
SRET!
"Aku tidak menerima tamu dengan wajah menyebalkan sepertimu."
Ling Xiao menepis sebuah pedang dengan menggunakan kuas lukis yang ada di tangannya. Pedang itu terbang ke arahnya dengan sangat cepat, tetapi mata Ling Xiao lebih cepat lagi. Pedang hitam tersebut tertancap ke lukisan besar yang menempel di dinding kediamannya.
Dengan pedang yang menempel di sana, serta warna merah yang sangat pekat di dinding, lukisan itu terlihat seperti tubuh yang diwarnai oleh darah. Pedang tersebut laksana alat untuk menebas aliran darah. Sungguh sangat kontras.
Ling Xiao menyibak rambut panjangnya yang beruban di bagian depan. Dia memilikinya bahkan saat usianya baru menginjak dewasa. Entah karena apa. Lagipula, Ling Xiao sejak awal tak begitu memperhatikan penampilannya.
...Ling Xiao...
Mungkin aku begitu banyak pikiran di masa mudaku -_-.
"Kau bisa melukis diriku?" tanya seseorang yang baru datang itu.
Ling Xiao menyibak rambut bagian depannya. Lalu, pria itu dengan santainya menuangkan segelas air untuk tamu tak diundangnya. Seseorang yang sangat Ling Xiao kenal dengan baik.
"Aku sudah pernah melukis dirimu saat kau masih kecil, bukan?" tanya Ling Xiao yang tersenyum tipis.
GRAK!
TREK!
Pedang yang awalnya melubangi lukisan yang terpajang itu kembali ke tangan pemiliknya. Ling Xiao bahkan tak begitu terkejut saat senjata terkutuk itu akan menjadi benda spiritual paling patuh. Ia hanya tak menyangka bahwa orang ini akan datang padanya.
Lagi.
"Saat aku masih kecil, kau mengatakan bahwa kau melihat kematian dalam hidupku."
Pria itu ..
Hua Yifeng menggenggam pedangnya dengan mata yang sangat tajam. Dia masih ingat dengan wajah sombong Ling Xiao yang mengatakan padanya. Akan tetapi, apapun itu ...
Nyatanya tak ada yang baik dari kehidupan Hua Yifeng. Bahkan saat ia masih kecil pun ... Tak ada.
"Untuk itu aku mengatakan padamu jangan dekati Puteri Li Wei, bukan?" Mata Ling Xiao kembali menampilkan kesombongan yang sama.
Akan tetapi, ...
Tampak bongkahan cahaya yang muncul dari kepalan tangan Hua Yifeng. Seketika itu bekas luka yang seperti tato di pipinya juga bersinar. Itu hanya terjadi begitu saja, dan Ling Xiao tetap diam di tempatnya.
"Seandainya Puteri Li Wei tidak pernah bertemu denganmu, maka dia tak akan diliputi kegelapan." Ling Xiao mungkin adalah orang yang paling jujur.
Meski ia tahu Hua Yifeng tak bisa diprovokasi, tetapi dia tetap mengatakan kebenarannya. Sama seperti ketika ia bertemu dengan Hua Yifeng pertama kalinya. Dia mengatakan hal yang sama.
Namun ...
Hua Yifeng yang pertama kali ia temui dengan Hua Yifeng yang sekarang berbeda.
Dahulu Hua Yifeng hanya bisa menatapnya tak mengerti karena usianya yang sangat muda. Namun yang sekarang adalah mata tajam yang harfiahnya kosong. Pria ini mungkin mengerti dengan lukisan yang baru Ling Xiao lihat.
Itu adalah lukisan seseorang dengan pakaian khas peramalnya. Tamu Ling Xiao sebelumnya. Yi Hua.
"Oleh karena itu, jangan lakukan hal yang sama lagi, Hua Yifeng. Biarkan dia menjadi bebas," ucap Ling Xiao sambil menyiram lukisan Yi Hua dengan warna merah.
Yah, walau peramal ini juga dikelilingi oleh banyak kematian di sekitarnya. Dengan atau tanpa ikut campur dari Hua Yifeng.
Namun mengurangi satu masalah itu lebih baik. Setidaknya itu sama seperti membuang sekarung beras pada perahu yang bocor. Meski tetap bocor, tetapi akan tenggelam lebih lama daripada yang seharusnya.
CRASH!
__ADS_1
Ling Xiao menahan pedang yang terarah padanya lagi. Kali ini dengan pedang perak miliknya. Setidaknya ia memiliki kemampuan untuk melawan Hua Yifeng.
"Kau hanya perlu tahu bahwa apa yang kau lihat dalam ramalan s*alanmu itu tak akan pernah terjadi," ucap Hua Yifeng sambil menekan pedangnya lebih keras ke arah Ling Xiao.
Ling Xiao masih berusaha menahan pedang hitam itu hanya agar tak menyapa kulitnya. Ingatlah kalian jika pedang itu melukai, maka tubuh manusia biasa akan membusuk sedikit demi sedikit. Itu adalah pedang terkutuk yang sama sekali anti kebaikan.
"Aku tak ingin menjadi pengecut lagi, Ling Xiao." Hua Yifeng mengangkat kakinya untuk menendang Ling Xiao.
Namun Ling Xiao memutar tubuhnya hanya untuk melompat menjauh. Setelah itu, ia tak bisa menahan senyum anehnya lagi. Dengan tangannya yang masih memegang kuas lukis, Ling Xiao menggores kuas itu ke lukisan 'Yi Hua' yang ia buat. Kali ini untuk merapikan cat merah yang ia tabur di sana. Dilihat darimana pun pertarungan ini tak begitu serius, sebab mereka sejak awal memang tak ingin bertarung.
Ling Xiao menendang lukisan itu ke arah Hua Yifeng. "Setidaknya aku sudah memberitahumu, bukan? Namun kau memang tak pernah berubah. Selalu keras kepala, dan aku bahkan tak bisa mengatakan apa-apa padamu."
Lagipula, ...
Ling Xiao menatap lukisan itu dengan senyum yang sedikit aneh. "Dan, lebih dari segalanya ... Jika Yi Hua ingin membunuhmu, maka kau akan benar-benar mati, Hua Yifeng."
Hua Yifeng mengangkat pedangnya lagi dan mengarahkannya ke kepala Ling Xiao. Walau dengan gerakan cepat Ling Xiao menghindar. Hal itu menyebabkan benda-benda di kediaman Ling Xiao berantakan. Ia harus menyuruh Hua Yifeng untuk mengganti benda-benda miliknya nanti setelah selesai berbicara. Lagipula, Ling Xiao yakin bahwa Hua Yifeng memiliki harta yang jauh lebih dari cukup untuk membuatkannya sebuah istana. Apalagi hanya untuk sekadar mengganti barang-barangnya.
Yah, ini sedikit aneh. Akan tetapi, keduanya sering berbicara sambil bertarung. Ini sudah sering terjadi hingga mereka saling menghafal cara bertarung masing-masing. Sehingga di antara keduanya tak terlihat begitu kesulitan.
"Ini sedikit konyol, tetapi inilah definisi memberi jantung yang benar-benar 'memberi'. Bagaimana bisa kau memberi jantungmu untuk peramal itu? Itu sama seperti memberi seluruh hidupmu untuk orang lain. Jika dia mati, kau akan mati juga, s*alan!" ejek Ling Xiao pada Hua Yifeng.
SRET!
"Lukisan tercintaku!" Ling Xiao menatap sedih pada lukisan-lukisannya yang terbelah dua.
Hua Yifeng terlihat tak perduli pada wajah menyedihkan Ling Xiao. "Tutup mulutmu, Ling Xiao."
"Padahal aku hanya menebak saja," ucap Ling Xiao sambil menyeka air matanya.
Namun tak berapa lama, Ling Xiao terdiam. Matanya terlihat begitu terkejut karena apa yang ia ucapkan sendiri. Sebab, Ling Xiao sama seperti yang ia ucapkan, dia hanya menebak saja.
Bahkan ucapannya sebelumnya hanya untuk memprovokasi Hua Yifeng. Dan, siapa yang menyangka jika menyebut tepat pada intinya. Ia mengagumi bagaimana hebatnya bibirnya menyebut.
"Apa kau gila Hua Yifeng!?" Hanya itu yang bisa Ling Xiao katakan saat ini.
Akan tetapi, ada yang mengatakan bahwa jika semua hal di dunia ini memiliki kelemahan. Sebab, tak ada yang benar-benar abadi di dunia ini, kecuali Sang Pencipta. Semuanya memiliki kelemahan, meski memiliki begitu banyak kelebihan.
Dengan hal itu, kelemahan Hua Yifeng adalah jantungnya. Tak banyak yang tahu tentang itu. Atau, bahkan yang tahu jumlahnya bisa dihitung dengan jari-jari ayam. Sangat sedikit.
Dan, sekarang Ling Xiao tahu alasan mengapa kelemahan Hua Yifeng adalah jantungnya.
"Sejak kapan ..."
SRET!
Ling Xiao menarik helai rambutnya yang nyaris ditebas oleh Hua Yifeng. Jika dia lambat sedikit saja, maka uban legendarisnya akan hilang. Dan, Hua Yifeng sama seperti biasanya. Sangat sulit diajak bicara.
Bahkan Ling Xiao sendiri tak begitu tahu banyak tentang Hua Yifeng. Sehingga dia pikir cerita Janji Darah itu hanya cerita yang dibuat para gadis.
Ini sama seperti cerita-cerita manis dimana seorang yang jahat jatuh cinta. Sehingga akan ada cerita tentang pria yang jahat luar biasa, tetapi sangat tampan. Lalu, jatuh cinta pada manusia atau sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan penjahat berwajah tampan.
Yah, cerita yang disukai para gadis. Yang membuat perut mereka hangat, dan mata berkaca-kaca. Bahkan mereka terkadang lupa jika Hua Yifeng adalah pendosa Kerajaan Li.
Tidak apa! Yang penting tampan, sehingga mereka berpikir jika mereka ingin mengalami Janji Darah dengan Hua Yifeng. Seperti itu!
Ada hal yang sedikit dramatis tentang jantung ini. Ini banyak diceritakan oleh orang-orang dengan wajah memerah. Seolah cerita romantis tentang kedua insan.
Katanya, jika Kehancuran memberikan 'sesuatu' yang ia punya pada seseorang, maka itu berarti dia seperti memberi kelemahannya. Sebab, itu adalah sumpah. Janji Darah. Sehingga jika seseorang yang menyimpan 'sesuatu' ini mati, maka Iblis Kehancuran juga akan mati.
Awalnya, Ling Xiao pikir ini hanyalah sebuah cerita yang dibuat-buat hanya agar terlihat seperti sebuah cerita romantis. Seperti kau bisa memberikan hidupmu untuk orang lain. Orang yang kau cintai. Itu cukup gila untuk Ling Xiao pikirkan sebagai hal yang nyata. Apalagi untuk dia yang mengenal Hua Yifeng secara dekat.
Siapa sangka jika sebuah 'katanya' akan bernilai sebenarnya.
__ADS_1
Namun Hua Yifeng memang agak sedikit gila.
"Mati kau, Ling Xiao!"
Setiap kali Ling Xiao menyebut Hua Yifeng gula, maka Hua Yifeng akan membuktikan kegilaannya. Mereka akan bertarung seperti biasanya.
***
DEG!
Yi Hua menekan dadanya dengan bingung. Ia berusaha menelan makanan yang nyaris penuh di mulutnya.
Entah mengapa dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Hal itu membuatnya sedikit takut. Pasalnya, mungkin ini efek dari makan yang terlalu cepat. Atau bisa juga dia kurang istirahat.
Entahlah.
"Tuan Yi, kau membantuku atau tidak?" tanya Luo MeiYin yang menatap jengah pada Yi Hua.
Peramal ini ternyata memiliki perut karet. Bahkan Yi Hua makan dengan sangat cepat, seperti ia memiliki penyedot makanan di mulutnya. Yah, Luo MeiYin tak begitu mempermasalahkan tentang harganya.
Yang menjadi masalah ialah peramal ini tak memiliki fungsi apa-apa untuk hidupnya.
"Dengar, Nona Luo. Perdana Menteri Liu mengatakan bahwa 'Saku Pribadi' Anda itu akan makan di tempat ini nantinya. Sehingga kita bisa menunggu di sini saja. Lagipula, apa Anda lupa jika sepatu saya tertinggal di kediaman saya. Lebih baik saya tak berjalan begitu banyak," jelas Yi Hua dengan setengah jengkel.
Dia bahkan harus berjalan dengan bertelanjang kaki, karena alas kakinya tertinggal. Beruntung bahwa Liu Xingsheng agak bocor di mulutnya. Sehingga rahasia pertemuan Raja pun bisa dikoreknya. Dan, dari sana ia tahu bahwa dia bisa menunggu di sebuah rumah makan ini.
Sebab, jika Raja menemui seseorang secara rahasia, dan bukan di istana, maka para Pejabat pun tak tahu dan tak boleh tahu tentang persoalan yang dibahas.
Raja Li Shen seringkali melakukan pertemuan rahasia hanya untuk menghindari adanya pengkhianat di dalam Kerajaan. Sehingga Yi Hua bisa menganggap bahwa pria yang dimaksud oleh Luo MeiYin ini adalah orang penting. Walau pria ini hanya seorang pedangan
Yah, ini jelas bukan pedagang 'saja', bukan?
Yi Hua memasukkan kembali makanan ke dalam mulutnya. "Tunggu saja. Nona ingin tahu tentang pria itu, bukan?"
"Sejak kapan kau bersantai seperti ini, HuaHua! Harusnya kau mengumpulkan ingatamu, dan mencari kematian! Mengapa kau malah makan-makan dan menjadi penguntit? Jika Raja itu tahu ...."
Yi Hua menekan telinganya ketika menyadari bahwa Xiao sangat cerewet. Dia akan bersuara seperti ayam yang baru bertelur. Padahal Yi Hua sendiri perlu bersantai.
"Tenang saja, air masih mengalir dari atas ke bawah. Aku juga perlu mencari uang untuk makan, Xiao bodoh!" balas Yi Hua dalam hati.
Xiao berdecak di telinga Yi Hua. "Kau bahkan punya misi dari Kerajaan. Harusnya kau berpikir bagaimana cara membunuh Hua Yifeng!"
Membunuh Hua Yifeng? Yi Hua nyaris melupakan tentang itu.
Baru saja Yi Hua ingin bertanya pada Xiao, ucapannya terhenti. Hal itu karena dia melihat seseorang yang ia kenal.
Itu adalah An!
SRET!
Yi Hua menekan kepala Luo MeiYin untuk menunduk ke bawah meja. Hal itu membuat Luo MeiYin nyaris berteriak, dan Yi Hua berhasil menghentikannya dengan telapak tangan. Setelah itu, Yi Hua berbisik.
"Yang Mulia ada di sini."
Dan, benar saja setelah An masuk, giliran pria lain yang masuk. Meski dengan penyamaran, Yi Hua tahu bahwa itu adalah Raja Li Shen.
Semoga An tidak mengenaliku!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~