Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Ikatan 5: Suatu Pertemuan


__ADS_3


..."Dari sekian banyak pertemuan, mengapa kau malah bertemu dengan seseorang yang akan membuatmu bersedih?"...


...***...


Pedang hitam yang sangat khas itu menarik perhatian Yi Hua. Akan tetapi, ia tak bisa mengatakan apa-apa. Mereka juga tak bisa saling berbicara dalam situasi seperti ini.


Ia hanya diam ketika tangan An yang bebas menarik bahu Yi Hua, tetapi tatapannya mengikuti wajah An yang datar seperti biasanya. Namun saat An sadar Yi Hua menatapnya, An menarik seutas senyum yang sangat pelit untuk Yi Hua. Dan, Yi Hua mau tak mau membalasnya.


Terkadang aku bingung mengapa pria ini selalu tahu dimana keberadaanku? Bukankah tak ada yang tahu jika aku hilang?


Xiao terdengar bedecak di telinga Yi Hua. "Kau ini ditolong masih saja bertanya! Mungkin saja dia ke kediaman milikmu untuk menagih hutang. Kemudian, dia sadar bahwa kau tak pulang-pulang. Sehingga dia mencari dirimu ke tempat yang mungkin akrab dengan orang yang suka bunuh diri sepertimu."


Sangat masuk akal!


Yi Hua tak bisa menahan dirinya untuk tak sarkastik dengan pendapat Xiao. Entah mengapa Xiao ini sama sekali tak pernah memujinya. Jika pun ada pujian yang diberikan oleh Xiao, maka itu akan ditambah dengan keluhan di dalamnya. Sangat menyebalkan!


Yi Hua hanya bisa menghela napas sambil menunduk. Ia tak lagi menatap An, tetapi suara pria itu membuat Yi Hua mau tak mau mendongakkan kepalanya lagi. Menatap An yang terlihat serius. Hal itu membuat Yi Hua mengangkat alisnya bingung.


"Yi Hua, apa kau masih hidup?"


SRET!


Yi Hua menatap jemari An yang mendadak menuju lengannya. Itu terlihat seperti menggenggam lengannya, dan ...


"Saya masih menapak tanah, Tuan An. Ada ap ..."


KRAK!


Menariknya!


"AKHH!!" Yi Hua bahkan lupa apa yang ia bicarakan sebelumnya.


Hey! Bagaimana bisa tanganku ditarik seperti hanya sepotong roti? Sakit sekali!


Suara teriakannya cukup nyaring ketika An mengembalikan posisi lengan Yi Hua yang ternyata tak seperti biasanya. Rupanya, tangan Yi Hua telah diputar oleh mereka yang menahannya. Pantas saja Yi Hua tak begitu merasakannya tangannya lagi.


Akan tetapi, Yi Hua jelas tak bisa memarahi An karena pria itu hanya membantunya. Yah, walau mungkin Yi Hua berharap pria itu bisa sedikit deskriptif, hingga Yi Hua tak perlu terkejut begitu banyak. Tetapi, itu akan lebih sakit jika Yi Hua sadar.


"Maafkan aku, Yi Hua."


An mengembalikan tangan Yi Hua tanpa memberikan aba-aba yang tepat. Sehingga Yi Hua hanya bisa berteriak, dan mengusap lengan Yi Hua yang bengkak. Mungkin birunya akan bertahan selama beberapa hari.


Napas An terdengar berat, terutama saat ia melihat pada Rong Mingyu.


"Tidak apa-apa, Tuan An. Ini tidak sakit sama sekali. Saya hanya melihat sapi terbang sebelumnya, dan saya terkejut," ucap Yi Hua dengan keringat di wajahnya. Jelas itu hanyalah omong kosong yang ditebarkan oleh Yi Hua.


Setelah itu, An hanya menatap wajah Yi Hua dengan ekspresi yang samar. Bagaimana pun keadaan di sekitar mereka juga cukup remang. Namun Yi Hua mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan cepat. Tepatnya pada Luo MeiYin yang masih tergantung di tiang.


Lalu, Rong Mingyu ...


Yi Hua melihat pria itu tengah menyeka darah di tangannya lagi. Tentu saja pria gila itu menyekanya dengan Lingkaran Mawar. Akan tetapi, itu sama seperti sebelumnya. Tidak ada apapun yang berubah. Bahkan meski tangan pria itu telah berdarah-darah sekali pun.


Apakah sekarang waktu yang tepat untuk memiliki simpati pada musuh?


Dan, pastinya dia tak perlu melakukannya.


Juga, ada banyak hal yang membingungkan untuk Yi Hua. Lingkaran Mawar itu tidak bisa digunakan begitu saja seperti yang Yue Yan lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi?


Apakah Lingkaran Mawar telah kehilangan kekuatan? Atau, Lingkaran Mawar ini perlu disatukan kembali baru bisa digunakan lagi?


Entahlah. Yang pasti di antara segalanya, Ring Mingyu gagal.


Yi Hua menengadahkan kepalanya. Menatap pada Luo MeiYin yang akhirnya lebur. "Semuanya sudah selesai, Tuan Rong."


Kemudian, Rong Mingyu menatap hampa ke arah tiang yang benar-benar kosong. Wajah itu hampa seperti layaknya ia sendiri bingung dengan kenyataan dunia. Ia berjalan dengan goyah ke arah tiang itu hanya untuk melihat lebih jelas.


Nyatanya Luo MeiYin memang tak ada lagi di sana. Tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal.


"Tangkap dia."


Yi Hua menolehkan kepalanya ke arah lain ketika ada suara yang baru ia kenal. Tak lama sosok tegap lainnya datang dengan senyum yang agak lebar. Wajahnya tampan, dan ada kesombongan di sana.


Tak lama setelah perintah itu, beberapa prajurit kerajaan datang untuk menarik Rong Mingyu. Pria yang awalnya terlihat dingin itu, Rong Mingyu kini terlihat agak lemah dan menyedihkan. Wajahnya yang hampa berganti dengan kemarahan.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Biarkan aku menagih janji gadis itu. Dia yang selalu mengatakan bahwa dia akan mendatangiku. Bukankah dia berjanji akan datang padaku dan selalu mengatakan cinta padaku? Hey ... Kau ... Beraninya kau ..." bentak Rong Mingyu keras ketika dirinya dibawa menjauh dari tiang itu.


An nyatanya menarik Yi Hua agak jauh dari tempat keributan. Bahkan tangan An membentang di depan Yi Hua, sehingga Yi Hua tak bisa melihat begitu banyak lagi. Itu karena tubuh besar An yang menjulang di depannya.


"Sayang sekali dia agak gila," ucap seseorang yang baru datang di dalam keributan.


Dari balik lengan An yang terentang di depannya, Yi Hua bisa melihat sosok itu lebih jelas. Tingginya hampir sama dengan An, tetapi dari pakaiannya memang agak berbeda. Jika An menggunakan pakaian serba hitam, maka pria ini memakai pakaian yang didominasi warna merah. Dari pakaiannya, Yi Hua bisa menebak jabatannya.


Lalu, pria itu menatap ke arah Yi Hua dan memberikan senyum tanpa gulanya. "Maaf karena melibatkan Anda dalam hal ini, Tuan Yi."


Karena bingung Yi Hua mendongakkan kepalanya pada An, dan pria itu mendengus sebentar sebelum menjawab. "Jenderal Wei."


Hey, meski kau mengatakan pria dengan senyum biawak ini adalah Jenderal Wei, tetapi aku tak akan tahu tentangnya!


Sayangnya, Yi Hua tak bisa meneriaki An seperti itu, atau dirinya akan dianggap gila. Bagaimana pun seperti yang terlihat, Jenderal ini adalah orang yang dikenal oleh Yi Hua. Atau, bisa juga dia adalah orang ternama di Kerajaan Li. Sehingga akan sangat aneh jika dia bertanya tentang siapa Jenderal ini pada An.


Dia hanya menunggu Xiao berbaik hati untuk bicara padanya.


"Jenderal Wei Qionglin. Dia adalah seorang Jenderal Besar di Kerajaan Li. Dia tak pernah gagal dalam perang, begitu juga dalam permainan bersama para kecantikan. Jika kau kau seorang gadis, dan kau tak dihafal namanya oleh Wei Qionglin, maka kau tidaklah cantik," jelas Xiao datar. Seperti memusuhi Wei Qionglin.


Yah, wajar saja!


Lagipula bagaimana bisa ada standar kecantikan yang seperti itu?


Pria ini bukanlah Jenderal, Xiao. Dia hanya sekadar biawak berjalan.


Xiao mau tak mau membenarkan. Namun sistem itu melanjutkan. "Inti dari segalanya ialah Jenderal ini seharusnya tak berada di tempat ini. Sebab, dia harus menjaga perbatasan. Jika dia ada sini, maka masalah yang terjadi bukan hanya persoalan kecil, Yi Hua."


Yi Hua yang awalnya bersungut-sungut, kini serius kembali. Bagaimana pun seperti yang ia duga ialah ada hal serius di balik setiap kejadian. Akan tetapi, Yi Hua masih tak bisa menyimpulkannya.


Jangankan persoalan kerajaan, tentang Yi Hua asli saja dirinya tak pernah memahaminya.


"Anda masih beruntung karena Lingkaran Mawar ini tidak berfungsi, Tuan Rong. Jika berfungsi, mungkin Anda akan menjadi pendosa," ucap Jenderal Wei.


Rong Mingyu menarik senyum dinginnya lagi. Tak ada kesan sedih di wajahnya. Entah kemana semua perginya. Tak ada yang tahu.


"Apa Anda perlu membicarakan tentang masalah orang lain, Jenderal Wei? Sejatinya, Anda tak pernah tahu apa yang terjadi. Jangan bicara seolah kau tahu penderitaan orang lain," balas Rong Mingyu dengan wajah dingin.


Yi Hua menatap ke tiang yang kosong itu lagi. Wajahnya tanpa sadar menarik senyum. "Itu benar."


Lebih dari segalanya ialah Yi Hua berani angkat bicara tentang ini. Sedangkan, dirinya sudah banyak digelari sebagai orang yang penuh dengan omong kosong. Sehingga tatapan Jenderal Wei terlihat sangat meremehkan.


"Tuan Yi, Anda ..."


Yi Hua menarik lengan An yang masih membentang di depannya. Seolah pria ini takut ada pedang yang terbang ke arah Yi Hua. Yi Hua jelas berterima kasih atas perlindungan itu. Akan tetapi, dia sekarang baik-baik saja. Walau lengannya terasa sangat sakit.


"Saya memang tak bisa mengerti penderitaan Anda, Tuan Rong. Itu semua karena saya bukanlah Anda. Saya tidak mengalaminya, dan saya tak tahu apapun tentang perasaan Anda," ucap Yi Hua yang berusaha menunduk untuk mengambil sebuah jepit rambut yang kotor.


Jika Yi Hua tak mengambilnya, mungkin tak ada yang sadar jepit rambut itu ada di sana. Yi Hua hanya melihatnya beberapa kali, tetapi ia sudah tahu siapa pemiliknya. Bahkan pemiliknya sempat menjadi perusuh satu hari di hidup Yi Hua.


Suara yang menyebalkan, tetapi akan sedih jika tak bisa didengar lagi.


"Namun yang harus Anda tahu ialah takdir tak bisa diubah hanya karena Anda mencoba, Tuan Rong," ucap Yi Hua dengan nada datar.


Ia masih ingat dengan ucapan Rong Mingyu. Jika tak mencoba, maka tak akan pernah tahu.


Namun ada hal yang lebih masuk akal dibandingkan mencoba. Yakni, kegagalan. Katakanlah kau mencoba, tetapi kegagalan akan selalu menjadi resiko. Dan, seringkali manusia menyebut kegagalan itu sebagai takdir tanpa berusaha untuk menggunakan kata 'lagi' dalam hidupnya.


Sebab, tak semua hal mudah dicapai di hidup. Itu adalah sesuatu yang pasti.


SRET!


Yi Hua berusaha melempar sekuat yang ia bisa. Sayangnya, lemparannya hanya bisa melambung sedikit dan ...


STAB!


Jepit rambut itu dengan cepat melintas ke atas lagi, padahal dia hampir jatuh. Yi Hua jelas tahu siapa yang mengantarkan jepit rambut itu pada tempatnya. Akan tetapi, ia tak ingin mengatakan apa-apa.


Jepit rambut itu sampai ke tangan Rong Mingyu yang terlihat semakin datar. Wajah dinginnya masih sama. Ini seperti saat Yi Hua pertama kali melihat Rong Mingyu. Pantas saja Luo MeiYin merasa pilu dengan wajah dingin ini.


"Lagipula hal yang baik akan rusak jika ditempuh dengan jalan yang buruk," ucap Yi Hua terakhir kali, sebelum prajurit kerajaan membawa Rong Mingyu pergi.


Lalu, Yi Hua menyadari bahwa wajah An berubah ketika mendengar ucapannya. Itu terlihat seperti An dilingkupi oleh kepiluan. Namun saat Yi Hua mendekat ke arah Yi Hua, ekspresi An kembali datar seperti biasanya.


"Tuan An, terima kasih atas ..."

__ADS_1


SRET!


"Ada apa, Yi Hua?" Pertanyaannya Xiao rasanya seperti angin lalu di telinga Yi Hua.


Aku tidak sedang hampir mati, tetapi mengapa rasanya kemampuan 'kembali ke awal' aktif?


"Aku merasa sangat kesepian."


Bukan!


Itu bukanlah suara Yi Hua. Sehingga ia hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika suara itu datang padanya. Ia bisa merasakan tangan kokoh yang menepuk pipinya, tetapi Yi Hua tak bisa melakukan apa-apa.


"Yi Hua!"


***


"Apakah kau hantu?"


Yi Hua tanpa sadar menoleh ketika mendengar suara kecil itu. Kemudian, dunia di sekitarnya beralih menjadi dunia yang agak asing. Lalu, ada pria kecil dengan pipi bulat di dekatnya. Pria kecil ini ditata dengan pakaian yang sangat bagus.


Pasti anak ini orang kaya.


Meski begitu, yang lebih Yi Hua sadari adalah dirinya sendiri. Ia kini menjadi sosok seperti kabut, dan dirinya sekarang adalah Luo MeiYin?


Bukan!


Lebih tepatnya ia dirasuki oleh Luo MeiYin. Entah bagaimana ini bisa terjadi. Dan, pria kecil dengan wajah sombong ini mengingatkan Yi Hua pada momen menyebalkan.


"Apakah kau bisa melihatku?" tanya Luo MeiYin yang bergema di telinga Yi Hua. Luo MeiYin menunduk untuk berbicara pada pria kecil itu, walau mata tajam anak kecil itu membuat Yi Hua ingin menggelindingkan bocah kecil ini ke punggung sapi.


Yi Hua kini berada dalam sudut pandang Luo MeiYin. Dengan kata lain, ini adalah masa lalu Luo MeiYin. Dan, mungkin saja itu karena Luo MeiYin ingin Yi Hua melihatnya.


Pria kecil dengan mata tajam itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku bisa melihatmu. Bahkan aku bisa melihat Paman tanpa kepala yang berdiri di sana," tunjuknya pada salah satu pohon besar di pinggir jalan.


Mau tak mau Yi Hua juga melihatnya.


Jangan katakan bahwa anak kecil ini memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus?


Sejatinya, dunia manusia terpisah dengan dunia lainnya. Sehingga manusia biasa tak akan bisa melihat makhluk dari dunia lainnya. Kecuali, orang-orang yang memang memiliki kemampuan khusus, seperti para peramal kerajaan.


Itulah mengapa saat di Gunung Hua, Liu Xingsheng mengatakan mereka harus menunggu malam perayaan hantu. Saat itulah pemisah antara dunia manusia dan dunia lainnya terbuka di Gunung Hua. Sehingga mereka bisa melihat orang-orang yang bukan dari dunia manusia.


Pria kecil itu menatap malas pada Luo MeiYin. "Aku hanya bercanda. Aku tak melihat apa-apa."


Anak kecil itu memutar tubuhnya, dan pergi meninggalkan Luo MeiYin. Bagaimana pun Luo MeiYin hanyalah hantu yang belum bisa kembali ke langit. Ditambah lagi selama ini Luo MeiYin merasa sangat kesepian, karena tak ada yang melihatnya.


Ia ingat bagaimana kematiannya, tetapi dia tak tahu apa yang membuatnya tak bisa kembali ke langit. Mungkin saja itu karena raganya tak dilepaskan dengan baik, atau tidak ada yang mendoakannya. Entahlah.


Luo MeiYin langsung terbang ke arah pria kecil itu. Luo MeiYin mengikuti di belakang pria kecil itu, dan mereka menyusuri jalanan yang agak ramai.


"Hey, kau benar-benar bisa melihatku, bukan? Aku Luo MeiYin."


Pria kecil itu masih terlihat datar, tetapi dia menjawab, "Aku tak bertanya namamu."


Yi Hua merasakan perasaan gembira yang dimiliki oleh Luo MeiYin. Ia juga perlahan mengerti dengan semua ini. Kenangan ini adalah tentang Luo MeiYin. Dan, pria kecil ini ...


"Lihatlah pria kecil itu bicara sendiri," ucap seorang wanita pada wanita lain yang ada di sebelahnya sambik menatap pada si pria kecil.


Hal itu disadari oleh Luo MeiYin, tetapi dia terlalu bahagia karena ia memiliki seorang teman. Pada kenyataannya, pria kecil itu juga cukup tenang menghadapi orang-orang yang berbicara tentangnya. Dengan kata lain, ia terbiasa.


Mungkin itu juga yang menjelaskan mengapa pria ini terlihat sangat tertutup. Dia mungkin agak 'berbeda' dari orang lainnya.


Dari punggungnya yang rapuh Yi Hua mulai bisa menebak siapa pria kecil ini. Dia mungkin adalah Rong Mingyu.


Dari begitu banyaknya pertemuan, mengapa kau bisa bertemu dengan orang yang akan membuatmu bersedih?


Entahlah.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2