Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Hanya Mengulang Sejarah yang Sama


__ADS_3

Yi Hua menarik tangannya sendiri yang tengah menekan pedang itu ke dada Hua Yifeng. Semua terjadi dengan sangat drastis. Jika ada yang bisa disalahkan, maka itu adalah sikap gegabahnya. Atau mungkin Yi Hua tak bisa menahan emosinya sendiri.


Entahlah.


SRET!


"Pedang yang bisa membunuh manusia, iblis, atau pun dewa. Jika tergores dan menjadi luka, maka itu akan terus membusuk hingga mati. Itu adalah pedangmu," ujar Yi Hua pelan.


Berbisik seolah memastikan ingatannya tentang identitas pedang itu. Dirinya tak mempercayai apa yang sebenarnya terjadi. Ia mulai berharap jika rumor itu tak benar.


PRANG!


Suara denting terdengar, dan ... CRING!


Yi Hua bisa melihat riasan dari perak terlepas dari ganggang pedang. Hua Yifeng juga memandang ke arah yang sama. Akan tetapi, Hua Yifeng memilih untuk mendekat ke arah Yi Hua. Langkah tegap dari pria itu tak menunjukkan bahwa pria itu lemah. Seperti pria ini tak pernah terluka sebelumnya.


Apakah pedang Li Wei tak bisa membunuh pemiliknya sendiri?


Bolehkah aku merasa lega jika Hua Yifeng tak mati sekarang? Namun kenapa aku harus merasa lega?


TAP!


TAP!


Yi Hua yang memang telah berada di jalan buntu jelas tak bisa melarikan diri. Pasti Hua Yifeng akan membalasnya dengan cara yang sama. Padahal Yi Hua belum menyewa orang untuk membakar uang arwah untuknya. Jika tidak seperti itu, mungkin Yi Hua akan miskin di dunia dan juga miskin di alam sana.


Entah bagaimana bisa Yi Hua masih memikirkan hal-hal aneh di otaknya. Ia bahkan telah benar-benar menempel di dinding tanah. Pakaiannya telah benar-benar berubah warna seperti warna tanah berpasir. Wujudnya jika disandingkan dengan sapi mungkin akan sama warnanya sekarang.


GREP!


"Lepaskan aku!" teriak Yi Hua ketika Hua Yifeng menarik tangannya.


Mungkin pedang itu benar-benar tak bisa melukai Hua Yifeng. Padahal ...


Sebentar ... Bukankah An mengatakan jika kelemahan Hua Yifeng adalah jantungnya?


SRET!


"Jangan! Aku tak mau mati. Sapi tetangga belum sempat aku lepaskan dari dalam gudang," teriak Yi Hua yang membeberkan kejahilannya sendiri.


Ia sebenarnya mengerjai seorang petani dengan cara menyembunyikan sapi. Lalu, dia yakin petani itu pasti akan datang untuk meminta 'penglihatan'nya bekerja. Yi Hua akan bertindak seolah dia bisa menemukan sapi yang hilang nantinya, dan dapat uang. Jadi, jangan bilang siapa-siapa tentang rencana busuk Yi Hua ini.


PUK.


Yi Hua yang memejamkan matanya langsung membuka matanya kembali. Terutama ketika merasakan berat di bahunya. Ketika mata Yi Hua terbuka ia dapat melihat rambut Hua Yifeng yang lurus dan pekat. Pria itu menekan wajahnya ke bahu kecil Yi Hua. Bahkan pria itu harus benar-benar menunduk hanya agar bisa bersandar di bahu Yi Hua.


"Meski dunia ini tak mempercayaiku, aku sama sekali tak perduli. Tetapi ..." Pria itu berbicara dari bahunya. Suaranya sangat tenang seolah tak ada masalah apapun di dalam suaranya.


Yi Hua bisa melihat tubuh Hua Yifeng yang mulai redup seperti kabut. Seolah pria ini bisa hilang kapan saja. Tanpa sadar tangan Yi Hua meraih lengan Hua Yifeng, tetapi ... Tangannya hanya seperti menyentuh embun.


Pria ini benar-benar memiliki kelemahan di jantungnya.


"Semua yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah rencanaku, Yi Hua." Itu adalah apa yang Hua Yifeng katakan pada Yi Hua.


Apa maksudnya? Apa itu berarti semua kejahatan yang dianggap kerajaan sebagai rencana Hua Yifeng itu adalah kesalahpahaman?


Hey, ... Mana yang benar! Jika memang ada yang ingin dikatakan, tolong katakan! Aku bodoh dan tak mengerti apapun tentang dunia ini.


Dirinya nyaris seperti anak yang baru saja melihat dunia. Ia tak tahu banyak hal di dunia ini.


SRET!


"Hua Yifeng ... Kau ..." Yi Hua akhirnya menemukan suaranya lagi. Sayangnya ia tak bisa mengatakan apa-apa.


Rasa berat di bahu Yi Hua terus berkurang. Tangan Yi Hua tanpa sadar meraba-raba bahunya sendiri untuk merasakan kehadiran Hua Yifeng. Hingga Hua Yifeng yang samar itu mengangkat kembali wajahnya. Mata merah pekat Hua Yifeng mengingatkan Yi Hua tentang warna Xiao. Itu adalah warna yang sama. Merah menyala seperti ada api yang dimasukkan ke dalam air jernih.


Juga gambar aneh di wajah Hua Yifeng tampaknya seperti sengaja dibuat untuk menutupi ... Luka?


Jujur saja ini pertama kalinya Yi Hua melihat luka samar di wajah Hua Yifeng. Jika memang pria ini memiliki luka. Itu berarti luka yang didapatkannya ketika masih menjadi manusia. Entah apa yang dialami Hua Yifeng selama ini, Yi Hua tak tahu.


Lalu, jemari Hua Yifeng menuju ke arah wajah Yi Hua.


"Tak apa jika dunia ini tak mempercayai diriku, karena aku hanya ingin kau yang percaya padaku," ucapan Hua Yifeng sangat lemah seperti bisikan embun pada daun.


Lalu, Yi Hua tak tahu kapan air matanya menetes. Ia masih tak bergerak seolah bingung dengan keadaan.


Ini sebenarnya adalah perihal membahagiakan karena Yi Hua bisa membunuh Hua Yifeng. Dia akan mendapat ucapan terima kasih besar dari kerajaan. Naik pangkat dan dapat uang yang banyak. Bahkan dia sudah dikecualikan dari hukuman mati. Ia mendapat piring emas untuk kebebasan dari hukuman mati.


Meski begitu, .... Yi Hua tak bisa merasakan kebahagiaan di sana. Entah karena apa.


Xiao, apakah yang aku lakukan ini benar?


Mengapa ia tak bisa bertanya pada Xiao di saat yang genting seperti ini? Dia hanyalah orang baru di antara seluruh kenangan yang masuk ke dalam pikirannya. Ia hanya bergerak berdasarkan ingatan tersebut. Tanpa nama, tanpa masa lalu, dan hanya hidup sebagai Yi Hua.


"Maaf memaksamu untuk terus hidup," bisik Hua Yifeng dengan senyum di wajahnya.


NYUT!


"AKHHH" Yi Hua tanpa sadar berteriak ketika rasa sakit menyengat kepalanya.


Terutama bayangan aneh muncul lagi untuk kedua kalinya. Satu kali kenangan datang saja sudah membuat kepala Yi Hua ingin pecah. Itulah yang membuat Yi Hua merasa ingin memukulkan kepalanya pada batu sekarang.

__ADS_1


Rasanya sakit sekali!


Mengapa ucapan Hua Yifeng itu menggema di kepalanya?


"Maaf memaksamu untuk terus hidup."


"Maaf memaksamu untuk terus hidup."


"Maaf memaksamu untuk terus hidup."


Kenapa?


JLEB!


Yi Hua menekan dadanya sendiri, dan napasnya terdengar memburu. Bibirnya bergetar dengan sangat kencang ketika dadanya terasa ditusuk oleh sebilah pedang. Namun ... Ia memeriksa tangannya dan ia menyadari bahwa tak ada apa-apa di sana.


Itu hanyalah ingatannya.



Ia melihat bahwa dirinya ditusuk oleh seseorang.


Pantas saja Yi Hua merasa sangat familiar dengan keadaan ini. Namun dengan posisi yang berbeda. Sebab, di ingatannya ialah dirinya yang ditusuk oleh pedang di bagian dada. Dan, sekarang ... Ia menusuk Hua Yifeng. Mereka seperti mengulang sejarah yang sama.


Yi Hua melihat tangannya sendiri yang ternyata kini menggenggam pedang hitam. Pedang hitam itu masih tertancap di dada Hua Yifeng.


"Jika ada yang harus aku sesali adalah karena memaksamu hidup kembali saat itu. Harusnya aku tahu bahwa meski kau 'terlihat' hidup, tetapi jiwamu sebenarnya sudah pergi. Meski ragamu yang masih dapat ku lihat, tetapi itu berbeda jika bukan kau," ujar Hua Yifeng yang mengusap air mata di pipi Yi Hua.


Ingatan Yi Hua kembali pada cerita romantis nan menyedihkan yang pernah tersebar di Kerajaan Li. Ia hanya berharap ini bukan seperti dugaannya.


Katanya, ...


Cerita cangkang manusia itu dimulai dari seorang pria yang kehilangan kekasihnya. Hal itu yang membuat pria itu gila dan merasa dunia begitu buruk. Oleh karena itu, sang pria melakukan ritual terlarang, yaitu dengan cara memasukkan jiwa ke dalam tubuh yang sudah mati.


Sayangnya, jiwa sang kekasih sangat tenang dan tanpa dendam. Sehingga kekasihnya telah naik ke langit untuk bereinkarnasi. Namun karena ritual terlarangnya, dia memanggil jiwa kekasihnya kembali. Hal itu membuat semua energi buruk masuk ke dalam jiwa kekasihnya.


Kekasihnya kembali hidup, tetapi bukan seperti kekasihnya.


Sang kekasih membunuh banyak orang karena jiwanya sangat tercemar. Hal itu tak bisa dicegah oleh pria itu. Pada akhirnya, dia malah membuat kekasihnya sendiri membunuh banyak orang. Padahal semasa hidup, kekasihnya adalah orang yang sangat berhati-hati dengan nyawa orang lain. Kekasihnya sangat baik hingga hampir menjelma menjadi bodoh dan dapat dibodohi.


Namun sang pria malah membuat kekasihnya sendiri menjadi pembunuh. Oleh karena itu, sang pria menusuk kekasihnya. Membunuh kekasihnya untuk mengakhiri penderitaan kekasihnya. Ia tak bisa melihat kekasihnya sendiri terus menderita seperti ini.


Itulah sejarah penciptaan cangkang manusia yang sering dibicarakan. Akan tetapi, dari ide itu sekarang banyak orang yang menyalahgunakan cangkang manusia untuk dijadikan petarung. Sang pria melakukan kesalahan yang sangat besar. Ia harus membunuh kekasihnya sendiri. Dan, kekasihnya harus merasakan kematian dua kali.


Air mata Yi Hua menetes ketika mengingat cerita itu.


Jangan katakan bahwa ... pria dalam cerita itu adalah Hua Yifeng? Lalu, kekasih dalam cerita itu ...


Adakah kebetulan yang begitu besar terjadi di dunia ini?


Ia tak yakin jika Hua Yifeng akan bisa mengerti apa yang ia ucapkan.


Yi Hua berusaha untuk meraih Hua Yifeng. Ia ingin bertanya. Ia ingin memaki. Ia ingin tahu yang sebenarnya. Ia benar-benar muak dengan ketidaktahuannya sendiri.


"Hua Yifeng ... Katakan padaku! Jangan tinggalkan aku! Aku ... " Yi Hua nyatanya hanya bisa bertanya, tetapi Hua Yifeng tak berniat mengatakan apa-apa.


Mengapa tak ada yang bisa memberitahunya sekarang? Yi Hua ingin tahu. Katakan semua padanya agar dia tahu apa yang sebenarnya terjadi.


TING!


Ia mendengar bunyi dentingan lagi di kakinya. Sepertinya ia menendang sesuatu. Hal itu membuat Yi Hua menunduk untuk mengambil riasan perak yang biasanya tergantung di pedang milik Hua Yifeng. Air mata Yi Hua tak bisa terbendung lagi, tetapi dia bingung mengapa dirinya tak berhenti menangis. Ia hanya bisa menggenggam riasan perak itu di tangannya. Seolah tak mau kehilangan benda itu.


Meski begitu, ...


Jika pun memang dia memiliki masa lalu bersama Hua Yifeng, tetapi dia masih 0. Dia tak tahu banyak hal. Dia tak punya kenangan untuk dikenang atau ditangisi.


Lalu, mengapa dia menangis?


Yi Hua mendekat lagi pada Hua Yifeng ketika dia mengingat sesuatu. "Kata Xiao ... Maksudku seseorang berkata jika pedang Li Wei berfungsi paling baik jika digunakan oleh pemiliknya. Pedang itu tak akan berakibat apa-apa padamu. Hua Yifeng ... Kau belum menjelaskan apa-apa padaku!" teriak Yi Hua ketika ia berpikir masih ada harapan di sana.


Namun ...


Yi Hua sadar bahwa pedang itu tak melukainya atau berefek apa-apa padanya. Apakah itu berarti ...


"Kau juga pemiliknya."


Habis sudah.


Yi Hua ingin berteriak, tetapi ia bingung harus berteriak pada siapa. Dirinya juga yang menusuk Hua Yifeng, lalu mengapa dirinya harus menangis.


TRAK!


"Yi Hua, ayo keluar! Jangan marah terus pada Paman Wang. Dia mungkin agak kasar, tetapi dia tak lama lagi mati karena sudah tua. Jadi, jangan marah-marah terus. Kakak Huan sudah menyiapkan kereta." Itu adalah suara Liu Xingsheng.


Sepertinya Perdana Menteri itu berteriak dari mulut jurang.


Namun Yi Hua tak mendengarnya dengan baik. Benar. Dia memiliki tungku iblis di dalam dirinya.


Yi Hua kemudian mendekat pada Hua Yifeng. Tangan Yi Hua meraih rahang Hua Yifeng, kemudian ia menyatukan bibirnya dengan keras. Hal itu membuat Yi Hua meringis kesakitan, tetapi dia tetap menyatukan bibirnya dengan Hua Yifeng. Berharap tungku iblisnya bisa memberikan energi untuk Hua Yifeng yang terus kehilangan raganya.


Sama seperti Ibunya, Yi Xia. Dewa dan iblis jika kehilangan kekuatannya akan menghilang seperti kabut. Tak ada eksistensinya lagi.

__ADS_1


Ku mohon. Ku mohon. Aku ingin mendengar pria ini menjelaskan semuanya!


Yifeng mengusap pipi Yi Hua yang basah. Lalu, menjauhkan Yi Hua yang terus menempelkan bibir mereka. Bahkan Yi Hua menekannya dengan cara yang sangat amatir. Hua Yifeng menjauhkan wajah Yi Hua sebelum peramal kecil itu melukai bibirnya sendiri.


"Hua Yifeng ..." Tangis Yi Hua sudah seperti anak kecil.


Hua Yifeng mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata Yi Hua lagi. Namun ... Karena tangannya yang pudar, Hua Yifeng tak bisa menghapus air matanya. Sehingga air mata itu tetap turun membasahi pipi Yi Hua yang kotor. Mungkin debu-debu yang awalnya menempel di pipi Yi Hua menjadi basah karena air matanya sendiri. Itu yang membuat pipinya kotor.


"Sangat mengerikan," ujar Hua Yifeng yang menatap Yi Hua penuh kasih.


Pernahkah kau merasa bahwa dirimu telah menghabiskan hidup dengan sia-sia selama ini?


Mereka bisa hidup untuk saling mencintai. Menjelaskan satu sama lainnya. Tak perlu ada pertarungan dan pertanyaan yang berputar. Namun setelah semua ini, dan ternyata Yi Hua menyadari betapa besar perasaan pria ini padanya, tetapi semuanya sudah sangat terlanjur.


Menyesal pun hanya akan membuat hatinya terasa sakit.


"Yi Hua, ... Jenderal Wei akan turun untuk menjemputmu! Oh ya ... Apa kau tahu dimana An? Ku kira dia yang akan menjemputmu dari lubang bawah tanah ini," teriak Liu Xingsheng lagi.


Lalu, Hua Yifeng menjadi bayangan pudar yang tak bisa Yi Hua sentuh. Itu membuat Yi Hua panik. Yi Hua berusaha untuk meraih Hua Yifeng, tetapi ia tak bisa menyentuhnya lagi.


"Apa kau ingat tentang Istana Awan? Datanglah ke sana. Bukankah kau sangat menyukainya? Lagipula, setelah membunuhku kau akan punya kebebasan," ucap Hua Yifeng sebelum raganya berganti menjadi debu kecil yang bersinar.


"Tidak ... Ku mohon ... Hey, ... Kau belum menjelaskan apapun padaku. Ku mohon ... Aku ..."


Yi Hua sama sekali tak ingin kebebasan jika hasilnya adalah seperti ini.


Aku baru saja ingin menyombongkan pada Xiao bahwa ada seseorang yang mencintaiku.


Yi Hua menatap tak percaya pada debu-debu yang menempel di tangannya. Napasnya memburu seperti sedang berlari menuju puncak gunung. Ini sungguhan, bukan?


Bukankah baru saja Hua Yifeng mengecup lehernya? Bahkan Yi Hua masih merasakan panas di lehernya, dan bekasnya juga pasti masih ada. Pria itu memang sering berbuat kurang ajar padanya.


Tapi sekarang ...


Dia pergi.


***


TAP!


Seseorang turun dengan bantuan tali dari mulut jurang. Itu adalah Wei Qionglin yang memutuskan untuk menjemput Yi Hua. Ia melihat jika Yi Hua tengah duduk setengah berlutut. Entah apa yang dilakukannya.


Yah, peramal itu memang agak aneh sehingga Wei Qionglin harusnya sudah biasa.


Ketika Wei Qionglin ingin menghampiri Yi Hua, peramal kecil itu ternyata duduk diam. Matanya memerah, tetapi Yi Hua tak menangis. Atau mungkin peramal kecil ini baru saja selesai menangis? Matanya terus menatap ke depan, seolah melihat sesuatu.


Akan tetapi, di depan Yi Hua tak ada siapa-siapa. Juga, tak ada hal yang menarik di depannya.


"Yi Hua, ada apa?" tanya Wei Qionglin yang berusaha untuk mengulurkan tangannya untuk membantu Yi Hua bangkit dari posisi bersimpuhnya.


Percayalah. Jika itu orang lain, maka Wei Qionglin tak akan ragu untuk memeluknya. Namun ia tahu jika Yi Hua akan bertindak seperti sapi setengah kucing jika Wei Qionglin mendekatinya. Yi Hua sejak awal sangat berbeda dengan orang lain.


Sebab, semakin terluka Yi Hua, maka dia akan semakin bertingkah seolah dia kuat.


"Aku membunuhnya." Itu adalah apa yang Yi Hua ucapkan.


Wei Qionglin melirik pada pedang yang berada di tangan Yi Hua. Walau tanpa diberitahu, Wei Qionglin sudah sangat tahu pedang hitam legendaris itu. Ia menatap lagi pada Yi Hua yang kini menoleh ke arah Wei Qionglin.


Lalu, Yi Hua berucap dengan senyum tipis di wajahnya. Senyum yang cukup Wei Qionglin benci. "Aku membunuh Hua Yifeng, Jenderal Wei."


Berita yang sangat besar. Musuh paling besar Kerajaan Li telah dibunuh. Tentu saja itu adalah kebahagiaan yang sangat baik. Mereka tak akan tak terancam lagi oleh pemilik gunung Hua itu. Si Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.


Namun ...


"Aku membunuhnya," ucap Yi Hua dengan hampa.


Wei Qionglin ingin bertanya, mengapa peramal ini terlihat tak bahagia?


Apa yang salah di sini?


***


Sedikit cerita.


Jika ada yang bingung dan sedih dengan tindakan Yi Hua, maka kita kembali pada cerita. Semuanya itu tidak sengaja. Jika pun sengaja, tetapi posisi Yi Hua tak mudah.


Sifat buruk Yi Hua adalah dia cepat menyimpulkan segala sesuatu. Ia juga sangat gegabah dan kasak-kusuk seperti sapi kurang keramas. Namun itu karena dia sama seperti anak kecil yang baru tahu dunia.


Ia dikenalkan oleh banyak masalah, dan dengan pengalaman yang 0 besar. Dia seperti anak kecil yang diajarkan sedikit, lalu melihat lagi, kemudian menyimpulkan lagi. Ditambah lagi ingatannya datang sedikit demi sedikit. Belum lagi sistemnya sangat 'ramah' dalam berbicara.


Lagipula, jika tiada garam di dalam makanan, maka tak sedap rasanya.


Yi Hua harus punya pengalaman untuk hidupnya ke depannya. Mungkin saja dia akan bertemu orang baru, dan mungkin cinta baru.


Sekarang biar aku bertanya ... Menurut kalian ... Apakah Hua Yifeng tetaplah pasangan Yi Hua di cerita ini? Atau cerita ini adalah cerita busuk dengan tema "luka lama akan disembuhkan oleh cinta yang baru"? Atau, Yi Hua akan tetap sendiri dan cerita ini bukanlah cerita romantis. Melainkan hanya cerita tragedi.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2