Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 11: Lingkaran Mawar telah Lengkap


__ADS_3

SRET!


Tangan halus dan lemah itu dipenuhi darah ketika dirinya menyentuh tenggorokannya sendiri. Sedangkan sosok patung di sampingnya tetap berdiri tegak, meski darah memercik di wajahnya. Pernahkah kau berpikir bahwa kematian begitu dekat denganmu?


"Jia Yu."


Yi Hua baru mengenal gadis ini selama dua hari. Kemarin gadis ini selalu mengikutinya dan mengatakan jika hanya Yi Hua yang perduli. Akan tetapi, gadis ini tak pernah tahu jika orang-orang di sekeliling Yi Hua seperti mudah mati begitu saja.


Sejak dulu ... Itu sama saja dengan sekarang. Meski kini ia telah hidup sebagai Yi Hua, tetapi kehadirannya selalu membawa kematian untuk orang lain.


Mengapa?


"Kau ..."


Yi Hua tanpa sadar menuju ke arah depan. Tepatnya pada Tuan Qiu yang mendorong tubuh Jia Yu ke lantai. Pria ini berniat membuat permainan dengan menggorok Jia Yu dan Liu Xingsheng satu-persatu. Pria ini meraih Jia Yu terlebih dahulu dan menyayat lehernya dengan kejam.


Kini Tuan Qiu mulai mengarahkan pisaunya ke tenggorokan Liu Xingsheng. "Itulah akibatnya jika kalian berani meletakkan hidung pada urusanku."


Yi Hua menatap tajam pada Tuan Qiu, "Dia hanyalah gadis kecil! Ini tidak ada urusannya dengan permasalahan kita!"


Tuan Qiu tertawa riang seolah berhasil membuat prestasi. "Aku tak sengaja. Ku pikir ia tak berguna, makanya aku mengakhiri hidupnya."


Manusia ini ... Aku harap cacing memakan isi perutmu!


Anak buah Tuan Qiu menyebar di depan sialan itu. Sehingga mereka tak bisa mendekati Tuan Qiu atau mematahkan lehernya sekarang juga. Bagaimana pun Huan Ran ingin menjauhkan Liu Xingsheng dari mereka, tetapi apa dayanya saat pria itu di tangan musuh.


Shi Heng menghela napasnya malas. "Tangkap dia," perintah Shi Heng yang tak perduli pada nyawa Liu Xingsheng.


Dia memang pernah mendengar tentang Perdana Menteri Kiri itu, tetapi ia tak menyangka jika dia masih muda. Sayang sekali jika pria setampan itu akan mati. Akan tetapi, Shi Heng lebih suka mematahkan gigi orang-orang seperti Tuan Qiu. Hanya agar dia tahu tempatnya.


Ketika bawahan Shi Heng mendekat, Tuan Qiu mendorong Liu Xingsheng untuk berlutut. Tentu saja Liu Xingsheng tidak melawan, karena dia tak ada bedanya dengan mayat.


JLEB!


Pisau Tuan Qiu menancap di bahu Liu Xingsheng, dan sekali lagi. Tidak ada jeritan apapun yang dikeluarkan dan ekspresi Liu Xingsheng masih hampa seperti biasanya. Meski begitu, darah Liu Xingsheng mengalir di sepanjang pakaian sederhananya yang berwarna putih.


Wajah Huan Ran semakin gelap.


Yi Hua memejamkan matanya ketika melihat itu, "Shi Heng, jangan lakukan apapun!" teriak Yi Hua sekali lagi. Tatapannya begitu nanar pada Jia Yu yang sudah tak bernyawa lagi.


Gadis itu terjatuh dalam posisi tengkurap. Wajahnya menghadap ke samping dan Yi Hua bisa melihat matanya yang terbuka lebar. Mungkin gadis itu sangat terkejut di saat kematiannya. Mata Yi Hua memanas, tetapi ia tak bisa menangis di sini.


Shi Heng tak mengatakan apapun. Pria ini jelas lebih suka menyingkirkan Tuan Qiu tanpa perduli pada keselamatan Liu Xingsheng. Ia harus mempertahankan kesan keras dan kejam yang ada di kerajaannya.


Yi Hua menatap Shi Heng dengan matanya yang menyipit. "Beri aku waktu untuk menyelesaikan ini, Ayah. Baru setelah itu, aku tak perduli apa tindakanmu untuk mengatur Kerajaan Bawah sialanmu ini!" ucap Yi Hua yang diawali dengan memohon, dan diakhiri dengan menghujat. Kalimat yang sangat baik untuk diucapkan pada ayah sendiri.


Beri aku waktu untuk menyelamatkan Liu Xingsheng dahulu.


Shi Heng menghela napasnya. Jika ia melonggar sekarang, mungkin reputasi Shi Heng akan tercoreng karena tak sanggup mengatasi parasit seperti Tuan Qiu. Tapi di satu sisi ... Putrinya hanya satu. Biar kelakuannya seperti sapi, tetapi putrinya ini jika hilang, maka tak bisa lagi dibeli di pasar malam.


"Perintahkan orang-orang untuk keluar dari tempat ini," perintah Shi Heng pada bawahannya.


Bawahannya hanya bisa menuruti perintah Shi Heng dan membubarkan penonton beserta para petarung yang


Tuan Qiu tampaknya sangat terhibur dengan pertunjukan ini. Ia menatap pada Shi Heng, seseorang yang memiliki kuasa tertinggi di Kerajaan Bawah, "Lihatlah betapa lemahnya kalian. Sekarang ... Berikan cermin bayangan padaku, dan beri jalan agar aku bisa kembali."


Shi Heng berdecak. Ini orang diberi kesempatan malah melunjak seperti anak ayam naik ke bulan.


Akan tetapi, ...


"Berikan," perintah Shi Heng begitu saja.


Hal tersebut tentu saja membuat Yi Hua bergeming. Mereka datang ke Kerajaan Bawah untuk cermin bayangan. Lalu, setelah semuanya, mereka harus memberikannya untuk Tuan Qiu yang baj*ngan ini?


Berarti mereka tidak menghasilkan apa-apa. Seolah mereka datang ke sini cuma datang liburan saja!


Tapi ...


Huan Ran menganggukkan kepalanya pada Yi Hua. Entah karena apa. Apa pria ini memiliki rencana?


SRET!


Kenapa lagi pria ini sentuh-sentuh? Teman bukan, kenal saja dalam hal buruk. Jangan lupa bahwa aku tahu kau pura-pura tidak kenal denganku kemarin!


Entah fakta mana yang Yi Hua kesalkan.

__ADS_1


"Biarkan saja."


Hey ...


Hua Yifeng dengan sopan membekap mulut Yi Hua yang nyaris bertanya nyaring padanya. Lalu, pria itu berbisik pelan dan Yi Hua mendadak merinding. Jelas lah ... Sekarang dia dibisiki oleh iblis.


"Cermin bayangan itu benda spiritual. Sama seperti pedang Li Wei."


Yi Hua terdiam.


Jika seperti itu cermin bayangan bisa membunuh siapa saja yang bukan pemiliknya. Bagaimana bisa ada benda yang digunakan untuk mengobati, tetapi bisa membunuh sekaligus?


SRET!


Bawahan Shi Heng membawa sebuah peti berbentuk persegi. Penutup peti bukanlah benda yang polos, melainkan ada motif seperti bunga di atasnya. Diberi pewarna merah dan bunga di atas peti itu seperti pernah Yi Hua lihat.


Tanpa sadar Yi Hua menarik pedang Hua Yifeng. Bukan untuk bertarung, tetapi hanya menariknya separuh. Dan melihat bahwa motif bunga di atas peti itu mirip dengan hiasan di pedang Hua Yifeng. Apakah ada kebetulan sebanyak ini?


Sampai sekarang Yi Hua masih bertanya-tanya darimana ide Hua Yifeng untuk memberi gantungan cantik di sebuah pedang yang kejam.


Lebih dari segalanya ...


Yi Hua menyadari jika hiasan berbentuk bunga ini adalah sesuatu yang langka.


"Mengapa hiasan jepit rambut saya ada pada Anda, Tuan Hua Yifeng?" tanya Yi Hua pada akhirnya.


Bukan jepit rambut Yi Hua, tetapi jepit rambutnya saat ia hidup sebagai Li Wei.


Kenangan ini sempat ia lupakan. Akan tetapi, ketika ingatannya kembali dalam jumlah yang cukup banyak, ia menyadari bahwa hiasan pedang ini pasti diambil dari jepit rambutnya.


Jepit rambut itu hanya ada satu di dunia ini. Dan itu adalah milik Putri Li Wei, dan jika ditiru pun tak akan sama lagi.


Hua Yifeng menarik senyumnya tipis. "Ohh ... Mengapa seorang pria memiliki jepit rambut?" tanya Hua Yifeng yang menggoda Yi Hua.


Tentu saja karena Yi Hua masih tak ingin terang-terangan dengan identitasnya.


Saat Yi Hua ingin menjawab, Hua Yifeng meletakkan jari telunjuknya di bibir Yi Hua. Sedangkan matanya mengarah tajam ke sekeliling. Entah mengapa pria itu menjadi waspada.


Jika seperti itu ... Cermin bayangan adalah ...


Tidak.


Cermin bayangan tidak terlihat seperti layaknya cermin.


Itu seperti besi tipis yang dibentuk persegi panjang. Benda itu tampak seperti dikikis cukup lama dengan penghalus besi agar lebih halus. Itu berbeda dari apa yang Yi Hua pikirkan, dan Yi Hua tak yakin lagi cermin bayangan itu adalah apa.


Namun ucapan Hua Yifeng menjelaskan segalanya.


"Itu adalah kepingan Lingkaran Mawar yang terakhir," ucap Hua Yifeng yang membuat Yi Hua sadar.


Kepingan Lingkaran Mawar yang hilang mulai terkumpul kembali dan jika sempurna. Maka seperti ramalan Yi Hua asli, Putri Li Wei akan hidup kembali.


Akan tetapi, dirinya sudah hidup sekarang. Apakah yang dimaksud Yi Hua asli ramalkan ialah Putri Hitam Li Wei hidup kembali dan mengingat kepingan hidupnya saat Lingkaran Mawar berhasil terkumpul dengan sempurna?


Tuan Qiu tertawa kencang ketika melihat benda yang diinginkannya. "Sekarang sesuai perjanjian, biarkan aku pergi dari sini, dan pria ini akan aku lepaskan!" perintah Tuan Qiu.


Orang ini ... Lama-lama semakin mengesalkan.


Yi Hua melirik pada Huan Ran yang masih berlutut, tetapi ekspresinya menjadi aneh.


GREP!


Eh?


Tuan Qiu mendadak panik ketika bahunya dicengkeram oleh sesuatu. Ia menoleh ke belakang dan tak menemukan siapa-siapa yang ada di sana. Akan tetapi, ...


GREP!


KRAK!


Yi Hua yakin tak ada yang salah dengan telinganya. Ia sangat yakin mendengar suara keras seperti tulang yang patah. Dan, ketika mendengar jeritan Tuan Qiu, ia yakin siapa yang patah tulangnya.


Tetapi, bagaimana bisa?


"AKKHH!"

__ADS_1


Pegangan Tuan Qiu pada Liu Xingsheng terlepas, dan akhirnya Liu Xingsheng tetap berdiri tegak seperti boneka. Sedangkan Tuan Qiu sudah terduduk di tanah sambil memegangi bahunya. Peti yang berisi cermin bayangan di depannya adalah cermin paling jujur di dunia ini.


Mata Tuan Qiu melotot ketakutan ketika melihat bayangannya terpantul di cermin bayangan.


Tanpa melihat ke cermin, Tuan Qiu terlihat aneh karena kesakitan tanpa sebab. Akan tetapi, di bayangan cermin yang terlihat adalah sebuah gerigi tengkorak yang cukup besar mencengkeram bahunya. Warna tengkorak itu mencolok dan sangat dikenali.


Warnanya putih seperti kapur.


Apa lagi ini?


"Tidak, Tengkorak Putih!" teriak Tuan Qiu dengan histeris.


Terutama saat tengkorak itu tampak bergerak dan ... mulai mencabik kulitnya. Teriakan mengerikan Tuan Qiu membuat siapa saja ingin menjadi tuli. Akan tetapi, fenomena di depannya masih tak bisa dijelaskan.


Yang terkejut bukan hanya Tuan Qiu, tetapi semuanya.


Sepertinya seorang tamu tak diundang datang. Makhluk yang selalu mengintai Liu Xingsheng, dan entah bagaimana selalu mengikutinya.


Tengkorak Putih, Bao Jiazhen, muncul.


Huan Ran berlari untuk meraih Liu Xingsheng yang tetap tegak seperti boneka. Sekilas Huan Ran melihat bayangan Liu Xingsheng di cermin bayangan. Di sana ... Ia melihat air mata Liu Xingsheng mengalir, walau di kenyataan tidak ada setetes air mata dari wajah boneka Liu Xingsheng.


Di bayangan cermin itu Huan Ran melihat bibir Liu Xingsheng bergerak.


"Maafkan aku."


SRAP!


"Perdana Menteri Liu," teriak Yi Hua yang melihat sebuah angin aneh datang ke arahnya.


Lalu, tanpa bisa dihindari Liu Xingsheng lenyap bersama angin itu.


Menyisakan Tuan Qiu yang terus berteriak dan tulangnya yang terdengar terus patah. Lama-kelamaan Tuan Qiu meringkuk dengan wajah yang pucat. Seperti tulangnya tak tersusun dengan baik lagi.


"Kejam sekali," bisik Shi Heng ketika melihat kutukan Tengkorak Putih terjadi untuk pertama kali.


Perlahan Tuan Qiu yang mungkin tak bernyawa lagi kehilangan dagingnya. Itu lenyap seperti ada semut yang memakannya sedikit demi sedikit. Lalu, yang di sana tergeletak hanya tengkorak yang kering. Seperti tengkorak yang sudah ada sejak beratus tahun lamanya. Kering dan tampak usang.


"Bagaimana bisa Tengkorak Putih menyusup di antara kita?" tanya Yi Hua tak mengerti.


Akan tetapi, tatapan Hua Yifeng yang tajam membuat Yi Hua tersadar bahwa mereka tak bisa melarikan diri dari Bao Jiazhen. Iblis itu sejak awal selalu bersama mereka. Menunggu waktu yang tepat untuk mengambil Liu Xingsheng.


Yi Hua melihat Huan Ran bangkit dari duduknya. Ada wajah marah di rautnya, tetapi Yue Yan dengan berani menghentikannya. Bukan perkara Yue Yan perduli. Tetapi lebih ke dirinya tahu Huan Ran tidak ada apa-apanya dibanding Tengkorak Putih Bao Jiazhen.


"Jangan konyol. Dia sudah tidak ada harapan lagi," ucap Yue Yan dengan yakin.


Tengkorak Putih jarang mengganggu siapapun. Tetapi ketika dia mengganggu, maka dia tak akan melepaskannya. Lihat saja Tuan Qiu yang mendapat kutukannya.


Akan tetapi, Huan Ran menepis tangan Yue Yan. "Diam."


Yi Hua yang baru saja ingin menyela menjadi terhenti, ketika suara halus menyapa mereka.


"Apa yang terjadi?"


Semua pandangan terarah pada sosok cantik yang baru saja datang. Itu adalah wajah yang mirip sekali dengan Liu Xingsheng, tetapi dalam versi wanitanya. Yang datang adalah Liu Xinqian, atau ... Selir Qian.


Wanita itu datang dengan pakaian serba birunya yang sederhana. Meski begitu, kecantikannya tetap terpancar dengan sempurna. Di belakangnya berjalan seorang pria, yang juga dengan pakaian sederhana.


Namun mereka semua mengenalinya.


"Yang Mulia ..."


Yi Hua tercekat ...


Sekarang Li Shen ada di sini bersama Selir Qian.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf baru bisa muncul kembali. Aku beberapa hari ini sakit dan ada kesibukan juga. Makanya baru bisa melanjutkan cerita ini.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2