Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Raja Li Shen yang Pembenci


__ADS_3

Apa-apaan ini?


Dikiranya membunuh Hua Yifeng itu seperti mengusir anak sapi yang salah asuhan, hingga menganggap kambing sebagai ibunya apa?


Ini sama sekali tak bisa Yi Hua terima. Akan tetapi, ia menyadari bahwa ia tak dapat mengatakan apa-apa. Terutama saat fakta bahwa dia adalah orang yang selamat ketika hanya berdua dengan Hua Yifeng. Sebab, dia dianggap sebagai penghancur ketakutan.


Orang bilang ...


Siapa saja yang melihat rupa asli Hua Yifeng, atau bersama Hua Yifeng, maka dia tak bisa melihat matahari esok harinya. Saat itu Zhang Yi masih tersematkan karena Yi Hua mendadak menjadi pahlawan tanpa topeng. Tentu saja dengan watak Yi Hua, orang akan setuju jika dia pahlawan tanpa topeng.


Sebab, dia akan mengumbar prestasinya pada orang lain hingga sampai kau berpikir ingin memindahkan telinga ke paru-paru. Hanya agar telinga tak mendengar kalimat sombong dari Yi Hua. Walau mereka bertanya-tanya mengapa Yi Hua yang sekarang berubah.


Intinya ... Sekarang dia adalah Yi Hua!


Jika dia tak tinggi dagu maka dia bukanlah Yi Hua yang baik. Dia seharusnya menerima itu tanpa berpikir keseratus kalinya. Apalagi dengan iming-iming piring emas itu.


"Lumayan bukan, untuk mengejar kematian?" tanya Xiao mengganggu di telinga Yi Hua.


Yi Hua nyaris menyundul kepalanya sendiri ke lantai agar ingatannya segera kembali dengan sendirinya. Tak ada yang tahu siapa yang memberitahunya inspirasi itu. Hanya saja dia merasa tahu bahwa ada yang mengatakan bahwa jika kau lupa ingatan, maka benturkan kepala adalah opsi menyakitkan dan konyol.


Namun terkadang berfungsi.


"Lingkaran Mawar itu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Sebab, dia diciptakan dengan diri pribadi penciptanya," jelas Wang Zeming dengan wajah ramahnya.


Wajah pria ini sangat hangat. Jika ia tersenyum maka kau bisa berteriak dengan lantang, "Jadilah ayahku, Paman!" Dia memiliki aura untuk menjadi seorang Penasihat Kerajaan yang baik. Tak aneh jika Raja Li mengangkatnya sebagai seorang penasihat.


"Menjijikkan sekali pemikiranmu, HuaHua," ucap Xiao membantah imajinasi ingin menjadi anak angkat dari Yi Hua.


Wang Zeming menatap pecahan Lingkaran Mawar dengan nanar. Entah apa yang pria itu pikirkan. Namun Yi Hua yakin ada kesedihan di sana. "Kau tahu ... Sebuah benda yang dirangkai oleh ritual dengan orang lain sebagai bayaran saja akan menjadi benda yang kuat. Tergantung orang yang dikorbankan. Apalagi jika itu adalah jantungmu sendiri."


Yi Hua tanpa sengaja menganga.


Hey ... Maksudmu Lingkaran Mawar ini diciptakan dari jantung Li Wei?


Jadi, meski Li Wei tidak menebas lehernya sendiri, dia akan tetap mati karena benda ini terus memakan jantungnya?


Wang Zeming menatap Yi Hua sendu. Bahkan dia tak merasa aneh dengan mulut Yi Hua yang enggan menutup. "Aku bahkan tak tahu jika Li Wei menanamkan Lingkaran Mawar ini di dalam tubuhnya. Bahkan menerjunkan dirinya dalam kegelapan, apa yang sebenarnya ..."


"Paman, silakan lanjutkan tentang kemungkinan kemunculan Lingkaran Mawar." Raja Li Shen dengan mudahnya memotong.


Yi Hua berhasil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Tidak lupa ia menyeka dagunya karena takut dia lupa telah meneteskan air liur. Akan tetapi, yang ia ketahui sekarang ialah asal usul dari nama Lingkaran Mawar ini.


Semua ini karena benda ini terlahir dari sebuah mawar. Dari jantung milik Li Wei*.


^^^*Li Wei artinya mawar.^^^


Lebih dari segalanya Li Shen terlihat begitu tak ingin mendengar kelanjutan tentang Si Mawar Hitam. Wajah angkuh Li Shen membuat tangan Yi Hua gatal. Sayangnya, dia tak punya kuasa untuk itu. Bahkan An di sebelahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan tindakan Yi Hua.


Seorang Pejabat meminta waktu untuk bicara. "Yang Mulia, menantang Hua Yifeng sama saja dengan bunuh diri. Sepuluh tahun yang lalu ..."


GRAK!


Raja Li Shen menggebrak meja dengan wajah merah padam. "Hua Yifeng! Li Wei! Kelima Pendosa itu! Beraninya kau menyebutnya di sini, Pejabat Biang!"


Sungguh disayangkan ...


Yi Hua sangat tahu mengapa meski sudah sepuluh tahun berlalu sistem kedua Perdana Menteri masih ada. Itu semua karena Raja yang berdiri tak begitu kokoh dan selalu menatap masa lalu. Raja Li Shen mungkin teramat muda untuk menggenggam tahta. Yi Hua bahkan merasa sangat sayang. Apalagi dengan Pejabat Jiang yang dibentak padahal dia tak berkata apa-apa.


Dengan kata lain, Pejabat yang sebelumnya berdebat dengan Yi Hua sebenarnya diam. Yang berkata adalah pejabat yang lain. Entah mengapa Raja Li Shen tidak mengingatnya. Mungkin karena dia lupa.


Mengabaikan Pejabat Jiang yang berurai air mata karena tak ada yang benar-benar mengenalnya, Yi Hua memperhatikan Wang Zeming yang menenangkan Raja. "Yang Mulia, perhatikan kesehatan Yang Mulia."


Raja Li Shen kembali duduk di kursi tahtanya. "Lanjutkan."

__ADS_1


Wang Zeming menganggukkan kepalanya. "Yang Mulia, hanya saja jika ada seseorang yang sanggup mengendalikan kekuatan Lingkaran Mawar, maka itu adalah Hua Yifeng."


Satu keping Lingkaran Mawar bisa membuat "kehidupan" di Lembah Debu.


Sudah bisa diduga betapa mengerikannya Lingkaran Mawar jika bersatu dengan utuh. Beruntung Li Wei gagal dan malah menghancurkannya saat kematiannya. Hingga pecahannya lebur dan dianggap tak ada lagi. Jika tidak, mungkin itu adalah kehancuran dunia.


"Mungkin saja dalangnya adalah Hua Yifeng." Kali ini Pejabat Jiang angkat bicara dengan takut-takut.


Wang Zeming menarik senyumnya yang ramah lagi. "Menurutmu apa motifnya Pejabat Biang?"


KRATT!


Belum sempat Pejabat Jiang menjawab pertanyaan Wang Zeming, dan memperbaiki namanya, suara keras terdengar dari depan. Gelas giok milik Raja terbelah di tangan Raja Li Shen. Darah mengalir dari jemarinya yang menggenggam pecahan.


"Menghancurkan dunia yang menghancurkan hidup Li Wei," ucap Raja Li Shen dengan mata tajam.


Yi Hua menatap An, dan pria itu membalasnya dengan wajah tenang. Seolah tak terganggu akan ketegangan yang ada. Mungkin pria ini sudah mengalami kelumpuhan wajah yang sebenarnya.


Pada akhirnya Yi Hua hanya bisa menggeleng untuk menyudahi tatapan mereka.


"Kau tahu Yi Hua, hidup orang lain akan lebih tenang jika bisa mengatasi emosinya sendiri. Sebanyak apapun harta dan kebahagiaanmu, jika rasa marah dan dendam tak hilang, maka itu akan seperti sungai dalam yang keruh," jelas Xiao berfilosofi.


Tak terlihat titik terang di sana.


Dendam membuat Raja Li Shen tak bisa melupakan dendamnya pada kedua orang ini. Li Wei, yang mungkin jika Yi Hua tebak adalah saudari Raja Li Shen sendiri. Seseorang yang mungkin sangat dekat dengannya.


Namun semuanya hancur begitu Li Wei melakukan banyak hal sesuai dengan pemikiran idealnya. Lalu, Hua Yifeng adalah orang yang membantai Raja terdahulu dan seluruh Pangeran dan Puteri yang tersisa di Kerajaan Li.


Lalu, yang disisakan hanyalah Li Shen sendiri.


Saat itu Yi Hua bisa mengira berapa usia Li Shen. Mungkin saja di usia keemasannya. Di usia dia baru belajar banyak hal, dan melihat orang-orang sekitar. Melihat keluarganya, dan mengambil mereka sebagai seorang panutan.


Entah apa saja yang sudah Li Shen lalui hingga tahta ini hingga di dadanya.


Meski begitu, ...


"Apa sebenarnya alasanmu, Li Wei?" tanya Yi Hua entah pada siapa. Suaranya nyaris lirih dan tak terdengar.


Namun Xiao bisa mendengarnya, dan Xiao tak mengomentari apa-apa tentang itu.


***


Membunuh Hua Yifeng?


Tentu saja dimulai dari Yi Hua mulai mengembangkan usahanya terlebih dahulu. Ia perlu uang untuk makan di kesehariannya, bukan?


Jangankan membunuh Hua Yifeng, membunuh rumput saja Yi Hua tak akan bisa jika dia tak mencari makan. Sebagai peramal yang terkadang dipekerjakan sebagai pemutih wajah Liu Xingsheng, Yi Hua hanya mendapat sedikit bagian. Apa maksudnya pemutih wajah?


Sebab, setiap apa yang dikerjakan oleh Yi Hua itu bukan atas nama Yi Hua, melainkan Perdana Menteri Liu yang licik itu. Ternyata meski terlihat agak tak berguna, Liu Xingsheng cukup pandai memanfaatkan orang lain. Sehingga nama Liu Xingsheng terkenal dengan Perdana Menteri yang menyelesaikan segala kerisauan Kerajaan.


Lalu, Raja Li Shen juga sebenarnya tahu bahwa di balik gigi Liu Xingsheng yang tersenyum itu, ada Yi Hua yang banting tulang! Namun Raja yang punya tekanan darah tinggi itu mungkin membiarkannya agar Yi Hua memupuk kebaikan batin.


Busuk sekali!


Tahu tidak seseorang berbisik padaku bahwa urusan kebatinan dan uang harus seimbang! Jika kau masih hidup, kau perlu makan dan minum tanpa takut tak mampu bukan?


Dengan papan yang dibuatkan oleh An untuknya, Yi Hua merasa usahanya ramal- meramalnya akan sukses.


Akan tetapi, ...


SRAT!


"Aku bilang, kau hanya perlu meramal apakah aku berjodoh dengannya! Mengapa kau mengatakan aku harus mengembalikan semua uang yang dia berikan padaku?"

__ADS_1


Yi Hua langsung menangkap mangkuk teh satu-satunya yang nyaris mendarat ke lantai. Jika dia tak menangkapnya, mungkin Yi Hua harus minum dengan mangkuk makannya. Entahlah.


Padahal sudah disuguhkan teh, dan dia melebarkan tangannya hingga menampar mangkuk tercintaku!


Yi Hua yakin di kehidupan ini dia akan menjadi orang paling pelit yang pernah ada. Itu seperti kau telah merasa memiliki sesuatu dengan susah payah, sehingga kau tak ingin membiarkannya pergi. Itulah yang Yi Hua rasakan karena dia memulai untuk membersihkan nama busuk Yi Hua ini hingga seperti ketiak sapi.


"Jika Anda benar-benar mencintainya, maka terima dia bukan uangnya," komentar Yi Hua yang sambil meminum tehnya sendiri.


Kecantikan itu terlihat seperti bunga anggrek biru. Dia sangat menarik, terutama dari wajahnya yang jelas dibedak setebal hutang. Belum lagi dengan rambutnya yang digelung rapi khas gadis bangsawan di Kerajaan mereka. Bahkan jika tak salah mendengar, gadis ini mungkin generasi kedua dari seorang bangsawan terkenal di Kerajaan Li.


Kecantikan biru itu langsung duduk di hadapan Yi Hua dan menyangga dagunya. "Mengapa dia tidak melamar diriku, Tuan Yi?! Mengapa malah memberiku semua perhiasan itu?"


"Jadi, kau menerimanya?" tanya Yi Hua sambil menggaruk belakangnya dengan tongkat ramalan.


Tongkat itu berisi angka di setiap sisinya. Hanya seperti fungsi dagu, dan menunjukkan hari baik dan sebagainya. Yah, Yi Hua hanya tahu sampai di sana. Selebihnya Yi Hua kembali ke pekerjaan sebenarnya. Menipu. Memberi ramalan palsu.


"Tentu saja."


Ya sudah! Mengapa berbicara sampai uratmu nyaris bekerja semua! Dia pasti tak mencintai pria itu.


"Hey, kau tak bisa menyebut seseorang dari wajah depannya saja. Aku tak melihat aura keserakahan dalam dirinya," tegur Xiao di telinga Yi Hua.


"Kau bisa melihat warna jiwa seseorang?" tanya Yi Hua dalam hati.


Xiao terdengar seperti sombong. "Panggil aku Yang Mulia Kaisar Aldeb ... Maksudku, Yang Mulia Xiao. Tentu saja, Yi Hua. Jika kau ingin mencari uang, aku bisa menjadi 'mata' ramalan. Dia sangat mencintai pria yang ditulisnya di kertas."


Kau bahkan belum membayar atas jasa kepahlawanan ku sebelumnya. Mana ingatanku selanjutnya.


Yi Hua ingat bahwa dia hampir mati saat memotong tangannya sendiri. Akan tetapi, ingatannya tak kembali juga. Dan, dia selalu menagihnya. Xiao mengatakan bahwa dia masih berusaha memperbaiki ingatan yang berkecamuk.


Apa-apaan itu?!


"Maaf, sistem kami sedang sibuk." Lalu, Xiao menghilang seperti bunga dandelion tertiup angin.


Wah hidup yang baik ya!


Tanpa meramal pun Yi Hua sudah tahu jika gadis ini tidak akan berjodoh. Yah, pria yang dicintainya ini adalah seorang pedagang besar dari kerajaan seberang. Sehingga mereka tak bisa bertemu begitu sering.


Pria itu sering mengirimkan banyak perhiasan dan gaun yang cantik untuk gadis ini. Siapa namanya ... Huh ... Luo MeiYin, tetapi tak pernah menemuinya langsung. Entah bagaimana mereka berkenalan.



...Luo MeiYin...


"Aku mendengar dia akan menyapa Yang Mulia nanti sore. Dia memiliki urusan di Kerajaan Li," ucap Luo MeiYin sambil meraih mangkuk teh yang sudah diminum oleh Yi Hua.


Yi Hua menatap Luo MeiYin dengan horor. Entah karena dia mengerti apa maksud Luo MeiYin atau dia yang meraih teh milik Yi Hua.


"Lalu?" tanya Yi Hua dengan nada hampa.


SRET!


PRANG!


Kemudian, orang kaya itu dengan seenaknya melemparkan mangkuk teh Yi Hua ke lantai. Pada akhirnya, mangkuk giok hitam untuk teh Yi Hua kini telah menjadi salah satu tugas rumah untuk Yi Hua. Itu berarti dia harus mencari uang untuk menggantinya.


Namun belum saja teh yang menggenang di lantai itu menyebar, Yi Hua sudah hilang dengan meninggalkan sandalnya. Dia terbiasa menduduki sandalnya sendiri sebagai alas, karena dia tak punya alas untuk menjadi tempat duduk.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2