Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 10: Pembagian Tugas


__ADS_3

SRET!


Ketika Li Wei memasuki Pengadilan Tinggi ia segera menyadari tatapan tak percaya dari pejabat di sana. Terutama Yang Mulia Raja Li yang jelas-jelas sejak awal menjauhkan Li Wei dari dunia politik. Meski gadis kecilnya ini cukup keras kepala untuk terus mencari cara.


Akan tetapi, Li Wei merasa bahwa 'sesuatu' memang sengaja membawa Li Wei untuk masuk pada permasalahan ini.


Lebih dari segalanya, Li Wei masuk dalam perangkapnya bukan untuk terjebak, tetapi untuk mencari tahu. Entah ia akan kalah nantinya atau tidak, Li Wei hanya berusaha untuk mengatasinya. Bagaimana pun ini juga menyangkut tentang Wei Wuxie yang tak bisa hadir di tempat ini. Li Wei punya seorang teman yang harus ia selamatkan dari jebakan.


"Putriku, sebaiknya kau keluar," ucap Yang Mulia Raja Li, yang entah bagaimana terlihat lebih tua dari yang seharusnya.


Bukan karena tua secara drastis, tetapi ayahnya itu terlihat lelah. Sudah dapat diduga tentang peliknya masalah ini. Hanya beberapa bulan Li Wei tak menemui ayahnya, ia sudah melihat ayahnya yang seperti baru sembuh dari sakit.


Mengapa tak ada yang memberitahu Li Wei tentang ini?


Li Wei menyimpan kedua tangannya di depan perut, memberikan penghormatan, "Kesejahteraan menyertai Kerajaan Li. Semoga panjang umur," ucap Li Wei untuk memberikan sapaan.


Zhang Yuwen yang baru bisa menyusul Li Wei juga terengah-engah. Bagaimana pun ia tak menyangka jika Li Wei semakin gesit lagi. Jika ada yang bisa disalahkan, maka itu adalah Hua.


Mengapa?


Tahukah kalian jika Zhang Yuwen sebelumnya dijatuhkan oleh serangan Li Wei?


Li Wei telah mempelajari gerakan cepat Hua dalam menjatuhkan orang lain ke tanah. Zhang Yuwen yang tak waspada jelas mudah dijatuhkan oleh Li Wei. Kemudian, Li Wei melarikan diri dengan cepat menuju Pengadilan Tinggi.


Ya ampun.


Li Jun dengan wajah terbakar menatap pada Li Wei. Tentu saja pria itu tahu apa yang sebenarnya ingin Li Wei jabarkan di sini. Pria itu sangat pengingat. Buktinya pria itu jika keluar dari kediamannya, dia akan ingat semua letak barang-barangnya. Ia akan segera tahu jika ruangannya dimasuki orang lain.


Pria ini mengingat perdebatan dengan Li Wei sekitar lima tahun yang lalu. Saat Li Wei masih berada di Pelatihan Awan.


"Li Wei, apa yang kau lakukan?" tanya Li Jun sambil menatap adik perempuannya itu.


Li Wei menghela napasnya. Ia juga berlari menuju Pengadilan Tinggi, sehingga dia perlu menarik napas. "Apa yang akan Kakak Pertama lakukan untuk menyelesaikan ini?"


"Jelas ini bukan urusanmu! Kembali ke kediamanmu," tegur Li Jun dengan keras.


"Izinkan saya ikut terlibat," pinta Li Wei kali ini. Bagaimana pun ia tak bisa tinggal diam saat kerajaan benar-benar pusing akan masalah di sekitar mereka.


Terutama saat laporan yang datang saat itu, menandakan bahwa jumlah korban terbilang banyak.


"Apa yang kau tahu, adikku? Kau selama ini tak melihat semua peristiwa secara keseluruhan. Orang seperti dirimu inilah yang membuat masalah! Sembarang membentuk pendapat, padahal kau tak tahu bagaimana kenyataannya," bentak Li Jun sambil menatap tajam pada Li Wei.


Bentakan itu membuat Li Wei mengerutkan keningnya tak setuju. Bagaimana pun ia tahu bahwa selama ini dirinya hanyalah orang yang terbiasa dengan semua keagungan sebagai seorang Putri. Akan tetapi, itu tak bisa membuatnya diam saat ada banyak kekacauan.


Pikiran naif Li Wei muncul. Mungkin ia tak pernah tahu jika di masa depan ia akan membenci sifat naif ini. Bagaimana pun mengomentari pekerjaan orang lain jelas lebih mudah ketimbang yang menjalani. Hanya saja ... Li Wei ingin membantu.


"Li Jun," tegur Raja Li.


Hal tersebut membuat Li Jun mendengus. Terutama ketika Li Jun menyadari bahwa ia telah membentak adiknya ini. Terutama saat ia melihat tatapan Li Chen, Pangeran Kedua, yang kebetulan juga ada di tempat yang sama. Biasanya Li Chen sangat jarang berada di Pengadilan Tinggi.


Namun karena berkenaan dengan korban jiwa, Li Chen mau tak mau harus turun juga. Sebab, ia ada di bagian medis.


SRET!


Ketika Li Jun ingin berbicara lagi, sosok baru datang ke Pengadilan Tinggi. Sosoknya yang tinggi dan mencolok jelas membuat semua pandangan ke arahnya. Belum lagi dengan wajahnya yang datar, membuat orang lain ragu untuk berbicara.


Entah mengapa aura pria itu sangat menekan di ruangan ini.


"Kesejahteraan menyertai Raja Li. Semoga panjang umur," sapa pria itu yang membuat Li Wei terkejut.


Pasalnya dahulu ... Saat mereka di Pelatihan Awan, pria ini tak pernah perduli untuk memberi penghormatan. Pria ini mungkin telah menjalani pelatihan etika dan sebagainya.


"Ada apa?" tanya Li Wei yang penasaran.


Hua hanya melirik pada Li Wei sebelum melanjutkan. Tatapan pria itu mengarah pada Li Jun. "Hamba memberikan laporan, pengungsian untuk penduduk terdampak sudah disiapkan."


Sejak kapan pria ini bekerja di bawah Li Jun? Seingatnya Hua dan Li Jun ini merupakan dua makhluk yang tak bisa disatukan dalam satu wadah. Nanti saling menampar soalnya.


Li Jun memberikan senyum miringnya. Sikap sinis seolah merendahkan. Melihat Hua yang tunduk padanya tentu membuat Li Jun merasa menang. Lebih dari segalanya ... Sejak dahulu Hua selalu menentang Li Jun.


"Mengenai penanganan bencana sudah diserahkan pada Pejabat Hua Yifeng," ucap Li Jun yang tentu saja membuat Li Wei tambah terkejut.


Pria ini ... Bukan hanya sebagai guru di Pelatihan Awan, tetapi juga menjadi seorang Pejabat Kerajaan?


Apa yang sebenarnya pria ini rencanakan?


Juga, ... Hua Yifeng, nama itu ... Sejak kapan tersemat di diri pria Hua ini?


Li Wei jelas tak melihat pengabdian Hua pada kerajaan.


Raja Li menganggukkan kepalanya. "Seperti yang sudah Pangeran Pertama katakan, itu sudah diselesaikan Li Wei. Kembalilah ke kediamanmu," pinta Raja Li pada putri satu-satunya ini.


Li Chen tiba-tiba angkat bicara. "Yang Mulia, setelah ini pihak tabib akan pergi ke tempat pengungsian. Hamba rasa tambahan orang tak masalah."


"Li Chen," tegur Li Jun. Ia menyadari jika Li Chen ini tipikal yang tak bisa menolak wajah tikus memelas seperti Li Wei ini.


Seorang pejabat menambahkan, "Semua kereta sudah berangkat terlebih dahulu. Bagaimana Putri akan pergi ke sana?" tanya pejabat itu yang memikirkan keanggunan Li Wei sebagai seorang Putri.


Namun Li Wei menggelengkan kepalanya. "Saya bisa menunggang kuda."

__ADS_1


Lagipula, jika aku di dalam kereta rasanya seperti barang saja.


"Li Wei." Lagi-lagi Raja Li harus mengusap dahinya. Lelah dengan sikap Li Wei yang tak berubah.


Padahal Raja Li sudah memerintahkan pelatih kepribadian untuk membentuk anak gadisnya ini menjadi seperti bunga. Sayangnya, anak gadisnya ini sudah seperti anak ayam baru lepas kandang. Susah sekali diatur.


Lagipula, dengan keadaan bencana seperti ini, jalan pasti tak begitu baik. Bagaimana jika Li Wei tergelincir saat menggunakan kuda? Anak ini biar menyebalkan sekali pun, masih tetap di sayang dengan Raja Li. Kalau hilang bagaimana?


"Hamba akan membawanya," ucap Hua tiba-tiba. Atau, mungkin Li Wei harus memanggilnya dengan sebutan Hua Yifeng sekarang?


Setelah itu, dengan mudahnya Hua Yifeng menarik kerah belakang Li Wei seperti membawa kucing. Hal tersebut membuat Li Wei memberontak kencang. Meski begitu, Li Wei tetap mengikuti Hua yang menariknya. Bukan karena apa, tetapi karena ia takut pakaian belakangnya sobek.


Zhang Yuwen mendelik sebal, "Hey, ... Kau kenapa membawa Putri kecil kami seperti kucing? Dia itu sapi!"


Dasar manusia satu ini!


Bagaimana pun kepergian Hua dan Li Wei membuat para pejabat saling berpandangan. Pasalnya, mereka memang tahu jika Hua itu sangat tidak sopan. Tetapi, mereka tak menyangka jika Putri saja diperlakukan seperti itu.


Li Jun yang merasa urusan telah selesai kembali melanjutkan pembicaraan. "Yang Mulia, Kerajaan Xin mulai bertindak."


Mungkin tak ada yang tahu jika sesuatu yang pelik bukan hanya muncul dari bencana alam.


Meski Raja Li menerapkan sistem tenang tanpa adanya penaklukan wilayah, tetapi kerajaan lain tidaklah sama. Bagaimana pun Kerajaan Xin bukanlah sebuah kerajaan yang besar, tetapi rajanya cukup ambisius. Wilayah Kerajaan Li yang sekarang sudah cukup memadai. Sumber daya alamnya memadai, serta air mudah didapat.


Berbeda dengan Kerajaan Xin yang agak tandus. Meski sebuah laut besar ada di dekat Kerajaan Xin, tetapi jaraknya juga memerlukan waktu dua hari untuk ke sana jika dengan kuda. Sumur hanya terisi jika hujan datang, sedangkan tak ada air mengalir di wilayah Kerajaan Xin.


Hal tersebut sudah menjadi poin penting mengapa Kerajaan Xin ingin bekerja sama dengan Kerajaan Li. Mereka mengajukan pernikahan politik dengan Kerajaan Li. Akan tetapi, Kerajaan Li menolak karena Raja Li tahu siapa yang diminta Raja Xin untuk dijadikan Permaisuri.


Itu adalah Putrinya, Li Wei.


Sudah seperti yang sering disebutkan. Jika ada hal menarik dari suatu kerajaan, maka di Kerajaan Li itu adalah Putri-nya yang menjadi lambang kecantikan di Kerajaan Li. Walau tak semua orang tahu jika Putri Li Wei ini agak 'unik'. Meski begitu, kecantikan dan bakat Li Wei telah terdengar cukup jauh. Bahkan Kerajaan Xin tentu saja mendengarnya.


Apalagi tentang kemenangan Li Wei di Perburuan Malam dalam jajaran murid di Pelatihan Awan. Ditambah lagi dengan sejarah Li Wei yang mampu bertarung di usia-nya yang masih sangat muda dulu. Katanya, Li Wei pernah diculik saat ia berusia sepuluh tahun, kemudian Li Wei bisa melarikan diri tanpa terluka sedikitpun. Bahkan Li Wei juga mengerjai penculik itu dengan berpura-pura pingsan, dan sebagiannya.


Inti dari segalanya adalah otak Li Wei itu terkadang licin seperti belut.


Itu bukanlah hal aneh saat Permaisuri Jiang Ning ternyata sering melatih Li Wei berpedang. Belum lagi dengan Guru Etikanya, Wang Zeming, yang sekarang menjadi Penasihat Kerajaan, juga sering melatih Li Wei di istana. Akan tetapi, karena di masa mereka seorang kecantikan tak boleh berkecimpung dalam politik, itulah yang membuat Raja Li tak bisa memberi keistimewaan pada putrinya sendiri.


Lagipula, tentang gerakan dari pasukan Kerajaan Xin. Semuanya menjadi lebih sulit saat mereka kehilangan Wei Wuxie sebagai Jenderal untuk pasukan mereka. Tentu saja Jenderal lainnya pun ada, tetapi Wei Wuxie yang terbaik dari tiga Jenderal lainnya.


Sehebat apapun pasukan jika dibimbing oleh seseorang yang kurang berotak dalam strategi, maka hanya akan membuang-buang orang. Mereka harus menghemat pasukan untuk menjaga pertahanan di dalam Pusat Kota. Juga, mereka punya bencana yang harus ditanggulangi.


Lebih dari segalanya ... Kerajaan Xin tahu untuk bertindak.


Seolah kesialan datang secara berturut-turut, Kerajaan Xin mengambil kesempatan ketika setengah dari Pusat Kota masih porak-poranda akibat bencana alam. Mungkin Dewa sedang tak berpihak pada Kerajaan Li kali ini.


"Siapkan pasukan, aku yang akan turun untuk menemui mereka," ucap Raja Li tiba-tiba.


Setelah ini semua, Li Jun akan pergi ke daerah terdampak. Menyusul Hua dan Li Wei.


"Yang Mulia, berikan hamba perintah untuk ikut dalam perang," pinta Li Jun sambil memberikan penghormatan.


Namun Raja Li menggelengkan kepalanya. "Kau memiliki tugasmu sendiri. Penasihat Wang akan ikut bersamaku, dan juga Pejabat Zhang," ucap Raja Li untuk membagi pekerjaan.


Zhang Yuwen yang merasa disebut segera memberikan penghormatan. Begitu juga dengan Penasihat Wang Zeming yang duduk dengan tenang sejak tadi. Ia hanya sempat berpikir jika Zhang Yuwen akan ditugaskan untuk menyusul Li Wei. Sayangnya, Raja Li mungkin hanya mencegah Li Jun untuk ikut campur dalam perang. Ditambah lagi Wang Zeming juga memiliki kemampuan untuk mengatur strategi perang.


Juga ...


Li Jun dan Raja Li selalu memiliki pemikiran yang berbeda. Itu saja.


Mau tak mau Li Jun menundukkan kepalanya untuk menerima perintah. Meski pria itu nyaris menggertakkan giginya. Menahan kemarahannya sendiri.


"Baik, Yang Mulia. Segera laksanakan," ucap Li Jun dengan berat hati.


***


SRET!


"Kau mau apa?" tanya Hua ketika Li Wei ingin naik di belakang kuda hitamnya.


Hua sudah naik duluan setelah sempat memeriksa kudanya. Kuda hitam ini adalah milik kerajaan, karena Hua tak memiliki kudanya sendiri. Dan, saat pria itu sudah naik di kudanya, Li Wei berpikir untuk naik segera.


Namun dengan teganya Hua menekan dahi Li Wei untuk mencegahnya naik kuda bersama.


Orang ini pasti memiliki penyakit kepribadian. Pertama dia mengatakan untuk membawaku


Lalu, sekarang dia menelantarkan aku.


"Tentu saja naik. Anda akan menuju ke tempat pengungsian, bukan?" tanya Li Wei sambil menarik hiasan rambutnya sendiri.


Ia lupa jika hari ini dirinya ditata seperti bunga. Biasanya jika dalam kegiatan berpedang atau berkuda Li Wei selalu menggunakan pakaian yang tak menyulitkannya dalam beraktivitas. Akan tetapi, sekarang Li Wei mendadak berlari ke Pengadilan Tinggi. Ia belum sempat mengganti pakaian indahnya dengan pakaian yang lebih sederhana.


Dengan santainya Li Wei menancapkan hiasan rambutnya ke jerami makanan kuda. Siapa tahu nanti penjaga kuda akan mengantarkan hiasan rambutnya ini ke kediamannya kembali. Lalu, setelah itu, Li Wei menarik pita hiasan di pakaiannya untuk dijadikan pengikat rambut.


Hua hanya mengikuti gerakan Li Wei dalam diam.


Akan tetapi, ketika Li Wei ingin naik lagi, Hua kembali menekan dahi Li Wei untuk menjauh. Li Wei sudah mulai jengkel, sampai ia berpikir ingin menendang kepala Hua jika bisa.


"Kau bawa kuda sendiri," tunjuk Hua pada kuda-kuda yang berjejer di kandang.

__ADS_1


Penjaga kuda menatap tak percaya pada tindakan Hua. "Tuan Pejabat, Putri tak boleh menggunakan kuda sendiri. Lagipula, kuda-kuda itu akan digunakan nantinya," ucap penjaga kuda itu panik.


Li Wei berpikir jernih, "Apakah tidak ada yang bisa digunakan lagi? Maksudnya yang tidak ada pemiliknya?" tanya Li Wei pelan.


"Hanya kuda putih itu saja, Putri. Namun kuda itu belum dilatih. Perilakunya juga buruk, karena kuda putih itu sering menabrak pintu kandangnya sendiri karena tak sabar bila diberi makan," ucap pelatih itu dengan pasrah.


"Itu sesuai untuknya," ucap Hua cepat.


Sesuai kata orang ini? Kuda yang hobi mempelajari ilmu kerasukan ini ia katakan sesuai untukku?


Li Wei tak tahu bagaimana pandangan Hua padanya. "Saya menumpang pada Anda saja."


"Berat."


S*alan!


Pria ini pasti punya dendam pada Li Wei. Makanya selalu tega untuk menindas dirinya.


Li Wei menghentak kakinya dengan sebal. "Baik! Saya akan menunggang kuda sendirian. Jangan panggil saya Li Wei jika menumpang kuda pada Anda."


Wajah Hua terlihat terhibur. "Cepatlah, atau aku tinggal."


Akan tetapi, seperti yang dikatakan oleh penjaga kuda, kuda putih ini seperti anti sosial. Ia tak menyukai saat Li Wei mendekat padanya. Sehingga baru saja Li Wei ingin naik, kuda itu sudah menggelengkan kepalanya. Hal tersebut membuat Li Wei berdiri di depan kuda dengan wajah kesal.


"Kau ini tak tahu caranya beramal. Bagaimana mungkin kau tak mau membantu orang yang ditindas seperti aku ini," omel Li Wei di depan kuda.


Namun kuda itu tampak asik dengan makanannya sendiri. Hal itu mengingatkan Li Wei pada seseorang yang juga sering mengabaikan dirinya. Itulah yang membuat Li Wei mengomel lagi. "Kau ini ... Mengapa malah mirip seseorang yang menyebalkan sepertimu?!"


"Putri, biarkan hamba membantu," ucap penjaga itu sambil menundukkan kepalanya. Ia sudah pernah mendengar keanehan Li Wei, tetapi ia baru melihatnya sendiri.


Yah, anggap saja pengalaman pribadi.


DRAP!


Baru saja Li Wei ingin menganggukkan kepalanya, suara langkah kuda mendekat ke arahnya.


SRET!


"Apa?" tanya Li Wei galak ketika Hua menyodorkan tangannya.


"Naik."


Lihat! Pria ini pasti punya banyak kepribadian di dalam dirinya.


Baru saja Hua mengusir Li Wei, sekarang mengajak Li Wei naik ke kudanya. Jangan-jangan ... Jangan-jangan ...


Huh! Li Wei tak murah seperti itu untuk dibujuk naik setelah ditolak.


Hal itulah yang membuat Li Wei melipat kedua lengannya di dada, "Saya punya kuda sendiri. Kuda ... ku?"


Li Wei ingin mengelus kepala kuda, tetapi kuda itu malah kembali berjalan masuk ke dalam kandangnya. Kuda ini jelas bermusuh dengan Li Wei.


"Naik atau ku tarik." Itu sudah final. Jika Hua sudah mengatakan, pria itu akan melakukan sesuai apa yang dikatakannya.


Mau tak mau Li Wei menginjak tali di pinggir di bagian belakang Hua yang kosong. Untuk naik ke atas, tetapi Hua lagi-lagi mendorong dahinya.


Apa orang tinggi berwajah datar ini berubah pikiran lagi? Kenapa cepat sekali?!


"Kau berat. Naik di depan," ucap Hua sambil mundur dari posisinya. Tangan Hua masih terulur untuk membantu Li Wei naik ke kudanya.


Apa-apaan?


Li Wei menatap tak percaya saat ia harus naik di bagian depan. Seingatnya jika naik di bagian belakang itu lebih mudah bagi yang mengendarai. Itu tak akan menyulitkan Hua ketika menarik tali kekang kuda.


Lagipula, apa bedanya jika Li Wei naik di depan atau di belakang?


Namun wajah Hua seperti tak bisa dibantah lagi. Mau tak mau Li Wei meraih tangan Hua yang terulur. Lalu, Li Wei dengan mudah duduk di bagian depan Hua.


SRET!


Li Wei mendadak kaku ketika lengan Hua terulur dari belakang. Gadis itu tentu saja harus berada di dalam pelukan tangan Hua dalam hal ini. Tangan Hua berada di sekitar perut Li Wei. Tentu saja untuk memegangi tali kekang kuda.


"Biar saya yang menariknya," ucap Li Wei yang meraih tali kekang itu.


STAP!


Namun Hua langsung menariknya, dan kuda berjalan dengan lincah. Hal itu membuat Li Wei hanya bisa berpegangan pada lengan Hua. Berusaha menumpulkan Indera penciumannya sendiri, dan kepekaan kulitnya. Mau tak mau Li Wei merasa hangat di lehernya sendiri. Jelas napas Hua terasa di lehernya. Belum lagi dengan aroma Hua yang jelas berbeda dari aroma seorang gadis.


Li Wei biasanya memiliki aroma bunga mawar di kulitnya. Itu karena kelopak mawar yang biasanya menjadi pengharum dalam pemandiannya. Akan tetapi, Hua memiliki aroma seperti kayu yang biasanya digunakan untuk membuat kertas. Mungkin karena Hua memiliki pola pekerjaan yang selalu di antara buku-buku.


Dan, untuk pertama kalinya Li Wei tahu diam juga. Gadis itu tak berbicara lagi selama perjalanan. Dan, Hua juga tak berbicara, seperti biasanya.


Ia yang baru ingat jika Hua adalah seorang pria.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini lebih baik lagi daripada sebelumnya. Maaf menunggu lama, dan chapter baru muncul. Pertanda untuk menunggu lagi di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2