
Wei Qionglin menoleh ke belakang pada Yi Hua yang baru menyusul. Ia menyadari bahwa Yi Hua semakin pucat. Akan tetapi, Wei Qionglin tak melihat luka apapun pada Yi Hua.
Apa peramal kecil ini mengalami luka dalam?
Jika dia mengalami luka dalam, lalu bagaimana tangan Yi Hua masih sangat kuat untuk mendorongnya tadi? Apa peramal ini reinkarnasi sapi di kehidupan sebelumnya?
Percayalah ... Wei Qionglin ingin memeriksanya. Namun Yi Hua itu seperti anak sapi yang anti sosial. Dia akan menatap Wei Qionglin seperti menatap musuh bebuyutannya. Entah karena apa.
"Yi Hua, kita akan pergi ke mana?" tanya Wei Qionglin yang mendekat pada Yi Hua.
Yi Hua tampak mengikat sesuatu di tangannya. Wei Qionglin memperhatikan itu, tetapi Yi Hua segera menutupinya dengan lengan baju. Lalu, Yi Hua tampak mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tampak seperti mencari.
Ia segera mengajukan protes pada Xiao di dalam hati. "Aku sudah mengikuti arah potongan tubuh ular ini, dan aku tak menemukan apa-apa! Bukankah sejak tadi aku hanya berputar-putar di sini?" tanya Yi Hua dalam hati pada Xiao.
Xiao menghela napasnya. "Yah, karena tempat yang kau maksud itu memang di sini! Kau yang berputar-putar sejak tadi."
Apa-apaan itu?
"Kenapa kau tak bicara apa-apa, Xiao?" omel Yi Hua sambil menunduk ke arah pasir. Jelas ia harus selalu membenci sikap anti bicara Xiao yang aneh ini.
"Tak ada yang bertanya padaku," jawab Xiao apa adanya.
Terkadang Xiao banyak bicara hingga Yi Hua pusing. Akan tetapi, sering juga Xiao malas bicara hingga harus Yi Hua tanya terus-menerus. Ia sangat yakin jika Xiao ini berkepribadian tidak sehat.
Setelah itu, dengan konyolnya Wei Qionglin juga ikut menunduk di atas kepala Yi Hua.
DUGH!
Yi Hua tentu saja tengah memeriksa hamparan pasir di bawah kakinya dengan cara menendangnya. Akan tetapi, tempat ia berdiri masih sangat padat seolah tak pernah ada lubang di dalam sana. Ia hanya berpikir tentang bagaimana bisa lubang besar itu tertutup oleh debu. Bahkan ketika Yi Hua berdiri di atasnya, tumpukan debu yang menutupi lubang tidak juga runtuh.
Apa aku coba melompat saja? Jika jatuh juga ke bawah, tidak kemana-mana.
Ia menarik napasnya, dan melompat ...
DUGH!
TUK!
"Eh?/Aduh!!" pekikan sakit Wei Qionglin bersatu padu dengan melodi suara heran Yi Hua.
Yi Hua mengangkat kepalanya dengan cepat, tanpa tahu Wei Qionglin yang konyol tengah ikut-ikutan menunduk. Hal itu membuat Wei Qionglin nyaris kehilangan giginya karena kepala keras Yi Hua. Wei Qionglin segera memegang dagunya yang terasa sakit. Bahkan ia bisa merasakan darah di dalam mulutnya.
"Apa yang Anda lakukan, Jenderal Wei?" tanya Yi Hua sambil mengusap belakang kepalanya yang terasa sakit.
"Mengikutimu."
Wei Qionglin hanya bisa mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ia memasang senyum hanya karena dia tak tahu lagi harus berbuat apa. Percayalah dia hanya melakukannya karena dia cukup penasaran dengan Yi Hua yang terlihat tahu banyak hal.
Contohnya seperti situasi ini. Bayangkan jika Yi Hua tak mengatasinya, mungkin mereka hanya akan menjadi tengkorak yang ditutupi debu. Sebab, saat badai debu lagi, tubuh mereka mungkin akan ditutupi oleh debu. Sehingga tak ada yang bisa menemukannya. Apalagi dengan kenyataan bahwa Lembah Debu sangat jarang dikunjungi.
Jika Yi Hua sedikit berani untuk menendang kepala Wei Qionglin, maka Yi Hua akan melakukannya. Namun Yi Hua masih ingat bahwa dia harus pandai mengingat jabatan. Hanya agar dia bisa naik pangkat sekali-kali. Siapa tahu juga jika Wei Qionglin berniat untuk meminta bantuan Yi Hua lagi.
Ingatlah! Wei Qionglin membayarnya cukup mahal untuk perkejaan ini.
Dan, Yi Hua harus segera mendapatkan jamur penawar racun ular itu. Atau, dia akan bertambah menderita lagi. Ia harus mencari cara!
Oh iya.
Yi Hua memperhatikan Wei Qionglin dengan agak lekat. Hal itu membuat Wei Qionglin yang sedang mengusap rahangnya menjadi terhenti. Ini adalah hal yang aneh saat Yi Hua menatap padanya. Biasanya Yi Hua mendadak ingin menjadi tukang jagal jika bersama dengan Wei Qionglin.
SRET!
Wei Qionglin takut bernapas saat rambut kecokelatan Yi Hua menunduk ke arah dadanya. Ia bisa mencium aroma seperti asap dupa dari Yi Hua. Mungkin itu karena pekerjaan Yi Hua yang sering membakar jimat di udara. Belum lagi dengan wajah Yi Hua yang kecil seperti seorang gadis (emang cewek dia bang -_-). Mata Yi Hua yang agak lebar itu tampak berbeda dengan ras mereka. Entah darimana Yi Hua mendapatkan warisan mata yang besar seperti itu.
Namun mata seperti itu yang membuat tatapan Yi Hua terkadang terlihat sinis. Seolah dia sedang memikirkan hal yang buruk tentang orang lain. Belum lagi jika saat berdebat, maka Yi Hua akan terlihat seperti mengancam seseorang.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan tubuh Yi Hua yang mungil, ancaman di matanya terlihat seperti sapi berkulit kucing. Bagaimana bisa ada hal yang sulit dijelaskan dalam diri Yi Hua. Ditambah lagi dengan permata merah darah yang melekat di telinga Yi Hua. Mungkin itu adalah satu-satunya hal yang terlihat 'mahal' di dalam diri Yi Hua. Permata itu selalu tampak jelas karena Yi Hua selalu mengikat rambutnya secara keseluruhan.
Wei Qionglin tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh anak rambut Yi Hua yang keluar dari kain pengikat rambutnya. Namun ...
"Yi Hua."
CRING!
"Eh?"
Yi Hua menarik senyumnya dengan sombong. "Saya pinjam pedangnya, Jenderal Wei!" ujar Yi Hua dengan sangat tak paham dengan keadaan.
Wei Qionglin tak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Yang ia tahu ialah ia merasa AGAK kecewa. Ingat hanya AGAK! Sebab, Wei Qionglin adalah pria yang dikelilingi oleh segala macam kecantikan. Ia bahkan menaklukkan mereka hanya dalam satu kedipan mata.
Namun ...
"Yah, Yi Hua adalah 'pria'. Mungkin karena itu Yi Hua tak berminat padanya." Hanya itu yang bisa Wei Qionglin pikirkan di otaknya.
Tapi ...
Wei Qionglin memperhatikan Yi Hua yang melompat-lompat aneh di depannya. Yi Hua seperti tengah mencoba kekerasan permukaan pasir yang diinjaknya. Jemari kurus Yi Hua masih menggenggam erat pedang milik Wei Qionglin. Kuncir rambut Yi Hua yang panjangnya sepinggang tampak terbawa udara saat Yi Hua melompat. Kini Yi Hua yang biasanya sering berbicara sambil mengangkat dagu terlihat seperti anak kecil yang mencoba mainannya.
TING!
TING!
Pandangan Wei Qionglin mengarah kemudian pada kilat pedang yang beradu di kegelapan. Ia langsung merasa dagunya semakin sakit ketika otaknya berimajinasi. Pikirannya kembali mengambang ke fenomena sapi terbang.
"Tapi, bukannya Yi Hua menyukai pria! Dia bahkan punya hubungan gelap dengan pengawal pribadi Yang Mulia!" cetus Wei Qionglin dengan tatapan pilu.
Lalu, ...
CRAK!
Wei Qionglin kembali ke kenyataan saat Yi Hua menusukkan pedangnya ke permukaan pasir. Itu tak hanya sekali, tetapi berkali-kali hingga Wei Qionglin mendekati Yi Hua lagi. "Apa yang kau lakukan? Itu bukan mainan, Yi Hua!" nasehat Wei Qionglin seperti orang tua.
"Tak berguna," ujar Yi Hua dengan suara yang kecil seperti tawa angin.
Akan tetapi, sebagai seorang Jenderal besar, Wei Qionglin terbiasa melatih telinganya untuk selalu waspada. Ia bisa mendengar dengan sangat baik apa yang Yi Hua katakan. Itu membuat Wei Qionglin yakin Yi Hua memang sangat anti padanya.
Tolong bantulah Wei Qionglin! Dia bahkan tak tahu apa yang Yi Hua lakukan. Lalu, mengapa tiba-tiba pedang hebat miliknya, pedang hebat yang memenangkan banyak perang besar, disebut oleh Yi Hua tak berguna?
"Xiao, apa pedang hitam An itu sangat kuat?" tanya Yi Hua dalam hati.
Yi Hua kemudian menoleh ke arah kilat pedang yang masih sangat aktif. Keduanya masih bertarung seolah tak ada yang ingin mengalah.
Xiao langsung menjawab. "Apa kau perlu bertanya lagi? Kau bahkan tahu benda apa itu, HuaHua. Jelas itu sangat kuat. Dan, ..."
"Tuan An, pinjamkan saya pedang!" teriak Yi Hua agar pria itu bisa mendengarnya.
Xiao bahkan belum sempat melanjutkan ucapannya, tetapi Yi Hua menebarkan jimatnya di udara. Lalu, Yi Hua membakarnya. Ingatkah kalian saat Yi Hua sempat menempelkan jimat di punggung 'Lin', atau yah ... Shen Qibo. Awalnya Yi Hua menempelkannya hanya untuk menyelidiki apakah Lin iblis atau tidak. Nyatanya jimat itu tidak membuat Lin kesakitan. Sehingga Yi Hua harus membakarnya untuk membantu An diam-diam.
CRASH!
Akibat jimat Yi Hua yang terbakar, pakaian Shen Qibo juga terbakar. Itu menciptakan cahaya baru, dan mereka bisa melihat tebasan pedang hitam yang mengarah ke leher Shen Qibo. Akan tetapi, iblis yang mendapat gelar Pendeta Buta itu memundurkan tubuhnya.
Melihat itu Yi Hua
SIINNG
Perhatian Shen Qibo mungkin teralih hingga An bisa menebas dengan lebih cepat. Dari jarak yang agak jauh itu, An melemparkan pedangnya untuk Yi Hua. Lemparan pria itu sangat tepat sasaran, dan mudah ditangkap oleh Yi Hua.
"HuaHua, apa kau ingin aku melanjutkan ucapanku?" tanya Xiao seperti suara seseorang yang tengah menahan sakit perut.
Xiao melanjutkan, "Pedang itu memang hebat, dan bisa menebas apa saja. Namun pedang hebat bisa digunakan oleh orang yang tepat. Jika bukan pemiliknya, pedang itu akan menagih darah dari siapapun yang bukan pemiliknya ketika disentuh. Kau sudah tahu bukan itu pedang apa!" ucap Xiao dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Yi Hua menatap tak percaya pada pedangnya hitam yang cukup berat itu, "Kenapa kau tak bilang dari tadi, Xiao?" teriak Yi Hua tanpa sadar.
Hal itu membuat Wei Qionglin mulai percaya jika Yi Hua memang sering berbicara sendiri. Awalnya dia mendengar itu dari kalangan gadis-gadis pelayan di istana, tetapi kini Wei Qionglin melihatnya sendiri.
Dengan panik Yi Hua menusukkan pedang hitam itu ke hamparan pasir. Yang penting ciptakan celah dahulu, baru menggali ke dalam lubang.
TRAK!
Hamparan pasir itu memiliki celah yang agak besar. Seperti terbelah dengan kedalaman setinggi permukaan air sungai. Pedang itu memang sangat kuat dan berbahaya.
Lalu, secepat yang Yi Hua bisa dirinya melempar pedang itu kembali ke udara. Yang penting dia tak menggenggamnya lagi. Apalagi pedang hitam itu sebenarnya 'hidup', dia bisa kembali ke pemiliknya sendiri.
"Untung saja darahku belum ditarik oleh pedang itu," ujar Yi Hua yang terus-menerus bertingkah aneh di mata Wei Qionglin.
Namun Yi Hua sejatinya tak perduli. Setiap orang punya hal yang berbeda dengan orang lain. Hal itu bisa membuat kita terlihat aneh, tetapi Yi Hua tak mementingkan itu. Dia hanya berbeda bukan berarti aneh. Ia cukup menjadi dirinya sendiri.
Xiao berkata lagi, "HuaHua, ini aneh. Mengapa pedang itu tak bereaksi padamu? Kau bukan pemiliknya."
Oh iya.
Namun dia tak memiliki waktu untuk memikirkan tentang itu semua. Dia memerintahkan pada beberapa pedagang untuk melebarkan lubang itu agar bisa dimasuki. Akan tetapi, para pedagang itu menatap Yi Hua dengan pandangan aneh.
Selamanya Yi Hua hanyalah orang yang penuh omong kosong! Bodohnya aku meyakinkan mereka agar percaya padaku.
Yi Hua hanya bisa tersenyum tipis. Tentu saja orang-orang ini tak akan percaya padanya. Oleh karena itu, seharusnya Yi Hua tak melakukan apa-apa. Ini bukan tugasnya, dan siapa yang akan menuruti perintah gila Yi Hua untuk masuk ke dalam celah dalam tanah? Siapa yang bisa menjamin jika mereka akan terkubur di dalamnya?
Aku harusnya pulang dan tidur di kediaman sederhanaku.
Namun Yi Hua menatap pada wajah Ping yang terlihat dari kejauhan. Anak kecil itu tampak dipeluk oleh ayahnya. Akan tetapi, anak kecil itu tetap memandang Yi Hua dengan wajah lega. Seolah selama ada Yi Hua, anak itu selalu menjadi tenang.
"Saya masuk ke dalam, Jenderal Wei," ucap Yi Hua yang berusaha menahan sakit di lengannya.
Yi Hua mengambil pedang milik Wei Qionglin lagi untuk memperbesar jalan masuk. Pasti tak akan sekeras sebelumnya. Akan tetapi, Wei Qionglin menahannya. Kemudian, pria itu menebaskan pedangnya untuk melebarkan lubang. Hal itu membuat Yi Hua hanya bisa menatap rambut belakang Wei Qionglin.
Pria ini percaya padanya.
Lalu, para pedagang yang melihat Wei Qionglin menggali juga akhirnya berkumpul. Mereka berusaha untuk memperlebar jalan. Di sekitar mereka masih ditemani oleh suara pertempuran. Yah, selama An bisa menahan Shen Qibo, maka mereka semua bisa mencapai tempat yang aman.
Akan tetapi, pemikiran itu hanya sebentar Yi Hua rasakan. Nyatanya ia mulai mendengar suara keras dari arah Utara. Itu seperti suara ledakan yang keras, sekaligus menciptakan percikan api.
Yi Hua membelalakkan matanya saat melihat sosok dengan pakaian warna abu yang lusuh. Padahal Shen Qibo saja susah untuk ditangani, tetapi musuh selanjutnya sudah muncul.
Itu Yue Yan!
Meski Yi Hua yakin hanya Shen Qibo yang ditargetkan oleh Yue Yan, tetapi 'bubuhan' yang dibawa Yue Yan yang merepotkan. Pasti Yue Yan yang anti sosial ini akan menebarkan ular-ularnya lagi.
"Serang mereka," ujar Yue Yan dari kejauhan.
Yi Hua bisa mendengarnya berkat bantuan dari Xiao. Akan tetapi, ...
Eh?
Mengapa ular-ular ini tak menyerang mereka?
Ini sangat aneh saat ular-ular yang berkeliaran di sekitar Yue Yan malah bergulung. Seolah tak perduli pada perintah Yue Yan!
Mengapa para anak angkat Yue Yan ini tidak mematuhi pawangnya?!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~