Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Hitam dan Putih 6: Kejadian yang Sama


__ADS_3

Di kala pertarungan itu terjadi, tatapan Yi Hua mengarah ke sisi lain untuk mencari Liu Xingsheng. Semua ilusi Hantu Air sudah dipatahkan oleh Hua Yifeng. Bahkan di pinggir jalan masuk yang terbuat dari batu-batu yang tersusun itu Yi Hua bisa melihat ceceran darah. Meski begitu, Yi Hua masih tak mengerti mengapa Hua Yifeng tampak 'bersih' padahal pria itulah yang membabat habis para Hantu Air ini.


Sebenarnya berkat ilusi Hantu Air, mereka tak akan bisa melihat wujud asli dari wilayah kekuasaan Tengkorak Putih ini. Dan sekarang ... Yi Hua yakin ini adalah bentuk aslinya. Dengan ornamen istana yang seperti kawasan anti kedamaian. Tulang belulang yang berserakan, dan membuat Yi Hua percaya ini lebih seperti pemakaman dibanding sebuah istana.


Dan ...


"Peramal Yi, di sebelah kanan," ujar Ling Xiao memberitahu.


Pasalnya, mata Ling Xiao jelas lebih tajam dibandingkan mata tetangga. Ia bisa melihat ada peti di sana, dan peti itu memiliki penutup di atasnya. Walau tak tahu apa yang ada di dalamnya, tetapi Yi Hua punya dugaan.


SRAT!


Baru saja Yi Hua ingin berlari menuju ke arah peti itu, tengkorak yang berbentuk seperti ular besar menghadang di jalan. Hal tersebut membuat Yi Hua harus mundur lagi. Meski ini hanya tengkorak, tetapi monster tengkorak ini lebih berbahaya dari ular sebenarnya.


Jika ular asli punya bisa ular, maka tengkorak milik Bao Jiazhen punya kutukan. Yi Hua sudah melihat contoh nyatanya, dan itu terjadi dengan Tuan Qiu. Daging-daging Tuan Qiu perlahan meluruh dan hanya menyisakan tulang karena terkena kutukan Bao Jiazhen.


Kan tidak lucu jika aku tetap hidup, tetapi dagingku habis. Jelas Tungku Iblis tak akan membiarkan aku mati selama kepalaku masih melekat.


Wei Wuxie menarik pedangnya dan berdiri di depan Yi Hua. "Aku akan mengatasinya," ujar Wei Wuxie dengan nada tenang.


Yi Hua hanya menganggukkan kepalanya. Ia memberi isyarat agar Yue Yan mengikutinya. Sedangkan Ling Xiao menggambar segel perpindahan. Kenapa?


Mereka harus berbagi tugas, agar setelah mereka bisa menyelamatkan Liu Xingsheng, mereka bisa pergi dari tempat ini.


STANG!


Yue Yan menyadari jika tatapan Yi Hua tersirat khawatir akan pertarungan antara Hua Yifeng dan Bao Jiazhen, atau yah ... Huan Ran.


"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang kau sudah tahu hasilnya," ucap Yue Yan sambil menyeret kerah Yi Hua menuju ke arah peti.


Mereka masih harus menyeberangi jembatan batu. Dan lebih ekstrimnya lagi, di sekitar jembatan batu ada banyak bangkai Hantu Air. Sebagian dari Hantu Air itu juga tergeletak dan menyangkut di jembatan batu. Ada yang pecah kepalanya, dan ada yang tak utuh lagi tubuhnya.


Yi Hua berjalan mengikuti Yue Yan, "Apa maksudmu dengan sesuatu yang diketahui hasilnya?"


"Biar ku beri tahu. Suami-mu itu ... Dia yang terkuat. Apa yang harus kau takutkan?" tanya Yue Yan jengkel. Walau matanya melirik malas pada wajah salah tingkah Yi Hua.


Yi Hua menggaruk kepalanya, "Kau ... Jangan sembarang bicara."


"Aku tak mengerti hubungan seperti apa yang kau alami dengan Tuan Iblis Kehancuran. Tapi aku bisa melihat ikatan di antara kalian melalui mata kaki-ku!" ujar Yue Yan sambil menggelengkan kepalanya.


Yah, Yue Yan merasa dunia sudah berubah sangat jauh. Hingga Yue Yan merasa sangat tua sekarang.


"Aku hanya bertanya tentang ucapan mu sebelumnya! Mengapa kau bicara hal lain?" tanya Yi Hua yang jelas mengerti maksud dari Yue Yan.


Bagaimana pun di pandangan orang lain, Yi Hua dan Hua Yifeng adalah sesama pria.


Yue Yan menendang kepala Hantu Air yang tergeletak di jembatan batu. Hal tersebut membuat darah hitam dari hantu air mengotori sepatunya. Ia ingin membersihkan, tetapi tak yakin jika harus menyentuh air hitam di sekitarnya. Bagaimana jika air itu beracun?


"Sistem di Dunia Bawah juga memiliki kedudukan. Tidak seperti di dunia manusia yang tingkat kekuatan dan kemajuan kerajaan itu nampak, dunia mereka punya aturan yang tak tertulis. Meski tanpa ditulis secara jelas, tetapi semua iblis dan dunia hantu tahu siapa Raja-nya," jelas Yue Yan yang pernah mengembara di dunia hantu dahulu untuk mencari cara agar bisa mengalahkan Shen Qibo.


Sampai akhirnya ia menggunakan pecahan Lingkaran Mawar yang membuat Yue Yan menemukan fakta lain. Sudahlah. Yue Yan enggan membahas cerita lama.


"Dalam lima bencana yang dipercaya dunia manusia mereka dinilai berdasarkan bencana yang mereka bawa. Dalam hal ini, Pendeta Buta Shen Qibo adalah yang paling lemah. Karena dia 'hanya' membunuh penduduk satu desa dalam waktu satu malam," jelas Yue Yan yang entah mengapa sedang rajin menjelaskan.


Juga .... Hanya?


Yi Hua mengerutkan keningnya. Apa ini berarti Putri Li Wei, atau dirinya di masa lalu benar-benar dianggap 'musuh' besar?


Ini sedikit menyakitkan jika harus


membahas diri sendiri.


Yi Hua mendadak ingat sesuatu. Jika dirinya memang melakukan pembantaian di masa itu, berarti ia melakukannya saat ia tak sadar. Atau dalam kendali sihir jahat. Akan tetapi, bagaimana Hua Yifeng bisa berada di posisi tertinggi?


Jika dinilai dari tingkat kekuatan saja, memang Hua Yifeng yang tertinggi. Namun dalam sejarah, Hua Yifeng membantai keluarga kerajaan Li. Dan sesuai ingatannya sebagai Li Wei, kehancuran keluarga kerajaan Li itu karena Kerajaan Xin. Sehingga itu hanya isu semata. Meski begitu, jika dihitung pun, itu tidak termasuk banyak. Malah lebih banyak jumlah yang dibunuh oleh Shen Qibo.


"Lalu, bagaimana dengan Tuan Hua? Meski dia pemilik Pohon Iblis, tetapi dia tidak membuat bencana besar."


Yue Yan menatap Yi Hua seperti melihat wujud sapi terbang untuk pertama kali. Seolah dia bertanya-tanya mengapa Yi Hua bisa bertanya tentang hal ini padanya. Bahkan dengan wajah polosnya yang membuat Yue Yan takut jika Yi Hua ditawarkan gula-gula saat di pasar malam.


"Bagaimana bisa kau lupa, Yi Hua? Yang membuat orang lain takut, bahkan untuk menyebut namanya saja, itu karena dia sangat kejam. Tuan Iblis Kehancuran menghancurkan bukan lagi satu kerajaan, tetapi BEBERAPA kerajaan. Bahkan ada yang pernah meneliti jika sebenarnya kematian para pejabat di Kerajaan Xin itu bukan karena bunuh diri. Memang benar di era jatuhnya Kerajaan Xin, mereka mengalami kelaparan panjang. Namun kematian mereka terlalu mengerikan untuk disebut sebagai bunuh diri. Apalagi dengan kepala mereka yang hancur dan tubuh mereka yang membusuk, padahal baru hanya beberapa hari kematian mereka," jelas Yue Yan dengan wajah pucat.


Ia berbicara lancar, tetapi matanya melirik pertarungan Hua Yifeng dan Bao Jiazhen dengan takut-takut. Seolah takut jika Hua Yifeng mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Dan kau tahu bukan jika pedang Li Wei bisa membuat busuk kulit jika terkena sedikit saja," jelas Yue Yan ketika mereka sampai di ujung jembatan. Mereka sekarang sudah berada di wilayah istana tengkorak, Bao Jiazhen.


"Kerajaan Xin?" tanya Yi Hua yang bingung ingin mengatakan apa.


Yue Yan mengangguk. "Sejauh yang aku ingat, semua kerajaan yang bersekutu dengan Kerajaan Xin juga hanya tinggal nama. Itulah mengapa meski Kerajaan Li tidak sekuat dulu, tetapi tak ada yang menyerang. Karena mereka akan hancur dengan berbagai cerita yang 'aneh'," Yue Yan memberi kedipan mata ketika menyebut aneh ini.


SRET!


Yi Hua tak tahu harus menanggapi apa. Ia mengalihkan lagi pandangannya pada Hua Yifeng. Ada rasa rindu yang tak bisa dijabarkan, dan Yi Hua tak ingat mengapa ia rindu. Bahkan rumor jika Putri Li Wei dan Hua Yifeng adalah sepasang kekasih di masa lalu pun Yi Hua tak tahu alasannya.


BUGHHHH!!


Muncul suara keras ketika Yue Yan berhasil membuka tutup peti itu. Dan dengan posisi peti yang berdiri, mereka bisa melihat isi di dalamnya. Di sana berdiri seseorang yang memiliki kulit putih dan wajah yang pucat. Matanya tertutup, meski begitu keadaannya masih sama seperti ketika Liu Xingsheng hilang. Berdiri seperti boneka dengan mata tertutup.


"Perdana Menteri Liu?" panggil Yi Hua sambil menyentuh lengan Liu Xingsheng.


Masih hangat.


Liu Xingsheng masih hidup, walau masih berada di ambang bawah sadarnya.


Ketika Yi Hua ingin menarik Liu Xingsheng untuk keluar dari peti. Sebilah jarum perak melesat di sampingnya. Dan, Yue Yan yang jelas memiliki mata khusus, melihatnya. Yue Yan mendorong Yi Hua sehingga jarum itu menempel di pinggir peti.


Mereka menatap ke belakang. Tepatnya pada Selir Qian yang menyerang mereka. Wanita ini sejak tadi ada di sekitar mereka. Ia mengintai hingga yang lainnya menemukan Liu Xingsheng, dan beraksi.


"Selir Qian, kami di sini ingin menyelamatkan Perdana Menteri Liu," cegah Yi Hua yang membelokkan tangan Selir Qian.


Jika terkena pukulan dari jemari Selir Qian, mungkin Yi Hua akan langsung tak sadarkan diri. Hal tersebut biasa digunakan dalam pengobatan tradisional. Dimana para tabib bisa menekan titik tidur atau titik sakit dari orang lain, sehingga meski dibelah dengan pedang pun tak akan sakit.


Selir Qian jelas adalah orang yang menguasai hal tersebut.


Selir Qian mendengus. "Setelah semua yang terjadi, apa kalian akan membiarkan kami?" tanya Selir Qian dengan wajah mengejek.


Benar.


Setelah tindakan Selir Qian yang menimbulkan masalah-masalah baru, kini Raja Li Shen pun tak akan bisa melindunginya. Bahkan kekacauan di Pusat Kota pun masih masuk dalam campur tangan Selir Qian. Belum lagi dengan fakta jika Selir Qian memalsukan identitasnya di Kerajaan Li.


Raja Li Shen tak terlihat dari seberang. Mungkin pria itu tengah berurusan dengan tentara tengkorak milik Bao Jiazhen. Wei Wuxie dan Ling Xiao pun tak terlihat.


SRET!


"Berikan Lingkaran Mawar itu, Yi Hua!" perintah Selir Qian dengan mata marah.


Yue Yan yang ingin menyerang segera dihentikan oleh suara aneh.


Suara lolongan seperti serigala?


Huh?


Bagaimana bisa ada serigala di wilayah lautan? Ini dia tersesat atau beradaptasi menjadi ikan?


Dan benar saja ... Setelah lolongan itu, seekor serigala gemuk dengan mata merah melompat ke arah Yue Yan. Pria itu sempat mendapat cakaran di lengannya. Yi Hua juga mengeluarkan sarung pedang Li Wei miliknya untuk memukul kepala serigala yang melompat ke arahnya.


Ini bukan tentara tengkorak Bao Jiazhen. Lalu, ini serigala liar? Tapi mengapa hanya Yue Yan dan Yi Hua yang diserang.


Yi Hua menajamkan penciumannya. "Apa kau menciumnya?" tanya Yi Hua pada Yue Yan yang berusaha menahan wajah serigala yang sudah ingin menerkam tubuhnya.


"Aku tidak buang angin, Yi Hua!"


Bisa-bisanya kepala keluarga ular ini bercanda!


Yi Hua ingin menendang Yue Yan sampai ke ujung dunia. "Maksudku ada aroma seperti daun yang terbakar."


Yi Hua pernah mencium aroma ini, dan ia ingat situasi yang juga sama. Itulah mengapa ingatannya bisa muncul. Karena dahulu ia pernah mengalami hal yang sama. Saat muncul aroma ini, maka serigala kesurupan ini akan datang.


Iya benar. Saat dirinya berada di Perburuan Malam di Pelatihan Awan. Dahulu Yi Hua tersesat dan berkisah dengan Wei Wuxie serta Zhang Yuwen di dalam Labirin Batu. Saat itu ... Dia memang bertemu dengan sekumpulan serigala.


Mengapa situasi ini bisa sama lagi?


Masalahnya adalah ... Dahulu bahkan mereka belum mengenal Selir Qian. Sehingga tak ada urusan jika Selir Qian dengan rajinnya mengganggu Perburuan Malam milik Pelatihan Awan. Salah-salah Selir Qian mungkin masih baru bisa berjalan saat Li Wei dan kawan-kawannya di Pelatihan Awan.


Adiknya Li Shen saja masih kecil juga.


Juga ... Tragedi Bao Jiazhen juga pasti belum terjadi. Lalu, mengapa ada serigala-serigala(an) ini di saat mereka berada di wilayah Bao Jiazhen?

__ADS_1


Yue Yan melempar batu ke arah Yi Hua untuk menyadarkannya. "Apa ini waktu yang tepat untuk melamun?"


Yi Hua terlalu terlarut dengan pemikiran di kepalanya. Hingga ia lupa jika sekarang tangannya sedang menahan rahang serigala. Yi Hua memukul perut serigala itu dengan ujung pedang.


Serigala itu merintih dengan sedih karena sakit.


Yi Hua melemparkan Lingkaran Mawar ke udara. Sama seperti dulu ia menggunakan sarung pedang itu seperti senjata yang terbang di udara. Lingkaran Mawar itu berputar dan memukul para serigala satu-persatu. Hingga mereka bangkit dan mundur sebagai bentuk antisipasi.


Yi Hua melirik ke arah Selir Qian yang sudah memapah adiknya, Liu Xingsheng.


Akan tetapi, tatapan Selir Qian menunjukkan curiga. "Mengapa kau bisa menggunakan Lingkaran Mawar?" tanya Selir Qian.


Jika bukan pemiliknya, Lingkaran Mawar hanyalah benda mati yang nilainya sama seperti batu. Lagipula Lingkaran Mawar juga tak bisa disentuh dengan tangan kosong. Bahkan sebelumnya Selir Qian harus melapisi Lingkaran Mawar dengan beberapa kain agar dia tak terkena energi.


Namun sekarang Yi Hua menggunakannya dengan lihai. Benda itu juga mengikuti Yi Hua seolah peliharaan yang patuh.


Haduh.


Yi Hua langsung pura-pura kesakitan. "Mengapa benda ini terasa semakin berat?" tanya Yi Hua sambil menyentuh lengannya dramatis.


Namun Lingkaran Mawar ini dengan manisnya meniru kucing. Sarung pedang itu berputar-putar di sekitar Yi Hua beberapa kali. Sejak dahulu Lingkaran Mawar memiliki ikatan dengan Li Wei. Setalah dia aktif kembali, tentu saja sarung pedang itu merindukannya. Sarung pedang itu terus mengelilingi Yi Hua, dan sesekali menggesek lembut pipi Yi Hua, sebelum tersimpan rapi di pinggangnya.


Dasar. Tidak bisa diajak bekerja sama!


Sekarang di sekitar mereka para serigala masih mengeluarkan lolongan nyaring. Walau mereka tak berani mendekat. Aura Lingkaran Mawar yang aktif membuat serigala mengantisipasi. Lalu, Selir Qian yang memapah Liu Xingsheng.


"Berikan Lingkaran Mawar," ujar Selir Qian sekali lagi.


Namun benda ini sudah kembali ke pemiliknya. Dan Yi Hua tak yakin jika Selir Qian bisa mengendalikan Lingkaran Mawar. Untuk sekarang, hanya Hua Yifeng dan Yi Hua yang bisa menggunakan Lingkaran Mawar. Entah bagaimana bisa pengaturan itu terjadi.


Yi Hua menghela napasnya. "Kita bisa menyadarkan Perdana Menteri Liu bersama-sama. Dan serahkan diri Anda, Yang Diberkati Selir Liu."


Baru kali ini Yi Hua memanggil Selir Qian dengan gelarnya.


Selir Qian mengambil beberapa jarum dari balik rambutnya. "Jika seperti itu, maka aku harus memaksa."


SRATTT!!


"Ekkhhh...."


Baru saja Yi Hua bersiap untuk menerima serangan. Mendadak jarum milik Selir Qian terpental dengan tak beraturan. Hal tersebut karena mendadak sosok diam Liu Xingsheng bergerak. Liu Xingsheng bergerak dan tangannya mencekik Selir Qian tepat di lehernya.


Mata Liu Xingsheng terbuka, dan itu tampak kosong.


Apa Liu Xingsheng menjadi mayat berjalan?


"Xing..shenng," ucap Selir Qian sambil berusaha melepaskan tangan Liu Xingsheng yang masih mencekiknya.


Hasil berhasil dari Cangkang Manusia adalah wujud Liu Xingsheng yang sekarang. Namun yang seringkali terjadi dari kegagalan itu ialah mayat berjalan. Mereka yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya bukannya hidup kembali seperti manusia. Melainkan, hanya melahirkan insting ingin menyerang.


Mencari dimana aroma manusia dan detak jantungnya. Kemudian, merobeknya karena ingin memilikinya kembali. Itulah insting monster dari percobaan Cangkang Manusia.


Bubuk mayat mungkin pemicunya. Waktu Liu Xingsheng teracuni bubuk mayat, jiwanya mulai dikenai oleh kutukan mayat berjalan. Sehingga saat semua kesadarannya diambil, dia berpotensi menjadi mayat berjalan.


Dia adalah raga yang hidup, padahal jiwanya sudah mati.


Dan ... Apa sekarang mereka terlambat?


Liu Xingsheng berubah menjadi mayat berjalan.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf baru bisa update lagi. Tau aja kita masih di masa-masa peringatan kemerdekaan. Oleh karena itu, aku ikut di tim voli. Kan lumayan kalau aku masuk di tim, kalo gak ada aku kan gak ada yang buang bola 😂.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


***

__ADS_1


__ADS_2