
SYUNNG ....
SRAT!
Yi Hua menggunakan lengan pakainnya untuk menghalangi debu yang naik ke udara. Sebenarnya itu bukanlah hal yang tak terduga. Wilayah Lembah Debu memang selalu berdebu, makanya tempat ini menjadi Lembah Debu.
Mungkin karena jumlah air yang tak begitu banyak serta angin kencang yang selalu melanda Lembah Debu, sehingga debu naik di udara. Sejak mereka mulai memasuki Lembah Debu, Huan Ran menyarankan agar mereka tak menggunakan gerobak sapi ini lagi.
Bukan perkara apa. Akan tetapi, lebih berbahaya jika mereka menggunakan gerobak ini. Belum lagi dengan penglihatan mereka yang tak bisa melihat jelas. Juga, sapi akan kesulitan berjalan di wilayah berdebu seperti ini. Jika sapi mulai terkejut akan sesuatu, mereka akan kesulitan untuk mengendalikan sapi. Yang ada mereka bisa dibawa sapi menuju akhirat lebih dulu ketimbang sampai ke kediaman Ling Xiao.
Huan Ran menutupi setengah wajah Liu Xingsheng dengan sebuah kain panjang. Hingga hanya dahi Liu Xingsheng yang tampak. Tangan Huan Ran menggenggam jemari Liu Xingsheng dengan erat. Mereka tak boleh terpisah di dalam kabut debu ini.
Huan Ran menatap punggung Yi Hua yang ada di depannya. "Kau yakin bisa menemukan kediaman Ling Xiao?" tanya Huan Ran yang mulai ragu pada Yi Hua.
Bukankah Yi Hua memang sering begitu? Dia bermulut besar, tetapi seringkali mendapat sial. Hanya seperti itu yang sering dilihat oleh Huan Ran.
Akan tetapi, Yi Hua menunjuk ke arah depan. "Sebenarnya saya memiliki mata yang istimewa dibanding orang lain. Tenang saja, Perdana Menteri."
Namun hanya sebentar Yi Hua menunjuk ke arah depan, matanya langsung perih karena dimasuki debu. Hal tersebut membuat Huan Ran semakin tak yakin. Manusia ini saja otaknya masih diragukan normal atau tidaknya, bagaimana Huan Ran bisa percaya pada arah jalan yang ditunjuk Yi Hua.
Bahkan Huan Ran pernah mendengar cerita dari Liu Xingsheng dahulu. Kata Liu Xingsheng, Yi Hua kadang lupa dimana ia meletakkan barang-barangnya. Bahkan Yi Hua pernah bertanya di mana penutup kepalanya sendiri, padahal penutup kepala itu sudah ia pakai. Belum lagi Yi Hua jika sudah melamun, maka itu akan lama dan ekspresinya berubah-ubah seolah Yi Hua membatin begitu lama*. Juga, terkadang Yi Hua sering bicara sendiri seolah di dalam dirinya ia tak sendirian. Huan Ran tentu saja meragukan kepribadian Yi Hua ini.
^^^*Ini karena Yi Hua sering bicara pada Xiao. Yang terlihat oleh orang lain ialah Yi Hua sering melamun. Atau, jika Yi Hua keceplosan, maka akan terlihat seperti Yi Hua bicara sendiri. Intinya Yi Hua itu sering sekali mengabaikan orang yang bicara padanya. Bukan karena sengaja, tapi karena suara Xiao yang memenuhi telinganya. Ini nih kayak berkepribadian ganda, karena suara Xiao itu hanya bisa didengar oleh Yi Hua.^^^
Aduh-aduh mataku! Aku merasa seperti sapi tengah bercanda ria di mataku! Sakit sekali.
Yi Hua menyeka matanya yang terasa sakit. Rasanya seperti matanya ditaburi oleh kerikil dan debu dalam jumlah banyak. Pada akhirnya, belum memulai perjalanan saja Yi Hua sudah tak bisa melihat apa-apa. Hal tersebut membuat Yi Hua menarik kain pengikat rambutnya. Hal tersebut membuat rambut panjang Yi Hua tergerai sampai ke punggungnya.
SRAT!
Tangan Yi Hua meraih botol minum dari pinggang Huan Ran dengan cepat. Gerakan itu tak ada bermasalah karena Huan Ran juga tak waspada pada Yi Hua. Lalu, Yi Hua menyiramkan kain itu dengan sedikit air. Ia harus berhemat sedikit dalam menggunakan air. Apalagi sisa uang mereka sedikit, karena lebih banyak digunakan untuk menyewa gerobak sapi itu.
Huan Ran yang entah bagaimana, masih bisa melihat dalam debu, berucap pada Yi Hua. "Kau yakin?" tanya Huan Ran yang mengetahui rencana Yi Hua.
SRAT!
Kain itu sudah diikat rapi oleh Yi Hua di matanya sendiri.
Yi Hua tersenyum sombong. Sama seperti biasanya. "Tentu saja. Ini bedanya orang yang bisa melihat secara batin dengan pandangan normal."
Tentu saja Yi Hua membual.
"Xiao, tunjukkan jalan," ucap Yi Hua di dalam hati.
Mau tak mau Xiao hanya bisa mengomel pelan. "Jika aku jadi Huan Ran, maka aku akan mengubur dirimu di Lembah Debu supaya kesombongan itu dimakan oleh tanah."
Yi Hua tertawa sendiri. Ia hanya berharap Huan Ran tak mendengar suara tawanya. "Yi Hua adalah orang yang penuh kesombongan. Itu yang diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu, biar ku tunjukkan pada orang lain mengapa Yi Hua begitu sombong."
Secara tak sadar ia ingin menjawab setiap hinaan orang lain pada Yi Hua. Yi Hua memiliki tungku iblis dan darah Dewa Phoenix di dalam dirinya. Akan tetapi, karena fisik Yi Hua yang lemah, gadis malang itu tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Ia menyadari hal tersebut.
"HuaHua, meski kau hanya menggunakan sedikit kekuatan, tetapi kau harus berhati-hati dengan emosimu sendiri," ucap Xiao mengingatkan.
Yang ditakutkan dari segalanya ialah Yi Hua tanpa sadar melepaskan kekuatan tungku iblis ke permukaan. Bisa jadi Yi Hua akan menyerap semua energi buruk di sekitar, dan masuk ke dalam tungku, sehingga mengacaukan sistem tubuh Yi Hua yang manusia. Kau tak bisa menyimpan kekuatan yang begitu besar di dalam tubuh manusia. .
__ADS_1
Itu akan menjadi bunuh diri.
Akan tetapi, ... Yi Hua menolak untuk menjadi lemah.
"Tenanglah, Xiao. Aku ini adalah manusia paling sabar dan ramah lingkungan. Juga, aku ini sangat baik hati dan tidak gegabah," ucap Yi Hua dengan santai.
"Bukannya itu kebalikannya?" tanya Xiao histeris. Bukankah makhluk ini semakin lama semakin meragukan?
Namun Yi Hua hanya mengorek lubang telinganya karena teriakan Xiao.
Lebih dari segalanya ... Ini hanya demi kepuasan Yi Hua sendiri sebagai orang yang selalu ditindas.
Hanya agar semua orang tahu bahwa apa yang dialami Yi Hua selama ini, dan mereka tak pantas untuk menghina Yi Hua. Walau ia menyadari bahwa sebaik atau sehebat apapun nantinya Yi Hua, orang yang tak menyukainya pasti akan terus ada.
Mengapa?
Sangat sederhana. Karena manusia itu senantiasa berbeda dan pandai melihat kelemahan orang lain. Meski kau menjadi bentuk paling sempurna dari dirimu, tetapi masih ada akan yang buruk darimu. Saat kau ingin bertindak tak banyak bicara, orang lain akan mengira kau tak tahu apa-apa. Saat kau banyak bicara, maka kau akan dinilai begitu banyak mengatur. Saat kau berusaha mengubah dirimu sesuai dengan bentuk sempurna yang diharapkan oleh individu lainnya, maka di sana kepribadianmu sebenarnya terguncang.
Tidak bisa menjadi diri sendiri.
Oleh karena itu, meski egois dirinya akan tetap menjadi seperti Yi Hua yang angkuh dan banyak bicara ini. Juga ...
SRAT!
Yi Hua menebar kertas jimatnya di udara. Kertas jimat itu terbagi menjadi empat, lebih tepatnya seperti membagi menjadi empat elemen. Hanya agar Yi Hua bisa merasakan 'sesuatu' jika ada yang datang.
Ia tahu Huan Ran bisa melindungi dirinya sendiri, tetapi mereka harus tetap waspada. Ditambah lagi mereka bersama Liu Xingsheng.
Kabut debu dan angin tampak membuat api-api dari kertas jimat itu terlihat seperti menari di udara. Di kala itu Huan Ran seperti melihat sesuatu yang berbeda di dalam diri peramal ini. Yang entah bagaimana ia tak bisa menyadarinya. Bahwa sebenarnya peramal ini tidak biasa.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Huan Ran ketika Yi Hua melangkah berjalan terlebih dahulu.
Berjalan dengan mata yang tertutup, dan Yi Hua sangat yakin dengan langkahnya. Belum lagi dengan kertas jimat yang mengitari mereka. Sehingga muncul sedikit cahaya, sekaligus pelindung mereka jika ada yang menyerang dari luar.
Yi Hua melambaikan tangannya dengan asal. "Saya hanya seorang peramal, Perdana Menteri."
Tentu saja Yi Hua tak berbohong. Dirinya memang hanya mengandalkan ucapan dari Xiao yang lebih berguna dibanding anjing pelacak. Sehingga yang perlu dilakukan Yi Hua hanyalah bertingkah seolah dirinya benar-benar bisa melihat secara batin. Juga, kertas jimat harus terus ada di sekitarnya, karena Yi Hua sangat ingat jika ia punya kenalan lama yang buruk sifatnya.
Ingatlah Yue Yan dan anak-anaknya yang berbisa itu. Itu bukanlah lawan yang mudah diatasi.
Akan tetapi, Huan Ran mendadak mengingat sesuatu. Meski ia tak bisa mengatakannya. Huan Ran hanya bisa memandang punggung Yi Hua yang berjalan terlebih dahulu. Dilihatnya bahwa Yi Hua membawa kayu panjang yang digunakannya untuk membantunya berjalan.
Ia hanya mengingat tentang suatu cerita terkenal di Desa Yi*, seorang Dewa Phoenix yang turun dari langit.
Atau, Huan Ran hanya terlalu banyak berpikir?
^^^* Barangkali ada yang lupa. Itu desa dimana Pohon Phoenix berada. Ingat gak sih di bagian Yi Hua mencari tahu tentang garis keluarganya. Di mana dirinya tanpa sadar menghidupkan Pohon Phoenix, dan mengetahui bahwa ibu kandung Yi Hua adalah Yi Xia, Dewa yang menghilang karena kehilangan kekuatannya. Ada banyak alasan mengapa Yi Xia menghilang, salah satunya adalah karena tercemar oleh manusia. Ingat juga Desa Yi adalah alasan mengapa Hua bermarga Yi. Yi Hua tak mengambil nama ayahnya, Shi Heng, karena sebenarnya Shi Heng diusir dari keluarga karena membawa anaknya yang tak jelas asal-usulnya.^^^
SRAK!
SRAK!
Belum sempat Yi Hua berjalan cukup lama, ia mendengar suara seperti binatang merayap yang akrab. Hal tersebut membuat Yi Hua menghela napasnya lelah. Bukan karena apa, tetapi karena Yue Yan terlalu sinting untuk diajak berdiskusi.
__ADS_1
Sssshhh ...
Lihatlah! Belum apa-apa keluarga ular berbahagia ini sudah menampakkan wujudnya.
"HuaHua, di sebelah kiri!" Xiao kali ini menjadi penunjuk arah yang cepat.
SLAP.
Seekor ular terlempar akibat pukulan Yi Hua dengan kayu. Huan Ran juga menyadari keberadaan ular tersebut, dan mengeluarkan pedangnya. Hanya dalam waktu singkat Huan Ran menyingkir ular-ular yang mengitari mereka.
Tak lama Yi Hua melompat ke arah kanannya, dan menendang ke arah kabut.
PLAP!
Sebuah tangan menangkis tendangan Yi Hua. Hal tersebut membuat Yi Hua berputar di udara, dan nyaris tengkurap di tanah jika ia tak bertompang pada kayu yang ada di tangannya. Yi Hua mengusap pinggangnya yang terasa terpelintir, dan mengarahkan kertas jimatnya menuju kabut itu.
Ular-ular yang takut akan api kertas jimat langsung menjauh dari pemiliknya. Awalnya ular-ular itu mengitari Yue Yan untuk melindungi pemiliknya dari serangan Yi Hua. Akan tetapi, berkat serangan kertas jimat ular itu terpelanting menjauh.
Yue Yan menyerang ke arah tenggorokan Yi Hua dan Yi Hua malah menendang ke permukaan pasir. Akibatnya pasir itu naik ke udara dan mengenai wajah Yue Yan. Akan tetapi, semenjak Yue Yan sudah terbiasa seperti Shen Qibo. Pria itu akan mengikat kain di matanya, dan hanya menggunakan instruksi dari para ular. Yang sialannya hanya Yue Yan yang mengerti bahasa ular itu. Sehingga yang dirasakan oleh Yue Yan adalah rasa perih karena kerikil yang mengenai wajahnya.
Huan Ran melemparkan pedangnya ke arah Yue Yan, dan kecepatan Huan Ran tak main-main. Hal tersebut membuat pedang menggores bahu Yue Yan. Tentu saja Yue Yan juga baru menyadari tentang keberadaan Huan Ran. Entah karena apa.
BRUK!
Yue Yan bergulung untuk menjauh dari Yi Hua. Menghadapi Yi Hua saja sudah seperti menangkap sapi liar. Apalagi ditambah Huan Ran yang juga cukup membahayakan.
Dan, akibat jarak itu ... Yi Hua mengarahkan kayunya tepat ke depan tenggorokan Yue Yan yang masih berjongkok di tanah.
"Dua lawan satu. Curang," ucap Yue Yan dengan senyum meremehkan.
Akan tetapi, Yi Hua yang terbiasa tak tahu diri menendang seekor ular yang diam-diam mendekat ke kakinya. Ular itu terpelanting. Kembali ke pangkuan pemiliknya, Yue Yan.
"Kau tak menghitung anak-anak berbisa milikmu ini?" tanya Yi Hua dengan senyum angkuhnya.
Walau mata Yi Hua ditutupi oleh kain, tetapi Yi Hua dengan tepat menekan kayu itu ke tenggorokan Yue Yan. Tentu saja berkat arahan dari Xiao.
"Oh ... Yi Hua rupanya. Pantas saja seluruh ularku bermimpi buruk. Seorang perusak yang berisik rupanya," sindir Yue Yan dengan tawa sintingnya seperti biasa.
Yi Hua menarik lebih banyak kertas jimat lagi dari pinggangnya. "Jika begitu pasti mereka kasihan sekali. Apa aku perlu membuat mereka tak bisa bermimpi lagi?" tanya Yi Hua dengan kejam.
Huan Ran mulai menyadari bahwa Liu Xingsheng benar. Ia ingat bahwa Liu Xingsheng sering mengatakan jika Yi Hua itu sering menindas dan juga sangat kejam ucapannya. Dan, sekarang Huan Ran melihatnya sendiri.
Peramal kecil ini memang kejam dan angkuh.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
adios~
__ADS_1