Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 18: Dari Segala Akibat


__ADS_3

Pada akhirnya, Li Wei keluar dengan sempoyongan. Ia mencengkeram lengannya yang terluka, dan menahan rasa sakitnya. Ia harus menemukan dimana Wang Zeming dan Wei Wuxie berada. Dengan itu mereka bisa memikirkan bersama apa yang bisa mereka lakukan.


Li Wei berjalan dengan lemah dan terjatuh beberapa kali. Meski begitu, ia mencoba berdiri lagi. Yang lebih aneh dari segalanya ialah tidak ada prajurit yang berjaga di sekitarnya. Ia berpikir jika ada sesuatu yang tak beres, tetapi ia tak memiliki rencana lain sekarang.


BRUK!


"Ughhh!" Li Wei berusaha menyeret tubuhnya untuk bersandar ke dinding.


Ketika ia telah bersandar ke dinding, tatapannya beralih ke tangannya sendiri. Tangan kirinya yang terluka sekarang benar-benar tak bisa digerakkan. Perban bekas Li Chen mengobati lukanya dulu tergantung di lengannya begitu saja. Perban itu sudah berganti warna sepenuhnya menjadi merah, dan ada banyak debu yang menempel di sana.


Tanganku pasti akan segera dipotong jika tidak dibersihkan.


Hanya saja. Sekarang hidup pun dipertanyakan, bagaimana bisa begitu takut mati sekarang?


Li Wei berdecak meski air matanya menetes karena sakit. Entah yang mana lebih sakit sekarang, perasaannya atau luka di lengannya. Atau bahkan rasa nyeri di kepalanya yang terkena batu. Ia tak tahu yang mana lebih membuat dirinya menangis sekarang.


Dengan bergetar ia menarik perban itu untuk dilepas.


"AKHHH!" teriak Li Wei dengan napas terengah-engah ketika perban itu menggesek lukanya.


SRET!


Ia melemparkan kain yang sudah basah dengan darah itu ke lantai. Li Wei memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya untuk menahan sakit. Napasnya sudah sangat tersengal seperti orang yang lama menyelam ke dalam air.


"Sakit sekali, Ibu." Lagi-lagi Li Wei hanya bisa mengadu tentang rasa sakitnya.


Sayangnya, itu tak berkurang sedikitpun.


Li Wei memutuskan untuk tak begitu lemah pada keadaan. Sekarang ia tak bisa mempercayai siapapun. Hanya dengan satu tangannya Li Wei menarik ujung pakaiannya.


CRAK!


Li Wei merobek ujung gaunnya sendiri dengan ukuran yang cukup panjang. Ia melilitkan kain itu di lengan kirinya yang dipenuhi oleh darah. Harusnya luka ini dibersihkan terlebih dahulu, tetapi Li Wei tak punya waktu lagi. Namun ia tak punya waktu untuk itu.


Li Wei menggigit ujung kain itu, dan sisanya di lilitkan di lengannya. Jelas hasilnya tak rapi, tetapi Li Wei tak punya pilihan lain. Berkat dirinya yang mengigit kain itu Li Wei bisa menahan jeritan sakitnya. Ia juga merasa anyir di mulutnya, mungkin ia tanpa sadar mengenai bibir bagian dalamnya.


Rasa sakit itu sangat terasa. Terutama ketika kain itu menempel di lengannya. Proses itu terjadi cukup lama hingga ketika selesai membalut lukanya, Li Wei hanya bisa menyenderkan tubuhnya lemah.


Seharusnya Li Wei tak istirahat begitu banyak, tetapi tubuhnya terasa sakit di mana-mana.


Li Wei memperhatikan keadaanya.


Ia menyadari jika dirinya sudah hampir sama seperti sapi yang tercebur di perairan sawah. Apalagi pakainnya, dan tarikan Li Wei terlalu kuat hingga sobekan itu cukup tinggi. Hal tersebut membuat kaki Li Wei tampak di pandangannya. Ia bisa melihat sesuatu yang aneh, dan itu mengejutkan Li Wei.


Di kakinya ada garis merah darah ... Seperti garis merah darah yang pernah dilihatnya di wajah Hua Yifeng.


Apa yang terjadi?


"Aku jelas-jelas bukan seseorang yang memiliki kekuatan Pohon Iblis," ucap Li Wei pelan.


Apa mungkin darah Hua Yifeng juga bisa membuat orang lain memiliki kekuatan iblis?


Jika itu benar, maka semua kata kematian yang Li Wei ucapkan menjadi kenyataan karena dirinya yang mulai menjadi iblis.


Tidak. Apalagi ini? Mengapa tak usai-usai juga kronologi kehancuran ini?


Li Wei menggelengkan kepalanya tak mau menerima. Ia meraba-raba ke sekitarnya hanya untuk mencari air atau benda apapun yang dapat memantulkan bayangannya. Ia ingin melihat rupanya sekarang, dan saat itulah ia menyadari jika sarung pedang milik Hua Yifeng juga berubah.


Ingatlah jika sarung pedang Hua Yifeng masih terikat kuat di pinggangnya.


Namun Li Wei masih ingat jika sarung pedang itu berwarna putih perak. Akan tetapi, kini sarung pedang itu berwarna hitam seperti besi hitam murni. Sangat hitam.


Li Wei pernah mendengar dari Wang Zeming, atau yah ... Kau bisa menyebutnya Penasihat Wang. Intinya adalah senjata spiritual biasanya terikat dengan pemiliknya. Akan tetapi, tidak semua senjata adalah benda spiritual. Hanya beberapa orang yang bisa membuat senjata yang terikat dengan jiwa pemiliknya. Bahan untuk membuat senjata yang seperti itu juga bukanlah bahan yang biasa.


Sehingga jika bukan pemiliknya, maka tak ada yang bisa menarik pedang itu keluar dari sarungnya. Akan tetapi, Li Wei sangat ingat jika Li Wei bisa menggunakannya. Sarung pedang ini juga bereaksi ketika digunakan Hua Yifeng.


Apa itu berarti Li Wei adalah pemilik kedua dari pedang ini?


Mendadak Li Wei tertawa tak jelas.


"Ha ... ha ... ha ..."


Tes.


Meski Li Wei tertawa, ia juga menangis. Entah mengapa ia menangis sekarang. Dengan kekuatannya yang tersisa Li Wei melepas sarung pedang itu. Hanya ini senjatanya sekarang, dan Li Wei pun mencurinya dari Hua Yifeng.


^^^*Cuma mengingatkan kalo sekiranya lupa. Ling Xiao pernah bilang sama Yi Hua, intinya ... Tentang pedang 'Li Wei' itu pernah dijelaskan sama Ling Xiao. Entah di bab berapa. Tapi pedang hitam Li Wei, senjata Hua Yifeng itu dibuat dari besi yang diambil Hua Yifeng di Lembah Debu. Tapi di zamannya Li Wei, Lembah Debu itu masih bernama Labirin Batu. Jadi, intinya 'bahan' dari Pedang Hitam Li Wei itu adalah besi dari pedang terkutuk Pangeran Penduka. Emang agak sulit dipahami sih. Jadi, pas Hua Yifeng menghancurkan pedang itu untuk menghilangkan kutukannya, Hua Yifeng ternyata ngambil besinya. Terus ditempa jadi pedang baru. Jadilah pedang hitam legendaris yang ditakuti. Inilah proses mengapa pedang hitam itu jadi sangat mengerikan, yaitu karena penderitaan dan dendam dari pemiliknya.^^^


Bertumpu pada sarung pedang itu, Li Wei bangkit. Ia tak boleh lemah sekarang. Li Wei tak boleh ditemukan oleh prajurit kerajaan. Sehingga Li Wei memperhatikan keadaan sekitarnya, dan sekali lagi kediamannya sangat sepi.


Ini jauh dari apa yang pelayan itu katakan.


Akan tetapi, ...


"Penasihat Wang dan Jenderal Wei Wuxie berhasil melarikan diri." Suara prajurit itu terdengar dari kejauhan.


Hal tersebut membuat Li Wei mencari tempat persembunyian. Ia menengok ke berbagai arah hingga ia terpaksa masuk kembali ke salah satu ruangan di kediaman Li Wei. Seingat Li Wei, itu adalah ruang bacanya.


Dan, ...


SRET!


GREP!


Li Wei ingin melawan ketika seseorang meraih kerah belakang pakaian Li Wei. Akan tetapi, sosok lain itu ternyata dengan mudahnya membekap mulut Li Wei. Dan, berbisik di belakang telinganya.


"Jangan membuat keributan."


Zhang Yuwen.


Orang ini sebenarnya berada di sisi siapa?


TAP


TAP


TAP


"Sebaiknya kita periksa kediaman Putri Li Wei. Pasti Jenderal Wei sedang mencari cara untuk menyelamatkan 'Tuan-nya'," ucap prajurit itu dari luar.


Li Wei bisa melihat bayangan dari beberapa orang yang melintas di depan ruangan. Pintu ruang baca Li Wei agak tipis, sehingga ia bisa melihat jumlah prajurit itu cukup banyak. Mungkin mereka fokus untuk mencari Wei Wuxie dan Wang Zeming sehingga tak ada yang menjaga kediaman Li Wei.


Zhang Yuwen masih membekap mulut Li Wei dan mundur beberapa langkah. Li Wei mau tak mau mengikuti Zhang Yuwen, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Tak lama Zhang Yuwen berkata lagi.

__ADS_1


"Saya menemukan di mana Permaisuri Jiang Ning dikurung," ucap Zhang Yuwen.


Hal tersebut membuat Li Wei memaksa untuk melepaskan bekapan tangan Zhang Yuwen. Namun pria itu masih tak melepaskannya.


SRET!


"Putri Li Wei menghilang," teriak prajurit lainnya.


"Cari ke semua ruangan. Dia pasti tak begitu jauh, karena pelayan bodoh itu berkata jika Putri baru saja pergi," ucap prajurit yang berada di depan ruangan.


Jantung Li Wei berdebar kencang karena ketakutannya sendiri.


"Hey, ruangan ini belum diperiksa," tunjuk seorang prajurit pada ruangan yang dihuni oleh Zhang Yuwen dan Li Wei.


TAP


TAP


TAP


Suara langkah kaki yang mendekat itu beriringan dengan degup jantung Li Wei. Ia menggenggam keras sarung pedang yang ada di tangannya. Setidaknya ia bisa memukul dengan sarung pedang jika terjadi pertarungan mendadak.


CLAK!


Dan, ketika seorang prajurit itu sudah hampir membuka pintu, suara Zhang Yuwen terdengar agak keras.


"Ada apa?" tanya Zhang Yuwen dengan suara tenangnya.


Entah mengapa Zhang Yuwen yang konyol itu telah berubah menjadi agak dingin.


"Tuan Zhang."


Tuan Zhang katanya?


Rupanya Zhang Yuwen sudah memiliki posisi tersendiri di pasukan Kerajaan Xin. Pria ini telah berada di kubu musuh. Li Wei berdecak sendiri karena nyatanya ia tetap jatuh ke tangan musuh.


"Mengapa sangat berisik?" tanya Zhang Yuwen dengan nada dingin.


Hal tersebut membuat prajurit yang berjaga di depan berjejer patuh. Mereka jelas tak berani membuka pintu jika 'atasan' mereka berada di dalam ruangan. Mereka harus meminta izin, seperti yang sering Li Wei alami. Walau sekarang tak akan ada lagi orang yang memberi penghormatan padanya.


Miris sekali.


"Kami hendak mencari Putri Li Wei, Tuan Zhang," jawab salah satu prajurit untuk mewakili yang lainnya.


Hening sejenak.


Li Wei sudah mengangkat kaki kanannya untuk bersiap menendang kaki Zhang Yuwen. Setidaknya ia harus melepaskan diri dari Zhang Yuwen terlebih dahulu. Baru memikirkan cara terbebas dari kepungan prajurit.


"Tidak ada di sini. Aku sejak tadi membaca, dan jangan mengganggu," perintah Zhang Yuwen yang membuat Li Wei menghentikan penyerangannya.


Padahal sedikit lagi Zhang Yuwen akan terjatuh akibat serangan Li Wei yang agak unik. Berterima kasih pada Hua Yifeng yang mengajarkan gerakan itu untuk Li Wei. Sehingga ia bisa menjatuhkan lawan dari posisi berdirinya.


Akan tetapi, Zhang Yuwen tidak memberitahu keberadaanya.


Prajurit itu terlihat ragu, tetapi mungkin Zhang Yuwen memang sangat dipercaya oleh Raja Xin sehingga mereka tak berani melawan. Tak lama para prajurit itu membungkuk untuk memberi penghormatan.


"Maaf telah mengganggu Anda, Tuan Zhang."


Itulah yang diucapkan oleh para prajurit dan mereka pergi untuk mencari Li Wei yang hilang. Setelah itu, Zhang Yuwen melepaskan bekapannya di bibir Li Wei. Dan, pria itu duduk kembali ke meja baca Li Wei dengan tenang.


Zhang Yuwen menghela napasnya. "Putri tak akan mengerti jika tak ada di posisi saya."


Lalu, apa Li Wei tak bisa mempermasalahkan tentang kesetiaan sekarang?


"Kau ..."


Zhang Yuwen mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Li Wei. "Jika saya tak melakukan ini, apa Putri berada di ruangan ini sekarang?"


Li Wei tak menjawab apa-apa.


Hal tersebut membuat Zhang Yuwen mengalihkan pandangannya. Ia tak boleh begitu memperhatikan Li Wei sekarang. Zhang Yuwen hanya perlu membantu Li Wei 'sedikit' mungkin. Sehinggai Li Wei tak boleh berlama-lama di ruangan ini, atau Zhang Yuwen akan ketahuan.


"Permaisuri Jiang Ning berada di istananya. Di sana juga ada Pangeran Li Shen. Untuk sekarang mereka tak apa-apa. Kau pasti tahu jika seorang Permaisuri dari Kerajaan yang kalah dalam perang tak pernah mendapat akhir yang baik." Itulah yang diucapkan oleh Zhang Yuwen.


Li Wei mengerti alur ini. Biasanya jika sudah seperti itu, biasanya nasib Permaisuri akan sangat buruk. Jika tidak dihukum mati, maka mungkin akan menjadi 'hadiah' perang untuk Raja yang menang. Pangeran Li Shen juga mungkin akan dihukum mati karena dia jelas-jelas kandidat pewaris sekarang. Memotong ancaman untuk masa depan adalah hal yang perlu dilakukan.


Jika membiarkan Li Shen hidup, di masa depan mungkin Li Shen akan balas dendam. Itulah yang ditakuti.


"Bagaimana dengan kakak?" tanya Li Wei yang ingat tentang Li Jun.


Zhang Yuwen membuka buku di tangannya dengan tenang, tetapi Zhang Yuwen tetap menjawab pertanyaan Li Wei.


"Rencana Raja Xin adalah membuat pertarungan di antara para anak Raja. Nantinya Pangeran Li Jun, Putri, dan Pangeran Li Shen akan dipertemukan di pertarungan. Mereka akan memaksa kalian saling bertarung sampai mati, siapa yang bertahan akan menjadi Raja," ucap Zhang Yuwen datar.


Yang mereka harapkan bukanlah pemenang, tetapi orang yang rela membunuh saudaranya untuk menjadi Raja. Yang diinginkan oleh Raja Xin adalah pertumpahan darah. Bukan tentang aliansi.


"Apa kau lupa jika ramalan pewaris tahta sudah muncul?" tanya Li Wei.


Nyantanya tidak ada di antara mereka bertiga yang dipilih menjadi Raja oleh Dewa. Raja selanjutnya adalah Hua Yifeng.


"Itu adalah tradisi dan kepercayaan Kerajaan Li, apa itu penting di mata Kerajaan Xin?" tanya Zhang Yuwen masuk akal.


Li Wei menghela napasnya. "Mengapa kau membantuku?" tanya Li Wei.


"Anggap saja sebagai pengganti kata 'maaf'." Walau Zhang Yuwen tak berharap untuk dimaafkan oleh siapapun.


Mereka tak bisa sama seperti dulu.


Zhang Yuwen keluar dari ruang baca dan memanggil pasukan.


"Pergi ke arah Utara istana, aku melihat Li Wei berlari ke arah sana," perintah Zhang Yuwen yang juga menuju ke arah yang disebutnya.


Jelas Zhang Yuwen sedang membersihkan jalan untuk Li Wei menuju ke istana Permaisuri Jiang.


***


Berkat bantuan Zhang Yuwen, Li Wei berhasil menuju ke arah istana barat, tempat Permaisuri Jiang di kurung. Dalam perjalanannya ia bisa melihat kehancuran di mana-mana. Istana yang dahulu indah kini dihias oleh barang yang hancur.


Belum lagi dengan ceceran darah di lantai, dan Li Wei sudah tahu betapa buruknya pertarungan di sana.


Ketika ia berjalan lebih jauh lagi, tepatnya ketika ia melintas pada halaman berpedang Raja Li, ayahnya, Li Wei terpaksa harus bersembunyi di balik rerumputan tinggi. Tatapan Li Wei dipenuhi oleh air mata.


Bagaimana mungkin ia tak menangis saat melihat wajah-wajah yang ia kenal di sana. Beberapa pejabat yang Li Wei kenal, seperti ayah Wei Wuxie dan pejabat lainnya. Para prajurit dan pelayan-pelayan yang sering berkeliaran di istana.

__ADS_1


Juga, ayah Li Wei yang selalu hangat.


Bahkan di saat kematiannya pun Raja Li masih begitu tenang dan tanpa kemarahan di wajahnya.


Raja Li dengan darah di bagian depan pakaiannya dan pedang-pedang yang menempel di bagian dadanya. Karena pedang yang masih menempel itu, Raja Li duduk di tengah-tengah. Di antara timbunan mayat para pejabat kerajaan dan prajurit. Juga di antara para pelayan yang mengitarinya.


Bukan dalam keadaan hidup. Mereka sudah tiada.


Akan tetapi, Raja Xin sepertinya cukup gila untuk mengumpulkan mayat-mayat mereka di halaman yang disukai oleh ayahnya. Ayahnya sering berkata jika ia dan Permaisuri Jiang seringkali duduk di halaman itu untuk berbincang. Dan, sekarang tempat yang menenangkan untuk Raja Li kini menjadi tempat mayatnya diletakkan.


MENGAPA INI SEMUA HARUS KAMI ALAMI?


Li Wei menutup mulutnya sendiri di kala air matanya menetes dengan deras. Hanya itu yang bisa ia lakukan, atau teriakannya akan terdengar keluar. Kala itu ... Li Wei melihat sarung pedang yang masih ada di dekatnya semakin gelap.


Kata orang ... Semakin besar dendam, maka hati manusia akan menghitam. Jika mereka membiarkan hawa buruk masuk ke dalam jiwanya, dan energi buruk akan menjadi kekuatannya. Akan tetapi, dendam yang begitu besar bukanlah hal yang baik.


Li Wei hanya ingin penderitaan ini usai.


***


"Aku mendengar jika Permaisuri tangguh dari Kerajaan Li sudah kehilangan kekuasaannya," ejek seorang wanita dengan pakaiannya yang seperti sangat kekecilan di tubuhnya.


Bagaimana tidak. Tubuh wanita tercetak jelas. Bahkan dadanya terlihat nyaris keluar dari pakaiannya sendiri. Gaya berpakaian kerajaan Xin cenderung lebih terbuka dibanding Kerajaan Li. Mungkin karena cuaca di Kerajaan Xin yang berada di wilayah yang cenderung panas dibanding Kerajaan Li.


Entahlah.


Dia adalah Permaisuri Kerajaan Xin, Su Nan.


Yah katakanlah begitu.


Bagaimana pun Xin Wantang juga memiliki permaisuri tersendiri. Dan berita kemenangan Raja Xin telah datang ke Kerajaan mereka. Oleh karena itu, Su Nan datang ke Istana Kerajaan Li.


Dengan kesombongannya, wanita itu menemui Jiang Ning yang tengah bersama Li Shen.


Anak kecil itu memeluk pinggang Jiang Ning karena ketakutan. Akan tetapi, Jiang Ning lebih tenang daripada yang seharusnya. Jiang Ning hanya mengusap kepala Li Shen tanpa menatap pada Su Nan.


"Apa kau mendengar aku?" tanya wanita itu lagi sambil memerintahkan pada pelayannya untuk menarik Jiang Ning.


Hanya untuk membuat Jiang Ning berlutut padanya.


SRET!


BRAK!


Akan tetapi, ketika pelayan Su Nan mendekat, Jiang Ning meraih wadah perhiasannya. Lalu, melempar ke kepala pelayan itu hingga pelayan itu mundur dari posisinya. Hal itu terjadi dengan cepat, tetapi Jiang Ning masih duduk dengan tenang di tempatnya.


Perhiasan milik Jiang Ning berserakan di lantai. Itu adalah perhiasan yang mengagumkan, dan Su Nan jelas tak pernah melihatnya di Kerajaan Xin. Sebab, Kerajaan Li setidaknya lebih besar dibanding Kerajaan Xin. Potensi alam dan hartanya juga lebih banyak.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Su Nan tak terima.


Wanita ini sudah kalah, tetapi tak mau menurunkan tubuhnya untuk menghormat.


"Keluar," perintah Jiang Ning dengan tatapan tajamnya.


Su Nan berteriak untuk memanggil prajurit yang berjaga di depan. Seketika sekitar empat orang prajurit masuk ke dalam ruangan. Padahal sebelumnya Su Nan sudah membawa dua orang masuk.


"Biar ku ajarkan padamu untuk menghormati aku! Begitu juga dengan Putri-mu yang membawa kutukan itu. Kalian berdua akan mati dalam penghinaan yang besar. Lihat saja!" bentak Su Nan.


Jiang Ning yang masih duduk di tempatnya. Namun mata wanita itu sudah begitu tajam, dan terganggu dengan apa yang Su Nan katakan. Tapi Jiang Ning mengangkat kaki kirinya untuk melayangkan sepatunya ke udara. Jiang Ning segera menangkapnya dan melemparkannya ke prajurit Kerajaan Xin yang berjalan paling depan untuk menyerangnya.


PLAK!


Jiang Ning berdiri dan Li Shen masih berlindung di belakang Jiang Ning.


BUGH!


Tanpa banyak berkata Jiang Ning memukul dada para prajurit itu secara bergantian. Dan, terakhir Jiang Ning meninggalkan Li Shen untuk menendang prajurit yang berdiri melindungi Su Nan.


BUGH!


"Auhhh ..." Jeritan Su Nan terdengar saat prajurit itu terjatuh menimpanya.


"Dasar tak berguna," teriak Su Nan lagi sambil mendorong prajurit itu menjauh.


Akan tetapi, sebelum Su Nan sempat bangkit, Jiang Ning sudah mendatanginya dan menjambak rambutnya.


BAKH!


Tak hanya itu Jiang Ning juga melempar Su Nan ke dinding. Tepat kala itu Li Wei masuk dengan wajah panik. Kala itu Li Wei melihat prajurit yang mengerubungi ibunya. Sehingga Li Wei mengambil sepatu ibunya yang entah mengapa tergeletak di lantai. Kemudian, melemparnya ke belakang kepala prajurit itu.


PLAK!


Dengan sarung pedang yang masih di tangannya Li Wei memukul prajurit itu hingga pingsan.


"Ibu ... Apa Ibu baik-baik saja? Eh?" Li Wei menginjak kepala seorang prajurit yang masih sadar.


Akan tetapi, ketika melihat seseorang yang terbanting di dinding dan ibunya yang terlihat lebih ganas daripada aligator, Li Wei menegakkan tubuhnya. Ia hanya tak mengerti dengan apa yang terjadi. Apalagi wanita yang dilemparkan oleh ibunya itu adalah Permaisuri Raja Xin. Musuh mereka.


Ini yang perlu diselamatkan siapa? Mengapa ibuku malah dapat peran jahatnya?


Li Shen yang melihat Li Wei menjadi senang. Pria kecil itu berlari ke arah Li Wei dan memeluknya. "Kakak."


"Li Wei, buang dia keluar. Datang ke tempat orang lain tanpa membawa kesopanan. Murahan!" bentak Jiang Ning sambil mengusap tangannya dengan sapu tangan.


Merasa jijik.


"Kalian ....!" Su Nan memegangi dahinya yang memerah karena menabrak dinding.


Su Nan berusaha bangkit dan ingin berteriak. "Gadis keparat! Kau bagaimana bisa keluar? Gadis s*alan. Penjaga ... Di sini ... Uphhh."


PLAK!


Tamparan Jiang Ning mendarat ke wajah Su Nan sehingga wajah wanita itu menjadi tambah bengkak. Rambutnya sudah berhamburan karena dijambak oleh Jiang Ning sebelumnya. Itu sudah membuat wanita itu tampil dengan sangat mengerikan, karena riasannya kacau.


"Nama putriku adalah Li Wei, bukan gadis keparat, kau Pela*ur!" bentak Jiang Ning sebelum menampar Su Nan sekali lagi.


PLAK!


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2