Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Bagian dalam Peti


__ADS_3

TAP!


Yi Hua menepis tangan Hua Yifeng pelan. Mendadak peramal itu tak bisa menatap mata pria tinggi yang ada di depannya ini. Akan tetapi, lebih dari segalanya mendadak semuanya menjadi seperti ketakutan.


Mengapa?


"Seperti yang Jenderal Wei lihat, dia tak akan menyakiti saya. Mari kita berjalan dan meletakkan kembali para mendiang keluarga Wei ini pada makamnya," ucap Yi Hua sambil berjalan kembali untuk menyusuri makam keluarga Wei yang cukup luas ini.


Hal tersebut membuat Jenderal Wei mengikuti Yi Hua yang sudah berjalan duluan. Jenderal Wei entah bagaimana tak mempermasalahkan lagi. Ditambah lagi ia sedikit bingung dengan wajah Yi Hua yang berubah tiba-tiba.


"Yi Hua ..." panggil Jenderal Wei.


Lebih dari segalanya ...


Aku sebenarnya tak boleh terlarut dalam kehidupan ini. Sebab, sejatinya Yi Hua ini bisa mati kapan saja.


Mungkin ini hanyalah penebusan dosanya di masa lampau. Akan tetapi, ... Yi Hua mengusap telapak tangannya sendiri.


Ia tak bisa membaca nasib orang dengan akurat melalui telapak tangan. Sebab, ia hanya peramal yang kurang asupan. Ia tak bisa apa-apa.


Akan tetapi, sejak ia berada di tubuh Yi Hua ini, ia menyadari bahwa Yi Hua asli ini memiliki takdir kematian yang dekat. Selama ini Yi Hua tak mempermasalahkannya, karena ia berpikir bahwa hidupnya hanya mengikuti Xiao untuk menemukan masa lalunya.


Dan, setelah itu ... Entahlah.


"Lihat Jenderal Wei, kita memilih pintu yang benar," ucapan Yi Hua mendadak jadi cukup banyak hanya untuk mengalihkan pemikirannya.


Ia bahkan tak tahu bagaimana Hua Yifeng di belakangnya. Apakah dia mengikuti atau tidak, Yi Hua tak mau memikirkannya.


Ia takut.


Bukan.


Bagi Yi Hua, kematian bukan apa yang ia takutkan. Akan tetapi, ia adalah orang yang sudah mengingat kehidupan masa lalunya. Ia tahu kehidupan lalu banyak membawa penyesalan. Ia meninggalkan Li Shen dan membiarkan adiknya itu sendirian.


Sebagai Li Wei, ia memiliki janji yang tak bisa ditepati.


Bagaimana setelah ia menjadi Yi Hua, akhir yang sama ia temukan. Ia akan memiliki janji yang tak akan bisa ditepati. Ia akan membuat orang lain berduka karena dirinya.


Ia bukan takut akan kematian, tetapi ia takut jika kematiannya akan menjadi luka orang lain.


Ia takut terlalu terlena sehingga ia terlupa bahwa kehidupannya sekarang hanya untuk mengejar kematian.


Sebab, tungku iblis di tubuh Yi Hua bisa meledak kapan saja jika kelebihan energi iblis. Berkat Hua Yifeng pria itu bisa menarik energi iblis dari Yi Hua. Hua Yifeng adalah kandidat yang tepat untuk mengeluarkan aura iblis dari tungku di tubuh Yi Hua.


Akan tetapi, tungku iblis hanyalah 'benda' yang bermanfaat bagi iblis, bukan untuk Yi Hua.


Jika ia berdekatan dengan Hua Yifeng terus-menerus, maka aura iblis di tungku akan mengering.


Lalu, Yi Hua akan mati juga.


"Kita sampai," ucap Yi Hua dengan wajah datar.


Bukankah ini sudah dijelaskan oleh Xiao sejak awal?


Itulah mengapa ia tak perlu bahagia. Lagipula, bahagia di atas kematian Yi Hua asli, ini seperti tidak berterima kasih.


Setidaknya jika ada yang bisa menjadi tujuan ialah menemukan jawaban atas kematian Yi Hua asli, dan mengapa ia bisa hidup kembali ke tubuh Yi Hua.


Benar.



Menjadi Li Wei ia sendiri, begitu juga di kehidupan ini.


Sendirian.


***


Yi Hua menundukkan kepalanya beberapa kali pada masing-masing peti mati keluarga Wei.


Bagaimana pun seorang peramal biasanya menyampaikan titah dan pemberitahuan dari Dewa. Sehingga dalam prosesi semacam ini, para peramal biasanya mendoakan para mendiang. Ia pernah membacanya di buku-buku yang dimiliki Yi Hua asli di kediamannya. Sehingga ia sedikit mengerti


Mereka telah sampai pada makam keluarga Wei. Ketika itu Yi Hua hanya memperhatikan para prajurit yang mengembalikan tubuh-tubuh itu ke peti mereka masing-masing. Itulah mengapa Yi Hua tak berniat membantu, sebab ia juga tak tahu siapa saja pemilik makan itu.


Ditambah lagi Yi Hua menyadari jika ia tak melihat Hua Yifeng.


Apakah pria itu sudah pergi?


Yi Hua yang tak mau memikirkan apa-apa, segera mengalihkan pandangannya pada Jenderal Wei yang mengawasi para prajuritnya. Pria itu juga tak mengatakan apa-apa, sehingga Yi Hua juga tak berpikir untuk mengajaknya bicara. Pada akhirnya, kegiatan itu mereka lalui dengan diam.


Hingga ketika Yi Hua masuk pada sebuah ruangan yang agak tersembunyi.


TAP!


Sudah berapa tahun berlalu, Wuxie.


Yi Hua menunduk untuk memberikan penghormatan pada pemilik makam. Bagaimana pun ia bisa melihat nama pemilik di atas peti. Seseorang yang sepanjang hidupnya memberi kesetiaan pada Li Wei, Jenderal Besar Wei, Kepala Keluarga Wei sebelumnya.


Siapa sangka pertemuan berikutnya adalah saat Yi Hua mengunjungi makam Wei Wuxie.


"Ternyata aku tak bisa kembali untuk membawa dirimu bersembunyi, Wuxie," bisik Yi Hua ketika mengingat masa lalu mereka.


Seingatnya ialah Wei Wuxie terluka kala itu, kemudian ia meninggalkan Wei Wuxie untuk menyusul Zhang Yuwen. Jika Yi Hua tetap bersama Wei Wuxie kala itu, akankah Wei Wuxie masih hidup sekarang? Mendadak ia tertawa kelu.

__ADS_1


Maafkan aku. Dan juga ... Yuwen ada di sini, Wuxie.


Meski Zhang Yuwen menjadi iblis sekalipun, Zhang Yuwen memasuki makam keluarga Wei. Yi Hua tak tahu apa Zhang Yuwen termasuk sering atau tidak masuk ke tempat ini. Akan tetapi, kematian seorang sahabat jelas menjadi luka tersendiri bagi Zhang Yuwen. Begitu juga dirinya sekarang.


Lebih buruk dari segalanya ialah dirinya yang baru mengingat semua kenangan masa lalunya. Mungkin Xiao benar ... Sistem ini pernah berkata bahwa seseorang mungkin melupakan sesuatu bukan berarti karena itu tidak penting. Tetapi lebih pada itu terlalu menyakitkan untuk diingat.


Siapa yang bisa disalahkan kali ini?


"Yi Hua ..."


Yi Hua menolah tatkala Jenderal Wei memanggilnya. Mungkin dari segala perkiraan, Jenderal Wei ini mungkin terkejut saat Yi Hua memasuki makam kakaknya. Itu juga terkesan tak sopan. Bagaimana pun Wei Wuxie adalah kepala keluarga terdahulu, dan tak sembarang orang yang bisa masuk untuk melihat peti matinya.


"Maaf, Jenderal Wei. Saya terbiasa mendoakan ketika melihat sebuah makam," ucap Yi Hua setelah mengangkat kepalanya.


Jenderal Wei, Wei Qionglin, memiliki wajah yang agak berbeda dengan Wei Wuxie. Mungkin karena mereka terlahir dari ibu yang berbeda. Wei Qionglin memiliki wajah yang tegas dan jauh lebih tinggi dibandingkan Wei Wuxie. Sedangkan Wei Wuxie memiliki wajah yang cenderung halus dan lembut, tetapi agak dingin.


"Ketika aku kembali ke Kerajaan Li, yang ada hanyalah kehancuran di sana-sini. Awalnya aku tak mengerti mengapa ayah mengirimku untuk pergi keluar dari Kerajaan Li dahulu. Rupanya inilah alasannya," jelas Jenderal Wei yang juga menundukkan tubuhnya untuk memberi penghormatan pada peti mati milik kakaknya.


Ia sangat ingat tentang itu.


Bagaimana saat keluarga Wei hancur, yang dimulai dari tuduhan yang diberikan untuk Wei Wuxie. Setahunya dahulu Wei Qionglin memang tak pernah tampak lagi semenjak peperangan dimulai. Rupanya ayah dari Wei itu telah menyembunyikan Wei Qionglin di kerajaan lain. Sehingga ketika Kerajaan Xin merajalela, Wei Qionglin tetap bisa tumbuh dengan baik.


Namun tidak dengan kakaknya, Wei Wuxie.


Yi Hua mengangkat kepalanya setelah memberi penghormatan yang terakhir. Kala itu Yi Hua mendapati sebuah tali tipis seperti sarang laba-laba yang melintas di atas kepalanya. Dengan perlahan Yi Hua mengikuti arah alur dari sarang laba-laba itu. Hingga ...


"Berhenti," teriak Yi Hua mendadak. Teriakan Ya Hua itu membuat para prajurit yang tengah mengembalikan tubuh tengkorak ke peti masing-masing menjadi terdiam.


Bagaimana pun mereka sendiri sangat tahu tentang berbahayanya makam ini.


Akan tetapi, ...


CLAK!


Jenderal Wei tak berani bergerak ketika suara itu terdengar. Seperti yang sudah mereka ketahui, memang ada mekanisme di makam keluarga Wei. Ada banyak jebakan di sana. Akan tetapi, ia tak menyangka jika akan ada jebakan lainnya di makam tersembunyi milik Wei Wuxie.


SRANG!


TUK!


Jenderal Wei terkejut ketika Yi Hua mendadak mengambil sebuah kayu. Bukan untuk memukul Jenderal Wei tentunya. Meski terkadang Yi Hua agak tak jelas, tetapi Yi Hua tak akan memukul orang lain sembarangan.


Yah, Yi Hua hanya mengarahkan kayu itu di depan wajah Jenderal Wei. Sehingga sarang laba-laba itu melingkar di kayu yang ada di depan wajah Jenderal Wei. Hanya menunggu hitungan detik hingga wajah Jenderal Wei akan terkena senar itu.


Paling beruntungnya mungkin wajah yang dibanggakan Jenderal Wei ini akan terluka. Atau, yang kedua ... jaring laba-laba itu akan menarik wajah Jenderal Wei, dan jebakan akan aktif. Entah apa jebakan itu.


"Mundur pelan-pelan," ucap Yi Hua yang masih memegangi kayu yang ada di tangannya.


Jenderal Wei menganggukkan kepalanya, dan mundur. Sehingga kini jaring laba-laba itu melingkar erat di kayu yang dipegang oleh Yi Hua. Dan, Yi Hua juga mundur untuk melepaskan jaring laba-laba itu.


Jaring laba-laba ini jelas bukan seperti senar yang biasa digunakan oleh Zhang Yuwen. Ini benar-benar jaring laba-laba, tetapi laba-laba yang beracun. Belum lagi ...


SREK!


Ini memiliki perekat di atasnya.


Kayu yang ada di tangan Yi Hua terjebak oleh jaring laba-laba itu. Oleh karena itu, Yi Hua berniat melepaskan jaring itu agar tak merekatkan tangan Yi Hua juga. Siapa yang tahu kesialan yang dirinya miliki.


STAP.


"Yi Hua, ... Tanganmu," pekik Jenderal Wei terkejut.


Pria itu memang terlepas. Tetapi, benar saja Yi Hua yang punya nasib sial ini tersangkut. Jaring itu malah turun ke arah tangannya seolah jaring laba-laba itu bisa merayap sendiri.


Kesialan Yi Hua memang sangat tinggi kadarnya. Bahkan dari setiap kemungkinan terburuk, Yi Hua selalu ada di bagian depannya. Yi Hua berusaha melepaskan jaring itu dari tangannya, tetapi jaring itu seolah menyatu dengan kulit Yi Hua. Sehingga ketika ditarik, kulit Yi Hua juga seperti ingin ikut serta terlepas.


Ini menyakitkan. Yi Hua berkeringat dingin ketika rasa sakit seperti luka parah di tangannya. Akan tetapi, Yi Hua tak berdarah ataupun terluka. Sehingga ia tak tahu darimana rasa lemah yang ia rasakan ini. Ini tak seperti ia kehabisan darah dalam jumlah banyak.


"Jangan ditarik." Ucapan itu terdengar di belakang telinga Yi Hua.


Yi Hua melirik sedikit untuk memastikan, dan itu memang benar Hua Yifeng. Pria itu mencengkeram tangan Yi Hua untuk memeriksa. Ada bekas merah akibat tarikan Yi Hua sendiri, dan jaring laba-laba yang seperti menempel erat di kulit. Jaring laba-laba itu menempel di kulit Yi Hua seperti aliran nadi darah.


Dengan tangan Yi Hua yang terbebas, ia menepis tangan Hua Yifeng. "Saya bisa sendiri."


Akan tetapi, Hua Yifeng tetap menyentuh bekas merah itu. Perlahan Yi Hua merasakan bahwa pria itupun menekan bekas gigitan untuk mengeluarkan racun. Dan, Yi Hua masih dengan sisi keras kepalanya. Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Hua Yifeng.


Hingga Hua Yifeng menatap Yi Hua tajam. "Berhentilah untuk keras kepala. Ini adalah laba-laba iblis."


Laba-laba iblis. Sarang laba-laba ini jelas bukan sarang laba-laba biasa, walau ia belum melihat bagaimana hewannya... Yi Hua menyadari sesuatu. Pantas saja ia merasakan seperti kekurangan darah dan lemah.


Sarang laba-laba ini menyerap kekuatan iblis dari tungku!


Yi Hua adalah tungku iblis. Ia bisa membuat iblis lemah menjadi iblis tingkat tinggi jika terlalu lama dibiarkan.


Pantas saja sarang laba-laba ini semakin kuat merekat di tangannya. Itu semua karena benda ini menyerap energi iblis dari tubuh Yi Hua. Hal semacam ini sangat banyak di dunia iblis, sehingga Hua Yifeng tak asing lagi.


Namun masalahnya ialah hewan iblis semacam ini bagaimana mungkin muncul di dunia manusia begitu saja?


Paling tidak ada hewannya.


SRAT!


Jenderal Wei mengawasi ke bagian dinding makam. Jika ingin memutus jaringnya, maka bunuh hewannya. Tatapan Jenderal Wei terarah ke sisi kiri.

__ADS_1


Pria itu menarik pedangnya dan memotong ke arah jaring yang melintas di samping kiri.


SRAK!


Jaring itu tidak mudah terpotong. Bahkan pedang Jenderal Wei melekat pada jaring dan tak bisa terlepas. Ini memang seperti memiliki perekat di sekeliling jaringnya.


"Ughh ..."


Pandangan Jenderal Wei beralih pada Yi Hua yang nyaris terjatuh. Jaring laba-laba itu terus menyerap kuat semua tenaga Yi Hua. Hal tersebut membuat Yi Hua meringis kesakitan. Meski begitu, Yi Hua tetap berdiri agar kesadarannya tak tertarik oleh jaring laba-laba.


CRASHHH!


Yi Hua memperhatikan ujung jari Hua Yifeng yang menyentuh jaring laba-laba itu.


SLAP!


Hanya dalam beberapa detik jaring laba-laba itu menyusut dan berlari seolah terbakar oleh jari Hua Yifeng. Padahal Jenderal Wei masih bertarik-tarikan dengan jaring karena pedangnya menyangkut. Yi Hua juga sudah kacau sendiri karena berusaha melepaskan jaring itu dari tangannya.


Dia menyelesaikan masalah jaring laba-laba ini seperti melempar upil, sedangkan aku susah-susah menahan sejak tadi.


Ini seperti, sejak tadi mereka berbuat apa, padahal Hua Yifeng hanya menyelesaikannya lebih ringan dibanding mencium sapi.


Yi Hua tak bisa menahan kata sarkastik di dalam pikirannya. Terutama ketika ia menyadari bahwa 'tungku iblis' ini memang sangat menakjubkan jika ada. Sayangnya, itu berguna untuk pihak lain. Bukan untuk Yi Hua sendiri.


Sial sekali hidup ini.


Yi Hua menatap tangannya yang memiliki garis berdarah. Hewan itu telah meninggalkan racunnya pada Yi Hua. Yi Hua bahkan tak berani memegang tangannya sendiri yang membiru.


Entah mengapa Yi Hua tak terkejut lagi. Bagian sial-sialan itu selalu menjadi bagiannya.


Hal tersebut membuat Hua Yifeng melihat dari arah mana jaring itu muncul. Pria itu berjalan pelan dan menendang ke arah batu besar di samping makam. Akan tetapi, ada sinar aneh yang melintas pergi.


Jika Yi Hua tak menghindar mungkin sinar aneh itu akan menempel di wajahnya. Sinar aneh itu terbang menuju ke celah peti mati Wei Wuxie. Sepertinya hewan ini pandai melarikan diri. Terutama saat dia sudah mendapat sedikit kekuatan dari tungku iblis Yi Hua.


SRAK!


"Beraninya kau," teriak Jenderal Wei yang menatap marah pada Hua Yifeng yang mencongkel peti mati Wei Wuxie.


Hal tersebut membuat Jenderal Wei mengarahkan pedangnya ke Hua Yifeng. Namun Hua Yifeng menangkap ujung pedang Jenderal Wei dengan jarinya, dan mengarahkannya ke bagian lain. Sehingga Jenderal Wei hanya menebas angin.


Tak lama setelah itu, Hua Yifeng melompat ke sisi lainnya untuk mencongkel sudut lain dari peti.


BRAK!


Yi Hua tanpa sadar mengangkat kepalanya dan mengikuti tutup peti mati yang terlempar ke atas. Tak lama keluar laba-laba sebesar genggaman tangan orang dewasa dari sana. Warnanya hitam dengan garis kuning di tengahnya. Itu jelas sangat beracun dan biasanya berkeliaran di dunia iblis.


Bagaimana mungkin ada orang yang bisa meletakkan benda anti manusia ini di dalam makam? Terlebih lagi pada makan Wei Wuxie.


Jika pun ada, orang tersebut pasti bukanlah manusia.


TAP!


Hua Yifeng membelah laba-laba itu dengan pedangnya. Setelah laba-laba itu terjatuh ke tanah, Hua Yifeng meremukkan laba-laba iblis itu dengan injakan pelan. Meski sudah hancur sekalipun, Hua Yifeng tetap memijaknya dengan keras.


Hey, itu laba-labanya sudah mati. Mengapa kau injak-injak terus?


Yi Hua hanya bisa bertanya di dalam hati saja. Selebihnya Hua Yifeng berjalan ke arahnya, dan tanpa sadar Yi Hua berdiri tegap. Entah mengapa Yi Hua melakukannya. Dan, pria itu menarik tangan Yi Hua tanpa bisa peramal itu tolak lagi.


"Penawar dari racun adalah laba-laba itu sendiri," ucap Hua Yifeng yang mendadak menjelaskan semuanya.


Jenderal Wei tak tahu harus mengatakan apa. Sebab, meski tak sopan, Hua Yifeng punya alasan ketika membuka peti mati saudaranya. Hal tersebut membuat Jenderal Wei menghela napasnya dan berniat memberi penghormatan pada makam Wei Wuxie lagi.


SRET!


Eh?


Yi Hua yang sebenarnya masih merasa bengkak di tangannya mendadak maju ke depan. Tepatnya pada peti mati, yang jelas-jelas bertuliskan nama Wei Wuxie. Akan tetapi, ...


Ketika debu dari dalam peti berhenti naik, isi peti mati terlihat.


Akan tetapi, ... Di sana kosong.


Tidak ada tulang-belulang, atau apapun yang menandakan bahwa ada tubuh yang dimasukkan di sana.


"Mengapa peti mati ini kosong?" tanya Yi Hua sambil menatap pada Jenderal Wei.


Namun Melihat dari reaksi Jenderal Wei, Yi Hua tahu jika pria itu sama terkejutnya dengan Yi Hua.


Hanya ada dua kemungkinan dari semua ini.


Pertama, ada yang mencuri tubuh Wei Wuxie dari makam. Entah untuk apa. Ini pun tak bisa dipastikan, sebab dari jebakan pun, tak terlihat ada bekas jebakan yang aktif. Tandanya, sebelum mereka ... Belum ada yang masuk sampai ke makam Wei Wuxie.


Atau, kemungkinan kedua ...


Sejak awal makam ini memang kosong. Dan, Wei Wuxie tak pernah dimakamkan di sana.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf cerita ini benar-benar lambat update. Itu karena aku sibuk belakangan ini. Yah, anggap saja seperti itu. Bahkan saat up pun aku tak bisa banyak. Semoga masih ada yang menunggu ya.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2