
..."Suatu saat salah satu dari kalian akan menjadi kehancuran bagi pihak lainnya. Itulah mengapa lebih baik sejak awal kalian tak pernah bertemu."...
Hua Yifeng, "Seandainya aku tak lemah, mungkin kau tak perlu berkorban untuk siapapun. Jika suatu nanti kau terlahir kembali, lupakan tentang aku. Karena takdir hidupku yang menghancurkan hidupmu."
Mungkin itulah mengapa setiap kelahiran kembali seseorang tak akan mengingat tentang kehidupan sebelumnya. Karena semuanya terlalu menyakitkan untuk ditanggung."
...***...
Li Wei terbangun ketika mendengar keramaian di sekitarnya. Hal tersebut yang membuat ia menyadari jika ia tak sendirian. Ketika ia membuka mata ia telah berada di tengah orang banyak. Entah mengapa ini terjadi.
Pernahkah kau berpikir mengapa semua hal buruk bisa menimpamu?
"Putri Li Wei."
Tatapan Li Wei mengarah pada Raja Xin Wantang yang duduk di kursinya yang memuakkan. Di sebelahnya berdiri Liu Shang dan itu bisa mengubah banyak keadaan. Jika Liu Shang tak ada di sana, mungkin sangat mudah bagi Raja Xin Wantang ditendang dari kursinya.
Sejatinya, Raja Xin Wantang tak begitu hebat.
Dan ... ZHANG YUWEN?!
KRAK!
Sesaat Li Wei tertarik kembali ke sebuah tiang setelah ia mencoba untuk mencari Zhang Yuwen. Di sana ia menyadari jika ada rantai tipis yang mengikat tangannya. Hal tersebut yang membuat keributan, karena Li Wei berusaha untuk melepaskan rantai besi itu dari tangannya.
"Di mana Zhang Yuwen?" tanya Li Wei marah.
Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Zhang Yuwen mati. Entah bagaimana mereka memperlakukan mayat Zhang Yuwen. Memikirkannya saja membuat Li Wei ingin membunuh Xin Wantang sekarang juga.
Yah, sayangnya itu tak semudah yang Li Wei pikirkan. Apalagi dengan Liu Shang yang mengawal Xin Wantang.
"Aku hanya mengumpulkan pria itu bersama rekan-rekannya. Kau pasti tahu di mana semua orang terdekatmu berkumpul," ucap Xin Wantang yang sarat akan ejekan.
Baj*ngan!
Bahkan tak ada yang memberi mereka penghormatan terakhir di kala ajal menjemput mereka. Mereka dikumpulkan seperti koleksi atau sejarah kemenangan Xin Wantang. Dengan begitu Xin Wantang akan merasa bangga dengan orang-orang yang dihancurkannya.
Li Wei tahu Xin Wantang ini tak hanya serakah, tetapi gila. Ia sakit mental dan menyukai penderitaan orang lain.
KRAK!
Li Wei berusaha melepaskan diri dari rantai besi itu agar ia bisa mendekat pada Xin Wantang. Ia ingin membunuh pria itu sekarang juga. Akan tetapi, dengan kurang ajarnya pria itu tertawa kencang. Seolah Li Wei adalah pertunjukkan paling menarik yang pernah ada.
"Mari bersikap baik, Putri Li Wei. Aku di sini ingin menawarkan sebuah perjanjian," ucap Raja Xin Wantang dengan senyuman lebar seperti sapi.
Li Wei mengeram, tetapi ia tak bisa berteriak. Meski sebanyak apa kemarahan di dalam dadanya. Ia hanya bisa merasa sesak karena kemarahan itu. Sayangnya ... Ia tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Apa maksud Yang Mulia Raja Xin dengan perjanjian?" tanya Li Wei yang sebenarnya tak berniat bernegosiasi.
Ia sangat tahu jika Raja Xin Wantang cukup cerdas untuk membuat banyak keributan lebih banyak lagi. Li Wei pernah mendengar bahwa Raja Xin Wantang juga bernegosiasi dengan Pangeran Li Jun. Akan tetapi, Pangeran Li Jun memilih mati daripada bersekutu dengan Raja Xin Wantang.
Mengapa Raja Xin Wantang tak memilih untuk mengambil wilayah Kerajaan Li untuk disatukan dengan Kerajaan Xin?
Ini karena penyakit batu yang aneh itu. Tidak ada obat yang jelas. Tak diketahui penyebabnya. Sehingga Raja Xin Wantang tak bisa melakukan apa-apa.
Namun mereka masih sangat percaya jika Li Wei memiliki 'obat' untuk mengatasi penyakit batu ini.
"Tapi kita masih kurang anggota saat ini, Putri Li Wei. Ini tak menarik. Aku ingin mengadakan pertemuan seperti yang biasanya Kerajaan Li lakukan. Yah, Pengadilan Tinggi," ucap Xin Wantang yang berdiri dari duduknya.
Pada awalnya Li Wei tak mengerti dengan apa yang terjadi. Akan tetapi, ketika sosok kecil masuk ke dalam ruangan itu Li Wei langsung terpaku. Ia bergerak marah dan berusaha melepaskan diri, tetapi rantai itu tak terlepas. Malah melukai pergelangan tangan Li Wei hingga darahnya mengalir memenuhi telapak tangannya sendiri.
Ini salahku! Aku meninggalkannya di sana sendirian.
Pada akhirnya Li Wei tak membantu siapapun. Bahkan ia kehilangan Wei Wuxie yang saat itu bersamanya. Ia tak bisa menolong Zhang Yuwen. Sekarang ia juga tak bisa melindungi Li Shen.
"Kau punya urusan dengan aku! Bukan dengan Adikku, S*alan! Lepaskan Li Shen," teriak Li Wei dengan keras. Di kala itu Li Wei menyadari jika suaranya serak.
Akan tetapi, Li Shen terlihat cukup tenang meski berada di tangan musuh. Anak kecil itu dipaksa untuk duduk di lantai, dengan meja kecil di depannya. Posisi saat ini ialah seperti di Pengadilan Tinggi. Meja-meja lain diisi oleh orang-orang Kerajaan Xin yang Li Wei tak kenal.
Mereka bertindak seolah istana Kerajaan Li ini merupakan tempat mereka.
SREK!
Baru saja keterkejutan Li Wei sedikit teratasi, ia kembali terkejut ketika seseorang masuk lagi ke dalam ruangan ini. Meski Li Wei sudah tahu tentang Li Jun yang berada di tangan mereka, tetapi Li Wei terkejut ketika melihat sosok Li Jun sekarang.
Di depan sana hanya seorang pria dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang ingin kau lakukan, Xin Wantang? Jika kau punya urusan tentang kerajaan ini, maka kau perlu bicara padaku. Bukan pada Li Wei dan Li Shen. Apa kau sudah kehilangan semua kekuatanmu hingga harus melibatkan seorang gadis dan anak kecil?" ucap Li Jun tajam.
Xin Wantang yang punya wajah setebal meja tak akan mudah malu dengan apapun yang Li Jun katakan. Bagaimana pun Xin Wantang memiliki sesuatu yang sangat penting yang perlu mereka bicarakan. Terutama saat Li Wei mungkin adalah seseorang yang menyimpan rahasia ini.
"Kerajaan Li sangat kaya dengan orang-orang yang berbakat. Bahkan ada banyak hal menarik di Kerajaan Li, yang sayangnya tak ingin dibagi," jelas Xin Wantang sambil mengangkat mangkuk teh miliknya.
"Silahkan diminum," perintah Xin Wantang pada orang-orang di sekitarnya.
Lalu, mereka semua bertindak seolah mereka tengah dalam pertemuan biasa.
"Sudah aku katakan padamu. Hal seperti itu tak pernah ada di Kerajaan Li," jawab Li Jun pelan.
Sejatinya Li Wei tak begitu mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
SRET!
Liu Shang memaksa Li Jun untuk berlutut di lantai. Li Wei bisa melihat rahang Li Jun yang mengeras ketika dipaksa untuk berlutut. Bagaimana pun Li Jun adalah orang yang begitu tinggi harga dirinya, sehingga ini semua adalah bentuk penghinaan.
__ADS_1
"Sssttt ... Jangan memutuskan langsung, Pangeran. Bukankah Putri Li Wei yang luar biasa ini juga perlu ditanya? Tentu saja semua kemampuan Putri Li Wei perlu dipertanyakan darimana sumbernya," jelas Xin Wantang sambil membuat pola lingkaran di atas meja.
"Apa maksudmu dengan kemampuan?" tanya Li Wei yang tak paham sedikit pun.
Xin Wantang berseru dengan semangat. "Mari kita kembali pada sejarah Kerajaan Li sekitar seratus tahun yang lalu ..."
"Sebentar ... Aku saja belum hidup kala itu, bagaimana bisa semuanya di mulai dari cerita itu?" tanya Li Wei yang tak segan lagi memotong.
Ini jelas bukan situasi di mana mereka bisa bercerita dengan sejarah.
SRAK!
Li Wei meringis ketika seorang prajurit menarik ujung rantai yang terhubung dengan ikatan Li Wei. Hal itu membuat gesekan di tali rantai dan mengenai luka Li Wei. Sepertinya pembicaraan ini tak akan berjalan mudah.
Apalagi dengan keluarga Kerajaan Li yang punya kemampuan menyindir di atas rata-rata.
"Putri Hitam Li Wei."
Li Wei menatap Xin Wantang tak mengerti ketika pria itu mengatakan sesuatu yang sama sekali tak Li Wei pahami. Bagaimana bisa ia menyebut Putri Hitam Li Wei tanpa ada angin atau hujan. Sejak kapan ucapan itu terdengar.
"Siapa yang menyangka jika orang secantik ini bisa membunuh dengan sangat kejam. Siapa saja yang mendapat sumpah darinya akan mati, siapapun itu," ujar Xin Wantang dengan semangat.
Sebenarnya mereka sedang berbicara apa?
Li Jun menatap marah pada Xin Wantang. "Bagaimana bisa mulutmu menjadi begitu busuk? Li Wei tak mungkin melakukan hal seperti itu!"
"Pangeran Li Chen ... Prajurit ku menemukan Pangeran itu dengan cara yang sangat mengenaskan. Ada lubang besar di dadanya seperti dicabik oleh binatang buas."
DEG!
Li Wei tak akan pernah melupakan hal yang mengerikan itu. Masih segar di ingatan Li Wei tentang pecikan darah Li Chen di kala itu. Meski Li Chen berniat untuk membunuh Li Wei, tetapi Li Wei tak berharap jika Li Chen akan mati seperti itu.
Dan, Hua Yifeng adalah orang yang membunuhnya.
Melihat wajah Li Wei yang pucat, Li Jun bertanya dengan keras. "Apa maksudnya Li Wei? Bagaimana bisa Li Chen mati?" tanya Li Jun keras.
Sebab, tak ada yang tahu tentang kematian Li Chen. Saat itu hanya ada Li Wei yang katanya kembali bersama Li Chen. Jika ditanya tentang para prajuritnya pun sudah tewas dibunuh Hua Yifeng. Sehingga satu-satunya saksi yang tersisa adalah Li Wei.
"Li Wei," tatapan Li Jun terlihat tak percaya. Bagaimana pun bagaimana bisa hanya dalam beberapa hari ia berpikir adik-adiknya berhasil melarikan diri (hal ini didengar dari prajurit bahwa tidak ada pangeran atau putri lagi di istana), tetapi nyatanya kematian yang ia dengar.
"Dia ... Mati," bisik Li Wei sambil menundukkan kepalanya.
Hanya itu yang bisa Li Wei katakan.
***
Selamat membaca 😉
__ADS_1
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~