
SRET!
Yi Hua mengeluarkan kepalanya dari jendela ketika melihat gumpalan debu yang ada. Hal itu membuat sebuah tangan menariknya lagi ke dalam. Tentu saja itu adalah gerakan yang tak pernah Yi Hua duga.
"Kau mau kepalamu rontok karena debu," tegur An yang menutup kembali jendela kereta.
Bagaimana pun aturannya tetap sama seperti yang mereka duga dari wilayah ini. Mereka sudah cukup dekat dengan Lembah Debu, dan kata 'cukup' ini membuat mereka juga terkena luapan debu. Ini adalah saat mereka belum masuk begitu jauh ke jalan sempit itu, tetapi mereka sudah dilanda debu cukup besar. Apalagi ketika mereka berada di bagian atas lembah.
Itu pasti akan menjadi seperti ditenggelamkan dalam debu dalam jumlah banyak.
"Apakah kita harus kembali?" tanya Yi Hua pada Liu Xingsheng yang berkomat-kamit di hadapannya.
"Pasti ada makhluk yang bisa mengendalikan debu di luar sana," bisik Liu Xingsheng dengan wajah pucat.
Ini seperti yang Liu Xingsheng takutkan, yakni hujan tak datang. Tentu saja karena mereka jelas tak bisa menyuruh hujan untuk datang di saat yang tepat. Meski sekarang musim hujan, tetapi soal ketepatan jatuhnya ke bumi seringkali acak. Dan, mereka sudah disapa hujan ketika mereka keluar dari Pusat Kota.
Dan, katanya matahari setelah hujan lebih perih daripada matahari sebelumnya.
Itulah yang terjadi. Sehingga Yi Hua jelas secara logika tak akan membenarkan pernyataan Liu Xingsheng. Sebab, semakin kering pasir yang disinari matahari, maka debu semakin naik. Yang terjadi saat ini sangat logis, karena matahari sangat terik. Kemudian, kadar pasir di permukaan tanah juga sangat melimpah. Semua itu bukanlah proses makhluk halus, tetapi memang sudah takdir alam. Yi Hua bisa menyebut bahwa di sini tidak ada yang janggal.
"Kau benar, Yi Hua. Ini sangat normal seperti yang kau pikirkan. Namun seperti dalamnya laut, kau juga tak bisa menebak apa yang ada di dalam kubangan debu ini," saran Xiao yang entah mengapa agak waras hari ini.
Huan Ran yang sejak tadi diam mendadak menyindir. "Saya mendengar bahwa ilmu bela diri Tuan An sangat baik. Mungkin Tuan An bisa mengibaskan tangan, dan menyingkirkan debu agar kita bisa lewat. Bukankah itu mengapa Anda juga ikut, bukan?"
Huan Ran sebenarnya pendiam dan mungkin termasuk orang yang banyak tindakan ketimbang perkataan. Saat pria itu mengemudikan kereta, pria itu cenderung sangat diam di depan. Ia masuk ke dalam kereta karena keadaan yang tak bersahabat.
Jadi, di sini mereka berempat. Berdesakan, karena hanya Yi Hua yang punya tubuh agak kecil. Ketiga lainnya, terutama An memiliki tubuh yang sangat boros tempat.
Akan tetapi, sekarang Huan Ran bertemu dengan An, maka dia akan menjadi makhluk yang sedikit rusuh. Dia bahkan tak segan-segan menyindir An, yang sebenarnya tak punya kepentingan untuk ikut sekarang. Yi Hua jujur saja tak mengerti dengan An yang terlihat sangat pengangguran.
Namun di sini sekarang An, pria itu dengan santainya menyangga dagu. Bukankah pria ini punya pekerjaan sendiri?
Juga, mengapa Raja Li Shen tidak memanggil pengawalnya ini sama sekali dalam beberapa hari ini?
"Mungkin jika Anda keluar dari kereta ini, dan berbicara terus, maka debunya akan hilang," balas An yang mengulurkan tangannya ke arah Yi Hua.
Orang ini ... Bisakah dia agak tenang?
Lagi-lagi tangan An menarik kepala Yi Hua yang ingin mengintip keluar dari kereta. Jika An tak melakukannya, mungkin Yi Hua akan memiliki tumpukan debu di dalam matanya. Oleh karena itu, An harus mengatasi rasa penasaran Yi Hua yang tanpa batas ini.
"Apakah di wilayah ini benar-benar hutan?" tanya Yi Hua yang menghela napasnya.
Liu Xingsheng berpikir sejenak. "Apa yang aku ingat di sana sebenarnya bukanlah hutan. Ada desa kecil di wilayah dekat sini, tetapi tak ada penduduknya."
__ADS_1
Tentu saja.
Ini seperti memberi makan paru-paru dan indera mereka dengan debu jika tetap bertahan di tempat ini. Yi Hua jelas orang pertama yang mengepak barang-barangnya jika ada persoalan semacam ini. Semua ini seperti mereka tak punya pilihan lain untuk pindah dari tempat ini.
"Oh, apakah desanya kecil?" tanya Yi Hua penasaran.
Yi Hua bertanya, tetapi dia tak menyadari wajah tak percaya dari Liu Xingsheng. Sedangkan yang lainnya terlihat biasa saja, meski ini sedikit mengejutkan.
"Apa kau tak tahu tentang Desa Jia?" Bukannya menjawab, Liu Xingsheng malah balik bertanya.
Jangankan Desa Jia, siapa nama cicak di kediamanku saja aku tak tahu! Aku ini penduduk baru di dunia ini.
Yi Hua pura-pura mengusap kepalanya. "Saya terjatuh di jurang saat itu, mungkin kepala saya terbentur. Anggap saja begitu."
"Oh, pantas otakmu selalu oleng," komentar Xiao yang merupakan musuh terselubung yang sebenarnya. Mana ada sistem yang suka menyindir seperti Xiao ini!
Pasti saat di kehidupan sebelumnya, jika ada untuk Xiao, mungkin dia adalah sapi!
Yi Hua tak bisa berhenti mengumpat jika tentang sistem tercintanya ini.
"Ini tentang Shen Qibo."
Siapa dia?
Jelas saja Yi Hua yang masih seputih salju ini tak tahu apa-apa tentang orang-orang di sekitar Yi Hua. Dia hanya bergantung pada penjelasan dari Xiao. Itu pun jika sistem tak berguna ini mau bekerja sama.
Oh iya, aku lupa jika Kerajaan Li ini memiliki segudang makhluk dengan julukan.
Karena sudah dijelaskan oleh Xiao, Yi Hua hanya menjawab: "Oh begitu. Saya sepertinya sudah ingat."
Namun baru saja Yi Hua ingin bertanya lagi, terutama pada An yang sudah seperti tempat mencari informasi, Huan Ran mengulurkan jarinya dari celah jendela yang dibuka sekecil mungkin. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang Shen Qibo ini. Terutama saat Yi Hua berpikir bahwa Pendeta Buta ini memiliki segudang misteri yang ia bawa bersamanya.
Apakah dia begitu gila hingga sampai membunuh satu desa hanya dalam satu malam?
Yang membuat Yi Hua berpikir bukanlah jumlah orang yang dibunuhnya, melainkan alasan dari kegilaan ini. Semuanya terlihat memiliki tanda tanya besar, yang entah Yi Hua perlu memecahkannya atau tidak.
Setelah itu, Huan Ran menarik tangannya kembali. "Ini benar-benar tak bisa dilewati, kita hanya bisa kembali ke kota terdekat."
Liu Xingsheng dengan cepat mengangguk karena dia jelas tak ingin menerobos debu ini. Mereka masih memiliki esok hari untuk merancang perjalanan. Ini tak seperti mereka tak punya pilihan lain untuk kembali.
"Tuan An, singkirkan debu sejenak agak saya bisa menggerakkan kereta ke wilayah yang agak tenang," ucap Huan Ran yang menatap sengit pada An.
"Bukankah Anda juga bisa, Perdana Menteri Huan?"
__ADS_1
Bisakah mereka berdua ini sedikit menjadi akur? Lagipula, Yi Hua selalu mengapresiasi apa yang An lakukan. Pria ini tak begitu terlihat segan ataupun hormat pada banyak orang. Ia bahkan ingat bahwa An juga tak begitu hormat pada Raja Li Shen. Dia cenderung agak liar daripada yang Yi Hua duga.
Yi Hua menghela napasnya sebelum meminta pada An. "Apakah Anda bisa menyingkirkannya?"
Yi Hua bisa melihat senyum tipis An. "Tentu saja. Mana mungkin saya tak mengabulkan permohonan dari Perdana Menteri Huan."
Jelas sekali jika pria ini hanya menyindir Huan Ran!
"Kau ...!"
CREK!
Huan Ran bahkan tak bisa protes ketika An merobek ujung pakaiannya. Setelah itu, ujung pakaian Huan Ran itu langsung terbang seperti ditiup angin. Kain itu melintas untuk menyusup ke dalam celah jendela kereta.
Entah bagaimana itu bisa terwujud, tetapi Yi Hua pernah melihat Fang Yin melakukannya. Tentu saja dalam pengalaman kebatinannya. Dia berpikir bahwa Yi Hua saja yang tak begitu berguna hingga tak bisa berkultivasi. Jika Yi Hua bisa berkultivasi, maka dia tak perlu berjalan jauh dan hanya menggunakan pedang untuk terbang.
"Anda jelas bisa menggunakan kertas atau benda lainnya, bukan?" tanya Huan Ran dengan wajah yang sangat jengkel.
An mengusap tangannya yang sehabis menyentuh lengan baju Huan Ran ke dinding kereta. "Saya lupa. Awalnya saya mengira itu sampah yang ada di dalam kereta ini."
Pengawal kurang kerjaan ini tak lupa sama sekali!
Tak lama suara deru debu di sekitar mereka sedikit memudar. Tanpa berniat memperpanjang lagi, Huan Ran segera keluar untuk mengemudikan kereta kembali. Jelas jika dia berdebat dengan An seperti melempar batu ke dalam air. Yang ada hanya mereka yang kalah dan jengkel.
Namun tepat saat kereta mulai berjalan, Yi Hua mendapati sesuatu yang berbeda. Saat debu tak mengelilingi kereta mereka lagi, Yi Hua bisa melihat di keadaan sekitar. Saat itulah Yi Hua bisa melihat seseorang yang berdiri tak jauh dari kereta mereka.
Sosok itu dilingkupi oleh jubah putihnya seperti seorang pendeta.
Tanpa sadar Yi Hua meraih pintu kereta, dan melompat dengan cepat keluar. Bahkan ia tak mendengarkan seruan dari Liu Xingsheng. Ia melompat dengan cepat, dan menyadari bahwa ia sedikit terendam oleh pasir.
Entah mengapa untuk mengejar kata hampir mati, Yi Hua menjadi tak begitu perduli pada rasa sakit yang akan dialaminya. Ini seperti kau sudah tahu kau tak akan dibiarkan mati dengan mudah, meski sakitnya luar biasa. Oleh karena itu, Yi Hua tak bisa begitu melankolis untuk menangisi takdirnya lagi.
Sebab, tak ada yang mengurangi rasa sakitnya, meski seperti apapun penderitaannya, bukan?
Lebih penting dari segalanya, saat Yi Hua mengangkat kepala sosok dengan jubah putihnya itu sudah menghilang.
Apakah itu Shen Qibo?
Dari semua cerita yang beredar, termasuk tentang pembunuhannya itu, ada satu hal yang tak pernah diceritakan. Tak ada yang pernah bercerita tentang keberadaan dari Shen Qibo ini. Cerita pembantaian itu masih sangat kabur untuk disebutkan sebagai cerita yang pasti.
***
Selamat membaca 😉
__ADS_1
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~