
Yi Hua seharusnya memberikan penghormatan pada Raja Li Shen. Akan tetapi, saat pedang itu di depan lehernya, ia jelas tak bisa menunduk. Salah-salah kepalanya bisa tergeletak begitu saja. Itu jelas bukan pemandangan yang baik untuk dilihat.
Ditambah lagi jika lehernya putus, maka dia tak bisa menyelesaikan misinya!
Yi Hua menyadari bahwa Li Quon bergerak ingin mendekat padanya. Hal itu membuat Yi Hua menggelengkan kepala. Bagaimana pun anak ini punya keberanian yang cukup tinggi. Bahkan itu untuk menentang seorang Raja.
Namun Yi Hua tak ingin itu terjadi di antara Raja Li Shen dan Li Quon. Bagi Li Quon, hanya Raja pemarah dan pendek hati ini saja yang bersikap hangat padanya.
"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba tak tahu kesalahan hamba," jelas Yi Hua dengan segala kesopanan yang ia simpan dalam lemari etikanya.
"Aku memang mengatakan padamu bahwa kau harus menciptakan kondisi 'hampir mati' untuk mengembalikan ingatanmu. Namun bukan berarti dengan membuat kerusuhan seperti ini, Yi Hua! Kau terlalu menghayati misi mengejar kematian dari sistem ini," Xiao jelas selalu hadir untuk memberi kritik dan saran.
S*alan! Itu tak membantu. Maunya sistem ini sebenarnya apa? Katanya, disuruh mencari kematian, tetapi tak boleh bunuh diri dan tak boleh mati. Namun tetap hidup sebagai Yi Hua juga tetap mati akhirnya.
Pasti sistem ini punya dendam pribadi pada Yi Hua di kehidupan sebelumnya. Atau, Yi Hua pernah melakukan dosa besar di kehidupan sebelumnya hingga ia mendapat kesialan yang sama besarnya.
Coba kau dalam posisi seperti aku, Xiao Busuk! Kau pikir menjadi Yi Hua itu mudah.
"Yang penting aku tidak menjadi kau," cetus Xiao lagi.
SRET
"Yang Mulia, biarkan Tuan Yi memberikan penjelasan."
Ketika mendengar itu, Yi Hua mendadak ingin berterima kasih padanya. Penasihat Kerajaan itu, Wang Zeming datang di saat yang tepat. Meski hanya sekali bertemu, ah sebenarnya dua kali. Satu ketika Yi Hua masih di penjara, dan Yi Hua tak tahu kenapa pria tua itu ada di sana. Yang kedua adalah saat Pengadilan Tinggi kemarin.
Sekilas Yi Hua melirik dari sudut matanya, dan Wang Zeming tengah memberi penghormatan di samping Raja Li Shen. Pria itu tetap beraura hangat, dan terlihat bijaksana. Setidaknya, Raja pemarah ini punya orang berkepala dingin di sekitarnya. Sehingga Raja Li Shen tak akan mengalami darah tinggi terus-menerus.
Bahkan aku masih ada di perahu, tetapi sudah disambut dengan 'hangat' begini.
SRET!
Pedang yang terhunus di depan leher putih Yi Hua ditarik dengan cepat. Akan tetapi, karena jarak yang cukup dekat, pedang itu sedikit menggores lehernya. Meski hanya tergores tipis, Yi Hua tetap mengerenyitkan keningnya karena rasa dingin dan sakit dari luka itu.
"Bawa Putera Mahkota kembali ke istana," perintah Wang Zeming pada pelayan yang mengikutinya.
Selain pelayan, Raja Li Shen juga membawa rombongan yang sangat berlebihan. Itu nyaris seperti deraran iringan pengantin. Yi Hua benar-benar dikira sebagai penculik di sini.
Lalu, dimana Liu Xingsheng yang menjadi otak dari kerusuhan ini? Kaki Yi Hua jadi gatal ingin menendang.
Li Quon terlihat tak terima ketika ia dibantu naik dari perahu. Namun Yi Hua segera memberi Li Quon senyum tipis untuk menenangkan. "Aku ... Maksudnya, hamba tak apa, Pangeran. Tentang mainan itu, hamba berhutang pada Pangeran. Hamba akan memberikannya jika hamba kaya nanti."
Walau Yi Hua belum tahu kapan dia bisa kaya. Setidaknya mengambil niat dulu, pelaksanaannya kapan-kapan. Atau, dia mungkin akan meminta Xiao mencari uang, dan Yi Hua yang akan menjaga lilin.
Karena Yi Hua asik dengan pemikirannya, sehingga ia tak menyadari tatapan tak mengerti dari orang-orang di sekitarnya. Terutama saat semua orang tahu bahwa Pangeran Li Quon ini terkenal dengan 'ketidak-hangat-an'nya. Sudah banyak orang yang diabaikan oleh pria kecil ini.
Begitu juga dengan Raja Li Shen mengangkat sebelah alisnya saat melihat Li Quon yang mengangguk pada Yi Hua. Tak ada yang tahu bagaimana dua makhluk ini bisa dekat satu sama lainnya. Apalagi Li Quon yang terlihat menggenggam erat tangkai sekuntum biji teratai di tangannya.
SRET!
Yi Hua berlutut di depan Raja Li Shen. Ia masih berada di perahu, sehingga ia tampak tak begitu seimbang. "Kesejahteraan menyertai Raja Li. Hamba lancang membawa Pangeran keluar tanpa penjagaan. Mohon kerendahan hati Yang Mulia untuk memberi hamba ampunan."
"Pangeran Li Quon tak terluka, sehingga Tuan Yi tak perlu merasa bersalah tentang itu." Bukan Raja Li yang menjawab, tetapi Wang Zeming.
Sedangkan, Raja Li Shen tetap memandang Yi Hua dengan tajam. Seolah Yi Hua seperti punya hutang pada Raja Li Shen di kehidupan sebelumnya. Atau, Raja Li Shen murka karena melihat Pangeran Li Quon yang basah sebelumnya?
"Mengapa kau menyanyikan lagu itu?"
Yi Hua mengerutkan keningnya tak mengerti. "Maafkan hamba jika lancang, tetapi hamba tak mengerti apa kesalahan hamba."
Apa yang salah dari menyanyikan lagu tidur?
Hampir semua orang tua di Kerajaan Li menyenandungkan lagu tidur itu untuk anak-anaknya. Bahkan Raja Li Shen juga menyenandungkan lagu itu untuk Pangeran Li Quon. Sehingga pasti tak masalah jika Yi Hua menyanyikannya.
__ADS_1
Yah, kecuali yang dipermasalahkan Raja Li Shen ini adalah suara cemprengnya. Maka, Yi Hua tak akan bisa mengatakan apa-apa tentang itu. Sebab, takdir alam menentukan bahwa dia tak berbakat untuk menyanyi.
"Dimana Tuan Yi mendengar lagu itu?" tanya Raja Li Shen lagi. Dan, itu membuat Yi Hua semakin bingung.
Namun Yi Hua mengingat bahwa lagu itu hanya seperti tertanam dalam otaknya. Ia mendengar seseorang bernyanyi, tetapi ia tak tahu siapa yang ia dengar itu. Layaknya seperti suara yang datang dari kenangannya.
Suara dalam kenangannya itu sangat dalam, sehingga jika suara itu nyaris seperti gema dalam lorong. Yi Hua yakin jika dalam kenangannya, seseorang bernyanyi di ruangan Akan tetapi, Yi Hua sangat yakin jika suara dalam kenangannya itu bukanlah milik Raja Li Shen.
Lalu, mengapa pria ini juga terlihat seperti mengetahuinya?
Yi Hua menatap sepatu Raja Li Shen yang setara dengan pandangannya. "Hamba hanya berpikir bagaimana jika senandung itu memiliki lirik. Maafkan sikap lancang hamba, Yang Mulia."
Padahal aku tak tahu dimana letak salah dari diriku yang murni seperti air dan hangat seperti senja ini.
SRET
"Lupakan." Raja Li Shen berbalik setelah memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.
Lalu, pria itu pergi menjauh bersama beberapa pengawal di belakangnya. Dan, lupakan ...
Apanya?
Bahkan Yi Hua masih tak memahami permasalahan yang ia hadapi. Jika ia nyaris ditebas karena membawa Pangeran Li Quon, maka dia akan maklum. Tapi, dia sudah tergores sedikit di lehernya, dan itu karena dia menyanyikan lagu tidur!
"Tuan Yi."
Yi Hua membuyarkan lamunannya ketika mendengar suara Wang Zeming yang ternyata belum beranjak dari tempat sebelumnya. Pria itu tampak mengeluarkan keping perak dari sakunya untuk diberikan pada Paman pemilik perahu. Sehingga Yi Hua nyaris memeluk pria tua ini karena terharu. Setidaknya ada yang berbaik hati untuk mengurangi utang Yi Hua di muka bumi ini.
"Sebaiknya Tuan Yi segera kembali. Sekarang udara mulai dingin. Tuan Yi bisa sakit," ucap Wang Zeming dengan senyum di wajahnya.
Yi Hua memutuskan untuk bertanya karena dia tak bisa membendung rasa penasarannya. "Penasihat Wang, ada apa dengan lagu tidur Kerajaan Li ini? Apakah ada yang salah jika membuat lirik lagunya?"
Wang Zeming menatap Yi Hua dengan senyum di wajahnya. "Mungkin Yang Mulia hanya mendapat hari yang buruk. Tuan Yi tahu ada banyak masalah yang dibicarakan di Pengadilan Tinggi hari ini."
Berbicara tentang Pengadilan Tinggi, Yi Hua jelas tak bisa masuk ke sana setiap saat. Ia hanya masuk ke sana jika jasanya diperlukan. Yah, nyatanya Yi Hua hanya segelintir dari peramal yang sudah tak laku lagi.
Dipenjara.
^^^*Ingat! Ling Xiao adalah temannya An. Yang tinggal di dekat Lembah Debu. Lihat di beberapa chapter sebelumnya. Ling Xiao diasingkan karena dia meramal tentang garis penurunan tahta yang dianggap salah. Dahulu Kerajaan Li mengambil pewaris tahta dari ramalan, bukan garis darah. Namun karena kesalahan Ling Xiao, sekarang pewarisan tahta melalui garis darah.^^^
Melihat Yi Hua yang penasaran, Wang Zeming menepuk bahu Yi Hua yang sempit. Hal itu karena Yi Hua memang bertubuh kurus seperti lidi. Yi Hua jelas salah satu orang yang pertumbuhannya lambat. Padahal sekarang dia sudah tujuh belas tahun.
"Hari ini Perdana Menteri Huan Ran berangkat ke Kota Zhu untuk menyelesaikan masalah di sana," ucap Wang Zeming sambil mengedipkan sebelah matanya.
Namun berkat itu, akhirnya Yi Hua tahu mengapa Liu Xingsheng bebas berkeliaran. Itu hanya karena Huan Ran tak berada di Pusat Kota. Sehingga pawang Liu Xingsheng itu tak bisa mengawasinya.
Yi Hua mulai menduga-duga. "Apakah Tuan An, ... Maksud saya, pengawal pribadi Yang Mulia juga ikut ke Kota Zhu?"
"Tuan An ... Saya mengira jika pria itu tak akan pergi ke sana. Saya juga tak melihatnya di Pengadilan Tinggi. Apakah Tuan Yi tak tahu kemana dia pergi? Bukankah kalian cukup dekat?" tanya Wang Zeming sebelum pria itu berjalan menjauhi Yi Hua.
Eh? Apakah dia sakit?
Namun Yi Hua tak tahu banyak tentang An. Ia
bahkan tak tahu dimana An tinggal. Sehingga ia jelas tak bisa menengok An jika pria itu benar sakit.
Sejauh yang Yi Hua ingat, dia sama sekali tak tahu apa-apa tentang An.
"Saya rasa kami tidak sedekat itu, Penasihat Wang. Namun ... Apakah ada masalah besar di Kota Zhu?" tanya Yi Hua yang berusaha mengorek informasi.
Wang Zeming menarik senyumnya. "Yah, mungkin ada masalah di sana dan sedikit merepotkan."
Jelas Wang Zeming tak akan membocorkan persoalan ini pada rakyat jelata seperti Yi Hua. Biasanya hanya Pejabat Tinggi Kerajaan Li yang mengetahuinya. Walau mereka hanya menyerukan pendapat mereka dan saling berdebat di tempat itu. Akan tetapi, yang bekerja untuk mengatasinya hanya beberapa orang. Lalu, untuk apa mereka bertingkah seolah mengatasi hal tersebut secara bersama?
__ADS_1
Yah, menurut Yi Hua seperti itu. Akan tetapi, dia bukanlah orang tinggi yang bisa mengkritik sistem di Kerajaan Li. Jangankan sistem di sana, sistem busuk di dalam dirinya saja dia tak bisa mengendalikannya.
"Aku mendengar semua keluh kesah darimu itu, Yi Hua. Kau tak malu jadi orang yang sering mengeluh?" sindir Xiao.
Lebih dari segalanya, Yi Hua harus ikut campur dalam banyak hal hanya untuk mengejar kematian. Oleh karena itu, dia jelas harus mengetahui tentang kasus ini segera. Mungkin dia akan menguntit di sekitar kediaman Pejabat tinggi, atau langsung pergi ke kota Zhu. Tanpa dijemput atau diundang.
Apa saja! Yang penting Yi Hua bisa mengejar kematian. Sungguh aneh sekali motivasi hidupnya.
Namun untuk sekarang ia harus kembali ke kediamannya. Bahkan sekarang Yi Hua merasakan hidungnya sedikit berair. Yi Hua mengarahkan tangannya menuju hidung ...
"Dan, ..."
Yi Hua yang baru saja ingin mengorek hidugnya yang basah langsung terhenti. Matanya menatap ke arah Wang Zeming yang menoleh lagi padanya. Namun wajah pria itu masih dipenuhi senyum, bahkan saat harus menatap Yi Hua yang berantakan seperti habis memandikan sapi.
"Jangan keluar malam-malam, Tuan Yi. Anda mungkin akan diculik karena dikira sebagai anak kecil." Nasihat Wang Zeming sebelum benar-benar pergi dari hadapan Yi Hua.
Dahi Yi Hua berkerut. "Xiao, apa maksud dari penasihat Wang?"
"Maksudnya adalah kau itu bocah bau yang mudah diculik. Apalagi kau lemah seperti tangkai bunga layu. Sehingga jangan keluar malam. Bukankah kau alergi pada malam hari?" ucap Xiao asal-asalan.
Sejak kapan Yi Hua punya alergi seaneh itu?
Yi Hua ingin menyanggah ucapan Xiao. Namun suara Liu Xingsheng kembali hadir di telinga Yo Hua.
"Itu karena korban terakhir berasal dari Kota Zhu. Kakak Huan Ran ke sana untuk memeriksa, tetapi nyatanya kasus ini terjadi di berbagai tempat," ucap Liu Xingsheng sambil menyibak kipas di tangannya.
Pria ini ...
Pasti dia ada di sekitar sini saat Raja Li Shen nyaris menebas kepalaku!
Yi Hua dengan jengkel menatap pada Liu Xingsheng, tetapi pria itu mengangkat bahunya seperti tak perduli. Bagaimana pun pria itu jelas lebih pengecut dari Yi Hua kira.
"Jangan menatapku seperti itu, Yi Hua. Jika aku terkena masalah dengan Yang Mulia, apa kau bisa menjamin hidupku masih sejahtera?" ucap Liu Xingsheng dengan wajah cemberut.
Percayalah. Liu Xingsheng lebih takut pada kakaknya sendiri, Selir Qian, dibanding Raja Li Shen ini.
Namun Yi Hua tahu bagaimana dia bisa masuk ke dalam kasus ini. Ia jelas punya seseorang yang sangat berguna dalam pergaulannya. Terkadang punya orang dalam juga menarik, dan Yi Hua adalah orang yang memanfaatkan hal di sekitar.
"Apa Perdana Menteri tak ingin berkunjung ke kediaman saya?" tanya Yi Hua dengan senyum di wajahnya.
Saat Liu Xingsheng ingin menjauh dari Yi Hua, tangan Yi Hua dengan cepat menarik ujung kerahnya. Meski Liu Xingsheng sejatinya adalah seorang pria, tetapi Yi Hua dengan mudah menahannya. Entah mengapa Yi Hua kehilangan semua penghormatannya pada Liu Xingsheng.
Yi Hua sedikit berjinjit untuk merangkul bahu Liu Xingsheng. "Meski seperti ini, saya pandai memasak, Perdana Menteri Liu."
"Bajumu basah, Yi Hua! Lagipula aku ini orang sibuk yang harus bekerja di Kerajaan," seru Liu Xingsheng jengkel.
Kau jelas orang paling menganggur, tetapi mendapat uang yang paling banyak!
Yi Hua jelas tak lupa dengan keadaannya yang sempat terendam air keruh. Namun dia sudah terbiasa hidup dengan wajah tebal, sehingga dia tak begitu perduli. Ia masih mencengkeram kerah pakaian Liu Xingsheng, dan tersenyum tipis.
"Seingat saya Selir Qian mengundang saya untuk minum teh baru-baru ini," ucap Yi Hua memulai perangkapnya.
Wajah Liu Xingsheng langsung siaga. "Apakah kediaman Yi Hua perlu dibersihkan juga? Aku punya waktu luang untuk pergi ke sana."
Yi Hua menepuk bahu Liu Xingsheng dengan bangga. "Jika Perdana Menteri tak keberatan. Saya juga tak masalah."
Liu Xingsheng seharusnya tahu bahwa Yi Hua ini cukup licik seperti ular. Lebih dari segalanya, ia berharap bisa keluar dari kediaman Yi Hua dengan kondisi sehat. Ia harus lebih pandai menolak hidangan yang diberikan Yi Hua nanti.
***
Selamat membaca 😉.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~