini ... Dia bahkan melanggar banyak batasan kebatinan.


Yi Hua diam-diam merapatkan jari telunjuk dan tengahnya. Menyiapkan mantra untuk membela dirinya. "Namun saya seorang peramal, Tuan Rong. Saya bisa menyadari mana yang manusia, dan bukan."


Tentu saja Yi Hua berbohong. Xiao yang mengatakannya, dan Yi Hua hanya melanjutkannya saja. Xiao sejak awal menyebut bahwa Luo MeiYin tak bernapas. Dan, Yi Hua hanya melakukan penilaian untuk memastikannya.


Rong Mingyu memberikan perintah. "Berarti kau juga tahu ini apa?" Pria itu menunjukkan sebuah pecahan yang Yi Hua kenal.


Itu adalah pecahan Lingkaran Mawar.


Pertanyaannya ialah siapa yang memberikan Lingkaran Mawar ini pada Rong Mingyu?


Ingatlah bahwa pecahan tersebut bisa membuat 'kehidupan' di Lembah Debu. Jika Rong Mingyu memutuskan untuk melakukan percobaan pada pecahan itu, maka Yi Hua jelas adalah tumbal pertamanya. Oleh karena itu, mereka menuju ke sumur s*alan ini lagi!


Sepertinya Lingkaran Mawar itu memang tak seharusnya Puteri Li Wei ciptakan. Dalam beberapa hari ini, ada banyak masalah yang muncul hanya karena satu pecahannya. Bayangkan jika pecahan lainnya ditemukan, lalu Lingkaran Mawar menjadi utuh.


Bencana baru apa lagi yang akan muncul.


"Aku hanya tak ingin mengucapkan cinta padanya. Hanya agar jiwanya tak pernah menjadi tenang. Agar dia selalu mencari diriku, Tuan Yi."


Lihatlah! Ini orang gila yang muncul karena cinta -lagi!


"Jika cinta bisa menghapus dirinya dari dunia ini, maka lebih baik tidak ada cinta di antara kami," ucap Rong Mingyu sambil menggoreskan pecahan giok itu ke lengannya.


Darah yang mengalir dari goresan itu jatuh ke dalam sumur.


Hey! Apakah kemampuan 'Kembali Ke Awal' itu ada batasnya? Aku baru saja menggunakannya beberapa hari yang lalu!


Yi Hua hanya takut jika dia tak bisa kembali hidup saat jiwanya diamuk oleh lautan dendam di dalam tempat 'pembuangan' ini.


"Jika kerajaan tahu ..." ucap Yi Hua yang berusaha mencari jalan untuk selamat.


Rong Mingyu tersenyum tipis. Senyum yang sangat jarang ia keluarkan. "Maka, jangan biarkan kerajaan tahu."


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2