Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 11: Pertunjukan Berakhir


__ADS_3

Sshhh ...


Yi Hua mengikuti arah angin yang berhembus di wajahnya. Ketika itu ia menyadari bahwa di sekelilingnya telah terasa sepi. Meski di sana masih sangat porak-poranda, tetapi ketika badai itu berlalu yang tersisa adalah sebuah kekosongan. Tak ada yang tahu mengapa Yi Hua merasa kesepian ini.


Terlebih ketika ia melihat Wei Fei yang terbaring di atas batu besar. Dia tak lagi berwujud seperti monster dan hanya seperti seonggok manusia tak berdaya. Pakaiannya yang berwarna indah seperti bunga plum kini memiliki sobek di mana-mana. Ini mungkin karena organ tubuhnya yang membesar tiba-tiba, dan itu membuat pakaiannya sobek.


Batu tempat Wei Fei terbaring mendapat dampak yang sangat keras. Mungkin Wei Fei mendarat di sana setelah dilemparkan. Hal itu yang membuat muncul celah di sana. Dari celah itu mengalir darah hitam. Yi Hua menarik senyumnya, entah karena apa. Akan tetapi, ia pikir setiap senyum tak selalu berarti kebahagiaan. Sebab, Yi Hua tak merasa sedikit pun kebahagiaan di sana.


Ia hanya ingin tersenyum. Itu saja.


"Ja ...ngan." Suara sengau itu datang dari Wei Fei yang tergeletak.


Tak jauh dari sana ada An yang berdiri dengan pedang hitam di tangannya. Aliran darah hitam tampak tak begitu berguna di permukaan pedang itu. Jelas saja karena kedua warna gelap tak bisa bertemu dengan baik.


Namun dari sana Yi Hua bisa menyimpulkan tentang luka besar yang menganga di dada Wei Fei. Pria itu jelas tak memiliki niat untuk memperlakukan Wei Fei dengan lembut. Bahkan jika ada yang bisa disebut mengerikan, maka An mewakili semuanya.


SRET!


Yi Hua agak menjauh dari Si Tuan yang sudah kesusahan. Entah ini karena tenaga Yi Hua yang kuat, atau memang Si Tuan ini yang lemah. Akan tetapi, karena pukulan dari Yi Hua, Si Tuan ini sudah seperti ikan yang lama berjemur di luar air.


"Wei Fei, kau juga berpikir jika aku salah? Kau tahu bagaimana rasa sakitnya saat menjadi orang lemah. Kau juga tahu bagaimana rasanya ketika kau ditindas oleh orang yang lebih kuat darimu," ucap Si Tuan itu yang berusaha bangkit dari posisi berbaring di tanah. Mungkin pria ini berpikir untuk meningkatkan kemarahan dalam diri Wei Fei lagi hingga pria itu berubah lagi menjadi monster.


Itu benar.


Yi Hua nyatanya tak berniat untuk berkata apa-apa. Ini hanya seperti ia menunggu para prajurit untuk menangkap pria ini. Meski Yi Hua merasa ingin menggulingkan pria ini ke mulut jurang, tetapi kerajaan punya keputusan sendiri. Sehingga mungkin pria ini akan ditahan terlebih dahulu.


Dan, tentang Wei Fei ... Yi Hua tak tahu.


Si Tuan menunjuk ke sembarang arah seolah dia tengah berpidato. "Kalian tak pernah tahu apa yang kami alami, sehingga kalian menentangnya. Jika Wei Fei terlahir lebih beruntung, apa dia akan memilih jalan seperti ini! Sejak awal jika semua manusia punya takdir yang baik, maka tak akan ada kejahatan!" ucap pria itu yang tak perduli dengan hujan lokal yang dia ciptakan.


SRET!


An hanya menatap datar pada Wei Fei yang berusaha bangkit. Meski begitu, An terlihat cukup tenang untuk seseorang yang berada dalam pertempuran. Atau mungkin An hanya tahu jika Wei Fei tak akan bisa bertarung lagi.


Pria penari itu bangkit dan terbaring lagi dengan sangat menyedihkan. Matanya tertuju pada Yi Hua yang diam di kejauhan. Jarak peramal kecil itu cukup jauh, tetapi entah kenapa Wei Fei bisa melihatnya.


Itu cukup aneh.


Huan Ran mendadak muncul lagi di pandangan Yi Hua. Mungkin pria itu sejak tadi hanya melipat tangan saat yang lain harus bertarung. Yah, apa yang bisa Yi Hua permasalahkan tentang itu semua. Seseorang yang punya tingkatan tinggi memang tak perlu mengotori tangannya sendiri.


"Bawa dia," perintah Huan Ran pada beberapa prajurit yang mengikuti di belakangnya.


Hanya dalam sekejap pria itu bangkit seperti tak pernah kesakitan. Sepertinya akibat percobaan di tubuhnya, pria itu bisa menyembuhkan diri dengan cepat. Hal itu membuatnya bisa berlari seperti sapi yang takut mandi.


Pria itu langsung menuju pada Yi Hua. Mungkin pria ini berpikir jika Yi Hua adalah kandidat terlemah yang bisa ia lumpuhkan. Jika ia bisa membuat Yi Hua sebagai sandera, siapa tahu ...


SRET!


Hanya dalam waktu sepersekian detik pria itu kembali tergeletak ke tanah. Pasalnya Yi Hua mendadak merunduk agak rendah ke tanah. Dan, setelah pria itu berada dalam jarak yang dekat dengannya, kaki Yi Hua menendang ke udara. Tepatnya pada lekukkan di antara paha dan betis pria itu. Di bagian belakang lututnya.


Biasanya Yi Hua melihat anak-anak di pasar melakukan hal ini untuk berbuat iseng pada teman yang lainnya. Hal ini bisa membuat seseorang bisa berlutut jika pukulan di belakang lututnya cukup kuat. Dan itu berlaku pada Si Tuan.


BRUK!


Pria itu terkejut dengan posisinya yang tiba-tiba berlutut. Setelah itu, Yi Hua melihat beberapa prajurit yang diperintahkan mendekat ke arahnya. Mereka menangkap Si Tuan yang masih berusaha memberontak.


"Hey, lepaskan! Wei Fei, kenapa kau tak melawan? Setelah apa yang aku lakukan, kau masih tak berguna! Wei Fei, adik-adikmu masih menunggu di rumah besar itu. Kau ..."


Namun Wei Fei jelas tak bergerak lagi. Pria itu tampak mengangkat tangannya ke udara. Hal itu yang membuat semua prajurit menjadi waspada. Akan tetapi, Wei Fei menatap darah hitam yang mengalir dari tangannya. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.


"Jika setiap orang dilahirkan di situasi yang sama. Punya keluarga yang berbahagia. Tak kesulitan ekonomi dan lainnya. Mungkin tak akan pernah ada kejahatan," ucap Wei Fei dengan nada yang sangat lemah.


Meski begitu, karena kesunyian di sekitar mereka, suara Wei Fei bisa didengar jelas oleh Yi Hua. Ditambah lagi dengan Xiao yang jelas merupakan sistem yang sangat peka. Jika Yi Hua tak bisa mendengarnya, maka Xiao bisa memberitahunya.


Lalu, pria penari itu memejamkan matanya. "Hua Yi, apakah kau memiliki orang yang berharga di hidupmu?" tanya Wei Fei kala itu.


Entah kenapa pria itu hanya ingin bertanya pada Yi Hua. Suaranya sangat lemah, tetapi anehnya luka yang menganga di dada Wei Fei perlahan berhenti. Jelas sekali jika Wei Fei juga memiliki kemampuan untuk memulihkan diri.


"Xiao, apakah itu berarti Wei Fei tak bisa mati?" tanya Yi Hua sambil menyentuh telinga kirinya. Ia berbisik dengan sangat kecil, hanya agar dia tak disebut orang gila. Sebab, di mata orang lain Yi Hua jelas seperti berbicara sendiri.


Wei Fei jelas telah dilukai oleh An, tetapi lukanya terlihat menutup begitu saja.


Xiao mendadak berkata dengan sangat serius. "Itu memang yang seharusnya terjadi, HuaHua. Namun ... Itu tak berlaku karena Wei Fei dilukai oleh pedang milik pria pengawal itu."

__ADS_1


Yi Hua menatap pada An yang memasukkan pedang hitamnya dengan datar. Terlihat sekali jika pria itu setara dengan batu di pinggir jalan. Sangat tak berekspresi, dan tindakannya sama seperti orang yang tak begitu perduli pada banyak hal.


Ketika sadar Yi Hua menatapnya, An langsung menarik bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang sangat tenang seperti biasanya. Dan, Yi Hua hanya bisa membalas senyum An sebisanya. Sekadar sebagai kesopanan.


Wei Fei membuka matanya kembali saat menyadari Yi Hua tak menjawab pertanyaannya. Pria itu menatap pada Yi Hua yang sedang menatap An. Tak lama senyum pucat Wei Fei muncul lagi.


Senyum yang khas seperti biasanya.


Apakah aku harus bertanya lagi? Pikir Wei Fei.


Terkadang tak semua pertanyaan perlu jawabannya. Sebab, tak semua kata bisa menjawab itu. Namun setiap orang hanya bisa terus bertanya. Meski tak ada yang tahu apakah ada jawaban dari pertanyaan itu.


Yi Hua menghela napasnya sejenak. Lalu, peramal kecil itu melirik ke sana-sini hanya untuk mencari penutup kepalanya. Entah mengapa dia selalu kehilangan penutup kepala kesayangannya ini.


Setelah menemukannya, Yi Hua menyadari jika tali pengikatnya sudah nyaris sobek. Jika penutup kepalanya terlepas paksa lagi, mungkin tali pengikatnya akan terlepas. Yi Hua jelas harus berhati-hati, karena dia tak punya uang untuk membeli yang baru.


"Aku tak tahu," jawab Yi Hua seadanya. Meski ia tak segera menjawab, tetapi ia bisa mendengar pertanyaan dari Wei Fei.


Yi Hua tak berbohong.


Dia sendiri tak banyak tahu tentang dirinya sendiri. Ia hanya tahu bahwa dirinya adalah jiwa yang bunuh diri di kehidupan sebelumnya. Dirinya selalu berpikir jika kehidupannya yang sekarang sebagai Yi Hua adalah hukuman karena bunuh diri. Yah, mungkin dia sejatinya adalah seseorang yang berpikir pendek.


Atau, mungkin dia adalah orang yang sangat menyedihkan di kehidupan sebelumnya. Entahlah.


Inti dari segalanya ialah sekarang dia Yi Hua. Seorang peramal kecil yang sombong, padahal tak punya kemampuan apa-apa. Sejatinya, masalah kemiskinan yang ia hadapi sebagai Yi Hua saja sudah cukup membebani. Apalagi mengumpulkan kepingan ingatan itu.


Lalu, dimana jiwa Yi Hua yang asli, ia tak tahu. Kemungkinan Yi Hua yang asli sudah mati. Itulah mengapa dirinya bisa masuk ke dalam raga Yi Hua.


Wei Fei tersenyum menatap Yi Hua. Tatapannya masih hangat seperti dahulu. Kini beberapa prajurit juga menghampirinya. Mungkin Wei Fei juga akan ditahan oleh pihak kerajaan.


Pria penari itu, Wei Fei melanjutkan ucapannya lagi. "Aku punya orang yang berharga di hidupku."


Tangan Wei Fei yang berdarah perlahan berubah menjadi kuku-kuku yang tajam. Hal itu membuat kericuhan di sekitar. Para prajurit mengeluarkan pedangnya untuk berjaga-jaga jika Wei Fei berubah lagi.


Namun gerakan Wei Fei selanjutnya membuat Yi Hua membelalakkan matanya. Ucapannya tersimpan di dalam tenggorokannya, dan tak bisa Yi Hua ucapkan. Termasuk jeritannya sendiri.


Hanya saja ...


Wei Fei meneteskan air matanya seolah dia tak malu untuk menangis. "Aku hanya ingin dia bahagia. Tapi, aku tak bisa lagi melihatnya bahagia."


Jangan!!!!


CRASHH!


Nyatanya suara itu hanya bisa tertahan di dalam hati Yi Hua. Kakinya tanpa sadar bergerak menuju ke arah Wei Fei. Berusaha untuk menghentikannya. Namun suaranya gak bisa diutarakan lagi pada Wei Fei. Terutama ketika kuku-kuku panjang itu sudah tertanam pada leher Wei Fei sendiri.


Tanpa bisa dihentikan lagi, kuku-kuku Wei Fei merobek tenggorokannya sendiri. Hal itu membuat darah hitam menyembur, dan mengenai pakaian putih Yi Hua. Tepat sebelum pakaian putih Yi Hua dipenuhi oleh lebih banyak darah, sepasang tangan meraihnya untuk menjauh.


"Yi Hua, jangan lihat," ucap An yang menutupi mata Yi Hua dengan telapak tangannya yang lebar. Dari sana An bisa merasakan keringat dingin di wajah Yi Hua.


Bibir Yi Hua bergetar begitu ia membalasnya, "Aku sudah melihatnya ..."


Juga ...


"HuaHua ... Ingatanmu datang dengan mengejutkan. Jika kau tak bisa menahannya, kau bisa mati karena ledakan tungku iblis di dalam tubuhmu," Xiao datang sebagai peringatan.


Namun ini seperti sesuatu yang dipaksa masuk ke dalam celah yang sempit. Ingatan itu dengan paksa masuk begitu saja. Menggerogotinya kepalanya hingga rasanya ingin pecah. Hal itu yang membuat Yi Hua meremas kepalanya sendiri.


Baru-baru ini Yi Hua mengetahui cara untuk mengembalikan ingatannya selain dengan cara 'hampir' mati. Yaitu, dengan mengalami kejadian yang sama di kehidupan sebelumnya. Sayangnya, metode ini sama menyakitkannya seperti kemampuan 'kembali ke awal'.


Rasanya sangat menyakitkan seperti ingin mati karena rasa sakit itu. Namun itu sembuh dan sakit secara berulang-ulang. Tanpa henti.


"AKHHH!!!" Teriakan Yi Hua membuat keributan baru di sana.


Ia bisa mendengar keributan di sekitarnya, tetapi suara aneh berdatangan di kepalanya. Itu sangat menyakitkan hingga Yi Hua pikir bahwa dirinya perlu memukul kepalanya dengan batu. Air matanya menggenang di pelupuk mata, tetapi tak terjatuh. Matanya hanya memerah seolah telah berendam lama di dalam air.


Tangan Yi Hua yang nyaris mencabuti rambutnya sendiri perlahan dilepaskan oleh tangan dingin seseorang. Yi Hua tahu siapa yang melepaskan tangannya. Lalu, tangan Yi Hua tanpa sadar mencengkeram tangan An yang menahan tangannya.


Kuku-kuku Yi Hua memang pendek, tetapi kuku itu masih bisa tertanam di telapak tangan An. Meski begitu, pria itu masih terlihat terganggu dengan tindakan Yi Hua. Pria itu masih menahan Yi Hua yang terus berteriak.


"Tidak apa-apa, Yi Hua. Semuanya baik-baik saja," bisik An di telinga Yi Hua.


Darah itu ... Ia pernah melihatnya. Kejadian itu ia pernah melihatnya. Ia juga pernah mengalaminya.

__ADS_1



"Aku ingin menangis, ..."


Suara itu datang ke pendengarannya. Itu jelas suara seorang gadis dengan suara bergetar. Dari suaranya saja ia bisa tahu bahwa gadis itu sudah menangis. Meski begitu, yang dikatakan oleh gadis itu ialah dirinya ingin menangis.


Seolah menangis bisa menghilangkan semua kesakitan di dalam hatinya. Nyatanya apa yang ia lakukan sekarang ialah karena dirinya ingin melarikan diri dari masalah.


Lalu, dari bayangannya yang kabur nyatanya ia bisa melihat sosok gadis yang diselimuti warna kemerahan. Ia tahu ... Itu adalah dirinya. Walau semuanya masih hadir dalam bentuk yang sangat kacau.


"Hmm ... Hmm ..."


Suara senandung yang tenang terdengar dari pucuk kepala Yi Hua. Itu adalah lagu pengantar tidur yang pernah dinyanyikan Yi Hua pada Li Quon di sungai waktu itu. Namun seperti yang dikatakan orang-orang, lagu itu hanyalah senandung. Tak ada liriknya.


Raja Li Shen terlihat sangat terkejut saat Yi Hua menyenandungkan nyanyian tidur itu. Seolah lirik lagu itu sangat rahasia. Anehnya, Yi Hua mengetahuinya.


Akan tetapi, ...


"Hmmm ... hmm ... Di kala hujan menyirami, bunga mawar tampak bersemi. Lalu, mereka bernyanyi hingga tangkai mereka bergoyang." Suara tenang An terdengar lagi. Itu membuat semua gambaran mengerikan di kepala Yi Hua terurai secara perlahan..


Suara teriakan Yi Hua tergantikan oleh senandung lembut dari An. Napas Yi Hua yang memburu juga perlahan mereda. Tangan Yi Hua yang mencengkeram telapak tangan An juga ikut merenggang. Meski begitu, tautan tangan mereka masih bertahan.


TES


TES


Air mata yang tertahan di pelupuk matanya akhirnya menetes. Entah mengapa kini menangis menjadi kelegaan. Seolah kalimat "aku ingin menangis" telah terkabul.


SRET!


Yi Hua merasakan usapan di pucuk kepalanya.


"Kalau kau mendengar lagu ini, berarti sudah waktunya untuk tidur," ucap An lagi. Tangan pria itu terus mengusap kepalanya. Berharap bisa menenangkan peramal kecil itu.


Yi Hua menjawab dengan nada serak, "Ini bukan saatnya tidur."


Tawa kecil An yang sangat langka terdengar. Lalu, Yi Hua merasa tangan besar An menutupi kening Yi Hua yang berkeringat. Mata Yi Hua yang basah bertemu tatap dengan mata An yang tenang.


Kemudian, pria itu memajukkan wajahnya hingga Yi Hua memejamkan mata.


CUP.


An mengecuk punggung tangannya sendiri yang masih menutupi kening Yi Hua. Hal itu yang membuat Yi Hua membuka matanya kembali. Bibir An tak mendarat ke kening Yi Hua, tetapi pada punggung tangannya sendiri.


Bukankah aku adalah seorang pria di mata An?


Entahlah.


"Tidurlah. Semua akan baik-baik saja. Dahulu seseorang pernah berkata hal yang sama padaku." Ucapan An terdengar seperti kabut.


Belum sempat Yi Hua mengatakan apa-apa, rasa berat menimpa kepalanya. Hingga ia terjatuh begitu saja tanpa ada kejelasan yang pasti di balik semua hal yang ia lihat hari ini.


Hanya saja ...


Mungkin An bukanlah seseorang yang asing di kehidupannya.


***


Sebuah berita tersebar di Pusat Kota Kerajaan Li...


Itu adalah Perdana Menteri Kerajaan Li, Huan Ran dan Liu Xingsheng, berhasil lagi dalam menyelesaikan kasus penculikan besar. Hasil yang sangat membanggakan bagi kinerja kerajaan dalam mengatasi masalah. Mereka berhasil menangkap sekelompok penculik yang berkedok kelompok penari.


Atas banyaknya korban, masyarakat mengutuk kelompok penari itu. Seketika semua pujian terhadap tarian indah mereka berubah. Mereka semua lupa tentang keindahan para penari, dan jelas tak ada yang ingin menyebut mereka lagi dengan pujian. Pertunjukkan mereka telah berakhir.


Tentang nasib kelompok penari itu tak banyak yang tahu. Lalu, perlahan semua tentang mereka malah menjadi cerita kelam di sejarah Kerajaan Li. Tak ada yang ingat lagi tentang keramaian dari tarian mereka. Tak ada yang ingat lagi tentang wajah-wajah tersenyum para penari itu.


Semuanya telah lenyap seperti kelopak bunga yang hancur setelah terbawa angin kencang.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2