Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Tamu yang Datang


__ADS_3

Yi Hua ingat bahwa kediamannya sebenarnya bukanlah tempat yang besar. Seperti yang sudah ia sebut dahulu, Yi Hua benar-benar tak memiliki banyak uang. Ditambah lagi dia kurang berfungsi di kerajaan, hingga ia tak memiliki banyak pendapatan yang bisa membuatnya memiliki kediaman yang besar.


Kediaman itu tak lebih besar dari kandang kuda di istana kerajaan. Akan tetapi, Yi Hua sebenarnya tak begitu terganggu dengan keadaan ini. Selama ia masih memiliki tempat untuk dia berguling-guling ria tanpa takut dilihat oleh orang lain.


Namun yang menjadi masalahnya ialah Yi Hua tak begitu tebal muka untuk menunjukkan keadaan kediamannya itu pada An.


Pasalnya, An memang seorang pengawal, tetapi rupanya sudah seperti Pangeran dari Negeri Antah Berantah. Dia itu nyaris seperti seorang bangsawan yang salah lokasi. Pekerjaan pengawal seperti tak cocok untuk wajahnya yang sangat tampan. Ia malah berpikir bahwa seseorang yang menangis akan kembali bahagia hanya karena melihat wajah An.


Dan, Yi Hua dengan mulutnya yang bertindak lebih cepat dari otak telah mengajak orang yang seperti itu untuk datang ke kediamannya.


SRET


Yah, ini sudah seperti bubur yang tumpah ke kandang sapi. Meski aku ingin memungutnya kembali, aku pasti tak tega pada diriku sendiri bila memakan sesuatu yang kotor.


Yi Hua tak berpikir bahwa An akan benar-benar mengikutinya sejak mereka turun dari kereta. Ia mengira An akan pura-pura sakit perut, atau apapun yang bisa membuatnya batal masuk ke kediaman reyot Yi Hua. Namun sekarang pria itu malah mengikutinya seperti bayangan, walau tak mengatakan sepatah kata pun.


"Apakah Tuan An sudah makan?" tanya Yi Hua sambil menyingsing bungkusan di bahunya.


Bukan persoalan apa, Yi Hua hanya menemukan beberapa tumbuhan obat liar di sekitar hutan selatan. Di sana terbilang sangat banyak karena tak ada yang berani mencarinya.


Ingatlah kembali bahwa hutan tempat Pejabat Zhang Yi menyembunyikan tubuh Fang Yin berada di bawah kuasanya Zhang Yuwen. Sehingga orang yang masih ingin melihat matahari pagi jelas tak akan mencari tumbuhan obat yang ada di sana. Belum lagi dengan wilayah itu yang cukup terpencil.


Jelas siapa saja tak mau menjadi hidangan makan malam Zhang Yuwen. Apalagi ketika melihat cadangan makanan Zhang Yuwen yang digantung di atas pepohonan. Banyak yang mengatakan Zhang Yuwen melakukannya hanya agar makanannya 'renyah'. Sebab, sudah tak mengandung darah lagi dan sudah di keringkan.


Itulah yang Yi Hua dengar, walau tak ada yang tahu pasti tentang Zhang Yuwen ini.


Bahkan aku tak berpikir bahwa aku ingin bertemu dengan iblis semacam Zhang Yuwen ini.


Yi Hua mendengarkan suara langkahan kaki An yang agak redup. Ini nyaris seperti suara kaki saat sedang berjinjit, tetapi Yi Hua tahu jika An tidak sedang berjinjit. Pria itu hanya sangat tenang, bahkan sampai pada langkah kakinya.


"Aku memberikan makananku padamu."


Yi Hua menoleh sekilas pada An, dan pria itu ternyata tengah tersenyum. Akan tetapi, Yi Hua hanya bisa tetap pada jati dirinya sendiri. Sehingga ia jelas tak akan berterima kasih, dan akan mengikuti sifat busuk Yi Hua asli.


"Saya hanya menerima apa yang Anda berikan, Tuan An," balas Yi Hua yang berusaha menebalkan wajahnya sendiri.


Bukannya tersinggung, An malah menarik senyumnya dengan tenang. "Aku hanya memberikan pada orang yang membutuhkan."


Hey, apa label 'menyedihkan' tampak jelas di wajahku?


"Bukankah sudah aku bilang, sebelumnya liur milikmu sudah ada di dagu," komentar Xiao kemudian.


Tanpa sadar Yi Hua menyeka dagunya sendiri hanya untuk memastikan. Hal itu membuat An mengerutkan keningnya, terutama saat Yi Hua sudah berhenti berjalan. Mungkin saja dia sedang berjaga, kalau-kalau Yi Hua tiba-tiba menuju ke arahnya untuk mencakar. Sebab, dari wajahnya saja An sudah tahu jika Yi Hua ini agak berbeda dengan wajahnya yang terlihat dingin.


"Baiklah. Saya akan membuatkan sesuatu untuk Anda," ucap Yi Hua sambil mengingat-ingat bahan makanan di kediamannya.


Dari apa yang ia lihat, Yi Hua memiliki beberapa persediaan makanan. Sepertinya peramal busuk itu tahu memasak. Hanya saja yang ia tak tahu ialah dia akan ditangkap kerajaan, dan tak sempat menghabiskan persediaan makanannya.


Pada akhirnya, yang ia ingat hanyalah bahan makanan yang busuk. Yi Hua menghela napasnya lagi.


Xiao sepertinya sangat takjub hingga kehilangan kata-katanya sendiri. Setelah beberapa saat, Xiao akhirnya berkata di telinga Yi Hua. Yah, tentu saja hanya Yi Hua yang bisa mendengarnya.


"Bukankah lebih baik kau mencuri makanan saja dari dapur kerajaan?" tanya Xiao dengan histeris.


Yi Hua bahkan menutup telinganya sendiri karena suara berisik itu. Sayangnya, hanya dirinya saja yang mendengar suara Xiao. Sehingga kini An menatapnya dengan bingung akibat tindakannya. Lalu, Yi Hua hanya berpura-pura menggaruk telinganya dengan wajah sedatar yang ia bisa.


"Baiklah."


Yang Yi Hua sadari sekarang ialah An yang tak pernah mengatakan 'tidak' atau pun menolak pada Yi Hua. Apapun yang Yi Hua katakan, dan perbuat An selalu menyetujuinya. Entah mengapa Yi Hua memikirkan tentang kenyataan itu.


Ini sedikit aneh, tetapi apa An memang memiliki 'sesuatu' dengan Yi Hua yang asli?

__ADS_1


Namun jika benar begitu, pasti Xiao akan memberikannya informasi. Semua hal yang diketahui oleh Xiao adalah semua ingatan dari Yi Hua. Sehingga jika Yi Hua mulai menyangkal dugaannya sendiri.


SRET!


Yi Hua terdiam ketika rasa berat di bahunya hilang. Tatapannya beralih pada tangan An yang sudah meraih bungkusan tanaman obat liar yang ia bawa. Namun sebelum Yi Hua mengatakan apa-apa, An sudah menyingsingkan bungkusan itu di bahunya. Lalu, berjalan melewati Yi Hua.


"Tuan An, Anda tidak perlu membawakannya untuk saya. Saya seorang pria, dan itu tak akan menyulitkan saya," tegas Yi Hua yang ingin menarik kembali bungkusan itu.


Akan tetapi, dengan teganya An mengangkat bungkusan itu di atas ke atas. Jelas saja Yi Hua yang tingginya hanya sebahu An tak bisa meraihnya. Mata An melirik tenang pada Yi Hua yang melompat-lompat untuk meraih bungkusan itu.


Hey, ini namanya penindasan. Biar ku tebang kakimu biar kita sepadan.


Sayangnya, An langsung membawa bungkusan itu semakin tinggi lagi. Dari mata An saja dia sudah takjub sendiri dengan gerakan Yi Hua yang cukup cepat. Apalagi Yi Hua terkesan agak berani sekarang. Atau, mungkin Yi Hua tak menyadari bahwa dirinya sudah sangat dekat jaraknya dengan An?


Entahlah.


"Aku hanya berterima kasih karena diizinkan menginap," jelas An yang menekan kepala Yi Hua agar tak melompat-lompat lagi.


Lalu, Yi Hua akhirnya berhenti melompat, terutama saat dia juga sudah kelelahan. Akhirnya ia hanya bisa membiarkan kantongnya dibawa oleh An.


"Ayo kita pulang," ucap An sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yi Hua.


***


SRET


GRAK!


Ketika Yi Hua membuka pintu depannya, yang bahkan tak perlu ia kunci karena tak ada fungsinya. Mengapa seperti itu?


Jelas saja pintu kediaman Yi Hua sudah seperti kayu yang diinjak-injak sapi. Meski kau menguncinya, tetapi ada satu kayu yang hilang dari barisannya. Sehingga tercipta celah yang cukup besar untuk melihat ke dalam. Yi Hua bahkan hanya menempelkan jubah bekas untuk menutupinya.


Yi Hua bahkan tak memiliki waktu untuk memperbaiki kediaman menyedihkannya ini. Selama beberapa hari ini dia sibuk dengan usaha 'memanjat tembok kematian'nya sendiri.


Berkat misi yang Yi Hua lakukan, sekarang dia benar-benar terbebas dari hukumannya. Tentu saja itu berkat usaha mengenang jasa-jasanya dalam mengatasi kasus ini. Walau gelar peramal sampah masih melekat di dirinya.


Yi Hua juga mendapatkan sedikit uang untuk keperluannya sehari-hari.


Jika menyelesaikan kasus seperti ini terus, mungkin aku bisa membeli kediaman yang lebih besar. Dan, hidup sejahtera ....


"Bukankah kau harusnya menyelesaikan misi untuk mengumpulkan ingatan dari dirimu yang sebenarnya?" tanya Xiao yang menghancurkan khayalan Yi Hua yang hidup damai, bahagia, dan berkecukupan.


Ah ... dirinya lupa jika dirinya adalah makhluk tanpa identitas. Hal itu membuat Yi Hua nyaris ingin mencakar dinding karena sebal. Jika ditanya, maka Yi Hua nyaris tak penasaran dengan hidupnya sendiri.


Atau, ia hanya takut dengan kenyataan yang harus ia hadapi. Termasuk alasan mengapa sistem ini melekat padanya. Jelas sistem tak akan bergerak karena kurang kerjaan. Pasti ada sesuatu tentang dirinya yang membuatnya terjebak dalam kehidupan busuk ini.


Namun mendapatkan ingatannya kembali sama seperti mendapatkan kematian berulang-ulang. Hal itu karena ingatan itu akan datang apabila kemampuan 'kembali ke awal' aktif. Sayangya, kemampuan itu berarti bahwa Yi Hua harus berada di ambang kematian, baru ingatan itu akan datang padanya.


Sangat busuk! Pasti Dewa lupa mencatat namaku saat pembagian keberuntungan di langit.


Satu-satunya yang ia tahu ialah bahwa dia mati karena luka di lehernya. Parahnya lagi, luka itu disebabkan oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia bunuh diri.


Apa dia harus menjalani kehidupan kedua ini ialah sebagai hukuman karena dirinya dahulu bunuh diri?


Entahlah.


Itu hanya dugaan yang hanya bisa dirinya pikirkan di kepala. Ia jelas tak mau bertanya pada Xiao, sebab sistem aneh itu tak akan memberitahunya apa-apa. Sangat tak berguna!


Yi Hua tersadar kembali dari lamunannya ketika An tengah mengangkat sebuah papan aneh, dengan tulisan yang lebih aneh lagi. Lebih parahnya lagi tulisan itu sama sekali tak bisa dibaca jika dirimu bukan Yi Hua.


"Apakah ini memang ditulis, atau hanya coretan asal saja?" An meraba papan itu dengan wajah bingung.

__ADS_1


Hey, apa maksudmu meragukan ini ditulis atau tidak?


"Bukankah sudah aku bilang, HuaHua. Harusnya kau menulisnya dengan baik, bukannya bermain-main!" ucap Xiao yang membuat Yi Hua ingin merendam kepalanya ke dalam wadah air.


Yi Hua tak menjawab karena nyatanya itu tak seperti yang Xiao katakan. Yi Hua menulisnya dengan baik, tetapi hasilnya saja yang sudah seperti rumput yang diinjak sapi. Namun demi harga dirinya, Yi Hua memilih tak menjawab.


Ia jelas tak mau ada yang tahu bahwa sebenarnya itu adalah hasil terbaik yang bisa Yi Hua tulis.


"Bukan ... Itu hasil dari sapi. Seseorang melepaskan sapi, dan membuat cat yang sudah saya tulis di sana menjadi berantakan," jelas Yi Hua asal-asalan.


An tersenyum tipis pada Yi Hua. "Benarkah? Sapi milik siapa?"


"Meski saya mengatakannya, Tuan An tak akan mengenalnya. Lebih baik kita masuk saja," ucap Yi Hua yang kini sudah meraih bungkusan tanaman obatnya kembali.


An mengikuti Yi Hua yang sedang menuju dapur. Tatapan pria itu menjelajah pada tempat yang sangat sederhana itu. Sedangkan Yi Hua hanya membiarkan An mengikutinya. Lagipula, Yi Hua sudah menyembunyikan segala peralatan 'wanita' miliknya.


Hal itu karena sebelumnya Yi Hua masih diawasi oleh penjaga kerajaan akibat statusnya sebagai tahanan. Namun sekarang dia sudah bebas dari itu semua, dan hanya memiliki tamu tampan yang kelaparan.


"Aku merasa sedih jika tulisan itu dirusak oleh sapi." An dengan tenang membantu Yi Hua untuk menghidupkan api.


Yi Hua merasa hatinya semakin berdarah. Sebab, ia membuat papan pengumuman itu selama satu hari penuh. Lalu, ia perlahan menjadi orang yang malu mengakui karyanya sendiri.


"Apa yang sebenarnya ingin kau tulis di sana?" tanya An sambil memperhatikan Yi Hua yang sedang memperbaiki ikatan rambutnya.


"Silakan datang untuk meramal tentang kehidupan, cinta, dan keberuntungan," ucap Yi Hua yang sebenarnya tak mau menyebut tulisan yang ada di paling bawah.


Jelas saja wajahnya tak cukup tebal untuk mengutarakan pemikiran terselubungnya. Sebab, di sana tertulis "Yang merasa kaya, tetapi tak meletakkan uang di sini, maka dia bukan kaya yang sebenarnya".


Namun An sejak awal bukan orang bodoh. Pria itu bisa membaca, meski tulisan itu sangat buruk. Meski begitu, An memilih tak mengatakan apa-apa hanya agar Yi Hua tidak membuang papan itu segera.


Yi Hua mengangkat kepalanya ketika memasukkan beras ke dalam wadah memasak. "Apakah Anda tidak masalah jika hanya bubur?"


An menyenderkan tubuhnya ke dinding. Walau ia harus dengan sangat pelan melakukannya, karena takut dindingnya roboh. "Tentu saja."


Baru saja Yi Hua mencuci beras, suara gebrakan keras terdengar dari luar. Suara itu disusul dengan suara nyaring dan patahan. Yi Hua, tanpa melihatnya sudah bisa menduga dengan baik. Itu pasti pintunya yang ambruk.


Dasar! Apakah dia tak tahu jika aku sedang mengumpulkan uang untuk memperbaiki pintu? Pokoknya dia harus menggantinya!


Dengan geram Yi Hua siap melemparkan wadah memasak yang ia pegang. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika seseorang dengan wajah menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi ialah ketika mendengar nama yang disebutkan oleh Xiao.


Seseorang yang sangat menyebalkan.


"Ingatlah ini dengan baik, Yi Hua. Dia Shi Qingnan, sepupumu."


Yi Hua harusnya tahu bahwa Shi Qingnan akan menemuinya cepat atau lambat. Makhluk menyebalkan ini pasti merasa geram dengan tidak jadinya Yi Hua dihukum mati. Terutama saat Shi Qingnan begitu membencinya.


"Yi Hua s*alan! Beraninya kau masih hidup setelah semua omong kosong itu!"


Sudah ia duga, Yi Hua busuk ini memiliki jumlah musuh yang lebih banyak dibandingkan Selir di Harem Raja Li. Jelas saja dia tak perlu terkejut. Bahkan Yi Hua juga bermusuhan dengan sepupunya sendiri.


Bukankah aku menjadi tokoh yang paling dibenci di abad ini?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2