
SRET!
KLING!
Yi Hua berdiri tepat di atas pegunungan hingga angin dengan keras menimpa wajahnya. Hal itu yang membuatnya harus mengikat penutup kepalanya agar tak tertiup angin. Bagaimana pun cuaca malam ini sedikit kelam. Yi Hua bahkan nyaris tak bisa melihat bulan di langit malam.
"Apa kabarnu, Xiao?" tanya Yi Hua sambil mengusap Xiao yang terpasang di telinga kirinya.
Dari jarinya Yi Hua bisa merasakan kehangatan yang aneh. Batu permata merah itu sangat merah seperti tetesan darah segar. Terkadang jika dalam kegelapan, maka batu itu akan bersinar. Ia selalu bertanya-tanya dari material apa Xiao tercipta. Bahkan ini nyaris seperti permata, tetapi kau bisa berkomunikasi dengannya. Seolah ada aliran komunikasi di udara. Dan, hanya Yi Hua yang bisa mendengarnya.
Entah bagaimana bisa hal seperti ada di masa seperti ini. Yi Hua bahkan hanya bisa memuji rupa-rupa ciptaan yang ada di dunia ini.
Xiao menyahut dengan nada sarkas. Seperti biasanya.
"Apa kau kerasukan roh sapi? Dan sekarang lihatlah! Apa kau ingin bunuh diri di sini? Sudah aku katakan itu melanggar ketentuan sistem," omel Xiao panjang lebar.
*Ak*u seharusnya berpikir lebih jernih. Yaitu, Xiao ini sebenarnya reinkarnasi dari nyamuk. Sering berbunyi jika di dekat telinga!
Yi Hua memilih tak menanggapi racauan Xiao yang kurang asupan itu. Ia lebih memilih mengawasi pada seseorang yang menerobos dalam gelapnya malam. Pakaian penari yang berwarna-warni pun terlihat seperti kurang mencolok dalam gelap.
Bahkan yang lebih mencolok adalah diri penari itu sendiri, bukan pakaiannya.
"Sekarang aku tahu mengapa dia beraura kematian, Yi Hua," ucap Xiao pelan.
Bukan hanya Xiao, tetapi Yi Hua juga melihatnya.
Di dalam malam yang gelap itu Wei Fei tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya yang hangat tetap hangat, tetapi matanya yang dingin. Di sana ada warna merah yang sangat mencolok, nyaris seperti permata di telinga Yi Hua.
Wei Fei tampak seperti bukan dirinya lagi. Dia terlihat seperti dirasuki oleh sesuatu, hingga matanya berwarna merah. Belum lagi dengan kukunya yang memanjang, dan sesuatu seperti sayap berada di punggungnya.
"Dia setengahnya manusia, setengahnya lagi iblis," ucap Xiao di telinga Yi Hua.
"Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Apakah dia terlahir dari ..." Yi Hua bahkan tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Xiao terdiam sejenak. "Bukan seperti itu, Yi Hua. Jika terlahir secara alami maka dia tak akan seburuk ini hingga berubah seperti monster. Ini seperti tubuhnya ditanamkan, atau digabungkan. Itulah yang membuatnya menjadi membabi buta. Merasa lapar, dan tanpa kau pancing pun kemarahannya, dia akan berubah sendiri menjadi monster."
Yi Hua tak tahu jika memang ada hal seburuk ini di dunia. Dia bahkan tak tahu bahwa makhluk hidup begitu kreatif hingga ingin menciptakan makhluk lainnya. Juga, siapa yang memiliki kemampuan seperti itu ...
"Dan, Wei Fei sepertinya tak tahu tentang dirinya sendiri. " lanjut Xiao dengan nada hampa.
Seperti yang disarankan oleh Xiao, Yi Hua memancing kemarahan dari Wei Fei. Hal itu semua agar sesuatu di dalam Wei Fei keluar. Bagaimana pun Yi Hua tak menyangka jika itu akan tepat pada sasarannya.
Lalu, merasa lapar?
Mungkin Yi Hua juga tahu kemana anak-anak yang hilang itu pergi. Mereka bukan hilang begitu saja. Wei Fei juga meski ditanya sebanyak apapun, dia tak akan mengingatnya.
Yi Hua menatap langit yang masih gelap. Bulan pun tak kunjung datang.
"Sepertinya malam ini akan hujan," bisik Yi Hua entah pada siapa.
BLAM!
Setelah itu, ia bisa mendengar suara keras dari kejauhan. Itu terdengar menggema, dan Yi Hua tahu bahwa itu pasti akan terdengar sangat keras jika di jarak dekat. Sebab, dijarak sejauh ini pun Yi Hua bisa mendengarnya.
Mungkin hujan malam ini akan dimulai dengan gemuruh.
***
PRAK!
GREK!
BAM!
Ketika Yi Hua tiba di sana sebuah pohon tumbang ke tanah. Itu sangat keras dan mustahil untuk terjadi. Seolah ada longsor besar di sana. Sehingga Yi Hua bisa melihat akar pohon yang memanjang di atas permukaan tanah.
Siapa sekiranya begitu kuat hingga bisa mencabut batang pohon?
Sepertinya kita bisa mengambil batang pohon ini untuk dijadikan usaha, Xiao. Kita bisa menjualnya.
Xiao tak habis pikir dengan jiwa pejuang uang yang masih menggelegar di dalam diri Yi Hua. Meski begitu, dia tak melarangnya juga, terutama karena Yi Hua memang penggila uang. Ia bahkan tak mencela Yi Hua ketika peramal konyol itu mengelilingi batang kayu yang baru saja ambruk ke tanah itu.
SYUNG!
"Awas, HuaHua!" teriak Xiao untuk memperingatkan.
__ADS_1
Dengan cepat Yi Hua menunduk, dan lagi-lagi batang kayu terbang melewati udara di atas kepalanya. Bahkan kini Yi Hua sudah terkena tanah-tanah yang menempel di akar. Hal itu membuat Yi Hua terlihat berantakan, padahal dia berada di tempat itu hanya sekitar sepuluh detik.
"Kenapa baru memperingatkan aku, Xiao?" tanya Yi Hua sebal.
Xiao mengeluh. "Jika kau lebih waspada, aku tak perlu repot seperti ini!"
"Ini semua karena kedua Perdana Menteri itu! Seharusnya ini pekerjaan mereka. Namun karena mereka ingin terima bersih, jadi aku harus mengawasi ini!" omel Yi Hua.
Bagaimana pun ucapan Liu Xingsheng masih terdengar di telinganya.
"Aku akan memberikanmu makanan selama satu bulan jika kau menyelesaikan ini," pinta Liu Xingsheng dengan wajah kancilnya.
Lalu, dengan konyolnya Yi Hua langsung menyetujuinya dengan wajah ceria. Seolah dia lupa segalanya setelah mendengar kesejahteraan selama satu bulan. Jelas sekali Liu Xingsheng tahu hidup melarat Yi Hua ini.
"Jika kau tidak sebodoh itu, mungkin kau akan dapat uang melimpah. Bagaimana bisa kau dibayar hanya dengan satu bulan makan." Kali ini Xiao sudah semakin tak mengerti dengan otak Yi Hua.
Bagaimana bisa lidahnya lebih cepat daripada otak. Hingga menyetujui langsung tanpa berpikir terlebih dahulu.
SRET!
Baru saja Yi Hua ingin membela dirinya lagi, rasa dingin di lehernya terasa. Hal itu membuat Yi Hua mendadak tersneyum tak jelas. Terkadang ia sendiri merasa bingung dengan Xiao yang kadang berguna, kadang juga tidak.
Apalagi ... Entah mengapa sudah berkali-kali kepalanya selalu menjadi incaran setiap orang.
"Kau sudah melihat Wei Fei menjadi seperti ini, maka kau harus mati." Suara cempreng itu sudah membuat Yi Hua tahu siapa yang meletakkan pedang ke lehernya.
Tentu saja itu adalah gadis yang sering bersama Wei Fei.
Yi Hua memasang wajah sombongnya. Padahal jantungnya sendiri nyaris melompat untuk bertamasya di akhirat. Bagaimana pun jika gadis itu memutuskan untuk menebas lehernya, dia tak akan bisa mengelak lagi.
Ia bisa mati sungguhan! Dan, sistem 'kembali ke awal' tak akan bekerja lagi.
"Jadi, kau memutuskan untuk membiarkan pria itu terus mencari makanan sendiri. Lalu, kau akan membersihkan bekas Tuan Wei makan?" tanya Yi Hua dengan wajah pucat. Meski begitu, ekspresi sombong memang harus tercipta di sana.
Gadis itu tak menjawab pertanyaan Yi Hua.
Yi Hua memulai omongan busuknya seperti biasa. "Apakah Tuan itu yang memintamu melakukannya? Aku hanya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan oleh Si Tuan ini hingga bisa menciptakan Wei Fei. Kau tahu sesuatu yang buruk, pasti berakhir buruk. Suatu saat dia tak akan bisa kembali menjadi manusia."
"Kau sudah selesai bicara?" tanya gadis itu.
Yi Hua menelan ludahnya sendiri karena merasa pedih di lehernya. Ia sangat tahu jika gadis ini menekankan pedang ke lehernya. Namun dia harus tetap tenang agar dia bisa berpikir jernih.
"Belum."
Gadis itu menekan pedangnya lagi pada Yi Hua. Meski begitu, Yi Hua masih melanjutkan perkataannya. "Apakah Wei Fei menginginkan ini semua?"
"Dia harus hidup. Kami sudah berjanji suatu saat kami akan membebaskan semua anak-anak yang menderita. Mereka lemah dan perlu dilindungi. Jika kami telah punya lebih banyak uang, dan punya lebih banyak orang di dalam kelompok maka kami bisa menyelamatkan mereka. Apakah kalian pihak kerajaan pernah memahaminya?" tanya gadis itu dengan nada bergetar.
Yi Hua tersenyum tipis. "Lalu, bagaimana kau menjelaskan tentang anak-anak yang hilang ini?"
"Sesuatu yang besar memang memerlukan pengorbanan."
Itu hanya ucapan untuk menyelamatkan diri.
SRET!
BUGH!
Yi Hua merasa mereka sudah cukup berbincang. Ia langsung menggerakkan sikunya untuk memukul tepat ke perut gadis itu. Hanya saja ia merasa bahwa gadis ini tak sekuat yang Yi Hua pikirkan.
"Uhuk ... uhuk ..."
Gadis itu terbatuk sambil memegangi perutnya. Pedangnya jatuh ke tanah begitu saja. Yi Hua segera mengambil pedang itu agar tak akan ada ancaman lagi. Bahkan Yi Hua tak sempat untuk menyeka darah tipis yang mengalir di lehernya. Ia yakin darah itu akan menempel di pakaiannya yang serba putih.
"Apa kau tahu. Jika seseorang mati, maka dia benar-benar mati," ucap Yi Hua dengan nada datar.
Jelas kematian tak bisa dianggap sebagai suatu pengorbanan semata. Apalagi jika kau mengatakan demi kebaikan. Bagaimana bisa kau menyebut rasa sakit orang lain sebagai kebaikan dirimu sendiri?
"Kalian memang orang baik," ejek Yi Hua tanpa ampun.
BRAK!
Yi Hua dan gadis itu sama-sama menoleh pada suara tabrakan keras itu.
"Wei Fei!"
__ADS_1
Di sana Wei Fei terbanting dan menabrak pohon besar. Yi Hua sudah membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Meski begitu, ia jelas tahu siapa yang bisa melakukan hal sekejam ini pada Wei Fei.
Terutama ketika ia melihat sosok serba hitam yang mendekat ke arah mereka. Hal yang paling mencolok ialah pedang hitam An yang membuat Yi Hua berpikir terus-menerus.
Pria ini, An, jelas bukan orang yang sederhana.
Hanya saja ia masih belum tahu apa alasan pria ini ingin bermain-main menjadi seorang pengawal.
***
"GRAHHH"
Yi Hua melihat Wei Fei meraung seperti beruang. Entah bagaimana bisa suara hangat Wei Fei berubah drastis. Akan tetapi, ia sangat yakin bahwa tubuh pria ini sudah sangat dikuasai oleh aura iblis. Bahkan pakaian penarinya terlihat sangat tak cocok dengan penampilannya
SRET!
Namun ketika Wei Fei melihat pada An yang baru datang. Pria itu segera bangkit lagi untuk menyerang pada An.
CRAK!
An dengan cepat melompat untuk menebas pada Wei Fei, tetapi Wei Fei menghindar. Jika saja Wei Fei tak memiliki kemampuan yang baik, maka kepalanya bisa terlepas karena pedang hitam An.
Lalu, pada kesempatan An yang masih belum mendarat dengan baik, Wei Fei kembali mengarahkan kukunya yang tajam untuk menggores An. Tetapi, pedang An dengan sangat lincahnya melintas, berpindah ke tangan kirinya.
Pedang itu memotong ke arah kuku Wei Fei. Tidak ... Bukan hanya pada kuku semata, tetapi langsung ke pergelangan tangannya sekaligus. Hal itu membuat Yi Hua membuang pandangannya. Terutama saat mendengar raungan keras dari Wei Fei.
Namun An terlihat sangat datar seperti biasanya. Seolah yang ditebasnya sebelumnya hanyalah batang kayu. Lalu, pria itu dengan mudahnya menendang ke kepala Wei Fei hingga pria penari itu terpental lagi ke belakang. Menabrak batu besar hingga membuat batu itu terberai.
"Hentikan!"
Gadis kecil yang sempat dipukul oleh Yi Hua sepertinya telah mendapat tenaganya kembali. Dengan lincahnya gadis itu menuju ke arah Wei Fei untuk melindunginya.
"Tuan An, jangan!" Hal itu membuat Yi Hua berteriak pada An yang bergerak. Ia sangat yakin An tak akan takut-takut dalam membunuh. Hanya saja ...
"Apa yang kau lakukan, Yi Hua? Bagaimana bisa kau menjadi lemah di saat-saat terakhir?" tanya Xiao tak mengerti.
Namun yang lebih aneh dari segalanya ialah An yang berhenti karena teriakan Yi Hua. Bahkan Yi Hua masih ingat bahwa pria ini masih akan melakukan, bahkan saat dilarang oleh Raja Li. Tetapi sekarang, An benar-benar menuruti ucapannya.
Yi Hua menatap pada Wei Fei yang perlahan berubah kembali menjadi seperti biasanya. Seorang manusia. Hal itu membuat Yi Hua bisa melihat luka parah dari Wei Fei.
Wei Fei bertahan dari serangan An ialah karena fisiknya yang berubah menjadi monster. Akan tetapi, saat kembali menjadi manusia, maka semua lukanya tak akan sembuh dengan mudah.
"BLARR! Uhuk ... uhuk ..."
Wei Fei terbatuk darah dan wajah pun terlihat lemah. Meski begitu, mungkin pria ini tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal itu yang membuatnya menatap pada gadis kecil yang menangis di sampingnya.
"Sudah berakhir, Tuan Wei," ucap Yi Hua.
TAP!
TAP!
TAP!
Mata Yi Hua memandang ke arah Huan Ran dan Liu Xingsheng yang datang. Akan tetapi, kedua Perdana Menteri itu tak datang dengan tangan kosong. Seseorang datang bersamanya, dan terlihat seperti seusia Liu Xingsheng. Hal itu membuat Yi Hua ingin mempertanyakan tentang identitas pria itu pada Xiao.
Namun suara keras dari Wei Fei membuat Yi Hua terperangah.
"Tuan!"
Hey! Bukankah dari ceritanya Si Tuan ini adalah orang tua yang bahkan tak bisa bekerja lagi?
Yi Hua masih sangat yakin dengan telinga dan ingatannya sendiri. Ia masih ingat jika Wei Fei bercerita bahwa Si Tuan yang dahulu menjaganya ini sudah tua. Hingga dia harus menggantikan pekerjaan kotornya. Yaitu, mengumpulkan anak-anak yang menderita sekaligus mencari uang dari pertunjukkan tari.
Akan tetapi, pria yang datang ini jauh lebih muda dari apa yang Yi Hua duga.
Namun lebih dari segalanya, wajah terkejut Wei Fei lebih membuat Yi Hua terdiam.
Mungkin pria malang ini dimanfaatkan terlalu banyak.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~