Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Hitam dan Putih 5: Musuh dan Sahabat


__ADS_3

Tatapan Hua Yifeng memang dingin seperti biasanya. Hanya saja tatapan ini lebih dingin dan tajam. Seperti memberi tameng pada perasaannya yang rapuh. Yang ia tahu jika untuk kesekian kalinya, perasaannya tak pernah berbalas.


Yah, ... Tak pernah sekalipun.


"Pergilah," ucap Yi Hua sekali lagi sambil menyentuh anting merah yang ada di telinganya.


Karena itu situasi di sekitar mereka terasa sangat canggung. Menilai dari itu mereka hanya berharap Hua Yifeng tak mengamuk lagi. Itu bisa berbahaya, dan tentu saja membuang-buang waktu mereka.


Wei Wuxie ingin menyela agar situasi menjadi lebih baik. Sebab, walau ini hanya sebatas dugaannya_ Jika benar Yi Hua ini adalah Li Wei, maka Wei Wuxie percaya tindakan Li Wei akan selalu sama. Li Wei selalu bertindak seolah dirinya baik-baik saja, dan mementingkan orang lain.


Bukan karena Li Wei itu berniat baik, tetapi Li Wei ingin 'menjadi' baik.


Li Wei merasa dirinya yang merusak, maka dia yang memperbaiki. Walau Li Wei sendiri tak tahu dimana yang harus diperbaiki. Itulah mengapa semua ini terasa konyol.


Akan tetapi, Ling Xiao menarik lengan Wei Wuxie. Menghentikan Wei Wuxie untuk mengatakan apapun. Dan, seperti biasanya Wei Wuxie mendengarkan Ling Xiao.


"Mereka memang harus membicarakan ini sesekali," ujar Ling Xiao sambil menepuk bahu Wei Wuxie.


Dihindari pun tak akan menyelesaikan apa-apa.


"Lalu, kita bertemu lagi nanti, Tuan Hua," lanjut Yi Hua yang tersenyum tipis pada Hua Yifeng.


Aku tak ingin lari lagi. Aku ingin bertemu dengan Hua Yifeng lagi.


Pria itu masih bergeming di tempatnya. Hal tersebut membuat Yi Hua berlari ke arah Hua Yifeng. Tangan Yi Hua dengan lancang menarik hiasan pedang Hua Yifeng yang tampak dari belahan pakaian Hua Yifeng. Yi Hua menariknya hingga hiasan pedang 'Li Wei' ini terlepas dari ganggang pedang.


Yi Hua menampakkan hiasan cantik itu yang berhasil dia ambil dari ganggang pedang. Menunjukkan benda itu pada Hua Yifeng dan tersenyum manis. "Saya ambil gantungan ini sebagai jaminan. Saat kita bertemu lagi, maka saya akan mengembalikan ini pada Anda."


Hua Yifeng hanya menatap Yi Hua. Akan tetapi, tatapannya sudah mulai tenang. Dahulu Yi Hua berpikir jika Hua Yifeng ini sulit untuk dimengerti. Tatapannya datar dan dingin, sehingga tak ada yang tahu apa yang Hua Yifeng pikirkan.


Dan ternyata memahami Hua Yifeng tidak sesulit itu.


Yi Hua berjalan beberapa langkah menuju Yue Yan dan Huan Ran. Akan tetapi, peramal kecil itu memutar kembali tubuhnya. Lalu, berlari kecil menuju ke arah Hua Yifeng.


Kaki Yi Hua agak berjinjit dan berniat menempelkan bibirnya di pipi Hua Yifeng. Jarak tinggi mereka membuat kecupan itu hanya bisa mendarat di rahang bawah Hua Yifeng. Kecupan yang tipis seringan kapan.


"Saya pergi," ucap Yi Hua yang berlari tanpa menatap wajah Hua Yifeng lagi.


Yue Yan yang memang diciptakan dengan mulut pengkritik, langsung mengeluarkan pemikirannya ketika Yi Hua mendekat lagi ke arahnya. "Kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi Yi Hua. Mungkin sampai situasi lebih buruk lagi."


"Lebih baik kau bertanya pada ular-ularmu tentang apa yang aku suruh," ujar Yi Hua yang mengingatkan Yue Yan.


Yue Yan berdecak dan berbisik pada Yi Hua.


Ternyata benar!


BAMMMM!!!


Suara keras terdengar di belakang mereka. Sepertinya Hua Yifeng melakukan seperti apa yang Yi Hua pinta. Hal tersebut membuat Yi Hua menghela napasnya. Ia tak berniat membalas ucapan Yue Yan.


Ia malah berkonsentrasi untuk mendengarkan. Tentu saja mendengarkan Xiao.


Yi Hua sengaja menjauhkan Hua Yifeng agar Xiao muncul. Yi Hua memerlukan Xiao untuk membimbingnya. Dirinya hanya pernah memanggil Lingkaran Mawar sekali. Itu pun terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu.


Membuang segala resiko, ia harus memiliki jaminan bahwa rencana ini berhasil.


"Datang tak dijemput. Pulang tak diantar," ucap Yi Hua asal-asalan.


Benar saja Xiao yang punya sifat pendek hati langsung berkomentar.


"Kau kira aku ini apa, HuaHua?" tanya Xiao jengkel.


Yi Hua memerhatikan Ling Xiao yang dibantu Huan Ran untuk menulis kembali sihir perpindahan.


GRAKKK!


Yi Hua menekan ke celah tanah yang terbuka di depannya. Jika memang benar di sana tempatnya, dan Hua Yifeng berhasil membukanya dari jalan lain. Maka, Lingkaran Mawar akan menuju ke arah pemiliknya melalui jalan ini.


BAMMM!


Suara ledakan lain terdengar agak jauh. Hua Yifeng sepertinya berhasil membuka pintu keluar. Hal tersebut membuat jumlah cahaya matahari sore datang menghujam pandangan mereka. Keadaan di sekitar mereka lebih terang, dan SLAP!


Ketika tangan Yi Hua menerima Lingkaran Mawar, fondasi kekuatan tercipta. Segel perpindahan tampak bergerak.


Jika memang Bao Jiazhen ada di sekitar mereka, maka Yi Hua bisa memancingnya.


***


BLAM!


GRAK!


Yue Yan menatap ke sekelilingnya. Setelah cahaya aneh yang berpijar di sekitar mereka Yue Yan menyadari jika mereka masih di tempat yang sama. Apa itu berarti perpindahan mereka gagal lagi?


"Yi Hua, apa kita gagal lagi?" tanya Yue Yan yang kelelahan.


Bukan karena apa, tetapi lebih pada pengaruh kekuatan barunya. Siapa sangka jika memfokuskan pandangannya akan benar-benar membuat sakit. Kepala Yue Yan menjadi berat seperti orang yang kehabisan banyak darah. Dan, kelelahan sudah membuat pandangan Yue Yan mulai normal kembali.


Percayalah ... Yue Yan manusia. Tenaganya tak cukup kuat untuk mengikuti kekuatan besar itu.


Ling Xiao juga kelihatan agak kacau sekarang. Ada keringat tipis di keningnya pertanda bahwa Ling Xiao juga menggunakan tenaga dalamnya terlalu banyak. Ia sudah mengeluarkan banyak kertas jimat untuk menghidupkan segel.


Untuk pertama kalinya Ling Xiao terlihat normal seperti manusia lainnya.


Namun mata Raja Li Shen memicing tajam ketika melihat benda yang dipegang oleh Yi Hua. Itu adalah pecahan Lingkaran Mawar, yang entah bagaimana ... Menyatu dengan sempurna.


Sebelumnya mereka hanya menggabungkan Lingkaran Mawar itu agar setiap patahannya menyatu. Akan tetapi, di tangan Yi Hua Lingkaran Mawar itu menyatu dengan sempurna. Seperti tidak pernah hancur sebelumnya.


Jika diingat-ingat lagi ini pertama kalinya Yi Hua menyentuh pecahan Lingkaran Mawar yang telah terkumpul semua.

__ADS_1


SRET!


"Yue Yan, kau ingat tentang cermin bayangan yang ingin kita cari untuk menyembuhkan Liu Xingsheng," ucap Yi Hua pada Yue Yan.


Yue Yan mengangguk. Mereka datang ke Kerajaan Bawah untuk menemukan cermin bayangan yang katanya bisa menunjukkan wujud asli dari 'objek' yang dicerminkan. Tentu saja ia ingat, karena cermin bayangan itu sebenarnya adalah pecahan dari Lingkaran Mawar.


Agak mengecewakan karena Yue Yan mengira cermin itu akan lebih menarik lagi. Akan tetapi, siapa sangka jika benda legendaris itu sebenarnya pecahan dari sarung pedang Li Wei. Sekaligus Lingkaran Mawar yang dianggap benda misterius.


Mereka seperti dibodohi dengan cerita sejarah kejam dari senjata ini.


"Tapi, apa hubungannya dengan menemukan keberadaan Perdana Menteri boneka* itu?" tanya Yue Yan dengan nada tak mengerti.


^^^*Perdana Menteri boneka itu sebutan dari Yue Yan untuk Liu Xingsheng. Itu karena selama perjalanan, Liu Xingsheng diam seperti boneka. Walau bernapas.^^^


"Kita bukan salah tempat. Bao Jiazhen tak bisa mengotak-atik sihir perpindahan, karena seperti yang dikatakan oleh Peramal Ling, energi iblis tak akan bisa menyentuh mantra suci. Yang salah bukan tempatnya, tetapi mata kita," ucap Yi Hua yang mengarahkan Lingkaran Mawar di depan wajahnya.


SRAT!


Kondisi di sekitar mereka langsung berubah. Mereka memang masih berada di ruang bawah tanah. Akan tetapi, yang membuat tempat itu berbeda ialah dengan adanya aliran air di depan mereka.


Genangan air itu hitam dan tampak dalam. Beberapa langkah dari genangan air itu tampak bangunan tinggi dengan desain seperti istana Kerajaan Xin. Ada motif Kerajaan Xin di sana, tetapi istana ini tidak berdinding.


Hanya tiang-tiang yang menyangga atap, sehingga kau bisa melihat apa yang ada di sana.


Di sana sebuah kursi hitam yang diduduki oleh tengkorak manusia.


Benar.


Itu adalah tengkorak Bao Jiazhen yang mereka lihat di dalam peti sebelumnya.


Ling Xiao menganggukkan kepalanya. "Kita sebelumnya masuk dalam ilusi Bao Jiazhen. Berkat cermin bayangan, sesuatu yang dicerminkan menunjukkan bentuk aslinya."


Pantas saja secara spontan tanah di sekitar mereka membelah saat mereka berpindah pertama kali. Mereka sudah sampai di tempat yang benar. Lalu, Bao Jiazhen memecahkan tanah untuk memunculkan aliran air hitam agar Hantu Air muncul. Kemudian, ilusi Hantu Air membuat mereka masuk dalam lingkaran permainan Bao Jiazhen.


Satu-satunya yang tak terpengaruh adalah Hua Yifeng. Itulah mengapa Hua Yifeng bisa menuju ruangan di sebelah kanan dan menghancurkannya. Mereka sejatinya tidak berada di ruangan seperti labirin. Mereka berada di tempat yang luas, tetapi selaput ilusi membuat seperti mereka terpisah-pisah oleh ruangan.


Yi Hua mengetahuinya melalui penghitungan Yue Yan. Ia sengaja meminta Yue Yan menghitung ruangan terdekat dengan 'mata'-nya. Lalu, ular-ular Yue Yan juga disebar untuk memeriksa ruangan itu.


Lalu, Yi Hua menyuruh Hua Yifeng untuk menjauh agar Xiao aktif. Yi Hua bisa menggunakan Xiao untuk menjadi 'mata'nya. Di sana Yi Hua menyadari ada perbedaan jumlah ruangan yang mereka lihat.


Yue Yan mengatakan empat ruangan terdekat. Secara diam-diam Yi Hua menyuruh Yue Yan bertanya pada ularnya tentang jumlah ruangan. Dan para ular itu mengatakan jumlah yang berbeda. Yi Hua, dengan bantuan Xiao, juga berkata jika jumlah ruangan itu beda lagi dengan jumlah yang dilihat oleh Yue Yan dan ular-ularnya.


Begini ... Ilusi yang dilihat oleh seseorang tergantung dari bagaimana orang tersebut berpikir. Nyatanya, pikiran dan imajianisi setiap orang seringkali berbeda. Itulah yang membuat jumlah itu berbeda.


Karena mereka terjebak di ilusi masing-masing. Mereka terjebak dengan ilusi yang mereka lihat di 'mata' mereka. Sehebat apapun Bao Jiazhen, ia tak bisa menutupi kelemahan ilusinya ini.


Yue Yan yang ikut dalam rencana ini malah tak paham. Selama ini dia hanya mengikuti ucapan Yi Hua. Sehingga ia tak tahu apa-apa. Ia menoleh ke sampingnya untuk bertanya pada Huan Ran.


Akan tetapi, Yue Yan tak menemukan Huan Ran.


"Ilusi busukmu sudah patah, Tulang-Belulang," ucap Hua Yifeng yang mendadak muncul dari balik batu tinggi di sekitar Kerajaan Laut ini. Pria itu berjalan hingga sampai di pinggiran air hitam.


Tak lama muncul kepala dengan rambut dan panjang. Jumlahnya tak sedikit, dan membuat yang lainnya terperanjat kaget. Itu adalah bangkai dari Hantu Air yang tak terhitung jumlahnya. Bangkai itu mengapung di air hitam yang ada di depan mereka. Tentu saja itu sedikit membuat kejutan bagi mereka semua. Kecuali Yi Hua, yang pernah melihat hal yang sama, dan tentu saja Ling Xiao yang memang selalu tahu. Mungkin Ling Xiao adalah makhluk paling tenang di dunia ini.


Hua Yifeng jelas tak terjebak dalam ilusi Bao Jiazhen, dan tahu situasi mereka yang dikelilingi oleh hantu air. Oleh karena itu, Hua Yifeng tak mau meninggalkan Yi Hua. Dan buruknya ilusi Hantu Air tak bisa dihentikan begitu saja.


Hanya ada dua cara, yaitu membuat tak sadarkan diri orang yang terjebak ilusi, atau ... membunuh Hantu Air itu untuk memastikan ilusinya. Seperti yang dilakukan Hua Yifeng di Makam Keluarga Wei*.


^^^*Hayo ... Masih ada yang ingat gak kejadian di Makam keluarga Wei. Yang Yi Hua sama Jenderal Wei melihat Hua Yifeng membunuh Liu Xingsheng. Padahal itu cuma ilusi. Di bagian itu juga sempat dijelaskan tentang Hantu Air. Bisa dibaca kembali kalau lupa sih. Tapi aku jelaskan lagi kok tentang ilusi hantu air di sini.^^^


"Yang dilakukan Tuan Hua bukan menghancurkan dinding ruangan atau menemukan pintu keluar ruang bawah tanah. Yang dilakukan Tuan Hua adalah membunuh seluruh hantu air di sekitar mereka. Sehingga ilusi itu hilang," ujar Yi Hua yang nyatanya tak menggunakan kekuatan Lingkaran Mawar sedikitpun.


Itu hanyalah serangkaian adegan yang Yi Hua buat untuk membuat Bao Jiazhen tak sadar jika ilusinya sudah dipatahkan oleh Hua Yifeng. Sayangnya, Hua Yifeng masih tak mau meninggalkan Yi Hua. Karena siapa saja yang terjebak dalam ilusi ini tak akan sadar apa yang ada di sekitarnya. Itu berbahaya jika Hua Yifeng menjauh dari Yi Hua.


Yi Hua menatap pada istana gelap di seberang mereka. Ada air dalam yang memisahkan mereka, tetapi masih bisa terlihat sosok yang ada di sana. Kini mereka bisa melihat jika tengkorak yang duduk di kursi itu tidak sendirian.


Di belakangnya berdiri sosok dengan pakaian serba hitamnya. Rambutnya yang panjang dan hitam pekat membuat penampilannya jauh lebih kelam. Kulitnya yang putih dan pucat mengingatkan Yi Hua pada Hua Yifeng.


Yi Hua mulai menyadari jika salah satu karakteristik dari Klan Bao ialah kulit putih pucat seperti giok.



Di sekitar sosok itu, beberapa kerangka ikan besar yang mengitarinya. Seolah menjaga 'Tuan' mereka. Sosok ini seperti sebutannya, Tengkorak Putih. Segala sesuatu di sekitarnya berwujud tulang belulang. Bahkan Yi Hua bisa melihat kerangka hewan air lainnya yang mendadak seperti hewan buas.


Gigi-gigi kerangka itu saling beradu. Bisa mematahkan apa saja yang digigitnya.


Mereka sampai ke Kerajaan Tengkorak Putih, Bao Jiazhen.


"Selamat datang di kerajaan Laut Selatan, Para Tamu yang Terhormat," ujar Bao Jiazhen dengan wajahnya yang dingin.


Wajah yang sebenarnya Yi Hua tak kenal. Akan tetapi, Yi Hua familiar dengan ekspresi dingin itu. Seperti di dalam mimpinya ia juga melihat wajah ini. Walau sosok ini muncul dengan wajah lebih muda di dalam mimpinya saat itu.


Sosok itu tak lagi menggunakan wajah samarannya lagi.


Meski begitu, ekspresinya tetap sama.


"Permainan menjadi Perdana Menteri sialan itu sudah selesai, bukan?" tanya Hua Yifeng dengan pedang Li Wei di tangannya.


Yue Yan mendadak mengerti sesuatu. "Kau adalah Perdana Menteri Huan itu," bisik Yue Yan yang merasa kasihan pada Liu Xingsheng.


Raja Li Shen menatap pria di depan mereka dengan tak percaya. Selama ini ia memiliki Bao Jiazhen sebagai tangan kanannya di Kerjakan Li. Lalu, Hua Yifeng yang menyamar menjadi An. Dia merasa sangat bodoh sekarang.


Entah apa lagi yang tersembunyi di sekitarnya.


Lebih dari segalanya ...


Liu Xingsheng mempercayai Huan Ran jauh lebih banyak dibanding saudarinya sendiri. Liu Xingsheng takut jika Selir Qian melakukan percobaan ilegal lagi untuk menyembuhkannya. Tanpa tahu jika yang membuat 'sakit' itu muncul ialah Huan Ran. Liu Xingsheng melarikan diri bersama Huan Ran karena ia tak percaya pada Selir Qian.


Pantas saja tanda Tengkorak Putih dengan mudah muncul di tubuh Liu Xingsheng. Itu yang membuat Tengkorak Putih dapat menarik kesadaran Liu Xingsheng dalam ilusi tak bertepi. Sehingga Liu Xingsheng akan berada di dalam mimpi panjang. Hingga raganya yang tersisa seperti boneka yang tak memiliki kesadaran.

__ADS_1


Yi Hua menghela napasnya sebelum bicara. "Yang mengendalikan mayat berjalan untuk mengacau di Perayaan Dewa itu adalah Anda, Perdana Menteri Huan. Semua itu agar Anda bisa meracuni Perdana Menteri Liu dengan bubuk mayat."


Itu hanya agar jiwa Liu Xingsheng melemah dan terikat dalam ilusi.


Huan Ran, atau yah ... Bao Jiazhen melakukannya secara bertahap. Bahkan sangat halus hingga terlihat seperti kecelakaan biasa bagi Liu Xingsheng. Padahal sudah dari lama Huan Ran meletakkan sihirnya di sekitar Liu Xingsheng. Menunggu targetnya terus melemah sedikit demi sedikit. Kemudian, menenggelamkan jiwa Liu Xingsheng dalam ilusi dan mimpi buruk yang dihadirkan oleh Bao Jiazhen.


"Hua Yifeng, kau harusnya ingat jika kau tak boleh menyentuh apapun di wilayah kekuasaan iblis lain," ujar Huan Ran, atau yah kita harus membiasakan diri dengan menyebutnya Bao Jiazhen.


Hua Yifeng mengangkat bahunya malas. "Aku sudah memperingatkan mu untuk tak melibatkan Yi Hua di dalamnya."


"Aku mungkin tak pernah bisa akrab denganmu." Bao Jiazhen memerintahkan tengkorak naga seukuran batang pohon untuk menyerang Hua Yifeng.


Berdebat dan berkelahi seperti biasanya.


Hua Yifeng menebas tulang belulang naga yang bergerak agresif itu hingga terbelah dua. "Kebetulan aku tak berniat akrab denganmu."


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya.


Holaaa ...


Jadi, Bao Jiazhen adalah Huan Ran. Mungkin sebagian tebakan kalian benar. Namun apa Bao Jiazhen juga terlibat dalam kelahiran kembali Li Wei? Atau Li Wei (Yi Hua) ini tanpa sengaja terlibat dalam masalah Bao Jiazhen dan Liu Xingsheng serta Selir Qian?


Sebenarnya cerita ini simpel, yaitu pahami clue yang ada. Setiap saat ada sedikit bocoran yang menghubungkan fakta satu dengan yang lainnya.


Karena alurnya yang maju mundur, urutan kejadian di novel ini berdasarkan waktu adalah:




Sekitar lima belas tahun yang lalu Li Wei, Hua Yifeng, Wei Wuxie kenal pertama kali dengan Ling Xiao saat mereka masih kecil. Lalu, Ling Xiao mengangkat Hua Yifeng jadi anak. Li Wei yang berteman dengan Wei Wuxie juga langsung akrab dengan Zhang Yuwen. Zhang Yuwen itu kenalan dari Wei Wuxie sebenarnya.




Lalu, lima tahun kemudian setelah pertemuan itu, alur menuju ke waktu mereka di Pelatihan Awan. Di sana Li Wei bertemu lagi dengan Hua Yifeng, tetapi dia tidak ingat jika pernah bertemu. Wei Wuxie ingat, tetapi menganggap jika tak ada hal penting dari pertemuan mereka pertama kali. Sehingga ia tidak memberitahu Li Wei apapun. Di Pelatihan Awan juga udah ada bagiannya sendiri ya. Silahkan dibaca ulang jika lupa. Di Pelatihan Awan juga ada kejadian dimana Hua Yifeng mendapatkan pedang spiritualnya, yang nanti diberi nama Li Wei.




Terus satu tahun kemudian, mereka lulus dari Pelatihan Awan. Li Wei masih berteman dengan Zhang Yuwen dan Wei Wuxie. Lalu, diawali dengan Li Wei yang diberikan surat melalui panah. Terus Li Wei disuruh menangkap ayam di pasar karena ada surat di sana. Bisa dibilang ini awal bencana.




Di sana Hua Yifeng juga menjadi Pejabat Tinggi Kerajaan Li. Begitu juga dengan Zhang Yuwen dan Wei Wuxie. Lalu, muncul banjir besar akibat kesalahan kakak Li Wei, Li Jun. Banyak korban berjatuhan, dan Li Wei memaksa ikut campur dalam masalah evakuasi korban. Diizinkan dengan pihak kerajaan, tetapi Li Wei berangkat dengan Hua Yifeng.


Terus muncul penyakit aneh ... Yaitu, penyakit batu. Setiap muncul luka di kulit manusia, darahnya akan berubah menjadi batu.



Di waktu yang berdekatan kematian Li Chen, kakak kedua Li Wei membuat masalah lain. Karena kematian Li Chen, yang notabenenya pengkhianat kerajaan dan mata-mata Kerajaan Xin, Li Wei dituduh sebagai pembunuh. Kerajaan Xin menyerang saat Kerajaan Li sedang kacau-kacaunya.



Di sanalah tragedi besar Kerajaan Li. Bencana besar 1, 2, dan 3 terjadi, yaitu Putri Hitam Li Wei, Iblis Kehancuran Hua Yifeng, dan Tirai Berdarah Zhang Yuwen. Ingat kan tentang lima bencana yang terkenal yang dibahas di novel ini?




Selang beberapa bulan itu adalah waktu Hua Yifeng membuat Cangkang Manusia. Walau tak berhasil. Kemudian, dipelajari oleh Selir Qian. Sehingga dia berhasil menghidupkan kembali Liu Xingsheng. Itu adalah bencana besar ke-4, yaitu Tengkorak Putih Bao Jiazhen. Cerita tentang Perayaan Dewa yang sebenarnya membahas tragedi yang menimpa Bao Jiazhen.




Lima tahun kemudian, prajurit yang pernah membantu Li Wei di Pelatihan Awan, Shen Qibo. Ini hanya sekilas muncul, makanya mungkin tidak ingat. Tapi ada kejadian dimana Li Wei terjatuh di ruang bawah tanah Kerajaan Li pertama kalinya. Di sana Li Wei pernah bertemu dengan Shen Qibo.




Jadi intinya tentang Shen Qibo. Dahulu pas Li Wei masih di Pelatihan Awan, Shen Qibo masih prajurit malam Kerajaan Li. Kemudian, lima tahun kemudian Shen Qibo memberontak. Ini katanya ... Kenyataannya pasti kalian udah tahu, kalau bener-bener baca cerita ini.


Katanya, Shen Qibo membunuh dalam satu malam di salah satu desa di Lembah Debu. Yaitu, desa tempat tinggal Yue Yan. Di sanalah tragedi ke-5, yaitu ... Pendeta Buta Shen Qibo.



Lalu, latar utama di cerita ini adalah masa depan ... Lima tahun setelah kejadian Shen Qibo, Yi Hua mati di penjara bawah tanah setelah mengucapkan ramalannya. Di sana terlahir kembali Yi Hua yang sebenarnya adalah Li Wei.



Hingga sampai ke pertulangannya sekarang ....


Jadi, itulah lompatan waktu dalam cerita ini. Semoga gak bingung lagi ya. Lima bencana besar itu adalah urutan kejadian yang sebenarnya terhubung ke musuh utama di cerita ini.


Sudah ada bayangannya?


Aku gak bisa bilang. Tapi pembaca ceritaku kadang punya imajinasi yang selaras dengan author gaje ini. Biasanya mereka punya bayangan sendiri. Walau terkadang terjebak dengan teka-teki.


Semoga hari Anda bertambah bingung.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2