
*Peringatan: Ada beberapa penceritaan dan kalimat yang membuat ngeri. Sehingga lebih bijak dan jangan psikopat. Ini murni otak kebanyakan nonton film adegan berdarah milik author. Jangan terlalu dibayangkan.
***
Kerajaan Li telah diambang kehancuran.
Bagaimana pun sekarang terlalu banyak masalah yang datang. Ditambah lagi Putri yang dirumorkan melarikan diri dari Kerajaan Li telah kembali dengan paksaan Raja Xin. Rumor telah tersebar, dan banyak yang berpendapat jika Li Wei adalah orang yang membawa obat untuk mengobati penyakit batu.
Itulah yang dikatakan oleh Raja Xin, karena nyatanya Wei Wuxie tidak terkena penyakit aneh itu. Padahal kepalanya telah dipukul sekali. Hal tersebut yang membuat mereka semakin percaya jika Li Wei benar-benar mengetahui cara untuk mengobati penyakit itu.
Sebab, penyakit itu menjangkit siapa saja tanpa terkecuali. Jika dikatakan penyakit ini adalah kutukan bagi Kerajaan Li, tetapi mengapa beberapa prajurit Kerajaan Xin juga terkena penyakit batu?
Akhirnya, catatan kematian terus bertambah setiap harinya.
Sehingga ketika Li Wei sampai ke wilayah istana, ada banyak orang yang berjejer di jalan. Dalam perjalanan itu Li Wei bisa melihat kekacauan di mana-mana. Belum lagi ia bisa melihat buruknya keadaan para masyarakat. Di mana mereka kehilangan rumah hingga yang bisa bertahan di Kerajaan Li hanyalah orang-orang yang punya 'nama'.
Itu karena mereka masih memiliki banyak uang untuk membayar pajak yang diminta oleh Kerajaan Xin. Dengan semudah itu para prajurit Kerajaan Xin merusak Pusat Kota, yaitu dengan bertingkah seperti bandit. Masuk ke rumah-rumah dan mengambil harta penduduk. Bahkan mengambil anak-anak gadis mereka tanpa ada yang bisa melindungi mereka lagi.
"Putri ... Tolong kami."
Li Wei bisa mendengar seruan itu, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Kerajaan mereka telah ditaklukkan, dan Li Wei tak punya pasukan untuk membela. Itu semua karena penghianatan Li Chen, yang ternyata sudah mengatur semuanya.
Setengah dari pasukan yang bersama ayahnya, atau Li Wei harus menyebutnya sebagai mendiang sekarang. Berita kematian ayahnya sudah menggelegar ke mana-mana. Intinya adalah setengah dari pasukan yang bersama ayahnya itu berada di sisi Pangeran Li Chen.
Pasukan Li Jun jelas bukan bagian dari penghianat. Namun karena takut akan kudeta Li Jun terhadap Raja Li nantinya, Yang Mulia Raja Li dengan sengaja memisahkan pasukan Li Jun dari pasukan garis depan. Pasukan Li Jun diarahkan untuk mengevakuasi korban jiwa di Pusat Kota yang terkena bencana.
Akan tetapi, dari sekian busuknya takdir, Li Jun dan pasukannya bersih. Mereka bukan bagian dari penghianat, tetapi pejuang kerajaan. Walau metode yg dipilih Li Jun sedikit agak tiran. Sebab, Li Jun adalah penguasa yang benar-benar tegas tanpa mau diberi kritik dalam mengambil keputusan.
Sehingga ketika mendengar berita kekalahan pasukan Kerajaan Li, Li Jun terlambat untuk menjadi bala bantuan.
Bagaimana pasukan yang berada di medan perang? Maksudnya, selain yang menjadi penghianat.
Setengahnya lagi mati karena diracuni.
Huh?
Katanya mereka pergi berperang, tetapi mati diracuni. Itulah yang membuat mereka sangat yakin jika ada penghianat di antara para pasukan. Akan tetapi, tak ada yang tahu siapa penghianat itu. Itu adalah cerita konyol dimana seseorang dengan gagah pergi untuk berperang. Namun takdir kematian mereka malah diracuni sebelum berperang.
Jelas sekali kehancuran Kerajaan Li bukan hanya karena serangan. Namun karena perbedaan pendapat. Dimulai dari pendapat kecil yang semakin membesar hingga terpecah-belah. Tidak ada persatuan, dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Sehingga mereka menjalankan kekuasan sesuai keinginan mereka masing-masing.
"Turun!" Seorang prajurit dengan sangat sopan menarik Li Wei untuk turun dari kereta.
Tarikan itu menghentikan Li Wei dari pemikirannya yang bercabang. Kali ini Li Wei diikat tangannya dan dipaksa untuk turun dari kereta. Di belakangnya ada Zhang Yuwen yang juga terikat, serta Wei Wuxie yang masih sadar. Pendarahan di kepalanya untuk saat ini masih belum berbahaya. Jika Wei Wuxie menuruti rasa sakit di kepalanya, maka pria itu tak
Mereka memperlakukan aku seperti sapi.
Mereka yang melihat merasa iba dengan wajah cantik Li Wei yang terluka. Bagaimana pun Li Wei adalah simbol kecantikan di kerajaan mereka. Melihat penampilan kacau Li Wei, dan Li Wei yang berada di tangan musuh membuat mereka iba sekaligus lega.
Iba karena mereka mengasihi Putri mereka, lega karena itu berarti mereka bisa sembuh dari penyakit batu. Itu adalah apa yang mereka pikirkan.
Seorang pria dengan tangan yang terikat dengan perban mendekat pada Li Wei dengan sembrono. Sehingga pria itu terjatuh ke depan Li Wei dengan penuh air mata. Li Wei ingin membantunya berdiri, tetapi tangannya ditarik dengan keras lagi.
SRET!
Pria itu memeluk kaki Li Wei dengan permohonan, "Putri, berikan obat pada kami. Batu di tangan saya terus bertambah, dan keluarga saya hampir menjadi batu. Putri ... Tolong kasihani hamba."
"Maaf, Paman. Namun saya tak memiliki obat apapun," ucap Li Wei dengan nada lemah. Ia bahkan tak bisa menatap pada Li Wei.
SRET!
Li Wei terduduk ketika Paman itu menariknya keras, "Tidak, Putri. Yang Mulia Putri Li Wei masih sehat seperti ini padahal terluka parah. Hamba meminta pada Putri. Tolong selamatkan keluarga hamba. Hanya sedikit obat, Putri."
Zhang Yuwen memaksa untuk melepaskan diri. Bukan perkara apa, tetapi ia ingin menjauhkan pria itu dari Putri Li Wei. Akan tetapi, Raja Xin yang seperti menjadi penonton, memberi peringatan. Jika Zhang Yuwen melawannya lagu, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada Bao Tian.
Mengapa situasi ini menyebalkan sekaligus menyedihkan?
"Paman ... Maafkan saya ... Saya tak punya," pinta Li Wei ketika kini banyak penduduk yang menuju ke arahnya.
Ini seperti diadili di tengah banyak orang. Akan tetapi, Li Wei tak bisa melakukan apa-apa.
"Atau mungkin darahnya bisa menjadi obat. Pasti obatnya sudah mengalir di darah," cetus Paman itu yang sudah kehilangan penghormatannya.
CRASH!
"AKHH!" Li Wei meringis kesakitan ketika Paman itu menarik perban di lengan Li Wei untuk terbuka.
Itu membuat luka Li Wei yang sebenarnya belum mengering dirobek kembali. Darah Li Wei menetes di ujung jemarinya. Dengan darah itu Paman itu beserta beberapa orang mengambil darah Li Wei. Mereka mengusapkan ke batu-batu yang menempel di tubuh mereka.
Tidak ... Ku mohon ...
Namun siapa yang mengerti Li Wei saat ini? Bahkan menangis pun Li Wei tak bisa lagi. Rasa sakit di tangannya sangat mengerikan. Belum lagi dengan kuku tajam mereka yang menyobek luka Li Wei hanya agar darahnya terus menetes.
Li Wei tak pernah mengharapkan untuk dihormati begitu tinggi, tetapi ia juga tak ingin disakiti.
__ADS_1
BRUGH!
Atas ketidakmampuannya yang bisa menahan sakit, Li Wei memukul mereka untuk menjauh. Lalu, Li Wei berguling untuk menjauh dari kerumunan. Walau tangannya masih terikat. Kala itu lukanya juga sudah menggesek jalan.
"Hentikan! Apa yang kalian pikirkan? Aku bukan Dewa. Aku tak bisa apa-apa," bentak Li Wei. Itu adalah bentakan yang keras dan mengejutkan bagi mereka.
Seorang pria muda dengan batu yang menempel di kulitnya. Ada tetesan darah di wajahnya karena ia mengusapkan darah Li Wei di batu-batu yang menempel di kulitnya, sehingga pemandangan itu benar-benar membuat mual. Bahkan Li Wei sudah merasa air liurnya di ujung lidah.
Pria itu menatap marah pada Li Wei. "Mengapa kalian sangat tidak adil? Apa salahnya memberi bantuan pada kami?" teriaknya tak terima.
"Bukan persoalan tidak adil. Apakah kalian tahu dengan maksud tak bisa?!" ucap Li Wei dengan nada penuh permohonan.
Sayangnya, mereka tak berniat mengerti Li Wei. Mereka dengan marah berusaha menyerang Li Wei. Rasa ingin hidup mereka lebih besar dibanding rasa hormat mereka pada Li Wei. Termasuk semua kebaikan Li Wei di mata mereka semuanya hilang karena rasa ingin hidup mereka.
Siapa yang bisa disalahkan? Entahlah.
Li Wei bahkan tak terkejut saat darahnya tak akan berefek apa-apa pada mereka. Buktinya batu-batu itu masih terus menumbuh di kulit mereka. Muncul seperti gelembung air di kulit, dan terus membesar serta membesar.
BUGH!
Sebuah batu terlempar ke arah Li Wei. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, tetapi buruknya orang-orang yang kesal dengan brutal melempar batu lagi secara bertubi-tubi pada Li Wei. Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa menanamkan kukunya, menekan kukunya pada telapak tangan. Hanya untuk melampiaskan semua rasa marah, sedih, kecewanya, dan rasa yang berkecamuk di kepalanya.
Hanya saja ... Tak ada yang tahu di mana batas kesabaran manusia.
"Yang Mulia, bukankah hanya cukup untuk membawa Putri Li Wei sebagai ancaman bagi Pangeran Li Jun? Hanya agar Pangeran Pertama mau bekerja sama dengan Yang Mulia!" ucap Zhang Yuwen panik.
Wei Wuxie juga masih terikat dengan erat, sehingga Wei Wuxie juga tak bisa menolong Li Wei. Terutama situasi seperti itu pasti akan sangat menakutkan bagi Li Wei.
Bagaimana bisa keadaan dengan cepat berubah?
Hanya beberapa hari yang lalu Li Wei disambut dengan baik ketika tengah menangkap ayam. Lalu, dengan kecepatan seperti kemungkinan munculnya fenomena sapi yang bisa terbang itu terjadi. Sangat sulit untuk dijelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Raja Xin tertawa mengejek. "Bukankah ini terlihat sangat menarik? Aku masih sangat ingat tentang betapa hebatnya Tuan Putri ini ketika mengikuti Perburuan Malam. Sekarang yang kita lihat bukan lagi seperti mawar yang indah, tetapi mawar hitam. Bukankah setiap langkah gadis ini selalu membawa masalah?"
Entah mengapa kalimat itu membuat orang-orang semakin marah. "Semua karena Dewa mengutuk keturunan Li yang memegang tahta. Sebagai hukuman atas tindakan tak adil mereka."
Mengapa mereka hanya terus-menerus menyalahkan orang lain pada bencana yang sangat tidak manusiawi?
Akan tetapi, Li Wei tak bisa membantu apa-apa. Bahkan darah Hua Yifeng saja belum tentu bisa menjadi obat. Karena Wei Wuxie tidak diobati dengan darah Hua Yifeng, tetapi pria itu tidak apa-apa. Luka di kepalanya tak berubah menjadi batu.
Sebenarnya penyakit batu ini apa maunya?
Katanya darah Hua Yifeng bisa menjadi obat, tetapi mengapa dia pilih-pilih dalam menyerang manusia? Mengapa penyakit batu ini seperti makhluk hidup, dan memilih siapa saja yang ingin terjangkit. Kebanyakan ... Masyarakat biasa yang terkena penyakit batu, sedangkan pejabat kerajaan, apalagi keluarga kerajaan tidak terkena penyakit batu. Hal tersebut malah membuat seperti kerajaan memiliki obat, tetapi tidak ingin membagikannya pada masyarakat.
BUGH!
"Putri," ucap Wei Wuxie tak tega.
Bagaimana tidak. Darah mengalir dari dahi Li Wei. Luka baru tercipta lagi, dan darah itu mengalir bersamaan dengan air mata Li Wei. Ia memiliki banyak kemarahan di dalam dadanya.
Hal tersebut membuat Li Wei menajamkan matanya. Menatap pada orang-orang yang bertingkah seolah mengadilinya. Tatapan itu mengejutkan banyak orang, karena tatapan Li Wei terasa membekukan tulang mereka.
TING!
Li Wei mendengar hentakan pelan dari sarung pedang milik Hua Yifeng yang masih tergantung di pinggang Li Wei. Sarung pedang itu mendadak seperti bercahaya. Tak ada yang tahu mengapa, bahkan Li Wei sendiri.
Hanya saja ... Ia tahu bahwa pedang Hua Yifeng ini dibuat dari bahan yang tak biasa.
"Kalian ... Matilah," ucap Li Wei dengan mata yang tajam.
Kalimat yang sama seperti yang diucapkannya pada Li Chen. Dan, keadaan yang sama seperti setelah kata-kata itu dikeluarkan. Waktu itu Li Chen langsung mati begitu saja. Orang-orang tersebut dengan tubuh bergetar segera meraba sekujur tubuh mereka.
Tubuh mereka dengan cepat menghitam seperti warna batu.
"Tolong ... Jangan kutuk kami!" teriak mereka.
Dan, ...
BRUK!!
Lalu, setelah itu Li Wei terjatuh ke tanah dengan keras. Akan tetapi, yang lebih mengejutkan adalah raungan orang-orang yang ditunjuk oleh Li Wei sebelumnya. Mereka dengan cepat terjatuh ke tanah dan tubuh mereka menjadi batu. Mereka terberai seolah tak pernah ada manusia di sana.
Hanya batu-batu yang bergelimpangan darah.
Sedangkan mereka yang masih hidup, yang tak berubah menjadi batu menyadari sesuatu. Putri Kerajaan Li ini mungkin membawa kutukan di dalam dirinya.
Apakah Putri ini telah menjadi iblis yang membawa bencana?
***
"Putri."
Li Wei merasa seperti tak sadarkan diri begitu panjang. Sehingga ketika ia terbangun, ia sudah seperti orang yang lupa tentang pijakan dunia. Li Wei berusaha untuk meregangkan tubuhnya, tetapi ia tak bisa menggerakkan tangannya.
__ADS_1
Aku lupa jika aku masih diikat.
Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa membuka matanya untuk melihat orang yang memanggilnya. Ia menyadari jika dirinya tak mengenal sosok itu, tetapi dengan melihat pakaian pelayannya Li Wei yakin orang ini adalah bagian dari pelayan istana.
Dan, ... Mengapa dirinya sudah ada di kediamannya sendiri? Apa yang terjadi sebelumnya?
"Putri, apa Putri baik-baik saja?" tanya pelayan itu dari jarak yang agak jauh.
"Kau ... Apa yang terjadi? Di mana Permaisuri Jiang Ning?" tanya Li Wei cepat.
Mungkin Li Wei pingsan di alun-alun sebelumnya sehingga Raja Xin memerintahkan prajurit untuk mengurung Li Wei di kediamannya sendiri. Melihat hanya dirinya sendiri di kediamannya, mungkin Raja Xin telah mengurung Wei Wuxie.
Tentang Zhang Yuwen, Li Wei tak bisa mempercayainya. Bagaimana pun tujuan mereka sudah sangat berbeda.
Pelayan itu menundukkan kepalanya. Seperti menolak untuk menatap pada Li Wei. Awalnya Li Wei mengabaikannya, karena mungkin penghormatan pelayan ini padanya masih sangat tinggi. Sehingga gadis pelayan ini merendahkan dirinya agar tidak menatap Li Wei yang merupakan anak Raja.
"Hamba menjawab, Putri. Hamba tak tahu di mana mereka mengurung Permaisuri Jiang Ning dan Pangeran Li Shen. Kami pun tak berani untuk keluar dari istana. Saat ini mereka telah menjaga ketat kediaman Putri."
Itu cukup sulit untuk melarikan diri, apa lagi untuk menyelamatkan ibu dan adiknya, Li Shen.
"Namun saya tahu di mana mereka mengurung Jenderal Wei dan Penasihat Wang. Mereka di kurung di tempat yang sama," ucap pelayan itu yang semakin menyudut di dinding.
Dari semua keanehan pelayan ini, tetapi ia memberikan informasi. Wei Wuxie masih hidup, dan Zhang Yuwen ....Entahlah mungkin pria itu sudah benar-benar berada di pihak lain. Sehingga Li Wei tak berharap apa-apa tentang itu.
Li Wei mungkin harus mencari cara untuk berkumpul bersama Wang Zeming dan Wei Wuxie. Mereka harus mencari cara untuk memukul mundur pasukan Kerajaan Xin. Akan tetapi, itu jelas tak mudah karena Li Jun juga belum ditemukan.
Meski kakaknya itu pemarah dan kejam, tetapi Li Jun tak mudah dikalahkan. Apalagi dengan fakta Li Wei mendengar jika Li Jun juga ditangkap.
"Lepaskan ikatan tanganku," perintah Li Wei pada pelayan itu.
Akan tetapi, gadis pelayan itu menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Li Wei melihat ketakutan di wajah gadis pelayan itu.
Apa pelayan ini takut padaku? Jangan-jangan penampilanku sekarang seperti habis berbaring di kandang sapi ini.
"Ada banyak prajurit yang berjaga di luar, Putri. Terlalu bahaya bagi Putri untuk pergi."
Lebih dari segalanya ... Mengapa gadis pelayan ini tak melepaskan Li Wei?
Li Wei bahkan masih merasakan darah kering yang menempel di dahinya. Itu tandanya gadis pelayan ini tak melakukan apapun pada dahinya. Begitu juga dengan rasa sakit di lengannya. Tanpa menoleh untuk melihat tangannya yang terikat, Li Wei tahu tangannya masih dipenuhi darah.
Penampilannya memang sangat mengerikan sekarang.
Akan tetapi, pelayan ini ketakutan bukan karena penampilannya. Ini nyaris seperti ...
"Apa yang terjadi?" tanya Li Wei yang mulai melalukan sesuatu pada tangannya yang terikat.
Ingatlah saat Zhang Yuwen mengikat tangan Li Wei dengan ikatan sampul. Ternyata tak ada yang mengubah ikatan di tangan Li Wei. Sehingga Li Wei menggunakan tangannya seperti capit untuk menggenggam ujung tali. Kemudian, menariknya.
Lepas. Seperti yang Zhang Yuwen katakan.
Ketika itu Li Wei berusaha untuk menggerakkan tangannya yang terluka. Ia berdiri dari kursi yang mengikatnya. Akan tetapi, pelayan itu semakin memojok di dinding dengan wajah yang ketakutan.
"Hey, kau kenapa? Apakah ada yang salah?" tanya Li Wei yang berjalan sempoyongan ke arah pelayan itu.
Bahkan pelayan itu menempel seperti punggungnya di lem di dinding. Saat Li Wei mendekatinya, pelayan tersebut mendadak seperti kerasukan ulat bulu. Bahkan tubuh gadis pelayan itu bergetar dengan sangat keras.
BRUK!
Li Wei refleks memundurkan tubuhnya ketika melihat pelayan itu berlutut di hadapannya.
"Jangan kutuk saya, Putri. Saya mohon," ucap pelayan itu dengan suara yang bergetar.
Pelayan ini takut padanya?
Dan, ...
Mendadak Li Wei mengingat cukup banyak hal di kepalanya. Terutama kematian satu-persatu dari mereka yang menyakiti Li Wei di alun-alun. Li Wei menyadari bahwa setiap ucapan kematian yang ia berikan selalu terjadi.
Anehnya ... Setiap kali mengucapkannya Li Wei tak pernah sadar. Ia tak ingat jika dia membunuh orang-orang dengan perkataannya.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Ku mohon. Aku takut dengan diriku sendiri.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1