
Cerita ini diambil dari imajinasi authornya semata. Tidak berkaitan dengan kejadian nyata atau pun dengan sejarah yang ada. Sehingga elemen dan kemungkinan dalam cerita ini hanyalah sebatas kemungkinan. Setiap eksperimen yang disebutkan tidak pernah diterapkan. Hanya sebatas narasi untuk memperkuat alur cerita.
Bijaklah ketika menjadi pembaca ☺️
...***...
Tentu saja Raja Li Shen menjadi sangat risau.
Tatapan tajamnya memperhatikan ke sekelilingnya. Akan tetapi, sosok 'wanita' satu-satunya di sekitar mereka sudah tidak ada*. Tanah di sekitar mereka terus bergetar seperti terkena demam meriang. Hal tersebut membuat muncul retakan dalam yang mungkin bisa menenggelamkan mereka.
^^^*Kan taunya mereka Yi Hua itu cowok ☺️^^^
"Yang Mulia, hati-hati," teriak Huan Ran dengan agak keras.
Karena fokus Raja Li Shen terbagi, ia tak memperhatikan adanya retakan besar di depan kakinya. Mereka sudah terpisah satu sama lainnya. Huan Ran juga tak melihat Yi Hua dan lainnya. Huan Ran yang berada di dekatnya segera meraih Raja Li Shen agar pria itu ditelan tanah. Namun di sisi lain Huan Ran merasa seseorang memeluk kakinya.
"Manusia ular! Apa yang kau lakukan?" teriak Huan Ran yang berniat menendang Yue Yan.
Yue Yan menggelengkan kepalanya, "Aku tak mau tenggelam, Perdana Menteri Huan! Bagaimana jika aku mati?"
Dasar orang ini!
Dulu saat berada di Lembah Debu, Yue Yan terlihat sangat bengis dan kejam. Ia dipenuhi dendam dan tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Namun lihatlah makhluk ini sekarang!
Dia beban dan sedikit konyol! Pasti dia tertular keanehan dari Yi Hua. Menyesal Huan Ran mengajak orang ini sebagai tim.
Apalagi ... Sejak kapan Yue Yan menjadi akrab denganku?
Dan ...
BRUK!
Ya ampun.
Pada akhirnya Huan Ran tak bisa menyelamatkan Raja Li Shen dari tanah yang menelan. Begitu juga dirinya dan Yue Yan, yang akhirnya masuk ke dalam celah tanah. Dan ... BAM!! Mereka terjatuh di dalam cekungan tanah yang dalam.
"AKHHH!! Harusnya tadi aku memeluk pohon saja," teriak Yue Yan yang semakin memperburuk keadaan.
Mereka bertiga jatuh ke kedalaman tanah. Dari jarak mereka terjatuh, mereka bisa memastikan bahwa mereka jatuh sangat dalam. Hingga Yue Yan harus tersembab tepat ke tanah lembek. Beruntung mereka terjatuh di tanah yang kering, bukan di celah tanah yang berisi Hantu Air.
Jika mereka jatuh di tempat Hantu Air, mungkin mereka akan masuk dalam ilusi Hantu Air, dan berakhir saling membunuh tanpa sadar. Tapi bukan berarti tempat mereka jatuh ini juga aman. Mereka harus berjaga-jaga.
BLAM!!!
Yue Yan berusaha bangkit dari tanah lembek itu. Di sekitarnya sangat gelap, dan cahaya satu-satunya ialah dari tanah yang terbuka. Akan tetapi, karena mereka jatuhnya dalam, cahaya itu tak begitu membantu. Nyatanya cahaya matahari tampak seperti satu lilin di sebuah ruangan.
Bagaimana jika mereka di tempat ini sampai malam hari?
Lebih penting dari segalanya ialah dimana yang lainnya?
"Hey, ada orang di sini?" panggil Yue Yan yang memastikan apakah Huan Ran dan Raja Li Shen ada di dekatnya atau tidak.
Siapa yang bisa menjamin jika kedua orang itu menabrak batu atau tertusuk akar saat terjatuh. Kemudian ... Mati.
"Yi Hua ... Hey, siapa nama pria kekasih Yi Hua itu... Oh iya, ... Tuan Hua ... Kalian dimana? Jangan mau selamat sendirian!" raung Yue Yan yang benar-benar memerlukan bantuan. Ular-ular di dalam pakaian Yue Yan menjadi gelisah.
"Yue Yan, aku mencium bau darah di sini," ujar salah satu ular Yue Yan, dan tentu saja Yue Yan yang bisa mendengarnya. Tak lama ular yang lainnya juga ikut mengatakan hal yang sama.
"Apa mereka sudah mati hingga di sini berbau darah? Hey, Perdana Menteri siapa namanya ... Kau ..." tanya Yue Yan dengan ngeri.
Namun suara datar Huan Ran yang menyambutnya, "Berisik! Coba kau bicara pakai bahasa ular saja!"
Huh?
Yue Yan menyipitkan matanya untuk melihat di kejauhan. Memang ada sosok yang mendekat ke arahnya. Dan Huan Ran tak sendirian, ada Raja Li Shen yang juga mengikutinya. Sepertinya mereka berdua tidak apa-apa.
"Apa yang lainnya juga terjatuh?" tanya Raja Li Shen yang mengkhawatirkan Selir Qian.
Ia tahu Selir Qian itu kuat, tetapi lawan mereka itu bukan manusia. Terlebih lagi target Bao Jiazhen adalah Liu Bersaudara itu.
"Kita hanya berharap Peramal Ling dan yang lainnya tak terjatuh juga," ujar Huan Ran tenang.
Setidaknya jika yang lainnya tak jatuh, mereka ada kemungkinan yang menyelamatkan.
"Emmm ... Maaf. Hamba juga terjatuh." Dan ... Suara malu-malu Ling Xiao juga terdengar di sekitar mereka. Suara itu sekaligus mematikan harapan mereka.
Di sana Ling Xiao juga berjalan, dengan pakaian putihnya yang berubah lusuh. Pria itu juga terjatuh bersama dengan Jenderal Hantu. Wei Wuxie, atau yah ... Jenderal Hantu, masih dengan cadar hitamnya, tetapi penampilannya agak kusut. Mungkin saat Wei Wuxie terjatuh cadarnya sempat terlepas.
Mereka masuk ke dalam jebakan Bao Jiazhen.
Sialan!
Mata Yue Yan mengedar ke sekelilingnya. Termasuk ke belakang Ling Xiao yang sepi. "Dimana Yi Hua dan Tuan Iblis Kehancuran?" tanya Yue Yan yang menyadari jika anggota mereka kurang.
Setelah Selir Qian yang menghilang, kini Yi Hua dan Hua Yifeng yang tak ada.
Walau mereka tak perlu merasa khawatir jika mereka bersama. Sebab, walau orang ini adalah Hua Yifeng, tetapi pria itu terlihat sangat menjaga Yi Hua. Yang ditakutkan adalah ... Bagaimana jika mereka juga terpisah?
***
Hal yang tidak pernah dirinya mengerti dari diri Yi Hua ialah, mengapa Yi Hua sering bernasib sial?
"Pinggangku," bisik Yi Hua yang merasa sangat hiperbolis karena mengira pinggangnya mungkin sudah bergeser dari tempatnya.
Walau yah ... Yi Hua sebenarnya tidak apa-apa. Ia hanya mengalami kejadian yang disebut sebagai terjatuh. Dan, sebagai manusia yang sangat normal dan peka terhadap rasa sakit, Yi Hua tentu saja merasakannya.
"Tenang saja, Hua. Asal kepalamu masih utuh, meski tulang pinggangmu pindah ke lengan juga kau masih bisa hidup lagi." Suara yang sudah lama tak Yi Hua dengar itu muncul lagi.
Yi Hua menyentuh anting permata merah di telinga kirinya. Anting itu terasa hangat, dan berarti Xiao muncul kembali. Pertanda bahwa jaraknya dan Hua Yifeng cukup jauh, hingga Xiao bisa muncul.
"Xiao! Ku kira kau sudah menghadap Yang Maha Kuasa," ucap Yi Hua.
Dia senang Xiao kembali. Namun di sisi lain, itu berarti Hua Yifeng yang kini jauh darinya.
Ada apa dengan dirinya ini?
Ia sudah menegakkan kepalanya dengan sombong. Ia harusnya tak bergantung pada Hua Yifeng, karena ... Sejauh yang Yi Hua tahu, siapapun yang ada di sekitarnya tak pernah mendapat nasib yang baik.
"Ini dimana?" tanya Yi Hua yang berusaha mengalihkan perhatiannya pada hal lain.
Tempat ini gelap tetapi tak benar-benar gelap. Bagaimana menjelaskannya?
Yi Hua tahu bahwa tempat ia terjatuh ini gelap, tetapi tak benar-benar gelap hingga dia seperti buta. Ia masih melihat pahatan tanah di sekitarnya, seperti bukan tercipta secara alami. Bukan, seperti tempat yang baru saja tergali karena faktor alam.
Apa ini ruang bawah tanah lagi?
Jika dia di Kerajaan Li, maka tak aneh lagi jika memang ada ruangan bawah tanah. Tepatnya berada di bawah Lembah Debu. Di sana adalah ruang bawah tanah tempat Tentara Malam membuang mayat-mayat yang berusaha disembunyikan kematiannya.
Akan tetapi, mereka sekarang berada di ruang bawah tanah di Kerajaan Xin. Apa itu berarti, Kerajaan Xin juga menyimpan sesuatu di bawah Kerajaannya yang sudah memuakkan itu?
Yi Hua memerintahkan Xiao untuk waspada ke sekitarnya. Sehingga Yi Hua bisa mengalihkan perhatiannya pada ruangan ini. Ruangan yang mengingatkan Yi Hua pada Perpustakaan Awan di tempat pelatihan.
"Huh?"
Xiao menyahut saat Yi Hua tampak terkejut, "Kau melihat hantu?"
"Mulutmu busuk sekali! Jangan disebut. Bagaimana jika datang sungguhan?" tanya Yi Hua jengkel.
Tangan Yi Hua meraba-raba sesuatu yang tergeletak di atas meja. Itu tampak seperti model dari sebuah ruangan. Apa seseorang tengah merangkai bangunan di sini?
Yi Hua secara acak mengumpulkan kertas-kertas yang tergeletak di atas meja, walau ia tak tahu isinya. Ia tak bisa mengandalkan penglihatannya di saat gelap begini. Ia juga tak berani menyalakan kertas jimat karena takut memicu sesuatu.
Di sebuah ruangan yang lembab dan terkubur lama biasanya disarangi oleh binatang-binatang aneh. Itu berbahaya bagi Yi Hua.
SRET!
"Apa ini model untuk ruang bawah tanah?" tanya Yi Hua yang masih meraba-raba bentukan tanah dan batu yang disusun. Ia sembari berhati-hati agar tangannya tak merusak atau mengubah susunan dari model bangunan bawah itu.
"Hua, aku sudah memastikan bahwa tempat ini aman. Kau bisa menghidupkan penerangan," ujar Xiao yang sudah selesai memindai ruangan.
Tanpa menjawab lagi, Yi Hua menerbangkan kertas jimatnya. Ia sudah mengambil banyak persediaan kertas jimat, dan 'meminta' beberapa lembar dari Ling Xiao. Kapan lagi Yi Hua bisa merasakan betapa kuatnya kertas jimat buatan Ling Xiao, bukan?
SRAT!
Benar saja.
Ini bukan lubang tanah baru ... Ini seperti bencana alam sebelumnya membuka tempat rahasia di bawah Kerajaan Xin. Di sana tersusun rak kayu dengan gulungan penuh sarang laba-laba. Seperti memang ada yang tinggal di tempat ini. Ada perapian sederhana dengan sebuah kuali besar yang biasanya dimiliki oleh para tabib untuk meracik obat.
Yi Hua yang tak bisa menahan rasa penasarannya menuju ke gulungan-gulungan di rak itu. Tangannya menarik sebuah gulungan dan membuka ikatannya. Sesekali Yi Hua terbatuk karena jumlah debu yang terangkat di udara.
"Obat untuk Kematian," baca Yi Hua pada kertas itu, yang Yi Hua yakini sebagai bahasa Kerajaan Xin.
Sebentar ...
"Kau bisa membaca tulisan Kerajaan Xin?" tanya Xiao penasaran.
__ADS_1
"Kau malah terkejut karena itu? Kau lupa jika aku ini pernah ikut Pelatihan Awan?" ucap Yi Hua jengkel.
Sebagai seorang pelajar ia juga mempelajari tulisan Kerajaan Xin. Tapi bukan itu poin pentingnya ...
Obat untuk Kematian? Apa-apaan itu?
"Hua, apa ini berkaitan dengan pembuatan Cangkang Manusia? Atau obat abadi seperti yang digunakan oleh penari Wei Fei* dulu?" ujar Xiao yang merasa buruk tentang ini.
^^^*Jika lupa. Wei Fei itu penari yang berusaha dijadikan oleh iblis dalam percobaan ilegal. Ingat gak sih? Yang penari yang suka sama Yi Hua, dan Yi Hua nyamar dengan nama samaran "Hua Yi". Wei Fei tidak tahu kalau dia digunakan sebagai monster. Dia menggunakan darah dan jiwa manusia lain untuk kuat. Ada subbab yang membahasnya kok. Karena ya setiap kejadian di novel ini, 'selalu' berhubungan satu sama lainnya.^^^
Setiap rahasia yang terkubur begitu lama dibuka kembali, maka itu bisa jadi mengejutkan. Itulah mengapa rahasia ini dikubur.
Namun seingat Yi Hua, rumor tentang percobaan manusia dengan Cangkang Manusia, atau metode menghidupkan manusia kembali itu terjadi di Kerajaan Li. Siapa sangka jika Kerajaan Xin juga mengetahuinya. Tetapi Hua Yifeng adalah orang yang membuat Cangkang Manusia pertama.
Dia berusaha menghidupkan kekasihnya, Li Wei, yang sudah mati. Walau nyatanya itu membuat Li Wei menjadi mayat hidup dan lebih menderita. Karena mayat hidup berjalan akan terus membunuh manusia, untuk merebut 'jantung'. Sesuatu yang tak berdetak lagi di dalam diri mayat hidup.
Apa ini adalah tempat Hua Yifeng melakukan percobaan?
Yi Hua mendadak bergetar.
Ia sama sekali tak tahu mengapa Hua Yifeng berusaha menghidupkan dirinya dahulu..Saat dia mati sebagai Li Wei. Akan tetapi, ia merasa sangat ketakutan saat mengetahui tempat ini adalah dimana Cangkang Manusia dibuat.
"Hua, kau ketakutan? Napasmu terdengar buruk," tegur Xiao.
Tarikan napas Yi Hua sangat dalam. Matanya sedikit panas, tetapi tangannya bergetar. Ini buruk. Dia terkena serangan panik!
Tenang ... Tenang ... Itu masa lalu. Hanya masa lalu. Kau bahkan tak ingat saat kau menjadi mayat hidup. Karena kau sudah mati! Tenang ... Tidak apa ... Itu terjadi lama sekali.
Namun sangat menjijikkan saat dirinya mengingat bahwa dirinya menjadi seperti mayat hidup. Tubuhnya dulu! Walau dia sudah mati, tetapi tubuhnya tidak dimakamkan dengan layak dan entah apa yang dilakukan oleh Hua Yifeng pada tubuhnya yang sudah mati.
Ini sinting.
Hua Yifeng sangat menakutkan.
"Hua, aku tahu betapa buruknya masa lalu yang kau alami. Entah berapa buruknya Hua Yifeng yang dulu, tetapi hitam dan putih dari perbuatan tergantung dimana kau melihatnya. Dia gila kala itu karena kehilangan Li Wei. Kehilangan kamu. Bukan berarti aku menganggap apa yang diperbuat sebagai hal yang baik. Itu salah. Tentu saja salah. Dia menyalahi batasan kemanusiaan. Namun ... Dia mencintaimu dengan kegilaannya. Lebih penting dari segalanya ... Kau bisa memaafkannya?" tanya Xiao pada akhirnya.
Benar.
Mungkin yang membuatnya enggan bersama Hua Yifeng ialah karena kata 'maaf' itu.
Ia tak tahu mengapa takdir mengikatnya dengan Hua Yifeng. Pria itu melakukan banyak hal untuknya, dan menjaganya. Akan tetapi, jika Hua Yifeng melakukan sesuatu yang buruk untuk dirinya, Yi Hua tak tahu apa dia bisa 'memutihkan' sesuatu yang hitam?
Air mata Yi Hua menetes. Semua orang berhak untuk kesempatan kedua, tetapi Yi Hua tak yakin apa dia pantas untuk berada di pihak yang memberi kesempatan itu atau tidak.
Aku takut padanya, tetapi aku mencintainya.
Yi Hua menggelengkan kepalanya dengan kasar. Berusaha untuk tetap fokus pada apa yang ia baca. Tanpa berniat menjawab pertanyaan Xiao. Sistem itu juga tak mengatakan apa-apa lagi. Entah karena dia tak perduli, atau karena dia tak mau mengorek luka yang Yi Hua pendam begitu lama.
"Jiwa yang sudah mati terkadang tak selalu menuju tempat yang baik."
Setelah itu tulisannya begitu buram hingga mata Yi Hua yang berkaca-kaca kesulitan melihatnya. Ini memang faktor tulisannya yang rusak.
"Darah Klan Bao yang istimewa nyaris seperti karunia dari Dewa. Darah itu seperti memiliki zat yang lain dan berbeda dengan manusia lainnya. [Tak terbaca] ... Bisa membunuh serangga dan menjinakkan binatang buas ... Keberadaan Pohon Iblis adalah penopangnya."
Lagi-lagi tentang Klan Bao ... Apakah ini berhubungan dengan Bao Jiazhen juga?
Yi Hua membolak-balik gulungan itu dan menyadari sebagian dari tulisan tak bisa terbaca.
Tangannya meraih gulungan yang lain dan membukanya. Sayangnya, di sana tak ada tulisan yang berarti. Hanya semacam gambaran eksperimen yang Yi Hua yakin gagal. Karena ada coretan besar yang membuat Yi Hua yakin, penulis gulungan ini sudah membuang resep obat ini.
"Pohon Iblis Klan Bao."
Yi Hua ingat jika ia pernah membaca buku yang membahas tentang topik yang sama dengan ini. Saat Yi Hua mengendap-endap ke Perpustakaan Awan dahulu. Ia dan Wei Wuxie pernah menemukan buku yang membahas hal yang sama.
Tentang Pohon Iblis dan Klan Bao.
Bisa jadi gulungan ini juga membahas hal yang sama. Atau, mungkin mereka menyalinnya dari buku yang sama?
KRET!
Yi Hua membuka gulungan itu, dan nyaris merobeknya karena gulungan itu sudah lama sekali. Yi Hua menghela napasnya.
Isi dari gulungan itu juga nyaris sama dengan yang dibaca Yi Hua di buku milik Ling Xiao di Pelatihan Awan. Ia bertanya-tanya siapa yang menyebarkan cerita Pohon Iblis ini yang 'pertama' kali. Ini seperti menjadi racun tersendiri bagi Klan Bao.
Jika saja tak ada yang tahu keistimewaan-nya, mungkin Klan Bao tak akan diburu dan menjadi bahan obat seperti ini.
"Xiao, tulisannya tak bisa terbaca lagi. Apa kau bisa menggunakan kekuatan mata tetangga yang biasanya sering dipakai untuk melihat aib orang lain?" tanya Yi Hua asal.
Xiao sebenarnya malas menanggapi Yi Hua. Akan tetapi, dia memang bisa menjadi 'mata' untuk Yi Hua. Termasuk dalam membaca gulungan semacam ini.
Apa maksudnya dengan jiwa yang terus terlahir kembali?
"Seperti kau sekarang, Yi Hua. Kepercayaan kita mengacu pada kelahiran kembali. Saat manusia mati, jiwanya akan terlahir kembali untuk membayar perbuatan yang dahulu ia perbuat di kehidupan sebelumnya. Dan ... Pangeran pendendam ini, yang kalah, terus terlahir kembali. Dan ... Nasibnya selalu sama ...." Jelas Xiao masuk akal.
Mendadak Yi Hua merasa Xiao ini sedikit mirip dengan Hua Yifeng. Pria itu juga mengetahui banyak hal. Dan itulah mengapa ada bayar jasa di Gunung Hua, karena Hua Yifeng tahu banyak hal. Ia menukarkan informasinya.
Akan tetapi, itu membuka ingatan Yi Hua kembali pada cerita Pangeran Penduka.
Bukankah itu mirip dengan ceritanya?
Katanya, Pangeran Penduka harus dikorbankan untuk menyelamatkan kerajaannya dari bencana. Itu karena seharusnya Si Pangeran Penduka yang menjadi Raja. Akan tetapi, Peramal Kerajaan yang disogok oleh Pangeran yang serakah memanipulasi ramalannya.
Yang naik tahta adalah Pangeran yang Serakah. Setelah itu, Dewa marah dan menurunkan bencana. Itu membuat Kerajaan hancur dan wabah aneh muncul. Itulah yang membuat Pangeran Penduka dikorbankan.
Ia dibunuh dan pedangnya ditaruh di Lembah Debu.
Dan ... Yi Hua meremas kepalanya ...
Siapa yang mengambil pedang itu di Lembah Debu? Mengapa Yi Hua merasa ia ingat sesuatu tentang pedang itu?
Namun cerita ini mirip dengan kisah Li Wei.
Dahulu Li Wei mengakui bahwa dirinya adalah Pewaris Tahta yang disebut dalam ramalan. Sehingga Xin Wantang menyuruhnya untuk mengorbankan diri. Padahal sebenarnya Li Wei berbohong, yang seharusnya menjadi Raja itu adalah ...
Mengapa aku seperti melupakan sesuatu? Mengapa dulu aku mau berkorban dan berpura-pura jika Calon Raja dalam ramalan adalah aku?
Xiao melanjutkan. "Jiwa yang pendendam terus terlahir kembali. Sehingga akan muncul Pangeran Penduka terus-menerus. Hingga ia berkultivasi di jalan iblis dan mengumpulkan kekuatannya, agar dia terus terlahir kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Kumpulan kekuatannya itu disebut sebagai Pohon Iblis. Pengikut Pangeran Penduka membentuk klan tersendiri yang disebut Klan Bao. Kemudian, setiap seratus tahun ia menunggu kelahiran kembali dari 'Tuan'nya."
Apa itu berarti Hua Yifeng adalah kelahiran kembali dari Pangeran Penduka? Itulah mengapa Hua Yifeng bisa mengendalikan Pohon Iblis.
Akan tetapi, takdir berubah bukan?
Yang mati karena dikorbankan demi Kerajaan adalah Li Wei, bukan Hua Yifeng. Apa itu berarti Li Wei berkorban dahulu karena berkaitan dengan Hua Yifeng? Lalu, mengapa Hua Yifeng tak ada dalam ingatannya jika pria itu sepenting itu di hidupnya?
"Xiao, lanjutkan ..." ucap Yi Hua tak sabar.
Semua teka-teki aneh di kepalanya mulai terurai satu sama lainnya.
Xiao mengatakan jika gulungan itu sudah habis. Artinya ... Semuanya membahas asal-usul Pohon Iblis. Itu dari kekuatan Pangeran Penduka yang terlahir kembali terus-menerus. Hingga sampai ke kelahiran kembali terakhir, yaitu Hua Yifeng.
Pria itu tidak mati seperti takdir yang 'biasanya'.
Apa itu alasan mengapa Ling Xiao tak menyampaikan ramalannya di Pengadilan Tinggi dahulu? Karena dia tak mau Hua Yifeng mengalami takdir yang sama.
Yi Hua membuka gulungan yang lain lagi. Akan tetapi, gulungan ini ditulis lebih rapi dari tulisan sebelumnya. Seperti ... Yang menulisnya adalah orang yang berbeda. Mungkin orang 'ini' juga menemukan gulungan itu dari orang lain. Sehingga dia mempelajari semua cerita Klan Bao itu, dan membuat percobaan.
"Oleh karena kekuatan Pohon Iblis sangat besar, para pengikutnya tak bisa menahan kekuatan itu. Mereka tercemari Pohon Iblis dan membuat darah mereka berbeda. Awalnya menjadi sangat istimewa karena mereka sangat kuat. Sayangnya, hanya Pangeran Penduka yang bisa menggunakan kekuatannya. Sehingga Klan Bao berumur pendek karena tak sanggup menahan kekuatannya. Aku menemukan salah seorang Klan Bao yang tersisa untuk menghidupkan kembali adikku," baca Yi Hua.
Karena tulisan ini lebih jelas dari sebelumnya.
Yi Hua mulai tahu siapa "aku" yang menulis gulungan ini.
Tangan Yi Hua mencari gulungan lainnya, dan tanpa sadar menggeser penahan kertas dari giok. Entah mengapa giok ini tak terlihat sesuai dengan tempat yang kotor ini. Akan tetapi, ketika penahan kertas ini bergeser ...
KRETTT!! GRAK!!
Jantung Yi Hua nyaris berpindah ke telinganya.
Ia terkejut tak terkira ketika sebuah peti kayu muncul karena ia menggeser penahan kertas ini.
Peti itu tidak memiliki penutup. Mungkin peti itu dikubur di dalam lantai tanah yang lebih dalam. Kemudian, saat penahan kertas digeser, peti ini akan muncul dan membuka kembali. Pertanda memang ada sesuatu di dalam peti.
Rasa penasaran sering kali membunuhmu.
Itu yang Yi Hua sadari.
Namun atas semua fakta yang terbuka, tak mungkin dia berlari lagi. Ia harus tahu apa yang diketahui dunia ini. Agar ia bisa memutuskan apa dia akan menolong 'Liu Xingsheng' ini. Sebab, Cangkang Manusia tak pernah berhasil. Dan kata menghidupkan kembali ... Ini berarti adik Selir Qian memang sudah mati.
Lalu, Liu Xingsheng yang Yi Hua lihat selama ini siapa?
Namun Liu Xingsheng ini benar-benar manusia! Xiao memastikannya. Bahkan Liu Xingsheng ini bisa melewati kuil suci tempat para Peramal melakukan persembahan pada Dewa. Dia jelas manusia dan tak bisa mengubah wajahnya supaya mirip dengan Selir Qian. Itu berarti Liu Xingsheng yang ia tahu memang benar-benar mirip dengan Selir Qian.
Mereka kembar sepasang.
Akan tetapi, Yi Hua dilanda panik untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Terutama saat ia sudah memeriksa apa yang ada di dalam peti.
Itu adalah tengkorak manusia. Seorang yang sudah mati dan menjadi tengkorak. Terbaring di dalam peti, masih dengan pakaian zaman dahulu yang terkenal di zaman Li Wei. Pertanda tengkorak manusia ini mati di sekitar Li Wei sudah dewasa, atau saat Li Wei sudah mati.
Entahlah.
Namun yang lebih penting adalah lambang keluarga yang melekat di pakaian itu.
Itu adalah lambang keluarga Liu.
Lambang bangsawan Liu yang melekat di Liu Xingsheng. Walau Liu adalah pendatang, tetapi dia sudah menjadi penduduk Kerajaan Li. Sehingga hanya dua orang Liu yang punya lambang keluarga ini.
Liu Xingsheng dan Liu Xinqian*.
^^^*Tak termasuk Liu Shang, bapaknya mereka. Karena Liu Shang udah mati lama sekali dan Yi Hua tahu. Sedangkan Liu Xingsheng dan Liu Xinqian itu malah jadi penduduk yang tinggal di Kerajaan Li. Walau nama keluarganya masih nama keluarganya di Kerajaan Xin.^^^
"Apakah kau terkejut?" tanya seseorang di belakang Yi Hua.
Serangan panik Yi Hua semakin parah. Tangannya tanpa sadar mengarahkan kertas jimatnya ke arah sosok yang baru datang itu. Kedatangannya sangat pelan hingga Yi Hua tak menyadarinya.
Namun ... Jarum tajam, yang lagi-lagi melintas dan menusuk tepat pada dahi Yi Hua. Tubuh Yi Hua melemah.
Sialan.
Dia terkena racun dari ujung jarum.
***
...Xiao System: Peramal Ling Xiao (Xiao System Side Story)...
Ling Xiao yang memanfaatkan ketegangan itu segera menekan anak laki-laki yang menyerang mereka. Anak laki-laki itu jelas memberontak, tetapi Ling Xiao menekan titik lemahnya. Sehingga sosok itu menjadi lemah dan bisa Ling Xiao seret untuk menuju Putri Li Wei yang masih betah di atas kereta.
JRAK!!
Li Wei terjun dan menunjukkan busur panahnya pada Wei Wuxie dari jauh. Seakan menyombongkan diri. "Kau berhutang nyawa padaku. Nanti belikan aku makanan ketika kita sampai."
Wei Wuxie turun dari kudanya dengan satu lutut menyentuh tanah. "Kesejahteraan menyertai Tuan Putri Li, hamba berhutang pada Putri."
"Iya, aku tahu. Makanya belikan aku makanan. Sudahlah ini menggelikan. Segera bangkit," ujar Li Wei yang masih dengan wajah remajanya yang muda.
Pipinya bulat dan berisi. Wajahnya cerah seperti punya cahayanya tersendiri. Gadis kecil ini istimewa, terlepas dia adalah Putri, sebagai seorang gadis dia terbilang sangat cantik. Akan tetapi, ada jiwa yang berbeda dari Putri pada seharusnya.
Mungkin ini karena Putri Li Wei terbiasa tinggal di luar istana. Ia memang tak boleh berinteraksi dengan sembarang orang. Tetapi, dia menikmati gaya hidup yang berbeda dengan di istana. Itulah yang membuat Li Wei agak berbeda, dan agak ... berisik?
"Tuan Putri, istana melarang untuk makan dari makanan luar," jelas Wei Wuxie yang bukannya menolak untuk membelikan Li Wei.
Sayangnya, Li Wei adalah Putri Kerajaan. Dia adalah anak Raja. Dia tak bisa seperti sapi liar yang bisa makan dari rumput setempat. Dia adalah orang yang harus dilayani dan dibuatkan makanan yang hanya dibuat dari dapur istana. Yang pastinya sudah dicicipi dan bebas dari ancaman diracun oleh musuh.
Ling Xiao yang masih menyeret anak laki-laki itu juga menundukkan kepalanya. "Hamba lemah karena membuat Putri Li Wei yang harus menyelamatkan Tuan Muda Wei."
Li Wei tampak lebih penasaran dengan anak laki-laki yang diseret oleh Ling Xiao.
"Biarkan dia bicara," perintah Li Wei tanpa takut.
Ling Xiao tampak tak menyukai ide itu. Akan tetapi, Li Wei masih memaksa. "Dia sudah terluka parah, Peramal Ling. Oh ya ... Ini memang nama Anda, bukan?" tanya Li Wei mengingat-ingat.
Mau tak mau Ling Xiao memukul di bahu anak laki-laki itu untuk mengembalikan kekuatan tulangnya. Dan ... Apa yang ditakutkan Ling Xiao terjadi ...
Tangan anak laki-laki itu sangat cepat. Ia menyibak jubah penutup kepala Li Wei, dan menarik jepit rambutnya. Nyaris saja ujung jepit rambut itu menusuk ke tenggorokan Li Wei, tangan anak laki-laki itu berhenti.
Tak bisa menusuk Li Wei seperti yang dilakukannya pada prajurit yang Ling Xiao bawa.
Ling Xiao berniat memukul anak laki-laki itu lagi, tetapi Li Wei tersenyum.
Li Wei terlalu murni untuk seseorang yang hidup di dunia Kerajaan. Saat dewasa nanti Li Wei mungkin harus bersaing dengan para kecantikan. Jika Li Wei dinikahkan dengan Raja di kerajaan lain, Li Wei harus unggul dibandingkan yang lain. Bermain politik agar bertahan di Harem Kerajaan.
Namun Li Wei tampak terlalu naif untuk itu. Sulit menyebut jika Li Wei terlalu baik, atau apa. Akan tetapi, yang Ling Xiao ketahui dari Li Wei ialah Putri Kecil ini sangat berani.
"Kau sebenarnya orang yang hebat ... Mau ikut ke Kerajaan Li?" tanya Li Wei tanpa pikir panjang.
Huh? Adakah orang seceroboh Li Wei? Dia membawa pembunuh besar di Kerajaannya? Mau dijadikan apa dia?
Orang seperti dia tak bisa hidup normal sebagai manusia pada biasanya. Dia terbiasa membunuh untuk bertahan hidup. Ling Xiao juga sebenarnya merasa kasihan pada tangan kecil anak laki-laki ini. Dia mungkin mengalami banyak hal buruk sebelum ini.
Akan tetapi, dia juga berbahaya. Sama seperti memelihara singa di dalam kamar!
Li Wei menjauhkan tangan anak laki-laki itu. Tangannya masih menggenggam jepit rambut miliknya. Dan Li Wei tak berniat mengambil kembali jepit rambut itu. Karena jepit itu adalah jepit rambut yang dihadiahkan oleh kakaknya Li Jun yang menyebalkan! Walau Li Wei sangat jarang bertemu dengannya.
Li Wei memakainya karena dipakaikan oleh pelayan di rumah pengasingan di desa kecil.
"Kemampuanmu sangat hebat. Itu sangat baik jika digunakan untuk membantu orang lain. Jika kau tak tahu bagaimana menggunakan kekuatanmu dengan cara yang lebih baik, maka jadikan kekuatanmu itu sebagai pelindungku," ucap Li Wei yang sebenarnya tanpa maksud apa-apa.
Jika anak ini menjadi salah satu dari pasukan di Kerajaan Li, bukannya anak ini bisa menjadi pelindung kerajaan yang kuat?
Itu maksud Li Wei, tetapi ia tak tahu bagaimana anak laki-laki ini menyimpulkan ucapan Li Wei.
Li Wei memerhatikan di sekelilingnya yang kacau. Bekas pertarungan di mana-mana. Wei Wuxie saja terkejut bagaimana Li Wei ini bisa bersantai di wilayah yang kacau seperti ini. Biasanya seorang gadis mudah takut saat melihat darah.
Gadis kecil ini berbeda.
Li Wei menatap ke sekelilingnya, "Kita ada di mana?" tanya Li Wei ketika melihat daerah ini terlihat agak tak biasa.
Ling Xiao berdehem sejenak sebelum menjawab. "Ini adalah wilayah Gunung Hua."
Sebuah gunung yang disebut Gunung Hua karena ada banyak bunga di sana..Tempat yang diduga banyak orang sebagai tempat Pohon Iblis berada. Walau hanya beberapa orang yang tahu tentang ini. Dan, Ling Xiao tahu.
Tanpa menunggu persetujuan anak laki-laki itu, Li Wei menunjuk pada anak laki-laki itu. "Gunung Hua ... Gunung yang cantik dengan bunga di dalamnya. 'Hua' Itu cocok denganmu."
^^^*Hua itu bunga.^^^
Lalu, Li Wei berlari dengan busur panah yang sudah digantungnya di punggung. Ia memanggil Wei Wuxie yang sejak tadi tak mengatakan apa-apa. Menagih Wei Wuxie untuk membelikannya makan ketika mereka sampai di Pusat Kota.
Ling Xiao tak menyangka kehidupannya yang tenang akan menjadi berisik.
Tangan Ling Xiao menepuk bahu anak laki-laki yang masih terdiam. "Putri itu menyukaimu. Ikutlah. Jika kau tak tahu harus tinggal dengan siapa, maka tinggal bersamaku."
Aku bisa mengangkatnya menjadi putraku. Supaya aku tidak pusing ditanya tentang penerus lagi!
"Siapa namamu?" tanya Ling Xiao yang mengingat jika dia tak tahu bagaimana memanggil anak ini.
Anak itu tak menyahut.
Akan tetapi, anak itu mengikuti Ling Xiao yang berjalan menuju ke arah Li Wei dan Wei Wuxie. Siapa sangka Li Wei dan Wei Wuxie bisa akrab, padahal ini pertemuan pertama mereka. Kedua anak ini masih ribut tentang banyak hal.
"Hua. Aku adalah Hua."
Itu adalah apa yang Ling Xiao dengar. Mendadak Ling Xiao tersenyum tanpa sadar, walau ada kesedihan di sana. Mengingat takdir anak ini, Hua, yang kelam.
Anak laki-laki ini adalah Calon Raja selanjutnya dalam ramalan. Pasti banyak pihak yang tak setuju jika anak ini menjadi raja nantinya. Apalagi anak ini tampaknya bukan dari keluarga bangsawan dan dia juga pembunuh besar.
Pemilik Pohon Iblis dalam sejarah sudah terlahir kembali. Dia, anak kecil ini, adalah Calon Raja. Jika mengikuti takdir, maka di masa depan anak ini akan dikhianati oleh orang-orang di sekitarnya. Di korbankan dengan keji dan dibenci sebagai pembawa bencana.
Itulah Ling Xiao merasa kasihan.
Walau Ling Xiao tak pernah menyangka jika takdir buruk itu malah beralih ke Li Wei.
Meski begitu, Dewa tahu bagaimana mengakhiri takdir dari Calon Raja yang di masa lalu terus mendendam. Memutus rantai kelahiran kembali dari Pangeran Penduka dengan memberi 'kebahagiaan' di hidupnya yang berduka.
Takdir berubah dan membuat anak laki-laki ini bertemu cahayanya. Cahaya yang bisa mengubahnya dan menghilangkan nasib buruknya. Ling Xiao membiarkan takdir antara Li Wei dan anak ini terus terhubung.
Mungkinkah ada akhir yang berbeda nantinya?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
So, udah mulai paham atau semakin bingung? Silahkan bertanya ya, supaya gak sesat di kandang sapi. Soalnya memang perlu penalaran dalam untuk tahu otak aneh author ini. Karena aku sendiri tak paham mengapa aku memikirkan ini. Tapi ini pikiranku sendiri.
Ya sudahlah ... Intinya ... Di narasi sebelum-sebelumnya, terutama di bagian flashback, dijelaskan kalo 'Hua' ini diangkat oleh Ling Xiao jadi anak. Katanya, yang beri nama 'Hua' itu Ling Xiao, tetapi nyatanya Li Wei gak ingat kalo dia yang kasih nama itu ke Hua Yifeng.
Intinya Li Wei gak sadar bahwa dirinya menjadi alasan Hua Yifeng untuk mengubah dirinya. Dari seorang pembunuh yang bertahan hidup dengan merampok menjadi seorang pelajar, bahkan Hua Yifeng pernah jadi pejabat di Kerajaan Li. Itu semua Hua Yifeng lakukan agar dia 'setara' dengan Li Wei.
Jadi, Ling Xiao sebenarnya tahu kalo nanti Hua Yifeng yang harusnya jadi Raja. Tapi dia gak tega kasih tau ke Kerajaan, karena dia kasihan dengan Hua Yifeng. Ehh ... Itu malah jadi malapetaka untuk Li Wei, yang dituduh jadi Calon Raja dalam ramalan.
Baru kali ini ya ditunjuk jadi pemimpin malah seperti waktu kematian.
Itulah mengapa jika ada yang bisa disalahkan di pertukaran takdir ini, maka Ling Xiao tak takut menyebut kalau dia yang salah. Dia tahu dan melihat masa depan, tetapi dia diam.
Tapi itulah mengapa dunia ini begitu menarik sekaligus sulit dijalani, bukan?
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1