
Di hari pertandingan ...
Tidak disangka jika pertandingan akan dimulai pagi buta. Bahkan ketika Yi Hua dan lainnya datang ke arena, tepatnya di dekat gua bawah tanah, tempat Kerajaan Phoenix mengadakan tarung bebas, tempat itu sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mereka bahkan enggan membuka jalan bagi Yi Hua dan lainnya. Sehingga Yi Hua hanya bisa mengandalkan Huan Ran yang besar tubuhnya untuk memimpin jalan.
Mereka datang hanya bertiga.
Liu Xingsheng berada di penginapan bersama Jia Yu. Sangat berbahaya jika membawa Liu Xingsheng ke tempat ini. Ditambah lagi kondisi Liu Xingsheng sangat tak terkendali. Bagaimana jika terjadi sesuatu dalam pertandingan? Seperti keributan atau perkelahian di sana.
Akan sulit melindungi Liu Xingsheng sambil melindungi diri sendiri.
Mengenai penginapan.
Yue Yan sudah memerintahkan anak-anaknya untuk menyebar di sekeliling penginapan. Setidaknya meski ular Yue Yan kadang tak berguna dan seperti cacing kehilangan ekor, tetapi mereka tak punya anggota lagi untuk menjaga. Dan, Jia Yu, jelas mereka tak bisa membawa gadis itu untuk melihat pertandingan.
Tarung bebas terlalu brutal dan tidak manusiawi. Itulah yang mereka dengar. Seorang gadis seperti Jia Yu pasti tak nyaman dengan keadaan seperti itu.
"Tapi kau gadis juga, Hua?" tanya Xiao yang memberi Yi Hua siraman rohani hanya agar Yi Hua tak menyalahi kodratnya.
Yi Hua menyahut di dalam hati sambil mengusap hidungnya bangga. "Itu karena aku luar biasa."
Terserahlah, pikir Xiao. Bicara pada Yi Hua tak akan ada habisnya. Orang ini terlalu optimis untuk dipatahkan semangatnya.
BUGH!
Baru saja Yi Hua dan yang lainnya menyusup di antara kerumunan, sebilah pisau terbang. Pisau itu menuju ke arah Huan Ran, tetapi Yi Hua melihatnya terlebih dahulu. Sehingga dengan jari telunjuk dan tengahnya, Yi Hua menangkap lemparan pisau itu di udara.
"Suiit ..." Si pelempar bersiul ketika melihat itu.
Tentu saja tak sulit bagi Yi Hua untuk menangkapnya. Di zaman dahulu kala, saat dirinya masih di Pelatihan Awan, ia dan yang lainnya bahkan pernah disuruh Ling Xiao untuk menangkap panah kertas hanya dengan dua jari. Itu bukan panah kertas biasa.
Kita bicara tentang Ling Xiao di sini! Guru Pelatihan Awan itu dengan kejam membuat kertas biasa menjadi lebih tajam dibanding jarum. Sehingga jika kau tak berlatih menangkap kertas-kertas itu dengan baik, kau mungkin akan terluka. Yah, itulah Ling Xiao.
Ling Xiao pernah berkata, "Suatu hari kalian mungkin akan diserang oleh seorang pengintai. Mereka biasanya menyerang dalam kegelapan. Kecepatan lemparan mereka paling lambat ialah seperti lebah terbang."
Yah, untuk ini Ling Xiao agak salah.
"Lemparan Anda bahkan lebih lambat dibandingkan sapi berenang," ejek Yi Hua yang seperti biasa. Mulutnya terlalu pandai menghina.
Orang yang dimaksud langsung menatap tajam pada Yi Hua. Itu adalah Jian, bawahan dari Tuan Qiu, yang kini memiliki luka abadi di pipinya. Tentu saja itu kenang-kenangan dari Yi Hua.
"Kau ... Aku akan membunuhmu hari ini," ucap Jian yang siap menghancurkan Yi Hua hanya dengan kedua tangannya.
Di sekitar mereka sangat ramai hingga tak ada yang mendengar suara ancaman Jian. Bahkan Yi Hua juga mendadak tuli. Sehingga Yi Hua hanya menjawab dengan anggukkan malas. Yah, mungkin saja Jian hanya mengucapkan selamat pagi padanya.
SRET!
"Eh, copot," Yi Hua mendadak oleng sedikit karena tersandung.
Baru saja Yi Hua berjalan mengikuti Huan Ran yang menjadi pembuka jalan di depan, kaki Yi Hua mendadak tersandung. Bukan perkara apa, tetapi di tempat yang sesak seperti ini, mana ada yang tahu jika kaki mereka mengait kaki orang lain. Sehingga Yi Hua nyaris tersembab ke depan.
Tetapi, ...
Aroma ini.
"Hati-hati."
Tanpa mengangkat kepalanya pun Yi Hua tahu siapa yang berbicara. Terutama aroma khasnya yang seperti bunga liar di hutan. Belum lagi dengan lengannya yang memiliki jemari yg panjang. Juga, tangan pria ini, Hua Yifeng yang berada di pinggang Yi Hua.
"Saya ..."
Baru saja Yi Hua ingin berkata, Yue Yan mendadak menyeret Yi Hua untuk menerobos kerumunan. Mungkin Yue Yan tak menyadari keberadaan Hua Yifeng. Dan, pegangan Hua Yifeng terlepas begitu saja. Sehingga Yi Hua segera menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Hua Yifeng.
Namun pria itu lenyap begitu saja. Seperti debu di udara. Tak nampak jejak lagi, dan Yi Hua mendadak tertawa aneh.
Apakah sebelumnya hanyalah sebuah khayalan?
Tapi mengapa sangat nyata?
"Xiao ..." Panggil Yi Hua di dalam hati.
Suara Xiao tak terdengar cukup lama, tetapi ketika Yi Hua berada di dekat arena, Xiao segera menyahut dengan malas. Hal tersebut membuat Yi Hua mendadak kecewa. Mungkin dia terlalu lelah saja.
"Kau tahu ... Perdana Menteri berwajah dingin itu sudah berada di arena. Dengan sangat sombongnya ia berdiri di sana, bahkan saat masih ada yang bertarung di sana," ujar Yue Yan sambil menunjuk pada Huan Ran yang sudah memukul pada salah satu peserta.
Sedangkan, lawan dari peserta yang Huan Ran pukul meras bingung. Pasalnya yang bertarung adalah dirinya dan orang yang sudah tumbang itu. Lalu mengapa ada makhluk ini yang tiba-tiba menghancurkan pertandingan?
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" tanya tim dari orang yang dipukul Huan Ran.
Huan Ran menunjuk pada Yi Hua yang masih berdiri tak jauh dari arena.
"Tanya pada dia ..."
Huh? Apa-apaan?
Mengapa kedua Perdana Menteri ini senang sekali menjadikan Yi Hua kambing hitam?
***
"Tuan!"
Baru saja pria itu ingin mengikat rambut panjangnya dengan tali, bawahannya datang. Kali ini dengan wajah yang panik. Sehingga pria itu hanya bisa merenggut saat melihatnya. Padahal dirinya sedang malas turun ke arena.
Bagaimana pun ia sudah memikirkannya panjang-panjang.
Memang sangat menarik jika bertemu dengan orang kerajaan Li yang dimaksud itu. Akan tetapi, ia sudah lama pergi dari kerajaan Li dan ia sudah berusaha melupakan semuanya. Ia memulai pelelangan Kerajaan Phoenix ini sebagai bentuk hidup barunya.
Dan ...
"Tim Perdana Menteri dari Kerajaan Li membuat masalah, Tuan," lapor bawahannya.
Haduh! Ku kira orang tinggi seperti dia hanyalah 'bandit' kerajaan, bukannya bandit secara kasar.
Ia hanya bisa mengomel karena keramaian ini. Lagipula, itu sudah biasa ... Keributan di arena sudah sangat biasa. Biarkan saja mereka saling membunuh di arena, asalkan penontonnya terus memasang taruhan. Itu saja.
Sebab, semakin banyak taruhan, semakin banyak juga bagian yang akan masuk ke mereka.
Walau sebagian uang itu akan berada di tangan pemenang.
"Aku hanya akan pergi ke pelelangan besok. Kau urus saja mereka," ucap pria itu sambil duduk di kursinya dengan tenang.
"Tapi mereka belum saat bertanding, tetapi mereka langsung memukul kedua petarung yang ada di arena," ujar bawahannya dengan frustasi.
Pria itu hanya bisa mengurut pelipisnya lelah. "Apa-apaan pengacau ini? Kalau mau mencari mati jangan di wilayahku. Umumkan hukuman pelanggaran!" perintahnya.
Mau tak mau bawahannya merasa ketakutan. "Tuan, mereka hanya tiga orang. Hanya satu yang terlihat bisa bertarung. Dua orang lainnya seperti hanya menambah tim."
"Mereka pasti melakukan hal itu karena memiliki hal yang mendesak. Dengan hukuman pelanggaran mereka bisa mendapatkan uang yang lebih banyak, dan ..."
***
Yi Hua menghela napasnya sambil menunjuk ke arah petarung yang ada di arena. "Jadi begini, karena kami sedang buru-buru, maka izinkan kami bertarung duluan."
Tentu saja hal tersebut menimbulkan kemarahan dari yang lainnya. "Tidak bisa! Kami sudah setengah pertandingan, dan kau mencoba mengambil uang taruhan dari pertandingan kami!"
Yah, memang itu tujuan Yi Hua!
Bagaimana pun dari sekelilingnya Yi Hua tahu jika taruhannya cukup banyak. Padahal ini pertandingan pertama. Sudah dibilang di Kerajaan Phoenix ini biasanya orang-orang kaya akan membuang uangnya dengan mudah. Mereka akan bertaruh sebanyak-banyaknya, dan hanya akan menonton dari tempat tersembunyi.
Itu adalah untuk orang-orang kaya saja. Belum lagi dengan orang biasa yang gemar mengadu. Mereka akan memasang taruhan yang lumayan banyak untuk mempertaruhkan jagoan mereka. Itu hanya sebatas kesenangan pribadi saja, dan jiwa-jiwa mereka yang senang melihat darah dan pertarungan.
Jika tim Yi Hua bisa bertahan dari pertarungan pertama hingga melawan tim di pertarungan akhir, maka semua uang di pertandingan hari ini akan menjadi milik mereka.
Sebenarnya ada cara lain, yaitu menunggu dan menjadi tim akhir.
Mereka bisa menunggu tersisa satu tim di arena, yang sudah bertarung mati-matian, dan mengalahkan tim ini di pertarungan akhir.
Tapi ... Itu tidak menarik!
Semakin kontroversial mereka, maka orang semakin membara untuk melihat tim mereka.
Di setiap putaran pertandingan mereka bisa mengeruk banyak uang dari orang-orang boros.
Sehingga ...
"Begitu saja ... Anggap saja pertandingan Anda dengan orang itu ..." Tunjuk Yi Hua pada seseorang yang berusaha dibangunkan oleh anggota tim.
Sepertinya pukulan Huan Ran sangat keras hingga orang ini enggan bangun lagi. Mengerikan.
"Maksudnya dengan tim itu sudah selesai. Dan berlanjut dengan tim kami. Jika kami kalah sekarang, maka semuanya sudah selesai," ucap Yi Hua masuk akal.
Tinggal bertarung saja. Itu akan selesai!
__ADS_1
Tapi tim yang tersisa dari orang yang tak sadar-sadar itu tentu saja protes. Mereka masih tersisa dua orang, dan sudah diputuskan kalah! Itu tak adil bagi tim mereka.
"Kami belum selesai bertanding!" teriak salah seorang rekan tim.
Para penonton juga sama hebohnya. Mereka menyuruh Yi Hua dan yang lainnya turun dari arena. Hal tersebut membuat Xiao di telinga Yi Hua berkomentar dengan semangat.
"Hidupmu dimana-mana akan terkenal, HuaHua. Bukan karena prestasi, tetapi keburukannya!" ucap Xiao bangga.
"Baiklah, jika begitu yang tersisa di arena bertanding denganku sekarang," ucap Huan Ran seenak kepalanya.
Hey, orang ini terlalu frustasi untuk mengumpulkan uang atau apa?
Bukan lagi satu lawan satu, tetapi satu lawan beberapa orang.
Yi Hua dan Yue Yan pasti seperti rencana mereka sebelumnya. Mereka berdua tak akan bertarung. Sehingga hanya Huan Ran yang akan bertarung sekarang. Kali ini Huan Ran, Yi Hua, dan Yue Yan sedang menggunakan penutup wajah. Jika mereka tak menggunakan penutup wajah, maka wajah terkejut dan gemetar Yi Hua dan Yue Yan akan terlihat.
Itu pasti memalukan.
"Lanjutkan."
Semua pandangan mengarah pada suara. Akan tetapi, mereka menyadari jika itu hanya suara. Di ruang bawah tanah ini memiliki bagian tersembunyi. Di mana-mana orang ber-uang akan sanggup membayarnya. Mereka akan menonton dan tertawa, serta berdebar karena pertandingan. Tanpa takut mereka diserang atau terlibat kekacauan.
"Lanjutkan pertandingan," perintah suara itu lagi.
Yi Hua mengerutkan keningnya. Di mana ia pernah mendengar suara ini?
Ia bertanya pada Xiao, tetapi Xiao malah heboh menghitung jumlah uang yang mulai dipertaruhkan. Biasa! Xiao itu sudah menyatu dengan Yi Hua, sehingga jika Yi Hua gila uang, maka Xiao akan sama. Dia mengatakan pada Yi Hua agar jangan sampai kalah, karena uang yang terkumpul sudah bisa digunakan untuk membeli rumah di Pusat Kota.
Ini baru awal pertandingan! Apalagi jika mereka bisa bertarung sampai akhir. Mungkin Yi Hua bisa membangun sekte sendiri, dan jadi penguasa.
Yah, tapi uang ini untuk membeli cermin bayangan di pelelangan. Semoga saja ada yang tersisa nantinya.
"Tapi ..." bantah tim yang tak setuju.
Akan tetapi, suara itu kembali datang. "Lanjutkan hukuman pertandingan."
Hukuman pertandingan? Itu makhluk atau benda, atau bahkan hanya sebutan?
Akan tetapi, Yue Yan menarik tangan Yi Hua dengan panik. "Kita lari saja, Yi Hua!"
"Apa? Bagaimana bisa kau lari di saat ada uang di depan mata? Lagipula yang bertarung hanya Perdana Menteri Huan, kita hanya menonton," tanya Yi Hua kikir.
Yue Yan nyaris menepuk dahi Yi Hua untuk menyadarkannya. Namun Yi Hua lebih cekatan untuk menepis tangan Yue Yan. Di sana Yi Hua bisa merasakan dingin dari tangan Yue Yan.
"Aku tak perduli pada Perdana Menteri pendiam itu. Karena aku tahu dia bisa bertahan di pertandingan tanpa mati, tetapi kita tak bisa, Yi Hua!" bisik Yue Yan.
Apa maksudnya? Bukankah yang bertarung hanya Huan Ran? Ini Yue Yan yang tak paham strategi mereka atau Yi Hua yang tak paham dengan situasi?
Baru saja Yi Hua ingin menyahut, tiba-tiba arena yang awalnya seperti kandang sapi dibuka. Pagar-pagar itu terbuka dan menjadi seperti lapangan. Lalu, pagar-pagar rendah dengan bahan bambu muncul dari lubang-lubang di bawah tanah. Itu menjadi pembatas bagi petarung dan penonton. Sehingga yang ada di luar pagar adalah penonton, dan dari celah pagar yang masih terbuka, semua tim yang berniat menjadi petarung masuk. Bahkan Jian dan dua rekannya masuk juga. Mereka jelas tim yang dibawa oleh Tuan Qiu.
"Yi Hua, kita akan bertarung juga! Tanpa bisa terkecuali karena kita mendapat hukuman pertandingan," ucap Yue Yan dengan wajah panik.
Huan Ran dengan wajah datar segera menghampiri Yue Yan dan Yi Hua. Tanpa sadar mereka bertiga berkumpul dengan punggung saling bertemu. Di sekeliling mereka sudah di kelilingi oleh para petarung. Jumlahnya lebih dari tiga puluh orang. Sorakan penonton membuat semuanya menjadi cukup jelas. Apa yang dimaksud dengan hukuman pertandingan.
Memang Tarung Bebas adalah bebas. Namun jika ada kekacauan dan pihak yang menyebabkan kekacauan tak mau mengalah, maka mereka akan melakukan hukuman pertandingan. Di mana mereka akan tetap bertanding seperti biasa, tetapi bukan satu tim melawan satu tim. Melainkan tim yang membuat masalah melawan seluruh tim dalam satu babak pertandingan.
Tidak ada giliran menyerang. Semua bisa menyerang secara bersamaan.
Oleh karena itu, jika ada yang membuat keributan mereka akan memilih menyerah dalam pertandingan. Daripada mereka harus melawan seluruh petarung. Ini adalah pertama kalinya sistem hukuman pertandingan terjadi. Jelas hukum pertandingan hanya persiapan untuk menakuti peserta. Siapa sangka akan ada yang begitu keras kepala untuk tetap bertahan di arena, walau sudah membuat pelanggaran.
"Silahkan bertaruh. Kalian bisa bertaruh uang, emas, atau benda berharga lainnya. Pertandingan dimulai!" ucap suara itu membuka pertandingan pada hari ini.
Yi Hua bisa mendengar Yue Yan menyumpah beberapa kali. Namun Yi Hua juga tak bisa melakukan apa-apa. Mereka tak bisa mundur karena ini adalah kesempatan untuk mendapatkan cermin bayangan yang disebut oleh Ling Xiao. Demi kesembuhan Liu Xingsheng.
Mereka bertiga masih berdiri untuk saling menutupi punggung masing-masing. Ketika suara besi perak berdenting, mereka maju bersamaan.
BUGHHH!!!
Dan, tendangan pertama Huan Ran membuat dua orang langsung tak sadarkan diri.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~