Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Pemilik Pedang Hitam


__ADS_3

Apakah Yi Hua sedang kerasukan mendiang sapi?


Dikiranya jatuh dari jurang itu seperti jatuh ke dalam air. Liu Xingsheng langsung berbalik hanya untuk mengguncang-guncangkan bahu Huan Ran. Ia berseru, "Katakan padaku bahwa zaman dahulu ada manusia yang masih bisa hidup, padahal sudah jatuh di dalam jurang."


Huan Ran mendorong dahi Liu Xingsheng dengan jengkel. "Meski pun memang ada kemungkinannya, tetapi ada juga cerita di zaman dulu bahwa seseorang pernah tenggelam di dalam pasir. Itu semua karena kau tak pernah tahu jika ada lubang bawah hingga menjadi pasir hidup."


Orang ini jelas paling tak bisa menenangkan perasaan orang lain!


Hal itu membuat Liu Xingsheng menengok ke dalam jurang itu lagi. Akan tetapi, dia memang tak bisa melihat apa-apa di dalamnya. Itu seperti jurang yang benar-benar dalam dan tersembunyi. Malah jika bukan karena badai pasir, mungkin tempat ini tak akan terlihat. Ini sama seperti ketika proses alam, dan lempeng bumi bergeser, lalu keadaan tanah berubah.


"Dia sebenarnya mungkin tak apa-apa," lanjut Huan Ran dengan nada kecil.


Terutama saat Huan Ran melihat ada satu sosok yang tak ada pada tempatnya. Ia ingin menjelaskan pada Liu Xingsheng, tetapi Perdana Menteri kiri itu terlalu fokus untuk mendoakan Yi Hua di pinggir jurang. Hal itu membuat Huan Ran sedikit jengkel, dan menarik kerah belakang dari Liu Xingsheng.


SRET!


"Hey, Kakak pikir aku ini sapi yang bisa diangkat di bagian belakang lehernya," ucap Liu Xingsheng yang berusaha memberontak.


Huan Ran mendadak merasa sangat tua sekarang. "Tidak ada sapi yang diangkat seperti kucing, Liu Xingsheng. Ayo kita kembali bekerja."


"Yi Hua ..."


Helaan napas Huan Ran membuat Liu Xingsheng menengok ke arahnya. Lalu, Huan Ran menyebut kembali. "Lagipula, ada orang lain yang tak akan membiarkannya mati."


HUH?


"Saat ini kita harus mengatasi apa yang bisa kita atasi," ujar Huan Ran sambil menarik paksa Liu Xingsheng untuk mengikutinya.


***


BRUK!


Nah! Baru saja aku berlagak hebat dengan melompat, tetapi aku lupa bahwa aku bukanlah burung.


Jelas saja Yi Hua akan mendarat di tanah berpasir tanpa bisa mengambang di udara. Itu adalah hal lumrah yang harusnya Yi Hua ingat. Padahal Yi Hua sudah menggunakan kertas-kertas jimatnya yang ia terbangkan untuk memperlambat jatuh. Meski begitu ia sering lupa bahwa dirinya adalah manusia yang tak punya kekuatan untuk terbang. Ditambah lagi dengan lubang ini yang ternyata cukup dalam. Yi Hua tak punya tenaga untuk menahan laju jatuhnya sendiri.


Menyedihkan.


Sayangnya dia sudah terbawa suasana, dan ingin bertingkah layaknya sapi yang bisa terbang.


Xiao menyeletuk seperti biasanya. "Seingatku sapi tak bisa terbang, HuaHua. Jangan membuat fenomena baru yang tak bisa kau pertanggung jawabkan kebenarannya."


Yi Hua berusaha bangkit dari duduknya. Tangannya masih menekan pinggangnya yang sakit, tetapi bibirnya membalas ucapan Xiao. "Hey, kau tahu apa itu terbang? Jika sesuatu mengambang di udara, meski di waktu yang singkat sekali pun, namanya juga terbang. Contohnya seperti aku melempar anak sapi padamu, saat dia terlempar dia akan bertahan beberapa saat di udara. Maka fenomena itu akan terjadi," bantah Yi Hua langsung.


Ia menyadari bahwa penutup kepalanya terjatuh. Oleh karena itu, ia menengok ke sana-sini dengan pencahayaan yang kurang untuk menemukan kembali penutup kepalanya. Saat itu ia melihat penutup kepalanya yang terlempar agak jauh darinya. Mungkin saja angin membawa penutup kepalanya menjauh.


"Aneh sekali! Mengapa aku berbicara tentang ini denganmu, HuaHua? Apakah otakmu mulai tergeser lagi karena jengkel dengan Wang Zeming?" sindir Xiao.


"Terkadang kau harus berpikir sesuatu yang mustahil bisa terjadi hanya agar tak terkejut saat itu benar-benar terjadi," ujar Yi Hua sambil memasang kembali penutup kepalanya.


Yi Hua menghidupkan kembali kertas jimatnya. Sebenarnya Yi Hua masih mengingat tentang tulisan sandi di dinding lubang bawah tanah. Ia hanya berpikir jika dia akan menemukan sesuatu yang lain jika ia menelusuri dinding bawah tanah itu. Ketika ia membersihkan permukaan dinding dengan tangannya ia menyadari jika memang dinding bawah tanah ini bukanlah hanya sekadar dinding.


Tepatnya saat kau menyebut semua orang tentara malam tinggal di tempat ini, maka kau bisa mengatakan semua hal harus rahasia. Termasuk dengan dinding buatan yang jelas dipoles dengan baik.


SRAT!


Mungkin Yi Hua bisa menemukan hal lain di tempat ini, dan misalnya ...


"Peramal pendek."


Peramal pendek katanya? Aku ini masih dalam masa pertumbuhan!


Baru saja Yi Hua ingin membaca tulisan dan menelusuri gambar di bagian dinding, suara menyebalkan itu menyeruak ke telinganya. Ditambah lagi dengan panggilannya yang membuat Yi Hua ingin menendang kepala sosok itu. Meski begitu, Yi Hua ingat bahwa dia berada di pihak musuh dengan pria ini. Sehingga ia harus tetap waspada ketika keberadaannya berada dalam jarak dekat.


"Xiao, apakah dia masih bisa menjadi monster seperti sebelumnya?" tanya Yi Hua untuk memastikan tentang adanya kekuatan buruk itu di dalam tubuh Yue Yan. Tentu saja dia bertanya di dalam hati.

__ADS_1


Xiao langsung menjawab. "Seperti yang aku katakan sebelumnya. Shen Qibo sudah menarik habis kekuatannya. Itu sama seperti yang sering Hua Yifeng lakukan. Kau sudah merasakan bukan ketika kekuatanmu meluruh?" tanya Xiao yang langsung memberikan contoh nyatanya pada Yi Hua.


Yi Hua mengerutkan keningnya. "Tapi aku tak melihat Shen Qibo mencium, Yue Yan! Bukankah itu metode untuk menarik kekuatan dari dalam tubuh?" tanya Yi Hua yang menimbang-menimbang tentang pengalaman pribadi.


Jika bukan karena Yi Hua tak sayang nyawa, maka dia tak akan mau ditarik kekuatannya oleh Hua Yifeng. Bahkan ... Yi Hua ingin menggaruk dinding dan menangis seperti sapi kurang kasih sayang. Yi Hua mulai berpikir yang gaib-gaib dan sedikit negatif. Aura-auranya mulai terasa tak nyaman.


"Itulah mengapa aku mengatakan jika kau harus bermain agak jauh, HuaHua! Bukannya aneh kau mencium orang secara acak hanya karena ingin menarik kekuatannya? Eh ... Ciuman? Hua Yifeng mencium dirimu?" tanya Xiao yang heboh sendiri.


S*alan! Jadi, selama ini pria itu hanya memakan tahu*.


^^^*Makan tahu itu istilahnya seperti mengambil keuntungan gitu. Jadi, sebenarnya Yi Hua itu baru tahu jika transfer kekuatan bisa dengan via sentuhan. ^^^


Apalagi selama Hua Yifeng di sekitar Yi Hua, maka Xiao tak akan aktif. Hal itu membuat Xiao tak tahu apa yang dilakukan Hua Yifeng, dan Yi Hua tak bisa mengajukan pertanyaan padanya. Meski begitu, Yi Hua merasa ingin menendang kepala Hua Yifeng jika dia berani muncul sekarang.


"Jadi, memindahkan kekuatan itu syaratnya harus menyentuh. Itu saja! Tidak harus melalui ..." Yi Hua tak sanggup meneruskan ucapannya sendiri. Ia bahkan tanpa sadar berbicara dengan lantang.


Hal itu membuat Yue Yan ingin menepuk dahi Yi Hua. Mungkin saja peramal kecil kurang kerjaan ini sedang kerasukan. Bahkan Yi Hua berbicara sendiri di depannya.


"Kau bicara dengan siapa?" tanya Yue Yan pada akhirnya.


Yi Hua menggaruk kepalanya yang gatal. "Ah ... Anggap saja aku sedang bicara pada angin."


Setelah semua ini, Yi Hua tindakan apa yang akan dilakukan oleh Yue Yan setelah ini. Ditambah lagi Yue Yan telah mencapai apa yang diinginkannya. Pria ini telah berhasil membunuh Shen Qibo.


Yah, Yue Yan mungkin seseorang yang paling menyedihkan, sebab dia membunuh seorang sahabat yang paling perduli padanya. Dan, yang menyedihkan lagi ialah Yue Yan tak pernah tahu pengorbanan yang diberikan oleh Shen Qibo.


"Apa yang Anda akan lakukan setelah ini? Masih akan menjadi pembunuh di Lembah Debu?" tanya Yi Hua berbasa-basi. Bukan karena dia ingin tahu, tetapi dia hanya bingung untuk memulai pembicaraan dengan Yue Yan.


Mereka sebelumnya tidak dalam kondisi 'baik' untuk saling bertukar cerita. Jika bertukar pukulan memang Yi Hua pernah melakukannya dengan Yue Yan.


"Shen Qibo ... Dia memintaku untuk berhenti. Namun aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan jika aku berhenti ..." ujar Yue Yan dengan nada bingung.


Ini sama seperti kau bertanya tentang apa yang ingin kau lakukan ke depannya. Saat kau tak tahu apa yang bisa kau lakukan, maka akan benar-benar bingung. Katanya, seseorang yang hidup tanpa tahu akan tujuan yang ingin dicapainya, maka hidupnya akan seperti bulu sapi di antara bulu domba. Berbeda.


"Yi Hua, apa kau tahu apa yang dikatakan oleh Shen Qibo sebelum kematiannya?" tanya Yue Yan, padahal Yi Hua tak sama sekali bertanya tentang ini.


Huh?


Kenapa tak ada angin, tak ada hujan, serta petir yang menggelegar, tetapi ucapan terima kasih ini muncul. Sehingga Yi Hua mulai mempertanyakan mengapa mereka bisa mulai berbicara seperti ini?


"Dia mengatakan padaku "terima kasih"," lanjut Yue Yan lagi.


Yi Hua tak mengatakan apa-apa lagi.


"Kemudian, aku melihat kenangan aneh ketika itu. Aku pikir bagaimana bisa aku melihat sesuatu yang belum pernah aku perbuat. Atau, aku mungkin melihat kenangan dari orang lain?" tanya Yue Yan yang sepertinya memang memerlukan tempat untuk bercerita.


Yi Hua mengerutkan keningnya. "Apa maksud Anda dengan kenangan dari orang lain?"


"Entahlah. Aku sendiri tak tahu. Aku hanya melihat seorang gadis yang berdiri di antara percikan darah. Dia sangat cantik seperti mawar, tetapi matanya terlihat mati dan tak ada senyum di sana. Kemudian ..." Yue Yan terlihat tak yakin lagi.


Yue Yan yang mengawali, pria itu juga yang mengakhiri. Pada akhirnya Yue Yan menggelengkan kepalanya. "Sudahlah. Bagaimana mungkin ada orang lain yang membantai selain Shen Qibo," ucap Yue Yan dengan nada bingung.


Tanpa menunggu jawaban dari Yi Hua, Yue Yan melompat untuk naik ke atas. Sepertinya Yue Yan datang bukan untuk menyelamatkan Yi Hua. Mungkin dia datang hanya untuk bertanya. Yah, sejatinya Yue Yan tak begitu perduli pada Yi Hua.


Namun yang membekas dalam ingatan Yi Hua ialah apa yang Yue Yan ceritakan. Ini bukan perkara tentang penglihatan semacam itu yang bisa Yue Yan lihat. Itu bukan hal yang aneh jika Yue Yan dapat melihat kenangan dari Shen Qibo, terutama saat Shen Qibo tengah menarik kekuatan buruk darinya.


Hanya saja ...


Seorang gadis di antara percikan darah. Yi Hua juga melihat kenangan yang hampir sama. Itu adalah apa yang Yi Hua lihat juga saat masuk dalam ingatan Shen Qibo. Awalnya ia berpikir jika itu hanya bagian dari kenangan Shen Qibo. Mungkin pria itu melihat seorang gadis cantik di Lembah Debu, dan membantainya.


Yah, mungkin hanya seperti itu.


Namun ... Yi Hua melirik tangannya sendiri. Masih sangat segar di ingatannya tentang lumuran darah yang ada di tangannya.


Sebenarnya ...

__ADS_1


"Apa aku termasuk orang yang dibantai oleh Shen Qibo di kota, Xiao?" tanya Yi Hua pada akhirnya.


Dan, di kota yang sama ia melihat Hua Yifeng yang menatap dengan tatapan kosong. Itu adalah ingatan yang aneh. Hanya saja ia dapat menyimpulkan jika dirinya di masa lalu memang mengenal Hua Yifeng.


"Aku tak bisa mengatakan banyak padamu karena itu melanggar ketentuanku. Tetapi, apa yang ada di kepalamu itu tidak benar. Kau bukan salah satu jiwa yang mati di Lembah Debu," jawab Xiao dengan cepat. Namun tak ada keraguan dalam suaranya.


Huh?


Bisakah Yi Hua diberitahu sedikit saja tentang hidupnya ini? Dia selalu berputar-putar pada pertanyaan tentang siapa dirinya sendiri.


Akan tetapi, ... Hua Yifeng ada di pembantaian itu.


Tolong berikan aku istirahat! Aku merasa ingin menyerah saat mengumpulkan semua ingatan aneh ini.


Ia seperti memiliki jenis kehidupan yang panjang dan lebar. Itu cukup mengganggu, ditambah lagi dengan sistem yang sangat pelit informasi. Meski begitu, Yi Hua juga tak bisa bertanya pada Hua Yifeng.


Mendadak Yi Hua terdiam. Ini bukan berarti dia tak bisa bertanya.


Sebab, ...


SRET!


TAK!


Tangan Yi Hua yang menuju leher pria itu terhenti hanya di jarak yang sangat dekat. Akan tetapi, pria itu tak bergerak dari tempatnya. Jika Yi Hua tak menghentikan tangannya sendiri, mungkin tangannya akan segera memukul pada kerongkongan pria itu.


Atau ... Pria itu tahu jika Yi Hua hanya menggeretak?


Akan tetapi, ...


Yi Hua bisa melihat senyum di wajah pria itu. Hal itu membuat Yi Hua menarik pedang yang terselip di bagian pinggang pria itu. Lalu, mengambilnya. Seperti biasanya.


"Apakah bermain-main denganku menjadi sangat menyenangkan?" tanya Yi Hua dengan tatapan tajamnya.


Seperti yang Yi Hua katakan. Dia sangat tak suka dibohongi. Bahkan oleh pria ini sekalipun. Meski dengan liciknya pria ini menyelipkan sebuah 'cangkang' untuk mengintai hidup Yi Hua.


Yi Hua mengarahkan pedang yang didominasi oleh warna hitam itu menuju ke leher An. Bahkan Yi Hua bisa melihat aliran darah hitam yang mengalir dari sana. Ia mulai mempertanyakan tentang pemikirannya.


Sebab, sebuah cangkang manusia tak akan memiliki darah?


Akan tetapi, ...


SRET!


Yi Hua melihat tangan kokoh pria itu menuju ke arah mata pedang yang Yi Hua arahkan. Yi Hua hanya mewaspadai jikalau pria ini ingin melawannya. Akan tetapi, nyatanya pria itu hanya mengusap mata pedang yang mengalirkan darah hitam miliknya.


"Aku tak pernah bermain-main, Yi Hua," ucap pria itu dan kali ini dengan rupanya yang sebenarnya.



Sejak awal seorang iblis kehancuran tak akan kesulitan untuk menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya. Bahkan jika iblis yang ditakuti oleh Kerajaan Li ini berbaur di istana. Yi Hua yakin jika pria ini menertawakan setiap tindakan kerajaan untuk membasminya. Padahal nyatanya ia sudah mengetahui segalanya. Sebab, dia memang selalu ada di dalam istana. Bahkan menjadi bagian penting dan sangat dekat dengan Raja Li Shen.


"Apakah Anda akan membunuh saya ketika membongkar kedok Anda, Tuan An? Atau ..." Yi Hua semakin menekan pedang hitam milik pria itu ke leher pemiliknya sendiri.


"Perlukah saya memanggil Anda Iblis Kehancuran, Hua Yifeng," ujar Yi Hua sambil mempersiapkan beberapa kertas jimat di dalam sakunya.


Pedang yang dapat melukai manusia, hantu, dan bahkan seorang Dewa. Sebuah pedang yang sangat berbahaya. Sejak awal pedang hitam ini jelas tak dimiliki oleh banyak orang. Sebab, dalam sejarah pun menyebut pedang hitam yang kejam ini hanya dimiliki oleh satu orang. Bahkan gantungan unik yang selalu melekat di pedang ini pun sama.


Pedang Li Wei jelas hanya dimiliki oleh satu orang.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2