
Apakah mereka makhluk hidup?
Jadi, inilah isi Lembah Debu yang menjadi teror untuk semua orang yang melintas di jalan ini.
Ia hanya bisa menganga mengawasi segala sesuatu di sekitarnya, sekaligus memuji betapa dunia ini sangat beragam. Pasalnya, mana ada dalam sejarah sesuatu yang seperti ini bisa terjadi. Dia bisa melihat aktivitas yang padahal orang yang melakukannya mungkin tak tahu.
Ini sejenis aktivitas tanpa kesadaran lagi. Mengapa semua itu terjadi?
"Pasti di sekitar sini ada sesuatu yang membuat mereka bisa bergerak, walau sudah mati," ucap Xiao memberikan arahan pada Yi Hua.
Bagaimana pun Yi Hua adalah baru di dunia ini. Dia itu layaknya hanya makhluk yang mengikuti alur hidup dari kehidupan orang lain. Dalam hal ini, dia adalah Yi Hua. Walau dia menolak, tetapi dia sudah terbawa cukup jauh dalam semua ini.
"Apakah itu mungkin terjadi? Bukankah mereka cangkang manusia?" tanya Yi Hua yang tak perduli jika ada orang yang melihatnya berbicara sendirian.
Lagipula, dia yakin tak ada yang tahu tentang apa yang dilakukannya. Semua 'orang' di depan Yi Hua hanya bertindak seolah mereka hanya sesuatu yang mengikuti angin. Mereka bergerak seperti apa yang mereka lakukan sebelum mereka mati. Lalu, itu selalu terjadi sampai tubuh mereka hancur menjadi debu.
Intinya sampai mereka tak bisa melakukan pekerjaan mereka seperti biasanya.
"Mereka bukan cangkang manusia. Jika cangkang manusia, berarti ada yang mengendalikannya. Entah itu energi buruk, atau sihir. Namun mereka ini hanya bergerak karena sesuatu yang sedikit 'suci'," jelas Xiao menerangkan.
Yi Hua menatap 'orang-orang' ini yang beraktivitas seperti biasanya. Tak ada gerakan yang aneh, seperti ingin menyerang. Hanya bergerak seperti mereka yang biasanya. Mereka benar-benar hidup, tetapi tanpa jiwa. Tanpa perasaan, tanpa hasrat, dan hanya seperti orang-orangan sawah.
"Jadi, mereka bukanlah sesuatu yang berbahaya?" tanya Yi Hua sambil mencoba menarik sekeranjang buah yang padahal tidak ada buahnya lagi.
Orang yang tengah membawa keranjang ini pasti sebelumnya keberatan ketika membawa keranjang. Itu terlihat dari cara dia bergerak yang agak membungkuk. Dan, ketika Yi Hua mengambilnya, Yi Hua bisa melihat sosok tengkorak ini tetap berjalan dengan gaya membungkuk.
Namun lebih dari segalanya, tidak ada penyerangan.
Mereka benar-benar seperti sebuah mainan bangau kertas yang diatur sedemikian rupa. Bergerak berulang-ulang, seolah sudah memang gerakan mereka. Yi Hua hanya bisa menarik senyumnya pelan.
Apakah aku perlu mengeluh sekarang? Bahkan sekarang aku lebih beruntung karena memiliki raga yang baik untuk beraktivitas.
Walau nyatanya dia tak tahu dirinya sendiri siapa. Entah siapa dirinya di kehidupan sebelumnya. Hanya saja itu tak akan menjadi menakjubkan lagi jika kenyataannya di kehidupan sebelumnya dia hanyalah seekor sapi. Yah, setidaknya anggap itu menjadi tanda tanya besar yang akan dia kejar nantinya.
Dunia yang sangat luas. Sangat tak diketahui apa saja yang ada di dalamnya.
"Untuk sekarang, aku bisa menjamin bahwa mereka bukanlah cangkang manusia. Mereka bisa disebut sebagai mayat berjalan," tegas Xiao sebagai keputusan akhir.
Yi Hua menunjuk ke arah kerangka yang tengah duduk di dalam kereta yang hanya tinggal tiangnya saja. "Kerangka itu tidak berjalan. Sehingga mereka tak bisa disebut mayat berjalan?" protes Yi Hua mendadak kritis.
Xiao seperti meradang di dalam hatinya. "Bertanya lagi, maka aku akan menampar akal milikmu!"
"Katanya, malu bertanya bisa membuat manusia tak pernah tahu tentang keajaiban dunia. Seperti sapi yang bisa terbang misalnya," bantah Yi Hua lagi.
Masih beberapa saat saja mereka membahas, dan Xiao sudah lelah.
"Kita harus menamainya dengan tepat," lanjut Yi Hua.
Ini sama seperti kau menyebut semua gadis itu sama, padahal yang kau maksudkan itu hanya beberapa orang. Sehingga kau tak bisa menyebutnya semua sama. Sama seperti saat ini. Kerangka-kerangka ini tidak berjalan semuanya. Mereka beraktivitas seperti sebelum mereka mati. Mana bisa mereka disebut mayat berjalan semuanya!
Itu membuat namanya menjadi tidak sesuai.
Namun Xiao tak begitu perduli dengan semua ini. "Terserah dirimu saja. Jika kau ingin meletakkan namamu agar bisa dikenang di Lembah Debu ini. Silakan!"
Yi Hua mengangguk-angguk sambil memperhatikan keadaan. Seperti yang dikatakan oleh Xiao, Yi Hua harus mencari penyebab mereka yang masih bisa 'beraktivitas' padahal mereka sudah mati. Akan tetapi, sebuah pemikiran baru datang lagi pada Yi Hua.
"Bagaimana jika kita menyebutnya sebagai Tengkorak Lembah Debu?" ucap Yi Hua dengan wajah bangga.
Lihat! Betapa hebatnya diriku memberi nama.
"Kau masih membincangkan soal nama, HuaHua?! Sekarang yang lebih penting adalah keluar dari Lembah Debu ini!" cerca Xiao yang lelah sendiri dengan keanehan Yi Hua.
Awalnya orang ini terlihat seperti orang pada umumnya. Ketika diberikan kehidupan kedua, dia terlihat sangat mengejar-ngejar untuk bertahan hidup. Lalu, lama-kelamaan setelah diberikan sekilas tentang kehidupan sebelumnya, Yi Hua jadi gemar mencari cara bunuh diri.
Adakah yang pernah mengatakan bahwa Yi Hua seperti menganggap bunuh diri sebagai cita-cita mulianya?
Lalu, siapa menyangka jika Yi Hua sebenarnya adalah orang keras kepala yang sulit diatasi!
Jika Xiao bukan hanya berbentuk seperti anting. Atau Xiao bisa mencakar jalan, maka dia akan melakukannya. "Terserah dirimu saja."
Dia sudah kelelahan bahkan sebelum memikirkan tentang fenomena kerangka berjalan .... Bukan! Apa tadi namanya? Tengkorak Lembah Debu ini!
"Apakah gumpalan debu itu sudah berhenti, Xiao?" tanya Yi Hua yang heran.
Pasalnya, seingat Yi Hua, di sekitar mereka dipenuhi oleh debu dimana-mana. Bahkan An harus melemparkan 'pembersih' ke udara, dan saat itu Huan Ran baru bisa keluar dari kereta. Namun sekarang Yi Hua hanya melihat udara di sekitar mereka bersih, walau matahari tak begitu tampak.
Ini terlihat seperti ...
"Bukannya gumpalan debu berhenti, tetapi kita di dalam selubung debu. Jadi, jika kita keluar dari lingkaran atau desa yang sudah mati ini, maka kita akan terserang debu lagi," jelas Xiao yang sudah paham dengan keadaan sekitar.
"Jadi, aku melompat tepat ke dalam desa dan menembus selubung debu, begitu? Apakah itu berati Tuan An dan lainnya tak akan menemukan kita?" tanya Yi Hua memastikan sambil menelusuri aktivitas di desa mati ini.
__ADS_1
Sungguh seperti aktivitas pada umumnya. Bedanya ialah mereka hanyalah sekumpulan makhluk yang tak utuh rupanya. Ada yang masih memiliki kulit yang tersisa. Ada yang berwajah datar, tetapi hancur sebelahnya. Entahlah. Tergantung mikroorganisme memakan mereka, dan tergantung suhu di sekitar mereka.
"Kita apanya? Yang dia cari adalah dirimu. Kau lupa jika aku hanya setitik permata di telinga kirimu?" Suara keras Xiao terdengar lagi. Dan Yi Hua berharap bisa menarik lepas permata merah di telinganya ini.
Yi Hua menepuk tangannya karena baru ingat. "Aku lupa jika kau hanya parasit di telingaku!" Suara Yi Hua agak sarkastik, tetapi nyatanya dia memang sudah lama ingin menyebutnya.
Orang ini ...
DUG!
Pandangan Yi Hua menatap ke arah suara. Yi Hua, dari bentuk kerangka tubuhnya, ia tahu itu adalah seorang anak yang menabrak ke pohon berkali-kali. Seperti yang Yi Hua katakan, mereka beraktivitas seperti mereka sebelum mati. Anak ini mungkin berlari untuk menghindari kabut debu, dan akhirnya dia mati begitu saja.
Lalu, entah karena 'sesuatu' yang belum mereka ketahui ini, anak ini bangkit kembali. Bukan dalam keadaan hidup, melainkan mati dan melakukan gerakan yang sama. Berlari dan menabrak pohon di depannya.
Raga dan pohonnya sudah mulai usang. Itu sudah menceritakan berapa lama anak ini terus berlari dan menabraknya. Semuanya berulang-ulang, hingga raga anak ini menjadi tengkorak yang memiliki pecahan di batok kepalanya.
Yi Hua mengambil sebuah kayu yang cukup besar. Lalu, dia mengayunkannya ke arah batang pohon yang sudah lapuk. Dan ...
KREK ... KREK ... BRUAKHH!!
Batang kayu itu jatuh ke tanah akibat pukulan Yi Hua. Itu bukan hanya ditunjang oleh kekuatan tangan Yi Hua, tetapi juga karena batang kayu yang sudah lapuk. Sehingga itu bukanlah sesuatu yang luar biasa untuk dilakukan, padahal hanya dengan benda tumpul.
"Sesuatu yang tak perlu dilakukan." Yi Hua mendengar suara hampa Xiao di telinganya.
Itu memang benar.
Namun ...
Yi Hua menatap anak yang sebelumnya selalu menabrak pohon itu. Kini dia tak lagi menabrak pohon, tetapi dia berlari kencang karena tidak ada penghalang lagi. Akan tetapi, dia kembali terjatuh ketika menabrak sesuatu yang besar lainnya.
Memang benar. Sesuatu yang tak perlu dilakukan.
Akan tetapi, apa kau pernah bertanya-tanya hal apa yang mungkin ingin kau lakukan sebelum kau mati?
Mereka yang ada di sini adalah orang-orang yang tak bisa menyelamatkan dirinya dari bencana badai pasir ini. Lalu, mereka masih berusaha menyelamatkan diri mereka padahal sudah mati. Sungguh menyedihkan.
Bahkan tanpa kesadaran pun mereka masih ingin mencapai apa yang tak pernah mereka capai.
Yi Hua menepuk tangannya yang kotor karena memegang kayu berdebu itu. "Aku tak menemukan hal yang aneh, Xiao. Di sini hanyalah raga para korban dari bencana Lembah Debu."
Yi Hua berjalan menghampiri seseorang berdiri tegak sambil memegang pedang. Dibandingkan dengan yang lainnya, 'orang' ini masih utuh. Mungkin orang ini adalah para pejalan yang tersesat di sini. Sebab, Yi Hua pernah mendengarnya dari Liu Xingsheng bahwa ada beberapa orang yang hilang ketika memaksa melewati Lembah Debu.
Malang sekali ...
SRAT!
Namun Yi Hua bersyukur bahwa dia masih memiliki sepersekian detik untuk menarik kepalanya sendiri. Apalagi ketika 'orang' yang dikiranya salah satu raga tanpa jiwa ini bergerak ke arahnya. Kemudian, pedang yang mengarah padanya juga berasal dari orang ini.
"Heh! Tak kena. Sayang sekali." Orang itu tampak menarik senyumnya yang sudah seperti kurang waras.
Sepertinya bukan hanya Yi Hua yang makhluk hidup di dalam Lembah Debu ini!
Yi Hua memperhatikan seseorang yang ia ketahui sekarang adalah pria. Dari gaya-gayanya pria ini terlihat serius ketika menebas ke arah Yi Hua. Dengan kata lain, orang ini berbahaya!
Apakah orang ini adalah Pendeta Buta, Shen Qibo?
Yi Hua jelas ingat bahwa dia melompat ke dalam kubangan debu sebelumnya karena dia melihat sosok putih berpakaian pendeta. Walau pria aneh ini berpakaian putih, tetapi Yi Hua merasa bahwa yang ia lihat berbeda dari pria ini. Lalu, siapa pria ini?
"Apakah kau berpikir jika mereka terlihat indah?" tunjuk pria itu pada Tengkorak Lembah Debu di sekitarnya.
Belum sempat Yi Hua menjawab, pria itu langsung mengarahkan pedangnya lagi pada Yi Hua. Yi Hua mundur lagi dengan cepat. Menghindar. Lalu, meraih seraup debu di tangannya. Ini sangat gawat karena Yi Hua tak membawa senjata.
SRAT!
Yi Hua menabur debu ke wajah pria itu seperti tengah menabur pupuk di ladang. Hal itu dilakukan agar merata, walau Yi Hua rasa itu kurang penting. Yah, dia hanya ingin melakukannya.
SRET
Tatapan Yi Hua terlihat tak percaya saat pria ini juga bisa menghindar dari lemparan debunya. Namun dia memiliki kesempatan saat pria itu lengah, dan Yi Hua mengangkat sebelah kakinya hanya untuk memberikan tendangan. Dan itu mengenai lekukan lutut pria itu, hingga di terjatuh membungkuk di pasir.
Inilah mengapa menggunakan pakaian pria lebih nyaman saat bertarung!
Setidaknya ini menjadi kelebihannya saat menjadi Yi Hua. Dia bisa bertindak lebih lincah, karena dia tak perlu mengenakan pakaian seorang gadis. Apalagi berias diri.
Yi Hua berusaha berniat untuk merebut pedang pria itu yang terlempar, tetapi ...
Zaasssshh!!
Bagaimana bisa ada ular yang tiba-tiba muncul di sini?
Akan tetapi, Yi Hua menyadari di sekitarnya mendadak dipenuhi oleh hewan-hewan berbisa. Bukan hanya ular saja. Hal itu membuatnya mundur dengan cepat setelah menendang pedang di dekat kakinya agar menjauh juga dari pria itu.
__ADS_1
"Yi Hua, menjauh! Pria itu sepertinya bisa mengendalikan hewan beracun!" teriak Xiao yang membuat Yi Hua bertambah waspada.
Namun ...
STAP!
Yi Hua menatap pucat ke arah tangannya sendiri yang sudah terkena gigitan ular. Seketika tangannya langsung membiru, dan warnanya terus naik dengan drastis. Mau tak mau Yi Hua meraih pedang yang belum sempat diraihnya.
"Jika kau tak menghentikan racunnya, itu bisa datang ke jantungmu!"
Aku tahu, bodoh! Tapi bagaimana cara menghentikan peredaran racunnya?
Lalu, CRASHHH!
"AKHHH!!!!" Teriakan Yi Hua terdengar lantang bersama air matanya sendiri.
Tentu saja ini sakit! Meski dia percaya bahwa rasa sakitnya nanti akan hilang seperti embun, berkat kemampuan 'kembali ke awal'. Semburan darah keluar dari Yi Hua yang sudah kehilangan separuh tangan kirinya.
Yi Hua tak punya pilihan lain, selain memotong tangannya sendiri.
Aku hanya berharap kemampuan 'kembali ke awal' memang berlaku dengan baik!
Sebab, Yi Hua sudah hampir mati di sini! Dia jelas tak menyangka jika cita-citanya untuk sekarat bisa terkabul saat ini.
***
KRAT!
Liu Xingsheng menatap tak percaya pada ular sebesar tiga jari yang kepalanya hancur di kaki An. Entah bagaimana bisa ular malang itu bisa berada dekat dengan pria bengis ini. Bagaimana pun Liu Xingsheng malah mengasihani ular ini.
"Bagaimana bisa ada ular di wilayah padang pasir seperti ini?" tanya Liu Xingsheng sambi memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya.
Debu yang bergolak masih bisa ditahan oleh An. Entah bagaimana bisa An sekuat itu untuk menahan bencana alami di sekitar mereka. Seingat Liu Xingsheng yang dikendalikan oleh An hanyalah sobekan pakaian Huan Ran. Liu Xingsheng masih tak mengetahui jawabannya.
Awalnya An memang menerobos ke dalam kabut. Namun tak lama dia muncul lagi seolah terjebak dalam labirin. Itu adalah sesuatu yang tak begitu Liu Xingsheng mengerti, meski begitu wajah tenang An masih tetap sama.
"Bukankah Anda biasanya serba tahu, Tuan An?" tanya Huan Ran yang entah ingin menyindir, atau ingin informasi dari An.
"Jika aku tahu, aku tak akan memberitahumu."
Huan Ran melipat tangannya di dada. "Atau kau hanya tak ingin mengatakannya? Terutama saat ini berkaitan dengan lima pendosa?"
Apa-apaan lagi ini?!
Jika Liu Xingsheng tahu bahwa Lembah Debu ini berkaitan dengan lima pendosa, maka Liu Xingsheng akan memilih diomeli oleh kakaknya saja. Bagaimana pun lima pendosa ini adalah momok menakutkan untuk penduduk Kerajaan Li. Tentu saja jika mengingat sejarah kelamnya.
Apabila terjadi lagi, atau lima pendosa ini muncul, bukankah itu akan menjadi bencana?
Yah, walau sebagian dari lima pendosa ini sudah dipastikan tak ada lagi di dunia ini.
"Ini bukan mereka."
Lalu, setelah jawaban itu, suara teriakan yang mereka kenal terdengar. Mata An yang tenang menjadi tajam. Tanpa menunggu detik kedua lagi, pria itu mengibaskan pedangnya.
Setelah itu, debu di sekitar mereka berpedar seolah ketakutan. Liu Xingsheng bahkan langsung menutup tirai kereta, karena takut badai debu itu kembali lagi.
Namun ...
KRAK!
Suara retakan itu terdengar seperti cangkang yang pecah.
Ketika Liu Xingsheng melihat kembali keluar dari keretanya, ia langsung dilanda merinding. Terutama saat melihat hewan-hewan berbisa yang muncul di sekitar mereka. Walau nyatanya hewan-hewan itu harus dicincang oleh pedang hitam An.
Huan Ran menatap ke arah hewan-hewan beracun yang sudah tergeletak di sekitar mereka. "Apakah manusia racun itu benar-benar ada?"
Di saat Liu Xingsheng kecil, ia pernah mendengar tentang cerita itu. Seorang manusia yang katanya bisa mengendalikan hewan-hewan beracun. Akan tetapi, dia tak menyangka jika makhluk seperti itu benar-benar ada.
Lagipula ...
Mereka tak pernah mendengar ada kaitan antara manusia racun ini dengan Lembah Debu!
Mengapa ini menjadi sedikit membingungkan?.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~