
DONG! DONG!
Yi Hua mengalami sakit kepala parah saat dia berada di dalam tandu. Entah bagaimana bisa itu terjadi. Mungkin itu ditunjang oleh suara kicauan Xiao yang mengerikan. Atau, mungkin karena dia merasa lelah dengan semua kegiatan yang dijalaninya selama ini.
Bayangkan berapa kali ia menolak untuk didandani!
Bagaimana jika ada orang yang tahu bahwa dia adalah Yi Hua, Si Peramal yang nyaris dieksekusi. Dan, gangguan itu berhasil berlalu dengan An yang meminta wanita perias itu menjauh. Pada akhirnya, Yi Hua sendiri yang harus menata wajahnya.
"Darimana kau tahu berias?" tanya Xiao yang sepertinya gemar sekali berbicara.
Dengan semua ciri khas itu, Xiao mengatakan bahwa dia pendiam. Itulah yang membuat Yi Hua nyaris membalikkan tandu saking sebalnya. Mengapa tingkah sistem yang bekerja padanya seperti ini?
"Aku hanya mengikuti bagaimana Liu Xingsheng merias waktu itu?" jawab Yi Hua sambil menyeka keringatnya sendiri.
Mungkin ini ditunjang dengan pakaiannya yang berlapis-lapis. Belum lagi dengan penutup kepala yang dipasangkan An sebelumnya. Sungguh membuat Yi Hua ingin berguling-guling karena gerahnya. Apalagi dengan kabut aneh yang ada di sekitar mereka.
"Kau kenapa? Suhu badanmu meninggi." Xiao yang berada di telinga Yi Hua jelas bisa merasakan suhu tubuhnya.
Yi Hua menyeka keringatnya sendiri. "Aku tak tahu."
"Sepertinya kau harus memanggil An. Bisa jadi kau teracuni."
Kapan?
Yi Hua tak tahu bagaimana bisa dia teracuni begitu saja. Oleh karena itu, dia meminta pelayan yang berjalan di samping tandu untuk memanggil An. Pria itu berjaga di bagian depan tandu.
Tak lama kereta di tandu, dan An masuk begitu saja ke dalam tirai tandu. Hal tersebut membuat banyak orang menatap tak percaya. Bagaimana bisa orang ini memasuki tandu pengantin wanita orang lain. Apalagi tandu itu biasanya hanya muat untuk satu orang.
"Ada apa, Yi Hua?" Mata An tampak menelisik pada wajah Yi Hua yang masih mengenakan tudung kepala merah.
Yi Hua membuka tudung kepalanya, dan menatap An yang membungkuk ke arahnya. Hal itu membuat An agak tercengang. Namun Yi Hua tak paham alasan mengapa An tampak tak ingin menatapnya.
"Sepertinya saya teracuni, Tuan An," ucap Yi Hua yang mendadak terengah-engah.
An terlihat begitu aneh sekarang. Namun pria itu tetap berusaha meraih wajah Yi Hua, dan mengamati. Tak lama ia menyadari sesuatu, dan mengusap bibir Yi Hua dengan punggung tangannya. Hal itu membuat sebagian warna merah itu melekat di pipi Yi Hua yang panas.
Tanpa menghitung detik, An langsung mengendus aroma pewarna bibir yang dikenakan oleh Yi Hua. Matanya tampak berbahaya, dan sebagian karena dia baru menyadarinya. Entah mengapa dia begitu ceroboh untuk tidak memperhatikan Yi Hua ketika berias.
Yah, sebagian karena An harus berjaga di luar.
"Kau memang teracuni," ucap An sambil membersihkan bibir Yi Hua dengan ujung jubahnya.
Entah mengapa Yi Hua merasa tak nyaman dengan semua ini. Namun ...
Tangan Yi Hua meraih ujung jubah An dengan erat, dan membuat kedua orang itu terdiam secara bersamaan. Sehingga keheningan tercipta di sana. Entah mengapa semuanya merasa aneh di sekitar mereka. Apalagi dengan tandu yang sangat sempit, dan panas ini.
"Hey, Yi Hua sadarlah! Kau terkena bubuk cinta." Suara Xiao menggema di telinga Yi Hua.
Bagaimana pun itu terjadi tanpa bisa dipahami oleh Yi Hua. Dia hanya tahu bahwa dia diberikan afrodisiak melalui pewarna bibir. Pantas saja dia merasa seperti ikan yang kekurangan air.
An tampak mengeluarkan sebutir obat dari sakunya. Entah bagaimana pria ini selalu siap siaga. Tak lama pria itu menekan obat itu ke dalam mulut Yi Hua. Dan, napas pria itu juga tak karuan tarikannya.
Mata An menelisik ke wajah Yi Hua, dan sebelum mereka bisa saling bicara. Atau, memberi waktu bagi Yi Hua untuk memulihkan tubuhnya, suara nyanyian halus terdengar. Itu sangat halus, hingga bulu kuduk Yi Hua mengikuti perasaannya.
Di sana ada perasaan pilu dan duka. Semuanya bisa Yi Hua rasakan. Sangat menusuk kalbu, dan membuatnya merasa mengantuk.
"Satin merah tertutup di wajahnya. Menutupi kecantikannya yang seperti bunga. Mengunjungi langit untuk diberkahi. Bersujud di altar, untuk saling mencintai~."
Itu adalah lagu yang berbahagia. Tentang seseorang yang menuju pernikahannya. Lalu, mengapa ada perasaan seperti ingin menangis ini?
SRET!
Tanpa disangka An terlihat biasa saja. Pria itu tidak terpengaruh oleh lagi. Sebaliknya, dia melingkupi Yi Hua dengan jubah hitamnya. Panas di tubuh Yi Hua yang belum mereda semakin buruk, walau dia sudah diberikan penawar. Masalahnya ialah penawar itu memiliki waktu untuk bekerja.
Dan, tandu terasa oleng seperti terbawa oleh sesuatu. Sepertinya ada yang mengangkat tandu mereka, tetapi bukan para pengangkat tandu yang sebelumnya. Karena Yi Hua sempat melihat keadaan di luar saat An menyibak tirai. Para pembawa tandu tertidur, dan penyebabnya pasti nyanyian itu.
"Inilah cara dia menculik." Itu adalah apa yang An katakan padanya. Walau Yi Hua hanya bisa menyimpulkan sedikit.
Sebuah nyanyian untuk menidurkan, dan semuanya akan terlihat seperti tak terjadi apa-apa ketika terbangun.
Belum ada beberapa langkah, tandu mereka terasa bergerak dengan keras sebelum terjatuh. Benar! Mereka terjatuh, atau lebih tepatnya tandu mereka terasa seperti dilempar ke suatu tempat yang tak rata.
Yi Hua bisa merasakan bahwa An menahan tubuhnya. Jika tidak Yi Hua pasti akan terlempar keluar tandu, atau lebih parahnya lagi dia akan terhempas keras. Dan, Yi Hua hanya memiliki kesadaran yang tipis untuk tahu keadaan.
__ADS_1
"Apa ..." bisik Yi Hua yang masih tak karuan perasaannya.
An menajamkan pandangannya. "Dia datang."
Siapa?
Namun Yi Hua tak bisa memahami apa-apa lagi. Ia tak sadarkan diri, walau suara Xiao merong-rong di telinganya. Semuanya lenyap seperti angan yang menjauh.
"Yi Hua, kau bisa mati jika kau tertidur." Teriakan Xiao itu pun tak bisa membuat Yi Hua membawa kembali kesadarannya.
***
Perayaan pernikahan dari keluarga Liu digelar dengan sangat mewah. Pasalnya, keluarga Liu sejak awal memang memiliki nama yang tinggi di Kerajaan Li. Ditambah lagi dengan gelar Perdana Menteri yang dimiliki oleh Liu Xingsheng.
Satin-satin merah dibentangkan di seluruh penjuru. Seluruh perlengkapan juga didominasi oleh warna merah. Altar pemujaan untuk pernikahan juga sudah disiapkan. Tidak ada celah dalam pernikahan ini.
Sungguh menakjubkan!
Mereka bertanya-tanya siapa gadis yang beruntung menikahi Perdana Menteri, sekaligus adik ipar Kerajaan Li itu. Ada juga yang bertanya-tanya, apakah kecantikan itu bisa melebihi wajah Liu Xingsheng yang memang sudah cantik dari sumbernya. Bahkan ada yang bertanya, ilmu hitam seperti apa yang digunakan oleh kecantikan itu.
Sangat beragam jenis dari pembicaraan itu, dan Liu Xingsheng sudah mendengarkannya dari pokok ke pokok. Meski begitu, dia hanya bisa menghela napasnya. Ia sendiri tak begitu mengerti mengapa mereka se-niat ini untuk menciptakan jebakan. Walau Liu Xingsheng sendiri tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Kini dia dengan pakaian pernikahan merahnya menunggu di depan altar. Yah, katakan dia tengah menunggu pengantinnya. Akan tetapi, dia tak menyangka jika pernikahannya akan berlangsung seperti ini.
Palsu.
Namun pasti aneh juga jika aku benar-benar menikah dengan Yi Hua. Yah, walah wajahnya cantik.
Pikiran Liu Xingsheng kembali pada saat Yi Hua menekannya di dinding. Lalu, ...
PLAK!
Huan Ran yang sedang menjaga Liu Xingsheng supaya tidak melarikan diri menjadi terkejut. Pasalnya, ia sudah menyaksikan Liu Xingsheng menepuk pipinya dengan keras. Hal itu membuatnya berpikir bahwa Liu Xingsheng sudah mulai menggila akibat pernikahannya sendiri.
"Apakah kau gugup karena pernikahan ini?" tanya Huan Ran dengan nada tak percaya.
Bukankah ini hanya pernikahan palsu? Lalu, mengapa Liu Xingsheng bertingkah seperti seorang pria yang hendak menikah, padahal memberi makan diri sendiri saja sudah? Susah pikiran begitu!
Liu Xingsheng bahkan sudah tahu siapa pengantin (palsu) untuknya. Dan, mengapa dia harus bertingkah seperti akan menikah sungguhan?
Dalam hidup ini Liu Xingsheng menilai bahwa pernikahan adalah sakral. Semuanya memiliki landasan untuk melalukan pemujaan terhadap langit ketika menikah. Jika seperti ini, bukankah mereka seperti mengelabui langit.
Huan Ran menghela napasnya. Ia nyaris ingin menendang kepala Liu Xingsheng yang konyol. Bagaimana bisa pria ini tidak memperhatikan struktur rencana yang dibuat oleh Yi Hua? Inilah alasan mengapa kau tidak boleh ikut suatu rencana saat otakmu tak pandai memahami rencana sebenarnya.
"Ini hanya pura-pura, Liu Xingsheng."
Liu Xingsheng bertingkah berlebihan. Seolah dia mengusap air matanya karena tertindas. Huan Ran semakin geram ingin menendang kepala konyol Liu Xingsheng. Mengapa dari sekian banyak orang, dan dia harus menjadi rekan orang ini?
"Bagaimana jika kedepannya orang-orang bertanya tentang kegagalan pernikahanku? Itu akan memalukan nama keluarga ...mphhh," ucap Liu Xingsheng yang nyaris panjang lebar, tetapi Huan Ran segera menginterupsinya.
SRAT!
Liu Xingsheng langsung diam begitu saja. Terutama saat Huan Ran menekannya ke dinding, dan menutup Huan Ran menempelkan telapak tangannya ke mulut Liu Xingsheng. Hal itu membuat Liu Xingsheng hanya bisa memunculkan protes melalui matanya yang melotot. Meski begitu, mata tajam Huan Ran membuat nyali Liu Xingsheng lemah.
"Kau ini ingin rencananya gagal, bodoh? Dimana kau menyimpan kepalamu? Mungkin isinya hanya segelintir makanan sapi," keluh Huan Ran tanpa menahan ucapannya lagi..
Namun keributan di sekitar mereka menelan suara Liu Xingsheng. Sehingga mungkin suara Liu Xingsheng hanya dianggap sapi lewat saja. Dan, itu membuat kedua Perdana Menteri itu menghela napasnya.
SRAP!
Liu Xingsheng berusaha melepaskan bekapan tangan Huan Ran, meski dengan susah payah. Setelah terbebas, Liu Xingsheng mengusap bibir dan dagunya yang agak sakit, ia mengguncang bahu Huan Ran. Wajahnya agak berlebihan seperti biasanya, dan itu membuat Huan Ran memutar matanya jengkel.
"Jika rencana ini berhasil pun, bagaimana dengan Yi Hua? Kau mau dia menjadi korban selanjutnya? Yah, walau aku tak tahu apa bedanya jika dia menyamar, atau pria lain yang menyamar. Akan tetapi, walau kakak mengatakan Yi Hua tidak akan ketahuan, tetapi bagaimana bisa dia tidak ketahuan. Dia itu ..."
... Seorang pria.
PLAK!
Menyebalkan sekali!
Itulah yang ingin dikatakan oleh Liu Xingsheng. Namun pukulan keras di belakang kepalanya membuat suaranya terhenti. Dan, di sana ada Selir Qian dengan aura Ibu Tirinya yang menggelegar. Hal itu membuat Liu Xingsheng langsung bersembunyi di belakang Huan Ran.
Ini sudah sangat melelahkan. Apalagi Huan Ran sudah mengalami momen ini berkali-kali dalam hidupnya.
__ADS_1
"Mana sikap tenang milikmu, Perdana Menteri Liu?"
Liu Xingsheng langsung berdiri tegak, dan semakin kaku saat Selir Qian mendekat ke arahnya. Namun Selir Qian tak memukul Liu Xingsheng, melainkan merapikan pakaian pernikahan Liu Xingsheng yang berwarna merah. Ditata seperti ini pun Liu Xingsheng sudah sangat luar biasa.
Sayangnya, adiknya ini terlalu konyol untuk disebut sebagai menarik.
"Dengarkan aku ... Tandu pengantin yang membawa Yi Hua menghilang."
Menghilang?
Huan Ran terlihat datar seperti biasanya. "Apakah ini benar-benar berhubungan dengan iblis?"
Ada rumor yang beredar selama beberapa tahun ini. Tepatnya setelah Puteri Bupati yang menghilang di hari pernikahannya. Atau, kau bisa menyebutnya sebagai kekasih dari Zhang Yi. Kecantikan itu menghilang saat tandunya dibawa menuju altar pemujaan.
Hal yang sangat menyedihkan untuk disebut.
Namun dari sana mereka beranggapan bahwa ini pelakunya adalah seorang pria. Seperti seseorang yang mencari pengantin wanitanya. Sebab, biasanya jika seorang iblis mencari sesuatu untuk 'dimakan' atau 'ditumbalkan', biasanya tak akan memilih kategori kecantikan yang menarik.
Atau, kasus ini hanya belum rampung?
Masih ada elemen yang kurang dari ini semua. Itulah yang dirasakan oleh Huan Ran. Sebab, sejak lima belas korban sejak lima tahun yang lalu, sulit dipercaya jika pelakunya tidak bisa ditangkap. Mereka menangkap para penjahat yang sering menjual para kecantikan, nyatanya tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu 'benar' pada mereka.
Lalu, mereka menghabiskan lima tahun dengan mengejar ekor mereka sendiri. Tak ada ujung dari perputaran yang memuakkan ini. Sehingga ketika Zhang Yi mengambil kasus ini untuk diselesaikan, mereka berpikir bahwa ini adalah akhir dari penjahat. Sebab, Zhang Yi adalah Pejabat Kerajaan Li yang terpandang namanya.
Namun semangat orang lain patah saat Zhang Yi menghilang. Dan, Liu Xingsheng tiba-tiba membawanya Zhang Yi kembali setelah penyusupan di Gunung Hua. Lalu, pemikiran orang-orang berbelok lagi pada tuduhan pertama. Ini adalah Hua Yifeng, dan karena itu Zhang Yi di sandera di sana.
Akan tetapi, Zhang Yi hanya memberi kesaksian bahwa dia ditangkap ketika dia menyelidiki Gunung Hua. Juga, tak ada bukti yang Zhang Yi lihat bahwa Hua Yifeng menyembunyikan para kecantikan ini. Sungguh pekerjaaan yang sia-sia.
Akan tetapi, orang-orang mulai berspekulasi kembali bahwa ini berkenaan dengan Pengantin Wanita Iblis. Rumor mengatakan bahwa Hua Yifeng berwajah sangat buruk, dan Hua Yifeng kehilangan Puteri Li Wei. Mereka mulai beranggapan bahwa Hua Yifeng hanya berusaha mencari pengganti Puteri Li Wei.
Sebab, Puteri Li Wei terkenal dengan dengan kecantikannya, kecerdasannya,dan keberaniannya. Dia sangat berbakat di masa mudanya, dan terkenal dengan kebaikan hatinya. Seandainya dia tak melakukan kesalahan, maka dia bisa menjadi Raja Wanita pertama di daratan Kerajaan Li. Tak ada yang mengerti mengapa Puteri Li Wei mengkhianati Kerajaan Li, dan bertarung melawan kakak-kakaknya.
Sungguh dosa manusia bisa tercipta kapan saja.
Itulah alasan mereka beranggapan bahwa Hua Yifeng adalah pelaku sebenarnya. Namun Yi Hua berpikiran yang berbeda. Sebab, Yi Hua, entah mengapa merasa masih ada yang mengganjal dari ini semua. Apalagi ada satu korban yang lain daripada biasanya, yakni seorang pria yang tergantung di wilayah istana.
Banyak yang mengatakan bahwa pria itu tidak masuk dalam lingkaran pembunuh yang sama, tetapi Yi Hua sangat yakin bahwa ini bersumber dari hal yang sama. Hanya saja dia perlu benang untuk menghubungkan ini semua. Oleh karena itu, rencana ini berlangsung.
Yang paling buruk dari segalanya ialah jika sejak awal ...
"Pelakunya lebih dari satu orang."
Itulah yang dikatakan oleh Yi Hua sebelumnya. Huan Ran menganggap bahwa itu sangat masuk akal, tetapi darimana Yi Hua menyimpulkan, Huan Ran masih tak tahu. Hanya saja Yi Hua ini memahami sesuatu lebih baik dari orang lain.
"Sulit dipercaya jika tandunya bisa menghilang. Apakah para pelayan yang bersamanya tidak melihat bagaimana dia menghilang?" tanya Huan Ran dengan serius.
Bukankah ini mengarah pada kekuatan di luar manusia? Apa Yi Hua salah menduga tentang kasus ini?
Mungkin memang ini berhubungan dengan iblis.
"Ada kabut yang tebal di sepanjang jalan. Akan tetapi, tidak terjadi apa-apa, walau jalan sulit ditempuh. Namun saat mereka berhasil melewati kabut itu, tandu merah pengantin wanita sudah lenyap. Yang mengangkat tandu pun sudah lenyap. Ketika mereka kembali ke jalan sebelumnya, pembawa tandu tergeletak di sana dengan keadaan tertidur," jelas Selir Qian dengan nada berbisik.
Orang-orang yang menyaksikan pernikahan sebenarnya merasa bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa ketiga orang itu berbisik-bisik sejak tadi. Lalu, kapan pernikahannya berlangsung?
Namun karena ada Selir Qian, para Pejabat tak berani bertanya. Mereka hanya bisa menunggu sambil menikmati hidangan yang sudah terasa dingin. Sebab, ini sudah sangat lama dari waktu yang dijadwalkan.
"Apa yang dikatakan mereka, Kakak?" tanya Liu Xingsheng langsung.
Selir Qian berwajah putus asa. "Mereka tak tahu. Mereka mendengar suara halus dari seorang pria yang bersyair, dan setelah itu mereka tertidur. Namun yang lain tidak mendengarnya."
Huh?
Ada kabut, ada pria yang bersyair, dan yang lainnya tak bisa mendengar. Hanya para pembawa tandu saja yang mendengarnya. Siapa yang bisa melakukannya, jika ini bukanlah iblis?
Mereka berpikir hal yang sama pada akhirnya. Walau tak ada ujung atau hasil dari pemikiran tersebut. Apakah rencana ini berakhir sia-sia?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~