
Hari ini tidak bisa dibedakan lagi antara siang dan malam.
Atas himbauan kerajaan penduduk tidak keluar dari kediaman masing-masing. Jika pun mereka keluar, mereka tak akan berani begitu jauh. Sebab, cuaca beberapa hari ini tidak bisa diprediksi. Hujan besar melanda di berbagai wilayah dan bencana di belakangnya mengikuti, seperti banjir, longsor, serta angin kencang.
Seolah keseimbangan energi empat elemen sedang terganggu.
Berikut juga di wilayah Lembah Debu.
Berkat serpihan Lingkaran Mawar disingkirkan di sana, debu dan pasir tidak lagi berterbangan layaknya angin. Akan tetapi, sekarang ketika Liu Xingsheng dan Zhang Yuwen sampai, mereka sudah disambut oleh badai pasir panas.
Tepat seperti yang mereka duga, salah satu pondasi energi buruk adalah Lembah Debu. Di mana daerah ini bertumpuk jumlah kematian, hingga dendam dan aura negatif lebih dominan.
Liu Xingsheng sudah diikat oleh Zhang Yuwen dengan tirai darahnya.
Sehingga seperti ada tali merah yang membuat Liu Xingsheng tidak melayang karena terbawa angin. Zhang Yuwen melangkah untuk memasuki Lembah Debu, yang memang sungguh-sungguh isinya debu.
PRANG!
SRHHHHHH
Zhang Yuwen jelas tak punya kekuatan untuk menarik air turun ke bumi. Sehingga ia hanya bisa menyebarkan hujan darah, walau tak begitu kuat. Hal tersebut membuat mereka sekarang mulai basah karena darah.
"Kau tunggu di sini, aku ..."
HOEKK!!
Zhang Yuwen menarik kakinya agar menjauh dari Liu Xingsheng yang menunduk. Pria yang sangat jauh lebih muda darinya itu tampak membungkuk. Menyentuh dadanya sendiri untuk menahan rasa mualnya.
Sialan, Zhang Yuwen lupa jika darah itu memiliki komponen yang berbau karat. Manusia seperti Liu Xingsheng tidak tahan dengan aroma darah yang kuat.
Liu Xingsheng sekarang mual seperti ibu hamil muda.
Zhang Yuwen menghentikan hujan darahnya dan itu membuat debu kembali naik ke udara. Keadaan mereka saat ini cukup buruk, apalagi dengan pakaian yang awalnya agak basah, kini sudah ditempeli oleh debu. Ya ampun ... Jika Wei Wuxie melihat ini, maka Zhang Yuwen pasti akan diejek!
"Jangan ..."
Zhang Yuwen berdiri di depan Liu Xingsheng untuk melindunginya dari serbuan debu. "Sudah. Selesaikan dulu muntahnya."
Baru kali ini Zhang Yuwen sabar.
Harusnya tadi dia datang sendiri saja. tidak usah bersama sahabat Yi Hua ini, yah ... Jika ditinggal juga sedikit berbahaya bagi Liu Xingsheng. Kecuali jika Zhang Yuwen mengantar Liu Xingsheng ke Pusat Kota untuk berkumpul lagi dengan Yi Hua dan lainnya.
Tapi Yi Hua bilang, Liu Xingsheng tahu tempatnya.
Saat Yi Hua menemukan energi itu, dia bersama Bao Jiazhen (dulu dirinya adalah Huan Ran) dan Liu Xingsheng. Sebenarnya ada Hua Yifeng juga di sana, tapi mereka semua tidak ada yang bisa di bawa, karena Hua Yifeng harus berada di pusat energi.
Jika semua energi buruk membeludak di Pusat Kota Kerajaan Li, ada Hua Yifeng yang bisa menahan energi itu.
Bao Jiazhen pergi ke makam keluarga Wei bersama Wei Wuxie, karena yah ... Bao Jiazhen (kata Yi Hua) jangan dibiarkan bersama Liu Xingsheng. Itulah mengapa pembagian kerja mereka jadi seperti ini.
"Tuan Zhang," ucap Liu Xingsheng yang menarik ujung pakaian Zhang Yuwen.
"Apa?"
Liu Xingsheng menepuk punggungnya. "Usapkan sebentar. Saya masih mual."
Ya ampun.
Tapi Zhang Yuwen ingat jika Yi Hua sangat mengerikan jika marah, karena Yi Hua ini adalah Li Wei kan? Itu manusia paling random yang pernah Zhang Yuwen kenal. Pernah suatu ketika saat mereka masih remaja dulu, Li Wei mengomeli seekor sapi karena sapi itu tidak mau duduk dan melompat-lompat. Dikiranya sapi itu anjing yang sangat patuh hingga bisa disuruh seperti itu?
Sudahlah. Mengingat itu tiada habisnya.
"Tuan Zhang."
Apa lagi mau pria berwajah cantik ini?
Liu Xingsheng mendongakkan kepalanya. "Lihat ini!" tunjuk Liu Xingsheng ke arah muntahannya sendiri.
Sudahlah! Masa bodoh dengan sabar, sejak awal Zhang Yuwen jadi iblis karena tidak sabar kan! Zhang Yuwen akan menggantung manusia ini di atas pohon sekarang juga.
Mana ini pohonnya?!
"Kau pasti minta digelindingkan di atas debu seperti kue berbalut biji wijen!"
"Dengarkan aku dahulu."
Liu Xingsheng yang dibentak seperti itu mau tak mau merenggut. Setelah beberapa hal yang dilaluinya, entah mengapa Liu Xingsheng berubah. Dahulu dia penakut, ya sekarang tetap penakut. Cuma ya Liu Xingsheng agak berani sekarang, apalagi untuk mencari tahu kenapa kakaknya dibunuh saat itu.
"Di sini lubang bawah tanahnya."
HAH? Dari semua tempat yang bisa disebut misterius dan rahasia, bagaimana bisa di sana?
Apakah ini berkah dari muntahan? Sialan! Kenapa hari ini mereka jadi membahas muntahan?
"Jangan bercanda, Liu!"
Liu Xingsheng berdiri lagi dari posisi berjongkok. Ia menyeka dagunya yang agak basah, hingga membuat Zhang Yuwen sedikit bergidik.
"Ini sungguhan! Dulu aku dan Kakak Huan menemukan lubang bawah tanahnya juga. Tapi saat kami ingin turun, Yi Hua sudah muncul dengan Tuan An."
Kakak Huan? Tuan An? Siapa lagi manusia-manusia itu. Dugaan Zhang Yuwen paling tidak jauh dari para bencana yang kurang kerjaan, Hua Yifeng dan Bao Jiazhen. Mereka berdua mungkin yang paling misterius, tapi sebenarnya paling sering muncul di dunia manusia. Hanya banyak yang tak sadar saja.
"Meski tertutup debu, tapi karena aku muntah di sini, muntahannya tidak terlihat meresap ke bawah."
Lagi? Muntahan lagi? Ya ampun.
Namun Zhang Yuwen paham maksudnya. Itu berarti ada papan atau kayu yang menghalangi zat cair untuk meresap ke dalam pasir. Zhang Yuwen menarik kerah pakaian Liu Xingsheng untuk membuat manusia itu berdiri.
Setelah itu, membawa Liu Xingsheng terbang sejenak hingga Liu Xingsheng merasa kepalanya bertambah pusing.
Lalu, BLAR!!!
Zhang Yuwen meledakkan bagian di mana muntahan Liu Xingsheng ada. Akibat bagian tanah yang hancur, muncul suara seperti badai pasir. Sepertinya karena goncangan yang kuat, pasir yang sebagian di bawahnya kosong menjadi turun.
Hal tersebut membuat Zhang Yuwen mengikat Liu Xingsheng seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Pejamkan matamu. Kau mau buta jika dimasuki pasir?" tanya Zhang Yuwen saat melihat Liu Xingsheng memperhatikan bunyi badai pasir di bawahnya.
Liu Xingsheng segera memejamkan matanya. Bahkan menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi matanya. Meski begitu, masih ada sekumpulan debu halus yang membuat mata Liu Xingsheng sakit.
Lalu, di tengah kabut dan gelapnya hari, Zhang Yuwen berusaha mencari pohon atau gunung di sana. Hanya sekedar mencari tempat berpegangan, karena tak mampu menahan lonjakan badai. Sayangnya, tempat ini dahulu labirin batu.
Di sana ada bagian tanah yang sangat datar. Jika ada pepohonan, pasti sudah mati karena terlalu banyak terkena pasir dan debu.
GRUK!!!!!!!
Cekungan tanah besar tampak di bawah mereka. Longsoran yang dahsyat membuat wilayah terkubur menjadi tampak kembali. Tumpukan batu yang awalnya seperti dinding kini muncul. Bahkan sebagian dari dinding itu masih tersisa, meski tak begitu tinggi lagi.
Ingatan mantan Perdana Menteri ini lumayan kuat. Ia masih ingat bagaimana cara dirinya menemukan tempat ini, seperti saat bersama Huan Ran dulu.
"Dahulu bagaimana kau menemukan tempat ini?"
Yang dimaksud Zhang Yuwen adalah bagaimana Liu Xingsheng tahu tentang konsep sebelumnya.
Liu Xingsheng yang masih memejamkan matanya menjawab. "Aku juga muntah dulu. Sebenarnya karena aku harus berlari terlalu banyak. Jadi, saat aku muntah ... Aku merasa ada udara dari balik lubang di pasir itu."
Astaga. Muntah lagi?
Zhang Yuwen sudah tak habis pikir. Namun belum sempat ia selesai berpikir, mendadak sebuah lonjakan kekuatan terasa di bagian bawah. Itu adalah aura yang sama dengan waktu itu.
Yang waktu itu adalah sisa dari pedang pangeran Penduka, yang seharusnya tidak ada lagi. Karena Hua Yifeng sudah mengambilnya dahulu.
Lalu, lonjakan energi apa yang ada di sana?
"Itu pohon iblis."
Zhang Yuwen memperhatikan Liu Xingsheng yang masih menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Apa maksudmu?" tanya Zhang Yuwen yang tak mengerti.
Pohon Iblis, adalah sejenis kekuatan yang dikumpulkan oleh Klan Bao untuk menghormati pemimpin mereka. Dengan harapan pemimpin mereka, Pangeran Penduka terlahir kembali. Sehingga saat Tuan mereka ingin menggunakan kekuatan, mereka akan langsung kuat tanpa harus berlatih untuk mengumpulkan inti emas dengan cara berkultivasi.
Itu sudah pernah Zhang Yuwen lihat dari Hua Yifeng. Pria itu memiliki kekuatan yang berbahaya di dalam tubuhnya, bahkan bisa membuat kehancuran besar. Itu yang diinginkan oleh klan Bao.
Pangeran Penduka ingin menghancurkan dunia yang buruk ini. Setelah hancur, Pangeran Penduka akan menata dunia dengan cara yang paling ideal.
"Kakakku ..."
Liu Xingsheng terdiam sejenak saat ingin berucap tentang itu. Zhang Yuwen dengan sabar mendengarkan.
"Kakakku, yang dulu ingin mengobati ku. Dia melakukan percobaan pada manusia, dan itu membuat dirinya mengorbankan banyak orang."
Zhang Yuwen tak menyangka jika orang konyol ini akan memiliki cerita yang menyedihkan.
"Dari percobaan itu dia menyadari jika dia berhasil menyembuhkan aku. Namun kesembuhan itu bukan secara alami, seperti saat kau terluka dan itu sembuh sendiri karena sel di dalam tubuhmu. Itu berhasil karena menggunakan energi buruk. Sehingga itu sudah melanggar ketentuan Dewa. Akhirnya kakakku menyadari jika sumber kekuatan itu dari sesuatu yang sakral, seperti kekuatan benda pusaka atau semacamnya," jelas Liu Xingsheng yang sudah menarik tangannya.
Mata Liu Xingsheng menatap tajam ke bawah. Di sana ada cahaya aneh berwarna oranye seperti matahari terbenam.
"Ia membaca beberapa legenda terdahulu, dan menyadari jika Pohon Iblis itu tidak 'kecil'. Jika seluruh kekuatan Pangeran Penduka muncul, pohon iblis ini akan muncul dan menghancurkan dunia. Walau tak ada dugaan bagaimana bentuknya, tapi jika benar bisa menghancurkan dunia ... Mungkin saja sesuatu keluar dari bawah tanah, dan memecahkan di permukaannya, bukan?" tanya Liu Xingsheng yang sepertinya sudah mulai mengerti.
Membuat mereka ... Klan Bao, yang sejatinya tak punya kekuatan apa-apa, untuk kuat. Agar mereka hidup lebih lama hingga Pangeran Penduka benar-benar menata dunia yang busuk ini.
Sejauh ini Liu Xingsheng telah melihat banyak orang yang menjadi korban. Untuk itu, meski mati sekalipun Liu Xingsheng juga akan menghentikannya. Apalagi berusaha membangkitkan Pangeran Penduka.
Meski penuh kejahatan dan terkadang terasa tidak adil, tapi Pencipta punya alasan sendiri di balik itu semua.
Dunia ini lebih baik terus berjalan seperti apa adanya. Dibanding mengurusi agar dunia lebih baik atau apa, tetapi dari versi masingmasing, lebih baik lagi untuk menata diri sendiri. Bukan bermaksud egois, tetapi ada beberapa hal yang tak bisa diubah hanya dengan cita-cita ideal.
Itu lebih baik.
Lagipula, apa itu hidup yang ideal?
Dengan sifat manusia yang mudah berubah-ubah, 'ideal' ini akan terus berubah setiap saat juga.
Zhang Yuwen memberitahu Liu Xingsheng, "Kita turun ke bawah dan hancurkan sumber energinya."
BRAK!
Namun baru saja Zhang Yuwen turun, percikan kekuatan telah datang seperti hujan dari dalam tanah menuju ke langit. Mengenai Zhang Yuwen dan Liu Xingsheng hingga keduanya terpental ke pasir.
"Sialan! Apa dia sudah selesai mengumpulkan kekuatan?"
Jika seperti itu, Yi Hua dan yang lainnya akan semakin sukar menghentikannya di sana.
***
"Hahaha ...."
Tawa keras dari Wang Zeming membuat Yi Hua mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa Wang Zeming tertawa saat dirinya sudah terkepung seperti ini? Atau ada hal lain yang tidak mereka ketahui?
"Kalian tidak mengerti! Pangeran Penduka adalah pemimpin yang diberikan langit untuk Kerajaan Li. Jika kita tidak membiarkannya naik tahta, bencana lain akan terus datang," ucap Wang Zeming yang dengan santai mengusap kedua tangannya.
Wang Zeming menundukkan kepalanya pada Yi Hua yang masih diam. Kali ini Yi Hua mengenakan pakaian prajurit yang agak kebesaran. Sebenarnya sedikit keajaiban saat Yi Hua tak ketahuan saat menyamar sebelumnya.
"Bahkan para pelindung Pangeran Penduka juga lahir. Ini takdir yang indah," jelas Wang Zeming sambil menepuk tangannya. Bangga atas apa yang ia lakukan.
Yang dimaksud Wang Zeming ialah tentang Lima Bencana yang akan terus terlahir setiap kali Pangeran Penduka lahir. Namun kali ini siapa sangka jika di antara lima bencana ini, salah satunya adalah Pangeran Penduka.
Yaitu, ...
"Putri Li Wei ... Dia diberkati oleh Dewa untuk menjadi Raja selanjutnya. Kau bahkan terlahir kembali dari keturunan seorang Dewa Phoenix," ucap Wang Zeming sambil menatap Yi Hua dengan penghormatan.
Haduh ... Seperti apa yang aku mengatakannya. Dia ini sudah paham dari awal, tapi tetap mempertahankan pemikirannya.
Namun Li Shen lebih terkejut dibandingkan yang lainnya. Bagaimana pun ia sangat yakin dengan apa yang dimaksud Wang Zeming. Lagipula, penasihat kerajaan itu menatap pada Yi Hua.
Terlahir kembali katanya?
Yi Hua menerbangkan kertas jimatnya. Lagi-lagi memberikan sedikit penerangan di sekitar mereka. Jauh dalam hatinya merasa sangat bersalah pada Yi Hua asli.
Bagaimana pun ... Karena Tungku Iblisnya, Yi Hua asli harus dikorbankan. Untuk menghidupkan kembali orang seperti Li Wei. Memikirkannya saja sudah sangat tidak adil pada Yi Hua asli.
__ADS_1
"Tuan ... Aku sangat mengerti kesedihanmu. Kau pasti sangat ingin naik ke tahta, dan menderita karena harus dibunuh oleh para pendosa itu," ujar Wang Zeming yang entah bagaimana. Muncul kekuatan berwarna merah pekat seperti darah dari tubuhnya.
Sama seperti yang terjadi pada Wei dahulu, dalam hal ini Wang Zeming, yang sebenarnya manusia, dirinya mengubah dirinya sedemikian rupa. Menggunakan darah manusia dan jiwa mereka untuk menarik kekuatan iblis. Agar ia tetap hidup dan kuat.
"Setelah ini, tiada lagi kesakitan. Semua manusia tidak akan merasa sakit dan tubuh mereka akan kuat," ujar Wang Zeming sambil menunjukkan tubuhnya yang mulai berubah.
Ling Xiao menghela napasnya. "Kesedihan, penyakit, dan kematian ... Hal yang tak bisa kau lepas dari kehidupan ini. Sebab, ini semua hanyalah sementara."
GRAK!
Hua Yifeng menuju ke arah Wang Zeming, yang masih terus berubah. Pedang Li Wei yang ada di tangannya digunakan untuk memotong bagian tubuh Wang Zeming yang berubah.
SRATTTT!
"WAAAAAKKKK ..."
Percikan darah mengenai orang-orang yang masih berkumpul di halaman istana. Bagaimana pun ini pertama kali mereka melihat Hua Yifeng, Si Iblis Kehancuran. Juga, bagaimana pedang Li Wei yang anti kemanusiaan ini membelah tangan Wang Zeming.
SRATTTT!
Yi Hua menatap tak percaya pada apa yang terjadi. "Itu ..."
Memang benar tangan Wang Zeming terpotong, tetapi dari bekas potongan ini muncul sulur seperti darah. Tak lama itu berubah menjadi kulit ...
Sama seperti semula.
Padahal itu adalah Pedang Li Wei. Pedang yang biasanya akan membuat bagian tubuh yang terpotong membusuk dengan cepat. Namun saat ini Wang Zeming tetap bertahan, bahkan pria itu sudah menyerang balik pada Hua Yifeng.
BRAK!
Hua Yifeng menghindar dari serangan Wang Zeming, dan pukulan Wang Zeming bisa menghancurkan tanah hingga terbelah.
"Yue Yan, bawa mereka semua pergi dari sini," perintah Raja Li ketika melihat pertarungan ini yang semakin berbahaya.
Yue Yan menganggukkan kepalanya. Matanya memindai ke sekitar, di antara kegelapan untuk menemukan tempat yang aman. Dan saat itu Yue Yan merasa jika kekuatan matanya terus melemah.
Tapi ... Yue Yan harus menjalankan perintah dari Raja Li Shen. Keselamatan yang lainnya itu penting.
SRAT!
"Guru Ling," teriak Yue Yan saat menemukan tempat yang dimaksud.
Ling Xiao menganggukkan kepalanya. Menerbangkan kertas jimatnya di udara, membuat seperti ada pagar imajiner yang menahan di sekitar mereka dari setiap hempasan pertarungan.
Yue Yan, yang sebelum pergi ... Ia menoleh pada Yi Hua.
"Berjanjilah kau masih akan hidup! Aku masih belum memarahi dirimu karena melibatkan aku dalam hal ini," pesan Yue Yan kepada Yi Hua.
Bagaimana pun ... Dahulu Li Wei menebas lehernya sendiri untuk berkorban. Menghentikan bencana dan kutukan, yang nyatanya hanya salah paham. Ini sangat konyol hingga Yue Yan tak habis pikir mengapa nasib Li Wei sangat sial.
Yi Hua melambaikan tangannya tanpa menjawab apapun.
Setelah itu, ia memperhatikan Hua Yifeng yang cukup terdesak. Yi Hua menekan ke arah telinganya, tepat pada permata di sana.
Biasanya meski Xiao tidak aktif, rasa hangat di telinganya akan tetap ada. Seperti ada kehidupan di dalam permata merah itu. Namun ... Sekarang Xiao melemah, dan Hua Yifeng juga melemah.
Yi Hua ingat perkataan Xiao dulu.
Tungku Iblis di dalam dirinya hanya seperti pasokan energi untuk orang lain. Yi Hua tak bisa menggunakan kekuatannya untuk diri sendiri. Ia hanya bisa memberikan kekuatannya, dan bisa membuat pihak lain lebih kuat.
Namun resikonya sangat besar.
Jika terserap dan kekuatan itu habis, maka inangnya akan mati. Pemilik tubuh akan mati, seperti Yi Hua asli saat kekuatannya digunakan untuk menarik jiwa Li Wei.
Setidaknya ... Jika Pohon Iblis lebih memilih memberi kekuatan pada Wang Zeming, maka Hua Yifeng akan kehilangan kekuatan. Walau sekarang Hua Yifeng masih bisa mengendalikan Pohon Iblis yang meronta-ronta.
Terlalu banyak sumber kekuatannya, hingga tubuh Hua Yifeng tak mampu menahannya.
Itulah mengapa yang lainnya, Liu Xingsheng dan yang lain berusaha menghentikan setiap pondasi kekuatan.
Hanya agar kekuatan Pohon Iblis tak benar-benar keluar dan menghancurkan dunia ini.
Begitu juga dengan Hua Yifeng.
"Xiao, apa yang harus aku lakukan?" tanya Yi Hua saat melihat Hua Yifeng yang terjatuh tanpa ada alasan.
Ada cairan hitam yang keluar dari telinga Hua Yifeng.
Yi Hua mencari Ling Xiao, tetapi peramal itu tidak ada di sekitarnya.
GRRHHHHH!
Ia ingin menghampiri Hua Yifeng tetapi sekumpulan serigala mengitari Yi Hua mendadak. Yi Hua ingat saat dirinya di Pelatihan Awan, dirinya melihat serigala-serigala ini di Labirin Batu.
Apa sejak saat itu Wang Zeming sudah mengatur 'Li Wei' untuk menjadi Raja seperti dalam ramalan?
Ya ampun. Ini awalnya hanya salah paham! Bagaimana terus berlarut-larut seperti ini?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Huhh!! Punya ide tapi menuangkannya dalam bentuk tulisan tuh emang susah ya. Jadi, aku lagi kesusahan buat merangkai cerita supaya lebih bisa dimengerti. Seperti maksudnya begini loh ... Tapi pas ditulis kok kayak aneh gitu.
Pasti chapter ini kayak membingungkan, karena sulit banget. Lebih sulit dari nulis cerita Adhara dulu.
Maaf ya telat banget.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
***
__ADS_1