
SRET!
DUG
Bagaimana bisa aku selalu diliputi oleh kesialan?
Yi Hua menatap jengkel pada sepatunya yang rusak. Sepertinya Yi Hua ini sangat menyedihkan hingga sepatunya pun sangat menyedihkan. Sejak awal sepatu itu sudah sangat lusuh, dan tak bisa dipakai untuk melompat-lompat seperti sapi.
Lalu, di perjalanan jauh mereka, Yi Hua menyadari mulut buaya tercipta di depan sepatunya. Dia tak bisa memakai sepatu ini lagi, karena jelas-jelas jarinya sudah bisa mengintip.
"Itulah! Mengapa kau tak minta uang yang banyak pada Perdana Menteri lemah lembut itu? Bahkan sepatu pun kau tak sanggup membeli," omel Xiao pada Yi Hua.
Bukannya tak sanggup, Xiao! Aku ini orang sibuk yang punya pekerjaan setebal catatan dosa, sehingga membeli sepatu tak masuk dalam jadwalku.
Tentu saja itu hanya pembelaan sejenak dari Yi Hua. Pasalnya, sejak Yi Hua membuka jasa meramal di kediamannya, dia belum menemukan satu pelanggan pun. Pada akhirnya, dia hanya bisa menggunakan sisa-sisa uang yang didapatnya dari Raja Li Shen.
Ingatlah dimana Yi Hua membantu untuk menemukan Pangeran Li Quon, yang diculik sebelumnya.
Karena Yi Hua berhenti berjalan, An juga berhenti berjalan.
Saat ini badai telah berlalu, dan mungkin Lembah Debu bukanlah wilayah yang dihindari lagi setelah ini.
Yi Hua dan An harus kembali ke tempat Liu Xingsheng dan Huan Ran. Mungkin keduanya masih menunggu di sana, atau mungkin juga kedua Perdana Menteri itu sudah pergi ke kota terdekat. Yah, jelas saja mereka harus menunggu dua hari di bagian luar Lembah Debu.
SRET!
Yi Hua menatap tak mengerti pada sepatu hitam yang diletakkan di depannya.
"Pakailah."
An dengan mudahnya melepaskan sepatu miliknya untuk dipinjamkan pada Yi Hua. Namun Yi Hua jelas tak memiliki wajah yang tebal untuk meminjam. Yah, walau dia memerlukannya.
"Tidak perlu, Tuan An. Saya bisa menggunakan sepatu ini sebentar lagi. Lagipula, jika saya menggunakannya, bagaimana dengan Anda?" tanya Yi Hua yang sebenarnya hanya tarik ulur.
Bagaimana pun Yi Hua tak punya kaki setebal sapi untuk melintasi wilayah berbatu ini tanpa alas kaki. Membayangkannya saja sudah sangat menyebalkan. Bahkan Yi Hua berpikir ingin berguling saja daripada kakinya menderita terus-menerus.
Akan tetapi, dia tak punya wajah setebal sapi untuk menerima bantuan An. Lagipula, pria ini entah mengapa begitu senang memberikan budi pada Yi Hua. Bahkan mereka baru bertemu akhir-akhir ini, dan Yi Hua sudah begitu banyak mendapatkan pertolongan dari An.
"Ya sudah."
Eh? Rasanya sedikit sedih saat dia tak memaksaku memakai sepatunya.
Yi Hua menyadari bahwa An bekerja sangat cepat. Hanya dalam beberapa detik berjalan, pria itu sudah mengenakan sepatunya lagi. Lalu, setelah itu pria itu berjongkok di hadapannya ....? Huh?
"Jika begitu, mari pakai sepatu ini bersama-sama," putus An begitu saja.
Yi Hua mundur tanpa sadar. "Tidak usah, Tuan An. Saya sangat berat seperti sapi. Bahkan saya seringkali menelan anak sapi utuh jika makan."
"Baru kali ini ada orang yang mengakui bahwa dia begitu berat," cerca Xiao di telinga Yi Hua.
An melirik Yi Hua sekilas. "Jika begitu, Yi Hua yang menggendongku." Pria itu melepaskan kembali sepatunya.
__ADS_1
Yi Hua menatap An tak percaya. Bagaimana bisa pria ini memintanya untuk menggendong An yang besarnya seperti tiang kerajaan?
Namun Yi Hua pada akhirnya berpikir bahwa An sudah banyak membantunya. Sehingga Yi Hua memakai sepatu super besar itu, dan mengikatnya asal. Lalu, Yi Hua berjongkok di depan An dengan doa agar tulang pinggangnya tidak patah.
Ayo, jadi seorang pria jangan setengah-setengah!
SRET!
"Bangunlah, dan berjalan lebih cepat. Bagaimana jika Perdana Menteri Liu meninggalkan kita?"
Yi Hua mendongakkan kepalanya menatap punggung tegap An yang berlalu di sampingnya. Pria itu berjalan terlebih di depannya tanpa alas kaki. Setidaknya seperti yang Yi Hua duga, An tak akan begitu tega memanjat ke punggung Yi Hua yang kecil.
Lalu, mereka kembali berjalan dalam keheningan.
Ini sedikit aneh saat harus berjalan begitu jauh. Sebab, awalnya Yi Hua hanya terlempar begitu saja ke dalam Lembah Debu. Dia tak harus berjalan jauh seperti sekarang. Sehingga dia tak tahu jika jaraknya cukup jauh untuk menuju tempat kereta mereka kembali.
"Tuan An, apakah sakit?" tanya Yi Hua dari belakang An.
Lagi-lagi An melirik sekilas pada Yi Hua. Di sana Yi Hua bisa melihat mata An yang sangat gelap. Ini seperti mata An diwarnai dengan pewarna hitam yang benar-benar hitam. Belum lagi dengan alisnya yang tebal.
"Selama kau berisik, maka sakitnya bertambah," jelas An yang masih sama datar seperti biasanya.
Yi Hua tersenyum tipis ketika melihat An yang sangat datar. Bagaimana pun pria ini memang tak bermasalah sedikit pun dengan apa yang dilakukannya. Entah mengapa dia berpikir bahwa An memang baik, walau sikapnya terkadang kurang ramah.
"Terima kasih."
An terus menatap ke arah depan. "Tak masalah."
***
Tatapan Huan Ran semakin tajam saat melihat An yang datang bersama Yi Hua.
"Saya hampir menyuruh para prajurit untuk menjemput kalian," ucap Huan Ran yang naik kembali ke bagian kemudi.
An membantu Yi Hua untuk naik ke kereta, walau Yi Hua sama sekali tak kesusahan. Yi Hua memang lelah, tetapi dia masih sanggup berguling-guling jika dia mau. Namun dia tak bisa menolak uluran tangan dari An, dan hanya perlu meraihnya.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Perdana Menteri Huan."
Yang Yi Hua dengar hanyalah suara decih pelan dari Huan Ran. Sepertinya kedua orang ini masih tak bisa berbaikan. Yi Hua tak berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang perlu diperbaiki.
Saat Yi Hua masuk kembali ke kereta, Liu Xingsheng akhirnya terbangun. Dan, tatapan Liu Xingsheng langsung terarah pada wajah Yi Hua yang kusam. Tanpa mengumpulkan nyawanya dengan baik, Liu Xingsheng langsung memeluk Yi Hua dengan keras.
"Huwaaa ... Aku mengira kau sudah menjadi salah satu orang hilang di Lembah Debu. Apakah kau baik-baik saja? Masih utuh seperti biasanya, bukan?" tanya Liu Xingsheng panik sambil mengulurkan tangannya pada Yi Hua.
GREP!
Baru saja Liu Xingsheng ingin menyentuh Yi Hua, tangan An sudah lebih dulu meraih lengan Yi Hua. Pria itu sudah mengarahkan Yi Hua untuk duduk dengan baik di depan Liu Xingsheng yang berwajah mengantuk. Bahkan Liu Xingsheng hanya bisa menatap tangannya yang mengambang di udara.
"Saya baik-baik saja, Perdana Menteri Liu," jawab Yi Hua sambil berusaha memperbaiki penampilannya yang sangat kacau.
Liu Xingsheng tersenyum kaku, dan tak paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Namun tatapan Liu Xingsheng terarah pada piringan yang terselip di pinggang Yi Hua. Hal itu membuat Liu Xingsheng tiba-tiba menunjuk benda itu dengan wajah pucat. Bagaimana pun Yi Hua baru saja menerimanya dari An sebelumnya.
"Darimana kau menemukan benda terkutuk ini?"
Yi Hua mengikuti arah pandangan Liu Xingsheng. Dan menyadari apa yang dimaksud oleh Liu Xingsheng. "Yue Yan ... Maksud saya, saya menemukannya di Lembah Debu."
"Bukankah bencana akan datang?" tanya Liu Xingsheng dengan wajah pucat.
Apa maksudnya?
Yi Hua menoleh pada An, tetapi pria itu tak menunjukkan perubahan wajah. Dia tetap tenang menatap ke arah luar. Kereta berjalan pelan, dan pria itu sepertinya menikmati keadaan sekitar.
"Itu adalah Lingkaran Mawar milik Li Wei." Suara teriakan histeris dari Liu Xingsheng membuat Yi Hua terkejut.
Bukan hanya karena suara cempreng Liu Xingsheng, tetapi juga dari ucapannya. Dari segala benda yang bisa ditemukan, mengapa mereka bisa menemukan benda yang seharusnya dimusnahkan itu?
CKIT!
Yi Hua nyaris tersungkur ke depan saat kereta dipaksa berhenti. Pelakunya tentu Huan Ran, dan bisa jadi pria itu mendengar teriakan Liu Xingsheng. Akan tetapi, tangan besar An langsung meraih bagian belakang pakaian Yi Hua hanya untuk menariknya kembali ke tempat duduknya.
Hey, apa aku akan dipenjara lagi saat berhubungan dengan Puteri Hitam, Li Wei?
"Menurut ramalan yang terkenal di Kerajaan Li. Sama seperti yang diramalkan oleh Yi Hua asli, bahwa Puteri Li Wei akan kembali ke dunia. Ditandai dengan terkumpulnya kembali Lingkaran Mawar. Senjata yang diciptakan oleh Li Wei untuk menghancurkan dunia dahulu." Itu adalah apa yang dijelaskan oleh Xiao.
Yi Hua menatap takut pada piringan yang masih terselip di pinggangnya. Bagaimana pun dia hanya ingin hidup tenang, dan berkencan dengan kematian. Yah, itu karena memang sudah misinya untuk mengumpulkan ingatannya melalui kematian tanpa batas.
Bukankah Yi Hua tak bisa meramal? Bagaimana bisa ramalannya mulai terlihat sekarang?
Akan tetapi, meski dia menjauh, persoalan Puteri Hitam Li Wei masih menjadi persoalan yang melekat di hidupnya.
Apakah ini yang dimaksud oleh Shen Qibo agar benda yang ada di tangan Yi Hua sekarang seharusnya tak pernah ada?
"Kita harus segera kembali ke Kerajaan Li!"
Pada akhirnya, mereka tak lagi pergi ke kota mereka bertugas. Huan Ran mengarahkan kereta mereka untuk kembali ke Kerajaan. Sebab, benda yang membawa kejahatan paling besar di Kerajaan Li ditemukan kembali.
Dahulu saat kematian Li Wei, pecahan Lingkaran Mawar terberai kemana-mana.
Banyak yang mengatakan bahwa pecahan Lingkaran Mawar inilah yang menyebabkan banyaknya kejahatan di sekitarnya. Dan, siapa menyangka jika mereka akan menemukan kepingan pertama di Lembah Debu.
Yi Hua melirik pada An yang terlihat datar seperti biasanya. Lebih dari segalanya, mengapa pria ini tak mengatakan apa-apa tentang benda ini?
Apakah An juga tidak tahu bahwa benda ini adalah Kepingan Mawar?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~