Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 5: Kematian Selir Mo Jiao


__ADS_3

Ketika sampai di pasar, Li Wei menyeret Hua untuk masuk ke sebuah rumah makan. Biasanya Li Wei hanya bisa melewati tempat ini setiap kali ia berjalan-jalan. Alasannya tentu saja karena ia tak bisa mengunjungi tempat ini bersama para pelayan dan pengawal yang biasanya mengikutinya. Yang ada dia akan mengganggu aktivitas di pasar.


Tidak lucu jika saat tengah makan di sini semua orang menundukkan kepalanya karena kehadiranku.


Tapi sekarang dia tengah menyamar, sehingga ia tak akan takut jika ada yang mengenalinya. Setelah duduk di salah satu bangku kayu, Li Wei langsung mengangkat tangannya. Hua hanya memperhatikan dalam diam.


Memang sudah ciri khas pria itu untuk tak banyak bicara. Sehingga Li Wei juga tak mempermasalahkan tentang semua itu. Lalu, gadis itu memesan beberapa hidangan untuk dirinya dan Hua.


Walau ... Yah, yang makan hanyalah Li Wei.


"Tak usah malu-malu, Tuan Hua. Anggap saja sedang makan dengan uang sendiri," ucap Li Wei santai.


Hua hanya menyesap tehnya dengan damai dan sejahtera.


"Apa Anda main belakang agar bisa menjadi guru di sana?" tanya Li Wei tanpa berbasa-basi lagi.


Suaranya cukup keras hingga beberapa orang yang duduk di dekat mereka mendengarkan. Meski mereka tak memahami apa yang Li Wei dan pria pendiam di depannya bicarakan, tetapi ia hanya tahu jika Li Wei cukup bermulut 'cepat'. Lagipula, apa ada orang berani bertanya secara frontal seperti itu?


Namun yang bicara nyaring malah dengan tak tahu dirinya menggigiti daging yang ada di tangannya. Sepertinya Li Wei cukup menikmati waktu jalan-jalannya ini. Apalagi mendapat makanan gratis.


Yah, ini tak gratis sepertinya. Aku harus menjual ayam peliharaan ku agar mendapat uang.


Ibunya yang Permaisuri itu juga tak pernah memberi Li Wei uang. Lebih tepatnya uang dan perhiasan memang milik Li Wei, tetapi ia tak pernah menyimpannya. Semuanya diatur oleh pelayan, dan Li Wei hanya perlu hidup seperti bunga mawar yang indah. Sayangnya, anak gadis semata bijinya ini lebih susah diawasi ketimbang memelihara makhluk halus.


Itulah asal-mula dari Li Wei yang anak Raja, tetapi tak pernah membawa uang di sakunya.


Baiklah. Kembali lagi pada Li Wei yang masih berusaha mengajak Hua bicara. Kali ini Li Wei membagi rotinya menjadi dua. Satunya ia letakkan di piringnya, dan sisanya pad piring di depan Hua.


"Lagipula, saya pikir Anda tak terlalu menyukai Kerajaan," ucap Li Wei yang menatap Hua serius.


Hua mengangkat sebelah alisnya. "Aku hanya mengikuti pelatihan lagi, dan lulus."


"Maksud saya adalah mengapa mengikuti pelatihan lagi? Biasanya Anda tak perduli pada hal yang seperti 'ini'?" tanya Li Wei sambil mengusap bibirnya yang terasa berminyak. Mungkin Li Wei terlalu buas sebelumnya.


"Hanya karena ingin memiliki sesuatu."


Mendengar jawaban Hua, Li Wei hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah memahami, padahal dia tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria ini. Sejatinya Li Wei tak merasa perlu tahu apa yang diinginkan oleh orang lain.


Biarkan orang lain mencapai apa yang diinginkan. Tanpa perlu diucapkan pada siapapun, Li Wei yakin Hua akan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Li Wei entah bagaimana mempercayai jika Hua memiliki tekad.


Baru saja Li Wei mengambil sumpitnya lagi, dan mengambil makanan di atas meja, sebuah pisau kecil muncul di hadapannya. Menuju ke arah sumpitnya, dan membelah sumpit kayu yang digunakan oleh Li Wei. Bahkan gadis itu harus memundurkan kepalanya agar tak terkena 'cium' oleh mata pisau yang kejam itu.


Aku bahkan belum selesai makan ....


Hua yang ingin bangkit dari duduknya segera terhenti ketika melihat Li Wei memberi isyarat agar ia berhenti. Bagaimana pun Li Wei sangat tahu bagaimana hebatnya Hua dalam bertarung. Sehingga dalam hal ini Hua tak perlu ikut campur.


Sebab, yang datang adalah ...


"Jadi, kau melarikan diri dari istana karena ingin bertemu pria berwajah datar ini? Berani sekali kau membangun hubungan di belakang mata ibumu ini!" Suara kejam itu seperti pertanda genderang perang.


Tanpa menoleh ke arah pelaku pun Li Wei sudah tahu siapa yang datang.


Salah satu makhluk terkuat di muka bumi ini.


Siapa lagi jika bukan Permaisuri kejam dari Raja Li, Ibu Li Wei.


***


Pangeran Li Jun berjalan dengan kebanggannya sendiri. Sehingga ia seringkali menaikkan dagu, dan enggan merendah. Beberapa murid yang berpapasan dengan Li Jun berhenti sejenak untuk memberi penghormatan. Dan, Li Wei hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


Di belakangnya diikuti oleh seorang pengawal berwajah seperti tukang jagal di pasar. Mungkin jika seorang anak kecil melihat wajah galaknya, mereka akan trauma. Yah, sejatinya memang seorang pengawal harus seperti itu.


"Dimana Selir Mo?" tanya Li Jun dengan nada angkuh.


Pria itu baru saja selesai melakukan pemeriksaan di Pelatihan Awan. Bagaimana pun Li Jun adalah seorang penanggung jawab di Pelatihan Awan. Ia harus memastikan semua murid dan aturan Pelatih Awan masih berjalan seperti yang sudah ditetapkan.


"Sebelumnya Selir Mo tengah berjalan-jalan, Pangeran. Saya pikir Selir berada di bangunan depan," jawab pengawalnya itu dengan tegas.

__ADS_1


Li Jun menganggukkan kepalanya. Keduanya menuju ke bangunan depan dari Pelatihan Awan tanpa ada firasat apapun. Akan tetapi, ketika mereka sampai ke bangunan depan, Li Jun menyadari jika muncul keramaian di sana.


Pria itu mengerutkan keningnya. Terutama ketika melihat seorang guru, yang biasanya mengajar politik, menghampiri mereka. Di tengah keramaian itu Li Jun tak melihat kehadiran Ling Xiao, atau pun Hua.


Yah, baru-baru ini Li Jun menerima kabar itu dari Ling Xiao. Itulah salah satu alasan mengapa Li Jun mendatangi Pelatihan Awan. Sayangnya, dari Ling Xiao sendiri, Li Jun mengetahui jika Hua sedang keluar.


"Berikan seluruh kerendahan hati Pangeran pada hamba. Nyawa hamba berada di tangan Pangeran," ucap pria itu dengan nada yang sangat bergetar.


Kembali lagi pada guru yang terlihat berkeringat dingin itu. Pria setengah baya itu bahkan dengan bergetar langsung bersujud di hadapan Li Jun. Hal tersebut membuat Li Jun memberi isyarat pada pengawalnya untuk memeriksa. Guru setengah baya ini terlalu takut untuk mengatakan apa yang terjadi. Sehingga Li Jun harus melihat sendiri apa yang tengah terjadi.


SRET!


Ketika pria itu mendekat, seketika kerumunan itu membuka jalan. Mereka menunduk untuk memberi penghormatan, dan terlihat berwajah pucat. Seperti telah melihat sesuatu yang menakutkan. Ditambah lagi dengan kedatangan Li Jun ini.


"Ada apa?" tanya Li Jun pada pengawalnya yang tengah memeriksa seseorang.


Seseorang?


Li Jun melihat seseorang yang tengkurap di lantai. Ada simbah darah di sekelilingnya, dan Li Jun tahu semua itu berasal dari luka besar di punggungnya. Jelas sekali orang ini ditebas dari belakang dengan benda tajam.


Pembunuhan.


Hanya saja ...


Li Jun mengenali sosok itu, meski hanya dari belakang. Belum lagi ... Ini adalah Pelatihan Awan. Tidak ada wanita di sini, bahkan guru pun tak ada yang seorang wanita. Lagipula, hanya ada satu orang kecantikan yang masuk ke Pelatihan Awan, tetapi Li Jun tahu jika orang yang tewas ini bukanlah Li Wei.


Juga, Li Wei tak ada di Pelatihan Awan lagi.


"Pangeran, Selir Mo Jiao sudah tewas," ucap pengawal itu memberikan laporan.


Mata Li Jun menjadi tajam. Ia segera menuju ke arah wanita yang bersimbah darah di tanah itu. Dengan cepat Li Jun membaliknya. Dan, memang benar yang tewas di sana ialah Selirnya.


Selir Mo Jiao bahkan terlihat sangat terkejut di saat kematiannya. Mungkin wanita malang ini tak menyangka jika hidupnya akan segera berakhir. Atau, memang dia dibunuh secara mendadak, tanpa bisa membela diri.


Li Jun mengulurkan tangannya untuk menutup mata pendampingnya itu.


Siapa yang berani menghinanya dengan cara membunuh Selirnya ini. Bahkan di saat Pangeran Li Jun berada di tempat yang sama. Pembunuh ini benar-benar menantang Pangeran Li Jun.


Mendengar pertanyaan Li Jun jelas tak ada yang berani mengatakan apa-apa. Lalu, Li Jun meraih salah satu murid di sana secara acak. Tentunya ia meraih pakaian dari murid yang paling dekat dengannya. Menatapnya dengan pandangan seperti ingin membunuh.


"Aku bertanya ... Bagaimana bisa wanita ini terbunuh di tempat ini? Dan, kalian tak tahu!" bentak Li Jun tanpa memperdulikan ketakutan dari orang yang diajak bicara.


Bahkan ruangan tempat mayat Selir Mo Jiao ini ditemukan cukup dekat dengan ruang belajar. Mustahil mereka tak bisa mendengar jeritan Selir Mo, atau bahkan suara berisik dari tindakan pembunuh ini. Apalagi ruangan ini adalah tempat penyimpanan perlengkapan pelatihan. Seperti boneka jerami untuk latihan memanah, serta senjata seperti pedang, tombak, dan panah.


"Kami hanya .... me ... nemukan Selir Mo dalam keadaan seperti ini, Pangeran. Moh ...on kerendahan hatinya. Kami tak tahu apa-apa," ucap orang yang ditarik oleh Li Jun dengan terbata-bata.


Melihat dari keadaannya, Li Jun tahu Selir Mo Jiao baru saja terbunuh. Bahkan darah yang mengalir pun masih terlihat segar, dan tubuhnya baru saja mendingin. Li Jun memperhatikan di sekeliling mereka.


Lalu, pria itu melempar orang yang sempat ditariknya itu. Hingga murid itu terduduk di tanah dengan keras.


BRUK!


"Dimana pelayan yang bersama Selir Mo?" tanya Li Jun yang mengingat jika Selir Mo selalu bersama dengan pelayan pribadinya. .


Pengawal pribadi Li Jun segera memeriksa ke sekelilingnya. Akan tetapi, ia tak menemukan gadis pelayan itu. Sehingga pengawal tersebut segera melaporkan. "Pelayan yang bersama Selir Mo Jiao tidak ada, Pangeran."


Apakah pelayan itu melarikan diri?


"Cari pelayan itu sampai dapat. Juga, ... Temukan siapa orang yang bertemu dengan Selir Mo terakhir kali," perintah Li Jun dengan nada keras.


"Segera!"


Pria pengawal tersebut memberi penghormatan pada Li Jun. "Baik, Pangeran."


Siapapun pihak yang melambangkan perseteruan dengannya harus mendapat balasan yang sama. Itulah yang Li Jun pikirkan.


Li Jun melirik singkat pada mayat Mo Jiao yang menyedihkan. Setelah itu, Li Jun berniat untuk menghampiri wanita yang baru saja menjadi Selirnya itu, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Ling Xiao yang baru datang. Li Jun mengalihkan pandangannya. Membuang semua yang ia sebut kelemahan, termasuk rasa cintanya sendiri.

__ADS_1


"Maaf atas keterlambatannya, Pangeran Li Jun. Hamba sungguh tak menyangka jika ini akan terjadi di ruang gudang pelatihan," ucap Ling Xiao dengan penghormatannya.


Ling Xiao berlutut di depan mayat Selir Mo Jiao, dan memberikan penghormatannya juga. "Manusia memiliki rencana untuk masa depan, tetapi kematian juga bagian dari masa depan."


Itu adalah bagian dari kehidupan. Ironis sekali.


Li Jun menatap tajam pada Ling Xiao. "Saya akan membicarakan ini di Pengadilan Tinggi."


Ling Xiao jelas tak bisa menghalangi Li Jun. Bagaimana pun pembunuhan seperti ini memang perlu ditindaklanjuti. Dari mayat Selir Mo Jiao, Ling Xiao bisa menilai jika Selir ini ditebas dari belakang. Ada seseorang yang membunuhnya.


Dan, lebih dari segalanya, ini memang seperti tantangan. Alih-alih menutupi perbuatan sendiri, pembunuh ini malah membunuh dengan cara yang sangat sederhana. Membunuh dan melarikan diri.


Hanya ada dua kemungkin.


Pertama, pembunuh ini amatir dan ketakutan. Sehingga ia tak memilih lagi tempat untuk membunuh, atau berusaha menutupi kematian Selir Mo Jiao. Lalu, setelah membunuh pun segera melarikan diri.


Kemungkinan ini paling besar terjadi pada pelayan yang mengikuti Selir Mo Jiao. Itu pun jika mereka menemukan pelayan itu hidup-hidup. Siapa yang bisa menduga jika pelayan itu mungkin sudah mati juga. Hanya saja diletakan di tempat yang berbeda.


Lalu, kemungkinan kedua.


Ini adalah cara untuk menantang kerajaan, lebih tepatnya Li Jun.


Membunuh seorang Selir, tanpa takut untuk diselidiki. Pembunuh ini mungkin sengaja membunuh seperti sangat amatir, tetapi itulah letak permainannya. Pembunuh ini ingin menampilkan bagaimana kerajaan bahkan tak bisa mengatasi masalah ini.


Tentu saja semua itu hanyalah bagian dari kemungkinan.


"Pangeran Li Jun, seorang murid mengatakan jika orang terakhir yang ditemui oleh Selir Mo Jiao adalah Jenderal Wei Wuxie," ucap pengawal yang baru saja kembali.


Pangeran Li Jun mengerti keningnya. "Mengapa Jenderal Wei Wuxie ada di Pelatihan Awan?"


Seseorang yang seharusnya lebih banyak berkecimpung dalam pertahanan kerajaan berada di Pelatihan Awan. Itu bukanlah hal yang aneh. Akan tetapi, Kerajaan punya aturan, sehingga keberadaan seorang Jenderal juga memerlukan izin.


Li Jun sangat ingat jika tidak ada perintah apapun dari Kerajaan tentang ini.


"Dimana Jenderal Wei sekarang?" tanya Li Jun dengan tatapan tajamnya.


Kali ini Ling Xiao yang menjawab. "Jenderal Wei sudah kembali bersama seorang pengawalnya."


Sebentar ...


"Bukankah Peramal Ling mengatakan jika tamu yang datang adalah tiga orang?" tanya Li Jun lagi untuk memastikan.


Li Jun tentu saja mendengar jika Ling Xiao kedatangan tamu. Walau ia tak tahu dengan jelas siapa saja tamunya. Sehingga ia baru tahu jika yang datang adalah Jenderal Wei.


Akan tetapi, jika Wei Wuxie kembali bersama seorang pengawal, dimana satu orangnya lagi?


"Tangkap Wei Wuxie dengan dua orang pengawal yang bersamanya," perintah Li Jun sambil berjalan untuk kembali ke istana.


Li Jun hanya menatap wanita yang ia cintai itu untuk terakhir kalinya. Mencintai adalah hal yang wajar. Namun untuk seseorang yang sudah mati, lebih baik untuk dilupakan.


"Urus wanita itu, dan beri penghormatan terakhir sebelum jiwanya pergi ke langit," ucap Li Jun sekali lagi.


Kali ini ia meminta pada Ling Xiao. Dan, pria peramal itu dengan tenang menerima perintah.


"Baik, Pangeran Li Jun."


Sekarang ... Satu sisi mulai menampilkan keburukan, sehingga lama-kelamaan keburukan ini terus menjadi.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2