
Semakin mereka berjalan, rasanya semakin aneh.
Ini seperti kau menuju ke arah yang kau tahu sangat berbahaya. Meski begitu kau tetap berjalan. Li Wei menyadarinya, begitu juga dengan Zhang Yuwen dan Wei Wuxie.
Wei Wuxie menggelengkan kepalanya saat dirinya merasa sangat berat. Wang Zeming sendiri memang merasa terganggu, tetapi ia lebih bertahan ketimbang Wei Wuxie. Sedangkan Li Wei sendiri sudah berjalan seperti mayat hidup. Bagaimana pun ini adalah rasa lelah yang aneh, dan mereka merasa seperti telah berjalan begitu jauh.
Lalu, BRUK!!
"Putri."
Wei Wuxie yang nyaris tertidur sambil berdiri kembali tersadar. Ia menatap Li Wei yang sudah tengkurap di tanah. Ketika Wei Wuxie mendekati, ia menyadari jika Li Wei menunjuk ke arah rerumputan. Hal itu membuat Zhang Yuwen berpikir jika Li Wei sedang kerasukan.
Jelas Wei Wuxie berniat untuk membantu Li Wei. Akan tetapi, Li Wei malah menunjuk ke arah depannya dengan lebih anarkis. Seolah jika Wei Wuxie tak paham juga, maka dia akan menendangnya.
Li Wei berkata dengan lemah, "Dari sana."
Ya ampun wajahku terasa sakit karena harus terjatuh dengan menempel seperti cicak. Lalu, kedua makhluk ini tak paham dengan maksudku.
Zhang Yuwen yang ternyata lebih kuat bertahan dibanding mereka berdua. Mungkin tubuh Zhang Yuwen lebih stabil dibandingkan mereka. Entahlah. Dan, Wei Wuxie menyuruh Zhang Yuwen untuk memeriksa apa yang ditunjuk oleh Li Wei sejak tadi.
"Bagaimana jika yang Putri tunjuk itu adalah sesuatu yang buruk?" tanya Zhang Yuwen dengan wajah pasrah.
Wei Wuxie melirik tajam pada Zhang Yuwen, "Lalu, jika itu sesuatu yang baik, apakah benda itu akan membuat kita kesusahan seperti ini?" tanyanya yang tak berniat menenangkan Zhang Yuwen.
Bagaimana pun benda inilah yang membuat mereka kesakitan sepanjang perjalanan. Mereka seperti sedang naik tekanan darahnya. Belum lagi dengan rasa berat di kepala mereka. Jelas sesuatu yang dipasang di sana bukanlah benda yang baik.
"Tapi aku tak memiliki pedang untuk bertarung!" bantah Zhang Yuwen yang sebenarnya agak penakut.
Li Wei mengangkat kepalanya. Masih dengan posisi tengkurapnya yang menyedihkan. "Jika benda itu menyerang, maka benda itu akan merayap ke arah kita sekarang juga."
Namun semenjak Li Wei terkapar ia tak mendengar suara gerakan yang mendekat. Yang membuat Li Wei menunjuk ke arah sana ialah aroma seperti dupa pemakaman yang muncul dari sana. Akan tetapi, ini jelas bukan dupa pemakaman biasa. Aroma seperti dupa inilah yang membuat mereka seperti mabuk.
Zhang Yuwen mengambil busur panahnya yang masih tersimpan rapi di punggung. Jelas Zhang Yuwen agak sensitif dengan semua itu. Hingga ia hanya bisa mengorek ke arah rerumputan segar yang menempel di dinding Labirin Batu.
SRAK!
Saat dibersihkan oleh Zhang Yuwen, Li Wei menyadari bahwa ia tak mencium aroma menyakitkan itu lagi.
"Apakah ini bisa berhasil?" tanya Zhang Yuwen, dan ketika ia melihat Li Wei yang bangkit kembali ia menyadari bahwa itu benar.
Li Wei membaik dan begitu juga dengan Wei Wuxie. Hanya saja ia masih tak mengerti apa yang memicu mereka pusing-pusing dan marah seperti sebelumnya. Jelas bukan hanya karena Zhang Yuwen membersihkan rerumputan itu saja.
SREK!
Li Wei menyentuh permukaan Labirin Batu yang agak longgar, dan menekannya... KREK!
"Ada pintu rahasia di sini," ucap Wei Wuxie ketika melihat permukaan dinding.
Celah kosong itu terbuka ketika Li Wei menekan bagian yang lain. Sehingga untuk membuka mekanisme pintu rahasia itu, mereka perlu menemukan bagian batu yang renggang.
Zhang Yuwen menunduk untuk memeriksa celah kosong itu. Hanya berjaga-jaga jika itu bukanlah jebakan. Akan tetapi, Wei Wuxie menyuruh Zhang Yuwen untuk masuk terlebih dahulu. Wajah Zhang Yuwen langsung terlihat masam.
"Bagaimana jika ada jebakan di sana? Apa kau bisa menjamin jika tubuhku tak akan terpotong di dalam sana?" tanya Zhang Yuwen tak terima.
Pintu itu hanya setinggi lutut orang dewasa. Sehingga jika mereka ingin masuk, maka caranya hanya dengan cara merangkak masuk. Meski begitu, celah itu rupanya agak dalam hingga menemukan pintu selanjutnya. Belum lagi dengan resiko lainnya seperti hewan mematikan yang hidup di sana dan sebagainya.
"Atau ... Kita cari jalan lain?" tanya Li Wei yang berpikir.
Wei Wuxie menoleh ke arah Li Wei. "Apakah ada jaminan jika ada pintu lain?" tanyanya.
Zhang Yuwen mengangguk semangat karena berharap tak disuruh merangkak duluan ke bagian celah itu. Ia jelas memiliki kelemahan tersendiri terhadap serangga. Itulah yang membuat Zhang Yuwen tak ingin masuk terlebih dahulu.
"Aroma itu ... Itu adalah dupa yang bisa membuat darah manusia menjadi memacu. Seperti kau tiba-tiba merasa dalam ketakutan yang besar. Namun dupa seperti itu harus dihidupkan terlebih dahulu. Apa kau pikir dupa itu bisa hidup sendiri?" tanya Li Wei untuk membuka jalan pemikiran kedua rekannya ini.
Tentu saja tidak. Jika pun ada sihir yang digunakan untuk menghidupkan, mungkin ada campur tangan dari Peramal Kerajaan di sini.
"Meski dupa ini membuat kita kacau, tetapi berkat aroma dupa ini kita menemukan pintu masuknya. Sehingga aku yakin di setiap pintu masuk labirin dipasang oleh dupa. Kau ingat bagaimana bentuk labirin ini? Lingkaran, bukan? Bisa kita simpulkan bahwa ada banyak pintu labirin membawa kita ke bagian tengah labirin," jelas Li Wei yang sebenarnya agak menyerah pada Zhang Yuwen.
Lihatlah bahwa Zhang Yuwen mulai menggaruk kepalanya. Pertanda Zhang Yuwen hanya menangkap setengah dari apa yang Li Wei jelaskan.
__ADS_1
"Maaf, Putri. Saya agak bodoh." Kejujuran adalah hal yang baik dari segalanya. Itulah yang Zhang Yuwen katakan.
Jika dalam berpedang dan bertarung, maka Zhang Yuwen bisa dikategorikan di atas. Akan tetapi, dalam berlogika atau bermain dengan pola pikir yang cerdas, maka Zhang Yuwen menyerah. Termasuk dalam pola pikir Guru Ling Xiao yang terkadang menurut Zhang Yuwen tak bisa didefinisikan.
Juga ... Dalam sejarah hidup Zhang Yuwen, ia belum pernah bertemu orang lain yang bisa mengalahkan Ling Xiao dalam strategi.
Percayalah jika ada yang ditakuti oleh Kerajaan Li di dunia ini, maka itu adalah Ling Xiao ini. Ini seolah semua pemikiran manusia di dunia ini Ling Xiao bisa menebaknya. Hingga kau tak bisa merahasiakan apapun darinya. Lalu, sebaliknya ... Jika Ling Xiao merencanakan sesuatu, maka orang lain akan kesulitan menebaknya. Apalagi menyelesaikannya.
"Jika benar labirin ini berbentuk lingkaran, maka pintu lainnya yang dipilih oleh setiap peserta itu benar. Semua pintu masuk awal adalah benar. Ujiannya hanya satu ... Yaitu, menemukan pintu setelahnya," pikir Li Wei sambil memeriksa celah yang kosong itu. Sayangnya bagian dalamnya terlalu dalam untuk dilihat dari posisi mereka ini.
Jika tak menemukan pintunya, berarti tak bisa masuk. Apalagi ingatlah! Ini malam hari. Mereka hanya bermodalkan pada obor yang dihidupkan di sepanjang labirin.
"Jadi, maksud Putri ialah jika kita ingin jalan lain, maka kita harus keluar lagi dari jalan yang kita pilih. Lalu, memulai lagi dari pintu yang lain, dan berusaha menemukan pintu lainnya?" tanya Wei Wuxie yang lebih cepat paham dibanding Zhang Yuwen.
Berkat itu Zhang Yuwen juga bisa memahaminya. Entah mengapa ia lebih mengerti jika ada diskusi antara Wei Wuxie dengan Li Wei. Seolah ada timbal balik dari usul yang dicetuskan.
"Itu sama seperti kita mengulang dari awal," pikir Zhang Yuwen.
Wei Wuxie menghela napasnya. "Makanya, kau masuk lebih dahulu. Jika ada sesuatu di sana, maka aku akan menarik kakimu keluar."
Mereka tak punya pilihan lain.
"Lagipula, apa kau yakin para pejabat akan membahayakan nyawa anak mereka?" tanya Li Wei untuk menenangkan Zhang Yuwen.
Li Wei meraih obor yang terpasang di labirin. Lalu, memasukannya ke dalam celah itu hanya untuk mengusir serangga di dalamnya. Yah, jika ada ... Akan tetapi, mereka tak melihat adanya serangga yang keluar dari sana.
"Meski gelap, tetapi aku yakin tak ada sarang serangga di dalamnya. Apalagi aku merasakan angin yang berhembus dari arah lubang ini," jelas Li Wei yang mengikat tangannya dengan kain panjang.
Zhang Yuwen pada akhirnya yang harus masuk duluan. Ia mengikat jantung berisi anak panah miliknya lebih kencang. Jelas ia tak mau tersangkut di dalam celah ini. Sehingga ia harus lebih merampingkan dirinya.
Setelah itu, Zhang Yuwen menggunakan busur panahnye terlebih dahulu untuk menemukan jalan. Setidaknya jika ada sesuatu di depan, maka busur panahnya akan menabraknya terlebih dahulu. Zhang Yuwen jelas tak bisa mengendalikan penglihatannya, karena di dalam celah ini sangat gelap.
TUK TUK!
Zhang Yuwen merasakan ujung busur panahnya menabrak sesuatu.
"Yuwen, apakah kau menemukan sesuatu?"
Apakah itu berarti pintu ini salah?
Zhang Yuwen tak berpikir begitu. Ia merangkak lebih dekat ke arah tembok lainnya yang Zhang Yuwen temukan. Seperti yang dikatakan oleh Li Wei, ada angin yang masuk dari lubang ini. Berarti ada celah.
Zhang Yuwen memeriksa hanya untuk menemukan penekan mekanisme, atau apapaun. Sayangnya, tidak ada apapun di sana. Hal itu membuat Zhang Yuwen mengepalkan tangannya untuk memukul ke arah dinding dan ... BRAK!
Dinding batu itu lebih rapuh dari yang Zhang Yuwen pikirkan.
"Saya menemukan jalannya, Putri," teriak Zhang Yuwen memberitahu.
Lalu, Zhang Yuwen menyingkir reruntuhan batu yang berhasil ia hancurkan itu. Ini seperti batu-batu itu ditumpuk begitu saja untuk menghalangi. Namun kekuatannya tak berarti. Ini hanyalah pengecoh.
HUFT!
Zhang Yuwen keluar dari dalam lubang pengap itu. Ia berdiri untuk memeriksa keadaan sekitar. Putri Li Wei benar, labirin ini berbentuk lingkaran, sehingga kau bisa melihat ada cekungan dari jalan.
Setelah yakin bahwa keadaannya aman, Zhang Yuwen membungkuk di lubang gelap itu dan berteriak. "Putri, Wuxie ... Saya menemukan bagian labirin lain di sini. Kalian bisa masuk sekarang, karena sudah aman."
Baru saja Zhang Yuwen menyebut aman, ia mendengar seperti suara kicau burung. Kala itu ia mempersiapkan busur panahnya, dan menyadari memang ada burung hitam di labirin itu. Burung itu berputar seperti elang mencari mangsa.
CRAPP!
BRAK!
Zhang Yuwen berguling ketika merasa burung itu mendekat ke arah kepalanya. Sepertinya Zhang Yuwen tahu bahwa 'mangsa' yang diincar oleh burung ini ialah dirinya. Dalam posisi berbaringnya itu Zhang Yuwen membidik ke bagian perut burung yang nyaris menyerangnya. Lalu, ...
STAP!
Kena.
BYAR!
__ADS_1
Burung itu lalu memecah seperti guguran daun, dan sebuah jimat kertas melayang di udara ... Kembali pada pemiliknya untuk dicatat sebagai hasil. Anak panah milik Zhang Yuwen juga ikut terbakar. Pantas saja jika mereka sudah memanah satu kali, maka mereka sudah membuang satu anak panah. Itu karena setiap panah yang terlontar, akan terbakar di udara. Kena atau tidaknya buruannya, pasti akan tetap terbakar.
Sepertinya Zhang Yuwen mengenai buruannya yang pertama.
Ketika Zhang Yuwen berdiri kembali, Wei Wuxie sudah berhasil keluar dari lubang. Zhang Yuwen mengulurkan tangannya untuk membantu Wei Wuxie berdiri.
"Rupanya buruan ini lebih sulit dari yang kita bayangkan," ucap Wei Wuxie sambil menyambut tangan Zhang Yuwen.
Zhang Yuwen menarik Wei Wuxie untuk berdiri. "Guru Ling Xiao menjadikan 'mainan'nya sebagai buruan. Itu sama seperti kita berhadapan dengan Guru Ling Xiao."
Li Wei yang lebih kecil dari Wei Wuxie jelas bisa keluar dengan mudah. Setelah itu, Li Wei menggantung busurnya di bahu lagi, dan menatap pada boneka kertas Guru Ling Xiao yang telah dipanah oleh Zhang Yuwen. Bahkan Guru misterius itu juga bisa membuat binatang dengan kertas jimat.
"Ayo kita jalan lagi," ucap Li Wei ketika menyadari bahwa mereka terlalu lama di sini.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat butiran kertas lainnya yang terberai di tanah. Zhang Yuwen hanya mendapat buruan satu, dan itu sudah terbakar sebelumnya. Akan tetapi, bekas buruan ini ada lagi tak jauh dari tempat mereka.
"Ada yang sudah mendahului kita," ucap Li Wei yang memeriksa lembaran kertas terbakar itu.
Sepertinya mereka harus berburu lebih keras lagi di labirin ini. Faktanya, bukan hanya mereka bertiga yang menemukan jalan yang benar.
***
Di bagian dinding labirin itu, nyatanya ada beberapa buruan. Li Wei sempat memanah satu kali, dan berhasil. Zhang Yuwen juga mendapat satu ekor lagi burung yang berhasil ia panah. Itu membuatnya mencetak dua poin. Kemudian, Wei Wuxie menyusul dengan hasil yang sangat menakjubkan, yaitu menembak dua ekor sekaligus dalam waktu berdekatan.
Ternyata setelah mereka berhasil masuk, jalan masuk lainnya lebih mudah. Mereka hanya perlu menyusuri jalan labirin yang lurus, dan juga buruan mereka ternyata berkeliaran di sana. Lebih dari segalanya ... Lebih mudah jalannya, sebenarnya lebih berbahaya.
Sebab ...
"Bukan ujian namanya jika tak menjebak. Ini Guru Ling Xiao ..." cetus Li Wei yang merasa aneh dengan kedamaian ini.
Zhang Yuwen memberikan air minum untuk Li Wei. "Yang penting kita waspada, Putri. Jalan keluar dari sini pun kita belum mengetahuinya."
Ingatkah ini labirin. Sesat adalah bagian dari kesusahan labirin ini.
Wei Wuxie telihat mengasah anak panahnya. Mereka beristirahat sebentar, sekaligus untuk menemukan jalan berikutnya. Masalahnya adalah mereka telah mengitari jalan yang sama sejak tadi. Li Wei pun merasa seperti sakit pinggang mendadak, terutama ia sempat tersembab jatuh saat berhadapan dengan buruannya.
Li Wei merasa ingin berbaring sejenak ... DUG!
Aduh! Kepalaku!
Ketika Li Wei baru saja ingin berbaring, kepalanya sudah menyentuh batuan yang keras. Belum sempat Li Wei memeriksa, ia merasa tanah di bagian bawah punggungnya bergerak. Sepertinya Li Wei telah membuka jebakan lainnya.
"Hey ..."
SRAP!
Lalu, Li Wei terjatuh begitu saja tanpa sempat mengatakan lebih jauh. Bahkan tangan Zhang Yuwen yang berada di jarak paling dekat saja tak bisa meraihnya. Li Wei terjatuh dengan cara yang aneh, seperti hilang begitu saja.
Zhang Yuwen berusaha menuju ke tanah yang tertutup kembali itu. Sayangnya, tanah itu padat seperti semula. Bahkan Zhang Yuwen melompat beberapa kali, dan tak menemukan lubang yang menelan Li Wei. Ia juga menginjak beberapa batu yang ada di sana. Akan tetapi, permukaan tanah juga masih datar seperti biasanya.
"Kemana Putri Li Wei?" tanya Wei Wuxie yang menyadari bahwa Li Wei menghilang. Padahal baru saja ia mendengar Li Wei berteriak sebelumnya.
Zhang Yuwen menunjuk ke arah tanah yang kembali normal. Seperti tak pernah ada lubang yang menelan Li Wei sebelumnya. Tatapannya terlihat nanar dan bingung. Hanya saja yang terpikir di otaknya adalah ...
"Wuxie, Putri tidak apa-apa, bukan?" tanya Zhang Yuwen dengan hampa.
Masalahnya mereka juga tak bisa menemukan dimana sekarang Putri berpindah.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf baru up lagi. Jadi sebenarnya aku tuh pulang kampung. Lama di perjalanan, terus ternyata banjir di jalannya. Aku berangkatnya sore, datangnya juga sore di kampung. Alias semalaman. Makanya baru bisa up lagi.
Aku harap chapter ini cukup memuaskan dan untuk sementara aku belum bisa double up, apalagi crazy up. Jadi, gak janji yah soalnya dunia nyata lebih sibuk dari apa yang aku pahami.
So, ... Itu aja dulu ya.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~