
"Sebenarnya hidupmu tak pernah berfungsi jika kau cuma menata wajah. Lebih baik perbaiki sikapmu," jawab Yi Hua saat tengah meramal seorang gadis yang datang padanya.
Seperti yang sudah seharusnya dilakukan seorang peramal, Yi Hua sekarang bekerja. Itu semua karena mereka harus berbaur di Desa Yi agar rencana mereka berhasil. Bagaimana pun kerajaan sudah memerintahkan mereka untuk segera kembali.
Gadis yang baru saja mendengar ramalan Yi Hua langsung merenggut. "Kau ini ... Aku bertanya padamu bagaimana peruntunganku. Mengapa kau malah melantur ke sana-sini?" tanyanya tak terima.
"Lebih baik kau karang saja, HuaHua. Gadis ini akan segera mencakar wajahmu jika kau masih bermulut kotor," saran Xiao yang sebenarnya ikut-ikutan lelah dengan mulut Yi Hua yang sebenarnya terlalu jujur.
Nyatanya Yi Hua asli dan Yi Hua yang sekarang ini sama-sama tak bisa meramal. Jika dia memprediksi ke kanan, entah mengapa nanti yang benar ke kiri. Jika dia menyebut nanti buah jatuh dari atas, entah mengapa akan ada keanehan buah yang malah naik ke atas. Entah mengapa setiap kenyataan akan berbanding terbalik dengan ramalan Yi Hua. Seolah Dewa mendengar dulu apa yang disebut Yi Hua, lalu dia akan mengubahnya agar berbeda dengan ucapan Yi Hua.
Mungkin dia sejak awal tak pernah kebagian keberuntungan.
"Sudah ku bilang peruntungan itu bergantung bagaimana kau hidup. Jangan bergantung pada keberuntungan saja. Bagaimana jika suatu saat kau tak beruntung? Hidup itu harus seperti sapi yang terbang. Aneh dan mustahil, tetapi bisa saja terjadi kapan-kapan," ujar Yi Hua yang meraup kantong uang yang diberikan oleh gadis itu.
Meski dia memberikan kantong ini sekaligus, tetapi aku tahu isinya hanya sedikit. Dasar pelit!
Lalu, gadis itu segera pergi dengan kesal. Sebenarnya dia ingin menendang peramal berpakaian putih ini, tetapi dia lebih takut pada seseorang yang berdiri di belakangnya. Yah, itu saja yang membuat Yi Hua tetap duduk di tempat ia meramal ini. Jika tak ada An, maka Yi Hua akan dimusuhi satu desa.
"Selanjutnya ..." ucap Yi Hua sambil menyandarkan kepala ke meja di hadapannya.
SRET!
Seorang gadis dengan gaun biru duduk di hadapan Yi Hua. Wajahnya ditutupi oleh penutup kepala khas wanita pada zaman ini. Awalnya Yi Hua tak begitu perduli, tetapi ketika ia melihat sekilas wajah di balik penutup kepala itu, ia langsung meraih tangan wanita itu.
"Yi Hua ..." Liu Xingsheng yang diam sejak tadi mendadak heran.
Pasalnya baru kali ini Yi Hua terlihat agak berminat dengan seorang wanita. Bahkan sampai menggenggam tangannya. Hal itu juga yang membuat wajah An sedikit berubah.
Meski begitu, Yi Hua segera menarik wanita dengan penutup kepala itu untuk menjauh. Sepertinya mereka memerlukan waktu untuk bicara. Dan, Yi Hua tak menyangka akan bertemu di Desa Yi.
Pada akhirnya, yang tersisa di sana ialah para gadis yang masih mengantri untuk diramal. Mereka menatap punggung Yi Hua dan gadis yang ditariknya itu dengan heran. Meski begitu, mereka tak bisa mengatakan apa-apa. Sebagian dari mereka bubar karena mereka juga sudah mendengar betapa anehnya ramalan Yi Hua. Sehingga ini kesempatan mereka untuk melarikan diri.
Kedua dua Perdana Menteri yang hari ini menyamar sebagai rakyat jelata juga merasa sangat heran.
Kemudian, ...
SRET!
Liu Xingsheng langsung bersembunyi di belakang Huan Ran ketika melihat An bergerak pelan. Seperti yang Liu Xingsheng lihat An hanya menyenderkan tubuhnya di dinding, tetapi entah mengapa auranya seperti ingin mencekik seseorang. Entahlah. Liu Xingsheng sungguh tak ingin berurusan dengan An.
***
"Lepaskan, Yi Hua! Kau tahu tidak kalau tenaga milikmu itu seperti sapi," omel gadis itu ketika genggaman Yi Hua terasa menyakiti tangannya.
Yi Hua segera melepaskan genggaman tangannya ketika mencapai pinggir sungai yang kering. Akibat terlalu semangat, Yi Hua sampai membawa sosok itu pergi terlalu jauh. Walau sebenarnya dia hanya mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Namun ini memang benar!
Yi Hua melipat kedua lengannya di dada. "Kau pikir aku tak akan mengenali dirimu, Ming Fan. Dasar makhluk hilang!" balas Yi Hua dengan nada yang tak kalah tinggi.
Ming Fan menyibak penutup kepalanya untuk menatap Yi Hua. Senyum mengejek muncul di wajah gadis itu. Bagaimana pun dia tak begitu perduli dengan ucapan Yi Hua yang keras itu.
Jika kau sudah akrab dengan seseorang, maka kau akan kehilangan sebagian kesopanan padanya. Seperti kau tak begitu tersinggung saat sahabatmu mengatakan hinaan padamu secara langsung. Sehingga Ming Fan yang sudah terbiasa dikatai Yi Hua 's*alan' dan sebagainya merasa biasa saja.
"Memangnya aku bersembunyi dari dirimu?" tanya Ming Fan agak sinis.
Oh iya. Dia hanya melarikan diri dari Keluarga Ming.
Yi Hua meminta Xiao untuk bekerja lagi. Tatapan Yi Hua tertuju pada pakaian yang dikenakan oleh Ming Fan. Itu sungguh pakaian yang tak pas di badan, karena Ming Fan menggunakan pakaian yang agak besar. Akan tetapi, itu tak bisa menjadi bukti bahwa Ming Fan sebenarnya tengah menutupi perutnya yang membesar.
Bisa saja Ming Fan hanya ingin melarikan diri, dan hanya agar dirinya tak dikenali. Bisa saja, bukan?
"Apakah dia memang sedang mengandung?" tanya Yi Hua pada Xiao. Dia tahu bahwa sistem Xiao ini dapat menelisik ke dalam tubuh manusia.
Xiao menjawab dengan cepat. "Aku merasakan dua jiwa di dalam tubuhnya. Secara sederhana-nya dia memang mengandung. Apa kau tidak penasaran anak itu laki-laki atau perempuan?"
Jika Yi Hua memang ingin memanfaatkan Xiao, dia mungkin bisa menjadi tabib yang lebih hebat dari Selir Qian. Sayangnya, Yi Hua tahu jika Xiao terlalu malas untuk bekerja. Apalagi ditanya-tanya banyak hal. Sehingga ia hanya bisa menghapus pikirannya tentang pekerjaan baru itu.
"Mengapa kau ada di sini?" tanya Yi Hua pada akhirnya.
Ming Fan menghela napasnya. "Aku rasa kau cukup tahu jika Desa Yi adalah desa kecil. Identitas ku bisa tersembunyi dengan baik. Aku tinggal mengatakan jika suamiku sudah tiada, dan memilih tinggal di desa agar biaya hidupnya tak mahal."
"Kau sungguhan ingin melarikan diri, Ming Fan? Kau hanya perlu memberitahuku siapa yang menghamili dirimu. Apa kau mau membiarkan pria busuk itu hidup tenang, sedangkan kau sengsara memelihara anaknya?" Kali ini Yi Hua jelas hanya bertindak sebagai seorang teman.
"Aku tidak sengsara, Yi Hua. Aku tak pernah sebahagia ini selama aku di keluarga Ming."
Jawaban Ming Fan sudah cukup untuk menjelaskan betapa buruknya perlakuan para keluarga besar Ming padanya. Meski begitu, Yi Hua hanya bisa menghela napasnya.
"Dan, ... Mengapa kau bisa ada di sini?"
Kali ini Yi Hua tak bertanya pada Ming Fan. Lebih tepatnya ia bertanya pada sosok yang mengikuti mereka sejak tadi. Ketika di tempat Perayaan Qixi, Yi Hua memang sudah menyadarinya. Ditambah lagi Xiao pasti lebih peka terhadap kehadiran orang lain. Sehingga Yi Hua sangat tahu ada yang mengawasinya.
__ADS_1
Lebih tepatnya, mengawasi mereka. Ia dan Ming Fan.
Ming Fan juga menoleh ke arah Yi Hua menatap. Gadis itu terlihat terkejut kali ini, dan terlihat sekali bahwa Ming Fan tak nyaman dengan keadaan. Terutama saat seorang pria keluar dari balik pepohonan.
Itu adalah Shi Qingnan. Sepupu busuknya.
Hey, apa-apaan dengan situasi ini?
Yi Hua memperhatikan Shi Qingnan dan Ming Fan secara bergantian. Mendadak ada banyak hal yang berputar di otaknya. Terutama saat ia tahu bahwa Ming Fan benar-benar mengandung sekarang.
"Kalian ..." Tunjuk Yi Hua secara bergantian.
Meski Yi Hua adalah 'pria' yang paling dekat dengan Ming Fan, tetapi dia sebenarnya bukan pria. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Yi Hua baru saja terbebas dari penjara Kerajaan. Sedangkan menurut Xiao, usia kandungan Ming Fan saja sudah cukup 'tua'. Itu sudah menjelaskan bahwa Ming Fan telah berhubungan dengan seseorang saat Yi Hua masih di dalam penjara.
"Yi Hua, ini ... Kami ..."
Shi Qingnan tampak bingung. Sama seperti Yi Hua, sehingga Yi Hua tambah bingung. Apa pria ini lupa tentang kegiatan 'bertani'nya bersama Ming Fan? Atau pria ini hanya bingung menyampaikan tentang perbuatannya yang menyentuh wanita milik sepupunya?
Ini bahkan bisa disebut sebagai perselingkuhan! Dan jangan lupa, Shi Qingnan adalah orang yang berteriak seperti sapi kurang diberi makan di depan rumahnya. Itu semua karena Shi Qingnan memintanya untuk bertanggung jawab.
Heh! Apapun makanannya, tetapi yang paling sering terjadi ialah minumannya tetap ludah sendiri.
Ming Fan menjawab dengan cepat. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Shi."
Yi Hua jelas tak akan tertipu dengan wajah canggung Ming Fan.
Yi Hua ingin mengatakan sesuatu, tetapi Ming Fan menggelengkan kepalanya. Seolah Ming Fan tak ingin Yi Hua mengungkit apapun. Ming Fan benar-benar tak ingin Shi Qingnan bertanggung jawab.
Apa yang sebenarnya Ming Fan pikirkan?
Juga, ia sangat ingat bahwa Ming Fan berkata tentang bertemu seseorang dari keluarga Shi. Tentu saja untuk menyelidiki tentang ayah Yi Hua yang misterius itu. Berkat itu Yi Hua tahu tentang garis besar dari kekeringan di Desa Yi. Ia juga tahu bahwa dia adalah anak dari Dewa bernama Yi Xia dan Shi Heng.
Pertanyaannya adalah siapa 'seseorang dari keluarga Shi' ini?
Ming Fan dan dirinya adalah orang yang dikucilkan di keluarganya.
Jujur saja baru kali ini Yi Hua memikirkan kemungkinan ini. Itu semua karena dia menghapus Shi Qingnan dari daftar biawak yang menebar benih sembarangan karena Shi Qingnan itu takut pada perempuan! Mana dia tahu jika Shi Qingnan bisa berdekatan dengan perempuan.
Sungguh ...
Aku ingin membuat judul tentang ini semua. "Bekas Tunangan ku ternyata Berselingkuh dengan Sepupu S*alan ku". Benar itu judulnya!
Xiao terdengar seperti menguap di telinga Yi Hua, "Kau yakin ini perselingkuhan? Kau jelas-jelas adalah orang yang membuat mereka bersama."
Dan, sisanya ... Yi Hua tak tahu.
Baru saja Yi Hua ingin bertanya lagi, ia mendadak mendengar suara keras dari arah Perayaan Qixi. Tanpa mengingat lagi tentang Shi Qingnan dan Ming Fan, Yi Hua langsung menuju ke arah Perayaan Qixi.
Ketika ia sampai di sana, ia melihat lentera-lentera yang menghiasi jalan terbakar. Di sisi jalan ada sebuah rumah yang juga dihiasi dengan api di sekitarnya. Ditambah lagi dengan kekeringan di Desa Yi, sehingga api menjalar dengan sangat cepat.
Entah darimana pusat api yang sebenarnya.
Ketika itu Yi Hua berusaha untuk mencari Kedua Perdana Menteri dan An, tetapi ketiga orang itu tak tampak.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Kemudian, Yi Hua mendengar penduduk Desa Yi yang berlarian berteriak.
"Ini adalah kemarahan dari Dewa Pohon Phoenix! Ini adalah kemarahan," teriak mereka dengan ketakutan.
Hal itu yang membuat Yi Hua jelas merasa bingung. Sebab, dia sangat tahu bahwa Yi Xia telah memudar. Jika pun dia ada, Yi Xia jelas bukan Dewa yang menghancurkan.
Lalu, darimana sunber dari semua kekacauan ini?
SRAT!
Para akar bergejolak di sekitar Yi Hua. Mungkin mereka sekarang telah memiliki keberanian untuk mendekati Yi Hua. Lantaran An tak dekat dengan Yi Hua lagi.
"Ini semua karena Yi Xia telah menghilang. Semua energi buruk menguar di Desa Yi," teriak para akar itu yang tengah kalut.
Yi Hua bertanya pada Xiao tentang itu semua, "Itu jelas hanya kecelakaan, HuaHua. Mungkin seseorang menyenggol lentera api itu hingga mengenai perlengkapan Perayaan Qixi. Akan tetapi, karena kekeringan semuanya mudah terbakar."
Yah, jika memang disangkutpautkan, ini memang karena Yi Xia menghilang.
Padahal penduduk kesusahan untuk mengumpulkan air keperluan sehari-hari mereka, dan sekarang mereka membuang air untuk memadamkan api. Ini jelas sebuah bencana yang cukup pelik.
Jalan satu-satunya adalah turunnya hujan.
Dalam suatu sejarah, pernah dilakukan pemanggilan hujan oleh seorang ahli cenayang. Itu dilakukan saat tak turun hujan dan kemarau panjang dalam waktu yang lama. Masalahnya adalah Yi Hua tak tahu bagaimana cara menurunkan hujan. Biasanya peramal kerajaan bisa melakukannya, tetapi Yi Hua adalah peramal dengan jenis lainnya.
"Xiao, kau adalah sistem, bukan? Berikan aku panduan untuk memanggil hujan!" perintah Yi Hua pada Xiao.
__ADS_1
Xiao mengomel, tetapi dia tetap melakukan seperti apa yang Yi Hua perintahkan. Dia hanya memberikan panduan untuk gerakannya. Bagaimana hasilnya siapa yang tahu.
Akan tetapi, Yi Hua adalah seorang yang memiliki tungku iblis. Dia bisa menangkap energi di sekitarnya. Hanya yang ditakutkan ialah Yi Hua bisa meledak jika tak bisa mengontrol energinya.
Siapa yang bisa menahan energi yang keluar dari diri Yi Hua jika terlepas nanti?
Untuk sekarang hanya ada satu orang yang bisa melakukannya, yaitu Hua Yifeng.
Xiao mengingatkan, "Yi Hua, jika energimu bocor jangan salahkan aku, karena aku sudah mengingatkan."
Meksi begitu, Yi Hua tak punya pilihan lain.
GRAK!
Rumah yang terbakar itu sudah habis dilalap api. Rasa panas mulai menjalari wajah Yi Hua karena dia berada di jarak yang dekat dengan api. Ia harus mengambil tindakan segera.
Yi Hua mendudukkan dirinya ke tanah sebelum memulai pemanggilan hujan. Seperti yang Xiao katakan, itu hanya sejenis tarian doa. Secara penjelasan, Yi Hua memahaminya. Entah bagaimana hasil gerakan dari Yi Hua.
Tangan Yi Hua mengambil seikat bunga yang menjadi hiasan di perayaan. Bunga itu agak layu mungkin karena dia dipetik dari akarnya sebagai hiasan. Belum lagi dengan udara panas di sekitar.
SRAHHH!
Angin meniup agak keras di sekitar mereka. Hal itu membuat orang-orang berhenti untuk berlarian dan panik. Sebab, mereka bisa merasakan energi yang bergolak di sekitar mereka.
Lalu, perhatian mereka terara pada Yi Hua yang berputar di antara angin itu. Akibatnya kelopak bunga bertebaran begitu saja. Gerakan Yi Hua sangat halus dan terlatih.
Padahal Yi Hua sama sekali tak pernah mempelajarinya. Ia tak tahu sama sekali tentang gerakan ini. Bahkan Xiao tak lagi memberikan petunjuk.
Hanya saja ...
Mengapa aku merasa bahwa aku sering melakukan hal ini?
SHHSHH!
Angin lagi-lagi datang mengitari Yi Hua. Seketika itu ia melihat kilasan yang baru pertama kali ini ia lihat. Biasanya ia melihat sesuatu dengan agak buram. Namun kali ini ia melihat dengan agak jelas.
Xiao mengingatkan lagi, "Yi Hua, berhenti! Kau memang bisa memanggil hujan, tetapi kau harus berhenti atau kau benar-benar akan mati."
SRET!
Bukan itu.
Yi Hua merasa seperti baru bangun dari mimpi yang panjang. Pasalnya baru kali ini ia bisa melihat sosok yang tampak pada bayangan dari air kolam. Entah dimana tempat itu, tetapi sosok itu terlihat seperti bercermin di sana.
Dari posisi itu Yi Hua bisa tahu bahwa yang tercermin di sana adalah dirinya.
Dirinya yang sebenarnya.
"BLARR!! Uhuk ... Uhuk." Yi Hua terbatuk keras saat rasa hantaman kuat terjadi di bagian dalam tubuhnya.
Itu seperti jantungnya beradu dengan sangat kencang. Sampai sangat sulit untuk dihentikan. Baru saja bayangan itu datang, tiba-tiba Yi Hua langsung muntah darah. Hal itu membuatnya menjadi agak kacau.
SRET!
Sebuah tangan meraih Yi Hua, dan menekan telapak tangannya ke kedua mata Yi Hua. Energi yang bergolak di sekitar Yi Hua menjadi padam. Dan, ...
TES
TES
TES
DRASHH!
Air hujan langsung turun ke permukaan bumi. Hal itu membuat mereka bersorak dengan sangat kencang. Bagi mereka kutukan Dewa Phoenix pada desa mereka telah usai.
Namun ...
Yi Hua segera meraba tangan yang masih menutupi kedua matanya.
Siapa itu?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya..Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~