
PLAK!
Tanpa sadar Li Wei mengarahkan tangannya menuju kepala Zhang Yuwen. Hal tersebut tentu saja menimbulkan protes dari Zhang Yuwen. Pria itu segera berdiri dari duduknya untuk menjauh dari tangan Li Wei yang seperti pukulan bandit.
"Mengapa Putri tak memukul meja saja jika marah?" ucap Zhang Yuwen sambil mengusap kepalanya dengan tangan kanan.
Sedangkan tangannya yang lain Zhang Yuwen alihkan untuk membawa Bao Tian mendekat padanya. Gadis kecil itu terlihat sangat patuh dengan Zhang Yuwen. Sehingga Li Wei tak bisa mengatakan jika Zhang Yuwen mungkin sudah menculik anak ini.
Tapi, ...
"Aku terlalu terkejut hingga harus memastikan ini bukan mimpi," terang Li Wei yang berhasil mempertahankan ketenangannya.
Zhang Yuwen mulai kesal, "Jika memang ingin menyadarkan diri mengapa tak memukul kepala Putri sendiri?"
Aku memang ingin memukul kepalamu!
Biasanya jika orang lain ingin tahu dia di alam mimpi atau tidak ialah melalui tes fisik. Seperti mencubit pipi sendiri dan sebagainya. Namun Li Wei memilih jalan lain, yaitu dengan memukul pada Zhang Yuwen.
Pasti Li Wei memiliki dendam terselubung pada Zhang Yuwen. Pasti! Kalau tidak di kehidupan ini, pasti di kehidupan lalu.
Baiklah mari abaikan pikiran gaib Zhang Yuwen itu.
Kembali lagi pada Li Wei yang tengah mengusap dahinya sendiri. Pusing. "Jadi, siapa ibu anak ini?"
"Entahlah."
Li Wei mendadak ingin mencakar Zhang Yuwen saat pria itu menjawab dengan mudah. Jika saja Bao Tian tak ada di sini, mungkin Li Wei akan menggelindingkan Zhang Yuwen ke kolam. Sangat mengesalkan saat Zhang Yuwen ini seperti tak berniat untuk menjawabnya.
Akan tetapi, Zhang Yuwen segera memperbaiki jawabannya. "Maksud saya adalah saya memang tak tahu, Putri. Saat saya keluar dari kediaman, saya melihat anak ini berdiri di depan pintu. Ada surat di tangannya yang mengatakan bahwa 'ibu' anak ini sudah melahirkan anak saya, dan wanita itu juga menyuruh untuk membesarkannya."
Huh? Adakah cerita yang lebih konyol lagi dibanding cerita Zhang Yuwen?
"Lalu, kau percaya? Kenapa kau tak bertanya pada Bao Tian tentang ibunya?" tanya Li Wei sambil mengawasi wajah Bao Tian.
Gadis kecil itu menarik senyum tipis ketika Li Wei menatapnya. Hal itu membuat Li Wei ingin menjauhkan anak ini dari Zhang Yuwen. Bagaimana mungkin anak semanis ini bisa menjadi anak Zhang Yuwen. Juga, Zhang Yuwen juga tak ingat dengan siapa dia 'membuat' anak ini.
Parah sekali.
"Dia tak bisa bicara. Percaya atau tidak, Bao Tian perlu orang yang menjaganya," jawab Zhang Yuwen pelan. Ada kepiluan dari suara Zhang Yuwen.
Li Wei mendadak ingin menampar mulutnya sendiri.
Bao Tian terlihat berusia sekitar 7 tahun atau lebih. Di usia itu pasti sudah cukup bagi anak untuk berbicara. Lain halnya dengan Bao Tian ini ... Dari apa yang Li Wei pahami, anak ini mungkin hidup kurang baik. Bahkan ia memiliki kelainan, yang entah memang bawaan sejak lahir atau karena lingkungan di sekitarnya.
Entahlah.
Meski Zhang Yuwen terkadang agak sinting, tetapi itu tak berarti dia selalu sinting. Bahkan sesekali Zhang Yuwen cukup rasional. Pria ini bahkan menjaga Bao Tian dengan cukup baik. Itulah mengapa gadis kecil ini tak terlihat takut dengan Zhang Yuwen.
"Siapa saja yang mengetahui tentang anak ini?"
Zhang Yuwen tampak berpikir, "Semua keluarga Zhang sudah tahu. Juga, Wei Wuxie."
Lihatlah! Kedua temannya ini sangat pandai menjaga rahasia sendiri, tetapi rahasia orang lainnya mudah diumbar. Apalagi Zhang Yuwen.
"Sudahlah. Lebih penting dari segalanya ialah tentang Pohon Iblis. Jika memang benar ada keturunan 'unik' seperti klan Bao ini, mungkin Pohon Iblis juga benar-benar ada," ucap Zhang Yuwen sambil menghela napasnya pelan.
Li Wei mendadak berpikir, "Jika anak ini memiliki darah klan Bao, berarti ibunya juga ..."
Eh? Mengapa Zhang Yuwen yang unik ini tak pernah memikirkannya?
"Jika pun wanita itu memang klan Bao, saya yakin hidupnya tak akan lama. Saya pun baru mengetahui jika anak ini dari klan Bao dari buku yang dibaca Wei Wuxie di Perpustakaan Awan. Saya hanya merasa aneh saat Bao Tian menyembuhkan luka di tanganku dahulu," ucap Zhang Yuwen tanpa perasaan.
Bagaimana pun ia tak ingat tentang ibu dari Bao Tian ini.
Meski begitu, memang takdir klan Bao yang memang tak berumur panjang. Mereka diberi kelebihan dalam kekuatan yang tinggi, darah yang bisa menakuti hewan buas, dan kemampuannya mengendalikan Pohon Iblis. Katanya, Pohon Iblis adalah pusat semua masalah.
Ini seperti setiap apa yang kau minta pada Pohon Iblis. Baik buruk atau baik, semuanya bisa terjadi jika Pohon Iblis bisa dikendalikan. Itulah mengapa jika Pohon Iblis tak bisa dikendalikan, dan rusak maka semua sifat buruk dan keinginan manusia akan terjadi.
Kau tahu saja, keinginan manusia tak semuanya baik.
Li Wei berkata dengan serius, "Apakah kau berniat mencari Pohon Iblis?" tanya Li Wei.
Jika Zhang Yuwen memang berniat mencari, pria ini mungkin hanya ingin memanfaatkan kemampuan Bao Tian. Beruntung Zhang Yuwen menggelengkan kepalanya dengan malas. "Apa Putri tahu mengapa klan Bao itu tak berusia panjang?"
Bukannya menjawab Zhang Yuwen malah bertanya padanya. Dan, Li Wei hanya menggelengkan kepalanya. Jujur ia tak mengetahui apa-apa tentang klan Bao. Walau ia sudah mencurigai Hua sebagai salah satu keturunan klan Bao.
"Karena setiap kali ia menggunakan darahnya, itu bukanlah untuk menyembuhkan. Melainkan seperti mereka memindahkan 'usia' mereka pada orang lain. Semakin besar luka yang berusaha mereka sembuhkan, semakin banyak usia mereka yang dimakan," jelas Zhang Yuwen muram.
__ADS_1
Itu bukanlah kelebihan, tetapi kutukan untuk klan Bao sendiri.
Jika seperti itu ... Hua ... Jika dia adalah anggota klan Bao, apa pria itu akan mati?
Mendadak Li Wei merasa buruk di harinya.
"Menurut buku yang ada di perpustakaan, Pohon Iblis memberi kekuatan pada klan Bao. Apakah itu untuk memperpanjang usia?" tanya Li Wei yang entah mengapa tak meminta jawaban.
Ini adalah hal yang agak di luar nalar Li Wei sebagai manusia.
Zhang Yuwen menghela napas. "Tampaknya, berdasarkan jumlah kematian mereka, kita bisa tahu menjadi klan Bao bukan berarti bisa mengendalikan Pohon Iblis. Buktinya tak ada yang panjang umur dari klan Bao terdahulu."
Benar. Pohon Iblis memilih pemiliknya sendiri.
Dari sana Li Wei bisa melihat keraguan di wajah Zhang Yuwen. Tak perlu ditanya lagi tentang perasaan Zhang Yuwen, pria ini menyayangi Bao Tian. Jika memang gadis kecil ini tak akan panjang umur, maka Zhang Yuwen akan kehilangannya.
"Yuwen, anak ini ..."
Zhang Yuwen mendengarkan Li Wei dengan serius.
"Jangan sampai ada yang tahu tentang identitasnya. Bahkan keluarga Zhang sendiri," ucap Li Wei mengingatkan.
Zhang Yuwen menganggukkan kepalanya, "Bao Tian tak diterima di keluarga Zhang. Itulah mengapa Putri tak perlu khawatir. Mereka tak akan perduli selama saya tak memperkenalkan Bao Tian sebagai putri saya di muka umum."
Itu lebih baik jika Bao Tian hanya seperti gadis kecil biasa. Sebab, tak ada yang tahu hati manusia.
Lalu, masalah Wei Wuxie ...
"Putri."
Baru saja Li Wei ingin memberitahu Zhang Yuwen untuk mengumpulkan informasi lagi, suara panggilan itu membuat Li Wei terkejut. Belum lagi pihak yang memanggil terdengar sangat panik. Itulah mengapa Li Wei segera berdiri.
Ia menatap pada pelayan yang datang di hadapannya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Li Wei dengan cepat.
Pelayan itu berlutut di hadapan Li Wei untuk memberikan laporannya. "Putri, ayam putih itu ... Maksud hamba, Xue Fang ... Mati."
Huh? Bagaimana bisa ayam lincah itu mati?
Bahkan Li Wei masih ingat baru beberapa menit yang lalu Li Wei melempar segenggam jagung ke kandang ayam Xue Fang. Entah siapa yang membuatkan kandang ayam itu, tetapi Li Wei masih bisa melihat bulu putih Xue Fang sebelum menemui Zhang Yuwen. Li Wei masih ingat betapa rakusnya ayam itu makan.
Li Wei segera pergi ke arah kandang ayam. Berkat izin Permaisuri Jiang Ning, kandang ayam itu dibuat agak menjorok ke bagian barat. Itu adalah bagian taman belakang dari kediaman Li Wei.
Tanpa diminta Zhang Yuwen sudah menggendong Bao Tian. Pria itu mengikuti Li Wei dari belakang. Akan tetapi, ketika sampai ke halaman belakang kediaman Li Wei, Kediaman Putri Kerajaan, Li Wei terdiam. Begitu juga dengan Zhang Yuwen.
Bahkan pria itu membawa wajah Bao Tian untuk bersembunyi di lehernya.
Bagaimana tidak. Pemandangan di depan mereka tak cukup indah untuk dilihat oleh seorang anak kecil.
Di kandang ayam itu terberai bulu-bulu putih. Tentu saja itu tak aneh, karena bulu ayam mudah rontok begitu saja. Akan tetapi, dari sana Li Wei jelas tahu jika mungkin Xue Fang (nama ayam Li Wei) memberontak ketika ingin ditangkap oleh seseorang.
Lalu, ...
Ceceran darah yang sudah agak mengering terlihat di rerumputan. Begitu juga di kandang ayam, tempat kediaman Xue Fang ini. Juga, bangkai ayam terbaring, dan masih di dalam kandang. Tanpa kepala.
STEP!
Langkah Li Wei terhenti ketika ia menginjak sesuatu. Dan, Li Wei merasa sangat mual ketika melihat apa yang ia pihak. Itu tak lain adalah kepala ayam putih yang tergeletak dan berlumuran darah.
"Siapa?" bisik Li Wei dengan bibir bergetar.
Hal kejam seperti ini ...
"Bersihkan ini semua. Putri menjauh dari kandangnya," ucap Zhang Yuwen yang juga melihat keterkejutan Li Wei.
Li Wei yang pernah mengikuti Perburuan Malam jelas tak akan takut pada bangkai binatang. Hanya saja ... Hal seperti ini adalah teror. Siapa yang berani melakukan hal ini di kediaman Putri Kerajaan Li?
Seseorang melakukannya untuk meneror Li Wei. Seperti ancaman. Seolah menunjukkan bahwa 'orang ini' sangat dekat. Bahkan bisa mendatangi kandang ayam Li Wei saat penjagaan kerajaan berkeliaran di kediaman Li Wei.
Li Wei memalingkan wajahnya. Berusaha menghilangkan wajah pucat miliknya. Ia ketakutan, tetapi Li Wei tak bisa terpancing begitu saja. Semakin ia lemah, ia mungkin akan semakin diteror.
"Siapa yang ada di dekat kandang ayam ini sebelumnya?" tanya Li Wei yang melepaskan sepatunya sendiri.
Sepatu putih susu miliknya telah terkena darah. Li Wei jelas tak bisa memakainya lagi. Seorang pelayan mengambil sepatu itu dari kaki Li Wei, dan memakaikan sepatu lainnya. Sepatu itu baru saja diambil dari ruang hias Li Wei.
"Seorang pelayan, ... Dia ... Hamba tak mengenalnya karena tak ada pelayan yang seperti itu di kediaman Putri," jelas salah satu pelayan.
__ADS_1
Biasanya pelayan di suatu istana akan berbeda dengan pelayan yang dimiliki oleh Pangeran ataupun Putri. Itu semacam membagi pekerjaan agar tidak ada yang bisa menggunakan pelayan ini secara ganda. Seperti menjadi mata-mata dari Pangeran ini untuk Pangeran ini.
Biasanya ada penanda tersendiri jika pelayan itu bekerja di istana kerajaan atau pelayan pribadi.
Akan tetapi, ... Pelayan lagi?
"Putri ... Pelayan yang disebut Wei Wuxie," ucap Zhang Yuwen pelan.
Li Wei menghela napas, "Mungkin sejak awal target dari pelayan ini bukanlah Wei Wuxie."
Itu adalah Li Wei.
Seseorang sengaja mengarahkan Li Wei menuju ke Pelatihan Awan. Membuat seolah Li Wei yang menjadi pembunuh. Jika bukan Selir Mo Jiao, mungkin salah satu guru atau murid di sana yang akan menjadi korban. Karena sejak awal maksudnya bukan korbannya siapa, tetapi yang dijebak siapa.
Jika saat itu Li Wei tak mengikuti Hua, mungkin yang dipanggil menuju lokasi pembunuhan itu adalah Li Wei. Namun yang malah berada di tempat itu adalah Wei Wuxie, sehingga pria itu yang menjadi tersangka.
Jika seperti itu ... Mungkin seseorang menginginkan kehancuran Li Wei.
"Putri!"
Dalam dua kali di hari ini Li Wei dipanggil dengan nada panik. Kali ini ia juga menatap ke arah pelayan yang baru datang. Ini bukan pelayan Li Wei, tetapi pelayan yang bekerja untuk ibunya, Permaisuri Jiang Ning.
Hal tersebut membuat Li Wei menjadi waspada.
BRUK!
Pelayan itu berlutut di tanah dengan keras. Bahkan Li Wei merasa ngilu ketika mendengar suara hantaman antara lutut dengan tanah. Pelayan ini mungkin sangat panik hingga lupa rasa sakitnya.
"Apa yang terjadi? Cepat katakan?" tanya Li Wei yang memang sudah sangat risau.
Siapa yang tenang saat seseorang memoging kepala ayam dengan brutal untuk menerornya?
"Terjadi sesuatu yang buruk di Pusat Kota. Hamba diperintahkan oleh Yang Mulia untuk memanggil Pejabat Zhang Yuwen. Pengadilan Tinggi akan segera dimulai," ucap pelayan itu dengan cepat.
Sesuatu terjadi secara berturut-turut. Jika memang itu kebetulan, maka Li Wei yakin Dewa sedang lembur. Sehingga ia menggariskan takdir secara bersamaan.
Entahlah bagaimana Li Wei bisa memikirkan ini.
Zhang Yuwen mengerutkan keningnya, "Masalah apa yang membuat Pengadilan Tinggi dilakukan secara tiba-tiba?" tanya Zhang Yuwen pada akhirnya.
Tangannya membopong tubuh mungil Bao Tian yang cenderung lebih kecil dibanding anak seusianya. Anak kecil itu menatap bingung ke sekelilingnya. Dan, itu jelas bukan hal yang baik untuk dilihat.
"Wilayah pinggir kota tersapu banjir besar, Pejabat Zhang. Banjir datang tiba-tiba dan sangat deras. Nyaris seperti laut tumpah dengan keras. Akibatnya banyak rumah yang tersapu banjir, dan jumlah korbannya tak sedikit," jelas pelayan itu dengan keringat di wajahnya.
Bencana alam.
"Apakah banjir ini ialah karena dinding penahan banjir hancur?" tanya Li Wei tepat sasaran.
Pelayan itu mengangguk, walau ia tak mengerti bagaimana Li Wei mengetahuinya.
Akan tetapi, Li Wei pernah mempermasalahkan ini pada Li Jun sebelumnya. Sesuai dengan perkiraan Li Wei, suatu saat dinding penahan banjir akan hancur. Itu semua karena kedalaman air laut tak tetap begitu saja. Kecuali di masa depan ada alat yang bisa membuat dinding itu lebih kuat lagi.
Dan, Li Wei sangat ingat jika ia telah memberitahu kemungkinan ini pada Li Jun.
^^^(Kalau lupa ... Tapi emang pernah ada Li Wei berdebat dengan Li Jun tentang kinerja kerajaan. Waktu itu Li Wei masih di Pelatihan Awan, dan saat itu Li Wei main di Pusat Kota. Ketemu sama Li Jun, dan tahu kalau Li Jun memerintahkan prajurit untuk membuat dinding penahan banjir. Hanya dinding tinggi. Itu kayak bikin dinding di dalam air laut, dinding untuk menahan banjir yang datang ke kota. Jadi, kayak nahan air untuk masuk ke kota gitu. Sebagai upaya pencegahan banjir. Padahal Li Wei menyarankan biarkan air surut dengan alami, karena air laut tuh pasang surut. Kejadian ini sebelum Li Wei ikut Perburuan Malam).^^^
Zhang Yuwen meminta seorang pelayan untuk menggendong Bao Tian. Awalnya anak kecil itu tak mau, tetapi Zhang Yuwen membujuknya. Bagaimana pun Zhang Yuwen tak sempat untuk mengantar Bao Tian ke kediamannya. Sehingga Zhang Yuwen hanya menitipkan Bao Tian ke kediaman Putri Li Wei.
Akan tetapi, Li Wei membuat pernyataan mengejutkan. "Aku akan ke Pengadilan Tinggi."
Meski Li Wei telah berjanji pada ayahnya tentang ini, tetapi apa yang terjadi sudah sangat pelik. Ditambah lagi Li Wei seperti seseorang yang ditargetkan oleh 'sesuatu'. Jika Li Wei tinggal diam, mungkin dia akan ditikam saat sedang tidur.
Itu sudah lumrah terjadi untuk keluarga kerajaan. Terutama jika terjadi pemberontakkan Itulah mengapa Permaisuri Jiang Ning selaku ricuh jika Li Wei menghilang dan berkeliaran seperti sapi.
"Putri tak bisa pergi ke Pengadilan Tinggi," ucap Zhang Yuwen mengingatkan.
Namun Zhang Yuwen harusnya tahu bagaimana keras kepalanya Li Wei.
Ketika Li Wei sudah melarikan diri menuju pintu, Zhang Yuwen mau tak mau harus menitipkan Bao Tian pada pelayan Li Wei. Setelah itu, Zhang Yuwen mengejar Li Wei yang jelas-jelas menuju Pengadilan Tinggi.
Situasi ini sudah mulai buruk.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~