Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 2: Belum Ada Titik Terang


__ADS_3

Yi Hua telah mendapat pekerjaan baru hari ini. Meski begitu, seperti apa yang dikatakan oleh Huan Ran, Yi Hua tak boleh langsung datang ke markas kerajaan. Mungkin Huan Ran tengah memikirkan bagaimana cara menyembunyikan Yi Hua dari pejabat yang bertugas lainnya.


Oleh karena itu, Yi Hua memutuskan untuk berkeliling di keramaian Kota Zhu. Matahari mulai tak begitu panas lagi. Mungkin sudah menjelang sore.


Hey, jika mereka menipuku bagaimana? Aku tak punya uang untuk makan dan tinggal di Kota ini!


"Bagaimana jika kau melepas tutup kepalamu itu, lalu melakukan pertunjukkan di tengah pasar. Siapa tahu ada yang melemparkan satu atau dua koin perak untukmu," saran Xiao yang sebenarnya masuk akal.


Namun Yi Hua tak punya bakat apapun! Dia hanya tahu teknik pergi makan di toko, dan makan tiga mangkuk tapi bilangnya hanya satu. Jelas bakat itu tak bisa Yi Hua terapkan jika dia ingin jadi masyarakat kerajaan yang baik.


BUGH!


Tubuh Yi Hua yang cukup kurus langsung kalah karena sentakan dari belakang. Tepatnya bahu Yi Hua ditabrak oleh seseorang. Namun sebelum Yi Hua sempat menendang kepala si pelaku, orang tersebut sudah melewatinya.


"Permisi ... permisi. Saya buru-buru, Nona."


Itu adalah seorang pria dengan senyumnya yang lebar. Pria itu menepuk bahu Yi Hua setelah mengedipkan matanya. Hal itu membuat Yi Hua menghela napasnya.


"Saya seorang pria," ucap Yi Hua malas. Yah, sebenarnya fisik Yi Hua ini memang tak bisa disembunyikan.


Meski dia seorang gadis dan berpakaian seperti seorang pria, hal itu tak akan membuatnya langsung seperti seorang pria. Lehernya kecil,dan dagunya juga seperti helai bunga teratai. Bahkan bahunya juga tak tegap seperti seorang pria. Selama ini orang lain hanya berusaha menganggap Yi Hua seperti seorang pria, meski di dalam hati mereka tak percaya.


Itu juga dilandasi karena selama ini tak banyak orang yang dekat dengan Yi Hua. Sehingga curiga pun tak akan membuat mereka bisa menyelidiki Yi Hua yang dingin dan sombong itu. Oleh karena itu, dia bisa tumbuh dan dibesarkan menjadi seorang pria.


Lalu, Yi Hua melihat pria itu tersenyum lagi hingga ia bisa melihat gigi taringnya. Pria ini memiliki senyum yang khas, sehingga kau akan segera mengenalinya dari kejauhan. Yi Hua pikir pria ini mungkin juga seumuran dirinya.


"Benarkah? Tuan begitu cantik hingga saya berpikir bahwa Tuan adalah guguran bunga yang berjatuhan," puji pria itu sambil memperhatikan wajah Yi Hua di balik kain penutup kepalanya.


Yi Hua tertawa hampa. "Maksud Anda gugur, bukan? Kuntum bunga yang busuk, sehingga menjatuhkan kelopaknya," ujar Yi Hua sarkas.


"Akhirnya kau sadar diri bahwa dirimu busuk." Xiao terdengar seperti seorang ibu yang terharu pada perkembangan anaknya.


"Terkadang meski menyakitkan, tetapi kenangan paling indah adalah saat bunga yang gugur tertiup angin. Itu tampak seperti berwarna-warni yang berpedar di udara," balas pria itu dengan melankolis.


Mengapa bisa seperti itu?


Namun belum sempat menjawabnya, suara lain terdengar dari kerumunan. Bahkan Yi Hua bisa melihat seseorang yang melompat-lompat dari kerumunan. Itu terlihat seperti seseorang itu memanggil pria dengan gigi taring yang menawannya. Dan, Yi Hua tak bisa melihat sosok itu dengan jelas. Ia hanya tahu itu seorang gadis dengan tingkah seperti sapi keluar kandang.


"Wei Fei! Pertunjukkannya hampir dimulai."


Mungkin pria itu juga mendengar apa yang Yi Hua dengar. Sehingga ia menatap ke arah suara, dan menoleh sekali lagi pada Yi Hua. Ia meraih tangan Yi Hua dengan lembut. Gerakannya sangat cekatan hingga Yi Hua tak bisa mencegahnya.


Hal itu membuat Yi Hua mengerutkan keningnya. Pria ini memiliki tangan yang cekatan, dan tak mungkin dia hanya masyarakat biasa. Akan tetapi, dari pakaiannya, pria ini tak terlihat seperti seorang petarung atau pun kultivator.


"Jika Tuan ada waktu, silahkan datang ke Penginapan Yang malam ini. Kami melakukan pertunjukkan di sana. Tarian yang indah sangat tepat untuk Tuan yang menawan," ucap pria itu sebelum menundukkan kepalanya untuk mengecup punggung tangan Yi Hua.


Biawak ini ....!!!!


Namun karena Yi Hua sudah belajar dari pengalaman, sehingga ia bisa menarik tangannya cepat. Hal itu membuat pria itu tersenyum lagi. Akan tetapi, tak ada wajah tersinggung dari parasnya.


Setelah itu, namanya dipanggil lagi sehingga pria itu mau tak mau berlari menerobos kerumunan. Kali ini suara yang memanggil agak jengkel. Pria itu tak bisa menolak lagi. Sayup-sayup Yi Hua mendengar orang-orang yang menegur pria itu. Namun pria riang itu tampaknya sedang buru-buru.


"Apa-apaan pria itu," keluh Yi Hua sambil menggosok-gosok punggung tangannya.


"Sepertinya akan ada rombongan penari di Kota Zhu."


Tanpa menoleh pun Yi Hua sudah tahu Liu Xingsheng ada di sana. Hal itu membuat Yi Hua menarik tangannya untuk memberi penghormatan seperti seorang pria.

__ADS_1


GREP!


Mengabaikan tangan Yi Hua yang memberi salam, Liu Xingsheng merangkul bahunya. Itu cukup keras hingga Yi Hua terbatuk pelan. Sejatinya Yi Hua tak pernah berpikir jika Liu Xingsheng akan begitu akrab dengannya.


"Akan ada banyak kecantikan di sana, Yi Hua. Mungkin kita bisa datang ke sana untuk bersenang-senang," ajak Liu Xingsheng dengan wajah senang.


Yi Hua melepaskan rangkulan tangan Liu Xingsheng pelan. "Lebih baik tidak, Perdana Menteri Liu."


GREP!


Pria itu malah mengangkat tangannya kembali untuk merangkul Yi Hua. "Ayolah! Ini kesempatan yang baik untuk membersihkan mata. Kau pasti menyukai kecantikan yang ada di sana. Di sana ada banyak kecantikan yang tak akan bisa ditolak oleh setiap pria."


Yi Hua memutar matanya saat ia menyadari bahwa Perdana Menteri Liu ini juga termasuk dalam kalangan biawak. Padahal jika melihat dari penampilannya yang sering perawatan, Yi Hua mengira dia tak akan ribut tentang seorang kecantikan. Yah, memang semua pria sama saja.


Xiao menyanggah dengan cepat, "Kau tak bisa menyamakan setiap pria itu sama, HuaHua! Kau bisa dikritik oleh segerombolan masyarakat pria."


Namun Yi Hua tak bisa menjawab Xiao kali ini. Itu semua karena Liu Xingsheng mengguncang-guncangnya. Hal itu membuat Yi Hua nyaris ingin melempar kepala Liu Xingsheng dengan sepatunya.


"Perdana Menteri Huan Ran akan menggantung Anda nanti," ujar Yi Hua yang lagi-lagi melepaskan rangkulan tangan Liu Xingsheng di pundaknya.


Mendengar jawaban Yi Hua, Liu Xingsheng menghela napasnya. Pekerjaan seperti ini bisa membuat wajahnya kusam, dan Liu Xingsheng jelas tak menyukainya. Sehingga dia jelas ingin melarikan diri.


Namun dia tak bisa melakukannya. Masih terbayang wajah sangar kakaknya. Mau tak mau ia segera memberitahu Yi Hua. Siapa tahu Yi Hua bisa menjadi rekan untuk kabur dari kasus ini.


"Kau yakin ingin ikut menyelidiki hal ini?" tanya Liu Xingsheng dengan wajah lesu.


Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Saya sedikit tertarik. Lagipula, bukankah masalah ini cukup meresahkan? Kerajaan jelas tak bisa membiarkan jatuhnya korban lagi."


"Bukankah kau berubah terlalu banyak, Yi Hua? Biasanya kau tak pernah perduli jika ada masalah seperti ini."


Yi Hua hanya mengikuti Liu Xingsheng dengan tenang. Ia tahu bahwa Liu Xingsheng sedang mengarahkannya ke arah markas. Mungkin Huan Ran sudah mengizinkan Yi Hua untuk masuk ke sana.


Jika bukan karena sistem s*alan ini, Yi Hua jelas akan jadi orang yang tak perduli pada banyak hal. Semua itu karena Yi Hua tak pernah berniat menjadi orang yang berjasa. Hanya segelintir orang yang punya kepedulian sosial seperti itu, dan dirinya pasti ada di deretan paling bawah.


Bahkan dirinya merasa mungkin di kehidupan sebelumnya dia bukanlah orang yang baik. Oleh karena itu, ketika dia hidup kembali, dia harus menebusnya. Bukankah selalu ada balasan atas apa yang pernah dilakukan seseorang?


"Adakah orang yang senggang dan tak takut mati sepertimu?" Suara Liu Xingsheng bercampur dengan tawanya sendiri.


Yi Hua membalasnya dengan tawa juga. Mereka berjalan beriringan dengan saling berbincang tentang Selir Qian. Liu Xingsheng dengan semangat menceritakan sejarah kekejaman kakaknya. Lalu, Yi Hua menanggapi dengan saran agar Liu Xingsheng melawan.


Namun wajah ketakutan Liu Xingsheng sudah menjawab semuanya.


Yah, Yi Hua terkadang bertanya-tanya tentang semua keputusannya. Entah sejak kapan dia sudah mencampuri banyak hal. Bahkan dia mungkin sudah menambah jumlah musuh Yi Hua asli sekarang.


Akan tetapi, ...


Seandainya dia bisa mudah untuk menyerah, apakah dia akan menyerah?


Seandainya ia punya pilihan untuk melarikan diri dari situasi ini, apakah dia akan melarikan diri?


Entahlah.


Yi Hua tak tahu karena semua sudah sampai ke tahap ini.


Tanpa Yi Hua sadari sepasang mata menatapnya dari kejauhan. Di tangannya terdapat setangkai bunga mawar yang bersemu dengan indah. Akan tetapi, itu hanya bertahan beberapa saat sebelum sosok itu menghilang seperti hembusan angin. Begitu juga bunga yang ada di tangannya.


Lenyap dengan warna merah menyala.

__ADS_1


***


Yi Hua yang awalnya mengikuti Liu Xingsheng dari belakang tiba-tiba ikut berhenti saat pria itu berhenti mendadak. Yi Hua yang lebih rendah dibanding Liu Xingsheng langsung mengintip dari samping bahu Liu Xingsheng. Akan tetapi, karena gerakannya itu, dirinya hampir menabrak wajah Liu Xingsheng yang berbalik mendadak.


Pria itu terdiam sejenak ketika berhadapan dengan Yi Hua. Meski wajah Yi Hua masih tertutup oleh penutup kepalanya, tetapi jarak di antara mereka berdua cukup dekat. Hingga Liu Xingsheng memundurkan sedikit tubuhnya, terutama ketika menyadari bahwa bulu mata Yi Hua lebih lentik daripada yang ia kira.


"Dasar bodoh, bagaimana bisa aku terkesan pada seorang pria," keluh Liu Xingsheng di dalam hati.


Yi Hua menatap Liu Xingsheng heran. "Ada apa, Perdana Menteri Liu? Bukankah kita sedang menuju markas?"


Lalu, pria itu mendorong dahi Yi Hua lagi dengan ujung kipasnya. Seharusnya dia memang tak boleh terlalu dekat dengan pria(?) ini. Yi Hua berbahaya untuk diajak sebagai teman.


"Apa sebenarnya tujuanmu ikut campur dalam hal ini, Yi Hua?" tanya Liu Xingsheng langsung pada poinnya.


Jika aku tak berusaha mensejahterakan hidupku sendiri, mungkin aku memilih tidur di kediamanku!


Sayangnya, Yi Hua tak bisa melakukannya.


Yi Hua hanya memperbaiki penutup kepalanya, dan menyentuh telinga kirinya sendiri. Di sana ada permata warna merah yang menarik perhatian Liu Xingsheng. Ia baru menyadari bahwa Yi Hua memiliki anting merah darah itu di telinga kirinya. Itu sangat kontras dengan kulit Yi Hua yang putih.


"Saya ingin mendapat makanan gratis di markas, Perdana Menteri Liu. Jika saya ingin berjalan-jalan tanpa keluar biaya sedikit pun, maka saya perlu melakukan ini. Lagipula, jika saya ingin dekat dan mendapatkan sesuatu, maka itu harus terus saya kejar," jelas Yi Hua asal-asalan.


Yah, aku harus terus mengejar kematian.


Liu Xingsheng menatap wajah kecil Yi Hua dengan sedikit terkejut. "A ... pa maksudmu, Yi Hua? Kau ..."


"Perdana Menteri Liu, ini bukan saatnya untuk berbincang. Saya harus segera memeriksa mayat yang baru datang itu," ucap Yi Hua sambil mendorong bahu Liu Xingsheng agar tak menghalangi jalannya.


Mau tak mau Liu Xingsheng hanya mengikuti Yi Hua dari belakang. Tak lama, suara dingin Huan Ran terdengar. Itu membuat Liu Xingsheng menghela napasnya. Hal itu berarti dirinya harus bergelut dalam urusan memusingkan ini lagi!


"Seharusnya Tuan Yi tak berani membual jika tak sesuai kenyataan," tantang Huan Ran.


Bagaimana pun Huan Ran masih mengawasi peramal ini. Meski Yi Hua telah memiliki beberapa keberhasilan dalam penyelidikan, tetapi bukan berarti dia bisa mengatasi hal ini. Masalah ini lebih membingungkan dari apa yang Huan Ran kira.


Di depan mereka ada peti persegi panjang yang terbuat dari kayu. Meski peti itu tertutup, tetapi semua orang tahu apa isinya. Huan Ran memerintahkan beberapa pengawal untuk membuka peti kayu itu.


Yi Hua tersenyum tipis sebelum membuka penutup kepalanya. Rambut panjangnya tampak sedikit bergelombang bekas dari penutup kepala. Meski begitu, penampilan Yi Hua terlihat sangat lembut seperti angin.


"Jangan lupa makan malam untuk saya, Perdana Menteri Huan."


Yi Hua memperhatikan tubuh anak kecil yang malang itu. Sebenarnya Yi Hua agak takut untuk menyentuhnya. Akan tetapi, dia jelas tak bisa terus terang tentang itu.


SRET!


Eh?


Yi Hua tak bisa melihat kenangannya. Ini tak sama seperti ketika Yi Hua bisa melihat kenangannya Yue Yan ataupun Rong Mingyu. Lalu, mengapa kemampuan ini terkadang bisa terkadang tak bisa?


Ia ingin mengeluh pada diri Yi Hua yang tak berguna ini.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2