
Yi Hua mundur ketika Huan Ran sudah memberikan serangan. Bagaimana tidak Yi Hua mundur? Ia hanya takut kaki panjang Huan Ran akan ikut menyapu kepalanya saat Huan Ran berputar penuh sekaligus menendang ke udara. Yue Yan juga mundur dan meninju lurus pada seorang petarung, yang padahal belum sempat kenalan atau apa, tetapi sudah dipukul-pukul oleh Yue Yan. Perawakan petarung itu kecil, dan mungkin pria petarung ini hanya penambah anggota seperti Yi Hua dan Yue Yan saja. Sehingga dengan mudah pria itu terjatuh dengan hidung berdarah.
Ini tak buruk.
Yue Yan yang sinting ini pasti suka memukul-mukul.
"Yi Hua, dua orang di samping Huan Ran menargetkan dirimu," ucap Xiao yang berfungsi sebagai navigasi.
Hal tersebut membuat Yi Hua mundur sampai ke bagian pagar. Huan Ran menyadari tentang dua orang yang ingin menyerang Yi Hua. Meski Huan Ran kadang kejam, tetapi Huan Ran tidak akan membiarkan Yi Hua ikut dalam pertarungan. Sebab, ia sudah tahu bagaimana hasilnya.
Namun saat Huan Ran ingin melawan dua orang itu, segerombolan lain datang dan seorang petarung wanita meraih bahu Huan Ran. Itu membuat Huan Ran gagal maju untuk melindungi Yi Hua, dan beralih untuk melawan petarung wanita itu. Tentu saja itu mudah untuk Huan Ran lawan.
Yang menyulitkan ialah karena mereka sengaja memisahkan Huan Ran, Yi Hua, dan juga Yue Yan.
Sial!
Jika seperti ini Yi Hua harus bertarung.
Yi Hua lari ke belakang ...
Para penonton bersorak karena berpikir Yi Hua mundur. Akan tetapi, dengan hitungan yang tepat, Yi Hua membiarkan keduanya menyerang bersamaan. Lalu, Yi Hua menunduk hingga kedua orang itu nyaris menabrak pagar. Kaki Yi Hua dengan sopannya menendang punggung mereka berdua hingga mereka benar-benar menabrak pagar. Baru saja kedua orang itu ingin membalas Yi Hua, tangan Yi Hua meraih kepala mereka dan menabrakkan keduanya keras.
Keduanya pingsan dengan merah di pelipis. Tak lama lagi mungkin akan muncul benjol di kepala mereka.
Intinya adalah buat mereka tak sadar diri. Serang langsung di vitalnya agar pingsan, jangan sampai bertarung terlalu lama. Yi Hua, Huan Ran, dan Yue Yan kalah jumlah sehingga lelahnya lebih besar. Jika ingin bertahan mereka tak boleh membuang banyak waktu untuk bertarung.
Yue Yan terlihat cukup kepayahan ketika melawan. Ditambah Yue Yan tak bisa bertarung fisik. Dia biasanya menggunakan ularnya untuk bertarung. Akan tetapi, karena dia menghormati peraturan, dan Yue Yan jelas takut jika Huan Ran mencekiknya karena membuat mereka tereliminasi, makanya Yue Yan harus menahan diri ketika harus bertarung seperti ini. Bahkan punggung tangan Yue Yan sudah memiliki jejak darah di sana.
Namun yang perlu diapresiasi tentang Yue Yan adalah rasa sombongnya untuk tak kalah. Sama seperti pertarungannya dengan Shen Qibo dahulu. Ia tahu bahwa ia akan kalah, tetapi dia tetap memukul seperti anak kecil berkelahi.
Dan Yi Hua bisa berkelahi tanpa terluka. Ha ... Ha .. Dia memang berbakat.
BUGH!
Baru saja Yi Hua ingin berbangga diri karena sudah menumbangkan dua orang, sebuah pukulan keras mengarah ke rahangnya. Pukulan itu sangat keras hingga telinga Yi Hua berdenging layaknya dimasuki serangga. Yi Hua ingin mengusap telinganya, tetapi ia mencium bau darah di atas mulutnya. Mungkin hidungnya yang berdarah.
S*al! Xiao, kenapa tidak memberitahuku jika ada orang yang menyerang?!
Bagaimana pun Yi Hua harusnya tahu jika tubuh ini memang sangat rapuh seperti rambut rontok!
Xiao ... Apa suaramu sudah dimakan sapi?
Akan tetapi, tak ada suara dari Xiao lagi. Hal tersebut membuat Yi Hua mengedarkan pandangannya. Ia memahami suasana ini, dan menolehkan kepalanya ke sekelilingnya. Dan ia mendapati jika tak ada satu pun orang yang mendekat padanya.
Bukan karena mereka takut atau apa, tetapi itu karena ada seorang penyerang baru yang datang.
BUGH!
Pandangan mereka teralih pada Huan Ran yang lagi-lagi menjatuhkan musuhnya. Kali ini Yi Hua melihat lawan yang malang itu terbaring dengan mulut berbusa. Mungkin Yi Hua harus menyanyikan bait suci untuk pria itu, karena perihal baiknya adalah ... Kepala pria itu patah dan dia mungkin akan lumpuh selamanya. Jika itu buruk, maka pria ini tak akan bangun lagi.
Namun yang membuat perkelahian mendadak terberai bukanlah karena Huan Ran saja. Melainkan seorang pria dengan pakaian serba hitamnya melompat ke arena. Aroma seperti daun mint dan bunga hutan tercium. Yi Hua mendadak terpaku.
"Mengapa ada petarung baru?" teriak mereka tak terima.
Ini sudah melanggar ketentuan dari tarung bebas ini. Ditambah lagi orang yang masuk dalam pertarungan jelas-jelas bukan orang yang sederhana. Sebab, manusia biasa mana yang bisa melemparkan orang lain hanya dengan menjentikkan jari ke dahi?
Pertarungan Phoenix memerlukan tarung fisik. Bukan kekuatan menakutkan seperti itu.
SRET!
BAK!!
Hey, sebentar! Bukannya orang ini terlihat sangat berbahaya?
Tanpa sadar mereka menghentikan pertandingan. Orang-orang yang tersisa dan masih hidup di arena mundur secara perlahan. Meninggalkan sekitar dua puluh orang yang sudah tergeletak di arena, entah hidup atau mati. Bahkan Yue Yan, yang awalnya sudah dikeroyok, mendadak mereka semua bubar. Menjauh dari tengah arena.
Menyisakan empat orang di sana. Huan Ran, Yi Hua, Yue Yan yang sedang mengusap wajahnya yang memar, dan pendatang baru__ Hua Yifeng.
Selain itu, ...
Huan Ran yang tengah berdecih sambil memegang bahunya. Hal tersebut membuat Yi Hua menyadari jika Huan Ran terluka. Tatapan Yi Hua menuju ke Huan Ran, dan mengerutkan keningnya.
Bagaimana bisa Huan Ran terluka seperti itu?
Mereka sedang bertarung secara fisik, tetapi luka Huan Ran seperti bukan karena terpukul atau dicakar. Itu adalah luka besar seperti ...
"Dasar pengacau," decih Huan Ran yang tahu jika mereka gagal menjadi pemenang di arena.
Sudah susah payah dibuat agar penonton bertarung habis-habisan, tetapi semuanya dikacaukan oleh Hua Yifeng. Yang kali ini Hua Yifeng hadir dalam wujudnya yang sebenarnya. Tentu saja tak begitu banyak yang tahu tentang siapa orang yang baru datang itu.
__ADS_1
Jika mereka tahu yang datang Hua Yifeng, maka yang lainnya tak akan berani ada di arena lagi. Mereka memilih pura-pura sinting dibanding harus melawan Iblis Kehancuran.
Juga, ... Mengapa Hua Yifeng memutuskan ikut campur dalam tarung bebas?
Hua Yifeng menatap Huan Ran dengan tatapan merendahkan. "Kau tidak becus bertarung."
"Apa katamu?!" tanya Huan Ran yang menjadi temperamen jika berhadapan dengan Hua Yifeng.
"Kau membiarkan rekanmu terluka," ucap Hua Yifeng dengan singkat dan dingin.
Terluka?
Yi Hua mengusap bibirnya dari balik cadar hitam yang ia pakai.
Orang ini ... Jangan bilang dia ...
Huan Ran mendengus marah, "Sejak kapan kau menjadi perduli?" tanya Huan Ran tak kalah dingin.
"Tak berguna. Harusnya aku membunuhmu segera," balas Hua Yifeng.
Tentu saja Huan Ran tidak terima dengan semua itu. Hal tersebut membuat pria itu menuju ke arah Hua Yifeng untuk menyerangnya. Hua Yifeng yang diserang segera menahan pukulan Huan Ran dengan telapak tangannya.
Keadaan tersebut membuat Yi Hua hanya bisa mengeluh kesal. Hey, ini jadi mau mengumpulkan uang atau tidak?! Tetap pada penyamaran lah!!
Apa mereka tak tahu jika bibirku hampir pindah ke kaki karena sakit? Dan mereka sekarang ingin bertengkar?!
Dahulu saat Hua Yifeng jadi An, dia juga sering bertengkar dengan Huan Ran. Sekarang saat Hua Yifeng tak menyamar lagi... Tunggu dulu ... Apa itu berarti Huan Ran juga tahu bahwa Hua Yifeng adalah An?
Huh?
Mendadak Yi Hua pusing menyimpulkan ini semua.
Huan Ran adalah orang kerajaan dan Hua Yifeng adalah musuh kerajaan.
Jika Huan Ran sudah tahu siapa 'An' yang selama ini berdandan ria sebagai pengawal, mengapa dia membiarkannya ada di kerajaan? Walau Huan Ran selalu sinis, tetapi selama ini Yi Hua mengira karena Huan Ran memang tak cocok bergaul dengan An.
BUGH!
Yi Hua yang ingin bertanya pada Xiao mendadak berhenti ketika ingat jika Xiao tak aktif. Hua Yifeng ada di sini, maka Xiao yang 'keluar' dari komunikasi Yi Hua. Ini sangat tak ilmiah!
Hal tersebut membuat Yi Hua menghela napas kesal. Yue Yan tak terlihat ingin menghentikan Huan Ran yang tengah bertarung dengan Hua Yifeng. Bukan hanya Yue Yan, tetapi yang lain juga tak berani. Sebab, pertarungan itu sangat sengit dan terlihat seperti tidak menggunakan banyak tenaga. Bahkan saat lengah Huan Ran mengalirkan darah ...
Tunggu!
Ketika Yue Yan melihat Yi Hua yang ingin menyerobot maju, Yue Yan segera menarik lengannya. "Kau gila! Jika kau menghentikan mereka dan masuk ke tengah mereka, maka kau akan mati!" teriak Yue Yan menyadarkan Yi Hua.
Siapa yang mau terkena pukulan salah satu dari kedua orang yang bertarung itu?
Mereka sudah melihat tendangan Huan Ran yang membuat beberapa orang mengalami pendarahan parah. Juga dengan pukulan Hua Yifeng yang ringan, tetapi yang terkena pukulan akan terbang seperti ditiup angin topan?
Namun mereka tak punya waktu untuk bermain-main.
Mereka di sini sudah beberapa hari. Entah berapa lama lagi Liu Xingsheng bisa bertahan. Ling Xiao pernah berkata jika sebuah tubuh tak akan 'segar' lagi tanpa jiwa. Salah-salah tubuh Liu Xingsheng akan membusuk dan mengelupas dagingnya, walau napasnya masih ada. Itu adalah kutukan Tengkorak Putih.
Jika diperlambat lagi Yi Hua takut ...
SRET!
"Berhenti."
Tanpa sadar Yi Hua berlari ke arah tengah arena. Tepatnya pada Hua Yifeng yang melayangkan pukulan, dan Huan Ran yang juga tengah memukul. Yi Hua tepat berada di tengah, dan Yi Hua bisa merasakan angin dari pukulan kedua orang ingin.
"Yi Hua, awas!" teriak Yue Yan yang sudah membayangkan betapa hancurnya wajah Yi Hua jika kedua pukulan itu mendarat.
SRET!
Akan tetapi, pukulan Hua Yifeng berhenti di udara dan begitu juga dengan Huan Ran. Tapi tangan Huan Ran sudah sempat menyenggol kain penutup wajah Yi Hua. Hal tersebut membuat kain itu terlepas setengah, dan menampilkan wajah putih Yi Hua yang agak pucat.
Mata Yi Hua tertutup pertanda bahwa dia sebenarnya juga takut.
BRUK!
Dalam ketegangan itu, Yi Hua merasa lemah di kakinya. Dan ia tersembab ke lantai arena yang dipenuhi percikan darah.
Hampir saja aku menjadi Yi Hua Tumbuk!
Hua Yifeng yang melihat Yi Hua tersembab di depannya langsung berubah ekspresinya. Awalnya kata Hua Yifeng begitu dingin, dan kini wajahnya menampilkan kekhawatiran. Sedangkan Huan Ran, tetap dingin seperti biasanya.
Hua Yifeng membungkukkan tubuhnya untuk membantu Yi Hua berdiri, tetapi ...
__ADS_1
SLAT!
Sebuah panah tipis menyentak ke arah mereka. Kali ini Hua Yifeng menangkisnya dengan pedangnya yang terbang di udara.
Pedang Li Wei yang tidak diketahui dimana sarung pedangnya.
"Itu pedang Li Wei!" teriak beberapa orang lain dengan ketakutan.
Pedang yang sangat terkenal dengan sifat membunuhnya yang kejam. Jika menyayat kulit sedikit saja, maka kau akan mati karena darahmu akan diserap oleh pedang Li Wei. Bentuknya yang unik, dengan warna hitam legam yang lebih pekat dibandingkan malam. Juga hiasan berwarna merah yang menggantung di ganggangnya membuat mereka mengenal pedang itu.
Sehingga jika pedang itu ada di sana ... Berarti pemiliknya juga ada di sana.
Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.
Tatapan Hua Yifeng terarah tajam pada pemanah. Akan tetapi, pemanah itu malah menatap pada Yi Hua dengan tak percaya. Orang itu memang terkejut karena kedatangan Hua Yifeng, tetapi ia a lebih terkejut pada sosok yang duduk di lantai arena.
"Yi Hua ... Bagaimana bisa kau masih hidup?"
***
BAK!!
"Tuan, ada pengacau di arena!" teriak bawahannya.
Akan tetapi, Tuan yang dimaksud hanya menguap. Ia sudah terbiasa dengan pengacau seperti itu. Namun ia tak menyangka jika Perdana Menteri Kanan, Huan Ran, itu sangat tangguh. Walau selebihnya anggota tim Huan Ran hanyalah omong kosong.
Meski begitu, pertarungan semacam ini tak menarik sama sekali. Ia malah menguap sambil memainkan kalung dengan permata berbentuk burung Phoenix yang tergantung di lehernya. Tatapannya tetap pada pertandingan, dan menatap 'pengacau' yang dimaksud.
Jelas mereka harusnya memukul lonceng untuk menghentikan pertandingan. Sebab, sekarang sudah kacau. Ada pendatang baru, yang entah siapa musuhnya, intinya pendatang baru ini akan memukul siapa saja dengan seenak kepalanya. Hingga pertarungan beralih pada pertarungan pendatang baru dengan Perdana Menteri Kanan, Huan Ran.
Ini aneh, tetapi menarik juga.
Kedua orang itu sepertinya terlahir untuk bertarung satu sama lainnya. Seperti surga sudah menentukan jika mereka berdua akan menjadi musuh. Meski, ... Huan Ran terlihat kepayahan sekarang.
"Kau ingin menghentikan mereka bertarung. Kau mau menjadi mayat tiba-tiba? Tapi tenang saja, jika kau jadi mayat, aku akan membakar uang untukmu setiap tahunnya," ucap pemilik Kerajaan Phoenix itu dengan santai.
"Bukan seperti itu, Tuan."
Pria itu terus memperhatikan pertandingan tanpa perduli pada keributan dari bawahannya itu. Ia juga tak memerintahkan kelompoknya untuk menghentikan pertarungan. Ia jelas malas untuk bertindak sekarang.
Lebih baik ia menunggu salah satu dari dua orang keras kepala itu kalah.
YAP!
SRET!
Ketika salah seorang dari petarung masuk dalam pertandingan itu, tanpa sadar Tuan Pemilik menarik napasnya. Akan tetapi, bukan hanya itu kejutannya. Yang membuatnya tanpa sadar berdiri dari duduknya adalah tentang sosok kecil yang terduduk pucat di lantai arena.
"Hentikan mereka! Jangan biarkan ada yang pergi dari arena," teriak Tuan Pemilik itu dengan pucat.
Bawahannya menatap tak mengerti. "Tadi katanya Tuan ..."
"Aku bilang hentikan mereka!" bentaknya.
Hal tersebut yang membuat salah seorang bawahan menembakkan panah ke arena. Bukan untuk membunuh mereka, tetapi lebih ke menghentikan penyerangan.
"Tuan! Anda mau kemana? Biarkan saya yang meyelesai ..."
Tanpa mendengarkan ucapan bawahannya, Tuan Pemilik keluar dari ruangan rahasianya. Pria itu melompat untuk turun ke arena hingga ia bisa mendekati pada 'sumber' bencana di depannya.
"Yi Hua, bagaimana bisa kau masih hidup?" tanya pria itu yang masih berdiri tak jauh dari Yi Hua.
Tatapan pria itu mengarah pada Yi Hua, dan membuat Yi Hua juga menatap ke arah suara. Ia melihat orang ini, dan Orang ini ... Yi Hua tahu jika waktu akan berlalu dengan cepat. Akan tetapi, masih ada gurat wajah yang sama di sana.
Seseorang, yang jujur saja belum pernah ia lihat saat menjadi Yi Hua dalam beberapa bulan ini.
Sosok yang Yi Hua hanya dengar tentang kabar kematiannya.
Saat melihat kenangan masa lalu Yi Hua asli, dirinya langsung mengenali pria di depannya. Walau usia telah mengubah struktur pipinya dan matanya yang fokus membuat Yi Hua tercenung.
Juga, wajahnya cukup mirip, sehingga ... Pete tak akan salah mengenalinya.
"Kau ... Shi Heng?"
Ayah Yi Hua.
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Maaf ya baru muncul lagi dalam seminggu ini di kantor ada agenda. Sehingga bisa melanjutkan di hari libur ini. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios ~