Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 20: Kematian Jiang Ning


__ADS_3

"Penasihat Wang, jika kau ingin pergi, maka inilah waktunya," tegas Jiang Ning pada Wang Zeming.


Wang Zeming memberi penghormatan pada Jiang Ning. "Hamba tak akan pergi, Permaisuri Jiang."


Permaisuri?


Apakah panggilan itu masih bisa diucapkan bagi dirinya? Bahkan ia mungkin sudah kehilangan tahtanya sebagai seorang Permaisuri. Ia juga sudah kehilangan Rajanya, dan tak ada pengikut lagi di bawahnya.


Hanya tersisa beberapa Pejabat yang masih hidup. Orang-orang Kerajaan Li mungkin lebih memikirkan cara bertahan hidup di tengah penyakit batu yang aneh ketimbang berjuang dari prajurit Kerajaan Xin. Lagipula, tak ada yang percaya lagi pada penguasa mereka sekarang.


"Dengarkan perintahku untuk terakhir kalinya," ucap Jiang Ning.


Li Wei menatap tak percaya pada ibunya. Apa maksudnya untuk terakhir kali?


Wang Zeming menundukkan kepalanya untuk menerima perintah.


"Berikan jalan untuk Li Wei dan Li Shen pergi," perintah Jiang Ning pada Wang Zeming.


Dengan cepat Wang Zeming menerima perintah. "Baik, Permaisuri Jiang."


Raja Xin yang murka segera berteriak. "Kenapa kalian diam, bodoh?! Tangkap mereka!"


Mereka masih bingung dengan senjata aneh yang berada di tangan Li Wei. Jelas-jelas itu adalah sarung pedang. Namun energi yang keluar dari sarung pedang itu sudah menandakan bahwa benda tersebut bukanlah benda biasa. Ditambah lagi ... Bagaimana Li Wei bisa menyebutnya sebagai Lingkaran Mawar. Benda ini bahkan tak berbentuk lingkaran.


Akan tetapi, alasan penamaan itu ialah karena serangan Li Wei. Ketika Li Wei melempar sarung pedang itu, maka benda itu akan terbang melingkar di sekeliling targetnya. Kemudian, akan kembali ke tangan pemiliknya setelah itu.


SRAT!


Wang Zeming menarik pedangnya ketika para prajurit mendekat. Pria yang sudah di usia dewasanya itu segera menebas beberapa orang yang sudah mendekat. Bagaimana pun Wang Zeming adalah pengajar pedang bagi Li Wei dan Li Shen. Bahkan Raja yang sekarang pun sering berlatih pedang dengan Wang Zeming. Sehingga pria itu tak akan mudah dikalahkan.


Darah segar mengalir dari pedang Wang Zeming yang kokoh.


Jiang Ning segera menatap pada Wei Wuxie, "Dan Anda, Jenderal Wei. Lindungi Tuan-mu."


"Baik, Permaisuri."


STAB!


"Permaisuri Jiang!"


Baru saja Permaisuri Jiang Ning meminta Wei Wuxie untuk melindungi Li Wei, anak panah sudah menuju ke arah Li Wei. Pada akhirnya, Jiang Ning hanya bisa mendorong Li Wei hingga putrinya itu terjatuh di tanah. Li Wei mengerang karena rasa sakit di lengannya yang terkena gesekan.


Namun yang lebih buruk dari segalanya adalah tetesan darah yang Li Wei lihat di tanah.


Ibu ...


"Ibu!" teriak Li Shen yang ingin menuju ke arah Permaisuri Jiang Ning.


Akan tetapi, wanita itu berteriak keras. "Pergi dari sini!" teriak Jiang Ning pada Li Shen.


Dengan mata kepalanya sendiri Li Wei melihat anak panah menembus tubuh Jiang Ning. Namun wanita yang melahirkan Li Wei itu kokoh untuk berdiri. Sekuat rasa kesombongannya yang tak mau tunduk pada Kerajaan Xin.


SRET!


Li Wei menarik ibunya hanya untuk sekadar bersembunyi di belakang rerumputan. Walau mereka tahu itu tak berguna apapun. Li Wei bisa mendengar suara denting pedang yang keras. Tak jauh dari keberadaan mereka sekarang. Sedangkan Li Shen juga ditarik oleh Wei Wuxie untuk berlindung di bagian sudut istana. Mereka bisa berlindung seperti itu karena perlindungan dari Wang Zeming.


Meski terkadang anak panah terlintas. Tak tahu dimana pemanah itu bersembunyi.


"Dengarkan aku, Li Wei. Sekarang pergilah yang jauh. Pergi ke negeri orang, dan lupakan semua tentang kerajaan," ucap Jiang Ning yang berniat untuk bangkit kembali.


Bagaimana bisa?


Akan tetapi, Li Wei lebih fokus pada panah yang masih menempel di bahu ibunya. "Ibu, apa yang harus aku lakukan? Panahnya ..."


"Anak bodoh, apa yang kau lakukan?" bentak Jiang Ning yang sebenarnya sudah biasa Li Wei dengar. Bahkan Ibunya ini jarang berucap lembut padanya.

__ADS_1


Tangan Jiang Ning menepis tangan Li Wei yang dengan ceroboh ingin menarik anak panah. Lebih dari segalanya gadis kecilnya ini mulai panik hingga lupa. Bahwa luka seperti ini tidak boleh ditarik sembarangan, atau Jiang Ning bahkan lebih akan cepat mati jika panahnya ditarik.


Kebanyakan orang tak bisa melakukan apa-apa jika didera rasa panik. Mereka akan berdiam diri seolah semua kesadaran mereka ditarik ke dalam suatu lubang. Entahlah.


"Ibu ... Apa yang harus aku lakukan?" tanya Li Wei dengan air matanya yang entah kapan sudah mengalir.


Lihatlah gadis kecilnya sekarang. Mungkin ini terakhir kalinya Jiang Ning bisa membentak anak bodohnya yang tengah menangis.


"Pergilah ke tempat yang orang lain tak akan mengenalmu. Hiduplah dengan baik, dan jangan pikirkan apapun," ucap Jiang Ning sambil memperbaiki perban acak-acakan Li Wei di lengannya.


"Tidak, Ibu. Aku ..."


"Permaisuri, sudah siap," teriak Wei Wuxie memberikan informasi.


Li Wei melihat Wei Wuxie hanya sendirian. Mungkin sebenarnya mereka sudah memiliki rencana untuk pergi dari kerajaan. Pergi dari Kerajaan Li yang sudah tak bisa diselamatkan lagi.


"Jenderal Wei sudah menyiapkan tempat untuk kalian bersembunyi. Setelah semuanya sudah usai, dan mereka sudah muak mencari wajah jelekmu itu, kau bisa keluar," ucap Jiang Ning setelah selesai merapikan perban Li Wei di tangannya.


"Aku tak bisa pergi ... "


"Apakah kau bisa mendengarkan, Ibu?" bentak Jiang Ning dengan keras.


Li Wei bahkan kehilangan kata-katanya sendiri. Terutama saat melihat tetesan darah ibunya yang membasahi tangannya sendiri. Jiang Ning masih memegang tangan Li Wei sehingga aliran darah ibunya mengalir menuju tangan Li Wei.


"Mungkin ini terakhir kalinya Ibu bisa memerintah padamu. Di masa depan nanti mungkin tidak ada yang akan memarahi dirimu saat kau berkeliaran seperti sapi. Di masa depan mungkin kau akan menghadapi dunia ini sendirian," ucap Jiang Ning dengan wajah lembut.


Teriakan Raja Xin Wantang terdengar lagi. "Cari Permaisuri Jiang Ning dan Putri Li Wei. Jangan biarkan mereka pergi."


Bagaimana pun mereka berlari dari kejaran para prajurit, tetapi istana ini sudah bukan daerah kekuasaan mereka lagi. Tak akan ada prajurit yang berjaga di sekitar mereka. Tak ada yang memberi penghormatan lagi pada mereka. Yang lebih menyedihkan lagi ... Tidak ada keseharian mereka, yang dahulu mereka pikir suatu hal yang membosankan.


Jika para prajurit bisa mengejar mereka sekarang, mungkin Wang Zeming sudah dikalahkan. Memikirkan itu Li Wei di ambang rasa takutnya yang menjadi-jadi. Takut jika perihal terburuk akan terjadi pada mereka hari ini.


Suara derap kaki terdengar semakin dekat, dan Jiang Ning segera membantu Li Wei untuk berdiri tegak.


Li Wei terdiam ketika Ibunya mencium kening Li Wei. Ibunya itu sangat jarang memiliki aura ke-ibuan di dalam dirinya. Jika tukang jagal sapi, maka itu adalah sisi utama dari ibunya. Akan tetapi, sejatinya Jiang Ning hanya seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya tetap hidup.


"Apa kau tahu? Aku tak takut untuk melahirkanmu ke dunia ini. Namun aku takut kau terus dewasa dan tahu akan kekecewaan. Dan, sekarang aku tahu apa yang paling menakutkan ..."


Li Wei membelalakkan matanya ketika berpuluh anak panah mengarah ke arah mereka. Dengan sekuat tenaga Jiang Ning mendorong Li Wei hingga gadis kecilnya itu harus ditangkap oleh Wei Wuxie. Jika tidak maka Li Wei akan mendarat di tanah.


STAB!


STAB!


STAB!


"IBUUUU!!" Teriakan Li Wei terdengar seperti orang yang kehilangan semua rasa rasionalitasnya.


Bahkan aku tidak mendengar apa yang dikatakan Ibu sampai selesai!


Teriakannya begitu keras dan memilukan. Jika Wei Wuxie tidak menahannya mungkin Li Wei sudah menuju ke arah ibunya yang masih berdiri tegak walau anak panah mengenai sekujur tubuhnya. Wei Wuxie memberikan penghormatan terakhirnya pada seorang Permaisuri paling ia hormati di sepanjang hidupnya.


Setelah itu, Wei Wuxie menarik paksa Li Wei untuk mengikutinya. Walau gadis itu sudah memberontak dengan kuat. Jujur saja Wei Wuxie cukup kelelahan saat harus menahan Li Wei. Ia sangat menyadari bahwa bela diri Li Wei cukup tinggi hingga Wei Wuxie beberapa kali terkena pukulannya.


Dengan menahan sakit itu, yang mana Wei Wuxie tak tahu mana yang lebih menyakitkan. Apakah ketika mendapatkan pukulan dari Li Wei atau suara tangis Li Wei yang keras. Hanya saja .... Siapa yang tak berduka saat kehilangan seorang ibu?


Bibir berlumuran darah Jiang Ning berucap lemah pada Li Wei yang sudah sangat jauh darinya. Sehingga Li Wei tak akan mendengar ucapannya. Akan tetapi, dalam tangisnya Jiang Ning segera berbalik. Menuju ke arah yang berlawanan dari Li Wei. Mengalihkan perhatian musuh.


Dengan pedangnya yang berlumuran darah Jiang Ning terus berjalan tak tentu arah. Langkah lemah Jiang Ning yang terkesan diseret menandakan jika Jiang Ning tak bisa bertahan lagi.


Dan yang ia ucapkan beberapa kali ialah, "Sekarang aku tahu apa yang membuatku takut sekarang," ucap Jiang Ning pelan.


"Itu dia ... Permaisuri Jiang Ning!" teriakan itu terdengar tak jauh dari Jiang Ning.


Namun Jiang Ning tak bisa melarikan diri lagi ...

__ADS_1


BRUK!


Jiang Ning terjatuh dalam posisi terlungkup. Darahnya mengalir di tanah tempat ia terjatuh, dan hanya bisa menatap pada kaki-kaki yang mengelilinginya. Tak ada jalan kembali bagi Jiang Ning, dan bukan itu yang ia takutkan.


Li Wei, yang aku takutkan ialah tak ada lagi yang memarahi dirimu saat kau berlarian nakal seperti sapi.


Percayalah ketakutan seorang ibu ialah ketika meninggalkan anaknya sendiri di dunia ini. Seorang ibu akan takut saat anaknya tahu tentang rasa kecewa, dan ibunya tak ada di sana untuk menghapus kekecewaannya. Lebih dari segalanya Jiang Ning tak akan melihat putrinya tumbuh dewasa.


Pandangan Jiang Ning menjadi buram hingga semua rasa sakit di tubuhnya perlahan memudar. Mungkin bersama kesadarannya yang berangsur menghilang.


Hari itu tercatat sebagai hari kematian Permaisuri Kerajaan Li dalam sejarah.


TAP!


Tak lama, ketika Xin Wantang memerintahkan para prajuritnya untuk memeriksa Permaisuri itu, Jiang Ning sudah tak bernapas lagi. Hal tersebut membuat Xin Wantang berseru dengan marah.


"Cari Li Wei kemana pun dia pergi. Aku ingin kalian temukan dia hidup-hidup! Tak hanya di Kerajaan Li! Pastikan lukisan wajahnya tercetak di seluruh penjuru negeri," perintah Xin Wantang marah.


Jika ada yang membuat marahnya ialah karena bukan dirinya yang memberi penderitaan. Hanya agar mendiang Raja Li yang pengecut itu melihat akibat dari kesombongannya. Raja Xin hanya ingin menunjukkan jika Raja Li yang naif itu tahu bahwa dunia ini mau di damaikan seberapa banyak pun tetap akan kacau. Kebenciannya pada penolakan Raja Li dahulu untuk bekerja sama membuat Raja Xin ingin membuktikan. Bahwa kerajaan besar seperti Kerajaan Li akan musnah bila berani menolak dirinya.


"Bawa dia ke halaman istana. Biarkan dia berkumpul dengan Raja-nya yang pengecut itu," perintah Raja Xin.


Namun belum sempat prajuritnya mendekat,


Su Nan, Permaisurinya muncul bersama iringan pelayan. Wanita itu tersenyum manis saat melihat Jiang Ning yang sombong itu telah mati. Wajahnya masih membengkak karena tamparan Jiang Ning. Karena kemarahannya itu, Su Nan menendang tubuh Jiang Ning yang tak bernyawa sekuat yang ia bisa.


"Dasar wanita ******! Kau berani menyakiti diriku hingga kematianmu sekarang adalah hukuman bagimu!" teriak Su Nan dengan suara cemprengnya.


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Para pelayan yang mengikuti Su Nan tentu saja tak mengatakan apa-apa ketika melihat hal memilukan itu. Semua orang tahu tentang karisma Jiang Ning sebagai Permaisuri. Sehingga kematiannya dan Su Nan yang menginjak-injaknya mungkin akan sangat menyakitkan. Terutama bagi orang-orang Kerajaan Li.


Raja Xin menarik senyum liciknya sambil merangkul bahu Su Nan. "Rupanya kecantikan milikku ini sedang bersenang-senang."


Lalu, Su Nan bergelayutan di lengan Raja Xin Wantang seolah wanita itu tak punya tulang. Bahkan dadanya yang seperti tak bisa ditanam oleh pakaiannya sendiri menempel erat pada Xin Wantang. Hal yang sebenarnya tak ada kesan romantis sedikit pun, tetapi malah memuakkan.


Akan tetapi, tak ada yang bisa menghentikan pemandangan itu.


"Terima kasih karena telah membalaskan dendam hamba pada wanita sombong itu," ucap Su Nan manja.


Xin Wantang mencium pelipis Su Nan sambil berkata, "Nanti akan ada pertunjukan yang lebih mengesankan dari ini, Permaisuri-ku."


Hanya saja ...


Sejak melihat Li Wei, Xin Wantang tentu saja jatuh hati. Namun gadis kecil itu lebih liar dibandingkan rusa di hutan. Ditambah lagi Li Wei memiliki hal yang Xin Wantang inginkan. Li Wei tahu tentang obat dari penyakit batu itu.


Li Wei juga memiliki tanda merah yang tertulis dalam buku tentang Pohon Iblis. Sebuah tanda merah dari munculnya kuasa Pohon Iblis. Ia harus menemukan dimana Pohon Iblis itu berada.


Dengan kekuatan Pohon Iblis keabadian dan darah yang kebal dari penyakit dan racun bukan lagi menjadi mustahil.


Gadis kecil itu sangat berharga untuk dibunuh begitu saja.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2