Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Petaka Lembah Debu


__ADS_3

Yi Hua segera membuka pintu yang diusap-usapnya sejak tadi. Walau dia sebenarnya bingung, mengapa Perdana Menteri seperti Liu Xingsheng datang ke kediamannya. Jika ada urusan pun, Liu Xingsheng bisa saja memerintahkan orang lain untuk memanggilnya.


Dan, di sinilah Liu Xingsheng di depan pintunya dengan wajah yang panik. Hal itu membuat wajah belum mandi Yi Hua bertambah kusam lagi. Ini nyaris seperti dia yang kurang tidur, tetapi harus terjaga lagi.


Mungkin saja akan ada masalah baru yang harus Yi Hua hadapi. Yi Hua bersiap untuk memberi penghormatan saat membuka pintu, tetapi ...


GREP!


Tanpa menghitung detik lagi, Liu Xingsheng langsung meraih tangan Yi Hua. Pria itu langsung mengguncangkan genggaman tangan mereka dengan wajah panik. Hal itu membuat Yi Hua menjadi sedikit bingung. Padahal awalnya dia berniat memberi sapaan pada Liu Xingsheng, tetapi tangannya yang terangkat di udara malah diraih oleh pria itu.


"Yi Hua, apakah kau melihat kematian di wajahku saat ini?" tanya Liu Xingsheng dengan wajah yang pucat.


Orang ini datang tak dijemput, dan langsung menarik tangan orang lain sembarangan. Meski aku ini menyamar menjadi pria, tetapi aku gadis, Tuan!


"Tentu saja karena orang ini tidak tahu, Yi Hua," ucap Xiao yang jenuh sendiri dengan pemikiran Yi Hua.


Mengapa dia selalu memikirkan sikap orang lain padanya, padahal dia tahu bahwa di mata orang lain dia adalah seorang pria. Di masa mereka seorang kecantikan sangat dijaga dan biasanya tak banyak orang yang menyentuh tangan si gadis. Apalagi jika bukan suami dari gadis itu sendiri.


Namun Yi Hua adalah makhluk yang dipandang sebagai seorang pria di kehidupan ini. Sehingga dia tak bisa mengajukan protes untuk tindakan pria lain di sekitarnya. Apalagi jika itu berkenaan dengan keakraban.


Juga ...


"Maaf, Perdana Menteri Liu. Saya tak mengerti," jawab Yi Hua yang berusaha menarik tangannya dari genggaman Liu Xingsheng.


Akan tetapi, baru beberapa saat tangannya terbebas, Liu Xingsheng kembali menarik tangannya lagi. Kali ini Liu Xingsheng mengguncangnya dengan lebih keras lagi. Bahkan Yi Hua yang tubuhnya cenderung mungil langsung tertarik ke depan.


"Yi Hua, kau harus meramal keberuntunganku hari ini. Jika aku terlihat memiliki kesialan dan pantangan, maka kau harus memberitahu," jelas Liu Xingsheng yang kini wajahnya sudah sepucat tahu.


Pria ini tidak bisa menutupi ketakutannya sendiri.


Baru saja Yi Hua ingin menjawab, kerahnya ditarik pelan dari belakang. Hal itu membuat sosok baru masuk di antara keributan mereka berdua. Di sana Liu Xingsheng langsung menyadari bahwa ada orang lain di dekat mereka.


TEP!


Liu Xingsheng hanya menatap bingung pada tangan An yang menarik lengan Yi Hua dari genggaman Liu Xingsheng. Setelah itu, An memberi senyum tipis pada Liu Xingsheng, dan memberi penghormatan.


"Perdana Menteri Liu, sangat tidak sopan jika berbicara di depan. Silakan masuk," ucap An sambil menarik bahu Yi Hua agar masuk ke dalam.


"Entah mengapa sekilas aku berpikir bahwa pria itu seperti ingin menebas kepalaku. Atau, aku hanya terlalu banyak berpikir?" Hal itu yang terlintas di benak Liu Xingsheng, tetapi dia tak bisa mempertanyakan karena dia juga sedang bingung.


Dari semua hal, mengapa pria pengawal misterius itu berada di kediaman Yi Hua?


***


Hey, bukannya Yi Hua ini tak bisa meramal, bukan?


Yi Hua jelas tak memiliki penglihatan seperti yang Liu Xingsheng harapkan. Apalagi dengan melihat keberuntungan atau ramalan tentang hidup orang lain. Dirinya tak bisa melihatnya, karena Yi Hua ini adalah peramal jadi-jadian.


"Jika kau mengatakan nasibnya sial, maka cara agar terlihat ramalan milikmu benar-benar terjadi ialah dengan ikut serta bersamanya. Kau pasti bisa membawa kesialan ke hidup orang lain," cetus Xiao di telinga Yi Hua.


Sistem ini ...


Mengapa dia bisa berbicara dengan begitu jujur?


"Ada apa, Perdana Menteri Liu?" tanya Yi Hua yang menuangkan teh untuk Liu Xingsheng.


Di samping Yi Hua ada An yang meminum tehnya tanpa banyak berkata. Sebenarnya Liu Xingsheng tak begitu akrab dengan An, karena dia hanya bertemu beberapa kali dengan pria ini. Bahkan dia sendiri tak begitu yakin bahwa dia bisa dekat dengan pria yang beraura tenang, tetapi mencekam ini.


Tanpa ada banyak kata, Liu Xingsheng langsung meneguk teh itu. Akan tetapi, karena gerakannya sangat cepat, ia terbatuk keras. Terutama ditunjang oleh rasa pahit yang khas dari teh itu.


"UHUK ... UHUK!! Apa teh ini dibuat dengan rendaman arang?" tanya Liu Xingsheng dengan wajah yang memerah.


Matanya menatap horor pada teh yang harusnya agak bening, tetapi seperti terkena tinta dari cumi. Bagaimana bisa ada orang yang membuat teh sepekat ini?


Lalu, mengapa pria bernama An itu bisa meminumnya seperti ini teh yang sangat normal?


Ditambah lagi dengan kelopak bunga mawar yang berada di dalam mangkuk tehnya. Itu jelas Yi Hua membuat teh mawar, tetapi mengapa rasanya seperti bukan teh mawar. Liu Xingsheng sampai berpikiran buruk tentang kandungan di dalam minumannya sendiri.

__ADS_1


"Teh ini direndam dengan getah dari akar penetral racun dari makanan. Itu baik untuk melunturkan racun di dalam tubuh agar aliran darah selalu lancar," jawab Yi Hua dengan wajah tenang. Ia tak melihat ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.


Xiao semakin tak habis pikir dengan tingkah Yi Hua. Masih pagi saja Yi Hua sudah memulai banyak masalah. Apalagi dengan eksperimen makanan bernutrisi miliknya.


"Kenapa kau tidak menjadi Tabib Kerajaan saja ketimbang menjadi peramal," ucap Xiao yang sudah seperti kata menyerah atas pemikiran Yi Hua yang unik ini.


Ide bagus!


Harusnya Xiao tak mengusulkan apa-apa. Dia hanya takut akan muncul jenis obat baru yang menakutkan dari pemikiran Yi Hua yang jauh lebih unik. Ia hanya tak mau Yi Hua menjadi seorang peneliti gila seperti di bagian negeri yang berbeda dari mereka. Entah siapa yang akan menjadi bahan uji coba dari Yi Hua ini.


Liu Xingsheng langsung merasa seperti dirinya lupa pada alasan mengapa dia berada di tempat ini.


"Yi Hua, sepertinya aku memang sedang sial," bisik Liu Xingsheng yang mengasihani dirinya sendiri.


Yi Hua mengerutkan keningnya dengan Liu Xingsheng yang terus meracau mengenai kesialan dan sebagainya. "Apakah ada misi baru di kerajaan?"


Tatapan Yi Hua sempat melirik kembali pada An. Namun pria itu seperti tak begitu perduli dengan apa yang terjadi. Bahkan jikapun pria itu notabenenya adalah seorang pengawal pribadi Raja, tetapi dia terlihat tak tertarik pada persoalan kerajaan. Yi Hua sungguh tak pernah mengerti apa yang An pikirkan.


Liu Xingsheng menepuk pipinya beberapa kali sebelum menjawab. Sepertinya Liu Xingsheng masih berada di ambang kesadarannya akibat teh dari Yi Hua. Akan tetapi, dia harusnya tak lupa pada tujuannya datang ke kediaman Yi Hua ini.


"Aku harus mengurus sesuatu di Kota Utara," ucap Liu Xingsheng setelah ingat apa tujuannya ketika mendatangi Yi Hua.


Bahkan dia langsung mendatangi Yi Hua setelah ia tahu peramal itu kembali. Sebelum itu, Liu Xingsheng dilanda mimpi buruk dan prasangka tak baik akibat perintah Raja Li Shen untuknya. Jika dia bisa menolak, maka dia ingin menolak. Masalahnya adalah tugas ini sangat penting, hingga Perdana Menteri harus turun tangan.


Yi Hua yang sejak tadi memang mengalami gatal di kepalanya mau tak mau kembali menggaruk kepalanya. Seharusnya sekarang dia mandi, dan membersihkan kepalanya. Akan tetapi, karena kedatangan Liu Xingsheng, Yi Hua tak bisa melakukannya.


Yah, karena An juga ada di kediamannya.


"Lalu, apakah tugas ini berbahaya?" tanya Yi Hua yang bingung dengan sikap histeris Liu Xingsheng.


Pria ini benar-benar masuk ke jajaran Pejabat Tinggi karena orang dalam. Beruntung Liu Xingsheng tak menjadi Perdana Menteri tunggal di Kerajaan Li. Jika itu terjadi, mungkin Liu Xingsheng akan membawa Kerajaan Li ke dalam masa kekonyolan.


"Bukan tugasnya, tetapi jalan ke arah sana yang berbahaya!"


Huh?


Tentu saja tidak!


Jangankan tentang Lembah Debu, pasar di Pusat Kota saja dia tak tahu letaknya. Itu semua karena dia adalah orang 'baru' di dunia ini. Yang ia tahu bahwa hidupnya hanya bergerak berdasarkan sistem yang mengaturnya.


Dia nyaris kosong saat memasuki kehidupan Yi Hua ini.


"Itu berada di bagian Utara Kerajaan Li. Kawasan itu agak terpencil, dan wilayahnya terjal. Meski sekarang sudah dibuat agak lebar jalannya, tetapi kemungkinan masuk ke Lembah Debu sangat besar," jelas An sambil memperhatikan Yi Hua yang menggaruk kepalanya.


Orang ini sama sekali tak ada menariknya. Itu adalah apa yang dipikirkan oleh Xiao. Bahkan Yi Hua tak segan-segan mencabuti rambutnya untuk mengurangi rasa gatal. Jika ada tulisan untuk mengukur kecantikan, maka Yi Hua akan masuk daftar terbawah dari ukuran itu.


"Apakah tidak ada jalan lain untuk menuju Kota Utara?" tanya Yi Hua masuk akal.


Ini seperti kau tak masalah memilih jalan memutar, asal tidak bertemu rombongan sapi di perjalanan. Sebab, itu bisa membuat perjalanan terhambat. Hal itulah yang bisa Yi Hua sarankan untuk Liu Xingsheng.


"Yah, dengan kapal. Menembus laut," jawab An yang sangat singkat, dan entah mengapa Yi Hua bisa menangkapnya dengan baik. Padahal pria itu hanya menyebut poin pentingnya saja.


Akan tetapi, masalah yang dibahas oleh Liu Xingsheng sudah mulai jelas. Kota Utara merupakan kota yang sangat jauh dari pusatnya. Jalan darat pun cukup jauh, apalagi memutar dengan melintas laut. Walau, tentu saja karena jalur alternatif ini tak bisa digunakan dalam beberapa hari ini. Pasalnya, sekarang bukanlah musim yang tepat untuk melakukan perjalanan laut.


Katanya, angin di darat saja sudah sangat kencang, apalagi di laut. Sehingga dalam beberapa hari ini, semua aktivitas di permukaan laut dihentikan. Liu Xingsheng jelas tak bisa menggunakan kapal untuk menuju Kota Utara.


Yi Hua merapikan rambutnya kembali agar terlihat sedikit berwibawa. "Mungkin perjalanan itu bisa ditunda hingga kapal bisa berlayar," sarannya lagi.


"Mungkin tak bisa," cetus An yang sepertinya tahu tentang hal yang harus dikerjakan oleh Liu Xingsheng di Kota Utara.


Wajah Liu Xingsheng juga terlihat sangat frustasi. "Jadi, aku harus bagaimana, Yi Hua?"


Kenapa kau bertanya padaku!? Seolah kau lihat hidupku sangat baik dan mulus.


"Memangnya seberapa mengerikannya Lembah Debu ini?" tanya Yi Hua yang penasaran.


Bagaimana pun belum ada yang menjelaskan tentang Lembah Debu ini padanya.

__ADS_1


"Lembah Debu, sesuai namanya, wilayah itu sangat berdebu. Lembah itu, berada tak begitu jauh dari jalan yang bisa dilalui oleh orang-orang. Awalnya wilayah itu baik-baik saja, sampai sepuluh tahun belakangan ada banyak kejadian aneh di tempat itu. Meski masih ada yang lewat di jalan itu, tetapi itu sama seperti memberi nyawa. Nyatanya mereka tak akan kembali."


Oh ...


Yi Hua menolah pada An yang ternyata berbaik hati padanya untuk menjelaskan. Terutama saat ia menyadari bahwa penjelasan An belumlah selesai. Masih ada hal belum An ceritakan lagi tentang lembah itu.


Namun An menggeleng seolah dia memahami maksud Yi Hua. "Tak ada yang tahu mengapa sepuluh tahun belakangan ini Lembah Debu menjadi seperti itu. Terlalu banyak rumor tentang itu semua. Ada yang mengatakan bahwa di wilayah itu sebenarnya tak berhantu atau apapun, hanya saja orang-orang tersesat di dalam debu. Kemudian, mati karena sesak napas atau pun kelaparan. Ada juga yang mengatakan bahwa mungkin yang menghilang di dalam Lembah Debu itu terkubur oleh debu yang sangat tebal. Tak ada yang tahu."


Apakah ini seperti kabut yang dibuat oleh Zhang Yi? Seperti ada efek untuk mengantuk dan sebagainya.


Namun itu hanya bisa menjadi dugaan tanpa ada bukti yang konkret.


Liu Xingsheng sebenarnya merasa kering di tenggorokannya ketika mendengar penjelasan An. Akan tetapi, dia tak punya pilihan selain meneguk ludahnya sendiri. Dia jelas tak mau masuk ke dalam bahaya dua kali!


"Katanya, Lembah Debu bisa dilewati jika hujan datang. Musim sekarang ini musim hujan dan berangin, sehingga Yang Mulia mengizinkan kami untuk melewatinya," ucap Liu Xingsheng dengan wajah yang sangat pucat. Dia jelas tak mau melewati tempat yang sangat berbahaya seperti itu.


Yah, meski dia tak sendirian.


Yi Hua berpikir tentang saran lain yang bisa diberikannya pada Liu Xingsheng. Akan tetapi, dia juga masih bingung karena dia hanya bisa menemukan satu opsi untuk itu. Yaitu, pura-pura sekarat agar tidak diberikan misi dari Kerajaan.


"Apakah orang-orang yang menghilang di sana memang semuanya tak bisa ditemukan?"


An mengangkat bahunya dengan malas. "Bisa jadi iya, tetapi bisa juga tidak. Tak ada yang bisa menjamin kebenarannya. Lagipula, kerajaan pun tak tahu berapa jumlah orang yang datang ke sana jika tak ada laporan."


Dengan kata lain, itu akan terus menjadi 'ketidaktahuan' selama tak ada yang kembali dan menjelaskan apa yang terjadi di sana.


"Sepertinya Tuan ini tahu cukup banyak."


Ucapan itu membuat Yi Hua dan Liu Xingsheng menoleh ke arah pintu, sedangkan An tak begitu perduli. Bahkan dia hanya memutar-mutar mangkuk tehnya yang kosong. Seolah dia tak mau melihat siapapun yang berbicara sebelumnya.


"Perdana Menteri Huan," sapa Yi Hua dengan hormat.


Sedangkan Liu Xingsheng hanya menatap horor pada Huan Ran yang berhasil menemukannya. Pasalnya, Liu Xingsheng sebenarnya melarikan diri dari kereta untuk mereka berangkat. Liu Xingsheng harus mencari Yi Hua dahulu untuk melihat keberuntungannya. Sehingga dia tak begitu kalut saat perjalanan.


"Kakak Huan Ran," sapa Liu Xingsheng takut-takut.


Huan Ran dengan sangat 'sopan' masuk ke dalam. Ia duduk di sebelah Liu Xingsheng, dan langsung berhadapan dengan An. Meski begitu, tatapannya pada An selalu sengit. Seolah mereka ada dendam terselubung yang tak bisa dilepaskan selama bertahun-tahun.


Entahlah.


Ini hanya dugaan dari Yi Hua. Dia sejatinya tak berpikir bahwa kedua orang pendiam ini akan memiliki konflik internal.


"Yang kau lakukan hanyalah membuat keributan, Xingsheng. Seharusnya kau tak datang kemari, dan aku tak akan bertemu orang ini," ucap Huan Ran yang jelas-jelas ingin menyindir An.


Namun An tak begitu terpengaruh. Pria itu hanya memperhatikan Yi Hua yang sibuk dengan rambutnya. Bagaimana pun dia cukup tahu mana yang lebih penting untuk dilakukan ketimbang meladeni Huan Ran.


An tersenyum tipis. "Anda tahu dimana letak pintu, Perdana Menteri Huan."


Yi Hua menghela napasnya sejenak. "Maaf jika saya lancang. Izinkan saya untuk ikut dalam perjalanan ini."


Aku harus selalu memeluk kematian bersamaku, bukan?


Di dalam benaknya Xiao entah mengapa tak berkata apa-apa. Namun Yi Hua tahu dia telah melakukan yang seharusnya. Menggapai kematian untuk terus hidup.


Sangat ironis!


"Saya bisa melihat aura buruk, dan mungkin itu bisa berguna selama di perjalanan," ucap Yi Hua yang lagi-lagi mengembangkan kebohongan di dalam hidupnya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2